Tafsir Ibnu Katsir
Ayat ini mencakup kalimat-kalimat yang agung, prinsip-prinsip umum, dan akidah yang lurus. Adapun penjelasan ayat ini yaitu sesungguhnya Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin pertama-tama untuk menghadap ke Baitul Maqdis, lalu Dia mengubah arah mereka menuju Ka'bah. Allah menguji sebagian dari Ahli Kitab dan beberapa orang muslim dengan hal ini. Lalu Allah SWT menurunkan penjelasan hikmahdari hal ini, yaitu bahwa tujuan sebenarnya adalah ketaatan kepada Allah SWT, melaksanakan perintah-perintahNya, menghadap ke mana saja yang Dia arahkan, dan mengikuti apa yang telah ditetapkan. Inilah yang disebut kebajikan, takwa, dan iman yang sempurna. Tidak ada kebajikan atau ketaatan dalam menghadap ke arah timur atau barat, kecuali jika itu berasal dari perintah Allah dan syariatNya. Oleh karena itu, Allah berfirman: (Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian). Sebagaimana DIa berfirman tentang hewan korban kurban: (Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (Surah Al-Hajj: 37). Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini bahwa kebajikan bukanlah dengan kalian shalat dan beramal. Ini terjadi ketika berpindah dari Makkah ke Madinah, dan turunlah hukum-hukum dan batas-batas. Allah memerintahkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan mengamalkannya. Telah diriwayatkan juga dari Adh-Dhahhak dan Muqatil pendapat yang serupa" Abu Al-‘Aliyah berkata, “Orang-orang Yahudi telah menghadap ke arah barat sebelumnya, sedangkan orang Nasrani menghadap ke arah timur sebelumnya. Lalu Allah SWT berfirman, (Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan) yang berarti: Ini adalah pernyataan tentang iman dan hakikat dari amal. Diriwayatkan dari Hasan dan Ar-Rabi’ bin Anas pendapat yang serupa. Mujahid berkata, “Akan tetapi kebajikan adalah apa yang telah teguh dalam hati berupa ketaatan kepada Allah SWT” Ats-Tsawri berkata, (akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah) artinya ini adalah jenis kebajikan secara keseluruhan. Allah SWT membenarkan bahwa sesungguhnya, siapa saja yang dideskripsikan dengan ayat ini telah memasuki seluruh ajaran Islam dan telah mengambil segala bentuk kebajikan, yaitu iman kepada Allah, bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, iman kepada keberadaan para malaikat yang berjalan di antara Allah dan RasulNya. (Kitab) ini adalah isim jenis yang mencakup semua kitab yang diturunkan dari langit kepada para nabi, hingga mencapai puncaknya dengan Al-Qur'an, yang mengandung semua yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya, yang berisi semua kebaikan, dan mencakup semua kebahagiaan di dunia dan akhirat. Al-Qur'an menasakh semua kitab sebelumnya, dan mengimani semua nabi Allah, dari yang pertama hingga penutup mereka, nabi Muhammad SAW, semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semua. Firman Allah: (dan memberikan harta yang dicintainya) yaitu, dia mengeluarkan harta yang dia sukai dengan senang hati. Hal ini disampaikan oleh Ibnu Mas’ud, Sa’id bin Jubair, dan lainnya yaitu para ulama’ terdahulu dan yang akan datang. Sebaikaman yang ada dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah yang marfu’: “kamu bersedekah pada saat kamu sehat, kikir, dan kamu berangan-angan akan kekayaan dan khawatir akan kemiskinan” Allah SWT berfirman, (Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (8) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (9))
Tafsir As-Sa'di
177. Allah berfirman, “Bukankah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan,” maksudnya, hal itu bukanlah suatu kebajikan yang dimaksudkan dari hamba, sehingga banyaknya pembahasan dan perdebatan tentangnya adalah merupakan usaha yang melelahkan yang tidak menghasilkan kecuali perpecahan dan perselisihan. Ini sejalan dengan Rasulullah : “Bukanlah orang yang perkasa itu adalah dengan perkelahian akan tetapi orang yang perkasa itu adalah orang yang mampu menahan dirinya disaat marah,” (HR. Bukhori 6114, Muslim 2609) dan dalam hadits-hadits yang semacamnya. “akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,” maksudnya, bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki sifat dengan segala sifat kesempurnaan dan terlepas dari segala kekurangan. “dan hari akhir,” yaitu segala hal yang dikabarkan oleh Allah tentangnya dalam kitabNya, atau apa yang telah dikabarkan oleh rasulNya dari hal-hal yang terjadi setelah kematian. “dan para malaikat,” yang dijelaskan sifat mereka oleh Allah kepada kita dalam kitabNya dan dijelaskan juga oleh rasulNya. “dan Alkitab,” yaitu jenis kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada rasul rasulNya, dan yang paling Agung adalah Alquran. Maka ia beriman kepada hal-hal yang dikandung olehnya dari kabar maupun hukum. “Dan para nabi,” secara umum, dan khususnya penutup mereka dan paling mulia dari mereka, yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, “dan memberi harta,” yaitu seluruh harta yang dikumpulkan oleh manusia sedikit maupun banyak, maksudnya ia memberikan harta “yang dicintainya,” yaitu cinta harta. Allah menjelaskan dengan hal ini bahwa harta itu sangat dicintai oleh jiwa dan sebenarnya seorang hamba tidak mau mengeluarkannya, barangsiapa yang mengeluarkannya padahal ia sangat mencintainya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, maka hal ini adalah sebagai tanda bagi keimanannya, dan diantara memberikan harta yang dicintai nya adalah bersedekah serta dia dalam kondisi sehat lagi kikir yang mana ia sangat mengharapkan kekayaan dan takut dari kemiskinan. Demikian juga bila sedekah dikeluarkan ketika dalam kondisi kekurangan, niscaya itu lebih utama, karena dalam kondisi seperti ini, ia lebih suka menyimpannya, ketika ia mencemaskan akan terjadi kelahiran dan kepapaan. Demikian pula mengeluarkan barang yang paling berharga dari hartanya dan apa yang ia cintai dari hartanya tersebut sebagaimana Allah berfirman : "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." QS al-imran ayat 92 Setiap mereka itu adalah diantara orang-orang yang memberikan harta yang ia cintai. Kemudian Allah menjelaskan tentang orang-orang yang berhak menerima infaq, yaitu orang-orang yang paling utama untuk diberikan kebajikan dan bakti dari kerabat, yang menyentuh hatimu karena musibah mereka dan membahagiakanmu dengan kebahagiaan mereka, yaitu yang saling menolong dan saling bersekutu. Maka diantara kebajikan yang paling baik dan paling tepat adalah mengadakan kebajikan terhadap karib kerabat, baik dengan harta maupun perkataan menurut kedekatan dan kebutuhan mereka. Dan di antara mereka adalah “anak-anak yatim” yang tidak memiliki orang yang mencarikan harta untuk mereka dan tidak memiliki kemampuan yang dapat dijadikan sandaran. Ini adalah diantara rahmat Allah Ta’ala terhadap hamba-hambaNya yang menunjukkan bahwasanya Allah sangat sayang kepada mereka daripada sayangnya seorang ayah kepada anaknya. Allah telah mewasiatkan kepada hamba-hambaNya, lalu mewajibkan mereka untuk berbuat kebajikan dengan hartanya kepada orang-orang yang kehilangan ayah mereka, agar anak-anak itu seperti anak-anak yang tidak kehilangan kedua orangtuanya, dan karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya, yakni barangsiapa yang menyayangi seorang anak yatim orang lain, niscaya anak yatimnya akan disayangi oleh orang lain. “Dan orang-orang miskin,” yaitu mereka yang dililit kebutuhan dan dihinakan oleh kemiskinan, maka mereka memiliki hak atas orang-orang kaya dalam mencukupi kebutuhan mereka atau meringankannya, sesuai dengan kemampuan dan kelapangan mereka. “Dan musafir (yang memerlukan pertolongan),” yaitu orang asing yang kehabisan bekal di luar negerinya sendiri. Allah menganjurkan hamba hambaNya untuk memberikan kepadanya beberapa harta yang dapat membantunya dalam perjalanannya, karena perjalanan itu merupakan kondisi yang membutuhkan bantuan dan banyak pengeluaran. Oleh karena itu, wajib atau seorang yang telah diberikan nikmat oleh Allah pada negerinya dengan segala kemakmuran dan Allah karuniakan nikmatNya kepadanya agar dia juga bersikap Rahmat kepada saudaranya yang asing tersebut menurut kadar kemampuannya, walau hanya membekali sedikit atau memberikan sebuah alat perjalanan atau sebuah alat yang dapat menghindari dirinya dari kesewenang-wenangan, dan lain sebagainya. “Dan orang-orang yang meminta-minta,” yakni orang-orang yang meminta-minta karena suatu kebutuhan mendesak yang menyebabkan mereka melakukannya, seperti seorang yang diuji dengan denda suatu kejahatan atau beban pajak dari pemerintah, atau dia meminta-minta kepada manusia untuk memajukan kemaslahatan umum seperti masjid, sekolah, jembatan, dan semacamnya. Maka yang seperti ini memiliki hak walaupun ia adalah orang kaya. “Dan (memerdekakan) hamba sahaya,” termasuk di dalamnya adalah pembebasan budak dan membantunya serta mengusahakan harta untuk seorang budak yang membayar kebebasannya agar ia mampu menunaikan bayaran kepada tuannya, atau menebus tawanan muslimin dari kaum kafir atau kaum zalim. “Dan mendirikan salat dan menunaikan zakat,” telah sering diterangkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatukan antara shalat dan zakat, karena kedua hal itu adalah sebaik-baik ibadah dan pendekatan diri kepada Allah yang paling sempurna karena memuat ibadah hati, tubuh, dan harta. Dan dengan keduanya iman seseorang ditakar dan keyakinan yang ada pada pelakunya dapat diukur. “Dan orang-orang yang menepati janjinya bila berjanji.” Janji adalah komitmen terhadap apa yang telah diwajibkan oleh Allah atau diwajibkan oleh hamba itu sendiri, maka termasuk dalam hal itu adalah seluruh hak-hak Allah, karena Allah telah mewajibkan semuanya atas hamba-hambaNya dan mereka berkomitmen terhadapnya, dimana mereka masuk dalam janji tersebut dan wajib atas mereka untuk menunaikannya, dan juga hak-hak hamba yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka dan hak-hak yang telah diwajibkan oleh seorang hamba sendiri, seperti sumpah dan nadzar atau semacamnya. “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,” yakni, kemiskinan, karena orang yang miskin membutuhkan kesabaran dalam banyak aspek, dari apa yang didapatkannya berupa kepedihan hati dan tubuh, yang berkesinambungan yang tidak dirasakan oleh selainnya; apabila seorang kaya menikmati apa yang tidak mampu dinikmatinya, ia akan bersedih, dan apabila ia lapar atau keluarganya lapar, ia pun bersedia, apabila ia makan suatu makanan yang tidak sesuai dengan seleranya, ia bersedia, apabila ia tanpa busana atau hampir tanpa busana, ia bersedih, apabila ia melihat apa yang ada pada dirinya dan apa yang ia prediksikan pada masa mendatang yang harus dipersiapkan olehnya, ia akan bersedih, apabila ia merasa dingin yang tidak mampu kendalikan, ia bersedih. Seluruhnya hal tersebut dan yang semacamnya adalah musibah-musibah yang diperintahkan untuk bersabar atasnya, berangan akhirat, mengharap pahala dari Allah terhadapnya, “dan penderitaan,” yaitu suatu penyakit dalam berbagai macam seperti demam, luka, masuk angin, atau sakit pada suatu anggota tubuh hingga gigi, jari jemari, dan yang semacamnya, di mana dibutuhkan untuk bersabar atas semua itu, karena jiwa itu lemah dan tubuh merasakan sakit, dan hal itu adalah suatu yang paling sulit bagi jiwa. Terlebih ketika hal itu terjadi lebih lama, maka diperintahkan untuk bersabar atasnya dengan mengharap pahala dari Allah. “Dan dalam peperangan,” yakni saat berperang menghadapi musuh-musuh yang diperintahkan untuk diperangi, karena ketegaran itu sangatlah sulit sekali bagi jiwa, dan manusia akan mengalami kegoncangan dari pembunuhan, luka, atau tertawan, maka dibutuhkan kesabaran atas semua itu dengan maksud mengharapkan pahala dari Allah yang dariNyalah pertolongan dan bantuan yang telah dijanjikan didapatkan bagi orang-orang yang bersabar. “Mereka itulah,” yaitu orang-orang yang memiliki sifat sebagaimana yang telah disebutkan dari keyakinan-keyakinan yang baik, perbuatan yang merupakan pengaruh dari keimanan, bukti nyata dan cahayanya, dan akhlak yang merupakan keindahan dan hakikat kemanusiaan; mereka itulah “orang-orang yang benar” dalam keimanan mereka, karena perbuatan-perbuatan mereka membenarkan keimanan mereka, “dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa,” karena mereka meninggalkan hal-hal yang dilarang dan mengerjakan yang diperintahkan, karena perkara-perkara itu meliputi segala unsur kebaikan, baik secara prediksi maupun yang pasti. Menunaikan janji termasuk menunaikan seluruh ajaran agama, dan karena ibadah-ibadah yang telah ditetapkan oleh Nash Nash dalam ayat ini merupakan ibadah yang paling besar, dan barangsiapa yang menunaikannya, niscaya ia akan lebih mampu menunaikan ibadah ibadah mereka, mereka itulah orang-orang yang baik, benar, dan bertaqwa. Sesungguhnya telah diketahui bahwa apa yang diberikan oleh Allah atas ketiga perkara tersebut dari paham duniawi maupun ukhrawi tidak mungkin dapat dirinci dalam pembahasan ini.
Tafsir Al-Wajiz
177. Tidaklah kebaikan yang banyak itu ketika menghadap ke arah timur dan barat saja, melainkan mengimani 6 rukun iman dan mengerjakan pokok-pokok amal shalih. Yang dimaksud dengan kitab di sini adalah berbagai jenis kitab, yaitu kitab-kitab Allah, memberikan harta yang disenanginya kepada kerabatnya. Sesungguhnya memberi harta kepada mereka ketika fakir itu merupakan sedekah dan penyambung hubungan, memberikan harta kepada anak-anak yatim yang fakir (yang kehilangan bapak mereka di masa kecil), orang-orang miskin yang tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, musafir yang berhenti di tengah perjalanan dari negeri mereka, orang-orang yang meminta-minta: yaitu orang-orang yang meminta uang karena kebutuhan dan keterdesakan mereka, untuk membeli budak dan melepaskan tawanan, mendirikan shalat dengan rukun dan syaratnya, menunaikan zakat wajib untuk orang-orang yang berhak menerimanya disertai dengan sedekah sukarela, menepati janji-janji Allah dan manusia, memberikan penghormatan kepada orang-orang yang sabar atas penderitaan, kefakiran, sakit, dan kesulitan dengan kehilangan keluarga, harta dan anak. Mereka itu adalah orang-orang yang benar keimanannya dan bertakwa kepada Tuhan dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, serta menjauhi neraka. Abdur Razaq meriwayatkan dari Qatadah yang berkata: “Orang-orang Yahudi shalat menghadap ke arah barat dan orang Nasrani shalat menghadap ke arah timur. Lalu turunlah ayat {Laisal birru}”
Tafsir Al-Muyassar
Bukanlah kebajikan di sisi Allah ta'ala itu dengan menghadap ke arah timur dan barat di dalam sholat, bila tidak berdasarkan perintah Allah dan syariat Nya. akan tetapi kebajikan yang sepenuhnya adalah perbuatan orang yang beriman kepada Allah dan mengimani Nya sebagai Tuhan yang berhak disembah tanpa menyekutukan sesuatu dengan Nya, dan beriman kepada hari kebangkitan dan pembalasan, dan kepada seluruh malaikat, dan kepada semua kitab-kitab yang diturunkan, dan beriman kepada seluruh Nabi tanpa membeda-bedakan, dan memberikan hartanya secara sukarela (meskipun sangat besar kecintaannya pada harta tersebut) kepada kaum kerabat, anak-anak yatim yang membutuhkan bantuan yang telah ditinggal mati oleh ayah-ayah mereka ketika mereka belum mencapai usia baligh, dan kepada orang-orang miskin yang tidak memiliki sesuatu yang mencukupi dan menutupi kebutuhan mereka,dan kepada orang-orang musafir yang terlilit kebutuhan yang jauh dari keluarga dan hartanya, dan kepada mereka para peminta-minta yang terpaksa meminta-minta karena keterdesakan kebutuhan mereka, dan mengeluarkan hartanya dalam membebaskan budak dan tawanan, mendirikan shalat, dan membayar zakat yang wajib, dan orang-orang yang menepati janji janji, dan orang-orang yang bersabar dalam kondisi kemiskinan dan sakit mereka,dan dalam peperangan yang berkecamuk keras. Maka orang-orang yang berkarakter demikian itulah orang-orang yang benar dalam keimanan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang takut terhadap siksaan Allah sehingga mereka menjauhi perbuatan maksiat-maksiat kepada Nya.
Tafsir Al-Madinah
177. Amalan baik tidaklah terbatas pada shalat menghadap ke timur atau barat saja, namun amalan kebaikan adalah beriman kepada Allah, hari kiamat, para malaikat, kitab-kitab Allah, dan semua rasul tanpa membeda-bedakan; memberikan harta yang dicintai kepada para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang kehabisan bekal, orang yang meminta pertolongan, dan budak yang ingin menebus dirinya dari perbudakan; mendirikan shalat pada waktunya; membayar zakat kepada yang berhak menerimanya; menepati janji; serta bersabar dalam menghadapi kemiskinan, penyakit, dan kecamuk peperangan. Orang-orang yang memiliki ciri-ciri tersebut akan mendapat derajat yang tinggi, mereka adalah orang-orang yang membuktikan keimanannya dengan perkataan dan perbuatan yang takut terhadap siksaan Allah. Syeikh as-Syinqithi berkata: "Dalam ayat ini Allah tidak menjelaskan makna {} namun Allah menyebutkan dalam ayat lain bahwa yang dimaksud adalah peperangan sebagaimana tersirat dari redaksi ayat, Allah berfirman: Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Marilah bersama kami.” Tetapi mereka datang berperang hanya sebentar. (al-Ahzab: 18)
Tafsir Al-Mukhtashar
177. Kebaikan yang diridai Allah bukanlah sekedar menghadap ke arah timur atau barat dan bersengketa tentang hal itu. Tetapi kebaikan yang sesungguhnya ialah mempercayai Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, mempercayai adanya hari kiamat, mempercayai seluruh Malaikat, mempercayai semua kitab suci yang diturunkan oleh Allah, mempercayai semua Nabi tanpa membeda-bedakan antara mereka, memberikan harta -meskipun harta itu sangat disukai dan disayangi- kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang asing yang kehabisan bekal di perjalanan yang jauh dari keluarga dan kampung halamannya, dan kepada orang yang sangat membutuhkan harta sehingga terpaksa harus meminta-minta kepada sesama manusia, menggunakan harta untuk memerdekakan budak atau membebaskan tawanan perang, mendirikan salat secara sempurna sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah , menunaikan zakat yang wajib, dan orang-orang yang menepati janjinya ketika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam menghadapi kemiskinan, kesulitan hidup, menderita penyakit, dan menghadapi musuh di medan perang sehingga tidak melarikan diri, mereka yang memiliki ciri-ciri tersebut adalah orang-orang yang sungguh-sungguh di dalam keimanan dan amal perbuatan mereka. Mereka itulah orang-orang bertakwa yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Tafsir Zubdatut
177. (Bukanlah suatu kebajikan) Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika mereka berlarut-larut dalam percakapan masalah pemindahan kiblat Rasulullah menuju Ka’bah. (menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat) Yakni arah yang berlainan. (akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah) Yakni akan tetapi kebajikan adalah kebajikan yang dilakukan oleh orang yang beriman. Dan () merupakan kata yang mencakup segala bentuk kebajikan, dan aku menafsirkan ayat ini dengan enam asas-asas iman dan asas-asas amal kebaikan. (dan kitab-kitab) Yang dimaksud dengan kitab disini adalah semua jenis kitab Allah. (yang dicintainya) Yakni padahal ia cinta terhadap harta tersebut, jadi dia menginfakkan hartanya meski dia mencintainya dan merasa ingin bakhil atasnya. (kepada kerabatnya) Yakni para kerabat, karena infak kepada mereka bernilai pahala sedekah dan silaturrahim jika mereka termasuk fakir. (anak-anak yatim) Dan anak yatim yang fakir lebih berhak mendapat sedekah dari pada anak yatim yang tidak fakir karena mereka tidak mampu untuk mencari penghasilan. (orang-orang miskin) Orang miskin adalah orang yang bergantung pada apa yang ada dalam genggaman orang lain, karena ia tidak memiliki apapun. (musafir) Yakni musafir yang kehabisan bekal di daerah orang lain. (orang-orang yang meminta-minta) Yakni orang yang meminta-minta karena keadaan yang memaksa mereka. (hamba sahaya) Yang dimaksud adalah dengan membeli budak sahaya untuk dimerdekakan. Dan pendapat lain mengatakan: yakni membebaskan tawanan. (dan menunaikan zakat) Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa yang duluan kita keluarkan adalah sedekah dan bukan zakat. (dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji) Yakni perjanjian dengan Allah ataupun dengan manusia. (dalam kesempitan) Yakni kesulitan hidup dan kemiskinan. (penderitaan) Yakni penyakit dan penuaan. (dan dalam peperangan) Yakni saat peperangan berkecamuk. (orang-orang yang benar (imannya) ) Yakni mereka adalah orang-orang yang benar-benar dan sungguh-sungguh dalam pengakuan mereka sebagai orang beriman.
Tafsir Li Yaddabbaru
Al-Qurthubi mengatakan : "Ulama-ulama kita berkata : inilah ayat yang agung yang mencakup banyak hukum-hukum syari'at; didalamnya terkandung enam belas qo'idah : Iman kepada Allah dan nama-nama dan sifat-Nya, hari kebangkitan, hari berkumpul, hari perhitungan, shirot, haudh, syafa'ah, surga, neraka, dan juga mengandung tentang Malaikat, kitab-kitab yang diturunkan, infaq, menyambung kekerabatan, berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin, dan berbuat baik kepada orang yang sedang dalam perjalanan, kewajiban mendirikan shalat dan membayar zakat, kewajiban menepati janji, dan sabar atas segala cobaan. Dan setiap qo'odah-qo'idah ini membutuhkan penjelasan yang lebih rinci dalam buku khusus.
Tafsir Ash-Shaghir
{Kebajikan itu bukanlah} kebaikan yang diridhai Allah itu {menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab suci, dan para nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir} musafir yang terpisah dari keluarganya {peminta-minta, dan hamba sahaya} dan membebaskan hamba sahaya dari perbudakan dan tawanan {mendirikan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan} kesulitan dan kefakiran {penderitaan} penyakit {dan pada masa peperangan} beratnya peperangan {Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa