Surah Fussilat : Ayat 8
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”."
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah menggambarkan ancaman bagi orang-orang musyrik mekah, Al-Qur'an mengalihkan perhatian kepada orang-orang beriman. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan tulus ikhlas dan yang membuktikan iman mereka dengan mengerjakan kebajikan dan ber-amal saleh, mereka mendapat anugerah pahala yang sangat besar serta dilimpahi rezeki yang tidak ada putus-putusnya. '9. Penggambaran sikap orang-orang musyrik mekah yang memper-sekutukan Allah dan menolak keniscayaan hari kiamat merupakan sikap yang tidak pantas untuk dilakukan terhadap sang pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, nabi Muhammad diperintahkan untuk memberikan peringatan keras terhadap orang-orang musyrik mekah itu dan orang-orang yang bersikap sama dengan mereka. Katakanlah wahai nabi Muhammad, 'pantaskah kamu ingkar kepada Allah, tuhan yang menciptakan planet bumi dalam dua masa, dan pada waktu yang sama kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya' Allah yang maha esa itulah tuhan pencipta dan pemelihara seluruh alam. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 6-8 Allah SWT berfirman: (Katakanlah) wahai Muhammad, kepada orang-orang yang mendustakan dan musyrik (Bahwa aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa) tidak seperti berhala-berhala, sekutu-sekutu, dan tuhan-tuhan yang berbeda-beda. Sesungguhnya yang wajib disembah itu hanya Allah Tuhan Yang Maha Esa (maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya) yaitu murnikanlah penyembahanmu itu hanya kepadaNya sesuai dengan apa yang Dia perintahkan kepada kalian melalui lisan para rasul (dan mohonlah ampun kepada-Nya) untuk dosa-dosamu di masa lalu (Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya)) yaitu kebinasaan dan kehancuran bagi mereka ((yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Demikian juga yang dikatakan Ikrimah. Ini sebagaimana firmanNya SWT: (sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10)) (Surah Asy-Syams) dan (Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) (14) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat (15)) (Surah Al-A'la) serta (dan katakanlah (kepada Fir'aun),"Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" (18)) (Surah An-Nazi'at) Makna yang dimaksud dengan zakat di sini adalah kesucian jiwa dari akhlak yang tercela, dan yang terpenting darinya adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan. Sesungguhnya zakat harta itu dinamakan zakat karena dia membersihkan harta dari keharaman, dan akan menjadi penyebab bagi bertambahnya berkah dan banyaknya manfaat serta menjadi pendorong untuk menggunakannya kepada ketaatan. As-Suddi berkata tentang firmanNya: (Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menyekutukan(Nya) (6) (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat) yaitu tidak menunaikan zakat. Qatadah berkata bahwa mereka menolak mengeluarkan zakat harta mereka. Inilah makna yang tampak di sisi kebanyakan para mufasir, dan dipilih Ibnu Jarir. Tetapi di dalamnya masih perlu ditinjau, karena sesungguhnya kewajiban zakat itu hanya baru ditetapkan sejak tahun kedua Hijriyah, berdasarkan keterangan apa yang disebutkan oleh banyak orang. Ini adalah ayat Makkiyyah, kecuali jika dikatakan bahwa tidaklah mustahil jika hukum asal sedekah dan zakat diperintahkan sejak permulaan pengutusan, sebagaimana firmanNya: (dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)) (Surah Al-An'am: 141) Adapun terkait zakat yang mempunyai nishab dan takaran, karena sesungguhnya dia hanya dijelaskan perkaranya ketika di Madinah. Jadi pendapat ini menggabungkan antara dua pendapat sebagaimana bahwa shalat itu asalnya itu diwajibkan sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, dalam permulaan pengutusannya. Ketika Isra’ Mi’raj itu satu tahun setengah sebelum hijrah, Allah SWT mewajibkan kepada RasulNya SAW shalat lima waktu, dan merincikan persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal yang berkaitan dengannya setelah itu tahap demi tahap, hanya Allah yang lebih Mengetahui. Kemudian Allah SWT berfirman setelah itu: (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya (8)) Mujahid dan lainnya berkata bahwa makna yang dimaksud adalah tidak putus dan tidak berhenti. sebagaimana firmanNya SWT: (mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya (3)) (Surah Al-Kahfi) dan (sebagai karunia yang tiada putus-putusnya) (Surah Hud: 108)
Tafsir As-Sa'di
8. setelah menjelaskan orang-oang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman,”sesungguhnya orang-orang yang beriman,” kepada kitab al-qur’an ini dan apa-apa yang dikandungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka membenarkan iman yang diserukan kepadanya, dan mereka membenarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah), “mereka mendapat pahala” yang sangat besar “yang tiada putus-putusnya,” yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu tumbuh sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Tafsir Al-Wajiz
8. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya serta beramal shalih, bagi mereka itu pahala yang tiada putusnya dan tidak pernah dibayangkan.
Tafsir Al-Muyassar
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah, RasulNya, kitabNya dan melakukan amal-amal shalih dengan ikhlas dalam melakukannya, bagi mereka pahala besar yang tidak terputus dan tidak terhalangi.”
Tafsir Al-Madinah
8. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikrarkan keesaan-Nya serta menjalankan ketaatan, maka mereka akan mendapat pahala yang besar tanpa dikurangi sedikitpun dan tanpa terputus.
Tafsir Al-Mukhtashar
8. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, melakukan amal-amal saleh, bagi mereka pahala abadi tidak terputus, yaitu Surga.
Tafsir Zubdatut
8. (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”) Yakni mendapat pahala yang tidak terputus. Pendapat lain mengatakan makna ayat ini adalah bahwa mereka tidak dikaruniai pahala mereka, sebab karunia berasal dari kemurahan pemberi karunia, sedangkan pahala adalah hak yang harus diberikan.
Tafsir Ash-Shaghir
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka itu pahala yang tidak ada putus-putusnya”} tanpa terputus dan dikurangi
Tafsir Hidayatul
Setelah Allah menyebutkan orang-orang kafir, maka Dia menyebutkan orang-orang mukmin, menyifati mereka dan menyebutkan balasan yang akan diberikan untuk mereka. Yakni kepada kitab ini (Al Qur’an) dan kepada semua yang wajib diimani yang diserukan oleh kitab tersebut. Mereka juga membenarkannya dengan amal saleh yang mencakup ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti rasul). Yakni yang tidak habis-habisnya, bahkan tetap terus sepanjang waktu, bertambah di setiap saat dan menghimpun semua kesenangan dan kenikmatan.
Tafsir An-Nafahat
Surat Fussilat ayat 8: (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putusputusnya") tanpa henti-hentinya.