Surah Asy-Syu'ara : Ayat 180
وَمَآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِىَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
"dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam."
Tafsir Ringkas Kemenag
180. Dan aku tidak meminta imbalan apa pun baik berupa materi atau jasa kepadamu atas ajakan itu, imbalanku tidak lain hanyalah dari tuhan seluruh alam. Dengan tidak adanya imbalan, nabi sy'aib tidak mempunyai kepentingan apa-apa kecuali untuk kemaslahatan mereka. 181. Kemudian nabi syuaib mulai memasuki wilayah dakwah yang lebih nyata lagi yaitu kejahatan ekonomi yang dilakukan kaumnya. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu merugikan orang lain. Mengurangi takaran dan timbangan sangat merugikan konsumen. Memakan hasilnya hukumnya haram dan tidak membawa berkah dalam kehidupan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 176-180 Mereka, yaitu penduduk Aikah tinggal di negeri Madyan, berdasarkan pendapat yang benar. Nabi Allah Syu'aib adalah salah satu dari mereka, dan sesungguhnya di sini tidak disebutkan “saudara mereka” karena mereka dinisbatkan kepada sesembahan penduduk Aikah, yaitu sebuah pohon. Dikatakan, Aikah adalah sebuah pohon yang rindang daunanya sama dengan pohon ghaidah. Mereka menyembahnya. Oleh karena itu Allah berfirman: Penduduk Aikah mendustakan para rasul, tidak disebutkan saudara mereka nabi Syu'aib. Sesungguhnya Dia berfirman: (ketika Syu'aib berkata kepada mereka) Hubungan persaudaraan di antara mereka telah terputus, berdasarkan makna yang mereka nisbatkan kepadanya, sekalipun pada kenyataannya nabi Syu'aib adalah saudara mereka. Sebagian ulama tidak menyadari adanya makna yang lembut ini, sehingga dia menduga bahwa penduduk Aikah bukan penduduk Madyan. Lalu menduga bahwa nabi Syu'aib diutus oleh Allah kepada dua umat. Di antara mereka ada yang mengatakannya kepada tiga umat. Pendapat yang benar adalah satu umat, bahwa mereka disifati dengan suatu hal di setiap kedudukan. Oleh karena itu, nabi Syu'aib memerintahkan kepada mereka agar menunaikan takaran dan timbangan secara penuh, sebagaimana yang disebutkan dalam kisah penduduk Madyan. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya merupakan satu umat
Tafsir As-Sa'di
176-180 para penduduk aikah adalah (penduduk) negeri yang penuh dengan kebun-kebun yang lebat dengan pepohonan. Mereka adalah penduduk negeri madyan. Mereka mendustakan nabi mereka, yaitu syu’aib yang datang dengan membawa ajaran yang dibawa oleh para rasul, “ketika syu’aib berkata kepada mereka,’mengapa kamu tidak bertakwa,” kepada Allah, lalu meninggalkan apa yang dapat membuatNya murka dan benci, seperti kekafiran dan kemaksiatan,”sesungguhnya aku adalah seorang rasul untuk kalian, yang terpercaya,” yang semua itu berkonsekuensi agar kalian bertakwa kepada Allah dan taat kepadaku.
Tafsir Al-Wajiz
180. Sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu, upahku tidak lain adalah urusan Tuhan semesta alam
Tafsir Al-Muyassar
176-180. Penduduk yang mendiami tempat yang berpohon rimbun telah mendustakan Rasul mereka, Syu’aib terkait kerasulannya. Maka dengan tindakan itu, mereka telah mendustakan seluruh misi kerasulan. Yaitu tatkala Syu’aib berkata kepada mereka, “Mengapa kalian tidak takut terhadap siksaan Allah atas perbuatan-perbuatan maksiat-maksiat kalian? Sesungguhnnya aku diutus kepada kalian dari Allah untuk menujukkan jalan hidayah bagi kalian, orang yang dapat dipercaya membawakan wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadaku berupa misi risalah. Maka takutlah kalian terhadap siksaan Allah, dan ikutilah apa yang aku serukan kepada kalian, yaitu jalan hidayah menuju Allah; agar kalian mendapat petunjuk. Dan aku tidak meminta dari kalian imbalan apa pun atas seruanku kepada kalian untuk beriman kepada Allah. Dan balasan bagiku tiada lain berasal dari Tuhan alam semesta.”
Tafsir Al-Mukhtashar
180. Dan aku sekali-kali tidak meminta upah dari kalian terkait penyampaian wahyu dari Tuhanku; upahku tidak lain hanyalah dari Allah Tuhan segala makhluk, bukan dari selain-Nya.
Tafsir Ash-Shaghir
Aku tidak meminta imbalan kepada kalian atas hal itu. Imbalanku tidak lain kecuali dari Tuhan semesta alam