Surah Al-An'am : Ayat 82
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Tafsir Ringkas Kemenag
Karena sama sekali tidak ada jawaban dari kaum nabi ibrahim yang durhaka tersebut, akhirnya nabi ibrahim sendiri menegaskan sebuah prinsip penting bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah yang maha esa dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, yakni syirik (lihat: surah luqma'n/31: 13), mereka itulah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang mendapat rasa aman dari Allah yang mereka sembah, dan mereka mendapat petunjuk secara sempurna. Atas semua argumen yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya, Allah pun menegaskan sebagai berikut. Dan itulah keterangan kami yang kami berikan dan ajarkan melalui malaikat dan atau kami ilhamkan kepada ibrahim untuk menghadapi kaumnya agar dia dapat mengatasi dan mengalahkan mereka. Kami tinggikan derajat siapa yang kami kehendaki dari hamba-hamba kami yang taat, sebagaimana nabi ibrahim yang telah kami tinggikan derajatnya agar menjadi teladan bagi manusia. Sesungguhnya tuhanmu mahabijaksana, maha mengetahui atas segala sesuatu.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 80-83 Allah SWT berfirman memberitahukan tentang nabi Ibrahim ketika dia dibantah oleh kaumnya tentang apa yang dia sampaikan berupa mengesakan Allah. Lalu dia menjawab mereka dengan jawaban yang serupa, bahwa dia berkata: (Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku?) yaitu kalian mendebatku tentang prekara Allah, bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, dan Dia telah memperlihatkan kepadaku dan memberikan petunjuk kepada kebenaran. Aku berada pada sesuatu yang jelas dariNya. Jadi bagaimaana aku mau memilih ucapan kalian yang rusak dan pendapat kalian yang bathil? Firman Allah: (Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kalian persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhan menghendaki sesuatu) yaitu dari dalil yang menunjukkan kebathilan ucapan kalian bahwa tuhan-tuhan yang kalian sembah itu tidak memberikan dampak apapun dan aku tidak takut dan tidak mempedulikannya. Jika hal itu mempunyai tipu muslihat, maka lakukanlah tipu muslihat itu kepadaku, jadi janganlah kamu tangguhkan tapi segerakanlah hal itu. Firman Allah: (Kaum 'Ad berkata: "Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu (53) Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu". Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (54) dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku (55) Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya) (Surah Hud) Firman Allah: (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kalian persekutukan (dengan Allah)) yaitu bagaimana mungkin aku takut kepada berhala-berhala yang kalian sembah selain dari Allah itu (padahal kalian tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepada kalian untuk mempersekutukan-Nya) Ibnu Abbas dan ulama’ salaf lainnya berkata bahwa maknanya adalah hujjah. Demikian juga seperti firmanNya: (Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?) (Surah Asy-Syura: 21) dan (Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah )nya) (Surah An-Najm: 23) Firman Allah: (Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka) jika kalian mengetahui) yaitu manakah di antara dua kelompok itu yang paling benar, yaitu orang yang menyembah Dzat yang di kekuasaanNya ada mudharat dan manfaat, ataukah orang yang menyembah sesuatu yang tidak memberikan mudharat dan manfaat tanpa dalil? Manakah antara keduanya yang lebih berhak mendapat keamanan dari azab Allah pada hari kiamat. Allah SWT berfirman: (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik (82)) yaitu mereka adalah orang-orang yang ikhlas dalam menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan mereka tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Mereka adalah orang-orang yang aman pada hari kiamat, dan mendapat petunjuk di dunia dan akhirat. Imam Bukhari berkata dari Abdullah, dia berkata,”Ketika ayat ini turun: (dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman) lalu para sahabat beliau berkata,"Siapakah di antara kita yang tidak menzalimi diri sendiri?" Lalu turunlah ayat: (Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar) (Surah Luqman: 13) Firman Allah: (Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya) yaitu, Kami mengarahkan hujjahnya kepada kaumnya. Mujahid dan lainnya, berkata makna dari firmanNya: (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui (81)) Allah telah membenarkannya dan menentukan baginya akan mendapat keamanan dan petunjuk. Dia berfirman: (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (82)) Kemudian Allah SWT berfirman setelah kesemuanya itu: (Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat) Firman Allah (Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui) yaitu Maha Bijaksana dalam firman dan perbuatanNya, lagi Maha Mengetahui siapa yang akan Dia beri petunjuk dan siapa yang akan Dia sesatkan bahkan jika telah disampaikan kepadanya hujjah dan bukti-bukti. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman (96) meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih (97)) (Surah Yunus: 96-97) Oleh karena itu Dia berfirman di sini: (Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui)
Tafsir As-Sa'di
82. Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada kedua kelompok, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, namun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun kesempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
Tafsir Al-Wajiz
82 Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman syirik, mereka itulah yang berhak mendapat keamanan dan terbebas dari azab di akhirat dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk kebenaran. Ayat ini turun untuk seorang musuh yang membunuh dua orang muslim, kemudian dia berkata: apakah Islam ada manfaatnya bagiku? Nabi menjawab: Iya, kemudian tiga temannya terbunuh, kemudian dia pun terbunuh. Sehingga turunlah ayat ini.
Tafsir Al-Muyassar
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan melaksanakan syariatNya dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang akan mendapatkan ketenangan dan keselamatan, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh taufik menuju jalan yang haq.
Tafsir Al-Madinah
82. Dalam ayat ini disebutkan jawaban dari Allah atas pertanyaan nabi Ibrahim yang diberikan kepada orang-orang musyrik ketika terjadi perdebatan, Dia berfirman: orang-orang yang beriman kepada Allah dan tidak mencampur keimanan mereka dengan kesyirikan, maka mereka akan mendapat keamanan di dunia dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan teguh di atas kebenaran. Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, ketika turun ayat: Para sahabat berkata: "Namun siapa dari kita yang tidak pernah berbuat zalim?" Maka turunlah ayat: (Shahih Bukhari 8/ 144 no. 4629, kitab at-tafsir, surat al-an'am)
Tafsir Al-Mukhtashar
82. Hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti syariat-Nya, serta tidak mencampur iman mereka dengan syirik sajalah yang akan mendapatkan kedamaian dan keselamatan, bukan golongan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan bimbingan. Mereka dibimbing oleh Rabb mereka ke jalan yang benar.
Tafsir Zubdatut
82. (Orang-orang yang beriman) Yakni mereka adalah orang-orang yang lebih berhak mendapat keamanan daripada orang-orang musyrik. (dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman) Yakni yang tidak mencampurnya dengan kezaliman. Dan yang dimaksud dengan kezaliman disini adalah kesyirikan, karena syirik merupakan perbuatan menjadikan peribadatan untuk yang berhak diibadahi; sedangkan makna zalim adalah menolak memberikan hak kepada yang berhak dan memberikannya kepada yang tidak berhak. Ibnu mas’ud berkata: ketika ayat ini diturunkan para sahabat Rasulullah merasa berat, lalu mereka berkata kepadanya: “siapa yang mampu untuk tidak menzalimi dirinya?”. Maka rasulullah menjawab: “ayat ini tidak seperti apa yang kalian bayangkan, tetapi ayat ini sebagaimana yang Lukman al-hakim katakan: Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah, karena kesyirikan sungguh adalah kezaliman yang besar.”
Tafsir Li Yaddabbaru
Dalam ayat ini disebutkan kata : { } dan di ayat lain Allah mengatakan : { } dan kedua kata ini memiliki makna yang sama namun sedikit ada perbedaan, yaitu : : adalah kedamaian yang tidak disertai sebab munculnya ketakutan, sebagaimana Allah berfirman : { } "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Sedangkan : : adalah kedamaian yang disertai adanya sebab munculnya rasa takut, sebagaimana firman Allah { } "(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu" [ Al-Anfal : 11 ].
Tafsir Ash-Shaghir
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur} mencampur {iman mereka dengan kezaliman} kemusyrikan {merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk
Tafsir Hidayatul
Surat Al-An’am ayat 82: Di ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyelesaikan perselisihan antara Nabi Ibrahim 'alaihis salam dengan kaumnya. Dari azab dan kesengsaraan. Ke jalan yang lurus. Jika seseorang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman secara mutlak; baik dengan syirk maupun maksiat, maka mereka memperoleh keamanan dan hidayah yang sempurna, namun jika mereka hanya tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirkan, tetapi mereka mengerjakan perbuatan maksiat, maka mereka memiliki asal (dasar) hidayah dan asal keamanan. Ayat ini juga menunjukkan, bahwa barang siapa yang berbuat syirk ditambah lagi dengan kemaksiatan, maka ia tidak memperoleh hidayah maupun keamanan, bahkan yang mereka peroleh adalah kesesatan dan kesengsaraan.