Surah Al-Fatihah : Ayat 1
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Tafsir Ibnu Katsir
Makna dari “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk” adalah: Aku meminta perlindungan di sisi Allah dari setan yang terkutuk. agar tidak menggangguku dalam (urusan) agamaku atau duniaku, atau menghalangiku dari melakukan apa yang diperintahkan olehNya, atau menghasutku untuk melakukan apa yang dilarangNya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa menghentikan setan menggoda manusia kecuali Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk membujuk dan berlaku kepada setan dari golongan manusia dengan berbuat baik kepadanya, sehingga perangainya berubah dari yang membahayakan.Allah juga memerintahkan untuk meminta perlindungan kepadaNya dari setan dari golongan jin, karena dia tidak akan menerima bujukan atau pengaruh baik, karena deia memiliki perangai jahat, tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali Dzat yang menciptakannya." Makna kalimat ini terdapat dalam tiga ayat Al-Quran. Saya tidak mengetahui yang keempat. Firman Allah dalam Surat Al-A'raf: (Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (199)( Ayat ini berhubungan dengan perlakuan terhadap musuh dari golongan manusia. Kemudian Allah berfirman: (Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah (200)) (Surat Al-A'raf). Dan Allah berfirman dalam Surah Al-Mu'minun: (Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (1)) (Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (96), Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan (97) Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku (98)) (Surat Al-Mu'minun) Dan Allah berfirman dalam surah As-Sajdah: (Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (34) Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar (35) Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (36)) Setan dalam bahasa bangsa Arab berasal dari kata “Syathana” yang berarti menjauh. Dia jauh dari sifat-sifat manusia dan dengan kefasikannya, dia jauh dari segala kebaikan. Dan “Ar-Rajiim” adalah bentuk isim fail yang bermakna maf’ul yaitu "tekutuk" dan "terbuang" dari segala kebaikan, sebagaimana firman Allah: (Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan) (Surat Al-Mulk: 5) Allah berfirman (Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang (6) dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka (7) syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru (8) Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal (9) akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang menyala-nyala (10)) (Surah As-Shaffat) Para sahabat membuka kitabullah menggunakan bacaan ini. Para ulama sepakat bahwa bacaan ini merupakan bagian dari surah An-Naml. Sebuah ungkapan “Bacalah dengan menyebut nama Allah, Tuhanmu, berdiri atau duduklah dengan mengingat Allah SWT. Ungkapan dari Ibnu Jarir. "Allah" adalah nama yang menunjukkan kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi. Dikatakan bahwa "Allah" adalah nama yang paling agung karena mencakup semua sifat-sifatNya, sebagaimana Allah berfirman (Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (22) Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (23) Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (24)) (Surah Al-Hasyr). Nama-nama yang lain adalah sifat-sifat bagiNya, sebagaimana Allah berfirman: (Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan) (Surah Al-A'raf 7:180). Dan Allah berfirman: (Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik) (Surah. Al-Isra110). "Allah" adalah nama belum pernah digunakan selain Dia SWT. Oleh karena itu, tidak ada akar kata yang sesuai dengan itu dalam bahasa bangsa Arab. Asalnya adalah "Al-Ilah", lalu dihilangkan hamzahnya (yang merupakan fa' kalimah), dan bertemu dengan "lam" (yang merukakan ‘ain kalimah) bersamaan dengan “lam zaidah” agar bisa dibaca, kemudian salah satunya digabungkan dengan yang lain, sehingga keduanya menjadi satu "lam" yang disyiddah untuk menguatkan pengagungan. Maka diucapkanlah "Allah." “Ar-Rahman Ar-Rahim” adalah dua nama yang berasal dari akar kata (rahmah) yang memiliki arti kasih sayang yang dalam bentuk hiperbola. “Ar-Rahman” merupakan bentuk yang hiperbola daripada “Ar-Rahim. Dalam penjelasan Ibnu Jarir, tidak sepenuhnya ditemukan kisah tentang kesepakatan atas hal ini. Abu Ali al-Farisi mengatakan bahwa "Ar-Rahman" adalah nama yang mencakup segala jenis kasih sayang yang hanya dikhususkan untuk Allah. Sementara "Ar-Rahim" adalah nama untuk kasih sayang kepada orang-orang mukmin. Allah berfirman: (Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.) (Surah Al-Ahzab: 43). Ibnu Abbas mengatakan bahwa keduanya adalah nama yang lembut, tetapi salah satunya lebih lembut daripada yang lain, yaitu lebih banyak kasih sayangnya. Nama Allah SWT, "Ar-Rahman" adalah nama yang khusus bagi Allah dan tidak digunakan untuk menyebut yang lain. Allah berfirman: (Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik) (Surah Al-Isra: 110) dan Allah berfirman (Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?") (Surah Az-Zukhruf). Adapun "Ar-Rahim" digunakan untuk menyifati selain Allah. Allah berfirman: (Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (128)) (Surah At-Taubah). Sebagaimana Allah juga menyifati selainNya dengan nama-namaNya, seperti dalam firmanNya: (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat (2)) (Surah Al-Insan). Jadi sesungguhnya nama-nama Allah SWT ada yang digunakan untuk menyifati selainNya dan ada pula yang khusus hanya bagiNya. Seperti nama “Allah”, “Ar-Rahman”, “Al-Khaliq, “Ar-Razzaq” dan nama lain yang serupa dengan itu. Maka dari itu, dimulai dengan menyebut nama Allah dan disifati dengan “Ar-Rahman karena ini adalah nama yang lebih khusus dan lebih dikenal daripada "Ar-Rahim", karena penamaan yang pertama adalah nama yang paling mulia. Maka dari itu, dimulailah dengan yang paling khusus dan kemudian yang lebih umum"
Tafsir As-Sa'di
Maknanya “saya memulai dengan setiap nama-nama Allah ta'ala, karena lafaz Ismun adalah kata mufrod (tunggal) yang disandarkan, maka ia mencakup seluruh nama-nama yang baik (Asmaul Husna). Lafaz Allah artinya yang dituhankan dan yang disembah yang berhak diesakan dalam penyembahan, karena Allah memiliki sifat uluhiyyah (ketuhanan) dan itu merupakan sifat yang sempurna. Lafaz arrohman arrohiim merupakan dua nama yang menunjukkan bahwa Allah memiliki Rahmat yang luas dan besar yang mencakup segala sesuatu, rahmat-Nya mencakup bagi seluruh yang hidup. dan Allah menetapkan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bertakwa yang mengikuti para Nabi dan Rasul -Nya. Maka bagi mereka akan mendapatkan rahmat yang mutlak. Adapun selain mereka akan mendapatkan bagian yang sedikit dari Rahmat itu. dan ketahuilah diantara kaidah yang disepakati oleh para Salaf umat dan para imamnya bahwasanya iman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah dan hukum-hukum yang terkandung dalam sifat-Nya. Sebagai contoh, mereka beriman bahwasanya Allah maha pengasih lagi maha penyayang, artinya Allah memiliki Rahmat yang disifati oleh Allah dan berhubungan dengan yang dirahmati nya yaitu hamba-Nya. maka seluruh nikmat adalah bukti dari rahmat Allah. dan demikian juga pada seluruh nama-nama Allah yang lain. contoh yang lain seperti sifat Allah “Maha Mengetahui” artinya Allah Maha Mengetahui yang memiliki ilmu yang dengan ilmu itu Allah mengetahui segala sesuatu. Allah Maha Kuasa yang memiliki kekuasaan yang dengan kekuasaan itu Allah mampu melakukan apapun.
Tafsir Al-Wajiz
{Bismillaahirrahmaanirrahiim} Aku memulai bacaanku seraya meminta pertolongan dengan menyebut nama Allah dan DzatNya. Dialah Dzat yang penuh rahmat (kasih sayang) dan kebaikan yang dilimpahkan kepada mereka yang diberkahi. Sifat Ar-Rahman cakupannya lebih luas daripada Ar-Rahim. Nama Allah dimunculkan berdasarkan dzat, hakikat dan wujudNya
Tafsir Al-Mishbahul
NAMA AL-FATIHAH DAN MAKNANYA Surat ini disebut al-Fatihah yang maknanya adalah pembuka kitab secara khat (tulisan mushaf) . Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat-shalat. Surat ini disebut juga Ummul Kitab (induk al-Qur’an) berdasarkan pendapat jumhur ulama. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits shahih dan beliau juga menshahihkannya, dari Abu Hurairah 4 ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: "Alhamdulillah adalah induknya al Qur'an, induknya al Kitab, dan As Sab'ul Matsaani (tujuh ayat yang diulang-ulang)." Surat al-Fatihah disebut juga al-Hamdu dan ash-Sholaah, berdasarkan sabda Rasulullah saw yang baginda meriwayatkan dari Rabbnya, Allah berfirman: } { . “Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu setengah-setengah, dan hambaku mendapatkan apa yang dia minta. Apabila seorang hamba membaca; 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin.’ Allah menjawab; ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Surat al-Fatihah disebut ash-Sholaah karena termasuk syarat sahnya shalat. Surat al-Fatihah disebut juga ar-Ruqyah (pengobat) berdasarkan hadits Abu Sa’id ketika ia meruqyah dengan al-Fatihah seorang laki-laki yang terkena sengatan, maka Rasulullah saw bersabda: “Tidakkah engkau tahu bahwa al-Fatihah itu ruqyah.” Surat ini termasuk surat Makkiyyah (diturunkan sebelum hijrah ke Madinah). Demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah dan Abul ‘Aliyah, berdasarkan firman Allah : “Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (QS.al-Hijr:87) JUMLAH AYATNYA Surat ini terdiri dari tujuh ayat tanpa ada perselisihan ulama, dan Basmalah adalah satu ayat yang berdiri sendiri pada awal surat al-Fatihah, sebagaimana pendapat jumhur Qurro’ (ahli Qiro’at) dari Kufah. Juga merupakan pendapat sejumlah Sahabat, Tabi’in dan sebagian ulama Khalaf. JUMLAH KATA DAN HURUFNYA Para ulama mengatakan, “Surat al-Fatihah terdiri dari 25 kata dan 113 huruf.” MENGAPA DINAMAKAN UMMUL KITAAB Imam Bukhari berkata di awal kitab tafsir: “Disebut ummul Kitaab karena al-Fatihah ditulis pada permulaan Mushaf dan dibaca pada permulaan shalat.” Ada yang berpendapat : “Disebut Ummul Kitaab karena seluruh makna al-Qur’an kembali kepada apa yang dikandungnya.” Ibnu Jarir mengatakan: “Orang Arab menyebut kata ‘umm’ untuk semua yang mencakup atau mendahului sesuatu jika ia memiliki perkara-perkara yang mengikutinya dan ia sebagai pemuka baginya. Seperti ummur ra’si adalah sebutan untuk kulit yang meliputi otak. Mereka menyebut bendera dan panji tempat berkumpulnya pasukan di bawahnya dengan sebutan umm.” Ia mengatakan: “Kota Makkah disebut Ummul Quraa karena keberadaannya terlebih dahulu dan ia sebagai penghulu bagi kota-kota lainnya. Ada yang mengatakan: “Disebut Ummul Quraa karena bumi terbentang darinya.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah 4, dari Nabi saw bahwa baginda berkata tentang Ummul Qur’an: "Ia adalah Ummul Quran, ia adalah as sab'ul matsaniy (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan ia adalah Al Quran Al 'Azhim." Abu Jakfar Muhammad bin Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Abu Hurairah 4 dari Rasulullah saw, baginda bersabda: “Ia adalah Ummul Qur’an, ia adalah Faatihatul Kitab dan ia adalah as-Sab’ul Matsani.” KEUTAMAAN AL-FATIHAH Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abi Sa’ad bin al-Mu’alla , ia berkata: “Aku pernah mengerjakan shalat, kemudian Rasulullah saw memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi baginda, maka baginda bertanya: “Apa yang menghalangimu untuk menjawab: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang mengerjakan shalat.” Lalu beliau bersabda: “Bukankah Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (QS. Al-Anfal:24) Setelah itu beliau bersabda: ”Aku akan mengajarkan kepadamu satu surat yang paling agung dalam al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid.” Maka baginda memegang tanganku dan ketika beliau hendak keluar dari masjid, aku mengatakan: “Wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan akan mengajarkan kepadakku surat yang paling agung dalam al-Qur’an. Baginda menjawab: “Benar, alhamdulillahi Rabbil’alaminn adalah termasuk Assabu' Al Matsani (tujuh ayat yang terulang-ulang) dan Al-Qur’an yang agung yang diberikan kepadaku.” Demikian pula diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Hadits lain, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Fadha’il al-Qur’an dari Abu Sa’id al-Khudri : “Kami pernah melakukan satu perjalanan, lalu kami singgah. Kemudian datanglah seorang budak wanita seraya berkata: “Sesungguhnya kepala suku kami terkena sengataan, dan kaum lelaki kami sedang tidak ada di tempat. Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah?” Maka berangkatlah bersamanya seorang laki-laki yang kami tidak pernah menyangka bahwa ia bisa meruqyah. Kemudian ia membacakan ruqyah dan kepala suku itu pun sembuh. Lalu kepala suku itu memerintahkan agar ia diberi tiga puluh ekor kambing dan kami diberi minum susu. Setelah kembali kami bertanya kepadanya: “Apakah engkau pandai meruqyah atau pernah? Maka ia menjawab: “Aku tidak meruqyah kecuali dengan Ummul Kitab (al-Fatihah). Kami katakan:”Jangan lakukan apa pun hingga kita menemui Rasulullah dan menanyakan hal ini kepada beliau. Sesampainya di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi saw , maka baginda bersabda: "Apakah kamu tidak tahu bahwa itu adalah ruqyah? Dan kalian telah mendapatkan imbalan darinya, maka bagilah dan berilah bagian untukku." (Hadits lain). Diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab Shahihnya dan an-Nasa’i dalam Sunannya dari Ibnu Abbas ia berkata: “Ketika Rasulullah saw tengah bersama Malaikat Jibril, tiba-tiba terdengar suara keras dari atas. Maka Jibril mengarahkan pandangannya ke langit seraya berkata: “Itu adalah dibukanya sebuah pintu di langit yang belum pernah dibuka sebelumnya.” Ibnu Abbas melanjutkan: “Dari pintu itu turunlah satu Malaikat dan menemui Nabi saw seraya berkata: “Sampaikanlah kabar gembira kepada ummatmu tentang dua cahaya. Kedua cahaya itu telah diberikan kepadamu dan belum pernah diturunkan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu Faatihatul Kitaab dan beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf darinya melainkan akan diberikan pahala bagimu.” Ini adalah lafazh dalam riwayat an-Nasa’i dan riwayat Muslim senada dengannya. HUKUM MEMBACA AL-FATIHAH DALAM SHALAT (Hadits lain), diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: » . : : « » : " : : { } : : { } : : { } : - - : { }: : { }: . "Barangsiapa shalat tanpa membaca Ummul Qur'an, maka shalatnya tidak sempurna, tidak sempurna, tidak sempurna.” Abu Hurairah di Tanya; ‘Bagaimana bila kami berada di belakang imam?’ Dia menjawab; ‘Bacalah Al Fatihah dengan suara lirih, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman: 'Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu setengah-setengah, dan hambaku mendapatkan apa yang dia minta. Apabila seorang hamba membaca; 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin.’ Allah menjawab; ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ (ketika) seorang hamba membaca; ‘Arrahmaanir rahiim.’ Allah berfirman; ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ (ketika) seorang hamba membaca; ‘Maaliki yaumid diin.’ Allah berfirman; ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’ (ketika) seorang hamba membaca; ‘Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin.’ Allah berfirman; ‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, sedangkan bagi hamba-Ku apa yang di mintanya.’ (ketika) seorang hamba membaca; ‘Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdluubi 'alaihim waladl dllaallliin.’ Allah berfirman; ‘Inilah bagian dari hamba-Ku, dan baginya apa yang di minta.’" Demikianlah yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i, dalam lafazh riwayat Muslim dan an-Nasa’i disebutkan: (Setengahnya untuk-Ku dan setengah lagi untk hambaku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta) PEMBAHASAN TENTANG HADITS INI, KHUSUSNYA BEBERAPA HAL TERKAIT AL-FATIHAH Dalam hadits ini al-Fatihah disebut juga dengan Shalaah maksudnya bacaan. Seperti firman Allah ta’ala: “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS.al-Isra’:110). Maksudnya “bacaanmu”, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas. Demikian juga Allah berfirman dalam hadits qudsi ini: “Aku telah membagi Shalah (bacaan al-Fatihah) menjadi dua bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku. Separuh untuk diri-Ku dan separuh untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Kemudian Allah menjelaskan pembagian itu secara rinci dalam bacaan al-Fatihah. Ini menunjukkan agungnya bacaan al-Fatihah dalam shalat dan itu merupakan rukun yang utama. Di sini disebutkan ibadah (shalat) sedang yang dimaksud adalah satu bagian darinya yaitu bacaan shalat. Sebagaimana disebutnya kata qur’aan (bacaan), sedangkan yang dimaksud adalah shalat, seperti dalam firman Allah: “Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Sebagaimana disebutkan secara jelas dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: “Shalat Subuh itu disaksikan oleh Malaikat malam dan Malaikat siang. WAJIBNYA MEMBACA AL-FATIHAH DALAM SHALAT BAIK SEBAGAI IMAM, MAKMUM ATAUPUN SHALAT SENDIRIAN Seluruh penjelasan di atas menunjukkan bahwa bacaan al-Fatihah dalam shalat merupakan hal wajib menurut kesepakatan para ulama. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang telah disebutkan sebelumnya, yakni sabda Rasulullah saw: Yang dimaksud dengan khidaj adalah kurang, yakni tidak sempurna sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan hadits tersebut dengan kata-kata ( ). Disebutkan juga dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, sebuah hadits dari ‘Ubadah bin ash-Shamit  ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: Demikian pula hadits yang tercantum dalam Shahih Ibni Khuzaimah dan Shahih Ibnu Hibban dari Abu Hurairah  ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Hadits-hadits dalam bab ini sangatlah banyak.
Tafsir Al-Muyassar
Aku memulai membaca Alquran dengan menyebut nama Allah sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Allah adalah merupakan nama Untuk Robb Yang Maha banyak berkahnya lagi Maha Tinggi, zat yang berhak diibadahi yang tidak ada yang lain selain-Nya. Dan ini adalah merupakan nama paling khusus diantara nama-nama Allah ta'ala yang tidak dinamai dengan nama ini selain Allah yang Maha banyak berkahnya lagi Maha Tinggi. (yang maha pengasih) yang memiliki Rahmat umum yang meliputi seluruh makhluk, (yang maha penyayang) yakni kepada orang-orang Mukmin. dan keduanya merupakan dua nama diantara nama Allah ta’ala yang keduanya mencakup penetapan sifat Rahmah (menyayangi) bagi Allah sebagaimana yang layak bagi keagungannya.
Tafsir Al-Madinah
1. Yang dimaksud dengan basmalah yakni aku memulai dengan menyebut nama Allah Ta'ala, Tuhan yang berhak disembah, Yang Mempunyai keluasan rahmat bagi seluruh makhluk di dunia dan bagi orang-orang beriman di dunia dan akhirat.
Tafsir Al-Mukhtashar
1. Dengan menyebut nama Allah aku mulai membaca Al-Qur`ān ini. Aku memohon pertolongan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan berharap keberkahan dengan menyebut nama-Nya. Lafal Basmalah mengandung tiga nama Allah yang sangat baik, yaitu: 1. Allāh, Zat yang berhak disembah, dan nama ini merupakan nama khusus hanya berlaku bagi Allah -Ta'ālā-, sehingga siapa pun tidak diperkenankan menyandang nama tersebut selain Dia -Subḥānahu-. 2. Ar-Raḥmān, pemilik rahmat yang luas, Dia Zat yang maha pengasih. 3. Ar-Raḥīm, pemilik rahmat yang menyeluruh. Dia merahmati siapa pun yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, dan di antaranya hamba-hamba-Nya yang beriman.
Tafsir Zubdatut
Para ulama berbeda pendapat dalam basmalah ini, sebagian mereka berpendapat bahwa basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada setiap awal surat ; pendapat lain berkata bahwa ia termasuk ayat pada setiap surat, dan mungkin adalah termasuk ayat hanya dari surat al-Fatihah; pendapat lain berkata bahwa ia bukan merupakan ayat pada setiap surat dan penulisannya hanya sebagai pembatas diantara dua surat. Akan tetapi para ulama sepakat bahwa ia adalah bagian dari sebuah ayat pada surat an-Naml. nama yang hanya disematkan untuk Allah Ta’ala, yang berasal dari kata (), yang sebelum penghilangan hamzahnya disematkan untuk segala yang disembah baik itu sesembahan yang haq maupun yang batil, dan kemudian penggunaannya condong kepada sesembahan yang haq. keduanya adalah nama yang diambil dari kata rahmat; dan nama Rahman memiliki makna yang lebih dalam daripada nama Rahim, dan nama Rahman tidak disematkan kecuali untuk Allah Azza Wajalla.
Tafsir Ash-Shaghir
{Dengan menyebut nama Allah} Aku mengawali bacaan dengan meminta pertolongan Allah dan meminta keberkahan dengan menyebut namaNya {Yang Maha Pengasih} Pemiliki kasih sayang yang sangat luas {lagi Maha Penyayang} Pemilik kasih sayang yang terus bersambung
Tafsir Aisarut
Makna Kata : Al-Basmalah adalah ketika seorang berucap bismillahirrahmaanirrahiim Al-Ismu adalah lafadz yang menjadi penamaan bagi sesuatu sehingga dapat dikenali dan dibedakan dari yang lainnya. Allah adalah nama bagi dzat Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci yang biasa dikenal dengan penamaan tersebut. Ar-Rahmaan adalah salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala yang merupakan bentuk turunan dari kata rahmat. Menunjukkan bahwa Allah memiliki banyak rahmat untuk hamba-hambaNya. Ar-Rahiim merupakan nama dan sifat Allah Ta’ala, bentuk turunan dari kata rahmat berarti Allah memiliki kasih sayang untuk hamba-hambaNya dan memberikannya untuk mereka di dunia dan di akhirat. Arti Basmalah : Aku memulai bacaanku mengharapkan berkah dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan meminta pertolongan kepadaNya. Hukum Membaca Basmalah : Ditekankan dan disyariatkan bagi orang yang akan membaca salah satu surat dalam al-Qur’an, untuk memulainya dengan Basmalah. Kecuali saat membaca surat At-Taubah, maka tidak perlu membaca basmalah. Tetap membaca basmalah secara pelan ketika membaca surat walaupun dalam sholat wajib jahriyah. Disunnahkan untuk membaca bismillah ketika hendak makan dan minum, memakai pakaian, ketika masuk atau keluar dari masjid, ketika mengendarai kendaraan, dan setiap melakukan perkara yang baik. Kemudian diwajibkan untuk mengucapkan bismillahi allahu akbar ketika menyembelih binatang.