Surah An-Naba : Ayat 2
عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلْعَظِيمِ

"Tentang berita yang besar,"

Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-16 Allah SWT berfirman seraya mengingkari orang-orang musyrik karena mereka saling bertanya tentang hari kiamat dengan mengingkari kejadiannya (Tentang apakah mereka saling bertanya? (1) Tentang berita yang besar (2)) yaitu apakah yang mereka pertanyakan? Tentang perkara hari kiamat, yaitu berita yang besar, yakni berita yang mengerikan dan mengejutkan. Qatadah berkata tentang firmanNya (Tentang berita yang besar) yaitu kebangkitan setelah kematian. Mujahid berkata bahwa itu adalah Al-Qur'an, tetapi yang jelas adalah pendapat yang pertama, berdasarkan firmanNya: (yang mereka perselisihkan tentang ini (3)) yaitu, manusia dalam hal ini ada dua, ada yang beriman dan ada yang ingkar. Kemudian Allah SWT berfirman seraya mengancam orang-orang yang mengingkari hari kiamat (Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui (4) kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui (5)) Ini adalah ancaman keras dan peringatan tegas. Kemudian Allah menjelaskan tentang kekuasaanNya yang agung melalui penciptaanNya terhadap segala sesuatu yang menakjubkan yang menunjukkan kekuasaanNya atas segala sesuatu yang Dia kehendaki, termasuk perkara kebangkitan dan lainnya. Maka Allah SWT berfirman: (Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? (6)) yaitu, dihamparkan dan ditundukkan bagi mereka, lagi tetap, tenang, dan kokoh (dan gunung-gunung sebagai pasak? (7)) yaitu, Dia menjadikan padanya pasak-pasak untuk memancangkan, mengokohkan dan memantapkannya sehingga bumi menjadi tenang dan tidak mengguncangkan apa yang ada di atasnya. Kemudian Allah berfirman: (dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan (8)) yaitu dari jenis laki-laki dan perempuan, masing-masing dapat menikmati dengan lawan jenisnya, maka berkembang biaklah mereka. Sebagaimana firmanNya: (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang) (Surah Ar-Rum:21) Firman Allah SWT: (dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat (9)) yaitu berhenti dari bergerak agar kalian mendapatkan istirahat dari banyaknya gerakan dan upaya mencari penghidupan di sepanjang siang. Ini telah dijelaskan dalam surah Al-Furqan. (dan Kami jadikan malam sebagai pakaian (10)) yaitu yang menutupi semua manusia dengan kegelapan dan kehitamannya, sebagaimana Allah berfirman: (dan malam apabila menutupinya (4)) (Surah Asy-Syams) Firman Allah (dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (11)) yaitu, Kami menjadikannya terang benderang dan bercahaya agar manusia dapat bergerak, pergi, dan datang untuk mencari penghidupan, berusaha, berniaga, dan melakukan urusan lainnya. Firman Allah SWT: (dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh (12)) yaitu tujuh langit keluasan, ketinggian, kekokohan, kerapian dan hiasannya dengan bintang-bintang, baik yang tetap maupun yang beredar. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan Kami jadikan pelita yang amat terang (13)) yaitu matahari yang menerangi alam, yang cahayanya menerangi semua penduduk bumi. Firman Allah SWT: (dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah (14)) Diriwayatkan dari dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (dan Kami turunkan dari awan) dia berkata bahwa yang dimaksud adalah angin. Demikian juga dikatakan Ikrimah, Mujahid, Qatadah, dan Muqatil bahwa yang dimaksud adalah angin. Makna pendapat ini adalah bahwa itu adalah angin yang meniup hujan yang ada di awan Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya (dari awan) yaitu dari awan, Demikian juga dikatakan oleh Abu Al-’Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, dan itu dipilih Ibnu Jarir. Al-Farra’ berkata bahwa itu adalah awan yang mengandung air hujan dan belum diturunkan, sebagaimana dikatakan terhadap seorang wanita yang “mu’shir” ketika masa haidnya tiba, sedangkan dia belum haid. Diriwayatkan dari Al-Hasan dan Qatadah bahwa firmanNya (minal mu’shirat) adalah dari langit. Pendapat ini gharib. Dan yang jelas adalah bahwa yang dimaksud dengan mu’shirat adalah awan sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya) (Surah Ar-Rum: 48) yaitu di antaranya Firman Allah: (air yang banyak tercurah) Mujahid, Qatadah, dan Ar-Rabi' bin Anas berkata bahwa makna (tsajjajan) adalah tercurah. Ibnu Zaid berkata bahwa maknannya banyak. Ibnu Jarir berkata bahwa tidak diketahui dalam perkataan orang Arab untuk menggambarkan hal yang banyak dengan kata “ats-tsajj”, melainkan curahan yang berturut-turut. Termasuk di dalamnya adalah sabda Nabi SAW,”Haji yang paling utama adalah yang banyak debunya dan banyak mengalirkan darah kurban, yaitu mengalirkan darah hewan kurban” Demikanlah yang dikatakan Firman Allah SWT: (supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan (15) dan kebun-kebun yang lebat? (16)) yaitu dengan air yang banyak, baik, bermanfaat, dan mengandung keberkahan ini Kami mengeluarkan (biji-bijian) untuk manusia dan hewan, dan (tumbuh-tumbuhan) yaitu tumbuhan hijau yang dapat dimakan saat mentah, (kebun-kebun), yaitu taman-taman dan kebun-kebun berupa buah-buahan yang beragam rasa dan aromanya, yang semua itu dapat dijumpai dalam satu kawasan tanah yang lebat. Oleh karena itu Allah berfirman (dan kebun-kebun yang lebat? (16)) Ibnu Abbas dan lainnya berkata bahwa (alfafan) adalag lebat. Hal ini sebagaimana firmanNya: (Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya) (Surah Ar-Ra'd: 4)
Tafsir As-Sa'di
Ayat 1 – 5 Maknanya, tentang apakah yang ditanyakan oleh orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah itu? Selanjutnya Allah menjelaskan apa yang mereka pertanyakan tersebut seraya berfirman, “Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentangnya,” yakni, tentang berita besar yang mereka perdebatkan dan telah tersebar di antara mereka tentangnya untuk mendustakan dan mengaggap mustahil. Padahal itulah berita yang tidak perlu diragukan dan dibimbangkan. Tapi mereka yang mendustakan tidak percaya akan bertemu dengan Rabb mereka meski seluruh tanda tanda kebesaran Allah datang pada mereka hingga mereka melihat siksaan yang pedih. Karena itu Allah berfiirman, “Sekali kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,” yakni, mereka akan mengetahui bila siksaan menimpa mereka yang dulu mereka dustakan pada saat, “mereka didorong ke neraka jahannam dengan sekuata kuatnya.” (Ath-Thur: 13), dan berkata pada mereka, “inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.” (Ath-Thur: 14)
Tafsir Al-Wajiz
2. Adapun jawabnya: "Mereka saling bertanya tentang kabar yang menakutkan dan menentukan, dan itu adalah hari kiamat"
Tafsir Al-Muyassar
1-3. Tentang apa sebagian dari orang orang kafir quraisy bertanya kepada sebagian lainnya? Mereka saling bertanya tentang sebuah berita besar,yaitu al-quran yang agung yang mengabarkan tentang kebangkitan yang di ragukan. Yang di ragukan, bahkan di dustakan oleh orang orang kafir.
Tafsir Al-Mukhtashar
2. Sebagian dari mereka bertanya kepada sebagian yang lain tentang berita yang besar, yaitu tentang Al-Qur`ān ini yang diturunkan kepada Rasul mereka, berisi berita tentang kebangkitan.
Tafsir Zubdatut
2. (Tentang berita yang besar) Yakni berita yang agung, yaitu al-Qur’an yang mengabarkan tentang keesaan Allah, pembenaran Rasulullah, dan kejadian hari kebangkitan.
Tafsir Ash-Shaghir
{Tentang berita yang besar} kabar yang sangat agung yaitu bahwa Al-Qur'an ini mengandung kabar tentang kebangkitan
Tafsir Hidayatul
Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang sesuatu yang mereka pertanyakan itu. Yakni tentang apa yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berupa Al Qur’an yang menyebutkan tentang kebangkitan, pembalasan dan lain-lain yang merupakan kebenaran tanpa keraguan lagi. Akan tetapi, orang-orang yang mendustakan pertemuan Tuhan mereka tetap saja tidak beriman, meskipun didatangkan setiap ayat sampai mereka melihat azab yang pedih.
Tafsir An-Nafahat
Surat An-Naba ayat 2: 1-3. Allah memulai di awal-awal surat ini dengan bantahan atas kaum musyrik dimana mereka mengingkari hari kebangkitan; Mereka orang-orang kafir ingkar ketika datang kepada mereka utusan Allah (Rasulullah) yang membawa Al Qur’an. Disebutkan bahwasanya mereka (kaum musyrikin) meragukan dan terkejut dengan (kabar) tentang hari kebangkitan; Maka jadilah mereka semua saling bertanya-tanya antara satu sama lain diantara mereka berkenaan dengan urusan yang besar ini dan kabar yang sangat penting ini, yang mereka dapat dari Allah (melalui utusan-Nya). Mereka berselisih satu sama lain dengan perselisihan yang amat; Diantara mereka ada yang mendustakan Rasul dan hari kebangkitan yang mereka berkata sebagaimana dalam surat Al An’am ayat ke 29 : “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan”, dan diantara mereka ada yang ragu-ragu sehingga mengatakan : “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)” {Al Jatsiyah 32}. Dan diantara mereka ada yang bersikeras (menyombongkan diri) dengan mengklaim bahwasanya sesembahan-sesembahan mereka adalah perantara (antara mereka dengan Allah); Dimana mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.” {Yunus 18}.