Surah Al-Haqqah : Ayat 4
كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌۢ بِٱلْقَارِعَةِ

"Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat."

Tafsir Ringkas Kemenag
4-5. Telah banyak generasi di masa lalu yang mengingkari hari kiamat. Kelompok ayat ini mengungkap sekelumit tentang kaum yang mengingkari hari kiamat dan sanksi yang mereka terima. Kaum samud, dan 'ad telah mendustakan hari kiamat. Maka adapun kaum samud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras yaitu suara guntur yang menggelegar bercampur dengan kilat, 4-5
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-12 (Al-Haqqah) yaitu salah satu dari nama hari kiamat, karena di dalamnya terjadilah janji dan ancaman. Oleh karena itu Allah membesarkan perkaranya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? (3)) Kemudian Allah SWT menyebutkan kebinasaan yang Dia timpakan atas umat-umat yang mendustakannya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa (5)) yaitu pekikan yang mendiamkan mereka dan guncangan yang mematikan mereka. Demikian juga dikatakan Qatadah, bahwa “Ath-Thagiyah” adalah pekikan. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir. Mujahid berkata bahwa “Ath-Thagiyah” adalah dosa-dosa. Demikian juga dikatakan Ar-Rabi' bin Anas dan Ibnu Zaid, bahwa makna yang dimaksud adalah perbuatan yang melampaui batas, dan Ibnu Zaid membaca firmanNya: ((Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas (11)) (Surah Asy-Syams) As-Suddi berkata tentang firmanNya (maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa) dia berkata yaitu menyembelih unta. (Adapun kaum 'Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin) yaitu angin yang sangat dingin. Qatadah, As-Suddi, Ar-Rabi' bin Anas dan Ats Tsauri berkata tentang firmanNya: (lagi sangat kencang) yaitu, sangat kuat tiupannya. (yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka) yaitu yang Dia perintahkan untuk menguasai mereka (selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus) yaitu, genap selama itu secara terus-menerus tidak ada hentinya. Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ats-Tsauri, dan lainnya berkata tentang firmanNya (husuuma) yaitu terus-menerus. Diriwayatkan pula dari Ikrimah dan Ar-Rabi' bin Khaitsam, yang menimpakan kesialan-kesialan atas mereka, sebagaimana firmanNya: (dalam beberapa hari yang sial) (Surah Fushshilat: 16) (Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka (8)) yaitu, apakah kamu melihat seseorang yang tersisa dari kalangan mereka, atau seseorang yang berketurunan dari kalangan mereka? Tidak, bahkan mereka binasa semuanya, dan Allah tidak menjadikan generasi penerus bagi mereka. Kemudian Allah SWT berfirman: (Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya) Dibaca dengan dikasrah huruf qafnya, yaitu dari sisinya, dari orang yang ada pada masanya dari pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang kafir Qibti. Sedangkan ulama lainnya membacanya dengan difathah huruf qafnya, yaitu orang-orang yang sebelumnya dari kalangan umat-umat yang serupa dengannya. Firman Allah (dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan) Mereka adalah umat-umat yang mendustakan para rasul (karena kesalahan yang besar) yaitu melakukan kesalahan, yaitu mendustakan apa yang diturunkan Allah. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka) ini merupakan isim jenis, yaitu masing-masing dari mereka mendustakan utusan Allah yang diutus kepada mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan) (Surah Qaf: 14) Barang siapa yang mendustakan seorang rasul, berarti dia mendustakan semua rasul. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Kaum Nuh telah mendustakan para rasul (105)) (Surah Asy-Syu'ara), dan (Kaum Ad telah mendustakan para rasul (123)) (Surah Asy-Syu'ara’) serta (Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul (141)) (Surah Asy-Syu'ara’) Karena sesungguhnya yang datang kepada setiap umat hanyalah seorang rasul. Oleh karena itu Allah SWT berfirman di sini: (Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras (10)) yaitu yang besar, keras, dan pedih. Mujahid berkata terkait firmanNya (rabiyah) yaitu keras. Kemudian Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik) yaitu melampaui batasan dengan dengan izin Allah dan air naik ke alam wujud. Ibnu Abbas dan lainnya berkata tentang firmanNya (tatkala air telah naik) yaitu air bertambah banyak. Demikian itu karena doa nabi Nuh terhadap kaumnya, ketika mereka mendustakan dan menentangnya, lalu mereka menyembah selain Allah. Maka Allah memperkenankan doanya dan seluruh penduduk bumi dilanda banjir bandang, kecuali orang-orang yang bersama nabi Nuh di bahteranya. Semua manusia sekarang berasal dari keturunan nabi Nuh. Oleh karena itu Allah SWT berfirman seraya memberi peringatan bagi manusia atas anugerahNya kepada mereka (Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera (11)) yaitu perahu yang berlayar di atas air (agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagikamu) Dhamirnya merujuk kepada jenis untuk menunjukkan maknannya. yaitu, Kami membiarkan bagi kalian dari jenisnya yang dapat kalian naiki di atas lautan. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu kendarai (12) supaya kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya) (Surah Az-Zukhruf) dan (Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan (41) dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu (42)) (Surah Yasin) Qatadah berkata bahwa bahtera nabi Nuh masih tersisa sehingga masih dijumpai generasi pertama dari umat ini. Akan tetapi, pendapat yang pertama lebih jelas. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar) yaitu memahami dan mengingat nikmat ini dengan telinga yang mau mendengar.
Tafsir As-Sa'di
4. Kemudian Allah menyebutkan contoh dari kondisi-kondisi kiamat yang ada di dunia yang bisa disaksikan, yaitu datangnya berbagai macam siksaan keras yang menimpa umat-umat pembangkang seraya berfirman, “Kaum Tsamud telah mendustakan.” Mereka adalah kabilah terkenal yang menghuni daerah al-Hijir, mereka adalah kaum yang diutuskan kepada mereka seseorang rasul bernama Nabi Shaleh. Nabi Shaleh melarang mereka dari kesyirikan yang mereka lakukan dan memerintahkan mereka untuk bertauhid, tapi mereka menentang dan mendustakan seruan Nabi Shaleh. Mereka mendustakan berita tentang Hari Kiamat yang disampaikan Nabi Shaleh. Hari Kiamat itulah hari menakutkan yang membuat makhluk ketakutan karena huru-haranya. Begitu juga dengan kaum ‘Ad pertama, kaum yang bertempat di Hadhramaut ketika Allah mengutus Nabi Hud kepada mereka. Nabi Hud menyerukan mereka untuk menyembah Allah semata, tapi mereka mendustakannya dan mengingkari Hari Kebangkitan yang disampaikan pada mereka. Allah kemudian membinasakan kedua kaum tersebut dengan siksaan yang disegerakan.
Tafsir Al-Wajiz
4. Kaum Tsamud yang merupakan kaum nabi Shalih dan kaum ‘Aad yang merupakan kaum nabi Hud, mereka mendustakan kiamat yang dapat menggetarkan manusia karena sangat mengerikan.
Tafsir Al-Muyassar
4.Kaum Tsamud, yaitu kaum Nabi Shaleh, dan kaum Ad yaitu kaum Nabi Hud, telah mendustakan Hari KIamat yang kengeriannya menggetarkan hati manusia.
Tafsir Al-Madinah
4. Setelah ayat-ayat sebelumnya mengabarkan hari kiamat pasti akan terjadi, kemudian ayat-ayat selanjutnya berbicara tentang kesudahan sebagian kaum yang mendustakan hari kiamat, dan memulainya dengan menyebutkan kaum Tsamud dan ‘Ad. Dan pada ayat ini hari kiamat disebut dengan ‘al-Qari’ah’, karena ia mengetuk hari dengan kengerian dan keburukannya.
Tafsir Al-Mukhtashar
4. Ṡamūd kaum nabi Ṣāleḥ dan 'Ād kaum Nabi Hūd telah mendustakan hari Kiamat yang menggetarkan manusia karena kedahsyatannya.
Tafsir Zubdatut
4. (Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat) Hari kiamat dinamakan dengan al-Qari’ah karena menakuti manusia dengan huru-hara dan kengeriannya.
Tafsir Ash-Shaghir
Kaum Tsamud dan ‘Ad telah mendustakan hari kiamat} Hari kiamat yang meggetarkan manusia dengan kengeriannya
Tafsir Hidayatul
Tsamud adalah kabilah yang terkenal yang menempati Hijr, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepada mereka Nabi Shalih ‘alaihis salam, Beliau melarang mereka berbuat syirk dan memerintahkan mereka bertauhid, namun mereka menolak dakwah Beliau dan mendustakannya serta mendustakan apa yang Beliau beritakan tentang hari Kiamat. Mereka tinggal di Hadhramaut; Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepada mereka Rasul-Nya Hud ‘alaihis salam yang mengajak mereka mentauhidkan Allah, namun mereka mendustakan Beliau dan mendustakan apa yang Beliau beritakan tentang kebangkitan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala membinasakan kedua kabilah itu dengan azab yang segera. Al Qaari'ah menurut bahasa berarti yang menggentarkan hati, hari kiamat dinamakan Al Qaari'ah karena ia menggentarkan hati.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Haqqah ayat 4: Allah menjelaskan sebagian umat yang mendustakan hari kiamat, dan menjelaskan urutan bagaimana ia mendustakan adzab dan balasan. Allah menjelaskan juga bahwa Tsamud (kaum Shalih) dan Ad (kaum Hud), yang mendustakan Al Qari’ah yaitu hari kiamat. Dinamakan Al Qari’ah karena hati yang ketakutan.