Surah Taha : Ayat 51
قَالَ فَمَا بَالُ ٱلْقُرُونِ ٱلْأُولَىٰ

"Berkata Fir’aun: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?”"

Tafsir Ringkas Kemenag
Mendengar jawaban nabi musa tentang kekuasaan Allah, fir'aun berkata, 'jadi, bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu yang telah meninggal dunia, seperti kaum nabi nuh, hud, dan saleh, yang lebih dulu ingkar''52. Nabi musa menjawab pertanyaan fir'aun, 'pengetahuan tentang itu secara rinci hanya ada pada tuhanku. Hanya dia yang mengetahuinya. Semua hal yang berkaitan dengan makhluk tercatat di dalam sebuah kitab, yaitu lauh mahfuz. Tuhanku tidak akan pernah salah ataupun lupa pada apa pun yang terjadi di alam semesta ini.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 49-52 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang Fir'aun, bahwa dia berkata kepada nabi Musa seraya mengingkari Pencipta, Tuhan, Penguasa, dan Pemilik segala sesuatu, (Fir'aun berkata,”Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?) yaitu, siapakah yang mengutusmu, karena sesungguhnya aku tidak mengenalNya. dan aku tidak mengetahui adanya tuhan bagi kalian selain diriku sendiri. (Musa berkata, "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (50)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna nya adalah Allah menciptakan bagi setiap sesuatu pasangannya. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Allah me­nyempurnakan penciptaan setiap sesuatu. Sebagian mufasir berkata tentang firmannNya (Allah memberikan pada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk) seperti firmanNya: (dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (3)) (Surah Al-A’la) yaitu menentukan kadar masing-masing dan memberikan petunjuk kepada makhlukNya untuk mengerjakannya. yaitu, Allah menetapkan semua amal, ajal, dan rezekinya, kemudian semua makhluk berjalan sesuai dengan itu; mereka tidak bisa menyimpang darinya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menyimpang dari hal itu. Dia berkata,“Tuhan kami adalah Dzat yang menciptakan makhluk, menetapkan kadar, dan menciptakan wataknya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki (Berkata Fir'aun, "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" (51)) Pendapat yang paling benar terkait makna ayat itu adalah bahwa setelah nabi Musa memberitahunya bahwa Tuhannya yang mengutusnya adalah Tuhan yang menciptakan makhluk, memberi rezeki, menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk. Yaitu berhujjah dengan umat-umat terdahulu, yaitu mereka tidak menyembah Allah. yaitu mengapa mereka begitu jika kenyataannya demikian yaitu tidak menyembah Tuhanmu, bahkan mereka menyembah selainNya? Nabi Musa berkata seraya memberikan jawaban atas hal itu,”Sekalipun mereka tidak menyembah Allah, sesungguhnya amal mereka dicatat di sisi Allah, dan Allah akan membalas mereka sesuai dengan amal mereka dalam catatan Allah, yaitu Lauhil Mahfuz dan catatan amal (Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa) yaitu tidak ada sesuatu yang menyimpang dari ketetapanNya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dariNya, baik yang kecil maupun besar, dan Dia tidak lupa kepada sesuatu pun, Nabi Musa menggambarkan pengetahuan Allah, bahwa sesungguhnya pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, dan bahwa Dia tidak pernah lupa terhadap sesuatu pun, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah. Sesungguhnya pengetahuan makhluk itu memiliki dua kekurangan, salah satunya adalah tidak meliputi segala sesuatu, dan yang lain adalah lupa sesudah mengetahuinya. Maka Allah menyucikan DzatNya dari hal itu
Tafsir As-Sa'di
51. Untuk itu, lantaran Fir’aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpaling dari focus semula. Ia berkata kepada Musa, “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?” maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah mendahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
Tafsir Al-Wajiz
51. Fir’aun berkata: “Lalu bagaimana keadaan umat-umat terdahulu yang tidak berikrar untuk Allah dan tidak menerima keesaanNya, yaitu Tuhan yang kamu serukan, wahai Musa? yang menyembah berhala dan sesuatu yang serupa.”
Tafsir Al-Muyassar
Fir’aun berkata kepada Musa (sebagai bentuk mencari-cari kesalahan dan memprovokasi emosi), “Bagaimanakah nasib umat-umat manusia terdahulu? Sesungguhnya berita (penduduk) pada masa-masa yang telah berlalu? Sesungguhnya mereka telah mendahului kami dengan sikap pengingkaran dan kekufuran.”
Tafsir Al-Mukhtashar
51. Fir'aun berkata, "Jadi bagaimana keadaan umat-umat terdahulu yang hidup di atas kekafiran?"
Tafsir Zubdatut
51. (Berkata Fir’aun: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?”) Umat-umat tersebut tidak mengakui Tuhan yang diserukan oleh Musa, dan mereka menyembah berhala-berhala dan sebagainya.
Tafsir Ash-Shaghir
{Dia berkata} Fir’aun berkata {“Bagaimana keadaan generasi terdahulu”} lalu bagaimana keadaan umat-umat yang terdahulu
Tafsir Hidayatul
Surat Thaha ayat 51: Oleh karena dalil yang disampaikan Musa adalah benar, maka untuk menolaknya Fir’aun beralih kepada masalah lain dan menyimpang dari maksud dan tujuan. Seperti kaum Nuh, kaum Hud, kaum Luth, dan kaum Shalih, di mana mereka telah mendahului kami mengingkari-Nya?