Surah Maryam : Ayat 23
فَأَجَآءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا
"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”."
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah beberapa lama tinggal di tempatnya yang baru, kemudian maryam mulai merasakan rasa sakit akibat kontraksi yang menjadi pertanda dia akan melahirkan. Keadaan ini memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Ketika itu, dia membayangkan cemoohan orangorang di sekelilingnya saat mereka tahu dia melahirkan anak tanpa suami. Dia berkata, 'wahai, betapa baiknya bila aku mati sebelum kehamilanku ini dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan selamanya. '24. Keluhan maryam terdengar oleh jibril. Selang beberapa lama kemudian maryam pun melahirkan. Maka dia, yaitu jibril, berseru kepadanya dari tempat yang rendah, 'wahai maryam, janganlah engkau bersedih hati karena kondisimu ini. Sesungguhnya tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu agar kamu dapat membersihkan diri setelah melahirkan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 22-23 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang Maryam, bahwa ketika Jibril menyampaikan firmanNya, maka Maryam berserah diri kepada takdir Allah SWT. Banyak ulama salaf menyebutkan bahwa malaikat itu adalah Jibril. Saat itu Jibril melakukan tiupan melalui lengan bajunya, lalu tiupan itu turun ke bagian bawah tubuhnya hingga masuk ke dalam farjinya, lalu Maryam mengandung anak dengan seizin Allah SWT. Setelah Maryam hamil, terasa sempit dadanya, dan dia tidak mengetahui apa yang akan dia katakan kepada orang-orang. Maryam yakin bahwa orang-orang tidak akan mempercayainya dalam apa yang dia beritahukan kepada mereka. Maryam hanya menceritakan rahasianya kepada saudara perempuannya yang menjadi istri nabi Zakaria, dan dalam hal itu nabi Zakaria telah meminta seorang anak kepada Allah, lalu Allah mengabulkannya sehingga istrinya hamil. (Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh (22) Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma) sekalipun huruf “fa’” menunjukkan makna urutan, tetapi urutannya disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku. Sebagaimana firman Allah SWT: (Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah (12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menempel, lalu sesuatu yang menempel itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang) (Surah Al-Mu’minun: 12-14) Huruf “fa’” ini juga bermakna urutan, dan berdasarkan kebiasaan yang berlaku. Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim, bahwa di antara kedua gambaran itu ada empat puluh hari. Dan Allah SWT berfirman: (Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau?) (Surah Al-Hajj: 63) Pendapat terkenal yang tampak (Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) adalah bahwa Maryam mengandung nabi Isa seperti biasa wanita mengandung anak-anaknya. Firman Allah: (Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma) yaitu memaksanya untuk bersandar pada pangkal pohon kurma di tempat pengasingannya. Qatadah berkata tentang firmanNya: (dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan) yaitu sesuatu yang tidak dikenal, tidak disebut, dan tidak diketahui siapakah aku. Ar-Rabi' bin Anas berkata tentang firmanNya: (dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan) yaitu keguguran. Ibnu Zaid berkata.”Aku tidak ada sama sekali”
Tafsir As-Sa'di
23. Ketika masa kelahiran sudah deat, rasa sakit menjelang persalinan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Tatkala dia mulai didera rasa sakit (menjelang) melahirkan, perihnya jauh dari makanan dan minuman, pedihnya hatinya karena komentar miring orang banyak, dan mencemaskan kemampuannya untuk bersabar, maka dia berandai-andai, bahwa dia mati sebelum mengalami kejadian ini, hingga menjadi tak berarti lagi dilupakan (oleh manusia), dan tidak disebut-sebut (lagi). Pengandaian itu tertolak dari kondisi yang merisaukan (nya) tadi, padahal tidak ada nilai kebaikan dan kemaslahatan sama sekali baginya saat menginginkan kematian itu. Kebaikan hanya terwujud dengan menghargai apa yang telah terjadi.
Tafsir Al-Wajiz
23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia bersandar pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, sebab malu dan takut atas cacian orang-orang. Sehingga aku menjadi orang yang tidak berarti, dan dilupakan"
Tafsir Al-Muyassar
Rasa kontraksi untuk melahirkan memaksanya berhenti pada sebatang pohon kurma. Lalu dia berkata, ”aduhai, alangkah baiknya bila aku mati saja sebelum hari ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak dikenal juga tidak disebut-sebut, serta tidak diketahui siapa aku sebenarnya.
Tafsir Al-Mukhtashar
23. Kemudian ia pun ditimpa rasa sakit melahirkan, sehingga memaksanya untuk bersandar pada pohon kurma. Maryam berkata, "Duhai, alangkah baiknya bila aku mati sebelum hari ini, dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan agar aku tidak disangka berbuat buruk."
Tafsir Zubdatut
23. (Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia) Yakni rasa sakit ketika melahirkan. ((bersandar) pada pangkal pohon kurma) Yakni memaksanya untuk menuju ke batang pohon kurma kering, berharap mendapat sesuatu yang dapat digunakan untuk bersandar sebagaimana orang hamil yang bersandar karena rasa sakit saat melahirkan. (dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini) Maryam berharap kematian karena takut akan dikira telah berbuat keburukan menurut agamanya. (dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”) Makna () yakni sesuatu yang remeh yang terlupakan dan tidak menimbulkan kesedihan jika hilang, seperti barang semisal benang atau tali.
Tafsir Li Yaddabbaru
{ } ""Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini" Kalimat ini diucapkan oleh perempuan shalihah saat sedang merasakan sakit, bahkan ia saja tidak mampu menahan ucapannya itu pada saat-saat susah.
Tafsir Ash-Shaghir
{Rasa sakit melahirkan} rasa sakit melahirkan {memaksanya} memaksanya {pada pangkal pohon kurma. Dia berkata,“Alangkah sebaiknya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan”} sesuatu yang diabaikan, tidak dikenal, dan tidak diingat
Tafsir Hidayatul
Surat Maryam ayat 23: Maryam merasakan rasa sakit melahirkan, rasa lapar tidak ada makanan dan minuman, ditambah rasa sakit hatinya terhadap kata-kata dan tuduhan manusia terhadapnya serta khawatir tidak mampu bersabar, akhirnya Maryam mengucapkan kata-kata di atas. Ucapan pengandaian di atas didasari terhadap hal yang dikhawatirkannya itu, namun sesungguhnya pengandaian ini tidak ada kebaikan dan maslahatnya, bahkan kebaikan dan maslahat terdapat pada taqdir yang akan terjadi itu. Ketika itulah, malaikat menenteramkan hatinya, menenangkan kegelisahannya dan memanggilnya dari tempat yang rendah sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.