Tafsir Ringkas Kemenag
Wahai nabi Muhammad, apabila telah datang pertolongan Allah kepadamu dan pengikutmu dalam menghadapi kaum kafir quraisy, dan telah datang pula kemenangan kepadamu dengan penaklukan mekah menjadi kota yang suci kembali dari kesyirikan dan kekafiran, 2. Dan engkau lihat manusia dari seluruh penjuru jazirah arab berbondong-bondong masuk agama Allah, yakni agama islam, setelah sebelumnya mereka masuk islam secara perorangan, .
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-3 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Umar memasukkan aku ke dalam kelompok orang-orang tua yang ikut Perang Badar. Maka seseorang dari mereka merasa kurang enak dengan keberadaanku bersama mereka, jadi dia berkata, "Mengapa orang ini dimasukkan ke dalam golongan kita, padahal kita mempunyai anak-anak seperti dia" Maka Umar berkata, "Sesungguhnya dia termasuk seseorang yang telah kalian ketahui" Pada suatu hari Umar memanggil mereka, dan dia memasukkan dia ke dalam golongan mereka. Dan aku mengerti bahwa dia tidak memanggilku dan menggabungkan diriku bersama mereka di hari itu melainkan dengan tujuan hendak memperlihatkan kepada mereka. Lalu Umar berkata, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang makna firman Allah SWT: (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1)) Maka sebagian dari mereka menjawab.”Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepadaNya, apabila Dia menolong kita dan memberikan kemenangan kepada kita" Dan sebagian dari mereka hanya diam, tidak mengatakan apa pun. Maka Umar berkata kepadaku,"Apakah demikian menurutmu, wahai Ibnu Abbas?" Aku menjawab, "Tidak" Umar berkata, "Bagaimanakah menurutmu?" Maka aku menjawab,”Itu merupakan pertanda dekatnya ajal Rasulullah SAW yang diberitahukan kepada beliau. Allah SWT berfirman: (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1)) Maka itulah tanda dekatnya ajalmu (maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat (3)) Umar bin Khattab berkata, "Aku tidak mengetahui apapun dari itu selain dari yang kamu ucapkan" Diriwayatkan dari Masruq, dia berkata bahwa ‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah SAW di akhir usia beliau memperbanyak bacaan: “Subhanallah wa bihamdihi astaghfirullah wa atubu ilaih” (Maha Suci Allah dan dengan memuji kepadaNya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya) Dan beliau SAW bersabda: “Sesungguhnya Tuhanku telah memberitahuku bahwa aku akan melihat suatu tanda di kalangan umatku, dan Dia memerintahkan kepadaku apabila aku telah melihatnya untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar kepadaNya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. Dan sesungguhnya aku telah melihatnya,, (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1) dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (2) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat (3)) Yang dimaksud dengan “al-fath” di sini adalah kemenangan atas Makkah, menurut kesepakatan semuanya, karena sesungguhnya kabilah-kabilah Arab pada mulanya menggantungkan keislaman mereka dengan kemenangan atas Makkah. Mereka berkata, "Jika dia mendapatkan kemenangan atas kaumnya, maka dia adalah seorang nabi" Dan ketika Allah SWT memenangkannya atas Makkah, maka mereka masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Belum berlalu masa dua tahun, seluruh sampai penduduk Jazirah Arab beriman, dan tidak ada suatu kabilah Arab pun melainkan mereka menampakkan keislamannya.
Tafsir As-Sa'di
1-3. Dalam surat yang mulia ini terdapat berita gembira dan sekaligus perintah untuk RasulNya pada saat berita gembira itu terwujud, serta terdapat sebuah isyarat dan peringatan akan beberapa hal yang disebabkan olehnya. Berita gembira yang dimaksud adalah berita gembira pertolongan Allah untuk RasulNya, penaklukkan Makkah dan masuknya orang-orang “ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong,” karena kebanyakan dari mereka menjadi pemeluk dan penolongnya setelah sebelumnya mereka memusuhinya. Berita gembira yang disampaikan ini benar-benar terjadi. Sedangkan perintah setelah terwujudnya kemenangan dan penaklukan adalah perintah Allah untuk RasulNya agar bersyukur kepada Allah atas hal itu serta memahasucikan dengan memujiNya dan memohon ampunan padaNya. Dan berkaitan dengan isyarat, terdapat dua isyarat dalam ayat ini: pertama, isyarat bahwa kemenangan akan terus berlangsung bagi Islam dan semakin bertambah manakala terwujud tasbih (memahasucikan) Allah dengan memujiNya dan memohon ampunan padaNya dari RasulNya, karena hal ini termasuk rasa syukur, sebagaimana firman Allah: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. ibrahim-ayat-7) Dan hal itu telah terwujud di masa Khulafa’ Rasyidin dan generasi setelahnya dari umat ini. Dan pertolongan Allah senantiasa berlangsung hingga Islam mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh agama-agama lain dan banyak orang yang masuk ke dalam Islam dalam jumlah yang belum pernah ada pada agama lain, hingga terjadilah pembangkangan terhadap perintah Allah dalam umat ini sehingga mereka tertimpa perpecahan, ceraiberainya urusan dan terjadilah apa yang terjadi. Meski demikian, umat dan agama ini tetap memiliki rahmat dan kelembutan Allah yang tidak pernah terlintas di benak atau berlalu dalam khayalan. Isyarat kedua adalah dekatnya ajal Rasulullah. Alasannya adalah karena usia beliau adalah usia mulia yang dengannya Allah bersumpah, dan Allah telah memberitahukan bahwa hal-hal utama itu ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dan lainnya. Allah memerintahkan RasulNya untuk bertahmid dan beristighfar dalam kondisi itu sebagai sebuah isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat. Hendaklah beliau mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabb beliau dan menutup usianya dengan sesuatu paling istimewa yang beliau miliki. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan pada beliau. Rasulullah menafsirkan al-Quran dan mengucapkan tasbih dan istighfar dalam shalat. Dan beliau banyak memebacanya dalam ruku dan sujudnya : Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku
Tafsir Al-Wajiz
Keutamaan surah: Di jelaskan dalam hadits Tirmidzi dari Anas bin Malik bahwa surah ini sama dengan seperempat Al-Qur’an, begitu juga surah {Idza Zulzilat}
Tafsir Al-Muyassar
Bila kemenangan atas orang orang kafir quraisy telah terwujud bagimu (wahai rasul), dan penaklukan kota Makkah telah terlaksana.
Tafsir Al-Madinah
1. Hai Muhammad, jika kamu dapat meraih kemenangan dalam melawan musuh dengan pertolongan yang kuat dan tidak terkalahkan, dan jika Allah menolongmu untuk menakhlukkan kota Makkah yang telah Allah janjikan kepadamu beberapa kali, dan kaum musliminpun mengharapkan dan memperkirakannya.
Tafsir Al-Mukhtashar
1. Jika pertolongan Allah untuk agamamu -wahai Rasul- dan kemenangan dari Allah untuk agamamu telah tiba, dan telah terjadi peristiwa penaklukan kota Makkah.
Tafsir Zubdatut
1. (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) Yakni hai Muhammad, jika pertolongan Allah telah datang kepadamu atas orang-orang yang memusuhimu, yaitu kaum Quraisy; dan kota Makkah telah ditakhlukkan untukmu. Makna () yakni pertolongan yang dapat mengalahkan musuh. Sedangkan () yakni penakhlukan pemukiman para musuh dan hati mereka untuk menerima kebenaran.
Tafsir Ash-Shaghir
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan} fathu Makkah
Tafsir Hidayatul
Dalam surah ini terdapat kabar gembira, perintah kepada Rasul-Nya ketika memperoleh kabar gembira itu, isyarat dan pemberitahuan yang akan terjadi setelahnya. Kabar gembira itu adalah pertolongan Allah kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, penaklukkan Mekah dan masuknya manusia secara berbondong-bondong kepada agama Allah, yakni banyak yang menjadi pemeluk agamnya dan pengikutnya setelah sebelumnya sebagai musuhnya, dan kabar gembira ini pun terjadi. Setelah hal itu terjadi, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersyukur kepada Tuhannya terhadap hal itu, bertasbih dengan memuji-Nya dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan isyarat yang ada di sana ada dua isyarat: Pertama, isyarat bahwa pertolongan Allah itu akan terus berlanjut kepada agama ini dan akan bertambah ketika dilakukan tasbih sambil memuji-Nya dan beristighfar dari Beliau, karena hal ini termasuk syukur, sedangkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berjanji, bahwa jika manusia bersyukur, maka Dia akan menambah nikmat-Nya, dan hal ini terbukti, seperti yang terlihat di zaman para khulafa’ raasyidin dan setelahnya bahwa pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta'aala senantiasa berlanjut kepada umat ini, sehingga agama Islam telah sampai kepada puncaknya yang tidak dapat ditandingi oleh agama-agama selainnya, dan telah masuk ke dalamnya manusia dalam jumlah yang banyak sampai terjadilah pada umat ini penyimpangan kepada perintah Allah, maka Allah menguji mereka dengan terpecah belahnya kalimat mereka dan terjadilah apa yang terjadi. Meskipun demikian, untuk umat dan agama ini ada rahmat dan kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang tidak disangka-sangka. Kedua, isyarat bahwa ajal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah semakin dekat. Alasannya adalah bahwa umur Beliau adalah umur yang utama, dan sudah maklum bahwa hal-hal yang utama ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dsb. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam memuji dan beristighfar dalam keadaan seperti ini sehingga terdapat isyarat bahwa ajalnya hampir tiba, oleh karena itu hendaknya Beliau bersiap-siap untuk bertemu Tuhannya dan mengakhiri umurnya dengan yang paling utama yang dapat Beliau lakukan. Oleh karena itulah, Beliau menakwilkan surah itu dan banyak mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya, “Subhaanakallahumma wabihamdika Allahummaghfirliy.” (artinya: Mahasuci Engkau yang Allah dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku). Kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap musuh-musuhnya. Yakni fat-hu (penaklukkan) Mekah.
Tafsir An-Nafahat
Surat An-Nasr ayat 1: Surat ini dimulai dengan kabar gembira untuk Nabi ﷺ dengan penaklukan (pembebasan) besar, dan ia adalah penaklukan Mekkah, dimana Allah berkata : Jika Allah tolong engkau wahai Nabi ﷺ atas musuh-musuhmu, dan engkau melihat musuh-musuhmu ditaklukkan dan kemudian Allah telantarkan mereka, Allah bukakan Mekkah bagimu.