Surah Hud : Ayat 10
وَلَئِنْ أَذَقْنَٰهُ نَعْمَآءَ بَعْدَ ضَرَّآءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ ٱلسَّيِّـَٔاتُ عَنِّىٓ ۚ إِنَّهُۥ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

"Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga,"

Tafsir Ringkas Kemenag
Dan jika kami berikan kebahagiaanberupa keluasan rezeki, kehidupan yang menyenangkan, dan kesehatan kepadanya setelah ditimpa bencana berupa malapetaka, kemiskinan, kesulitan hidup, atau sakit yang menimpanya, niscaya dia akan berkata dengan nada sombong, telah hilang bencana itu dariku. Sesungguhnya dia merasa sangat gembira dan bangga, karena menganggap bahwa dirinya telah selamat dari bencana itu. Padahal Allahlah yang telah menyelamatkan mereka, dan mereka tidak menyadari hal itu. Itulah sifat orang-orang sombong, ketika mendapat cobaan mereka putus asa, dan ketika selamat dari bencana mereka lupa kepada Allah, kecuali orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesulitan serta rida terhadap ketentuan Allah, dan mereka tetap istikamah dalam mengerjakan kebajikan baik ketika mereka dalam kesulitan maupun kelapangan hidup. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar di sisi Allah atas amal saleh yang mereka lakukan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 9-11 Allah SWT memberitahukan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada pada dirinya, kecuali orang yang dirahmati Allah dari hamba-hambaNya yang beriman, bahwa manusia itu ketika ditimpa penderitaan setelah mendapat nikmat, maka dia putus asa dan terputus dari kebaikan di masa yang akan datang, dan ingkar dan menyimpang dari keadaan sebelumnya. Seakan-akan dia tidak melihat kebaikan, dan tidak mengharapkan jalan keluar setelah itu. Demikian jika dia mendapat nikmat setelah kesengsaraan, (niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu dariku") yaitu berkata,”Tidak ada kesengsaraan dan keburukan lagi yang menimpaku setelah ini (sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga) yaitu senang dengan nikmat yang ada pada tangannya, lalu dia angkuh terhadap orang lain. Allah SWT berfirman. (kecuali orang-orang yang sabar) yaitu atas penderitaan dan sesuatu yang dibenci (dan mengerjakan amal-amal saleh) yaitu dalam keadaan sejahtera dan sehat (mereka itu beroleh ampunan) yaitu terhadap kemudharatan yang menimpa mereka (dan pahala yang besar) dengan apa yang telah mereka perbuat di waktu kesejahteraan mereka Allah berfirman (Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (19) Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah(20) dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir (21) kecuali orang-orang yang melaksanakan salat (22)) (Surah Al-Ma’arij).
Tafsir As-Sa'di
9-10. Allah mengabarkan tentang tabiat manusia bahwa dia itu bodoh dan zhalim, bahwa jika Allah memberikan rahmat kepadanya seperti rizki, kesehatan, anak keturunan dan lain-lain, kemudian Dia mengambil darinya, maka dia menyerah dan tunduk kepada keputusasaan tidak berharap pahala dari Allah dan tidak terlitas dibenaknya bahwa Allah akan mengembalikannya atau yang sepertinya atau yang lebih baik daripadanya, dan bahwa jika Allah melimpahkan rahmat setelah kesulitan yang menimpanya maka dia berbahagia menyombongkan diri dan menyangka harta yang banyak itu akan langgeng, seraya dia berkata ”telah hilang bencana bencana itu dariku’ sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga” maksudnya dia berbahagia dengan apa yang diberikan kepadamya hamba-hambaNYa. Hal itu membuat lupa diri, sombong, angkuh, takabur dihadapan manusia, menghina dan merendahkan mereka. Adakah cacat yang lebih berat daripada ini?
Tafsir Al-Wajiz
10. Dan jika Kami anugerahkan kepada mereka suatu kebahagiaan berupa kesehatan, keselamatan dan kecukupan sesudah adanya bencana berupa sakit, rasa takut atau fakir, niscaya mereka akan berkata: “Bencana-bencana itu telah hilang dariku dan tidak akan kembali lagi”, sehingga kemudian mereka tidak bersyukur. Sesungguhnya mereka sangat senang lagi bangga dengan berlebihan dengan kenikmatan yang mereka terima, disertai dengan rasa bangga dan kesombongan kepada manusia.
Tafsir Al-Muyassar
Dan jika kami melapangkan bagi manusia keadaan dunianya dan meluaskan baginya rizki setelah kesempitan penghidupannya, tentulah saat itu dia benar-benar akan mengatakan, ” telah pergi dariku kesulitan hidup dan telah lenyap berbagi macam kesengsaraan.” sesungguhnya ia benar-benar seorang yang mengingkari nikmat-nikmat, keterlaluan dalam berbangga diri dan angkuh di hadapan manusia.
Tafsir Al-Madinah
10-11. Dan jika ia kembali mendapat kenikmatan, ia cenderung berfoya-foya, sombong, lupa terhadap sunnatullah, merasa aman dari perubahan nasib, dan lupa bahwa itu adalah karunia dan rahmat dari Allah. Kemudian Allah mengecualikan orang yang bersabar saat ditimpa musibah, dan menyucikan dirinya dengan amalan-amalan shalih; dia tidak mengeluh ketika mendapat musibah dan tidak sombong ketika mendapat kenikmatan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi, bagi mereka ampunan yang besar berkat keshalihan, harapan, dan rasa syukur mereka kepada Allah.
Tafsir Al-Mukhtashar
10. Dan sungguh jika Kami merasakan kemudahan mendapatkan rezeki dan kesehatan setelah ia merasakan kemiskinan dan penyakit, pasti ia akan berkata, "Kesulitanku sudah pergi. Dan penyakitku sudah hilang." Ia tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Ia gemar membanggakan diri dan suka menyombongkan nikmat yang diterimanya dari Allah di depan orang lain.
Tafsir Zubdatut
10. (Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”) Yakni jika seorang hamba diberi kenikmatan oleh Allah berupa kesehatan, keselamatan, dan kekayaan padahal sebelumnya ia berada dalam kesengsaraan seperti kemiskinan, penyakit, atau ketakutan, maka mereka tidak menyikapinya dengan rasa syukur kepada Allah, namun mereka malah mengatakan “segala musibah telah hilang sama-sekali” tanpa bersyukur kepada Allah atau memuji-Nya atas keadaan buruk mereka yang telah diangkat oleh Allah. (sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga) Yakni sangat senang dengan penuh kesombongan dan sangat angkuh didepan orang lain dan semena-mena karena Allah telah memberikan berbagai kenikmatan kepada mereka ketika itu.
Tafsir Ash-Shaghir
{Sungguh jika Kami membuatnya merasakan nikmat setelah bencana yang menimpanya} menimpanya {niscaya dia akan berkata,“Telah hilang keburukan itu} keburukan {dariku” Sesungguhnya dia sangat gembira} sangat gembira dengan disertai keangkuhan {dan membanggakan diri} sangat membanggakan diri kepada manusia
Tafsir Aisarut
Makna kata : ( ) Na’maa a ba’da dharraa : Kebaikan setelah keburukan. () As-Sayyiaat : Bentuk plural dari () keburukan, segala sesuatu yang menyulitkan berupa musibah. ( ) Farihun fakhuur : Sangat bahagia lagi sombong. Makna ayat : ( ) Kami berikan kepadanya kenikmatan, kelapangan hidup dan kesehatan setelah tertimpa kesengsaraan. () Mengganti pujian dan syukur kepada Allah atas kenikmatan yang ia rasakan setelah kesengsaraan, kekayaan yang ia dapatkan setelah kemiskinan dan kesehatan setelah ia merasakan sakit, seraya berkata dengan penuh kebanggaan : ( ) telah hilang dari ku keburukan, ( ) “Sesungguhnya dia” sangat berbahagia () sombong dan bangga. Penyebab hal di atas adalah kegelapan jiwa yang disebabkan kekufuran dan maksiat. Pelajaran dari ayat : • Tercelanya mencintai dan berbangga dengan dunia.
Tafsir Hidayatul
Surat Hud ayat 10: Ia tidak bersyukur terhadapnya.