Tafsir Ringkas Kemenag
Wahai nabi Muhammad, katakanlah kepada kaum musyrik yang menanyakan sifat dan nasab Allah dengan tujuan mengejek, 'dia lah Allah, yang maha esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak berbilang dalam nama, sifat, dan ketuhanan-Nya. 2. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia maha pencipta, mahakaya, dan mahakuasa. Dia tidak memerlukan yang lain, sedangkan semua makhluk bergantung kepada-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Surah Al-Ikhlas Diriwayatkan dari Ubay bin Ka'b, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi SAW.”Wahai Muhammad, gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu. Maka Allah menurunkan firmanNya: (Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu (2) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan (3) dan tidak ada seorangpun yang setara denganNya"(4)) Ayat 1-4 Telah disebutkan sebab penurunannya. Yaitu Dialah Tuhan yang Satu, Yang Esa, Yang tidak ada tandingan bagiNya, tidak ada pembantu bagiNya, tidak ada lawan bagiNya, tidak ada yang serupa denganNya, dan tidak ada yang setara denganNya. Lafaz ini tidak boleh dikatakan secara itsbat terhadap seseorang kecuali hanya Allah SWT, karena Dia Maha Sempurna dalam segala sifat dan perbuatanNya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maknanya adalah Tuhan Yang Maha Sempurna dalam perilakuNya, Maha Mulia yang Maha Sempurna dalam kemuliaanNya, Maha Agung yang Maha Sempurna dalam keagunganNya, Maha Penyantun yang Maha Sempurna dalam sifat penyantunNya, Maha Mengetahui yang Maha Sempurna dalam pengetahuanNya, dan Maha Bijaksana yang Maha Sempurna dalam kebijaksanaanNya. Dialah Allah yang Maha Sempurna dalam kemuliaan dan perilakuNya. Dan hanya Dialah Allah SWT yang berhak memiliki sifat ini yang tidak layak bagi selain Dia. Tidak ada yang setara denganNya dan tidak ada yang sama denganNya, Maha Suci Allah yang Maha Esa lagi Maha Menang. Diriwayatkan dari Abu Wa'il tentang firmanNya: (yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu) Tuhan yang perilakuNya tidak ada yang menandingiNya. ‘Ashim meriwayatkan hal yang semisal dari Abu Wa'il, dari Ibnu Mas'ud. Ar-Rabi' bin Anas berkata bahwa maknanya adalah Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Seakan-akan pendapat ini menjadikan firman setelahnya merupakan tafsirnya, yaitu firmanNya: (Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (3) Pendapat ini merupakan pendapat yang bagus. Telah disebutkan dalam hadits dari riwayat Ibnu Jarir, dari Ubay bin Ka'b tentang itu yang menerangkannya dengan jelas. Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata dalam kitab sunahnya setelah menyebutkan banyak pendapat tentang tafsir “Ash-Shamad” bahwa semuanya itu benar termasuk sifat Rabb kita SWT; yaitu yang menjadi tempat bergantung bagi segala keperluan. Dia adalah tujuan semuanya. Dia tidak berongga, tidak makan, dan tidak minum, dan Dia kekal setelah semua makhluk. Firman Allah: (Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (3) dan tidak ada seorangpun yang setara denganNya (4)) yaitu Dia tidak memiliki anak, tidak memiliki orang tua, dan tidak mempunyai istri. Mujahid berkata tentang firmanNya: (dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya (4)) yaitu tidak memiliki istri Hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri, Dia menciptakan segala sesuatu) (Surah Al-An'am: 101) yaitu Dialah Dzat yang memiliki segala sesuatu dan yang Menciptakannya, maka bagaimana mungkin Dia mempunyai tandingan dari kalangan makhlukNya yang menyamaiNya atau mendekatiNya? Maha Tinggi lagi Maha Suci Allah dari semuanya itu. Allah SWT berfirman: (Dan mereka berkata, "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (88) Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar (89) hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh (90) karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak (91) Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak (92) Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba (93) Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti (94) Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (95)) (Surah Maryam)
Tafsir As-Sa'di
1. “Katakanlah,” dengan perkataan tegas, dengan yakin, dan mengetahui maknanya, “Dia-lah Allah Yang Maha Esa,” yakni, kemahaesaan itu hanya terbatas padaNya. Dia-lah Yang Maha Esa, yang tersendiri dengan kesempurnaan, hanya bagiNya nama-nama indah, sifat-sifat sempurna yang tinggi dan perbuatan-perbuatan yang suci, yang tidak ada tandinganNya.
Tafsir Al-Wajiz
Keutamaan surah: Imam Ahmad dan Imam Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudzri yang berkata: Rasulallah SAW bersabda kepada para sahabatnya: ”Apakah salah satu dari kalian ada yang keberatan untuk membaca sepertiga Al-Qur’an di malam hari?” Maka pecahlah kondisi ketika itu. Mereka berkata: “Siapa di antara kami yang menanggung beban itu ya Rasulallah?”. Lalu Rasulallah bersabda: “Allahul Waahidush Shomad (surah Al-Ikhlash) adalah sepertiga Al-Qur’an” 1. Katakanlah wahai Nabi: Allah adalah yang Maha Esa dengan DzatNya. Tidak ada bagiNya Tuan dan tidak pula materi. Dialah Dzat yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya. Ayat ini diturunkan ketika orang-orang musyrik berkata: “Wahai Muhammad, nasabkanlah Tuhanmu kepada kami, maksudnya yaitu sebutkanlah nasab Tuhanmu kepada kami” kemudian turunlah surah ini
Tafsir Al-Muyassar
Katakanlah (wahai rasul), “Dia lah Allah pemilik tunggal uluhiyah dan rububiyah, nama nama dan sifat sifat, tidak seorangpun yang bersekutu dengan NYA padanya.”
Tafsir Al-Madinah
1-4. Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan dengan tegas kepada orang-orang musyrik yang berkata, “Sebutkanlah kepada kami nasab Tuhanmu!” Maka Allah mengajarkan Rasulullah bantahan terhadap mereka: Sungguh Tuhanku adalah Allah, satu-satunya yang berhak disembah, tidak ada satupun sekutu-Nya dalam peribadatan; Dia Maha Sempurna kekuasaan dan kemuliaan-Nya; Dia tidak beranak dan tidak mengangkat seorang anak, sekutu, atau sesuatu yang menyamai-Nya baik itu dalam Dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Tafsir Al-Mukhtashar
1. Katakan -wahai Rasul-, “Dia lah Allah yang esa dalam uluhiyah, tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya.
Tafsir Zubdatut
1. (Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa) Orang-orang musyrik mengatakan: “Hai Muhamamd, sebutkan kepada kami nasab tuhanmu!” Maka turunlah surat ini. Yakni jika kalian menanyakan nasab-Nya, maka Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Tafsir Li Yaddabbaru
Muqoddimah surah al-Ikhlas : 1 ). Beberapa orang alim yang fasih dan ahli balaghoh di andalusia mencoba untuk menyusun kitab beberapa ayat yang serupa dengan al-Qur'an, maka mereka pun mengamati dan mempelajari surah al-Ikhlas; untuk mereka tiru dalam penyusunan surah yang serupa, tanpa disadari seseorang dari mereka berkata : aku ditimpa ketakutan pada sebuah kertas; yang kemudian membawaku pada pintu taubat dan penyesalan. 2 ). Surah al-Ikhlas diibaratkan seperti sepetiga al-Qur'an sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang shohih; hal itu berdasarkan bahwasanya ilmu yang terkandung dalam al-Qur'an ada tiga pembagian : tauhid, hukum-hukum, dan kisah, dan surah al-ikhlas mencakup didalamnya pembahsan tentang tauhid yang merupakan sepertiga bagian dari al-Qur'an. { , } 1-2 1 ). Mungkin sebagian dari mereka ada yang menyangka bahwa dua ayat ini pada hakikatnya bersambung : , tetapi nyatanya kedua ayat ini saling terpisah, karena kalimat dari ayat ini disesuaikan agar menjadi tetap dalam diri-diri siapa yang yang membacanya dan untuk pengagungan untuknya, maka lebih sesuai jika setiap kalimat tidak terikat dengan yang lainnya. 2 ). { } Dzat yang digantungkan kepada-Nya segala urusan, dan tidak kepada selain-Nya perkara dan urusan itu digantungkan : { }. Maka apakah Allah yang menjadi tempat pertama kita melaporkan segala sesuatu yang kita butuhkan, dalam susah ataupun senang, dalam keadaan sempit ataupun lapang ?
Tafsir Ash-Shaghir
Katakanlah,“Dialah Allah Yang Maha Esa
Tafsir Hidayatul
Dengan memastikan, meyakininya dan mengetahui maknanya. Dan jawablah dengan surah ini orang-orang yang bertanya tentang siapa Allah Subhaanahu wa Ta'aala? Dia sendiri dengan kesempurnaan, memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi yang sempurna serta perbuatan-perbuatan yang suci, dimana pada semua itu tidak ada yang menyamainya.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Ikhlas ayat 1: Allah memerintahkan Nabi ﷺ agar berkata kepada manusia : Sesungguhnya Allah menyendiri dalam ke-Uluhiyyahan, Rububiyyah dan Nama serta Sifat-Nya, tidak bersekutu sesuatu apapun dengan-Nya. Inilah yang dimaksud makna ahad (Esa). Tidak sebagaimana diklaim oleh Mu’tazilah dan Asya’irah : Dia tunggal tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah, dengan kata lain : Dia tidak memiliki pembagian (Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma wa Sifat). Dan bantahan bagi mereka firman Allah yang ada dalam akhir akhir surat ini yang artinya : Dan tidak ada sesuatupun yang semisal dengan Dia. Ini lebih utama dan mencakup secara keseluruhan dibandingkan ucapan mereka.