Tafsir Ringkas Kemenag
Dan kami angkat gunung, yaitu gunung sinai, sehingga tampak seperti awan di atas kepala mereka untuk menguatkan agar mereka menepati perjanjian mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka, masukilah pintu gerbang baitulmakdis itu sambil bersujud, dan kami perintahkan pula kepada mereka, janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari sabat, yaitu menjadikan hari sabat untuk beribadah kepada Allah dan tidak memancing pada hari itu. Akan tetapi, mereka mengabaikan perintah itu. Dan kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kukuh, yaitu perjanjian bahwa mereka akan menaati hukum Allah yang termaktub di dalam kitab tauratmaka kami hukum mereka karena mereka melanggar perjanjian itu, yaitu mereka mengabaikan perintah Allah yang termaktub di dalam kitab taurat, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah yang disampaikan oleh para utusan Allah, serta karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa hak, tanpa alasan yang benar. Mereka membunuh nabi zakaria, nabi yahya dan lain-lainnya. Dan karena mereka mengatakan, hati kami tertutup. Maksudnya hati mereka ditutup oleh Allah, sehingga mereka merasa tidak berdosa disebabkan perbuatan itu. Ucapan yang demikian itu hanya dijadikan alasan oleh mereka. Sebenarnya, Allah telah mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman kepada Allah dan kepada para rasul-Nya tanpa membedakan rasul yang satu dengan lainnya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 153-154 Ini mereka ucapkan karena keras kepala, pembangkangan, kekufuran, dan kesesatan. Sebagaimana orang-orang kafir Quraisy sebelum mereka pernah meminta hal serupa, sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Isra’ (Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami (90)) (Surah Al-Isra’), Oleh karena itu Allah SWT berfirman (Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya) yaitu karena kezaliman, kedengkian, kesombongan, dan pembangkangan mereka. Hal ini ditafsirkan dalam surah Al-Baqarah, dimana Allah SWT berfirman (Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya" (55) Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur (56)) (Surah Al-Baqarah) Firman Allah SWT (dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata) yaitu setelah mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat yang jelas dan bukti-bukti yang kuat yang ada pada nabi Musa AS di negeri Mesir, termasuk kehancuran musuh mereka, Firaun dan semua pasukannya di laut. Mereka tidak berpindah dari keyakinan mereka, kecuali sebentar, sampai mereka tiba di suatu kaum yang sedang sibuk menyembah berhala-berhala mereka. Mereka pun berkata kepada nabi Musa AS: (Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)" (138) Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan (139))
Tafsir As-Sa'di
153-158. Pertanyaan ini, yang bersumber dari Ahli Kitab yang dialamatkan kepada Rasulullah adalah bentuk kedurhakaan dan usulan, dan tindakan mereka menjadikan pertanyaan ini sebagai patokan hingga mereka percaya atau mendustakan, pertanyaan itu adalah bahwa mereka meminta kepada beliau agar seluruh al-Quran diturunkan secara langsung sekali turun saja sebagaimana Taurat dan Injil diturunkan. Ini adalah tindakan kezhaliman yang sangat jauh dari mereka (dan juga kebodohan), karena sesungguhnya Rasul itu adalah seorang manusia dan seorang hamba yang diatur, beliau tidak memiliki kuasa dalam hal itu sama sekali, akan tetapi perkara itu adalah milik Allah saja, Allah –lah yang mengutus dan menurunkan apa yang dikehendaki atas hamba-hambaNya, seperti Firman Allah tentang Rasul tatkala menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan usulan orang-orang musyrik terhadap Muhammad, "katakanlah mahasuci tuhanku tidakla keadaanku kecuali seorang pemberi kabar gembira dan sebagai seorang utusan" (Al-Isra:93). Demikian juga tindakan mereka menjadikan pembeda antara kebenaran dan kebatilan dengan hanya sebatas turunnya al-Kitab secara keseluruhan atau terpisah-pisah, hal itu adalah sebuah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak sesuai bahkan tidak ada syubhat. Lalu darimana datangnya dalil pada kenabian seorang nabi di antara nabi-nabi bahwa seorang rasul yang datang kepada kalian dengan membawa kitab yang turun secara terpisah-pisah, sehingga kalian tidak beriman kepadanya dan tidak mempercayainya? Akan tetapi turunnya al-Quran secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi, adalah menunjukkan akan keagungan Allah dan perhatianNya kepada orang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, sebagaimana Allah berfirman, “Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (Al-Furqan: 32-33). Ketika Allah menyebutkan keberatan mereka yang batil, Allah mengabarkan bahwa perbuatan mereka yang seperti itu bukanlah suatu yang aneh bahkan telah ada sikap-sikap sebelumnya dari mereka yang jelek yang lebih buruk yang mereka tempuh bersama Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya, yaitu permohonan mereka kepada beliau agar dapat melihat Allah secara nyata, tindakan mereka menjadikan patung anak sapi sebagai tuhan yang mereka sembah, setelah mereka menyaksikan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah dengan mata kepala mereka, dan penolakan mereka untuk meneriman hukum-hukum dari kitab mereka yaitu Taurat, hingga Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala-kepala mereka, dan mereka di ancam bahwasannya bila mereka tidak beriman, niscaya Allah akan menjatuhkan bukit itu kepada mereka. Lalu mereka meneriman hal itu dengan mata tertunduk dan keimanan palsu yang menyerepaui iman asasi. Dan juga berupa penolakan mereka untuk memasuki pintu-pintu negeri dimana mereka di perintahkan untuk memasukinya sebagai orang-orang yang bersujud dan memohon ampun, tetapi mereka menyali perintah dan perbutan yang di wajibkan. Juga tindakan melampui batas di antara mereka terhadap hari Sabtu, sehingga Allah menghukum mereka dengan hukuman yang keji tersebut, dan diambilnya perjanjian yang kuat atas mereka namun mereka melemparnya di belakang punggung mereka dan mereka kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka membunuh rasul-rasul tanpa haq. Dan diantara perkataan mereka adalah; sesunguhnya mereka membunuh Al-masih isa dan menyalibnya, padahal kenyataannya mereka tidaklah membunuh Al- Masih dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi orang lain diserupakan dengannya hingga mereka membunuh orang lain tersebut dan menyalibnya. Dan perngakuan mereka bahwa hati mereka tertutup, tidak memahami apa yang dikatakan dan tidak mengerti. Mereka juga menghalangi manusia dari jalan Allah hingga mereka mengalangi manusia dari kebenaran, mengajak manusia kepada apa yang mereka yakini berupa kesesatan dan penyimpangan, dan mereka juga mengambil riba dari harta-harta yang di larang, padahal Allah melarang mereka daripadanya dan telah menegaskannya. Maka orang yang malakukan perbuatan ini tidaklah aneh bila keluar dari mereka permintaan Rasul Muhammad untuk menunjukan kitab berbentuk buku kepada mereka dari langit. Jalan ini adalah sebaik-baik jalan dalam berdebat dengan lawan yang kafir, yaitu bila terjadi sanggahan yang bathil yang membuatnya jadi syubhat baginya dan bagi orang lain dalam menolak kebenaran, agar ia menjelaskan kondisinya yang licik dan perbuatan-perbuatan mereka yang keji yang merupakan perkara yang paling jelek darinya. Agar setiap orang mengetahui bahwasanya sanggahan itu berasal dari lembah yang berbahaya, dan sungguh sebelum itu ada hal-hal yang lain yang dijadikan sanggahan. Demikian juga setiap sanggahan yang mereka utarakan atas kenabian Muhammad, mungkin dapat di lawan dengan yang sama dengannya atau dengan yang lebih kuat darinya pada kenabian orang yang mereka akui beriman kepadanya, agar kejahatan mereka selesai dengan hal tersebut dan kebathilan mereka terputus. Dan setiap hujjah yang mereka tempuh untuk menetapkan kenabian orang yang mereka Imani, dan serupa dengannya atau yang lebih kuat darinya adalah menunjukan dan menetapkan kanabian Muhammad. Dan tatkala maksud dari penyebutan kejelekan-kejelekan mereka oleh Allah itu adalah bantahan, Allah tidak meluaskan penjelasan pada bagian ini, akan tetapi Allah mengisyaratkan tentangnya dan mengindikasikan tempat-tempatnya (dalam al-Quran), dan sesungguhnya Allah telah meluaskan penjelasannya pada tempat lain yang sesuai untuk diperluas.
Tafsir Al-Wajiz
154 Ketika orang Yahudi menentang syariat Musa, Allah telah mengangkat bukit Thursina ke atas kepala mereka layaknya naungan di atas mereka, dan Kami perintahkan mereka untuk memasuki pintu kota Baitul Maqdis dengan tunduk dan khusyuk, dan Kami perintahkan pula kepada mereka untuk masuk setelah Nabi Musa : “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu dengan meninggalkan perintah”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh untuk menjalankan perintah Taurat.
Tafsir Al-Muyassar
Dan kami angkat diatas kepala-kepala mereka gunung thursina (Sinai), ketika mereka menolak untuk konsisten dengan perjanjian yang telah ditegaskan, yang diberikan kepada mereka untuk mengamalkan hukum-hukum kitab taurat, dan kami perintahkan mereka untuk memasuki pintu gerbang baitul maqdis dengan bersujud, tetapi mereka malah masuk sambil merangkak dengan pantat-pantat mereka. Dan kami perintahkan mereka untuk tidak berbuat melampaui batas dengan berburu ikan pada hari sabtu, namun mereka melakukan tindakan di luar batas dan berburu ikan. Dan kami telah mengikat janji kuat kepada mereka,lalu mereka melanggarnya.
Tafsir Al-Madinah
154. Ketika orang-orang Yahudi tetap membangkang maka Allah mengancam mereka dengan mengangkat bukit Thur ke atas kepala mereka dalam suatu kejadian yang menakutkan agar mereka mau bertaubat. Kemudian Allah memerintahkan mereka agar memasuki pintu Baitul Maqdis dengan tunduk dan melarang mereka menodai kehormatan hari Sabtu, dan Allah mengambil perjanjian yang teguh dari mereka, namun mereka melanggar perjanjian tersebut.
Tafsir Al-Mukhtashar
154. Dan Kami pernah mengangkat gunung (Tursina) ke atas kepala mereka dalam rangka mengambil janji yang kuat atas mereka untuk menakut-nakuti mereka, supaya mereka mau melaksanakan isi perjanjian tersebut. Dan setelah gunung itu terangkat, Kami berfirman kepada mereka, “Masuklah kalian ke pintu Baitulmakdis sambil bersujud dengan cara membungkukkan kepala.” Kemudian mereka masuk sambil merayap dengan pantat mereka. Dan Kami pun berfirman kepada mereka, “Janganlah kalian melampaui batas dengan berburu ikan pada hari sabtu.” Tetapi mereka tetap saja melampaui batas dan berburu ikan. Dan Kami pun mengambil janji yang sangat kuat dari mereka terkait hal itu. Tetapi mereka kemudian melanggar perjanjian yang telah ditetapkan atas mereka.
Tafsir Zubdatut
154. (Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka) Diriwayatkan bahwa mereka menolak untuk menerima syariat dari Nabi Musa, maka Allah mengangkat sebuah gunung hingga berada diatas kepala mereka seaka-akan itu adalah sebuah naungan. (Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”) Yakni Kami memerintahkan mereka untuk memasuki pintu gerbang kota Baitul maqdis dengan tunduk dan patuh sebagai rasa syukur kepada Allah. Namun mereka menggantinya dan masuk dengan merayap dengan pantat mereka agar tidak masuk dengan posisi bersujud. (dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”) Yakni larangan melakukan pekerjaan pada hari itu, maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian dengan meninggalkan berburu ikan pada hari itu. (dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh) Yakni perjanjian yang diambil atas mereka dalam Taurat berupa menjaga aturan hari sabtu.
Tafsir Ash-Shaghir
{Kami pun telah mengangkat di atas mereka gunung Sinai} gunung {karena perjanjian mereka} karena perjanjian yang diambil atas mereka, seupaya mereka takut dan tunduk {Kami perintahkan kepada mereka, “Masukilah pintu itu} pintu Baitul maqdis {sambil bersujud”. Kami berkata kepada mereka, “Janganlah melanggar pada hari Sabat”} janganlah kalian melampaui batas dengan memancing pada hari Sabtu {Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh} perjanjian yang dikuatkan
Tafsir Hidayatul
Untuk menakuti mereka agar mereka menerima perjanjian itu. Sedangkan gunung itu masih di atas kepala mereka. Hari Sabat adalah hari Satu, hari khusus untuk beribadah bagi orang Yahudi. Namun mereka tidak mau memenuhinya.
Tafsir An-Nafahat
Surat An-Nisa ayat 154: Dan Kami telah tinggikan mereka buat atas gunung mengambil perjanjian mereka, dan Kami berkata kepada mereka: "Masuklah ke pintu (negeri) itu dengan tunduk", dan Kami berkata kepada mereka: "Janganlah kamu melewati batas pada hari Kelapangan (Sabtu)", dan Kami telah ambil dari mereka perjanjian yang kuat.