Surah Al-Anbiya : Ayat 61
قَالُوا۟ فَأْتُوا۟ بِهِۦ عَلَىٰٓ أَعْيُنِ ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ
"Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”."
Tafsir Ringkas Kemenag
Mendengar laporan masyarakat ini, pemerintah babilonia bersikap tegas. Mereka berkata dan memerintahkan kepada penegak hukum, 'kalau demikian, bawalah dia, pemuda nekat yang bertindak subversif ini ke pusat kota dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka melihat wajahnya dan menyaksikan hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya. '62. Dalam pengadilan terbuka, penegak hukum mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada ibrahim. Mereka bertanya, 'apakah engkau, wahai anak muda, yang melakukan penghancuran ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai ibrahim''.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 57-63 Kemudian nabi Ibrahim bersumpah yang didengar oleh sebagian kaumnya bahwa sesungguhnya dia akan membuat tipu daya terhadap berhala-berhala mereka, yakni dia benar-benar akan menyakiti hati mereka dan memecahkan berhala-berhala mereka setelah mereka pergi, yaitu menuju ke tempat perayaan mereka. Mereka mempunyai perayaan hari raya yang harus mereka datangi Firman Allah: (Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong) yaitu hancur berkeping-keping (kecuali berhala yang paling besar) yaitu berhal yang paling besar bagi mereka, sebagaimana Allah berfirman (Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulinya dengan tangan kanannya (dengan kuat) (93)) (Surah Ash-Shaffat) (Mereka berkata, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim” (59)) yaitu setelah mereka kembali dan menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh nabi Ibrahim terhadap berhala-berhala mereka sebagai suatu penghinaan dan ejekan yang menunjukkan bahwa berhala-berhala itu tidak memiliki ketuhanan dan menunjukkan ketidak waras akalnya orang-orang yang menyembahnya. (Mereka berkata, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim (59)) orang yang berbuat ini (Mereka berkata, "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim” (60)) yaitu seseorang yang mendengar nabi Ibrahim bersumpah, bahwa dia akan membuat tipu daya terhadap mereka. (Kami dengar ada seorang pemuda) yaitu pemuda (yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim) Firman Allah: (Mereka berkata, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak”) yaitu disaksikan banyak orang, yang saat itu semua orang hadir. Hal ini merupakan hal besar yang menjadi maksud nabi Ibrahim dimana dia di pertemuan yang besar ini akan menjelaskan kepada mereka atas kebodohan dan kekurangan akal mereka karena menyembah berhala-berhala itu yang tidak dapat mencegah kemudharatan yang menimpa dirinya, dan tidak mampu memberikan pembelaan. Maka bagaimana bisa berhala-berhala itu dimintai sesuatu dari hal itu? (Mereka bertanya, "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” (62) Ibrahim menjawab,"Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya) yaitu berhala yang dibiarkan dan tidak dihancurkan itu (maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara) Sesungguhnya nabi Ibrahim bermaksud agar mereka menyadari bahwa berhala itu tidak dapat bicara karena berhala itu berupa patung yang terbuat dari benda mati. Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya nabi Ibrahim tidak berdusta selain dalam tiga hal. Dua di antaranya terhadap Dzat Allah, yaitu dalam firmanNya, ("Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya") dan, ("Sesungguhnya aku sakit") (Surah Ash-Shaffat: 89)
Tafsir As-Sa'di
61. Tatkala mereka telah memastikan pekakunya adalah Ibrahim, “mereka berkata, ‘(Kalau demikian), bawalah dia’,” yaitu Ibrahim “dengan cara yang dapat dilihat orang banyak,” maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka “agar mereka menyaksikan,” maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu Fir’aun. "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik". (THaha:59).
Tafsir Al-Wajiz
61. Mereka berdiskusi: “Datangkanlah dia di hadapan semua orang, supaya mereka bisa bersaksi terhadap apa yang dia kerjakan dan memberikan hukuman untuknya”
Tafsir Al-Muyassar
Maka para pemuka mereka berkata, “Bawalah Ibrahim kemari dengan cara yang dapat dilihat oleh khalayak manusia agar mereka menyaksikan pengakuan atas ucapannya supaya menjadi bukti atas dirinya.”
Tafsir Al-Madinah
61-62. Maka pemimpin orang-orang musyrik itu berkata: “Bawalah Ibrahim ke hadapan orang-orang banyak agar mereka menyaksikannya dan menjadikannya sebagai pelajaran.” Maka mereka mendatangkannya dan menanyainya: “Hai Ibrahim, apakah kamu yang menghancurkan tuhan-tuhan kami?”
Tafsir Al-Mukhtashar
61. Pemuka-pemuka kaumnya berkata, "Kalau begitu, datangkanlah Ibrahim dihadapan orang banyak, agar mereka bisa menyaksikan pengakuannya terhadap perbuatannya ini, sehingga pengakuannya tersebut menjadi dalih bagi kalian untuk menghukum dirinya."
Tafsir Zubdatut
61. (Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak) Agar ini menjadi alasan bagi mereka untuk dapat memperlakukan Ibrahim sesuai apa yang mereka kehendaki. (agar mereka menyaksikan) Agar mereka datang menyaksikan penyiksaan terhadap Ibrahim. Atau agar mereka menjadi saksi atas Ibrahim.
Tafsir Ash-Shaghir
Mereka berkata,“Bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak} tampak di penglihatan manusia {agar mereka menyaksikannya”
Tafsir Hidayatul
Surat Al-Anbiya ayat 61: Yakni bahwa Ibrahimlah pelakunya. Inilah yang diinginkan Ibrahim, yaitu dapat menerangkan yang hak dan menegakkan hujjah di hadapan banyak manusia. Hal ini seperti yang diinginkan Musa ketika mengadakan perjanjian dengan Fir’aun untuk bertemu, Beliau berkata, “Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu duha.” (Terj. Thaha: 59)