Surah An-Nur : Ayat 22
وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,"
Tafsir Ringkas Kemenag
Salah satu bentuk godaan setan adalah mencarikan dalih agar seseorang enggan membantu orang lain. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dalam kesalehan beragama serta keutamaan akhlak yang luhur dan kelapangan rezeki di antara kamu, wahai orang-orang yang beriman, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabat-Nya, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah hanya karena orang-orang itu pernah berbuat kesalahan kepadanya atau membuat pribadinya tersinggung. Sebaiknya mereka berbesar hati dengan tetap mengulurkan bantuan, dan hendaklah mereka memaafkan orang yang pernah melukai hatinya, dan berlapang dada sehingga dapat membuka lembaran baru dalam hubungan mereka. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampuni kesalahan dan kekurangan kamu' tentu kamu suka. Karena itu, maafkanlah mereka agar Allah memaafkan dan mengampuni kamu. Dan Allah maha pengampun sehingga akan menghapus dosa kamu, maha penyayang dengan mencurahkan nikmat lebih banyak lagi kepada kamu. 23-25. Sungguh, orang-orang yang menuduh berzina kepada perempuan-perempuan yang baik, menjaga kehormatannya, dan menjauhi perbuatan maksiat; yang lengah, yaitu tidak pernah berpikir untuk berbuat keji; dan wanita yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mereka, yakni para penuduh itu, dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar pada hari kiamat ketika Allah menjadikan lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan, termasuk tuduhan bohong mereka. Pada hari itu Allah menyempurnakan balasan yang sebenarnya bagi mereka secara setimpal, dan ketika itu mereka tahu dan sadar bahwa Allah mahabenar atas segala firman-Nya, maha menjelaskan segala sesuatu.
Tafsir Ibnu Katsir
Allah SWT berfirman: (Dan janganlah bersumpah) dari kata “Al-Alyah” yaitu bersumpah, yaitu “jangan bersumpah” (orang-orang yang mempunyai kelebihan di antara kalian) yaitu kelebihan harta, bersedekah, dan berbuat kebaikan (dan kelapangan) yaitu kesejahteraan (untuk tidak akan memberikan bantuan kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah) yaitu janganlah bersumpah bahwa kalian tidak menyambung silaturahim dengan kerabat kalian, orang-orang miskin, dan kaum Muhajirin. Ini mengandung anjuran yang sangat untuk berbelas kasih dan lemah lembut untuk bersilaturahim. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada) yaitu dari apa yang diberikan mereka berupa keburukan dan sikap menyakitkan. Hal ini termasuk sifat Penyantun, Kemuliaan, dan Kelembutan Allah SWT kepada makhlukNya, padahal mereka menzalimi diri sendiri. Ini diturunkan tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika dia bersumpah bahwa dia tidak akan memberikan bantuannya lagi kepada Misthah bin Atsatsah untuk selamanya. Hal ini terjadi setelah Misthah berkata beberapa hal yang telah disebutkan tentang Aisyah. Setelah Allah menurunkan wahyu yang membersihkan diri Aisyah sehingga hati Aisyah senang dan tentram, dan Allah menerima taubat orang-orang yang membicarakan hal itu dari kalangan orang-orang mukmin, lalu ditegakkan hukuman had kepada sebagian dari mereka. Maka Allah SWT beralih kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq agar berbelas kasih kepada kerabatnya dan orang yang memiliki hubungan dengannya, yaitu Misthah bin Atsatsah. Sesungguhnya dia adalah anak bibi Abu Bakar, dan dia adalah orang yang miskin dan tidak memiliki harta kecuali apa yang dia terima dari Abu Bakar. Dia juga salah seorang dari kaum Muhajirin yang berjihad di jalan Allah. Tetapi dia terpeleset dan melakukan suatu kesalahan, kemudian Allah menerima taubatnya, dan menjalani hukuman had akibat kesalahannya itu. dan Abu Bakar adalah seorang yang bijak dan dermawan. Dia suka memberi bantuan, baik kepada kerabatnya maupun orang lain. Ketika ayat ini turun hingga firmanNya: (Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?). Karena sesungguhnya setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amalnya, sebagaimana kamu mengampuni dosa orang yang berdosa kepadamu, maka Kami mengampuni dosa-dosamu. Dan sebagaimana kamu memaafkan, maka Kami memaafkanmu. Maka pada saat itu juga Abu Bakar berkata, "Benar, demi Allah, sesungguhnya kami suka jika Engkau memberikan ampunan kepada kami, wahai Tuhan kami" Kemudian Abu Bakar kembali memberikan bantuannya kepada Misthah. lalu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selamanya" Ini untuk mengimbangi apa yang telah dikatakannya, yakni ucapannya,"Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi sedikit pun selamanya" Oleh karena itu Abu Bakar sesuai dengan julukannya, yaitu Ash-Shiddiq; semoga Allah meridhainya, dan putrinya
Tafsir As-Sa'di
22. ”dan janganlah bersumpah,” maksudnya mengeluarkan sumpah “orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang adda,” diantara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Mistah bin utasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-shidiq. Mistah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengabarkan berita dusta. Maka turunlah ayat ini,
Tafsir Al-Wajiz
22. Dan Jangan sampai orang yang memiliki keutamaan, kebaikan, kekayaan dan kesejahteraan itu bersumpah untuk tidak memberikan hartanya kepada kerabat, orang miskin, orang-orang yang berhijrah di jalan Allah untuk mencari ridhaNya. Sebaiknya mereka memaafkan dan mengampuni dosa dan perbuatan buruk mereka. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian karena memaafkan dan mengampuni orang-orang yang menyakiti (kalian). Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun dosa-dosa orang-orang yang taat dan Maha Pengasih bagi hamba-hambaNya yang beriman dengan segala kesempurnaan kuasaNya. Maka lebih berakhlaklah kalian kepadaNya.
Tafsir Al-Muyassar
Dan janganlah orang terhormat dalam agama dan memiliki kelapangan dalam harta, bersumpah untuk tidak mau menyambung hubungan silaturahmi dengan kaum kerabatnya yang miskin, orang-orang yang membutuhkan uluran tangan yang mana mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa menutupi dan mencukupi kebuthan mereka dan kaum Muhajirin fi sabilillah, dan menghentikan pemberian nafkah hidup bagi mereka, gara-gara dosa yang mereka perbuat; dan hendaknya memaafkan kesalahan mereka dan tidak menghukum mereka. Tidakkah kalian suka Allah memaafkan kalian? Maka maafkanlah kesalahan mereka. Allah Maha Pengampun bagi hamba-hambaNya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. Di sini, terkandung ajakan untuk memaafkan dan lapang dada, meskipun diperlakukan buruk.
Tafsir Al-Madinah
22. Allah mendorong orang-orang beriman untuk memiliki akhlak yang mulia, dan melarang orang yang pemurah dan kaya di antara orang beriman untuk bersumpah dengan nama Allah demi berhenti menyambung silaturrahim dengan para kerabat mereka yang miskin dan membutuhkan, dan orang-orang yang berhijrah di jalan keridhaan Allah, akibat keburukan mereka meski keburukan itu sangat besar. Kemudian Allah memerintahkan untuk memaafkan kesalahan dan melupakannya agar tidak ada lagi rasa sakit hati. Lalu Allah menekankan hal ini dengan berfirman: “Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian? Allah Maha Mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat, dan Maha Mengasihi mereka.”
Tafsir Al-Mukhtashar
22. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai keutamaan dalam agama, dan kelapangan harta di antara kalian bersumpah untuk tidak akan memberi bantuan lagi kepada kaum kerabatnya yang membutuhkan -karena miskin lagi berhijrah di jalan Allah- hanya lantaran dosa yang mereka lakukan, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada terhadap mereka. Apakah kalian tidak ingin agar Allah mengampuni dosa-dosa kalian bila kalian memaafkan dan berlapang dada terhadap mereka?! Sungguh Allah adalah Żat Maha Pengampun atas hamba yang bertobat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. Oleh karena itu hendaknya para hamba meneladani Allah. Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar Aṣ-Ṣiddiq -raḍiyallāhu 'anhu- saat bersumpah untuk menyetop nafkah kepada Misṭah karena keterlibatannya dalam peristiwa ifik.
Tafsir Zubdatut
22. (Dan janganlah bersumpah) Yakni janganlah bersumpah. (orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu) Yakni orang yang memiliki kedudukan tinggi dan kekayaan. Ibnu Mundzir mengeluarkan hadits dari Aisyah, ia berkata: “Misthah bin Atsatsah adalah orang yang ikut menyebarkan berita bohong itu, dan ia termasuk kerabat Abu Bakar, dahulu ia berada dalam tanggungan/pemeliharaan Abu Bakar. Sehingga ketika ia ikut menyebarkan berita bohong itu, Abu Bakar bersumpah untuk tidak akan memberi hartanya sedikitpun kepada Misthah. Maka Allah menurunkan ayat ini.” Aisyah kembali berujar: “kemudian Abu Bakar kembali menanggung kebutuhannya, lalu membayar kafarat untuk menebus sumpahnya. (bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah) Yakni Misthah adalah kerabat Abu Bakar, orang yang ikut berhijrah, sekaligus orang miskin. Tiga hal ini menjadikannya layak untuk memperoleh bantuan, meskipun ia telah melakukan apa yang terjadi. (dan hendaklah mereka memaafkan) Yakni memaafkan dosa yang telah mereka lakukan dan kejahatan yang telah mereka perbuat. (dan berlapang dada) Yakni menutup mata dan melupakan kejahatan mereka. ( Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu) Karena pemberian maaf dan ampunan kalian bagi orang-orang yang telah berbuat tidak baik kepada kalian. (Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Mengapa para hamba tidak meneladani Tuhan mereka dalam ampunan dan pemberian maaf bagi orang-orang yang bersalah.
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ). Apakah kamu senang jika Allah memberimu ampunan, dan mengapuskan kesalahan-kesalahanmu? hal itu cukup mudah untk diraih; namun di sisi Allah adalah perkara yang agung! yaitu dengan kamu melapangkan dan memaafkan kesalahan orang lain pada dirimu, atau siapa saja yan berbuat tidak elok kepadamu, atau bahkan telah berbuat zholim kepada mu, dan jika hatimu berat menerima hal itu maka ingatkanlah tentang firman tuhannya: { } "dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" 2 ). Ayat ini turun kepada Abu Bakr tatkala ia bersumpah untuk tidak memberi nafkah kepada kaum yang telah menuduh 'Aisyah dengan tuduhan yang keji, dan Allah tidak memberika isyarat kepada mereka tentang kesalahan yang mereka perbuat, karena telah dilakukan penghakiman kepada mereka maka Allah pun membersihkan diri mereka dari kesalahan itu. Maka apakah kita akan melakukan hal yang sama kepada pelaku dosa setelah mereka bertaubat dan telah mensucikan dirinya; maka kita tidak mengingat mereka dengan kesalahan yang mereka perbuat selamanya!
Tafsir Ash-Shaghir
Janganlah bersumpah} janganlah bersumpah dengan nama Allah {orang-orang yang mempunyai kelebihan} orang-orang yang memiliki keutamaan dalam agama {dan kelapangan di antara kalian} orang-orang yang memiliki kekayaan dalam harta {akan (tidak) memberi} akan tidak memberi {kepada kerabat, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak senang bahwa Allah mengampuni kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Tafsir Hidayatul
Surat An-Nur ayat 22: Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu bahwa dia tidak akan memberikan apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang Beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh memaafkan dan berlapang dada terhadap mereka setelah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu. Dalam ayat ini terdapat dalil menafkahi kerabat, dan bahwa menafkahi dan berbuat ihsan kepada mereka tidaklah ditinggalkan karena maksiat seseorang, dan terdapat anjuran memaafkan dan berlapang dada.