Tafsir Ringkas Kemenag
Sungguh orang-orang yang membencimu dan mengacuhkan hidayah yang engkau bawa, dialah orang yang terputus. Tidak hanya terputus jejaknya, mereka pun dijauhkan dari rahmat Allah dan segala kebaikan. Keteladanan dan kebaikanmu akan terus menjadi pembicaraan sepanjang zaman dan keturunanmu akan terus mewarisi kebaikanmu. 1. Wahai nabi Muhammad, katakanlah, 'wahai orang-orang yang me-milih kafir sebagai jalan hidup!.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-3 Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah SAW menundukkan kepala sejenak, lalu beliau mengangkat kepala seraya tersenyum. Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau SAW, "Mengapa engkau tersenyum?" Maka Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya barusan diturunkan kepadaku suatu surah" Lalu beliau membaca firmanNya: (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar (l)), sampai akhir. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Apakah kalian tahu, apakah Al-Kautsar itu?" Mereka menjawab, "Allah dan RasulNya lebih mengetahui" Rasulullah bersabda,”Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku SWT di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku akan mendatanginya pada hari kiamat, jumlah bejana-bejananya sama dengan jumlah bintang-bintang. Sebagian besar ulama qiraat menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa surah ini adalah Madaniyah. Dan kebanyakan ulama fiqih berkata bahwa Basmalahnya merupakan bagian dari surah dan diturunkan bersama-sama dengannya. Adapun terkait firmanNya: (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar (1)) Telah disebutkan dalam hadits ini bahwa Al-Kautsar adalah nama sebuah sungai di dalam surga. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Dan tafsir ini mencakup sungai dan nikmat lainnya. karena Al-Kautsar berasal dari “Al-Katsrah yaitu kebaikan yang banyak, dan di antaranya adalah sungai itu. Pendapat ini dikatakan Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa'id bin Jubair dan Mujahid. Firman Allah: (Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (2)) yaitu sebagaimana Kami memberimu kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat, antara lain adalah sebuah sungai yang sifatnya telah disebutkan; maka kerjakanlah shalat yang diwajibkan dan shalat sunah serta kurbanmu. Maka sembahlah Dia semata, tidak ada sekutu bagiNya; dan sembelihlah kurbanmu dengan menyebut namaNya, tidak ada sekutu bagiNya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku. hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan alam semesta (162) tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (163)) (Surah Al-An'am) Ibnu Abbas, ‘Ahta’, Mujahid, Ikrimah, dan Al-Hasan berkata bahwa yang dimaksud adalah menyembelih unta dan hewan lain semacamnya. Demikian juga dikatakan Qatadah dan beberapa ulama dari kalangan ulama salaf. Hal ini berbeda keadaannya dengan orang-orang musyrik yang bersujud kepada selain Allah dan menyembelih dengan menyebut nama selain Dia. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan) (Surah Al-An'am: 121). Pendapat yang benar adalah yang mengatakan, bahwa makna yang dimaksud dengan “an-nahr” adalah menyembelih hewan kurban Abu Ja'far bin Jarir berkata bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah,”Jadikanlah shalatmu semuanya ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau tandingan selain Dia. Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala. sebagai syukurmu kepadaNya atas kemuliaan dan kebaikan yang Dia khususkan untukmu yang tidak ada tandingannya dan khusus untukmu. Pendapat yang dikatakan ini amat baik Firman Allah: (Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (3)) yaitu sesungguhnya orang yang membencimu, wahai Muhammad, dan membenci kepada petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang kamu sampaikan; dialah yang terputus, terhina, direndahkan dan terputus sebutannya. Mujahid, Sa'id bin Jubair, dan Qatadah berkata bahwa ayat ini diturunkan tentang dengan Al-’Ash bin Wa’il. Pendapat ini serupa dengan apa yang telah kami sebutkan bahwa “Al-abtar adalah orang yang mati dan terputus sebutannya. Maka orang-orang kafir Quraisy itu mengira bahwa seseorang itu apabila anak-anak lelakinya mati, maka terputuslah sebutannya. Tidaklah demikian, bahkan sebenarnya Allah mengekalkan sebutan Nabi SAW di hadapan para saksi dan mewajibkan syariatnya di atas pundak para hamba, yang akan terus berlangsung selamanya sampai hari mereka dihimpunkan dan hari kebangkitan. Semoga shalawat dan salamNya dilimpahkan kepadanya selama-lamanya sampai hari kiamat.
Tafsir As-Sa'di
3. “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu,” yaitu orang yang tidak suka, mencela dan menghinamu, “dialah yang terputus,” yakni terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan reputasi (nama) baiknya. Sementara Muhammad adalah sosok yang benar-benar sempurna yang memiliki kesempurnaan yang membuat manusia mengagungkan sebutannya dan banyak penolong serta pengikutnya.
Tafsir Al-Wajiz
3. Sesungguhnya pembencimu wahai Rasulallah, dia terputus dari kebaikan dunia dan akhirat, yaitu sebutan yang baik dan pujian yang indah. Akan tetapi secara lazim, mereka mendapat sebutan buruk yang selalu melekat selamanya sampai di neraka Jahanam. Adapun kamu wahai Nabi SAW, maka sebutanmu dan seruanmu yang baik akan tetap abadi sampai hari kiamat dan di akhirat.
Tafsir Al-Muyassar
Sesungguhnya orang yang membencimu dan membenci apa yang kamu bawa,dari hidayah dan cahaya,adalah orang yang tidak meninggalkan jejak kebaikan,terputus dari segala kebaikan.
Tafsir Al-Mukhtashar
3. Sesungguhnya orang yang benci kepadamu adalah orang yang terputus dari setiap kebaikan, yang terlupakan, yang apabila namanya disebut maka yang teringat darinya hanyalah keburukannya.
Tafsir Zubdatut
2. (Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu) Yakni shalat wajib lima waktu. ( dan berkorbanlah) Dahulu manusia mengerjakan shalat dan menyembelih kurban untuk selain Allah. Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menjadikan shalat dan kurbannya hanya bagi Allah semata. Qatadah, ‘Atha, dan Ikrimah berkata: yang dimaksud adalah shalat ‘idhul adha dan menyembelih kurban setelah itu.
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ). Allah menyebutnya dengan orang-orang yang membenci, seakan-akan Allah mengatakan : inilah orang yang membencimu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya membencimu, dan pembenci ketika ia sudah tidak lagi mampu berbuat keji, maka ketika itu hatinya akan terbakar dengan kemarahan dan kebencian. 2 ). Diantara ciri-ciri orang yang membenci Rasulullah yaitu ketika ia membenci risalah yang beliau bawakan, Ibnu Taimiyah mengomentari ayat ini, beliau mengatakan : hati-hatilah wahai kalian membenci risalah yang dibawakan oleh Rasulullah, atau kamu menolaknya hanya karena membela hawa nafsu, atau ingin mengangkat loyalitas kelompokmu, atau gurumu, atau bahkan kamu ingin menyibukkan diri untuk memuaskan syahwatmuu, atau sibuk dengan dunia, ketahuilah sesungguhnya Allah tidak memerintahkan ketaatan kepada selain-Nya kecuali ketaatan kepada Rasul-Nya. 3 ). Tidaklah seseorang itu lebih mengutamakan berkataan manusia dan pengetahunnya diatas al-Qur'an dan sunnah Rasul, dan jika saja ia tidak benci dengan apa dibawakan oleh Rasulullah niscaya ia tidak akan melakukan hal itu, bahkan diantara manusia ada yang melupakan al-Qur'an setelah menghafalkannya, dan mengangkat derajat perkataan manusia diatas al-Qur'an dan sunnah.
Tafsir Ash-Shaghir
{Sesungguhnya orang yang membencimu} orang yang membencimu {dialah yang terputus} terputus dari setiap kebaikan
Tafsir Hidayatul
Termasuk pula yang mencelamu dan merendahkanmu. Yakni terputus dari semua kebaikan, terputus namanya atau terputus keturunannya. Adapun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau adalah seorang yang sempurna; yang memimiliki kesempurnaan yang mungkin pada makhluk berupa nama yang tinggi, banyak pembela dan pengikut. Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, ayat ini turun berkenaan dengan ‘Aash bin Wa’il yang menyebut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai abtar (yang terputus keturunannya) ketika wafat putera Beliau, yaitu Al Qaasim, wallahu a’lam. Ibnu Katsir berkata: Al Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Yahya Al Hassaaniy, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Addiy dari Dawud dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ka’ab bin Al Asyraf pernah datang ke Mekah, lalu orang-orang Quraisy berkata kepadanya, “Engkau adalah tokoh mereka, tidakkah engkau melihat kepada laki-laki hina ini yang terputus (keturunannya) dari kalangan kaumnya, ia mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada kita, padahal kita adalah orang-orang yang melakukan haji, para pelayan (Ka’bah) dan para pemberi minum (jamaah haji).” Maka Ka’ab berkata, “Kamu lebih baik darinya.” Maka turunlah ayat, “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (HR. Al Bazzar dan isnadnya adalah shahih. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir (30/330) dari jalan gurunya Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Addiy, dst. Dan di sana ditambahkan, “Dan diturunkanlah kepada Beliau, “Alam tara ilalladziina uutuu nashiibam minal kitaab Sampai firman Allah Ta’ala, “nashiiraa.” (An Nisaa’: 51-52) Namun yang rajih menurut Syaikh Muqbil, bahwa hadits tersebut adalah mursal (Lihat Ash Shahiihul Musnad hal. 271).
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Kautsar ayat 3: Ketahuilah wahai Nabi Allah, Allah bershalawat atasmu dan mengangkat kedudukanmu. Dan orang-orang yang membencimu adalah orang yang terputus dari segala kebaikan dan dari kedudukan yang baik.