Tafsir Ringkas Kemenag
4-5. Allah mengecam mereka, 'mengapa mereka berbuat curang' tidaklah mereka itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, yaitu hari kebangkitan yang penuh kejadian mengerikan dan menegangkan''6. Yaitu pada hari ketika semua orang bangkit dari kubur mereka untuk menghadap tuhan seluruh alam. Tuhan akan menghisab perilaku mereka. Pada saat itu tidak ada kekuasaan selain kuasa Allah.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-6 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa ketika Nabi SAW tiba di Madinah, orang-orang Madinah terkenal sebagai orang paling curang dalam takaran. Maka Allah SWT menurunkan firmanNya: (Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (1)) Lalu mereka memperbaiki takaran setelah itu Makna yang dimaksud dengan “At-tathfif” di sini adalah kecurangan dalam memakai takaran dan timbangan, yang terkadang ditambahi jika menagih orang lain, atau dikurangi jika dia membayar mereka. Oleh karena itu Allah SWT menjelaskan orang-orang yang curang yang Dia ancam dengan kerugian dan kebinsaan yaitu kecelakaan dengan firmanNya: ((yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain) yaitu manusia (mereka minta dipenuhi) yaitu mereka meminta supaya dipenuhi dan diberi tambahan (dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (3)) yaitu merugikan orang lain dengan menguranginya. Hal yang paling baik hendaknya menjadikannya “kalu” dan “wazanu” dianggap sebagai fi'il muta'addi, maka, dhamir “hum” menduduki mahal “nashab”. Sebagian mereka menjadikannya sebagai taukid dari dhamir yang tidak disebutkan dalam firmanNya “kalu” dan “wazanu”, sedangkan maf'ulnya dibuang karena kalam itu sudah menunjukkan kepadanya. Keduanya mempunyai makna yang berdekatan. Allah SWT memerintahkan untuk memenuhi takaran dan timbangan. Jadi Allah SWT berfirman: (Dan sempurnakanlah takaran apabila kalian menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya (35)) (Surah Al-Isra’) dan (Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya) (Surah Al-An'am: 152) serta (Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu (9)) (Surah Ar-Rahman) dan Allah SWT membinasakan kaum nabi Syu'aib dan menghancurkan mereka karena mereka curang terhadap orang lain dalam takaran dan timbangan. Kemudian Allah SWT berfirman seraya memperingatkan mereka: (Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4) pada suatu hari yang besar (5)) yaitu, mereka sama sekali tidak takut kepada hari kebangkitan, yang di hari itu mereka akan dibangkitkan di hadapan Tuhan Yang Mengetahui semua rahasia dan isi hati pada hari yang mengerikan karena banyak hal yang mengejutkan dan sangat mengerikan. Barangsiapa yang merugi pada hari itu, maka dia dimasukkan ke dalam neraka yang panas? Firman Allah SWT: ((yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (6)) yaitu mereka berdiri dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan di tempat pemberhentian yang sulit, sesak, dan menyengsarakan bagi orang yang berdosa, karena mereka diselimuti oleh murka Allah yang tidak ada suatu kekuatan atau indra pun yang mampu bertahan. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda,”di hari ketika manusia berdiri di hadapan Tuhan alam semesta, sehingga seseorang dari mereka tenggelam ke dalam keringatnya sampai sebatas pertengahan hidungnya”
Tafsir As-Sa'di
Madaniyah Ayat 1-6 “Kecelakaan besarlah,” adalah kata-kata azab dan siksaan, “bagi orang-orang yang curang.” Ini dijelaskan oleh Allah dengan FirmanNya kemudian, “(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain,” yakni mengambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkannya secara utuh, tidak kurang, “dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain,” yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau timbangan, “mereka mengurangi,” yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditunjukkan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus memberikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah berkenan menolong kita pada setiap kebaikan. Selanjutnya Allah mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, “Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.
Tafsir Al-Wajiz
5-6. Mereka akan dibangkitkan pada hari yang penuh dengan bencana dan hiruk pikuk yaitu hari kiamat. Hari dimana mereka dibangkitkan dari kubur, kemudian menghadap Allah untuk dihisab dan diberi balasan
Tafsir Al-Muyassar
5-6. Pembangkitan mereka akan terjadi pada hari yang sangat menakutkan, Hari yang mana manusia akan bangkit berdiri dihadapan Allah kemudian Allah menghitung amal yang sedikit dan yang banyak. Hari itu mereka semuanya tunduk kepada tuhan alam semesta.
Tafsir Al-Mukhtashar
5. Untuk mendapat perhitungan dan pembalasan pada Hari yang agung karena di dalamnya terdapat berbagai kesengsaraan dan huru hara.
Tafsir Ash-Shaghir
Pada suatu hari yang besar
Tafsir Hidayatul
Yaitu hari Kiamat. Dengan demikian, yang membuat mereka berani melakukan kecurangan tersebut adalah karena tidak beriman kepada hari Akhir. Kalau sekiranya mereka beriman kepada hari Akhir dan mengetahui bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allah untuk dihisab-Nya amal mereka besar atau kecil, tentu mereka tidak akan melakukannya dan akan bertobat darinya. Inilah di antara hikmah, mengapa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sering menyebutkan hari Akhir dalam Al Qur’an, yaitu karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan mengisi hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan apalagi sampai merasa tenteram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia, karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Muthaffifin ayat 5: Allah mensifatkan bahwa hari kiamat itu hari yang besar dan mengerikan, dengan apa yang terjadi (peristiwanya), dari kejadian-kejadian yang penuh kepedihan.