Tafsir Ringkas Kemenag
Dan aku berlindung pula dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki, yang selalu menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang lain. '1. Wahai nabi Muhammad, katakanlah kepada umatmu, 'aku berlindung kepada tuhan yang menciptakan, memelihara, dan mengurus manusia.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-5 Diriwayatkan dari Jabir, dia berkata bahwa Al-falaq adalah subuh. Qatadah, Muhammad bin Ka'b Al-Qurazi, dan Ibnu Zaid berkata demikian Al-Qurazi. Ibnu Zaid, dan Ibnu Jarir berkata bahwa itu sebagaimana firmanNya SWT: (Dia menyingsingkan pagi) (Surah Al-An'am: 96) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya, (Al-falaq) yaitu makhluk. Ibnu Jarir berkata bahwa yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu bahwa “al-falaq” adalah subuh. Pendapat inilah yang benar dan dipilih Imam Bukhari dalam kitab shahihnya. Firman Allah: (dari kejahatan makhlukNya (2)) yaitu dari kejahatan semua makhluk. (dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3)) Mujahid berkata bahwa makna yang dimaksud adalah jika matahari telah tenggelam. Pendapat ini diriwayatkan Imam Bukhari dari Mujahid. Hal yang sama telah diriwayatkan Ibnu Abu Najih dari Mujahid. Demikian juga dikatakan Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah, bahwa sesungguhnya maknanya adalah malam hari ketika datang dengan kegelapan. Az-Zuhri berkata tentang firmanNya: (dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3)) yaitu matahari apabila tenggelam. Ibnu Jarir berkata, ulama lainnya berkata bahwa makna yang dimaksud adalah bulan. Saya berkata bahwa yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat demikian adalah apa yang telah diriwayatkan Imam Ahmad. Diriwayatkan dari Abu Salamah, dia berkata,” Aisyah berkata,” Rasulullah SAW memegang tanganku, lalu memperlihatkan kepadaku bulan saat terbitnya, kemudian beliau SAW bersabda,”Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan bulan ini ketika telah tenggelam” Ini tidaklah bertentangan dengan pendapat kami, karena sesungguhnya bulan merupakan pertanda malam hari dan bulan tidak berperan kecuali hanya di malam hari. Demikian pula bintang-bintang yang tidak dapat bersinar kecuali di malam hari, dan hal ini sejalan dengan pendapat yang kami katakan. Hanya Allah yang lebih Mengetahui. Firman Allah: (dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (4)) Al-Hasan dan Qatadah.berkata bahwa maknannya adalah wanita-wanita penyihir. Mujahid berkata bahwa yaitu ketika wanita-wanita itu mengembus pada buhul-buhulnya. Disebutkan dalam hadits lain bahwa malaikat Jibril datang kepada Rasulallah SAW, lalu bertanya,"Apakah engkau sakit, wahai Muhammad?" Rasulallah SAW menjawab, "Ya" Jibril berdoa,”Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari semua penyakit yang mengganggumu dan dari kejahatan setiap orang yang hasad dan kejahatan pandangan mata, semoga Allah menyembuhkanmu”
Tafsir As-Sa'di
5. “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” Orang dengki adalah orang yang senang atas lenyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar penyakit-penyakit ‘ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit ‘ain muncul kecuali dari seorang pendengki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. Surat ini mencakup perlindungan dari segala macam kejahatan secara umum dan khusus dan menunjukkan bahwa sihir itu nyata, bahayanya mengkhawatirkan, dan kita harus meminta perlindungan kepada Allah dari sihir dan pelakunya.
Tafsir Al-Wajiz
5. Aku meminta perlindungan kepada Allah dari buruknya kedengkian, yaitu orang yang berangan-angan agar kenikmatan orang yang dia cemburui hilang. Jika kedengkiannya sudah merasuk (dalam diri) maka dia akan berusaha menghilangkan kenikmatan yang dimiliki orang yang dicemburui. Sihir, intaian, kedengkian dan hal lain yang serupa itu tidak akan bisa membahayakan DzatNya, namun atas kehendak Allah, pengaruh dari hal-hal ini hanya menyentuh bagian luar saja.
Tafsir Al-Muyassar
Dan dari keburukan orang hasad, pembenci manusia apabila ia iri kepada mereka atas sesuatu yang Allah berikan kepada mereka, ia ingin agar nikmat-nikmat itu hilang dari mereka dan ingin menimpakan gangguan kepada mereka.”
Tafsir Al-Madinah
5. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan pendengki jika sedang dengki. Yaitu keinginan lenyapnya kenikmatan dari orang lain karena rasa cemburu; sifat ini kebalikan dari sifat ghibthah, yaitu keinginan untuk mendapatkan suatu kebaikan seperti kebaikan yang didapatkan orang lain.
Tafsir Al-Mukhtashar
5. Dan aku berpegang teguh kepada Allah dari kejahatan pendengki apabila ia berbuat sesuatu akibat dorongan kedengkiannya.”
Tafsir Zubdatut
5. (dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki) Dengki adalah harapan agar kenikmatan yang diberikan Allah kepada seseorang dapat hilang darinya.
Tafsir Li Yaddabbaru
4-5 1 ). Penghubungan antara sifat hasad dan sihir dalam dua ayat yang saling berdampingan ini menunjukkan adanya hubungan diantara keduanya, setidaknya ada pengaruh halus yang terjadi pada diri sang penyihir dengan sihirnya, dan pada pendengki dengan sifat dengkinya, tetapi dari satu sisi keduanya masuk dalam makna "kerusakan" atau "bahaya" secara umum, keduanya merupakan upaya yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk menjatuhkan orang lain dengan cara yang halus, dan kedua adalah perbuatan tercela yang dilarang. 2 ) Pelaku 'ain adalah pelaku hasad ( pendengki ) pada hakikatnya, bahkan dia lebih berbahaya daripada pelaku hasad; oleh karena itu di dalam firman-Nya Allah menyebut pelaku hasad tanpa menyebut pelaku 'ain; karena sesungguhnya hasad lebih umum dan mencakup didalamnya 'ain, maka setiap pelaku 'ain dapat dipastikan bahwa dia adalah pelaku hasad, tetapi tidak semua pelaku hasad adalah pelaku 'ain, maka jika seseorang memohon perlindungan dari bahaya hasad masuk di dalamnya 'ain, dan inilah diantara cakupan al-Qur'an dan keajaibannya. 3 ). Pendengki dan penyihir dihubungkan dalam surah ini; karena keduanya bermaksud pada orang laing suatu keburukan, dan syaithon senantiasa bersama pendengki dan penyihir, dia berbicara kepada keduanya dan selalu menjadi rekan untuk keduanya, tetapi yang membedakan antara keduanya adalah bahwasanya pendengki senantiasa ditolong oleh syaithon tanpa ia harus meminta kepadanya, sedangkan penyihir akan mendapat pertolongan dari syaithon ketika ia meminta kepadanya; maka dari itu -wallahu a'lam- di dalam surah kejahatan pendengki dan kejahatan penyihir saling berdampingan; karena sesungguhnya memohon perlindungan dari kejahatan keduanya mencakup seluruh kejahatan-kejahatan yang datang dari syaithon jin dan syaithon manusia.
Tafsir Ash-Shaghir
{dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”} menampakkan kedengkiannya dan menunaikan sesuatu yang mereka perlukan
Tafsir Hidayatul
Hasad artinya suka atau senang jika nikmat yang ada pada orang lain hilang darinya. Namun jika senang pada nikmat orang lain dalam arti, ia senang jika ia memperoleh pula nikmat itu dan tidak ada keinginan agar nikmat pada orang lain hilang, maka tidaklah tercela, hal ini dinamakan juga ‘ghibthah’. Yakni menampakkan kedengkiannya dan melakukan konsekwensi dari dengki itu dengan melakukan segala sebab yang bisa dilakukan agar nikmat itu hilang darinya. Termasuk ke dalam yang hasad adalah orang yang menimpakan keburukan kepada orang lain melalui matanya (‘ain), karena hal itu tidaklah muncul kecuali dari orang yang dengki yang buruk tabiatnya dan buruk jiwanya. Demikian pula termasuk ke dalam ‘yang hasad’ adalah Iblis dan keturunannya yang sangat dengki kepada manusia. Disebutkan ketiga macam kejahatan itu meskipun telah dicakup dalam firman Allah Ta’ala, “Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,” adalah karena besarnya kejahatan ketiga macam itu (kejahatan malam ketika telah gelap, wanita-wanita tukang sihir dan orang yang dengki).
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Falaq ayat 5: Dan yang terakhir, Allah perintahkan agar mengatakan kepada mereka : Aku berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang hasad, yang hasad kepada manusia. Dan berlindung dari hasad atau berlindung dari ‘Ain; Sebab ‘ain adalah benar adanya, sebagaimana yang dikatakan Nabi ﷺ : Ain termasuk nyata, dan seandainya ada yang mendahului takdir, niscaya ainlah yang mendahuluinya. Dan berlindung dari sihir dan ‘ain dianjurkan dan Rasulullah ﷺ berbuat demikian. Ketika Rasul ﷺ sakit, Aisyah meruqyahnya dengan dua surat. Hasad adalah berharap hilangnya nikmat (ini makna secara umum), dan terkadang karena takjub kepada manusia (lain), oleh karenanya janganlah menjadi manusia yang sering takjub. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang diberkahi, karena mungkin musibah datang kerena sebab ‘ain dari manusia. Dan hasad adalah bagian dari sifat Yahudi yang buruk.