Tafsir Ringkas Kemenag
Sejahteralah malam itu sejak matahari terbenam sampai terbit fajar. Pada malam itu Allah hanya menentukan keselamatan dan kesejahteraan bagi makhluknya. Para malaikat juga turun secara bergelombang sambil membawa rahmat, kebaikan, salam, dan berkah dari Allah. Pada malam itu pula, tiap kali berjumpa dengan orang beriman, para malaikat pasti mengucapkan salam kepadanya. 1. Orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab, yaitu yahudi dan nasrani, dan orang-orang musyrik penyembah berhala tidak akan meninggalkan kekafiran mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-5 Allah SWT memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur'an di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati) (Surah Ad-Dukhan: 3) yaitu Lailatul Qadar yang ada dalam bulan Ramadhan, sebagaimana Allah SWT berfirman: ((Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Al-Qur’an) (Surah Al-Baqarah: 185) Ibnu Abbas dan lainnya berkata bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur'an sekaligus dari Lauhil Mahfuz ke Baitul 'Izzah di langit dunia. Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah SAW. Kemudian Allah SWT berfirman seraya mengagungkan perkara Lailatul Qadar yang dikhususkan dengan diturunkan di dalamnya. Jadi Allah SWT berfirman: (Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan (3)) Karena melakukan ibadah di malam Lailatul Qadar sebanding pahala melakukan ibadah selama seribu bulan, telah disebutkan di dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang melakukan shalat di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala Allah, maka diampunilah baginya semua dosanya yang terdahulu” Firman Allah: (Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4)) yaitu banyak malaikat yang turun di malam kemuliaan ini karena banyaknya keberkahannya. Dan para malaikat turun bersamaan dengan turunnya keberkahan dan rahmat, sebagaimana mereka turun ketika Al-Qur'an dibacakan dan mengelilingi perkumpulan yang melakukan dzikir dan meletakkan sayap mereka menaungi orang yang menuntut ilmu dengan benar karena menghormatinya. Adapun tentang kata “ar-ruh” di sini, dikatakan bahwa yang dimaksud adalah malaikat Jibril yang hal ini termasuk “athaf khas ‘alal ‘am”. Dikatakan juga bahwa “ar-ruh” adalah malaikat tertentu, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah An-Naba’. Hanya Allah yang lebih Mengetahui. Diriwayatkan dari Mujahid tentang firmanNya: (Malam itu (penuh) kesejahteraan) dia berkata, yaitu penuh keselamatan, setan tidak mampu berbuat keburukan atau melakukan gangguan padanya. Qatadah dan lainnya berkata yaitu semua urusan ditetapkan di dalamnya dan semua ajal serta rezeki ditakdirkan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (4)) (Surah Ad-Dukhan) Firman Allah: (Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5)) diriwayatkan dari Asy-Sya'bi tentang firmanNya: (untuk mengatur segala urusan (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5)) dia berkata yaitu salamnya para malaikat di malam Lailatul Qadar kepada orang-orang yang ada di dalam masjid sampai fajar terbit. Qatadah dan Ibnu Zaid berkata tentang firmanNya: (malam itu (penuh) kesejahteraan) yaitu semuanya baik, tidak ada suatu keburukan pada malam itu sampai matahari terbit
Tafsir As-Sa'di
5. “Malam itu (penuh) kesejahteraan,” yakni sejahtera dari berbagai aib dan keburukan karena banyaknya kebaikan pada malam itu “sampai terbit fajar,” yakni bermula sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Berbagai hadist mutawatir banyak menyebutkan keutamannya, malam itu berada di bulan Ramadhan pada sepuluh malam terakhir khususnya, dan terutama pada malam-malam ganjil. Malam qadar berlaku setiap tahun hingga Kiamat tiba. Karena itu Nabi beri’tikaf dan memperbanyak ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharapkan malam qadar. Wallahu a’lam.
Tafsir Al-Wajiz
5. Malam ini adalah malam (yang penuh) kesejahteraan dan penuh kebaikan mulai permulaannya sampai terbitnya fajar.
Tafsir Al-Muyassar
Sepanjang malam itu aman, tidak ada keburukan padanya hingga terbit fajar
Tafsir Al-Madinah
5. Allah mengabarkan bahwa turunnya para malaikat pada lailatul qadar untuk menyebarkan kebaikan bagi kaum muslimin, meliputi keselamatan, ampunan, pahala, pengabulan doa, dan pujian para malaikat bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. malam lailatul qadar dipenuhi dengan para malaikat dan keselamatan, kebaikan malam itu tidak terhenti hingga waktu fajar tiba.
Tafsir Al-Mukhtashar
5. Malam yang penuh berkah ini seluruhnya penuh kebaikan semenjak permulaannya hingga habisnya dengan terbitnya fajar.
Tafsir Zubdatut
5. (Malam itu (penuh) kesejahteraan) Yakni malam itu dipenuhi dengan keselamatan dan kebaikan tanpa ada keburukan di dalamnya, dan setan pada saat itu tidak dapat melakukan keburukan atau gangguan. (sampai terbit fajar) Yakni sampai waktu terbitnya fajar. Yakni para malaikat tidak berhenti turun kelompok demi kelompok hingga terbit fajar.
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ) .Sebagian pendapat mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam ke-27 ramadhan, dan bahwsanya kata { } dalam surah ini dimaksudkan ( angka 27 ), dan pendapat ini salah, jika seandainya hal itu benar tidaklah tersembunyikan dari pengetahuan Rasulullah dan para sahabatnya serta para salafussaleh, dan tidak pula hal itu dikenal dikalangan bangsa arab, bahkan perkataan ini menyelisihi dalil-dalil jelas lainnya, dan sebagian ulama membantah pendapat ini seperti Ibnu hazm. 2 ) . Kalimat "lailatul qadr" disebutkan dalam surah al-Qadar sebanyak lima kali, dan malam lailatul qadr terdapat lima keutamaan didalamnya : yaitu, waktu turunnya al-Qur'an, malam itu adalah lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan khususnya jibril pada malam itu mereka bergantian turun ke bumi, dan pada malam itu juga segala urusan ditentukan, dan malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar, maka apakah kita menghargai malam itu dengan sebaik-baiknya penghargaan, dan mengagungkannya dengan sebaik-baiknya pengagungan ?. 3 ) . Allah telah mengkhususkan malam lailatul qadar dengan namanya, dan telah menyendirikannya pada satu surah pennuh, dan menyebutkan didalamnya keutamaan-keutamaan tersendiri untuknya, maka tidakkah malam itu berhak atas kita untuk menghususkan dan menyendirikannya dengan ibadah-ibadah didalamnya, dan berlepas dari segala kesibukan kita, dan memulai untuk menyibukkan diri hanya untuk beribadah penuh didalamnya ?
Tafsir Ash-Shaghir
{Kesejahteraan malam itu} Lailatul qadar di dalamnya mengandung kesejahteraan dan kebaikan, pada seluruh malamnya, dan tidak ada keburukan {sampai terbit fajar}
Tafsir Hidayatul
Sa’id bin Manshur berkata dari Mujahid tentang firman Allah, “Sejahteralah (malam itu),” ia berkata, “Yakni sejahtera, dimana setan tidak dapat berbuat buruk di dalamnya atau mengganggu.” Qatadah dan Ibnu Zaid berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Sejahteralah (malam itu),” maksudnya malam itu baik seluruhnya tidak ada keburukan sampai terbit fajar.” Tentang tanda malam Lailatul Qadr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ( ) “Malam Lailatul Qadr adalah malam yang terang, tidak panas dan tidak dingin (tidak ada gumpalan awan, hujan maupun angin), dan tidak dilepaskan bintang. Sedangkan di antara tanda pada siang harinya adalah terbitnya matahari tanpa ada syu’anya.” (HR. Thabrani dalam Al Kabir dari Watsilah, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5472, namun yang disebutkan dalam tanda kurung menurutnya adalah dha’if, lihat Dha’iful Jaami’ no. 4958) Syu’a, menurut Imam Nawawi artinya yang terlihat dari sinar matahari ketika baru muncul seperti gunung dan batang yang menghadap kepadamu ketika engkau melihatnya, yakni sinar matahari yang berserakan. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: “(Malam Lailatul Qadr adalah) malam yang ringan, sedang, tidak panas dan tidak dingin, dimana matahari pada pagi harinya melemah kemerah-merahan.” (HR. Thayalisi dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5475). Ibnu Katsir berkata, “Dan tanda malam Lailatul qadr adalah bahwa malam tersebut bersih, terang, seakan-akan ada bulan yang bersinar, tenang, tidak dingin dan tidak panas, sedangkan (pada pagi hari) matahari terbit dalam keadaan sedang tanpa ada sinar yang berserakan seperti bulan pada malam purnama.” Catatan: Lailatul qadr tidak terjadi pada malam tertentu secara khusus dalam setiap tahunnya, namun berubah-rubah, mungkin pada tahun sekarang malam ke 27, pada tahun depan malam ke 29 dsb. Dan sangat diharapkan terjadi pada malam ke 27. Mungkin hikmah mengapa malam Lailatul qadr disembunyikan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah agar diketahui siapa yang sungguh-sungguh beribadah dan siapa yang bermalas-malasan. Yakni awalnya dari tenggelam matahari dan akhirnya sampai terbit fajar. Syaikh As Sa’diy berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits tentang keutamaannya, dan bahwa hal itu terjadi pada bulan Ramadhan, yatu pada sepuluh terakhir daripadanya, khususnya pada malam-malam ganjilnya, dan hal itu berlaku pada setiap tahun sampai hari Kiamat. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri’tikaf dan memperbanyak ibadah pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan karena mengharapkan Lailatul Qadr, wallahu a’lam.”
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Qadr ayat 5: 3-5. Allah mengabarkan bahwa tahun di malam ini lebih utama dibandingkan seribu tahun. Allah juga mengabarkan bahwa para malaikat dan bersamanya Jibril turun pada malam ini dari langit menuju ke bumi dengan izin Allah dan juga perintah ketuhanan. Dan Ia juga mengabarkan bahwa malam Al Qadr meliputi keselamatan dimulai dari awal malam sampai munculnya fajar, tidak terdapat di dalamnya kejelekan atau kesedihan yang palsu.