Surah Al-Furqan : Ayat 73
وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا۟ عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

"Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta."

Tafsir Ringkas Kemenag
Dan sifat 'ib'durrahm'n berikutnya adalah orang-orang yang apabila diberi peringatan oleh Allah atau nabi-Nya dengan ayat-ayat tuhan mere-ka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta, tapi mereka mendengar peringatan tersebut dengan penuh perhatian dan sikap yang penuh kepedulian. 74. Dan sifat 'ib'durrahm'n berikutnya adalah orang-orang yang berkata yakni memanjatkan doa, 'ya tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami yang menjadi pendamping kami dalam melaksanakan kehidupan ini dan anugerahkanlah juga kepada keturunan kami yang akan melanjutkan kehidupan diri kami sebagai penyenang hati kami, karena perbuatan mulia mereka, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin dan panutan bagi orang-orang lain yang bertakwa. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 72-74 Ini juga merupakan sebagian dan sifat-sifat hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, yaitu bahwa mereka tidak pernah memberikan kesaksian palsu. Dikatakan bahwa yang dimaksud adalah kemusyrikan dan menyembah berhala. Dikatakan juga berdusta, berbuat fasik, ingkar, bebuat sia-sia, dan berbuat bathil. Umar bin Qais berkata yaitu majelis =kejahatan dan kefasikan. Dikatakan bahwa makna firman Allah SWT: (yang tidak memberikan persaksian palsu) yaitu kesaksian palsu yaitu berdusta untuk mencelakakan orang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Bakrah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang dosa yang paling besar?”, sebanyak tiga kali. Lalu kami menjawab,"Iya, Wahai Rasulullah” Rasulullah SAW bersabda,"Menyekutukan Allah dan menyakiti kedua orang tua” Pada mulanya beliau bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda,"Ingatlah, ucapan dusta, ingatlah kesaksian palsu!" Rasulullah SAW mengulang-ulangnya, sehingga kami berkata bahwa seandainya beliau diam. Makna yang tampak dengan konteks ayat ini bahwa makna yang tidak memberikan kesaksian palsu adalah tidak melakukannya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui dengan menjaga kehormatan dirinya) yaitu mereka tidak melakukannya, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang melakukannya , maka mereka melewatinya saja dan tidak mau mengotori dirinya dengan sesuatupun dari hal itu. Oleh karena itu Allah berfirman: (mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya) Firman Allah SWT: (Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta (73)) Ini merupakan salah satu dari sifat orang-orang mukmin (mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal) (Surah Al-Anfal: 2) Berbeda dengan orang kafir, karena sesungguhnya apabila dia mendengar kalam Allah, maka tidak akan ada pengaruh dalam dirinya dan tidak ada perubahan dari apa yang sebelumnya dia lakukan, bahkan dia tetap pada kekafiran, kesesatan, kebodohan, dan tindakan melampaui batas. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, "Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedangkan mereka merasa gembira. (124) Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada)) (Surah At-Taubah:124, 125) Firman Allah: (mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta) yaitu berbeda dengan orang kafir yang apabila mendengar ayat-ayat Allah, maka dirinya tidak terpengaruh, bahkan tetap dalam keadaannya, seakan-akan tidak mendengarnya karena tuli dan buta. Mujahid berkata tentang firmanNya: (mereka tidak menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta) yaitu, mereka tidak mendengarkannya, melihatnya, dan mengerti akan sesuatu pun darinya. Qatadah berkata tentang firmanNya: (Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta (73)) dia berkata yaitu mereka tidak tuli terhadap kebenaran dan tidak buta terhadap­nya; mereka (demi Allah) adalah kaum yang memikirkan kebenaran dan mendapatkan manfaat dari apa yang mereka dengar dari kitabNya. Firman Allah SWT: (Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai menyenangkan hati (kami)) yaitu mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Allah agar dikeluarkan dari tulang sulbi mereka dari keturunan yang taat dan menyembah­ hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Ibnu Abbas berkata bahwa mereka mengerjakan ketaatan kepada Allah sehingga hati mereka menjadi sejuk baik di dunia maupun akhirat. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa mereka memohon kepada Allah SWT agar Dia memberikan petunjuk kepada istri-istri dan keturunan mereka untuk memeluk agama Islam. Firman Allah SWT: (dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa) Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud adalah para pemimpin yang mengikuti kami dalam kebaikan.
Tafsir As-Sa'di
73 “dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka,” yang mana Dia memerintahkan kepada mereka untuk mendengarnya dan menjadikannya sebagai pedoman, “mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta,” maksudnya, mereka tidak meresponnya dengan sikap berpaling darinya, bersikap tuli untuk mendengarnya dan mengalihkan perhatian dan hrti drainya, seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman dan tidak membenarkannya. Sesungguhnya sikap mereka di saat mendengarnya adalah seperti yang difirmankan oleh Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan aayat-ayat (kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri,” (as-sajdah:15) Mereka meresponnya dengan menerima ayat-ayat itu, rasa membutuhkannya, tunduk dan patuh kepadanya. Anda akan menjumpai mereka memiliki telinga yang peka dan hati yang sensitive, hingga iman mereka bertambah karenanya, makin sempurna keyakinannya karennaya, menimbulkan semangat pada diri mereka, dan mereka sangat riang dan berbahagia karenanya.
Tafsir Al-Wajiz
73. Dan orang-orang yang apabila diberi nasehat dengan Al-Qur’an, maka mereka menyambutnya dengan mendengarkan, memperhatikan, mengambil manfaat, dan tidak menolaknya.
Tafsir Al-Muyassar
Dan juga orang-orang yang apabila mereka diberi nasihat dengan ayat-ayat al-Qur’an dan bukti-bukti keesaan Allah, mereka tidak melalaikannya layaknya orang tuli yang tidak dapat mendengarnya dan orang buta yang tidak melihatnya. Bahkan sebaliknya, hati mereka memahaminya dengan jeli dan mata hati mereka terbuka untuknya, kemudian mereka menyungkur kepada Allah dengan bersujud lagi taat.
Tafsir Al-Madinah
73. Dan jika disebutkan ayat-ayat al-Qur’an kepada mereka maka mereka akan menyambutnya dengan antusias dan penuh penghayatan, dan tidak berpaling darinya.
Tafsir Al-Mukhtashar
73. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Allah yang didengar ataupun dipandang, mereka tidaklah menutup telinga mereka dari mendengar ayat-ayat yang didengar tersebut, dan tidak pula menutup mata mereka dari ayat-ayat yang dipandang tersebut.
Tafsir Zubdatut
73. (Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka) Yakni dengan al-Qur’an. (mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta) Namun mereka menyambutnya dengan pendengaran dan penglihatan mereka serta mengambil manfaat darinya.
Tafsir Li Yaddabbaru
Ibnu al-'Arabi berkata : para ulama kita berkata : yaitu : orang-orang yang ketika mereka membaca al-Qur'an; mereka membacanya dengan hati bacaan yang memahami dan meyakini, tidak sekedar bacaan lewat; karena membaca al-Qur'an seperti itu tanpa berusaha untuk memahami dan meyakini makna-maknanya adalah kebutaan dan ketulian dari mencermati ancaman dan janji Allah.
Tafsir Ash-Shaghir
{Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta} tidak menunjukkan bahwa mereka lalai sehingga seakan-akan mereka itu tuli sehingga tidak bisa mendengar, dan buta sehingga tidak bisa melihat
Tafsir Hidayatul
Surat Al-Furqan ayat 73: Mereka tidak menghadapinya dengan berpaling; tuli dari mendengarnya serta memalingkan pandangan dan perhatian darinya sebagaimana yang dilakukan orang yang tidak beriman dan tidak membenarkan, akan tetapi keadaan mereka ketika mendengarnya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.”(Terj. As Sajdah: 15) Mereka menghadapinya dengan sikap menerima, butuh dan tunduk. Telinga mereka mendengarkan dan hati mereka siap menampung sehingga bertambahlah keimanan mereka dan semakin sempurna keimanannya serta timbul rasa semangat dan senang.