Tafsir Ringkas Kemenag
Dialah satu-satunya pemilik hari pembalasan dan perhitungan atas segala perbuatan, yaitu hari kiamat. Kepemilikan-Nya pada hari itu bersifat mutlak dan tidak disekutui oleh suatu apa pun. Atas dasar itu semua, hanya kepada engkaulah kami menyembah dan beribadah dengan penuh ketulusan, kekhusyukan, dan tawakal, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan dalam segala urusan dan keadaan kami, sambil kami berusaha keras.
Tafsir Ibnu Katsir
Beberapa ulama’ qiraah sab’ah membaca sebagai "Maliki yaumid diin" dan yang lainnya membaca “Maaliki” dan keduanya benar dan mutawatir dalam qiraah sab’ah. Ada yang membaca dengan pengucapan "" dengan dikasrah pada huruf “lam” dan juga disukun. Ada pula yang membaca "Maliiki", lalu dilanjutkan dengan didikasroh huruf kafnya, sehingga dibaca " ." Kedua bacaan ini kuat dalam makna dan keduanya adalah benar dan baik Pengkhususan kata “Yang Merajai” pada “Hari Pembalasan” tidak menafikanNya dari hal selain itu. Karena telah didahului dengan pemberitahuan bahwa Dia adalah Tuhan semesta alam. Hal tersebut mencakup dunia dan akhirat. Adapun penambahan pada Hari Pembalasan itu karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal apapun dan berbicara tanpa seizinNya. Sebagaimana Allah berfirman: (Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar (38)) (Surah An-Naba’) Allah SWT juga berfirman (dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.)
Tafsir As-Sa'di
Lafaz maliki yaumiddin (yang menguasai Hari pembalasan) maksudnya Allah memiliki sifat sebagai seorang raja yang dengan sifat raja tersebut Allah bisa memerintah dan melarang, bisa memberi pahala dan juga memberikan siksa, dan Allah bertindak berkehendak untuk melakukan apapun di wilayah kerajaan. Dia menyandarkan kalimat yang menguasai kepada Hari pembalasan yaitu hari kiamat hari dimana seluruh manusia akan ditagih atas semua perbuatan mereka baik dan buruknya Karena pada hari itu diperlihatkan kepada makhluk secara sempurna kesempurnaan Kerajaan Allah keadilan dan hikmahnya. Dan terputuslah segala kekuasaan makhluk sehingga pada hari itu semuanya menjadi sama derajatnya, baik seseorang raja dan rakyatnya atau seorang hamba sahaya dan orang merdeka. semuanya tertunduk di bawah keagungan Allah dan patuh terhadap kemuliaan Allah mereka menunggu balasan amalan dan mereka berharap pahala dari Allah serta takut terhadap siksa. Karena itulah dikhususkan penyebutan kata “hari pembalasa” di sini karena jika tidak, akan berarti bahwa Allah penguasa Hari pembalasan dan hari- hari selainnya.
Tafsir Al-Wajiz
Raja segala urusan pada hari perhitungan dan hari pembalasan; dan Dialah satu-satunya penguasa pada hari itu
Tafsir Al-Mishbahul
MAKNA PENGKHUSUSAN AL-MAALIK PADA HARI PEMBALASAN Pengkhususan kekuasaan pada hari Pembalasan tidaklah menafikan kekuasaan Allah atas kerajaan lainnya (kerajaan di dunia). Karena telah disampaikan sebelumnya bahwa Dia adalah Rabb semesta alam. Dan kekuasaan-Nya itu umum, baik di dunia maupun di akhirat. Disandarkannya kata al-Maalik kepada kalimat yaumiddin (hari pembalasan), karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-aku sesuatu dan tidak juga dapat berbicara kecuali dengan izin Allah. Sebagaimana firman Allah : “Pada hari, ketika ruh
Tafsir Al-Muyassar
Dialah Allah Subhanahu Wa Ta'ala Satu-satunya yang memiliki kekuasaan pada hari kiamat, yaitu hari pembalsan atas amal perbuatan. Dalam bacaan seorang muslim terhadap ayat ini dalam setiap rokaat dari shalat-salatnya, terkandung peringatan baginya akan datangnya hari akhir dan juga memberi motivasi kepadanya untuk mempersiapkan diri dengan amal Shalih dan menahan diri dari maksiat-maksiat dan keburukan keburukan.
Tafsir Al-Madinah
4. Dan termasuk rahmat-Nya pula, Allah menjadikan balasan di hari pembalasan sesuai dengan amalan, agar dapat menolong orang yang terzalimi dan membalas hamba-hamba-Nya dengan pahala atau siksa. Pada hari itu Dia berkehendak sesuai kehendak-Nya, mengampuni yang Dia kehendaki dan mengazab yang Dia kehendaki dengan keadilan dan kemurahan-Nya. Dan yang demikian itu menumbuhkan harapan pada rahmat-Nya dan rasa takut dari hari pembalasan.
Tafsir Al-Mukhtashar
4. Pengagungan kepada Allah -Ta'ālā- bahwa Dia lah Sang Maha Raja Pemilik segalanya pada hari kiamat, tak satu jiwa pun memiliki kuasa atas jiwa lainnya. "Yaumuddīn" berarti hari Pembalasan dan Perhitungan.
Tafsir Zubdatut
Ayat ini diriwayatkan dengan dua bacaan () yang berarti raja dan () yang berarti pemilik sesuatu, ada pendapat mengatakan bahwa kata () lebih luas dan lebih dalam maknanya daripada kata (), karena perintah raja harus dilaksanakan oleh pemilik sesuatu apabila pemilik tersebut berada didaerah kekuasaan sang raja, sehingga perbuatan seorang pemilik harus dibawah aturan sang raja. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa kata () lebih dalam maknanya daripada kata () karena bisa jadi ia adalah pemilik manusia dan yang lainnya. Adapun sebenarnya perbedaan dari dua sifat tersebut jika dinisbahkan pada Allah Ta’ala adalah bahwa () adalah sifat dari Dzat Allah Ta’ala sedangkan () adalah sifat dari perbuatan Allah Ta’ala. Sedangkan makna ( ) adalah hari pembalasan dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Imam Qatadah berkata: ( ) adalah hari dimana Allah Ta’ala memberi balasan kepada hamba-hambaNya atas perbuatan mereka.
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ). Perhatikanlah bagaimana ayat mencakup poin-poin dibawah ini : 1- Pembuktian hari kiamat. 2- Balasan atas amalan setiap hamba -baik yang baik maupun yang buruk- 3- Allah sebagai tuhan semesta alam menyendirikan diri-Nya dalam pengadilan pada hari kiamat. 4- Keadilah hukum yang ditetapkan oleh Allah ta'ala. 2 ). Sesungguhnya Allah mengatakan : { } dan bukan " " ; adalah karena memberitahu kita bahwa qiamat telah ditentukan untuknya hari yang spesial dibanding hari-hari yang lain, yaitu pada hari ketika semua pelaku perbuatan menemui amalan dan hasilnya.
Tafsir Ash-Shaghir
{Pemilik hari Pembalasan} hari pembalasan dan perhitungan
Tafsir Aisarut
Makna kata : Al-Maalik dengan bacaan panjang pada huruf mim adalah Sang Pemilik Kerajaan yang bebas mengatur sesuai dengan kehendakNya. Al-Malik adalah Sang Penguasa yang dapat memerintah dan melarang, yang Maha memberi dan menolak tanpa ada yang mampu turut campur atau melawan-Nya. Yaumid diin adalah hari pembalasan, yaitu hari kiamat ketika Allah membalas seluruh perbuatan masing-masing hamba. Makna ayat : Ini bentuk pengagungan terhadap Allah Ta’ala dimana hanya Dia-lah sang Pemilik seluruhnya pada hari kiamat dimana setiap jiwa tidak berhak atas dirinya sedikitpun. Dan Dia-lah raja yang tidak ada kerajaan pada hari kiamat selain kerajaan-Nya. Pelajaran Dari Ayat : Pada ayat ini ada pelajaran yang dapat diambil, di antaranya adalah sebagai berikut : 1. Bahwasanya Allah Ta’ala menyukai pujian, sehingga Allah memuji dirinya sendiri dan memerintahkan hamba-hambaNya untuk memujiNya. 2. Pujian itu tidaklah muncul kecuali ada sebabnya, kalau tidak ada sebab musababnya hanyalah palsu dan manis di bibir saja. Allah Ta’ala ketika memuji dirinya sendiri menyebutkan alasannya, yaitu karena Allah adalah Rabb semesta alam, yang memiliki sifat Maha pengasih lagi Maha penyayang, dan Dia-lah Penguasa hari pembalasan.
Tafsir Hidayatul
Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim, berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. Dihubungkannya kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun milik-Nya dunia dan akhirat, karena pada hari itu kelihatan dengan jelas kekuasaan dan kepemilikan-Nya. Pada hari itu antara raja-raja di dunia dengan rakyat sama tidak ada perbedaan, mereka tunduk kepada keagungan-Nya, menunggu pembalasan-Nya, mengharapkan pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya. Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa' dan sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari akhir; hari di mana amalan diberikan balasan. Demikian juga mendorong seorang muslim untuk beramal shalih dan menghindari kemaksiatan.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Fatihah ayat 4: Maka Allah menjelaskan bahwasanya kami (sebagai makhluk) memuji-Nya karena sebab Ia adalah raja di hari kiamat, yang hari itu adalah hari pembalasan (hisab).