Surah Al-A'la : Ayat 1
سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَى

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi,"

Tafsir Ringkas Kemenag
Wahai nabi, sucikanlah nama tuhanmu yang mahatinggi dari hal-hal yang tidak layak bagi kemuliaan-Nya. 2. Dialah tuhan yang menciptakan segala sesuatu dari tiada, lalu menyempurnakan penciptaan-Nya. Ciptaannya sepadan, teratur, padu, rapi, dan sempurna dari semua sisi.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-13 Diriwayatkan dari As-Suddi dari Abdu Khair, dia berkata bahwa aku pernah mendengar Ali membaca firmanNya: (Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (1)) Lalu dia mengucapkan, "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi" Firman Allah SWT: (yang menciptakan dan menyempurnakan (ciptaan-Nya) (2)) yaitu Dia menciptakan makhluk dan menyempurnakan setiap makhlukNya dalam bentuk yang paling baik. Firman Allah SWT: (dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (3)) Mujahid berkata bahwa makna yang dimaksud adalah memberi petunjuk kepada manusia untuk celaka dan untuk bahagia, dan memberi petunjuk kepada hewan ternak untuk ke tempat penggembalaannya. Ayat ini sebagaimana firman Allah SWT yang memberitahukan tentang nabi Musa yang berkata kepada Fir'aun: (Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk) (Surah Thaha: 50) Allah SWT telah menentukan kadar dan memberi mereka petunjuk bagi makhluknya kepada takdirnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Muslim dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar-kadar bagi semua makhlukNya sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam waktu lima puluh ribu tahun, dan 'ArsyNya masih berada di atas air” Firman Allah SWT: (dan yang menumbuhkan rumput-rumputan (4)) yaitu semua jenis tumbuhan dan tanaman (lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman (5)) Ibnu Abbas berkata bahwa maknannya adalah kering dan berubah. Diriwayatkan hal yang serupa dari Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid. Firman Allah SWT: (Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu) wahai Muhammad (maka kamu tidak akan lupa) Hal ini merupakan pemberitahuan dari Allah SWT dan janjiNya kepada nabi Muhammad SAW bahwa Dia akan membacakannya kepadanya dengan bacaan yang selamanya dia tidak akan melupakannya (kecuali kalau Allah menghendaki) Pendapat inilah yang dipilih Ibnu Jarir. Qatadah berkata bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melupakan sesuatu kecuali apa yang dikehendaki Allah. DIkatakan bahwa yang dimaksud dengan firmanNya: (maka kamu tidak akan lupa) Ini mengandung makna thalab; dan mereka menjadikan makna istisna’ berdasarkan hal ini adalah apa yang dijadikan untuk menasakh. yaitu, kamu tidak akan melupakan apa yang telah Kami bacakan kepadamu kecuali apa yang dikehendaki Allah untuk dilupakan, maka janganlah membiarkannya. Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi) Allah mengetahui apa yang dilakukan para hamba secara terang-terangan dan apa yang mereka sembunyikan dari ucapan dan perbuatan mereka. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dariNya. Firman Allah SWT: (Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah (8)) yaitu, Kami akan memudahkan kamu untuk mengerjakan perbuatan dan ucapan yang baik, dan Kami akan mensyariatkan kepadamu syariat yang mudah, penuh toleransi, lurus, adil, dan tidak ada kebengkokan padanya serta tidak ada beban dan kesulitan. Firman Allah SWT: (oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat (9)) yaitu peringatkanlah ketika peringatan itu bermanfaat. Maka dari sini disimpulkan etika dalam menyebarkan ilmu, yaitu tidak diberikan bukan kepada ahlinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mu’minin Ali,"Tidak sekali-kali kamu menceritakan suatu hadits kepada suatu kaum yang akal mereka masih belum bisa mencernanya, melainkan hal itu akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka" Ali juga berkata,"Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui, maukah kalian jika Allah dan RasulNya didustakan" Firman Allah SWT: (orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran (10)) yaitu yang mau mengambil pelajaran dari apa yang kamu sampaikan, wahai Muhammad, adalah orang yang hatinya takut kepada Allah dan meyakini bahwa dia pasti akan menghadap kepadaNya (orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (11) (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka) (12) Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup (13)) yaitu tidak mati sehingga dia terhenti dari siksaannya, dan tidak pula hidup dengan kehidupan yang memberinya manfaat. Bahkan kehidupannya itu merupakan mudharat baginya, karena dengan itu dia selalu merasakan apa yang menimpanya berupa azab yang pedih dan beragam hukuman. Sungguh Allah SWT memberitahukan tentang penghuni neraka: (Mereka berseru, "Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja." Dia menjawab, "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)” (77)) Surah Az-Zukhruf) dan Allah SWT berfirman: (Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya) (Surah Fathir: 36) dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ini
Tafsir As-Sa'di
Ayat 1-3 Allah memerintahkan para hamba untuk memahasucikanNya (dengan melakukan hal-hal) yang mencakup dzikir, ibadah, tunduk dan patuh terhadap keagungan Allah serta merendah karena keagunganNya. Pujian tersebut adalah pujian yang pantas dan sesuai dengan keagungan Allah, yakni dengan menyebutkan nama-namaNya yang baik lagi tinggi di atas setiap nama dengan maknanya yang agung. Dan menyabutkan perbuatan-perbuatanNya yang di antaranya adalah menciptakan dan menyempurnakan dan membaguskan penciptaanNya. “Dan yang menentukan,” yakni takdir yang diikuti oleh takdir-takdir yang lain, “dan memberi petunjuk,” kepada semua makhluk ciptaan kepada takdir tersebut ini adalah hidayah (petunjuk) secara umum, yang intinya bahwa Dia menunjuki setiap makhluk kepada apa-apa yang merupakan kemaslahatan baginya.
Tafsir Al-Wajiz
Keutamaan: Keutamaan: Diriwayatkan dari Bukhari Muslim, bahwa Nabi berkata kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, Mengapa dalam shalatmu, kamu tidak membaca sabbih isma rabbika al a’la atau wasy syamsi wa dhulhaha atau wa al laili idzza yaghsya saja?” 1. Bertasbihlah wahai Nabi dengan menyebut nama Tuhanmu yang memiliki Keagungan sangat tinggi dan tidak ada yang sepadan dengan-Nya. Dengan perkataanmu : Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi
Tafsir Al-Muyassar
1-5. Sucikanlah nama tuhanmu yang maha tinggi dari sekutu dan kekurangan dengan penyucian yang layak dengan keagungan NYA, Yang menciptakan makhluk-makhluk dan membaguskan serta menguatkan penciptaannya. Yang menetapkan takdir segala sesuatu, lalu membimbing makhluk kepada apa yang cocok baginya, Yang menumbuhkan padang gembala hijau, Lalu sesudahnya menjadikannya mengering dan berubah menjadi hitam setelah ia berwarna hijau.
Tafsir Al-Madinah
1-3. Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan umatnya untuk bertasbih menyucikan-Nya dari segala hal yang tidak pantas bagi Dzat, sifat, perbuatan, nama, dan hukum-Nya; sebab Dia Maha Tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya, Dia Yang menciptakan seluruh makhluk dengan sebaik-baik penciptaan, tidak ada dari ciptaan itu yang tidak sesuai, Dia menetapkan pada makhluk segala yang berguna, dan menyesuaikannya dengan penuh kesesuaian susunan dan detailnya, serta mengilhamkan hal yang Dia tetapkan untuk bekerja sesuai fungsinya dan memberinya kemampuan.
Tafsir Al-Mukhtashar
1. Sucikanlah Rabbmu yang Mahatinggi di atas makhluk-Nya dengan melafalkan nama-Nya saat engkau menyebut-Nya, dan ketika engaku mengagungkan-Nya.
Tafsir Zubdatut
1. (Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi) Yakni sucikanlah Allah dari segala yang tidak pantas bagi-Nya dengan mengucapkan: “Subhaana Rabbiyal a’laa”
Tafsir Li Yaddabbaru
1) . Pada suatu kesempatan Ibnu Mas'ud membaca beberapa ayat dari surah ini : { } tatkala beliau sampai pada ayat : { } Ibnu Mas'ud kemudian menghentikan bacaannya dan menemui sahabat-sahabat Nabi lainnya, lalu berkata : "Dunia telah menggoda kita, karena kita telah menyaksikan perhiasannya, dan juga wanita-wanitanya, makanan dan minum yang berlimpah didalamnya, dan akhirat telah sirna dari harapan kita karenannya, kita lebih memilih kenikmatan yang sementara ini ketimbang kenikmatan akhirat yang akan kekal selamanya". 2) . Surah al-Ghasyiah dan surah al-A'la memiliki kesamaan pada satu kata yang terkandung didalamnya, yaitu kata { } yang menerangkan bahwasanya dua surah ini berfokus pada satu tujuan yang sama yaitu sebagai peringatan akan keagungan dan kuasa Allah, menjadikan dalil dari ayat-ayat Nya, dan mengingatkan akan azab-Nya yang amat sangat pedih, oleh karena itu Allah berfirman pada surah ini : { } "api yang besar" , dan pada surah al-ghasyiah Allah berkata dengan satu kalimat yang saling berkaitan satu sama lainnya : { ) , dua ayat yang memberi peringatan kepada orang-orang beriman untuk selalu mengintropeksi diri, dan selalu waspada dari penyimpangan syari'at tuhannya.
Tafsir Ash-Shaghir
Sucikanlah nama Tuhanmu} Sucikanlah Tuhanmu dengan menyebut namaNya {Yang Maha tinggi} Yang tinggi Dzat dan kekuasaanNya
Tafsir Hidayatul
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Tafsir Juz ‘Amma berkata, “Khithab (arah pembicaraan) di sini untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan khithab kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Al Qur’anul Karim terbagi menjadi tiga bagian: (1) Adanya dalil bahwa khithab itu khusus tertuju kepada Beliau, sehingga menjadi khusus untuk Beliau, (2) Adanya dalil bahwa khithab itu umum sehingga menjadi umum, (3) Tidak adanya dalil terhadap ini (khusus untuk Beliau) dan itu (khusus untuk umatnya), maka hal ini menjadi khusus lafaznya saja (kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), namun secara hukumnya buat umat juga.” Syaikh As Sa’diy berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan bertasbih kepada-Nya yang di dalamnya mengandung dzikr dan beribadah kepada-Nya, tunduk kepada keagungan-Nya dan merendahkan diri kepada kebesaran-Nya, dan hendaknya tasbih itu yang sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala, yaitu dengan disebut nama-nama-Nya yang indah lagi tinggi di atas semua nama, dengan maknanya yang indah dan agung. Demikian pula dengan disebut perbuatan-Nya yang di antaranya adalah Dia menciptakan semua makhluk lalu menyempurnakannya, yakni merapihkan dan memperbagus ciptaan-Nya.” Yakni sucikanlah Tuhanmu dari segala yang tidak layak bagi-Nya. Dr. Abdurrahman Al Khumais dalam Anwaarul Hilaalain fit Ta’aqqubaat ‘alal Jalaalain berkata, “Al A’laa adalah salah satu nama Allah yang di dalamnya menetapkan sifat ketinggian bagi Allah Ta’ala; yang maknanya adalah Yang Paling Tinggi di atas segala sesuatu. Ia adalah Af’al tafdhil (bentuk kata yang menunjukkan paling) yang menunjukkan ketinggian Allah Ta’ala dengan semua makna ketinggian. Oleh karena itu, Dia paling tinggi kedudukannya, paling tinggi berkuasa, paling tinggi zat-Nya di atas segala sesuatu. Disebutkan nama-Nya Al A’laa di sini adalah untuk menerangkan keberhakan-Nya disucikan, yakni disucikan dari semua kekurangan.”
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-A’la ayat 1: Surat ini dimulai dengan perintah Nabi ﷺ untuk mensucikan Rabbnya Yang Maha Tinggi dan Maha Agung dari sifat-sifat-Nya yang memiliki kekurangan dalam dzat, sifat, nama, perbuatan, hukum dan maksud Allah (dalam) memerintahkan orang-orang beriman.