Surah Al-Ikhlas : Ayat 3
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
"Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,"
Tafsir Ringkas Kemenag
Dia tidak beranak; tidak ada yang sejenis dengan Allah sehingga bisa menikah dengan-Nya dan melahirkan anak; dan dia tidak pula diperanakkan karena dia kekal dan tidak bermula. Sesatlah orang yahudi yang meyakini 'uzair sebagai putra Allah, orang nasrani yang meyakini nabi isa sebagai putra Allah, dan orang musyrik arab yang meyakini malaikat sebagai putri Allah. 4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan dia, baik dari segi zat, sifat, maupun tidakan-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-4 Telah disebutkan sebab penurunannya. Yaitu Dialah Tuhan yang Satu, Yang Esa, Yang tidak ada tandingan bagiNya, tidak ada pembantu bagiNya, tidak ada lawan bagiNya, tidak ada yang serupa denganNya, dan tidak ada yang setara denganNya. Lafaz ini tidak boleh dikatakan secara itsbat terhadap seseorang kecuali hanya Allah SWT, karena Dia Maha Sempurna dalam segala sifat dan perbuatanNya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maknanya adalah Tuhan Yang Maha Sempurna dalam perilakuNya, Maha Mulia yang Maha Sempurna dalam kemuliaanNya, Maha Agung yang Maha Sempurna dalam keagunganNya, Maha Penyantun yang Maha Sempurna dalam sifat penyantunNya, Maha Mengetahui yang Maha Sempurna dalam pengetahuanNya, dan Maha Bijaksana yang Maha Sempurna dalam kebijaksanaanNya. Dialah Allah yang Maha Sempurna dalam kemuliaan dan perilakuNya. Dan hanya Dialah Allah SWT yang berhak memiliki sifat ini yang tidak layak bagi selain Dia. Tidak ada yang setara denganNya dan tidak ada yang sama denganNya, Maha Suci Allah yang Maha Esa lagi Maha Menang. Diriwayatkan dari Abu Wa'il tentang firmanNya: (yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu) Tuhan yang perilakuNya tidak ada yang menandingiNya. ‘Ashim meriwayatkan hal yang semisal dari Abu Wa'il, dari Ibnu Mas'ud. Ar-Rabi' bin Anas berkata bahwa maknanya adalah Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Seakan-akan pendapat ini menjadikan firman setelahnya merupakan tafsirnya, yaitu firmanNya: (Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (3) Pendapat ini merupakan pendapat yang bagus. Telah disebutkan dalam hadits dari riwayat Ibnu Jarir, dari Ubay bin Ka'b tentang itu yang menerangkannya dengan jelas. Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata dalam kitab sunahnya setelah menyebutkan banyak pendapat tentang tafsir “Ash-Shamad” bahwa semuanya itu benar termasuk sifat Rabb kita SWT; yaitu yang menjadi tempat bergantung bagi segala keperluan. Dia adalah tujuan semuanya. Dia tidak berongga, tidak makan, dan tidak minum, dan Dia kekal setelah semua makhluk. Firman Allah: (Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (3) dan tidak ada seorangpun yang setara denganNya (4)) yaitu Dia tidak memiliki anak, tidak memiliki orang tua, dan tidak mempunyai istri. Mujahid berkata tentang firmanNya: (dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya (4)) yaitu tidak memiliki istri Hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri, Dia menciptakan segala sesuatu) (Surah Al-An'am: 101) yaitu Dialah Dzat yang memiliki segala sesuatu dan yang Menciptakannya, maka bagaimana mungkin Dia mempunyai tandingan dari kalangan makhlukNya yang menyamaiNya atau mendekatiNya? Maha Tinggi lagi Maha Suci Allah dari semuanya itu. Allah SWT berfirman: (Dan mereka berkata, "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (88) Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar (89) hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh (90) karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak (91) Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak (92) Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba (93) Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti (94) Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (95)) (Surah Maryam)
Tafsir As-Sa'di
3. Dan di antara kesempurnaanNya, Dia “tidak beranak dan tiada pula diperanakkan,” karena kesempurnaan kecukupanNya.
Tafsir Al-Wajiz
3-4. Dia tidak melahirkan satupun (anak) dan tidak juga dilahirkan oleh siapapun, karena Dialah Dzat yang Maha Terdahulu, tidak terikat oleh waktu dan tidak diadakan. Dan Dia tidak menciptakan satupun yang menyerupai DzatNya, Sifat-sifatNya dan TindakanNya. Maka tidak ada satupun yang menyamaiNya dan menjadi sekutu bagiNya.
Tafsir Al-Muyassar
Dia tidak punya anak,tidak juga bapak,dan tidak juga istri.
Tafsir Al-Mukhtashar
3. Yang tidak melahirkan sesuatu pun dan tidak pula dilahirkan oleh sesuatu, maka Dia -Subḥānahu- tidak mempunyai anak -Mahasuci Allah- dan tidak pula mempunyai bapak.
Tafsir Zubdatut
3. (Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan) Yakni tidak pernah keluar dari-Nya seorang anak atau apapun, sebab tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan permulaan dan akhir dari-Nya tidak mungkin berlaku bagi-Nya. sebab yang diperanakkan pasti tidak berwujud sebelum dilahirkan. Maka Allah tidak memiliki bapak untuk dinisbatkan kepada-Nya. Qatadah mengatakan: orang-orang arab yang musyrik berkata: “para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah”. Orang-orang Yahudi mengatakan: “Uzair adalah anak Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata: “Isa al-Masih adalah anak Allah.” Maka Allah membantah mereka dengan firman-Nya:
Tafsir Li Yaddabbaru
Ada bantahan terhadap sebagian besar firqoh sesat, yang diketuai oleh yahudi yang mengatakan : uzair adalah anak Allah, dan nashrani yang mengatakan : al-masih adalah anak Allah, dan selain dari mereka yang juga berada dalam kesesatan
Tafsir Ash-Shaghir
{Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan} Dia tidak beranak sehingga menjadi bapak, dan tidak pula diperanakkan sehinga Dia menjadi anak
Tafsir Hidayatul
Di antara kesempurnaan-Nya adalah bahwa Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, karena sempurnanya kecukupan-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman: “Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (Terj. Al Ana’aam: 101)
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Ikhlas ayat 3: Allah juga memerintahkan agar mengatakan kepada mereka : Allah Maha Kaya dari kebutuhannya akan anak dan sahabat; Allah tidak memiliki bapak dan ibu serta anak dan istri. Dan Allah tidaklah dilahirkan, karena tidak ada sesuatupun yang mendahului-Nya, (dan) tidak ada sesuatupun sebelumnya