Tafsir Ringkas Kemenag
Mereka, para malaikat, tidak sanggup menyebutkan nama bendabenda tersebut dan menjawab, mahasuci engkau dari segala kekurangan, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, engkaulah yang maha mengetahui, mahabijaksana. Jawaban malaikat ini adalah jawaban yang penuh santun. Pertama, malaikat mengemukakan ketidakmampuan mereka untuk menyebutkan nama-nama benda itu dengan ungkapan yang menunjukkan kemahasucian Allah. Kedua, malaikat merasa bahwa pengetahuan mereka sangatlah sedikit. Pengetahuan mereka adalah pemberian dari Allah semata. Ketiga, malaikat memuji Allah dengan dua sifat yaitu yang maha mengetahui segala sesuatu dan mahabijaksana dalam semua kebijakan dan seluruh pekerjaan-Nya, termasuk pemilihan nabi adam, manusia, sebagai khalifah. Kemudian Allah memberikan kesempatan kepada nabi adam untuk menyebutkan nama benda-benda yang telah Allah ajarkan kepadanya. Dia berfirman, wahai adam! beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu! lalu nabi adam pun menyebutkan nama benda-benda itu dengan segala macam kegunaan dan manfaatnya. Pada saat itulah malaikat memahami bahwa manusialah yang pantas untuk menjadi khalifah di bumi ini. Setelah dia, nabi adam, menyebutkan nama-nama benda-benda tersebut dan apa manfaat dan kegunaan-Nya, Allah berkata secara lebih tegas lagi tentang kebenaran rencana besar-Nya dan berfirman dengan nada pertanyaan, bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan' Allah memberi dua alasan tentang penunjukan nabi adam menjadi khalifah. Pertama, bahwa dia mengetahui rahasia di jagat raya yaitu semua yang ada di langit dan bumi. Kedua, bahwa Allah mengetahui apa yang dipendam dalam diri malaikat dan juga hati manusia. Jika demikian, maka gagasan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah pasti mempunyai banyak hikmah.
Tafsir Ibnu Katsir
Ini adalah bagian ayat di mana Allah SWT menyebutkan kelebihan nabi Adam AS atas para malaikat, keistimewaan ilmu tentang nama-nama dari segala sesuatu yang tidak diberikan kepada mereka. Hal ini terjadi setelah mereka melakukan sujud kepadanya. Sebenarnya penjelasan tentang hal ini telah disebutkan karena adanya keterkaitan antara bagian ini dengan ketidaktahuan para malaikat tentang hikmah penciptaan khalifah ketika mereka bertanya tentang hal itu. Lalu Allah memberitahu mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Oleh karena itu, Allah menyebutkan ayat ini untuk menjelaskan kelebihanan nabi Adam AS atas mereka dalam hal keilmuan. Allah SWT berfirman, " Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya" Mujahid berkata,(Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya ) maknanya adalah ilmunya tentang nama setiap binatang melata, burung, dan segala sesuatu Hal yang juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, Qatadah, dan beberapa ulama’ teradahulu lainnya bahwa nabi Adam AS diajarkan nama-nama segala sesuatu. Ar-Rabi' dalam satu riwayat dia mengatakan bahwa itu adalah nama para malaikat. Hamid Asy-Syami berkata bahwa itu adalah nama-nama bintang. Abdullah bin Zaid berkata bahwa dia diajarkan nama-nama seluruh keturunannya. Ibnu Jarir memilih pendapat bahwa dia diajarkan nama para malaikat dan keturunannya, karena Allah SWT berfirman, (kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat). Ini adalah ungkapan yang masuk akal Ini adalah pendapat yang dia kuatkan, karena tidak menafikan kemungkinan ada makhluk lain yang ikut bersama mereka (para malaikat). Mengungkapkan sesuatu secara keseluruhan menggunakan pola berpikir orang yang berakal itu untuk menunjukkan dominasi, sebagaimana Allah berfirman, (Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) (Surah An-Nur:45) Ibnu Mas'ud membaca, (Tsumma ‘aradhahun) dan Abu Ka’b membaca (Tsumma ‘aradhaha), maknanya yaitu nama-nama (makhluk-makhluk tersebut). Yang benar adalah bahwa Allah mengajari nabi Adam AS nama-nama segala sesuatu; baik esensi, sifat, maupun perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas. yaitu nama sesuatu dan perbuatannya baik yang besar dan yang kecil, Oleh karena itu Qatadah meriwayatkan dari Anas dari nabi Muhammad SAW, bersabda, "Pada hari kiamat orang-orang yang beriman berkumpul lalu mereka berkata; 'Sebaiknya kita meminta syafaat kepada Tuhan kita sehingga kita dapat pindah dari tempat kita sekarang juga.' Lalu mereka mendatangi Adam AS seraya mengatakan; 'Wahai Adam, engkau adalah bapaknya manusia, Allah menciptakanmu dengan tanganNya sendiri dan menjadikan malaikat-malaikat-Nya sujud kepadamu, serta diajarkan pula kepadamu nama-nama segala sesuatu" Hal ini menunjukkan bahwa Allah mengajarinya, nama-nama semua makhlukNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, (kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat) maknanya, yaitu nama-nama itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdur Razzaq dari Ma'mar dan dari Qatadah, bahwa maknanya adalah Dia menunjukkan nama-nama itu kepada para malaikat dengan berkata, (lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!") Ibnu Jarir berkata,”Pendapat yang paling kuat mengenai hal itu adalah tafsir Ibnu Abbas dan orang yang menyampaikan pendapatnya, yaitu "Beritahukanlah kepadaKu nama-nama yang telah Aku tunjukkan kepada kalian, wahai para malaikat yang berkata (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah)
Tafsir As-Sa'di
32. “Mereka menjawab, ’Mahasuci Engkau, .” Maksudnya, kami menyucikanMu, dari segala pembantahan kami dan penyelisishan kami terhadap perintah Mu “tidak ada yang kami ketahui” dengan segala bentuknya, ”selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami” tentangnya sebagai suatu anugerah dariMu dan kemuliaan, “ sesungguhnya Engkau lah Yang Maha mengetahui lagi Maha bijaksana, ” yang Maha mengetahui adalah yang mengetahui sesuatu dalam segala aspeknya, tidak ada yang tertutup olehnya dan tidak terlupakan seberat bijnin dzarrah pun di langit maupun di bumi dan tidak yang kecil maupun yang besar, dan yang Maha bijaksana adalah Dzat yang memiliki kebijaksanaan yang sempurna, yang tidak ada seorang makhluk pun yang keluar darinya dan tidak seorang pun yang di perintahkan menyimpang darinya, karena Dia tidaklah menciptakan sesuatu kecuali ada hikmah di baliknya, dan tidak pula Dia memerintahkan kepada sesuatu kecuali menyimpan hikmah padanya, dan hikmah itu sendiri meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai. Lalu mereka sadar dan mengakui ilmu Allah dan hikmahNya, dan ketidak mampuan mereka dalam mengetahui sekecil apapun, serta pengakuan mereka terhadap keutamaan Allah atas mereka dan pengajaranNya kepada meeka apa-apa yang tidak mereka ketahui.
Tafsir Al-Wajiz
Setelah mengumumkan kelemahan dan keterbatasan mereka, para malaikat berkata: “Ya Tuhan, Maha Suci Engkau, tidak ada yang tahu tentang hal ghaib kecuali Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami tanpa Engkau ajari. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha Bijaksana atas segala ciptaan”
Tafsir Al-Muyassar
Para malaikat berkata: “kami menyucikan Engkau wahai Tuhan kami, tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, hanya Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui urusan-urusan seluruh makhluk lagi Dzat yang maha bijaksana dalam segala pengaturan- Mu.”
Tafsir Al-Madinah
32. Maka para malaikat menjawab dengan penuh adab dan pengagungan: “Kami menyucikan Engkau dan menjauhkan diri dari menentang-Mu. Kami tidak memiliki ilmu kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala urusan makhluk-Mu dan Maha Bijaksana dalam segala firman dan perbuatan-Mu.”
Tafsir Al-Mukhtashar
32. Para Malaikat mengakui kekurangan mereka dan mengembalikan keutamaan kepada Allah dengan mengatakan, “Mahasuci Engkau wahai Rabb kami. Tidak sepatutnya keputusan dan ketentuan-Mu dibantah. Kami tidak tahu apa-apa selain apa yang Engkau beritahukan kepada kami. Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha Bijaksana dalam setiap keputusan dan ketentuan-Mu.”
Tafsir Zubdatut
32. (Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami) Yakni kami tidak mengetahui hal-hal yang ghaib yang tidak bisa diketahui oleh para makhluk (yang termasuk didalamnya keutamaan Nabi Adam dan keturunannya karena ilmu mereka).
Tafsir Ash-Shaghir
Mereka berkata,”Maha suci Engkau tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Tafsir Aisarut
Makna kata : Subhaanaka : Maha Suci Engkau ! bentuk pemuliaan dan pensucian kepada Allah Ta’ala Makna ayat : Mereka tidak mampu dan mengumumkan ketidakmampuannya seraya mengatakan,”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” Pelajaran dari ayat : Keutamaan berani mengatakan ketidakmampuan dan kekurangan.
Tafsir Hidayatul
Dari sikap kami yang berani berbicara terhadap ucapan-Mu dan menyelisihi perintah-Mu. Hikmah atau bijaksana artinya adalah tepat, yakni menempatkan sesuatu pada posisi yang layak. Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa jika samar bagi seorang hamba hikmah Allah menciptakan sesuatu atau memerintahkan sesuatu, maka kewajibannya adalah tunduk dan menerima.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Baqarah ayat 32: Maka ketika menjadi jelas bagi para Malaikat akan keutamaan Adam, maka para malaikat berkata : wahai Rabb kami Sesungguhnya kami hanyalah mensucikanmu dari pertentangan dan menyelisihi perintahmu , Dan tidaklah bagi kami memiliki ilmu apa yang telah engkau ajarkan kepada kamu ; maka sesungguhnya engkau sajalah Yang Maha Mengetahui, yang ilmu-Mu mencakup atas segala sesuatu , dan engkaulah yang memiliki hikmah dalam setiap urusan .