Surah Al-Hajj : Ayat 29
ثُمَّ لْيَقْضُوا۟ تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا۟ نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ

"Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)."

Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah wukuf dilakukan, bermalam di muzdalifah dan melontar jumrah usai dilaksanakan, maka kemudian, para tamu Allah hendaklah menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka dengan tahalul awal, memotong rambut, kemudian hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka, jika mereka bernazar, dan melakukan tawaf ifadah sekeliling rumah tua, baitullah, yang dibangun sejak zaman adam, kemudian melakukan tahalul kedua yang membolehkan melakukan semua larangan berihram. 30. Demikianlah perintah Allah kepada kaum muslim untuk melak-sanakan ibadah haji. Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah dengan melaksanakan rangkaian manasik haji dan men-jauhi semua larangan ketika berihram, baik ihram untuk haji maupun umrah, maka sikap yang demikian itu lebih baik baginya, tamu Allah, di sisi tuhannya. Dan dihalalkan bagi kamu semua hewan ternak, baik ketika menunaikan ibadah haji maupun tidak sedang berhaji, kecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya di dalam Al-Qur'an dan sunah. Maka, jauhilah olehmu, wahai orang-orang beriman, penyembahan berhala-berhala yang najis itu karena tidak sesuai dengan kesucian dan kemurnian tauhid yang diajarkan para nabi dan rasul; dan jauhilah perkataan dusta, baik ketika berihram untuk haji atau umrah, lebih-lebih ketika sudah menyandang predikat haji.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 28-29 Ibnu Abbas berkata tentang firmanNya: (supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka) yaitu manfaat untuk dunia dan akhirat. Adapun manfaat akhirat adalah keridhaan Allah SWT. Sedangkan manfaat dunia adalah apa yang mereka peroleh dari hewan kurban dan perniagaan. Demikian juga dikatakan Mujahid dan lainnya, bahwa itu adalah manfaat dunia dan akhirat. Sebagaimana firmanNya: (Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhan kalian) (Surah Al-Baqarah: 198) Firman Allah: (supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa hari-hari yang ditentukan adalah hari-hari yang sepuluh. Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir secara marfu' bahwa hari-hari yang sepulu inilah yang mana Allah bersumpah dengannya dalam firmanNya: (Demi fajar (1) dan malam-malam yang sepuluh (2)) (Surah Al-Fajr) Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dia pernah berkata,"Hari-hari yang ditentukan dan hari-hari yang berbilang, jumlah keseluruhannya ada empat hari, yaitu hari-hari yang ditentukan adalah Hari Raya Kurban dan dua hari setelahnya. Sedangkan hari-hari yang berbilang adalah tiga hari setelah Hari Raya Kurban" Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Malik bin Anas. Pendapat ini dan sebelumnya diperkuat dengan firman Allah SWT: (atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak) yaitu menyebut nama Allah saat menyembelihnya. Pendapat yang lain bahwa sesungguhnya itu adalah hari Arafah. Hari Raya Kurban, dan satu hari setelahnya. Pendapat ini yang dipegang Imam Abu Hanifah Firman Allah: (atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak) yaitu unta, sapi, dan kambing. Sebagaimana yang telah dijelaskan di surah Al-An'am: ((yaitu) delapan binatang yang berpasangan….) (Surah Al-An'am: 143). Firman Allah: (Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikan­lah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir) orang yang berpendapat bahwa memakan hewan kurban hukumnya wajib menggunakan ayat ini sebagai dalil. Ini merupakan pendapat yang gharib. Mayoritas ulama bahwa ini termasuk dalam bagian keringanan atau anjuran. Sebagaimana yang disebutkan bahwa Rasulullah SAW setelah menyembelih binatang hadyu, beliau memerintahkan agar dari setiap bagiannya diambil sepotong dagingnya, lalu beliau memasaknya, memakannya dan meminum kuahnya. Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Manshur, dari Ibrahim tentang firmanNya: (Maka makanlah sebagian darinya) dia berkata,”Orang-orang musyrik tidak mau memakan sebagian dari hewan sembelihan mereka, kemudian hal tersebut diperbolehkan bagi orang-orang muslim. Jadi barangsiapa yang ingin memakannya, maka dia boleh memakannya; dan barangsiapa yang tidak maka, maka boleh tidak memakannya. Diriwayatkan dari dari Mujahid tentang firmanNya: (Maka makanlah sebagian darinya) yaitu sebagaimana firmanNya: (dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu) (Surah Al-Maidah: 2) dan (Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi) (Surah Al-Jumu'ah: 10) Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir dalam tafsirnya Firman Allah: (orang yang sengsara lagi fakir) Mujahid berkata bahwa maknannya adalah orang miskin yang tidak mau meminta-minta. Qatadah berkata bahwa maknanya adalah orang yang menderita bertahun-tahun. Firman Allah: (Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yaitu melepaskan ihram dengan bercukur rambut kepala, memakai pakaian biasa, memotong kuku, dan hal lainnya. Demikian juga diriwayatkan ‘Atha’ dan Mujahid, dari Ibnu Abbas. Demikian juga dikatakan Ikrimah dan Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi. Firman Allah: (dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa orang yang menyembelih kurban yang dia nazarkan. Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid tentang firmanNya: (dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka) yaitu nazar haji dan binatang hadyu, serta segala sesuatu yang dinazarkan seseorang dalam ibadah hajinya. Firman Allah SWT: (dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)) dari Abu Hamzah, dia berkata,”Telah berkata kepadalu Ibnu Abbas"Apakah kamu pernah membaca surah Al-Hajj?” Allah SWT berfirman: (dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)) "Maka sesungguhnya akhir dari manasik haji itu adalah thawaf di Baitullah Al-'Atiq" Saya berkata,”Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW, karena sesungguhnya setelah beliau kembali ke Mina di Hari Raya Kurban, beliau mulai melempar jumrah. Beliau melemparnya dengan tujuh batu kerikil. Kemudian menyembelih hewan kurbannya dan mencukur rambutnya, setelah itu beliau berangkat dan melakukan thawaf ifadah di Baitullah. Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas, dia berkata,”Beliau memerintahkan kepada orang-orang agar akhir dari ibadah haji mereka adalah di Baitullah, yaitu dengan melakukan thawaf, kecuali beliau memberikan kemurahan kepada wanita yang haid. Firman Allah: (di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)) Di dalamnya terkandung dalil bagi orang yang mengatakan bahwa harus melakukan thawaf di luar Hijir Ismail. Karena Hijir Isma'il pada asalnya termasuk bagian dari Baitullah yang dibangun oleh nabi Ibrahim. Orang-orang Quraisy mengeluarkannya dari bangunan Baitullah saat mereka merenovasi Ka'bah karena kekurangan biaya. Oleh karena itu maka Rasulullah SAW thawaf di luar Hijir Ismail, dan beliau memberitahukan bahwa Hijir Ismail termasuk bagian Baitullah
Tafsir As-Sa'di
29. “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka,” maksudnya hendaknya mereka menyelesaikan manasik-manasik mereka dan membersihkan kotoran dan gangguan yang menempel pada tubuh mereka saat berihram. “Dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka,” yang mereka wajibkan atas diri mereka, berupa haji, umrah, dan penyembelihan kurban. “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah),” yaitu yang kuno. Ia adalah masjid yang paling utama secara mutlak, yang terbebaskan dari cengkeraman para dictator. Ayat ini merupakan perintah untuk mengerjakan thawaf, terutama pasca dikeluarkannya perintah melaksanakan manasik-manasik haji secara umum. (Hal ini) lantaran melihat keutamaan dan kemuliaan ibadah thawaf. Sebab, itulah sasaran yang dituju. Sementara ibadah-ibadah sebelumnya berstatus sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan kepadanya. Mungkin saja, wallahu a’lam, juga diarahkan untuk tujuan yang lain. Yaitu bahwasanya thawaf disyariatkan di setiap waktu, sama saja baik menjadi bagian dari manasik haji atau saat menjadi ibadah tersendiri.
Tafsir Al-Wajiz
29. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka karena panjangnya rambut dan kuku. Hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling Baitullah yang telah dibangun lama untuk beribadah, Allah telah membebaskannya dari belenggu pada Baitullah
Tafsir Al-Muyassar
Kemudian hendaknya orang-orang yang berhaji menyelesaikan manasik-manasik haji yang belum dilaksanakan, supaya dapat kembali ke dalam kondisi halal dan keluar dari keadaan ihram. Demikian itu, dengan cara menghilangkan kotoran yang bertumpuk pada tubuh-tubuh mereka dan memotong kuku-kuku mereka serta menggunduli kepala mereka, dan supaya mereka memenuhi keinginan yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri berupa haji, umrah dan menyembelih hadyu-hadyu, serta supaya mereka melakukan thawaf di sekeliling bangunan rumah tua lagi sudah lama yang Allah pelihara dari cengkraman para tiran, yaitu Ka’bah.
Tafsir Al-Madinah
29. Setelah penyembelihan, Allah memerintahkan mereka untuk membersihkan badan mereka setelah menjalankan ihram, dengan mencukur atau memendekkan rambut mereka, mencukur kumis, dan memotong kuku mereka untuk menyempurnakan nazar yang telah mereka wajibkan atas diri mereka sendiri sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Dan hendaklah mereka bertawaf idhafah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran.
Tafsir Al-Mukhtashar
29. Kemudian hendaklah mereka menyelesaikan amalan manasik haji yang tersisa, dan bertahalul dengan mencukur rambut, memotong kuku, menghilangkan kotoran-kotoran badan mereka selama ihram. Juga hendaklah mereka menyempurnakan apa yang mereka wajibkan atas diri mereka berupa ibadah haji, umrah atau hadyu, dan melakukan tawaf ifaḍah di Baitullah yang diselamatkan oleh Allah dari cengkeraman para penguasa yang zalim."
Tafsir Zubdatut
29. (Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka) Yakni hendaklah mereka membersihkan kotoran yang ada pada diri mereka seperti rambut dan kuku yang panjang. Dan ini dilakukan pada hari raya kurban. (dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka) Yakni perbuatan baik yang mereka nazarkan pada ibadah haji mereka. (dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)) Yakni thawaf ifadhah. Baitullah disebut dengan () karena Allah membebaskannya dari kekuasaan orang-orang yang sewenang-wenang. Pendapat lain mengatakan makna () adalah mulia. Dan bisa jadi juga yang dimaksud adalah masjid yang tua, sebab ia adalah masjid yang pertama didirikan di bumi yang dipakai untuk menyembah Allah.
Tafsir Li Yaddabbaru
Pernah kah kamu mengamati saat kamu beranjak untuk mensucikan diri, dan mencukur rambut, kemudian memakai wangi-wangian? untuk mengadapkan hati kepada sang pencipta, dan kamu tidak sadar saat pulang seakan-akan kamu baru saja dilahirkan oleh ibumu terbebas dari dosa?
Tafsir Ash-Shaghir
{Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran mereka} agar mereka menyempurnakan sesuatu yang tersisa pada diri mereka berupa ketentuan peribadatan haji mereka, seperti mencukur rambut kepala, melempar jumrah, mengambil minum, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan {menyempurnakan nazar-nazar mereka} menyempurnakan apa yang mereka wajibkan atas diri mereka dalam berhaji {dan melakukan thawaf} dan agar melakukan thawaf ifadah {di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)} yang terbebas dari kekuasaan para penguasa
Tafsir Hidayatul
Surat Al-Hajj ayat 29: Yang dimaksud dengan menghilangkan kotoran di sini ialah memotong rambut, memotong kuku, dan sebagainya. Yang mereka wajibkan diri mereka untuk mengerjakannya, seperti haji, umrah dan hewan ternak yang mereka hadiahkan ke tanah haram. Ia merupakan masjid yang paling utama secara mutlak. Lafaz ‘atiiq dapat juga diartikan mu’taq (yang merdeka), yakni yang tidak dijajah oleh orang-orang kejam. Di ayat ini diperintahkan melakukan thawaf setelah diperintahkan menjalankan manasik secara umum karena keutamaan tawaf, dan karena itu adalah tujuannya, sedangkan sebelumnya hanyalah sarana kepadanya. Menurut Syaikh As Sa’diy pula, mungkin saja –Walahu a’lam- disebutkan thawaf karena faedah yang lain, yaitu bahwa tawaf disyariatkan di setiap waktu, baik mengikuti manasik atau tidak.