Surah As-Sajdah : Ayat 16
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan."

Tafsir Ringkas Kemenag
Orang yang beriman itu terbiasa bangun pada malam hari untuk salat malam, membuat lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Usai salat malam mereka berdoa kepada tuhannya dengan penuh rasa takut terhadap azab Allah dan penuh harap atas rahmat-Nya, dan mereka senantiasa menginfakkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka, terutama kepada yang membutuhkan. 17. Maka atas ibadah itu kelak di hari kiamat mereka berhak memperoleh surga yang tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu bermacam nikmat yang menyenangkan hati, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan di dunia berupa amal saleh.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 15-17 Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami) yaitu, tidak ada yang membenarkannya melainkan (orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud) yaitu mendengar dan menaatinya, melalui ucapan maupun perbuatan (dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri) yaitu dari mengikuti dan menaatinya, tidak sebagaimana yang dilakukan orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang kafir dan orang-orang durhaka. Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina (Surah Ghafir: 60) kemudian Allah SWT berfirman: (Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya) yaitu mereka selalu mengerjakan shalat sunnah malam hari, tidak tidur, dan tidak berbaring di tempat pembaringannya. Mujahid dan Al-Hasan berkata tentang firmanNya: (Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya) yaitu mengerjakan shalat sunnah malam hari Diriwayatkan dari Anas, Ikrimah, Muhammad bin Al-Munkadir, Abu Hazim, dan Qatadah, bahwa yang dimaksud adalah menunggu di antara dua shalat Isya’ Diriwayatkan dari Anas bahwa makna yang dimaksud adalah menunggu kedatangan waktu shalat Isya’. (sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap) yaitu takut kepada siksaanNya dan berharap kepada pahalaNya yang melimpah (dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka) Maka mereka menghimpunkan antara amal mendekatkan diri yang wajib dan yang sunah, dan orang yang paling terkemuka, paling depan dan paling dihormati di dunia dan akhirat adalah Rasulullah Saw Imam Ahmad berkata dari Mu'adz bin Jabal, dia berkata ketika aku sedang bersama Nabi SAW dalam suatu perjalanan, dan di suatu pagi hari aku berada di dekat Nabi SAW, dan kami berjalan dengannya, lalu aku bertanya,"Wahai Nabi Allah, ceritakanlah kepadaku tentang suatu amal yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka" Beliau menjawab:”Sungguh kamu menanyakan sesuatu yang agung, dan sesungguhnya hal itu mudah bagi orang yang dimudahkan Allah, yaitu hendaknya kamu menyembah Allah dan jangan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, kamu mengerjakan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah” Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi, "Apakah kamu mau aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Yaitu puasa adalah benteng, sedekah itu dapat menghapuskan dosa, dan shalat seseorang di tengah malam" Kemudian beliau membacakan firmanNya: (Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya) sampai dengan firmanNya: (sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan) Firman Allah SWT: (Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikannya untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedap­kan pandangan mata) yaiut maka tidak ada seorang pun yang mengetahui keagungan dari apa yang disembunyikan Allah SWT untuk mereka di surga berupa nikmat yang menetap dan kelezatan yang tidak pernah ditampakkan siapapun sesuatu yang serupa dengan itu, ketika mereka menyembunyikan amal perbuatan mereka seperti itu, maka Allah menyembunyikan pahala bagi mereka sebagai balasan yang sesuai, karena balasan itu sesuai dengan jenis amalnya Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW: “Allah SWT berfirman,"Aku telah menyediakan bagi hamba-hambaKu yang shalih, yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati seorang manusiapun” Abu Hurairah berkata,"Bacalah jika kalian mau: (Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata)
Tafsir As-Sa'di
16. “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,” maksudnya, punggung mereka jauh dan tidak betah dari tempat tidurnya yang empuk, beralih kepada sesuatu yang lebih lezat darinya dan lebih mereka cintai, yaitu shalat di keheningan malam dan bermunajat kepada Allah. Maka dari itu Dia berfirman, “Sedang mereka berdoa kepada Rabbnya,” maksudnya, dalam mencari kebaikan agama dan dunia mereka, dan dalam menolak segala sesuatu yang bisa membahayakan keduanya, “dengan rasa takut dan harap.” Maksudnya, dengan memadukan antara dua sifat (rasa); takut akan azab Allah dan sangat mengharapkan pahalaNya, “dan dari sebagian apa yang Kami berikan kepada mereka,” yaitu rizki yang sedikit atau banyak, “mereka menafkahkan.” Di sini tidak disebutkan batasan nafkahnya dan tidak pula orang yang dinafkahi agar menunjukkan kepada makna umum (luas). Jadi masuk di dalamnya nafkah wajib, seperti zakat, membayar kaffarat, nafkah untuk istri dan kerabat dekat, dan nafkah yang dianjurkan dalam jalan-jalan kebaikan. Nafkah dan ihsan dalam bentuk harta itu baik secara mutlak, sama saja apakah jatuh kepada orang fakir atau orang kaya, kepada kerabat dekat atau kerabat jauh. Akan tetapi pahalanya tentu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kegunaannya. Inilah perbuatan (amal) mereka.
Tafsir Al-Wajiz
16. Mereka menjaukan dan meninggalkan perut mereka dari tempat tidur, mereka senantiasa bermunajat kepada Tuhan mereka dengan perasaan takut atas murka dan hukuman Allah, serta dengan mengarap-harap rahmat dan surga-Nya. Mereka membelanjakan sebagian rizki mereka pada yang diwajibkan kepada mereka, yaitu zakat. Jiwa mereka adalah jiwa dermawan alam bersedekah. Ayat ini turun untuk kumpulan sahabat yang menjalankan shalat dari waktu maghrib hingga isya. Muadz berkata itu adalah qiyamul lail pada permulaan malam
Tafsir Al-Muyassar
terangkatlah lambung orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah tersebut dari kasur tempat tidur mereka, mereka bertahajud kepada Tuhan mereka dalam shalat malam, berdoa kepada tuhan mereka dengan perasaan takut terhadap siksa dan berharap pahala, dan mereka berkenan berinfak dari sebagian harta yang Allah berikan kepada mereka, dalam ketaatan kepadaNya dan dijalanNya.
Tafsir Al-Mukhtashar
16. Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur yang biasa mereka gunakan untuk tidur, mereka meninggalkannya dan menghadap kepada Allah, berdoa kepada Allah dalam salat mereka maupun selain salat karena rasa takut terhadap siksa-Nya dan karena mangharap rahmat-Nya. Mereka menafkahkan harta yang telah Kami berikan kepada mereka di jalan Allah.
Tafsir Zubdatut
16. (Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya) Terdapat pendapat mengatakan maknanya adalah mereka tidak tidur sebelum menjalankan shalat isya. Dan pendapat lain mengatakan maknanya adalah mereka orang-orang yang bangun dari tempat tidurnya pada malam hari untuk menjalankan shalat tahajjud. (dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap) Yakni mereka bermunajat kepada Tuhan mereka karena takut dari azab-Nya dan mengharap rahmat-Nya. (serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan) Yang dimaksud adalah sedekah wajib (zakat). Dan pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah sedekah sunnah.
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ). Seorang mukmin berada di tempat peristirahatannya, dan hatinya telah menempuh tahapan perjalanan menuju kekasihnya. Ketika dia mengambil tempat peristirahatannya, cinta dan kerinduannya berkumpul di sekelilingnya, dan tempat peristirahatan itu memindahkannya ke tempat tinggalnya, sebagaimana firman Allah tentang orang-orang yang mengenggam cinta padaNya : { } "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap". 2 ). Seluruh tujuan hidup tercapai dalam shalat. Shalat merupakan penghubung dengan Allah dan persiapan menuju kehidupan abadi, ia merupakan kenikmatan yang tidak dapat disamai dengan kenikmatan dunia apapun. Perhatikan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mencintai shalat : { } "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap". 3 ). Perhatikan kebiasaanmu di malam-malam yang penuh berkah apakah anda termasuk orang yang merasakan nikmatnya tidur dan empuknya kasur? atau anda termasuk orang yang jarang berbaring di kasurnya kecuali untuk kebutuhan istirahat saja; dengannya anda dikuatkan untuk beribadah, maka lihatlah apakah setiap rasa kantuk itu menguasai anda segera terbangun; takut akan terlewatkan oleh kenikmatan-kenikmatan itu? perhatikan ayat ini; agar anda dapat mengetaui termasuk dalam hamba apa anda: { }, barangsiapa yang lalai pada malam-malam yang berkah itu, maka pasti dia akan lebih lalai lagi pada urusan yang lain.
Tafsir Ash-Shaghir
Lambung mereka jauh} terangkat dan jauh {dari tempat tidur} tempat untuk berbaring {seraya berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harapan, dan dari sebagian rezeki yang Kami anugerahkan, mereka menginfakkannya
Tafsir Hidayatul
Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Anas bin Malik, bahwa ayat ini, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,” turun berkenaan dengan penantian mereka terhadap shalat yang biasa disebut ‘atamah (shalat Isya).” Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih gharib, kami tidak mengetahui kecuali dari jalan ini.” Ibnu Jarir juga menyebutkannya di juz 12 hal. 100, Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Sanadnya jayyid.” Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur, untuk mengerjakan shalat Isya atau shalat malam (tahajjud) bermunajat kepada Allah, yang sesungguhnya lebih nikmat dan lebih dicintai mereka. Untuk meraih maslahat agama maupun dunia, dan terhindar dari bahaya. Mereka menggabung kedua sifat itu, mereka takut amal mereka tidak diterima, dan berharap sekali agar diterima, mereka takut kepada azab Allah dan berharap sekali pahala-Nya. Tidak disebukan batasan infak dan orang yang diberi infak untuk menunjukkan keumuman, oleh karenanya masuk ke dalamnya infak yang wajib seperti zakat, kaffarat, menafkahi istri dan kerabat dan berinfak pada jalur-jalur kebaikan. Berinfak dan berbuat ihsan dengan harta adalah baik secara mutlak, akan tetapi pahala tergantung niat dan manfaat yang dihasilkan. Inilah amal orang-orang yang beriman. Adapun balasannya adalah seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya.
Tafsir An-Nafahat
Surat As-Sajdah ayat 16: Mereka orang-orang yang beriman, lambung-lambung (perut) mereka jauh dari pembaringan untuk tidur, istirahat dan menolak (untuk tidur) di kebanyakan waktu malam, karena sebab mereka sibuk dari shalat tahajjud, berdoa (bermunajat) kepada Allah Tuhan semesta alam, mereka menyeru kepada Allah dengan membawa dua sifat, yaitu harap dan takut, mereka menyeru kepada Allah sedangkan mereka dalam keadaan takut dari adzab-Nya, dari ditolak amalan-amalan mereka dan tidak diterima Allah, mereka juga berharap pahala di sisi Allah, berharap ridha dan dimasukkan ke dalam surge, mereka juga mendermakan harta mereka, dan meyakini akan bertambahnya harta mereka (setelah didermakan).