Tafsir Ringkas Kemenag
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji seperti tawaf, sai, wukuf di arafah, bermalam di muzdalifah, melempar jamrah, tahalul, dan tawaf wada', maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu dalam tradisi jahiliah dengan khidmat, khusyuk, dan takzim; bahkan berzikirlah kepada Allah dengan lebih takzim dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, ya tuhan kami! berilah kami kebaikan di dunia, seperti hidup yang sehat, harta yang banyak, dan keturunan yang cerdas sehingga terhormat dan bermartabat, tetapi di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun karena tidak beriman dan beramal saleh. Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan dengan memperoleh kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat, dan Allah maha cepat perhitungan-Nya atas semua amal perbuatan manusia.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 200-202 Allah SWT memerintahkan untuk memperbanyak mengingatNya setelah menunaikan rangkaian ibadah. FirmanNya, (sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu). Mereka berbeda pendapat tentang maknanya Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Atha’ yaitu seperti perkataan anak kecil ”ayah” “ibu”, yaitu sebagaimana dialek anak kecil untuk menyebut ibu dan ayahnya. Demikian juga kalian ingatlah Allah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah. Demikian pula dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan Ar-Rabi' bin Anas. Yang dimaksud dari ayat ini adalah dorongan untuk memperbanyak mengingat Allah SWT. Oleh karena itu, Dia meneguhkan dengan firmanNya, (atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu) adalah untuk membedakan maknanya, yang artinya seperti kalian mengingat nenek moyang kalian atau lebih banyak dari itu. Kata “Aw” disini untuk menyempurnakan perumpamaan dalam menyampaikan pemberitahuan, sebagaimana firmanNya, (seperti batu, bahkan lebih keras lagi) (Surah Al-Baqarah: 74), (mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya) (Surah An-Nisa: 77), (Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih (147)) (Surah Ash-Shaffat) dan (maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) (9)) (Surah An-Najm). Dalam ayat ini tidak ada keraguan sama sekali, tetapi itu dimaksudkan untuk menyempurnakan pemberitahuan bahwa hal itu seperti itu atau lebih dari itu. Kemudian Allah SWT membimbing agar berdoa kepadaNya setelah memperbanyak mengingat kepadaNya, dengan mengharapkan jawaban dariNya, dan mencela mereka yang tidak memohon kepadaNya kecuali untuk urusan duniawi dan dia menghindari urusan akhiratnya. Lalu Allah berfirman, (Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiada baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat) yaitu sebagian saja dan bukan sebuah keuntungan. Hal ini mengandung celaan agar tidak menyerupai orang yang melakukan hal itu. Said bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Sebagian bangsa Arab datang ke tempat wukuf, lalu mereka berkata, “Ya Allah, jadikanlah tahun ini adalah tahun hujan, tahun subur, dan tahun kelahiran anak yang baik, dan mereka tidak menyebutkan perkara akhirat sedikitpun. Lalu Allah menurunkan firmanNya tentang mereka, (Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat) dan ada yang datang setelah mereka, orang-orang mukmin, mereka berdoa ("Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"). Lalu Allah menurunkan ayat, (Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitunganNya). Oleh karena itu, Allah memuji mereka yang memohon kepadaNya dalam urusan dunia dan akhirat. Dia berfirman, (Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"). Doa ini mengumpulkan semua kebaikan di dunia dan agar dihindarkan dari segala keburukan. Sesungguhnya kebaikan di dunia meliputi segala sesuatu yang diinginkan dalam kehidupan duniawi, seperti kesehatan, rumah yang luas, pasangan yang baik, rezeki yang melimpah, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang nyaman, dan pujian yang indah, dan banyak lagi termasuk dalam apa yang diungkapkan oleh para mufasir, dan tidak ada penafian di antara ungkapan itu. Semuanya ini mencakup seluruh kebaikan di dunia. Adapun kebaikan di akhirat itu merupakan sesuatu yang lebih tinggi, yaitu masuk ke surga dan segala hal yang mengiringinya seperti rasa aman dari ketakutan terbesar di padang mahsyar, kemudahan dalam hisab, dan hal-hal lain yang baik di akhirat. Adapun terkait selamat dari api neraka, maka perlu mengusahakan sebab-sebab agar mendapatkan hal itu di dunia, seperti menjauhi sesuatu yang haram dan perbuatan dosa, serta meninggalkan hal-hal syubhat, dan tindakan yang diharamkan. Qasim bin Abdurrahman mengatakan, “Barang siapa yang memiliki hati yang bersyukur, lisan yang banyak berdzikir, dan tubuh yang sabar, maka dia telah diberi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta terhindar dari siksa neraka.” Oleh karena itu, disebutkan dalam hadits-hadits untuk mendorong agar berdoa dengan doa ini. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, “Nabi SAW biasa berdoa, “Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka"
Tafsir As-Sa'di
200-202. Kemudian Allah mengabarkan tentang keadaan para makhluk, bahwasanya mereka memohon kebutuhan-kebutuhan mereka kepada Allah, berlindung kepadaNya dari segala yang membahayakan mereka, akan tetapi niat dan maksud mereka berbeda-beda, diantara mereka “ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’.” Maksudnya, ia memohon kepadaNya kenikmatan kenikmatan dunia yang merupakan keinginan dirinya, namun ia tidak mendapatkan bagian di akhirat, karena ia membencinya dan mencukupkan cita-citanya hanya sebatas dunia. Di antara mereka ada yang berdoa kepada Allah demi kemaslahatan dunia dan akhirat, dan ia butuh kepadanya dalam kepentingan kepentingan agama dan dunianya. Maka setiap dari kelompok pertama dan kelompok kedua memiliki hasil dari apa yang telah mereka kerjakan dan usahakan, dan Allah akan memberikan balasannya sesuai dengan perbuatan, cita-cita, dan niat mereka dengan balasan yang berdasarkan kepada keadilan dan kemuliaan, di mana Dia dipuji dengan pujian yang paling sempurna dan paling lengkap karenanya. Ayat ini merupakan dalil bahwa Allah mengabulkan doa setiap orang, baik muslim maupun kafir atau fasik. Akan tetapi pengabulan doa orang itu bukanlah sebuah tanda bagi kecintaanNya terhadap orang tersebut dan kedekatanNya padanya, kecuali dalam permohonan yang berhubungan dengan akhirat dan kepentingan kepentingan agama. Dan kebaikan yang diharapkan di dunia, termasuk dalam hal itu adalah segala yang sangat baik kejadiannya bagi seorang hamba, seperti rizki yang lancar, luas, dan halal, istri yang sholihah, anak yang merupakan penyejuk mata, ketenangan, ilmu yang berguna, amalan yang shalih, dan semacamnya dari segala macam permohonan yang dicintai dan dibolehkan. Adapun kebaikan di akhirat adalah selamat dari siksaan kubur, padang mahsyar, dan api neraka, memperoleh keridhoan Allah, mendapatkan kenikmatan yang abadi, dekat dengan Robb yang maha penyayang hingga doa ini menjadi doa yang paling lengkap, paling sempurna dan paling utama untuk didahulukan. Oleh karena itulah nabi memperbanyak doa dengannya dan senantiasa menganjurkan umatnya untuk berdoa dengannya.
Tafsir Al-Wajiz
201. Di antara mereka ada yang meminta keluasan rejeki, kesehatan, keamanan, istri dan anak yang shalih di dunia, serta meminta surga keridhaan dan dijauhkan dari neraka di akhirat. Ibnu Abbas berkata: “Ada suatu kaum Baduwi yang datang ke suatu tempat dan berdoa: “Ya Allah, berikanlah tahun yang penuh dengan hujan, kesuburan, keberuntungan dan kebaikan” sedangkan mereka tidak menyebutkan sedikitpun tentang perkara akhirat. Lalu turunlah ayat ke 200. Lalu datang kelompok lain dari golongan orang mukmin dan berdoa: {Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah …}”
Tafsir Al-Muyassar
Dan diantara manusia ada kelompok orang mukmin yang mengucapkan dalam doanya," wahai tuhan kami, berikanlah kepada kami di dunia ini keselamatan, rizki, ilmu yang bermanfaat, amal Shalih dan lainnya dari perkara-perkara agama dan dunia, dan di akhirat berikanlah kami surga, dan jauhkanlah dari kami siksaan neraka." Dan do’a ini termasuk do’a yang paling lengkap isinya oleh karena itu, nabi dahulu sering membacanya sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab shahihain.
Tafsir Al-Madinah
201. Dan di antara manusia terdapat sekelompok orang beriman yang memohon kepada Allah kenikmatan dunia serta memohon agar mendapat surga di akhirat dan agar dijauhkan dari azab neraka.
Tafsir Al-Mukhtashar
201. Dan ada golongan manusia yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Maka dia meminta kepada Rabbnya agar diberikan kenikmatan hidup dan beramal saleh selama di dunia. Dia juga meminta kepada-Nya agar diberikan kesempatan untuk meraih surga dan selamat dari azab neraka.
Tafsir Zubdatut
201. kebaikan) Kebaikan di dunia adalah apa yang diminta oleh orang-orang sholeh di dunia seperti, istri yang sholehah lagi cantik, anak-anak yang sholeh, dan rezeki yang baik. Dan kebaikan di akhirat adalah keridhaan Allah, dan bidadari-bidadari, dan segala kebaikan yang dipersiapkan Allah untuk orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik.
Tafsir Li Yaddabbaru
Tsabit berkata kepada Anas - - : sesungguhnya saudara-saudaramu menyukai jika kamu berdoa untuk mereka, kemudian ia berkata : "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan \ kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka", kemudian ia mengulanginya dan berkata : mau aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang dengannya perkara-perkara akan terselesaikan ?! sesungguhnya jika Allah
Tafsir Ash-Shaghir
{Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia} rejeki, kesehatan, dan amal shalih {dan kebaikan di akhirat} surga {serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Tafsir Aisarut
Makna kata: { } Hasanah : Kebaikan di dunia yaitu hal yang menyenangkan, tidak menyusahkan seperti istri shalihah, anak yang shalih, dan rezeki yang halal. Kebaikan di akhirat yaitu selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. { } Qinaa : Jagalah kami dan selamatkan kami dari azab neraka. Makna ayat: Namun di antara mereka (jamaah haji) ada yang meminta kebaikan di dunia dan akhirat, mereka itulah orang-orang mukmin dan bertauhid yang mengatakan,”Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Ayat ini mencakup pengajaran kepada kaum mukmin serta bimbingan agar mereka mengamalkan doa yang lengkap ini dan tujuan yang shalih lagi bermanfaat. Maka bagi Allah sajalah pujian dan keutamaan. Pelajaran dari ayat: • Keutamaan meminta kepada Allah tentang kebaikan di dunia dan di akhirat, serta tidak mencukupkan dengan salah satunya saja. Pilihan yang paling buruk adalah meminta kebaikan di dunia dan isinya saja. • Keutamaan doa : “Rabbanaa Aatinaa fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannaar.” Doa tersebut lengkap mencakup kebaikan di dunia dan akhirat bersamaan. Dahulu Nabi Muhammad ﷺ apabila sedang berthawaf di sekitar Ka’bah menyelesaikan satu putarannya dengan membaca doa tersebut.
Tafsir Hidayatul
Kebaikan di dunia misalnya sehat wal 'afiyat, rezeki yang halal, istri dan anak yang shalih, ilmu yang bermanfa'at, amal shalih dan kenikmatan lainnya. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah selamat dari siksa kubur, selamat ketika di mahsyar, selamat dari neraka, memperoleh keridhaan Allah, masuk ke dalam surga dan dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Do'a ini adalah do'a yang paling luas cakupannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering berdo'a dengan do'a ini, dan do'a inilah yang patut dipanjatkan oleh seorang muslim.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Baqarah ayat 201: Ketahuilah bahwasannya diantara kalian ada yang berdoa dengan kebaikan dunia dan akhirat.