Surah At-Tin : Ayat 8
أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ

"Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?"

Tafsir Ringkas Kemenag
Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil' jangan kaukira Allah menciptakan manusia secara sia-sia dengan tidak memberinya perintah dan larangan. Allah telah menurunkan aturan syariat. Dia akan memberi putusan dengan adil; memberi pahala kepada orang yang taat dan menghukum orang yang bersalah. 1. Wahai nabi, bacalah apa yang Allah wahyukan kepadamu dengan terlebih dahulu menyebut nama tuhanmu yang menciptakan segala sesuatu dengan keesaan-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-8 (Demi buah Tin) Para mufasir berbeda pendapat di sini menjadi banyak pendapat Mujahid berkata yaitu pohon tin kalian ini. (dan buah Zaitun) Al-Ahbar, Ibnu Zaid, dan lainnya berkata bahwa itu nama sebuah masjid di Baitul Maqdis. Mujahid dan Ikrimah berkata bahwa maknanya adalah buah zaitun yang kalian peras ini (dan demi kota (Mekah) ini yang aman (3)) yaitu Makkah. Pendapat itu dikatakan Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan Ka'b Al-Ahbar; tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Firman Allah SWT: (sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (4)) Ini adalah subjek sumpahnya, yaitu bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk paling baik dan rupa paling sempurna, tegak jalannya dan sempurna, serta baik semua anggota tubuhnya. (Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (5)) yaitu neraka. Pendapat itu dikatakan Mujahid, Abu Al-’Aliyah, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan lainnya. Kemudian setelah penciptaan yang paling baik dan paling indah itu, tempat kembalinya adalah ke neraka, jika tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti para rasul. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh) Sebagian mereka beroendapat tentang firmanNya: (Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (5)) yaitu kepada usia paling hina. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan Ikrimah. Ibnu Jarir memilih pendapat ini. Seandainya hal itulah yang dimaksud, maka tidaklah menjadi indah pujian bagi orang-orang mukmin, mengingat sebagian dari mereka itu mengalami usia pikun. Dan sesungguhnya makna yang dimaksud hanya sebagaimana yang kami sebutkan, sebagaimana firmanNya: (Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (3)) (Surah Al-'Ashr) Firman Allah: (maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya) yaitu tidak ada habisnya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Kemudian Allah berfirman: (Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan) wahai anak cucu Adam ((hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?) yaitu, pembalasan di hari kebangkitan. Sesungguhnya kamu mengetahui permulaan kejadianmu dan telah mengetahui bahwa Tuhan yang mampu memulai penciptaan itu juga mampu untuk mengembalikannya jadi hidup dengan lebih mudah. Maka apakah yang mendorongmu mendustakan adanya hari kebangkitan, padahal kamu telah mengetahui hal itu? Diriwayatkan dari Manshur, dia berkata, “Aku bertanya kepada Mujahid tentang firmanNya: (Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? (7)) Apakah yang dimaksud adalah Nabi SAW? Mujahid menjawab, "Aku berlindung kepada Allah, yang dimaksud adalah manusia" Demikian juga dikatakan Ikrimah dan lainnya. Firman Allah SWT (Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (8)) yaitu bukankah Dia Hakim yang paling adil, yang tidak melampaui batas dan tidak berbuat aniaya terhadap seseorang pun? termasuk dari sifat adilNya ialah Dia mengadakan hari kiamat, lalu orang yang dizalimu di dunia dapat membalas orang menzaliminya.
Tafsir As-Sa'di
7-8. “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?” yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak mengkufurinya sedikit pun. “Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?” lantas patutkah hikmahNya mengharuskanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Tafsir Al-Wajiz
8. Bukankah Allah adalah seadil-adil Hakim dalam menentukan, mengadili dan menata (sesuatu)? Tirmidzi mengatakan dari Abu Hurairah yang memberi anjuran: “Jika salah satu kalian membaca {Wat Tiini waz Zaitun} dan sampai pada ayat terakhir {Alaisallaahu bi Ahkamil haakimin} maka selayaknya dia mengucapkan “Balaa, wa ana ‘ala dzalika minasy syahidiin” (benar, dan atas hal itu aku termasuk orang-orang yang bersaksi)”
Tafsir Al-Muyassar
Bukankah Allah yang menetapkan hari tersebut sebagai hari penetapan keputusan diantara manusia dengan pemberian keputusan hukum yang paling bijaksana dalam segala apa yang dia ciptakan? tentu,apakah manusia dibiarkan begitu saja,tidak diperintah dan tidak dilarang,tidak diberi pahala dan tidak dihukum? hal itu tidak benar dan tidak mungkin.
Tafsir Al-Madinah
8. Sungguh Allah adalah sebaik-baik yang menetapkan dan mengatur segala hal.
Tafsir Al-Mukhtashar
8. Bukankah Allah -dengan menjadikan hari Kiamat sebagai Hari Pembalasan- adalah Hakim yang paling bijaksana dan paling adil? Apakah masuk akal bahwa Allah meninggalkan hamba-hamba-Nya begitu saja tanpa mengadili di antara mereka, dengan membalas orang yang baik karena kebaikannya dan membalas orang jahat karena kejahatannya?
Tafsir Zubdatut
8. (Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?) Yakni paling bijaksana dan paling adil dalam memutuskan perkara. Karena Dia telah membaguskan penciptaan manusia, kemudia Dia akan menghempaskan orang kafir ke dalam kerak neraka, dan Dia akan mengangkat derajat orang beriman.
Tafsir Li Yaddabbaru
1 ) . Ayat ini merupakan sebuah ketetapan yang terkandung dalam surah ini, seperti pembuktian kenabian Muhammad, juga pembuktian Tauhid, dan pembuktian bahwa hari berbangkit itu nyata, dan ketetapan-Nya yang mencakup perlindungan-Nya kepada Rasul-Nya dari orang-orang yang mendustakannya adalah dengan hujjah yang nyata dihadapan mereka. 2 ) . Apakah termasuk hikmah bahwa Allah menciptakan manusia begitu saja tanpa ada perintah dan larangan ( syari'at ) yang ditetapkan kepada mereka, dan tidak pula mereka mendapat balasan atau azab dari apa yang mereka kerjakan ? ataukah sang pencipta yang telah menciptakan manusia dengan beberapa tingkatan, dan telah melimpahkan kepada mereka kenikmatan dan berbagai kebaikan yang tidak mampu dihitung oleh mereka harus mengembalikan mereka ketempat tinggal yang menjadi tujuan yang sebenarnya ?!
Tafsir Ash-Shaghir
Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil}
Tafsir Hidayatul
Yakni bukankah hikmah (kebijaksanaan)-Nya menghendaki untuk tidak membiarkan makhluk ciptaan-Nya begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang serta tanpa diberikan balasan? Bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menciptakan manusia secara bertahap dan mengirimkan berbagai kenikmatan yang tidak dapat mereka jumlahkan serta mengurus mereka dengan pengurusan yang sebaik-baiknya pasti akan mengembalikan mereka ke tempat terakhir mereka menetap? Dan bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala hakim yang paling adil dan tidak pernah berbuat zalim kepada seorang pun? Ya, benar kami menjadi saksi terhadap hal itu.
Tafsir An-Nafahat
Surat At-Tin ayat 8: Allah tutup surat ini dengan pertanyaan yang menjelaskan bahwa Ia yang menentukan hukum dan yang menghukumi dan yang adil dan mengadili. Dan kami katakana : Benar, kami sungguh menjadi saksi, dan dengan adanya urusan yang demikian bukankah sudah menjadi kewajiban (manusia) ikhlas beribadah kepada-Nya saja dan mengikuti Rasul-Nya ﷺ ?