Tafsir Ringkas Kemenag
108. Pada hari kiamat itu seluruh manusia bergerak mengikuti penyeru yang menggiring mereka ke satu arah dengan lurus, tidak berbelok-belok; semua begitu tenang dan khusyuk, dan merendahlah semua suara yang mengagungkan dan memohon kepada tuhan yang maha pemurah, maka pada saat itu kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. 109. Pada hari itu juga tidak berguna syafaat dan pertolongan orang tua, anak, atau kerabat, kecuali syafaat dari orang yang dicintai dan telah diberi izin oleh tuhan yang maha pengasih, dan orang itu juga telah dia ridai perkataannya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 105-108 Allah SWT berfirman: (Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung) yaitu apakah itu masih tetap ada atau akan lenyap pada hari kiamat? (maka katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) dengan sehancur-hancurnya) yaitu, Allah melenyapkannya dari tempatnya dan menghancurkan serta menghamburkannya (maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu) yaitu bumi (datar sama sekali) yaitu satu hamparan rata. Kata “Al-qa'” adalah tanah rata, dan “Ash-shafshaf” adalah penegasan atas hal itu. Dikatakan, bahwa maknannya adalah tanah yang tidak ada tumbuhannya. Pendapat pertama lebih baik, sekalipun pendapat lainnya maksudnya juga demikian. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi (107)) yaitu kamu tidak akan melihat di bumi pada hari itu suatu lembah, dataran tinggi, dataran rendah, dan tempat yang tinggi. Demikianlah yang dikatakan Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Qatadah, dan lainnya dari kalangan ulama Salaf. (Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok) yaitu di hari mereka menyaksikan keadaan dan kengerian ini, mereka memenuhi seruan yang memanggil mereka dengan segera, di mana pun seruan itu memerintah mereka, maka mereka segera menurutinya. Seandainya hal itu dilakukan di dunia, sungguh lebih bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi hal itu tidak lagi bermanfaat bagi mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada kami) (Surah Maryam: 38) dan (dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah hari yang sulit” (8)) (Surah Al-Qamar) Firman Allah: (dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah) Ibnu Abbas berkata bahwa maknanya adalah terdiam. Sa'id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa maknannya adalah langkah yang pelan. Demikian juga dikatakan Ikrimah, Mujahid, Adh-Dhahhak, Ar-Rabi' bin Anas, Qatadah, Ibnu Zaid, dan lainnya. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja) yaitu suara pelan. Sa'id menggabungkan kedua pendapat itu, dan itu bisa terjadi. Adapun yang dimaksud dengan langkah kaki adalah usaha manusia ketika menuju padang Mahsyar, mereka berjalan dengan tenang dan merendahkan diri. Adapun suara pelan, maka bisa pada suatu keadaan tertentu dan tidak pada keadaan itu. Sungguh Allah SWT berfirman: (Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia (105)) (Surah Hud)
Tafsir As-Sa'di
108-110. OLeh sebab itu, Allah berfirman, “Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru.” Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka mengikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah “Dengan tidak berbelok-belok,” tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan KIamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. “Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja,” selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk maksudnya hina dan merunduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wanita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecintannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibukkannya.
Tafsir Al-Wajiz
108. Pada hari kiamat dan setelah Kami mengangkat gunung-gunung dan membangkitkan manusia dari kubur, mereka akan mengikuti panggilan Allah menuju padang Mahsyar, tidak ada yang menolak panggilan itu, bahkan mereka bergegas mendatanginya. Suara-suara makhluk terhenti dan lirih karena takut dan tunduk kepada Allah, sehingga tidak terdengar sedikitpun orang yang berbicara kecuali dengan suara yang samar-samar/pelan.
Tafsir Al-Muyassar
Pada hari itu, manusia mengikuti suara penyeru menuju tempat berkumpul di Hari Kiamat, tidak ada yang membelok dari seruan penyeru. Karena hal itu merupakan kejadian yang haq dan kebenaran bagi seluruh makhluk. Suara-suara merendah sebagai bentuk ketundukan terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih, maka kamu tidak mendengar, kecuali suara bisikan semata.
Tafsir Al-Madinah
108-110. Dan pada hari kiamat manusia akan mengikuti suara penyeru dari Allah yang menyeru mereka untuk menuju padang mahsyar dengan cepat, tidak akan ada seorangpun yang akan tertinggal. Pada hari itu seluruh makhluk akan terdiam karena ketakutan mereka dari Allah Yang Maha Pengasih, sehingga kamu tidak akan mendengar suara melainkan hanya suara yang samar atau suara langkah kaki yang berjalan menuju padang mahsyar. Dan pada hari itu tidak berguna syafaat seorangpun melainkan bagi orang yang telah mendapat izin dari Allah untuk memberi atau menerima syafaat. Allah Maha Mengetahui keadaan semua makhluk, tidak ada perkara dunia dan akhirat yang tersembunyi dari-Nya, sedangkan makhluk-Nya tidak dapat meliputi-Nya.
Tafsir Al-Mukhtashar
108. Pada hari itu manusia akan mengikuti panggilan yang menyeru mereka ke padang Mahsyar, mereka tidak bisa membantah agar tidak mengikutinya, dan semua suara pada hari itu tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih karena rasa takut kepada-Nya, sehingga hari itu engkau tidak akan mendengar kecuali suara yang berbisik-bisik.
Tafsir Zubdatut
108. (Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru) Manusia mengikuti penyeru Allah menuju padang Mahsyar. ( dengan tidak berbelok-belok) Yakni mereka tidak dapat berbelok dari seruan itu, namun mereka akan segera menjawabnya. (dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah) Mereka diam karena rasa takut setelah mendengar firman Tuhan mereka. (maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja) Makna () suara yang rendah.
Tafsir Ash-Shaghir
{Pada hari itu mereka mengikuti penyeru} suara penyeru kepada Allah yang menyeru mereka menuju padang Mahsyar yaitu Israfil {tanpa berbelok-belok} tidak ada bantahan bagi mereka untuk mengikutinya {Semua suara tunduk} diam dan tunduk {kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu tidak mendengar melainkan hanya bisik-bisik} suara yang lirih
Tafsir Hidayatul
Surat Thaha ayat 108: Yang dimaksud dengan penyeru di sini ialah malaikat yang memanggil manusia untuk menghadap ke hadirat Allah. Menurut As Suhailiy, dia adalah malaikat Israfil. Mereka tidak sanggup menolak atau tidak mengikuti. Menurut Syaikh As Sa’diy, hal itu adalah ketika mereka dibangkitkan dari kubur dan bangun darinya, lalu mereka dipanggil oleh penyeru untuk datang dan berkumpul ke padang mahsyar, lalu mereka semua mengikuti dengan segera dan tidak menoleh, tidak miring ke kanan maupun ke kiri. Yaitu suara pijakan kaki ketika menuju ke padang mahsyar. Mereka menunggu keputusan Ar Rahman, wajah-wajah mereka tertunduk. Ketika itu, engkau melihat orang kaya dan orang miskin, laki-laki dan wanita, orang merdeka dan budak, raja dan rakyatnya, semuanya terdiam, mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka, dan masing-masing sibuk terhadap urusannya tidak peduli lagi terhadap bapak dan saudaranya, kawan dan kekasihnya. Ketika itu, Hakim Yang Maha Adil (Allah) memberikan keputusan, orang yang berbuat baik akan dibalas dengan ihsan-Nya dan orang yang berbuat buruk akan memperoleh kerugian dan kekecewaan.