Surah An-Najm : Ayat 2
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

"kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru."

Tafsir Ringkas Kemenag
Sesungguhnya kawanmu yang sangat kamu kenal kejujurannya, yaitu nabi Muhammad, tidak sesat dalam perilakunya saat menyampaikan dakwah dan tidak pula keliru dalam ucapan-ucapan yang disampaikannya. 3. Apa saja yang dilakukan oleh nabi Muhammad merupakan perintah tuhannya, dan tidaklah pula yang diucapkannya itu, yaitu ayat-ayat Al-Qur'an, merupakan perkataan kosong dan menurut keinginannya saja.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-4 Para mufasir berbeda pendapat tentang firmanNya: (Demi bintang ketika terbenam (1)) Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan bintang adalah bintang tsurayya, yakni apabila terbenam bersamaan dengan fajar. Ayat ini sebagaimana firmanNya: (Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui (76) sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia (77) pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz) (78) tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan (79) Diturunkan dari Tuhan semesta alam (80) (Surah Al-Waqi'ah) Firman Allah SWT: (kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru (2)) Inilah adalah jawab dari qasam, yaitu kesaksian terhadap Rasulallah SAW bahwa beliau adalah orang yang berada pada jalan yang lurus mengikuti kebenaran, bukan orang yang tersesat. Yaitu orang bodoh yang menempuh jalan menyimpang tanpa pengetahuan. Dan orang yang tersesat adalah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi dengan sengaja menyimpang kepada selainnya. Maka Allah SWT membersihkan RasulNya SAW dan syariatNya dari kemiripan yang dilakukan oleh orang-orang yang tersesat seperti orang-orang Nasrani dan orang-orang Yahudi, yang mengetahui sesuatu, tetapi menyembunyikannya dan mengerjakan hal yang bertentangan dengannya. Bahkan shalawat dan salam Allah terlimpahkan kepada beliau, dan apa yang diutuskan Allah SWT kepada beliau berupa syariat yang agung merupakan syariat yang benar-benar lurus, pertengahan, dan tepat. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya (3)) yaitu apa yang diucapkan itu tidak keluar dari hawa nafsu dan tujuannya (Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (4)) yaitu sesungguhnya yang beliau ucapkan itu hanya karena apa yang diperintahkan kepada beliau untuk disampaikan kepada manusia dengan sempurna dengan apa adanya tanpa penambahan dan pengurangan.
Tafsir As-Sa'di
2. Tujuan sumpah pada ayat ini adalah penyucian untuk Rasulullah dari kesesatan dalam ilmu dan tujuannya, karena Rasulullah adalah orang yang mendapat petunjuk dalam ilmunya, berniat baik dan pemberi nasihat untuk manusia. Lain halnya dengan orang-orang sesat yang ilmunya rusak dan niatnya buruk, Allah berfirman, “Kawanmu,” agar mereka ingat kejujuran dan petunjuk yang ada pada Nabi Muhammad, dan perihal tentang Muhammad tidak samar bagi mereka.
Tafsir Al-Wajiz
2. Muhammad tidak meninggalkan kebenaran jalan hidayah. Tidak pula dia menjadi pengikut hawa nafsu. Maknanya tidak berkeyakinan terhadap kebatilan
Tafsir Al-Muyassar
1-4. Allah bersumpah dengan bintang-bintang bila ia terbenam, (bahwa) Muhammad tidak menyimpang dari jalan hidayah dan kebenaran, tidak keluar dari jalan lurus, sebaliknya dia berada di puncak istiqamah, keseimbangan dan kelurusan, ucapannya tidak keluar dari hawa nafsu. Al-quran dan as-Sunnah tidak lain kecuali wahyu dari allah kepada NabiNya,Muhammad.
Tafsir Al-Mukhtashar
2. Muhammad Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu tidak tersesat dari jalan hidayah dan tidak pula ia berbuat keliru, akan tetapi ia berada dalam kebenaran.
Tafsir Zubdatut
2. (kawanmu (Muhammad) tidak sesat) Yakni Muhammad tidaklah tersesat dari kebenaran ketika ia datang membawa al-Qu’ran kepada kalian. ( dan tidak pula keliru) Yakni dia tidak menjadi sesat dan tidak mengucapkan hal yang batil.
Tafsir Li Yaddabbaru
1-2 1). Kesesatan terjadi tanpa ada yang menghendakinya, dan kesesatan seolah-olah merupakan sesuatu yang diperoleh dan diinginkan seseorang, maka Allah ta'ala menafikan kedua keadaan ini dari Nabi-Nya, maka dia tidak tersesat karena ketidaktahuan, dan tidak pula dia tersesat dengan kesengajaa, perhatikan: { } "Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru". 2). Beliau menggambarkannya sebagai orang yang tidak sesat, yaitu orang bodoh, dan tidak sesat sedangkan dia adalah penindas. Sesungguhnya kebaikan seorang hamba terletak pada mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, maka barang siapa yang tidak mengetahui kebenaran maka ia sesat darinya, dan barangsiapa mengetahui kebenaran itu lalu menentangnya dan menuruti hawa nafsunya, maka ia sesat, dan siapa yang mengetahuinya maka dan dia mengerjakannya. Dia termasuk diantara orang yang terbaik dalam pekerjaannya dan termasuk orang yang paling berpengetahuan.
Tafsir Ash-Shaghir
{sahabat kalian tidak sesat} nabi Muhammad SAW tidak menyimpang dari jalan kebenaran {dan tidak keliru} dan tidak menjadi orang yang sesat
Tafsir Hidayatul
Disebutkan kata “kawanmu” untuk mengingatkan mereka, bahwa mereka telah mengenal keadaan dan pribadi Beliau yang penuh dengan kejujuran dan petunjuk, dan bahwa keadaan Beliau tidak samar bagi mereka.
Tafsir An-Nafahat
Surat An-Najm ayat 2: 1-4. Allah mengawali surat ini dengan bersumpah dengan bintang-bintang di langit yang menukik karena terbenam. Kemudian datang jawaban atas sumpah yang mengabarkan bahwa sahabat kalian ini (Muhammad) wahai orang-orang Quraisy, tidaklah menyimpang dari jalan yang lurus, dan tidak juga berkeyakinan bathil selamanya. Sesungguhnya Muhammad tidaklah berbicara dengan hawa nafsu, dan juga pendapatnya sendiri atas apa yang disampaikannya kepada kalian dari kerisalahan. Sungguh dia tidak berbicara kecuali atas dasar wahyu yang Allah wahyukan kepadanya. Berkata Asy Syanqiti penulis Adhwaul Bayan, ketika mengajarkan kepada kami tafsir di kuliah syariah : Bintang yang Allah bersumpah atasnya adalah ungkapan atas turunnya Al Qur’an; Karena Al Qur’an turun secara berangsur-angsur kepada Nabi ﷺ. Dengan ini maka maknanya adalah : Sesungguhnya Allah bersumpah dengan ungkapan turunnya Al Qur’an yang diturunkan malaikat kepada Nabi ﷺ.