Surah Asy-Syams : Ayat 10
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

"dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."

Tafsir Ringkas Kemenag
Dan sungguh rugi orang yang menutupi kemuliaan jiwa itu, mengotorinya dengan sifat-sifat buruk, dan mematikan potensinya untuk berbuat baik. Dengan melakukan hal itu, manusia tidak malu lagi berperilaku buruk, berbuat dosa, dan merugikan orang lain. 11. Kaum samud, yang dahulu tinggal di sebelah selatan madinah, adalah contoh manusia yang mengotori jiwa dengan kekafiran dan maksiat. Kaum 'amud telah mendustakan rasulnya, yaitu nabi saleh, karena mereka melampaui batas dalam keingkaran terhadap ajakan nabi mereka dan melakukan tindakan yang penuh dosa.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-10 Mujahid berkata tentang firmanNya: (Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (1)) yaitu sinarnya. Qatadah berkata tentang firmanNya, ("Waduhaha") yaitu seluruh siang hari. Ibnu Jarir berkata bahwa yang benar adalah jika dikatakan bahwa Allah bersumpah dengan menyebut matahari dan siang hari, karena sinar matahari yang terang tampak di siang hari. (dan bulan apabila mengiringinya (2)) Mujahid berkata yaitu mengiringinya. Qatadah berkata yaitu malam hilal mengiringinya, jika matahari terbenam, hilal terlihat. Ibnu Zaid berkata bahwa bulan mengiringi matahari pada pertengahan bulan pertama, kemudian matahari mengiringi bulan dan bulan mendahuluinya pada pertengahan bulan terakhir. Firman Allah SWT: (dan siang apabila menampakkannya (3)) Mujahid berkata bahwa maknanya adalah jika menyinari. Qatadah berkata tentang firmanNya: (dan siang apabila menampakkannya (3)) yaitu apabila siang hari menerangi semuanya. Ibnu Jarir berkata bahwa sebagian ahli bahasa Arab menafsirkannya dengan siang hari ketika mengusir kegelapan. Dikatakan demikian karena konteks kalimat menunjukkan hal ini. Saya berkata bahwa seandainya orang yang berpendapat demikian menafsirkan demikian sebagaimana tafsirnya terhadap firmanNya: (dan siang apabila menampakkannya (3)) maka sungguh hal ini lebih utama dan benar jika ditafsirkan kepada firmanNya: (dan malam apabila menutupinya (4)) Maka tafsirnya lebih baik dan lebih kuat, hanya Allah yang lebih Mengetahui. Oleh karena itu Mujahid berkata tentang firmanNya: (dan siang apabila menampakkannya (3)) Bahwa ini sebagaimana firmanNya: (dan siang apabila terang benderang (2)) (Surah Al-Lail) Adapun Ibnu Jarir, dia memilih pendapat yang merujukkan semua dhamir kepada matahari, karena keduanya menyebutnya. Mereka berkata tentang firmanNya SWT: (dan malam apabila menutupinya (4)) yaitu apabila malam menutupi matahari saat matahari tenggelam, maka seluruh cakrawala menjadi gelap. Firman Allah SWT: (dan langit serta pembinaannya (5)) Huruf “ma” di sini dapat ditafsirkan sebagai “ma” mashdariyah, sehingga maknannya “dan langit serta bangunannya”. Ini adalah pendapat Qatadah. Bisa juga bermakna “man”, sehingga maknannya “dan langit serta Tuhan yang membangunnya”. Ini adalah pendapat Mujahid; kedua pendapat itu saling berkaitan. Dan yang dimaksud dengan “Al-Bina’” adalah bangunannya yang tinggi. sebagaimana firmanNya: (Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami)) yaitu dengan kekuatan (dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya (47) Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami) (48)) (Surah Adz-Dzariyat) Demikian pula firman Allah SWT: (dan bumi serta penghamparannya (6)) Mujahid berkata bahwa makna “thahaha” adalah penghamparannya. Ibnu Zaid berkata bahwa (thahaha) adalah penghamparannya, dan inilah pendapat yang paling dikenal dan banyak diikuti para mufasir, dan terkenal dikalangan ahli bahasa. Al-Jauhari berkata bahwa kata “tahautuhu” itu sama dengan “dahautuhu”, yaitu aku telah menghamparkannya. Firman Allah SWT: (Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya (7)) yaitu penciptaannya yang sempurna dan lurus dengan fitrah yang tegak, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah) (Surah Ar-Rum: 30) Firman Allah SWT: (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (8)) yaitu Allah menjelaskan kepadanya menuju kefasikan, yaitu menjelaskan kepadanya hal itu kemudian memberinya petunjuk kepadanya sesuai dengan apa yang Dia tetapkan untuknya. Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah SWT: (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (8)) Allah menjelaskan kepadanya kebaikan dan keburukan. Demikian juga dikatakan Mujahid dan Qatadah. Ibnu Zaid berkata bahwa Allah SWT menjadikan dalam jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya Firman Allah SWT: (sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10)) Bisa ditafsirkan bahwa sungguh beruntunglah orang yang menyucikan dirinya dengan taat kepada Allah, sebagaimana yang dikatakan Qatadah, dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang hina dan rendah. Hal yang semisal juga diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, dan Sa'id bin Jubair. Ini sebagaimana firmanNya: (Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) (14) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat (15)) (Surah Al-A’la) (dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10)) yaitu membenamkannya, yaitu mengubur dan menghinakannya dengan tidak mengikuti petunjuk, sehingga dia terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan maksiat dan meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT. Bisa juga ditafsirkan bahwa beruntunglah orang yang jiwanya dibersihkan Allah, dan merugilah orang yang jiwanya ditakdirkan kotor oleh Allah SWT. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas
Tafsir As-Sa'di
9-10. “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,” yakni, menyucikan dirinya dari berbagai dosa, membersihkannya dari berbagai aib, dan meningkatkannya dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat serta amal baik. “Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” yakni, menyembunyikan jiwanya yang mulia yang tidak sebenarnya dengan menghempaskannya dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib dan dosa, meninggalkan sesuatu yang bisa menyempurnakan dan menumbuhkannya, serta menggunakan sesuatu yang memperkeruh dan mengotorinya.
Tafsir Al-Wajiz
9-10. Sungguh beruntung orang menyucikan jiwanya dari dosa dan mengembangkannya dengan ketaatan dan ketakwaan, dan sungguh merugi orang yang lalai untuk mendidik jiwanya melainkan malah menggodanya (untuk keburukan). Ini adalah jawaban dari qasam (sumpah) itu. At-Tadsiyah (Penodaan) adalah mengurangi dan menyembunyikan, dan itu merupakan lawan kata Tazkiyah (Penyucian).
Tafsir Al-Muyassar
1-10. Allah bersumpah dengan matahari dan waktu siangnya, dan waktu terbitnya (waktu dhuha). Allah bersumpah Juga dengan rembulan yang mengikutinya dalam terbit dan terbenam, Allah bersumpah Juga dengan siang yang melenyapkan dan mengangkat kegelapan, Allah bersumpah Juga dengan malam saat ia menutupi bumi sehingga ia pun gelap, Allah bersumpah Juga dengan langit dan bangunannya yang kokoh. Allah bersumpah Juga dengan bumi dan hamparannya, Allah bersumpah Juga dengan setiap jiwa yang Allah ciptakan dengan sempurna untuk menunaikan tugasnya, Lalu Allah menjelaskan untuknya jalan keburukan dan jalan kebaikan, Sungguh beruntung siapa yang menyucikannya dan menumbuhkan nya dengan kebaikan, Dan sungguh merugi siapa yang menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan.
Tafsir Al-Mukhtashar
10. Dan orang yang mengotori jiwanya dengan kemaksiatan dan dosa secara sembunyi-sembunyi telah merugi.
Tafsir Zubdatut
10. (dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya) Yakni merugilah orang yang menyesatkan dan memalingkan jiwanya dari Allah dan tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah dan amalan shalih.
Tafsir Li Yaddabbaru
9-10 Jiwa jika engkau meninggalkannya, iblis akan menjadikannya pintu masuk untuk merusak dirimu, dan jika engkau menggantukkan untuknya nasehat terus-menerus serta penyesalan atas segala kesalahan dan dosa, dan kamu Istiqomah dalam hal itu, maka iblis akan menjauh dari dirimu, jiwa akan tenang, dan kemenangan akan menjadi milikmu, sebagaimana yang dikatakan dalam ayat ini.
Tafsir Ash-Shaghir
{dan sungguh rugi} merugi {orang yang mengotorinya} menyembunyikan jiwanya dalam kekufuran dan kemaksiatan
Tafsir Hidayatul
Dengan maksiat.
Tafsir An-Nafahat
Surat Asy-Syams ayat 10: 9-10. Kemudian (pada ayat ini) datang jawaban atas sumpah (pada ayat sebelumnya) dengan sebelas keyakinan yang dijelaskan oleh Allah bahwasanya telah berhasil dan sukses barangsiapa yang mensucikan dirinya dari dosa dan aib kemudian mensucikan dirinya. Dan barangsiapa yang mengotori (dirinya) dan merugi siapa yang tersesat dan menyesatkan serta beramal dengan apa yang (Allah) larang dan barangsiapa yang membolehkan dari perbuatan dosa dan maksiat.