Surah Al-Anbiya : Ayat 47
وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan."

Tafsir Ringkas Kemenag
Dalam menilai perbuatan hamba-hamba-Nya di akhirat, Allah menjamin akan menegakkan keadilan yang sebenarnya. Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, dengan data yang objektif dan akurat; maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit, sehingga tidak ada seorang hamba yang amal kebaikannya dikurangi atau kejahatannya dilebih-lebihkan, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti kami mendatangka pahala untuk perbuatan baik dan hukuman untuk perbu-atan jahat. Dan cukuplah kami yang membuat perhitungan terhadap perbuatan manusia dengan seadil-adilnya, objektif, tepat, dan akurat. 48. Allah telah menurunkan kitab taurat kepada nabi musa dan nabi harun sebagaimana Allah menurunkan Al-Qur'an kepada nabi Muhammad. Dan sungguh, kami telah memberikan kepada musa dan harun, furqan, kitab taurat yang berisi syariah (hukum-hukum) yang memisahkan salah dan benar; dan penerangan serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa sehingga kita memahami tiga pokok ajaran taurat, hukum yang memisahkan salah dan benar, penerangan dan pelajaran yang menjadi pedoman hidup bagi orang-orang yang bertakwa.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 44-47 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang musyrik bahwa sesungguhnya yang mendorong dan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan adalah karena mereka diberi kenikmatan di kehidupan dunia, tenggelam dalam kesenangannya, dan dipanjangkan umur mereka dalam kesesatan, sehingga mereka menduga bahwa mereka memiliki sesuatu. Kemudian Allah berfirman seraya memberi nasehat kepada mereka: (Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya) Para mufasir berbeda pendapat tentang maknanya. Telah kami sebutkan dalam surah Ar-Ra'd bahwa tafsir yang paling baik adalah dengan firman Allah SWT: (Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian dan Kami telah datangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat) (27)) (Surah Al-Ahqaf) Hasan Al-Bashri berkata bahwa makna yang dimaksud adalah kemenangan Islam atas kekufuran. Maknannya adalah apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari pertolongan Allah kepada kekasih-kekasihNya atas musuh-musuhNya, pembinasaan Allah atas umat-umat yang berbuat dusta dari kalangan penduduk negeri-negeri yang zalim, penyelamatanNya terhadap hamba-hambaNya yang beriman. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka apakah mereka yang menang?) yaitu bahkan merekalah yang dikalahkan, direndahkan, dirugikan dan dihinakan. Firman Allah: (Katakanlah (hai Muhammad), "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu”) yaitu sesungguhnya aku hanya menyampaikan dari Allah apa yang aku peringatkan kepada kalian, berupa azab dan pembalasanNya, Tidaklah hal itu melainkan dari apa yang Dia wahyukan kepadaku. Akan tetapi, peringatan ini tidak berguna lagi bagi orang-orang yang oleh Allah pandangannya dibutakan, pendengaran dan hatinya dikunci mati. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan) Firman Allah: (Dan sesungguhnya jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Tuhan­mu, pastilah mereka berkata, "Aduhai, celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri” (46)) yaitu, jika mereka yang mendustakan itu tertimpa sedikit dari azab Allah, maka mereka mengakui dosa-dosa mereka dan bahwa mereka adalah orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri di dunia. Firman Allah: (Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun) yaitu Kami akan meletakkan timbangan yang adil pada hari kiamat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa sesungguhnya yang dimaksud adalah satu timbangan, dan diungkapkan dalam bentuk jamak untuk menunjukkan jumlah amal yang ditimbang dengannya. Firman Allah: (maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)wya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan) Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun) (Surah Al-Kahfi: 49) dan (Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah; dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar (40)) (Surah An-Nisa’)
Tafsir As-Sa'di
47. Allah mengabarkan mengenai ketetapan hukumNYa yang adil dan keputusanNya yang berimbang (tidak berat sebelah) di antara para hambaNya ketika Dia menghimpun mereka semua di Hari Kiamat. Dia memasang timbangan-timbangan yang adil bagi mereka. Dalam timbangan-timbangan itu menjadi tampak jelas beratnya biji sawi yang dengan itu kebaikan dan kejelekan akan ditimbang. “Maka tidaklah dirugikan seseorang,” baik jiwa yang Muslim ataupun yang kafir “barang sedikit pun,” dalam bentuk pengurangan dari sebagian kebaikannya atau penambahan kejelekannya. Kendatipun seberat biji sawi yang merupakan partikel terkecil dan tidak diperhitungkan, yang berasal dari kebaikan maupun kejelekan, Kami akan membawa dan menghadirkannya. Tujuannya, agar pemiliknya mendapatkan balasan dengannya. Makna ini seperti kandungan ayat, "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." (Az-Zalzalah:7-8) "dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun". (Al-Kahfi:49). “Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan,” maksudnya DZat Allah yang mulia sebagai pembuat perhitungan hal tersebut. Cukuplah Allah sebagai DZat yang memperhitungkan amalan-amalan. Maksudnya, mengetahui seluruh amaliah para hambaNya, memeliharanya dan menempatkannya dalam sebuah kitab catatan, mengetahui perhitungannya dan ketentuan pahala atau hukumannya serta hak-haknya untuk menyerahkan balasan bagi para pelakunya.
Tafsir Al-Wajiz
47. Dan Kami akan meletakkan timbangan yang adil untuk menimbang amal-amal para hamba pada hari kiamat, sehingga seseorang tidak dirugikan sedikitpun dengan dikurangi kebaikannya atau ditambah keburukannya. Sekalipun ukuran amal itu ringan dan kecil layaknya biji sawi, Kami akan tetap mendatangkannya agar bisa membalas amal itu. Dan cukuplah Kami yang menghitung setiap amal para hamba.
Tafsir Al-Muyassar
Dan Allah meletakkan timbangan yang adil untuk proses perhitungan amal perbuatan pada Hari Kiamat. Dan Dia tidak menzholimi mereka itu dan orang-orang lainnya sedikitpun. Kendatipun amal itu sebesar biji sawi sekali pun, dari kebaikan atau keburukan, akan diperhitungkan dalam perhitungan amal pelakunya. Dan cukuplah Allah sebagai penghitung perbuatan hamba-hambaNya dan pemberi balasan kepada mereka dengan setimpal.
Tafsir Al-Madinah
47. Allah mengabarkan keadilan-Nya ketika menghisab makhluk-Nya pada hari kiamat, ketika meletakkan timbangan amal yang adil dan akurat, sehingga tidak ada seorangpun yang terzalimi atas amalannya, baik itu orang beriman maupun orang kafir, meski amalan yang dikerjakan itu seberat semut kecil dari kebaikan atau keburukan, semua itu akan mendapat balasannya. Dan cukuplah Tuhanmu yang menghitung amalan seluruh hamba.
Tafsir Al-Mukhtashar
47. Dan Kami akan memasang timbangan yang adil lagi tepat untuk orang-orang yang datang pada hari Kiamat kelak agar amal perbuatan mereka ditimbang, pada hari itu tidak seorang pun dirugikan dan dizalimi dengan mengurangi pahala amalan kebaikannya atau menambah dosa amalan keburukannya, sekalipun amalan yang ditimbang itu sedikit seberat timbangan biji sawi kami pasti mendatangkannya, dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan untuk menghitung amal perbuatan hamba-hamba Kami.
Tafsir Zubdatut
47. (Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat) Yakni timbangan yang adil untuk menimbang amal perbuatan para makhluk. ( maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun) Ini merupakan timbangan yang adil yang tidak mengurangi kebaikan orang yang berbuat baik dan tidak menambah keburukan orang yang berbuat buruk. (Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun) Meski amalan tersebut sangat kecil dan remeh sekecil biji sawi. ( pasti Kami mendatangkan (pahala)nya) Yakni Kami datangkan amalan tersebut untuk Kami beri balasan. (Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan) Kami sangat baik dalam perhitungan sehingga tidak akan ada yang tertinggal sedikitpun.
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ). Seorang laki-laki pernah menggugat salah seorang anak dari khalifah, sang khalifah kemudian mengambil tindakan terhadap anaknya atas gugatan itu, terkejut atas tindakan sang khalifah laki-laki itu pun membacakan sebuah syi'ir atas kekagumannya kepada sang khalifah, sang khalifah kemudian berterima kasih dan berkata : tidaklah aku datang ke majlis ini melainkan aku telah membaca firman Allah : { } "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan" seseorang yang meriwayatkan atsar ini berkata : aku tidak melihat laki-laki itu menangis sebanyak hari itu. 2 ). Dari ayat ini dapat difahami bahwa urusan muamalah seorang hamba dengan Allah dan dengan makhluk adalah perkara yang sangat besar tidak diketahui berapa besarnya kecuali oleh orang-orang yang berakal; karena hasil dari muamalah itu entah akan mendapat kemarahan dan balasan pedih dari Allah, atau Ridho dan nikmat darinya dari-Nya.
Tafsir Ash-Shaghir
Kami akan meletakkan timbangan yang tepat} yang adil {pada hari Kiamat, sehingga tidak ada seorang pun dizalimi sedikit pun. Sekalipun hanya seberat biji} seberat biji {dari sawi} biji paling kecil {sungguh Kami mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai penghisab} penghitung
Tafsir Hidayatul
Surat Al-Anbiya ayat 47: Ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memasang timbangan yang adil, di mana dengannya kebaikan dan keburukan mereka ditimbang. Seperti dikurangi kebaikannya dan ditambah keburukannya. Yakni cukuplah Dia yang mengetahui amalan hamba, yang menjaganya, yang menetapkannya dalam kitab, yang mengetahui ukurannya, dan ukuran balasannya serta keberhakannya serta yang menyampaikan balasan kepada orang-orang yang melakukannya.