Surah An-Nur : Ayat 18
وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

"dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Tafsir Ringkas Kemenag
Allah mengarahkan ayat ini kepada pihak-pihak yang merasa senang dengan tersebarnya isu negatif tersebut. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji, yaitu berita bohong itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka akan mendapat azab yang pedih di dunia dengan hukuman yang tepat, dan demikian pula akan mendapat siksa yang pedih di akhirat apabila mereka tidak bertobat. Dan Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk niat buruk para penyebar kebohongan itu, sedang kamu tidak mengetahui secara pasti motif mereka. -.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 16-18 Ini merupakan pelajaran lainnya sesudah pelajaran yang pertama, yaitu menganjurkan agar berbaik prasangka. yaitu, apabila disebutkan suatu hal yang tidak pantas menyangkut diri orang-orang baik, maka yang paling utama adalah janganlah mempunyai prasangka terhadap mereka kecuali prasangka yang baik. Janganlah pula mempunyai perasaan lain dalam dirinya; kemudian jika dalam dirinya terpaut sesuatu dari kecurigaan tersebut, maka janganlah membicarakannya. Karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya Allah SWT memaafkan umatku terhadap apa yang dibicarakan dalam dirinya, selama dia tidak membicarakan atau mengerjakannya” Allah SWT berfirman: (Dan mengapa kalian tidak berkata di waktu mendengar berita bohong itu, "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini”) yaitu tidaklah pantas bagi kita untuk membicarakan hal ini, dan menceritakannya kepada orang lain (Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar) yaitu Maha Suci Allah, jika dikatakan hal ini terhadap istri RasulNya yang paling dicintai. Kemudian Allah SWT berfirman: (Allah memperingatkan kalian agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selamanya) yaitu, Allah melarang kalian seraya mengancam dari melakukan hal yang serupa selamanya. Oleh karena itu Allah berfirman (jika kalian orang-orang yang beriman) yaitu jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman kepada Allah dan syariatNya serta memuliakan RasulNya. Adapun orang yang digambarkan dengan kekafiran, maka ada ketentuan lainnya. Kemudian Allah SWT berfirman: (dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kalian) yaitu Dia menjelaskan kepada kalian hukum-hukum syariat dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalam takdir (Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana) yaitu, Maha Mengetahui segala sesuatu yang bermanfaat bagi hamba-hambaNya, dan Maha Bijaksana dalam menetapkan syariat dan takdir­Nya
Tafsir As-Sa'di
18 “dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu,” yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan nperinagtan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya”dan Allah maha mengetahui lagi (Mahabijaksana),” maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Diantara (cerminana) ilmu dan hikmahNYa, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
Tafsir Al-Wajiz
18. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui atas kondisi kalian lagi Maha Bijaksana atas segala perbuatan-Nya.
Tafsir Al-Muyassar
Dan Allah menerangkan kepada kalian ayat-ayat yang memuat hokum-hukum syari dan nasihat-nasihat. Dan Allah Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan kalian, lagi Mahabijaksana dalam syariat dan pengaturanNya.
Tafsir Al-Mukhtashar
18. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya yang mengandung berbagai hukum dan nasihat kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya, dan Dia pasti akan memberikan kalian balasan atasnya, juga Maha Bijaksana dalam pengaturan dan syariat-Nya.
Tafsir Ash-Shaghir
Allah menjelaskan} menerangkan {ayat-ayat kepada kalian. Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana
Tafsir Hidayatul
Surat An-Nur ayat 18: Yang mengandung hukum-hukum, nasehat, larangan, targhib dan tarhib, dsb. Tentang apa yang perlu diperintahkan kepadamu dan tentang apa yang perlu dilarang kepadamu. Dalam perintah dan larangan itu. Dia menerangkan hikmah dari perintah dengan menerangkan kebaikan yang ada di dalamnya, dan menerangkan hikmah dari larangan itu dengan menerangkan keburukan yang menghendaki untuk ditinggalkan.