Surah An-Najm : Ayat 4
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ
"Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."
Tafsir Ringkas Kemenag
Al-qur'an yang disampaikannya tidak lain adalah wahyu Allah yang diwahyukan kepadanya. 5-6. Wahyu yang diterimanya diajarkan kepadanya oleh jibril, malaikat yang sangat kuat, yang mempunyai keteguhan sangat hebat; maka ia menampakkan diri kepada nabi Muhammad dengan rupa yang asli, yakni bagus dan perkasa.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-4 Para mufasir berbeda pendapat tentang firmanNya: (Demi bintang ketika terbenam (1)) Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan bintang adalah bintang tsurayya, yakni apabila terbenam bersamaan dengan fajar. Ayat ini sebagaimana firmanNya: (Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui (76) sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia (77) pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz) (78) tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan (79) Diturunkan dari Tuhan semesta alam (80) (Surah Al-Waqi'ah) Firman Allah SWT: (kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru (2)) Inilah adalah jawab dari qasam, yaitu kesaksian terhadap Rasulallah SAW bahwa beliau adalah orang yang berada pada jalan yang lurus mengikuti kebenaran, bukan orang yang tersesat. Yaitu orang bodoh yang menempuh jalan menyimpang tanpa pengetahuan. Dan orang yang tersesat adalah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi dengan sengaja menyimpang kepada selainnya. Maka Allah SWT membersihkan RasulNya SAW dan syariatNya dari kemiripan yang dilakukan oleh orang-orang yang tersesat seperti orang-orang Nasrani dan orang-orang Yahudi, yang mengetahui sesuatu, tetapi menyembunyikannya dan mengerjakan hal yang bertentangan dengannya. Bahkan shalawat dan salam Allah terlimpahkan kepada beliau, dan apa yang diutuskan Allah SWT kepada beliau berupa syariat yang agung merupakan syariat yang benar-benar lurus, pertengahan, dan tepat. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya (3)) yaitu apa yang diucapkan itu tidak keluar dari hawa nafsu dan tujuannya (Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (4)) yaitu sesungguhnya yang beliau ucapkan itu hanya karena apa yang diperintahkan kepada beliau untuk disampaikan kepada manusia dengan sempurna dengan apa adanya tanpa penambahan dan pengurangan.
Tafsir As-Sa'di
3-4. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya,” yakni ucapannya bukanlah berdasarkan hawa nafsunya. “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa -Sunnah (hadist) adalah wahyu dari Allah untuk RasulNya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah: “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu,” -An-Nisa:113 Dan sesungguhnya Muhammad terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.
Tafsir Al-Wajiz
4. Al-Quran ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya
Tafsir Al-Muyassar
1-4. Allah bersumpah dengan bintang-bintang bila ia terbenam, (bahwa) Muhammad tidak menyimpang dari jalan hidayah dan kebenaran, tidak keluar dari jalan lurus, sebaliknya dia berada di puncak istiqamah, keseimbangan dan kelurusan, ucapannya tidak keluar dari hawa nafsu. Al-quran dan as-Sunnah tidak lain kecuali wahyu dari allah kepada NabiNya,Muhammad.
Tafsir Al-Mukhtashar
4. Al-Qur`ān ini tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya melalui Jibril -'alaihissalām-.
Tafsir Zubdatut
4. (Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)) Yakni yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan Allah kepadanya.
Tafsir Ash-Shaghir
(Al-Qur’an itu) tidak lain} Al-Qur’an itu tidak lain {kecuali wahyu yang disampaikan
Tafsir Hidayatul
Yakni tidak ada yang ia ikuti selain wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya. Ayat ini menunjukkan bahwa As Sunnah termasuk wahyu Allah kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu,...” (Terj. An Nisaa’: 113), dan bahwa Beliau ma’shum dalam hal yang Beliau sampaikan dari Allah, karena ucapannya tidak keluar dari keinginannya, tetapi dari wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Tafsir An-Nafahat
Surat An-Najm ayat 4: 1-4. Allah mengawali surat ini dengan bersumpah dengan bintang-bintang di langit yang menukik karena terbenam. Kemudian datang jawaban atas sumpah yang mengabarkan bahwa sahabat kalian ini (Muhammad) wahai orang-orang Quraisy, tidaklah menyimpang dari jalan yang lurus, dan tidak juga berkeyakinan bathil selamanya. Sesungguhnya Muhammad tidaklah berbicara dengan hawa nafsu, dan juga pendapatnya sendiri atas apa yang disampaikannya kepada kalian dari kerisalahan. Sungguh dia tidak berbicara kecuali atas dasar wahyu yang Allah wahyukan kepadanya. Berkata Asy Syanqiti penulis Adhwaul Bayan, ketika mengajarkan kepada kami tafsir di kuliah syariah : Bintang yang Allah bersumpah atasnya adalah ungkapan atas turunnya Al Qur’an; Karena Al Qur’an turun secara berangsur-angsur kepada Nabi ﷺ. Dengan ini maka maknanya adalah : Sesungguhnya Allah bersumpah dengan ungkapan turunnya Al Qur’an yang diturunkan malaikat kepada Nabi ﷺ.