Tafsir Ringkas Kemenag
Tuntunan tersebut di atas merupakan bagian dari nikmat Allah yang harus disyukuri sekaligus merupakan perjanjian yang harus ditaati sebagaimana tersebut pada permulaan surat ini. Dan ingatlah akan karunia Allah kepadamu, berupa tuntunan agama dan nikmat-Nya yang bermacam-macam yang dianugerahkan kepadamu dan perjanjiannya yang telah diikatkan dengan kamu, yakni perjanjian yang diambil melalui rasulullah berupa ketaatan kepada Allah, baik dalam hal yang mudah maupun yang sulit, dan perjanjian-perjanjian lain yang diikatkan dengan kamu ketika kamu mengatakan, kami dengar, yakni kami mengetahui dan memahami perjanjian itu, dan kami taati semua yang dinyatakan dalam perjanjian itu, baik berupa perintah maupun larangan. Dan bertakwalah kepada Allah, janganlah kamu melanggar perjanjian itu, sungguh, Allah maha mengetahui segala isi hati setiap makhluk-Nya. Ayat selanjutnya memberikan tuntunan agar umat islam berlaku adil, tidak hanya kepada sesama umat islam, tetapi juga kepada siapa saja walaupun kepada orang-orang yang tidak disukai. Wahai orangorang yang beriman! jadilah kamu sebagai penegak keadilan, yakni orang yang selalu dan bersungguh-sungguh menegakkan kebenaran, karena Allah, ketika kalian menjadi saksi maka bersaksilah dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, yakni kepada orang-orang kafir dan kepada siapa pun, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil terhadap mereka. Berlaku adillah kepada siapa pun, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, sungguh, Allah mahateliti, maha mengetahui apa yang kamu kerjakan, baik yang kamu lahirkan maupun yang kamu sembunyikan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 7-11 Allah SWT berfirman seraya mengingatkan hamba-hambaNya yang mukmin akan nikmatNya atas mereka dalam apa yang disyariatkan olehNya kepada mereka dalam agama yang agung ini, serta mengutus kepada mereka, rasul yang mulia ini, dan perjanjian yang diambil atas mereka lakukan dalam melakukan bai’at dengan beliau untuk mengikuti, mendukung, dan membelanya, serta melaksanakan agamanya, menyampaikan ajaran darinya, dan menerima ketentuan-ketentuannya. Lalu Allah berfirman, (Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami patuh") Inilah bai'at yang mereka lakukan kepada Rasulallah SAW ketika mereka masuk Islam, sebagaimana mereka berkataa,"Kami berbai'at kepada Rasulallah untuk mendengar dan patuh, baik dalam keadaan senang, terpaksa, dan keadaan egois kami. dan kami tidak akan memperdebatkan perkara itu" Allah berfirman, (Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman (8)) (Surah Al-Hadid). Dikatakan bahwa ini adalah pengingat bagi orang-orang Yahudi tentang perjanjian dan kesepakatan yang di ambil dari mereka untuk mengikuti nabi Muhammad SAW dan mengikuti hukum-hukumnya. Hal ini dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas Dikatakan juga bahwa itu adalah peringatan terhadap perjanjian yang diambil oleh Allah SWT atas anak cucu nabi Adam ketika Dia mengeluarkan mereka dari tulang sulbinya dan membuat meraka bersaksi atas diri mereka ("Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi") (Surah Al-A’raf: 172) Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan Muqatil bin Hayyan. Pendapat pertamalah yang lebih jelas dan pendapat itu diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan As-Suddi, dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Kemudian Allah berfirman, (Dan bertakwalah kepada Allah) sebagai penegasan dan dorongan untuk bertakwa kepadaNya dalam segala keadaan. Kemudian Dia memberitahu mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka, berupa rahasia dan pikiran-pikiran, Allah berfirman, (sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu)) Firman Allah, (Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah) yaitu Tegakkanlah kebenaran karena Allah SWT, bukan karena manusia atau ingin pamer, dan jadilah (menjadi saksi dengan adil), dengan adil bukan dengan kezaliman. Telah disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim tentang Nu’man bin Basyir, dia berkata,"Ayahku memberikan sebuah pemberian kepadaku, lalu Ibuku, Amrah binti Rawaqah berkata, “Tidak ada tanah kecuali disaksikan oleh Rasulullah SAW” Lalu, dia pergi kepada Rasulullah untuk meminta kesaksian beliau tentang kebenaranku, dan beliau bertanya, “Apakah setiap anakmu telah kamu beri juga?” Ayahku menjawab, “Tidak” Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan berlakulah adil kepada setiap anakmu” beliau bersabda lagi,”Aku tidak mau menjadi saksi atas pemberian yang kurang adil” Kemudian ayahku kemudian kembali dan membatalkan pemberian itu. Firman Allah,( Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil) yaitu janganlah perasaan benci kalian pada suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil terhadap mereka. Sebaliknya, terapkanlah keadilan untuk setiap orang, baik dia teman atau musuh. Oleh karena itu, Allah berfirman, (Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa) yaitu keadilan kalian itu lebih mendekatkan kalian kepada takwa daripada meninggalkannya. Kata kerja "berlaku adil" di sini menunjukkan pada bentuk mashdarnya yang dhamirnya kembali kepada mashdar tersebut, sebagaimana yang sering digunakan dalam Al-Quran dan lainnya, sebagaimana dalam firman Allah, (Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu) (Surah An-Nur: 28). Firman Allah: (karena adil itu lebih dekat kepada takwa) ini merupakan penggunaan af’al at-tafdhil yang tidak memiliki kata berlawanan di sisi lainnya, sebagaimaana dalam firmanNya: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24))
Tafsir As-Sa'di
7. Allah memerintahkan hamba-hambaNya agar mengingat nikmat-nikmatNya, baik nikmat agama maupun dunia dengan hati dan lisan mereka, karena dengan terus menerus mengingatnya, itu akan medorong kepada sikap bersyukur, mencintai, dan mengakui dengan hati akan kebaikan-kebaikan Allah. Ia juga melenyapkan ujub dari dalam diri terhadap nikmat agama dan sebagai penambah bagi karunia dan kebaikanNya. “Dan perjanjiannya,” maksudnya ingatlah perjanjian Allah, “yang telah diikatNya dengan kamu,” yakni, adalah perjanjian yang telah dia ambil darimu. Ia tidak berarti mereka mengucapkan perjanjian dan sumpah itu, akan teteapi maksudnya adalah bahwa mereka mengimaninya dan Rasulnya teleha mengikrarkan untuk taat kepada keduanya. Oleh karena itu Allah berfirman,” ketiak kamu mengatakan kami dengar dan kami taati, maksudnya kami mendengar serauan yang engkau sampaikan pada kami dari ayat-ayatMu , baik yang di dalam Al-Qur’an maupun yang berada di alam semesta, dengan pendengaran yang penuh pemahaman, di barengi ketundukan dan kataatan. Dan kami taat kepadamu maka jangan lakukan apa yang engakau perintahkan dan menjauh dai apa yang engkau larang. Ini mencakup seluruh syariat agama, baik yang lahir maupun yang batin, dan bahwa orang-orang Mukmin dalam perkara tersebut mengingat perjanjian Allah atas mereka, di mana ia selalu ada dalam benak mereka serta berusaha keras melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka dengan sempurna tanpa kekurangan. “Dan bertakwalah kepada Allah,” dalam segala keadaanmu. “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hatimu,” maksudnya pemikiran, rahasia, dana pa yang terlintas dalam hatimu itu. Maka berhatilah-hatilah, jangan sampai Allah mengetahui sesuatu di hatimu, yang tidak diridhaiNya atau keluar darimu apa yang dibenciNya. Isilah hatimu dengan ma’rifat dan kecintaan kepadaNya serta nasihat kepada hamba-hambaNya, karena jika kamu demikian, maka Dia mengampuni dosa-dosamu, dan melipatgandakan kebaikan-kebaikanmu, karena Dia mengetahui kebaikan hatimu.
Tafsir Al-Wajiz
7 Dan ingatlah karunia Allah kepadamu berupa petunjuk Islam dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, atau yang telah Allah perintahkan melalui perantara Rasul, ketika kamu mengatakan kepada Nabi saat kalian berbaiat: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hatimu seperti niat dan kedengkian
Tafsir Al-Muyassar
Dan ingatlah oleh kalian nikmat Allah yang tercurah pada kalian terkait ajaran yang disyariatkanNya bagi kalian. Dan ingatlah oleh kalian perjanjian yang Allah telah mengikat kalian dengannya untuk beriman kepasda Allah dan RasulNya Muhammad ,serta mendengar dan taat kepada keduanya. Dan bertakwalah kepada Allah dalam perkara yang Allah perintahkan kepada kalian dan perkara yang Allah melarang kalian darinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian bisikkan dalam jiwa kalian.
Tafsir Al-Madinah
7. Allah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman untuk mengingat kenikmatan kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka, diantaranya adalah kenikmatan hidayah, taufik, kemenangan, kemudahan, dan kejayaan, dan mengingat perjanjian besar yang mereka ambil berupa kesiapan untuk mentaati-Nya. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada dan rahasia-rahasia yang keluar masuk di fikiran, disamping pengetahuan-Nya terhadap perkara-perkara yang nampak.
Tafsir Al-Mukhtashar
7. Dan ingatlah nikmat yang Allah berikan kepada kalian berupa petunjuk untuk memeluk agama Islam. Dan ingatlah janji yang telah Dia ambil dari kalian tatkala kalian menyatakan baiat (janji setia) kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mendengar dan patuh, baik di kala senang maupun susah dengan mengatakan, “Kami mendengar ucapanmu dan mematuhi perintahmu.” Dan takutlah kalian kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya -termasuk janji-janji kalian kepada-Nya- dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati. Maka tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.
Tafsir Zubdatut
7. (Dan ingatlah karunia Allah kepadamu) Yakni berupa agama Islam. (dan perjanjian-Nya) Pendapat mengatakan yang dimaksud dengan perjanjian disini adalah perjanjian yang diambil atas bani Adam, sebagaimana dalam firman-Nya: “dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengambil kesaksian terhadap anak cucu adam..” (al-A’raf:172) Mujahid berkata: meskipun kita tidak mengingat (perjanjian itu) namun Allah telah mengabarkan hal itu. Pendapat lain mengatakan: perjanjian itu merupakan perjanjian yang diambil oleh rasulullah atas para sahabat di malam Aqabah, yang berisi kesiapan untuk mendengar dan mentaatinya baik itu ketika mereka dalam keadaan semangat maupun dalam keadaan malas. Kemudian orang-orang yang masuk Islam setelahnya juga dibaiat untuk melakukan hal itu. Adapun penisbatan Allah diperjanjian ini dengan nama-Nya adalah karena Dialah yang memerintahkan Rasulullah dan memberinya izin, sebagaimana firman-Nya: “Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad) sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah” (al-Fath:10) Dan perjanjian Aqabah disebutkan di kitab-kitab sirah. Ayat ini mempunyai hubungan dengan firman Allah: “Tepatilah akad-akad” (al-Maidah:1) (ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”) Yakni ketika kalian mengatakan hal ini maka kalian berarti telah mengambil perjanjian dengan Allah. (sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati) Yakni apa yang disembunyikan dalam hati.
Tafsir Ash-Shaghir
Ingatlah nikmat Allah kepada kalian dan perjanjianNya} JanjiNya {yang telah Dia ikatkan kepada kalian} mengikatkan janji kepada kalian {ketika kalian mengatakan, “Kami mendengar dan kami menaati.” Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati
Tafsir Hidayatul
Surat Al-Ma’idah ayat 7: Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya mengingat nikmat-nikmat-Nya, baik nikmat agama maupun nikmat dunia; dengan hati maupun lisan mereka. Hal itu, karena dengan sering mengingatnya dapat mendorong untuk bersyukur kepada Allah Ta'ala dan mencintai-Nya dan hati merasakan ihsan-Nya. Bahkan manfaatnya pula adalah menghindarkan rasa ujub (bangga) terhadap diri dan menambah karunia Allah dan ihsan-Nya. Berupa agama Islam. Perjanjian itu adalah perjanjian akan mendengar dan mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam setiap keadaan; yang diikrarkan sewaktu bai'at. Namun di antara ulama ada yang menafsirkan perjanjian di sini, bukan mengucapkan dan melafazkan janji, tetapi maksudnya dengan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka telah mengharuskan diri mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan ini mencakup ketaatan kepada syari'at Islam baik yang nampak (di lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (dalam hati), dan dalam melakukannya kaum mukmin hendaknya mengingat perjanjian itu agar berusaha mengerjakannya secara sempurna. Dalam perjanjian itu dan jangan melanggarnya atau dalam semua keadaanmu. Oleh karena itu, berhati-hatilah memiliki keinginan yang tidak diridhainya, dan isilah hati kamu dengan mengenal-Nya, mencintai-Nya dan memiliki sikap nashihah (tulus) kepada hamba-hamba Alllah agar kesalahanmu diampuni dan kebaikanmu dilipatgandakan karena Dia mengetahui kesalihan hatimu.