Surah Sad : Ayat 28
أَمْ نَجْعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلْمُفْسِدِينَ فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ ٱلْمُتَّقِينَ كَٱلْفُجَّارِ

"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?"

Tafsir Ringkas Kemenag
Allah menegaskan perbedaan perlakuan-Nya kepada orang ber-iman dan orang kafir. Pantaskah kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta percaya akan keesaan kami sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mau mengikuti petunjuk kami' atau pantaskah kami menganggap orang-orang yang bertakwa dan patuh pada perintah kami sama dengan orang-orang yang jahat, ingkar, dan sombong'29. Wahai nabi Muhammad, sesungguhnya kitab Al-Qur'an yang telah kami turunkan kepadamu adalah kitab yang penuh berkah. Kami menurunkannya agar mereka menghayati dan memahami ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat menggunakan akal budinya untuk mendapat pelajaran darinya dan mengamalkan kandungannya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 27-29 Allah SWT memberitahukan bahwa tidak sekali-kali Dia menciptakan makhlukNya dengan main-main, melainkan Dia menciptakan mereka supaya mereka menyembahNya dan mengesakanNya. Kemudian Allah mengumpulkan mereka di hari mengumpulkan, maka Dia memberi pahala kepada orang yang taat dan mengazab orang yang kafir. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir) yaitu orang-orang yang tidak percaya kepada hari kebangkitan dan hari kembali, melainkan hanya percaya kepada kehidupan di dunia saja (maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka) yaitu, kecelakaan bagi mereka di hari mereka dibangkitkan berupa neraka yang disediakan untuk mereka. Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa termasuk keadilan dan hikmahNya Dia tidak menyamakan antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Maka Allah SWT berfirman: (Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (28)) yaitu Kami tidak akan melakukan hal itu; mereka tidak sama di sisi Allah. Dan jika perkaranya demikian, maka pasti ada negeri lain yang di dalamnya orang yang taat diberi pahala dan orang yang durhaka mendapat siksaan. Petunjuk ini menunjukkan bagi akal yang sehat dan fitrah yang lurus bahwa hari akhirat dan hari pembalasan itu pasti ada. Karena sesungguhnya kita sering melihat orang yang zalim dan melampaui batas semakin bertambah harta, anak dan kenikmatannya, dan mati dalam keadaan itu. Sebaliknya kita sering melihat orang yang taat dan teraniaya mati dalam kesengsaraannya, maka pasti menurut kebijaksanaan Dzat yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, dan Maha Adil yang tidak pernah zalim sedikit pun untuk menegakkan keadilan dengan memenangkan yang teraniaya atas orang yang menganiayanya. Apabila hal ini tidak terjadi di dunia ini, maka terjadi di sana, di negeri lain yang padanya dilakukan pembalasan dan keadilan ini Mengingat bahwa Al-Qur'an itu memberi petunjuk ke tujuan-tujuan yang benar dan kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal dan jelas, maka Allah SWT berfirman: (Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (29)) Yaitu orang-orang yang memiliki akal, dan kata “al-albab” adalah bentuk jamak dari “lubbun” yang artinya akal.
Tafsir As-Sa'di
28. Maka dari itu Dia berfirman, “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” ini sama sekali tidak patut bagi kebijakan dan keputusan Kami.
Tafsir Al-Wajiz
28. Patutkah Kami menjadikan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya layaknya mereka orang-orang musyrik dan pembuat kedurhakaan di dunia. Juga patutkah Kami jadikan orang-orang yang bertaqwa layaknya orang-orang kafir munafik dan durhaka? Maka sekali-kali tidak ada kesamaan antara mereka. Kata am bisa berfungsi dua makna, bal untuk menekankan kalimat kedua. Fungsi selanjutnya seperti hamzah iistifham untuk mengingkari, sehingga kalimat sesudahnya menjadi nafi. Sehingga kalimat sesudahnya ada penyamaan makna antara atqiya’ dan asyrar. Fujjar bermakna orang-orang fasik yang berusaha keras untuk menutup terhadap syariat
Tafsir Al-Muyassar
Apakah pantas Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih sama seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, atau Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa lagi beriman sama seperti para pelaku dosa yang kafir? penyamaan ini tidak layak bagi Allah denan segala kebijaksanaan dan keputusan Allah maka mereka semua tidak sama di sisi Allah, karena Allah akan memberikan pahala bagi orang-orang mukmin yang bertakwa dan menghukum orang-orang yang merusak lagi celaka.
Tafsir Al-Madinah
28. Apakah mungkin Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi yang ingkar terhadap Tuhan? Dan apakah mungkin Kami menjadikan orang-orang baik dan bertakwa kepada Tuhan mereka seperti orang-orang kafir yang selalu berbuat dosa?!
Tafsir Al-Mukhtashar
28. Kami tidak akan menyamakan orang-orang yang beriman kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya dan beramal saleh dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dengan kekufuran dan kemaksiatan. Kami tidak menyamakan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan orang-orang kafir dan munafik yang larut dalam kemaksiatan. Menyamakan di antara mereka merupakan kezaliman yang tidak layak bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Tetapi Allah akan membalas orang-orang Mukmin yang bertakwa dengan memasukkan mereka ke dalam Surga, dan menghukum orang-orang kafir yang sengsara dengan memasukkan mereka ke dalam Neraka, karena mereka di sisi Allah tidak sama, maka balasan masing-masing di sisi Allah juga tidak sama.
Tafsir Zubdatut
28. (Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi?) Yakni apakah Kami menjadikan orang-orang yang beriman kepada Allah dan mempercayai rasul-rasul-Nya serta menjalankan kewajiban mereka itu seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dengan kekafiran dan kemaksiatan? (Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?) Yakni apakah Kami juga menjadikan orang-orang yang beriman dan bertakwa seperti orang-orang kafir, munafik, dan orang-orang Islam yang tenggelam dalam kemasiatan kepada Allah. Jika kami melakukaan demikian maka itu bukanlah suatu keadilan. Kalaulah hari kebangkitan, hari perhitungan dan pembalasan tidak ada niscaya mereka semua akan bernasib sama.
Tafsir Ash-Shaghir
Apakah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih itu seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi. Ataukah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa itu seperti orang-orang yang durhaka
Tafsir Hidayatul
Yakni janganlah orang yang tidak mengetahui tentang kebijaksanaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyamakan antara orang-orang yang baik dan yang buruk dalam hukum-Nya. Hal ini tentu tidak layak dengan kebijaksanaan Allah dan hukum-Nya.
Tafsir An-Nafahat
Surat Shad ayat 28: (Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orangorang yang berbuat maksiat?) Ayat ini diturunkan sewaktu orang-orang kafir Mekah berkata kepada orang-orang yang beriman, "Sesungguhnya kami kelak di hari kemudian akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kalian." Lafal Am di sini untuk menunjukkan makna sanggahan, yakni jelas tidak sama.