Tafsir Ringkas Kemenag
Katakanlah, 'kebenaran, yakni islam, telah datang dan yang batil itu, yakni kekufuran yang selama ini kamu pertahankan, pasti akan sirna. Seiring kedatangan islam, kemusyrikan tidak akan memulai, dalam arti tidak akan tampil dalam bentuk yang baru, dan tidak pula akan mengulangi kembali dalam bentuk yang lama. ' kebenaran pasti akan menang dan kebatilan pasti akan musnah. 50. Katakanlah, 'jika seandainya aku sesat maka sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri. Kemudaratan akibat kesesatan itu pasti akan menimpaku. Dan jika aku mendapat petunjuk maka itu disebabkan apa yang diwahyukan tuhanku kepadaku. Sungguh, dia maha mendengar setiap perkataan, mahadekat dengan orang yang memanggil-Nya dan berdoa kepada-Nya. '(lihat juga: al-baqarah/2: 186 dan q'f/50: 16).
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 47-50 Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kepada RasulNya SAW untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik: (Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu) yaitu, aku tidak menginginkan upah dan pemberian apapun dari kalian dari penyampaian risalah Allah SWT kepada kalian, tidak pula untuk nasehatku dan perintahku kepada kalian untuk menyembah Allah (Imbalanku hanyalah dari Allah) yaitu sesungguhnya aku hanya memohon pahala hal itu dari sisi Allah (dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu) Dia mengetahui semua perkara yang sedang aku lakukan dalam berupa penyampain risalah dariNya kepada kalian, dan Dia mengetahui apa yang sedang kalian lakukan. Firman Allah SWT: (Katakanlah, Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib” (48)) sebagaimana firmanNya: (Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya) (Surah Ghafir: 15) yaitu Allah SWT mengutus malaikat kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya di bumi, dan Dia Maha Mengetahui sesuatu yang ghaib. Maka tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dariNya, baik yang ada di langit maupun di bumi. Firman Allah SWT: (Katakanlah, "Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi” (49)) yaitu telah datang kebenaran dari Allah dan syariat yang agung. Maka kebathilan itu akan lenyap, surut dan menghilang. Sebagaimana firmanNya: (Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap) (Surah Al-Anbiya: 18) Oleh karena itu ketika Rasulullah SAW memasuki Masjidil Haram pada hari penaklukkan Makkah, dan beliau mendapati berhala-berhala yang dipasang di sekeliling Ka'bah, beliau mendorong sebagian dari berhala itu dengan busurnya dan membaca firmanNya: (Dan katakanlah, "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (81)) (Surah Al-Isra’), (Katakanlah, "Kebenaran lelah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi” (49)) yaitu kebathilan itu pasti akan lenyap, tidak dalam ucapan, kepemimpinan dan kalimatnya. Firman Allah: (Katakanlah, "Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku) yaitu kebaikan itu semuanya dari sisi Allah melalui apa yang Dia turunkan berupa wahyu dan kebenaran yang jelas yang di dalamnya terkandung petunjuk, penjelasan, dan bimbingan. Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat) Allah Maha mendengar semua ucapan para hambaNya, lagi Maha Dekat yang mana Dia memperkenankan doa orang yang berdoa kepadaNya.
Tafsir As-Sa'di
49. Maka dari itu Dia berfirman, “Katakanlah, ‘Kebenaran telah datang’,” maksudnya, kebenaran telah jelas, Nampak dan menjadi laksana matahari, dan kekuatannya sudah jelas, “dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi,” maksudnya, ia menjadi redup dan keadaannya menjadi sirna serta hilang kekuatannya, maka ia tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.
Tafsir Al-Wajiz
49. Katakanlah bahwa kebenaran telah datang, yaitu Islam dan ketauhidan, dan jejak kesyirikan tidak akan tersisa lagi di Mekah setelah ini. Yang dimaksud dengan kebathilan yang hilang disini yaitu kekufuran. Al-Ibda’ adalah terjadinya sesuatu yang pertama kali dan Al-I’adah adalah terjadinya sesuatu kedua.
Tafsir Al-Muyassar
Katakanlah (wahai Rasul), “Kebenaran dan syariat yang agung telah datang dari Allah, kebatilan telah lenyap dan kekuasaannya telah sirna, sehingga tidak tersisa darinya yang bisa memulainya dan mengembalikannya.”
Tafsir Al-Madinah
49. Katakanlah: “Kebenaran telah datang, tanda-tandanya telah jelas, dan dalil-dalilnya telah ditegakkan. Sedangkan kebatilan telah tercerai-berai dan hancur syubhatnya, sehingga tidak ada lagi kekuatannya; ia telah sirna dan telah tercampakkan.”
Tafsir Al-Mukhtashar
49. Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang musyrikin yang mendustakan itu, “Kebenaran telah datang, yaitu Islam, dan kebatilan telah sirna tanpa meninggalkan bekas dan kekuatan apa pun, tidak memiliki pengaruh lagi.”
Tafsir Zubdatut
49. (Katakanlah: “Kebenaran telah datang) Yakni Islam dan tauhid dan al-Qur’an yang mengandung bukti-bukti dan hujjah yang kekuatan dan kekuasaannya pasti akan datang. (dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi”) Yakni kebatilan telah musnah, tidak akan mulai dan datang lagi.
Tafsir Ash-Shaghir
Katakanlah,“Telah datang} telah tampak {kebenaran dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi (sesuatu)} kebathilan lenyap sehingga tidak menyisakan apapun darinya, dimana bisa memulai ataupun mengulangi apa pun
Tafsir Hidayatul
Yakni telah tampak bersinar dan terang sebagaimana terangnya matahari. Maksudnya ialah apabila kebenaran sudah datang maka kebatilan akan hancur binasa dan tidak dapat berbuat sesuatu untuk melawan dan meruntuhkan kebenaran itu.
Tafsir An-Nafahat
Surat Saba ayat 49: Katakanlah wahai Nabi Allah kepada mereka orang-orang musyrik : Sungguh telah datang islam dan tauhid serta cahaya, dan telah musnah kebathilan, syirik dan kegelapan, dan tidak tertinggal satu kebathilanpun. Tidak di depan maupun di belakang.