Surah Al-Baqarah : Ayat 18
صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
"Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),"
Tafsir Ringkas Kemenag
Mereka seperti orang tuli, sebab mereka telah kehilangan fungsi pendengaran dengan tidak mengikuti kebenaran yang didengar. Mereka juga seperti orang bisu karena tidak mengucapkan kebenaran oleh sebab hati mereka tertutup, sehingga tidak tergerak melakukan itu. Dan mereka juga seperti orang buta, karena kehilangan fungsi penglihatan, baik melalui mata kepala (bashar) ataupun mata hati (bashirah), dengan tidak mengambil pelajaran dari hal-hal yang mereka lihat, sehingga pada akhirnya mereka tidak dapat kembali dari kesesatan itu kepada kebenaran yang telah mereka jual dan tinggalkan. Atau keadaan mereka yang penuh kebimbangan, kesulitan, dan ketidaktahuan akan manfaat dan bahaya seperti keadaan orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan karena tebal dan pekatnya awan, petir yang menggelegar dan kilat yang menyambar cepat. Mereka menyumbat telinga dengan ujung jari-jarinya, untuk menghindari suara petir itu karena takut mati. Mereka mengira dengan berbuat demikian akan terhindar dari kematian. Mereka itu bila diturunkan Al-Qur'an yang berisi penjelasan tentang kegelapan akibat kekufuran dan siksa yang akan diterima, penjelasan tentang keimanan dan cahayanya yang kemilau, dan penjelasan tentang macam-macam siksaan yang menakutkan, mereka berpaling dan berusaha menghindar darinya dengan harapan terbebas dari siksa. Allah meliputi dan mengetahui orang-orang yang kafir dengan ilmu dan kekuasaan-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Dikatakan “Matsalun”, “Mitslun”, dan “Matsiilun” juga. Bentuk jamaknya adalah “Amtsal”. Allah SWT berfirman, (Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (43)) (Surah Al-Ankabut). Makna dari perumpamaan ini yaitu bahwa Allah telah menyamakan mereka dalam membeli kesesatan dengan petunjuk dan penggambaran mereka setelah mendapat penglihatan (petunjuk) menuju kebutaan (kesesatan) dengan orang yang menyalakan api. Saat api itu menyinari sekelilingnya, lalu dia memperoleh manfaat darinya dan dapat melihat apa yang ada di sisi kanan dan kiri serta merasa nyaman dengan cahaya itu. Kami menerangkan seperti itu yaitu ketika api itu padam, dia berada dalam gelap gulita, tidak dapat melihat dan tidak mendapat petunjuk, dan bersamaan dengan kondisi itu, dia tuli, tidak mendengar, bisu, tidak berbicara, dan buta bahkan jika ada cahaya pun, dia tidak bisa melihat; karena itu, dia tidak kembali kepada keadaan sebelumnya. Begitu pula orang-orang munafik dalam mengganti petunjuk dengan kesesatan, dan lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa mereka telah beriman kemudian kembali kafir, sebagaimana yang diberitahukan oleh Allah SWT tentang mereka di ayat lain. Hanya Allah yang lebih Mengetahui. Apa yang telah kami sebutkan ini juga telah diriwayatkan oleh Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab tafsirnya dari As-Suddi, kemudian dia berkata: “Penyerupaan di sini menunjukkan sesuatu yang benar, karena dengan keimanan mereka saat pertama kali, mereka memperoleh cahaya, kemudian dengan kemunafikan mereka, mereka menghilangkan cahaya itu dan terjerumus dalam kebingungan yang besar; karena tidak ada kebingungan yang lebih besar daripada kebingungan tentang agama. Ibnu Jarir menganggap bahwa perumpamaan untuk mereka di sini adalah bahwa mereka tidak beriman pada satu waktu, dan dia berdalil dengan firman Allah SWT: (Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (8))
Tafsir As-Sa'di
18. “Mereka tuli, ” maksudnya tuli dari mendengarkan kebaikan, “bisu, ” maksudnya bisu dari membicarakannya, “dan buta” dari melihat kebenaran, “maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar, ” karena mereka meninggalkan kebenaran setelah mereka mengetahuinya, lalu mereka tidak kembali kepadanya, berbeda dengan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan tersesat, karena sesungguhnya ia tidak berpikir, dan ini lebih dekat untuk kembali daripada orang-orang munafik itu.
Tafsir Al-Wajiz
Sesungguhnya mereka tuli dari kebenaran, yaitu tidak (mampu) mendengar seruan (kebenaran), mereka bisu, yaitu tidak dapat berbicara apapun, dan buta dari jalan petunjuk, yaitu tidak bisa melihat jalan tersebut. Maka dari itu, mereka tidak dapat kembali dari kesalahan dan kesesatan mereka
Tafsir Al-Muyassar
Mereka itu tuli untuk mendengar kebenaran dengan pendengaran yang disertai tadabur, mereka bisu untuk mengungkapkannya dan buta dari melihat cahaya hidayah. Oleh karena itu mereka tidak dapat kembali menuju keimanan yang telah mereka tinggalkan dan telah mereka ganti dengan kesesatan.
Tafsir Al-Mukhtashar
18. Mereka itu tuli tidak bisa mendengarkan kebenaran, yakni enggan menerimanya, bisu tidak mau mengutarakannya, dan buta tidak bisa melihatnya, sehingga mereka tidak bisa meninggalkan kesesatan tersebut.
Tafsir Zubdatut
18. (Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali) Yakni para pemilik api yang bersinar setelah api itu padam mereka akhirnya tetap menjadi orang yang tuli yang tak dapat mendengar panggilan, orang yang bisu yang tak dapat meminta petunjuk jalan, orang yang buta yang tak dapat melihat, sehingga mereka tidak mungkin untuk kembali kepada jalan yang benar. Seperti itulah orang-orang munafik yang masuk islam yang kemudian kembali menjadi kafir.
Tafsir Ash-Shaghir
(Mereka) tuli} mereka tidak bisa mendengar kebenaran dengan penuh penerimaan {bisu} mereka tidak bisa berbicara tentang kebenaran {buta} mereka tidak bisa melihat petunjuk {sehingga mereka tidak dapat kembali
Tafsir Aisarut
Makna kata : Mereka tuli, bisu, dan buta. Makna ayat : Adapun ayat 18 adalah berita tentang orang-orang munafik yang telah kehilangan petunjuk sehingga telinga mereka tidak bisa mendengar kebenaran, mulut mereka tidak mampu mengucapkan kebenaran, dan mata mereka tidak bisa melihat berkas cahaya petunjuk disebabkan sudah terlampau dalam kerusakan dalam hatinya. Sehingga mereka tidak bisa lepas dari kekufuran menuju keimanan bagaimanapun kondisinya. Pelajaran dari ayat : Kerugian usaha yang dilakukan oleh orang yang melakukan kebathilan serta akibat buruk yang diterimanya.
Tafsir Hidayatul
Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta karena tidak dapat menerima kebenaran. Oleh karena itu, mereka tidak dapat kembali kepada keimanan dan kebenaran yang telah mereka tinggalkan dan mereka ganti dengan kesesatan. Berbeda dengan orang-orang yang meninggalkannya karena tidak mengetahui, mereka ini lebih mudah kembali.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Baqarah ayat 18: Allah kemudian menjelaskan bahwasanya keadaan mereka orang-orang munafik sebagaimana keadaan orang-orang yang tuli tidak dapat mendengar kebenaran , sebagaimana orang yang bisu yang tidak dapat bicara kebenaran , dan juga sebagaimana orang yang buta yang tidak dapat melihat petunjuk dan cahaya ; oleh sebab ini maka sungguh mereka tidak akan pernah keluar dari kesesatan dan keburukan mereka . Berkata Abdullah Bin Masud dan sebagian para sahabat : sesungguhnya manusia masuk ke dalam Islam diajarkan kepada mereka halal dan haram , serta mereka hidup di dalam cahaya islam ; kemudian tiba-tiba mereka memiliki penyakit nifaq sehingga turunlah ayat ini.