Tafsir Ringkas Kemenag
Kami memohon, tunjukilah kami jalan yang lurus, dan teguhkanlah kami di jalan itu, yaitu jalan hidup yang benar, yang dapat membuat kami bahagia di dunia dan di akhirat, serta dapat mengantarkan kami menuju keridaan-Mu. Yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya, berupa keimanan, hidayah, dan rida-Mu. Mereka itu, seperti dijelaskan dalam surah an-nisa''/4: 69, adalah: 1) para nabi yang telah dipilih Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia menuju kebenaran ilahi; 2) shiddiqin, yaitu orang-orang yang selalu benar dan jujur, tidak ternodai oleh kebatilan, tidak pula mengambil sikap yang bertentangan dengan kebenaran; 3) syuhada', yaitu mereka yang bersaksi atas kebenaran dan kebajikan, melalui ucapan dan tindakan mereka, walau harus mengorbankan nyawa sekalipun, atau mereka yang disaksikan kebenaran dan kebajikannya oleh Allah, para malaikat, dan lingkungan mereka; dan 4) salihin, yaitu orang-orang saleh yang tangguh dalam kebajikan dan selalu berusaha mewujudkannya. Jalan yang kami mohon itu bukan jalan mereka yang dimurkai, yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengikuti dan mengamalkannya, bahkan menentangnya, seperti sebagian kelompok yahudi dan yang mengikuti jalan mereka, dan bukan pula jalan mereka yang sesat dari jalan kebenaran dan kebaikan, seperti sebagian kelompok nasrani dan yang sejalan dengan mereka, sebab mereka enggan beriman dan mengikuti petunjuk-Mu.
Tafsir Ibnu Katsir
Bacaan mayoritas (ulama’) menggunakan huruf shad, dibaca juga (sirath), dan dengan huruf “zay”. Al-Farra' berkata bahwa ini merupakan dialek Bani 'Udzrah dan Bani Kalb. Ketika pujian telah diungkapkan kepada Allah SWT, maka boleh dilanjutkan dengan permintaan. Seperti firmanNya: (Maka separuhnya untukKu, dan separuhnya lagi untuk hambaKu, dan hambaKu akan mendapatkan apa yang ia minta”. Inilah sikap yang paling sempurna bagi seorang yang meminta, yaitu memuji yang Dzat yang dimintai, kemudian meminta kebutuhannya dan kebutuhan saudara-saudara mukminnya dengan mengatakan: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus(6)) karena permohonan ini lebih baik untuk mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan dan lebih layak untuk dikabulkan. Oleh karena itu, Allah membimbing untuk melakukan hal ini, karena itu lebih sempurna. Terkadang permintaan itu berupa informasi tentang keadaan dan kebutuhan orang yang meminta, sebagaimana yang dikatakan nabi Musa AS: (Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku) (Surah Al-Qashash: 24). Atau bisa juga disertai dengan penyebutan sifat-sifat Dzat yang dimintai, seperti apa yang dikatakan oleh Dzun Nun (nabi Yunus): (Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".) (Surah Al-Anbiya’: 87). Namun terkadang dapat dilakukan hanya dengan memuji Dzat yang dimintai saja Seperti yang dikatakan oleh penyair: Akankah aku menyebutkan kebutuhanku atau cukup bagiku rasa maluku terhadapMu Sungguh sudah kebiasaanku malu terhadapMu" Jika seseorang memujiMu suatu hari, maka telah cukup baginya Dzat yang menerima pujian "Hidayah" di sini merupakan petunjuk dan pertolongan. bahkan melampaui “hidayah” itu sendiri sebagaimana firman Allah SWT disini (Tunjukilah Kami jalan yang lurus (5)) Ayat ini mengandung makna "ilhamilah kami" atau “bimbinglah kami”, "berilah kami rezeki" atau "berikanlah kami karunia". FirmanNya (Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (10)) (Surah Al-Balad) maknanya yaitu Terangkanlah kepada kami kebaikan dan keburukan. Dan dibubuhi dengan “ila” seperti firman Allah SWT (Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.) (Surah An-Nahl: 121) yang bermakna petunjuk dan bimbingan. Begitu pula dalam firmanNya: (Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.) (Surah Ash-Shura: 52), dan diikuti dengan huruf "lam" seperti ucapan penduduk surga (Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini) (Surah Al-A'raf: 43) yang bermakna bahwa Allah telah membimbing kami kepada (surga) ini, dan menjadikan kami penghuninya. Adapun terkait “jalan yang lurus” Imam Abu Ja'far bin Jarir berkata: para ahli tafsir sepakat bahwa (Ash-Shirat Al-Mustaqim) adalah jalan yang jelas dan tidak bengkok. Demikian juga dalam bahasa seluruh bangsa Arab. Berikut adalah ungkapan Jarir bin ‘Athiyah Al-Khatfiy: Pemimpin orang-orang mukmin itu berada di jalan yang lurus, ketika segala hal yang bengkok menjadi lurus" Abdullah bin Mas'ud dia berkata: "Jalan yang lurus adalah Kitabullah" Dikatakan: "Jalan yang lurus adalah Islam" Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa makna (Tunjukilah kami jalan yang lurus) yaitu Islam. Makna hadits yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam'an dari Rasulullah SAW bersabda: "Allah memberi perumpamaan jalan yang lurus, di kedua sisiku ada dua tembok dengan pintu-pintu terbuka, dan pada pintu-pintu tersebut ada tirai yang tergantung. Pada jalan itu ada penyeru yang berkata, “Wahai manusia sekalian, masuklah ke jalan ini, dan janganlah kamu bengkok”, dan ada penyeru yang memanggil-manggi dari tengah jalan. Ketika seseorang ingin membuka salah satu pintu itu, dia berkata Celaakalah kamu, jangan buka itu, sesungguhnya jika kamu membukanya maka kamu akan memasukinya. Dan jalan itu adalah Islam, tembok-tembok itu adalah batasan-batasan Allah, dan pintu-pintu yang terbuka adalah larangan-larangan Allah. Para penyeru di ujung jalan itu adalah Kitabullah, dan penyeru dari atas jalan jalan itu adalah pemberi nasihat dari Allah dalam hati setiap orang muslim" Dari Ashim Al-Ahwal, dari Abu Al-'Aliyah berkata bahwa makna (Tunjukkilah kami jalan yang lurus) nabi Muhammad SAW dan dua sahabat setelahnya" Ashim berkata, "Kami menyampaikan hal itu kepada Hasan, lalu beliau berkata, 'Abu Al-'Aliyah benar dan dia memberi nasehat" Semua pernyataan ini benar dan lazim. Maka sesungguhnya siapa saja yang mengikuti Nabi SAW dan meneladani dua sahabat setelahnya, yaitu Abu Bakar dan Umar, maka dia telah mengikuti kebenaran. Siapa saja yang mengikuti kebenaran, dia telah mengikuti agama Islam, dan siapa saja yang mengikuti Islam, dia telah mengikuti Al-Quran, yaitu Kitabullah, taliNya yang kuat, dan jalanNya yang lurus. Semua pernyataan ini benar dan saling membenarkan, segala puji bagi Allah. Jadi makna dari firman Allah SWT (Tunjukkilah kami jalan yang lurus) adalah "Teruslah membimbing kami di jalan tersebut, dan jangan pindahkan kami ke jalan lain, dan jangan biarkan kami tersesat darinya"
Tafsir As-Sa'di
Kemudian lafaz ihdinaa shirotol mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus) maksudnya Tuntunlah kami, Bimbinglah kami dan Arahkan kami kepada jalan yang lurus. yaitu jalan yang sangat jelas yang menghantarkan kepada Allah dan kepada surganya. yaitu dengan mengetahui kebenaran dan melaksanakannya. Maka tunjukkanlah kami kepada jalan tersebut dan berikanlah petunjuk kepada kami di jalan tersebut. maka hidayah (petunjuk) kepada jalan adalah bentuk konsisten terhadap agama Islam dan meninggalkan agama agama selain Islam. Hidayah (petunjuk) kepada jalan yang lurus meliputi petunjuk kepada seluruh perincian-perincian agama, baik Ilmu maupun amalannya. oleh karena itu doa ini adalah termasuk doa yang paling lengkap dan paling berguna bagi seorang hamba. dengan demikian maka wajiblah atas manusia untuk berdoa kepada Allah dengan doa itu dalam setiap rakaat salat nya karena kebutuhan yang sangat kepada hal tersebut.
Tafsir Al-Wajiz
Tuntunlah kami menuju jalan yang lurus, jelas dan tidak menyimpang, yaitu islam dan iman
Tafsir Al-Mishbahul
RAHASIA BERDO’A SETELAH MEMUJI DAN MENYEBUT SIFAT ALLAH Setelah terlebih dahulu memuji yang diminta yaitu Allah ta’ala dan menyatakan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diiringi dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya (dalam hadits Qudsi): “Setengahnya untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku yang ia minta.” Hal itu merupakan keadaan yang sangat sempurna bagi seorang yang mengajukan permintaan. Pertama, ia memuji Rabb yang akan ia mintai dan kemudian memohon keperluan dirinya sendiri dan juga saudaranya dari orang-orang yang beriman, melalui ucapannya:
Tafsir Al-Muyassar
Tunjukilah dan bimbinglah kami serta berilah Taufik bagi kami menuju jalan yang lurus, teguhkanlah kami di atasnya hingga kami bertemu dengan-Mu kelak. Yaitu agama Islam yang merupakan Jalan yang jelas yang menyampaikan kepada keridhoan Allah dan kepada surga-Nya yang telah ditunjukkan oleh penutup para Rosul dan Para Nabi Allah, yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. maka tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba kecuali dengan Istiqomah di atas jalan tersebut.
Tafsir Al-Madinah
6-7. Karena doa dan harapan termasuk merupakan jalan yang paling agung dalam merealisasikan peribadatan, maka kita diarahkan agar meminta dan memohon kepada-Nya taufiq dan petunjuk menuju jalan yang benar dan agama yang lurus, yaitu agama Islam agar kita dapat mengamalkan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya. Ia adalah agama yang dianut oleh para nabi, shiddiq, dan syuhada; hati mereka damai, mata mereka ridha, dan jiwa mereka tenang dengan agama tersebut, sebab mereka telah merasakan manisnya, mengetahui tingginya nilai, ilmu dan puncaknya, serta menyadari keutamaan dan perbedaannya daripada agama-agama lain yang telah dirubah dan dipalsukan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah akibat mereka telah menyekutukan Allah dan mengubah kitab Taurat, serta orang-orang Nasrani yang tersesat dari jalan yang benar akibat menyekutukan Allah dan mengubah kitab Injil. Oleh sebab itulah Allah berfirman: Dalam potongan ayat ini terdapat penegasan terhadap doa sebelumnya serta permohonan agar dijauhkan dari syirik, sesat, dan menyesatkan; dan ini semua setelah permohonan agar mendapat taufik supaya dapat merealisasikan peribadatan dengan menjadi golongan Allah dan para nabi-Nya.
Tafsir Al-Mukhtashar
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus, tuntunlah kami ke sana, dan teguhkanlah kami di atasnya serta tambahkanlah hidayah bagi kami. Arti "aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm" adalah jalan yang terang serta tak berkelok, yaitu Islam yang Allah mengutus Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengannya.
Tafsir Zubdatut
Makna dari () adalah petunjuk atau pertolongan untuk menjalankan ketaatan; sedangkan permintaan petunjuk dari yang diungkapkan oleh orang yang telah mendapat petunjuk berarti ia meminta tambahan hidayah dari hidayah yang telah ada. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (QS. Muhammad : 17) Makna dari ( ) secara bahasa adalah: jalan yang tidak berbelok; dan yang dimaksud dalam ayat adalah jalan Islam. Dijelaskan dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi dari an-Nawwas bin Sam’an dari Rasulullah SAW beliau Bersabda: “Allah memberikan perumpamaan berupa sirath mustaqim (jalan yang lurus). Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang tejulur. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam Shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari!” Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, “Celaka kau! Janganlah sekali-kali membukanya! Karena jika kau membukanya maka kau akan masuk kedalamnya.” Ash-Shirath itu adalah Al-Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan Shirath itu adalah Kitabullah (Al-Qur`an) ‘Azza wa Jalla. Sedangkan penyeru dari atas Shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.”
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ). Diantara adab berdoa adalah mengawalinya dengan pujian, hal itu dicontohkan oleh firman Allah : { , , } adalah pujian, dan ini sesuai untuk menjadi muqoddimah sebelum doa : { }. 2 ). Doa yang paling bermanfaat dan paling agung bagi seorang hamba adalah doa yang ada dalam surah al-Fatihah : { }; karena sesungguhnya jika Allah menolong hamba-Nya dengan jalan yang lurus ini tentunya akan menjadi pendorong baginya dalam meningkatkan ketaatan kepada-Nya, dan menguatkannya dalam menjauhi segala larangan-Nya, sehingga ia tidak akan ditimpa oleh musibah apapun baik di didunia maupun di akhirat. 3 ). Diantara hidayah yang selalu diperbaharui adalah : { } maka barangsiapa yang mengetahui hakikat hidayah dan kebutuhan seorang hamba kepadanya; dia telah memahami bahwasanya apa yang belum ia peroleh dari hidayah itu adalah berlipat banyaknya dari apa yang telah ia peroleh, dan sesungguhnya disetiap waktu ia butuh dengan hidayah yang terus diperbaharui itu. 4 ). Shirat al-Mustaqim : tidak lain adalah jalan orang-orang yakin dengan keagungan Allah serta memiliki keimanan yang sempurna, dan tanpanya seorang hamba tidak akan terbebas dari segala rintangan, maka barangsiapa yang dalam dirinya dapat terwujud perkara yang agung ini sungguh ia telah meraih mahkota kenikmatan, dan kesempurnaan petunjuk, maka dia akan menjadi insan yang lebih baik dan akan mulia dengannya; oleh karena itu harus ada usaha untuk sampai kepadanya di setiap shalat; doa yang akan terus dipanjatkan dan mencakup segala umur. 5 ). Perhatikanlah betapa banyak keajaiban dan rahasia-rahasia agung yang terkandung dalam surah al-Fatihah, khususnya dibawah naungan firman Allah : { } , sungguh ini adalah doa yang mesti dipanjatkan oleh segenap ummat manusia agar mereka meraih petunjuk yang benar, dia adalah sorakan bersama yang menyenandungkan sebuah petunjuk, dan merupakan sikap rendah diri seorang hamba dihapadan Allah dengan meraihnya. 6 ). Hakikat shirot al-Mustaqim adalah : mengetahui kebenaran dan mengamalkannya; karena tatkala Allah menyebut shirot al-Mustaqim ini dalam surah al-Fatihah Dia kemudian menjelaskan siapa yang melenceng dari jalan yang lurus itu dan mereka adalah orang-orang Yahudi yang dimurkai, mereka mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya, dan orang-orang Nashrani yang telah tersesat dari jalan yang benar dan mereka melakukan segala hal yang melenceng dari kebenaran.
Tafsir Ash-Shaghir
{Bimbinglah kami} Bimbinglah kami, tunjukkanlah kepada kami, bantulah kami, dan perjalankanlah kami. {ke jalan yang lurus} jalan lurus yang tidak berliku-liku, yaitu agama Islam yang mana Allah mengutus nabi Muhammad SAW dengan itu
Tafsir Aisarut
Makna kata : Ihdinaa artinya adalah berilah petunjukMu kepada kami dan langgengkan petunjuk tersebut. Ash-Shirooth adalah jalan yang mengantarkan kepada keridhoanMu dan surgaMu, yaitu dengan beragama Islam. Al-Mustaqiim artinya yang tidak melenceng dari kebenaran, serta tidak berbelok dari hidayah. Makna ayat : Dengan pengajaran dari Allah, seorang hamba dan saudara-saudaranya yang lain meminta kepada Allah setelah bertawassul kepadaNya dengan pujian, sanjungan, dan pengagungan untukNya, dan setelah berjanji agar tidak menyembah selainNya, dan tidak meminta pertolongan kepada selain Allah, meminta agar hidayah Islam yang didapat akan terus langgeng serta tidak pernah terputus dari keislaman. Pelajaran dari ayat : Motivasi untuk senantiasa berdoa kepada Allah serta menundukkan diri di hadapanNya. Dalam hadits di sebutkan,”Doa adalah ibadah.”
Tafsir Hidayatul
Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayaat yang artinya memberi petunjuk ke suatu jalan yang lurus (irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja (yakni tidak hanya hidayah irsyad), tetapi juga meminta diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus). Oleh karenanya kata ihdinaa langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak dipisah dengan kata "ilaa" (ke) yang berarti "tunjukkanlah kami ke ….." karena ia meminta dua hidayah (irsyad dan taufiq). Oleh karena itu, arti ayat ini adalah "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah kami menempuh jalan itu serta teguhkanlah kami di atasnya sampai kami berjumpa dengan-Mu". Jalan yang lurus itu adalah Islam; sebagai jalan yang dapat mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga seseorang tidak dapat bahagia kecuali dengan istiqamah di atasnya. Dengan demikian, di ayat ini kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar dapat istiqamah di atas jalan yang lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati yang lemah mudah berbalik dan karena hidup di dunia penuh dengan liku-liku, penuh dengan gelombang cobaan dan fitnah yang begitu dahsyat yang dapat menghanyutkan seorang mukmin. Sungguh berbahagialah orang yang tetap mendirikan shalat karena do'a yang dipanjatkannya ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat; yang tidak lagi memanjatkan do'a ini sehingga mudah sekali ia terbawa oleh arus fitnah itu yang membuat dirinya binasa –wal 'iyaadz billah-.
Tafsir An-Nafahat
Surat Al-Fatihah ayat 6: Allah menjelaskan sebesar-besar yang dituntut bagi hamba-Nya, yaitu untuk mencari hidayah menuju kepada jalan yang jelas yang mengantarkan menuju ke surga (yaitu jalan islam). Bersama dengan ia yang telah diberikan petunjuk maka islam menganjurkan untuk tetap mencari hidayah agar tetap kokoh di atasnya; Di mana banyak jalan yang bercabang ke kanan dan ke kiri; Maka wajib bagi seorang hamba untuk meminta kepada Allah agar kokoh menepaki jalan petunjuk dan agar tetap di atas shiratal mustaqim.