Indikator 16: Seleksi, Memilih
Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, dan orang-orang yang berhijrah meninggalkan negeri dan keluarganya untuk menegakkan agama Allah dan berjihad di jalan Allah dengan memerangi orang-orang musyrik, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat dan ganjaran Allah. Allah maha pengampun kepada orang-orang yang beriman, lagi maha penyayang. Mereka menanyakan kepadamu, wahai nabi, tentang khamar, yaitu semua minuman yang memabukkan, dan berjudi. Pertanyaan itu muncul antara lain karena di antara rampasan perang yang diperoleh pasukan pimpinan abdulla'h bin jahsy seperti disinggung pada ayat 217 terdapat minuman keras. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa, yakni mudarat yang besar. Keduanya menimbulkan permusuhan dan menyebabkan kaum muslim melupakan Allah dan enggan menunaikan salat. Dan keduanya juga mengandung beberapa manfaat bagi manusia, seperti keuntungan dari perdagangan khamar, kehangatan badan bagi peminumnya, memperoleh harta tanpa susah payah bagi pemenang dalam perjudian, dan beberapa manfaat yang diperoleh fakir miskin dari perjudian pada zaman jahiliah. Tetapi dosanya, yakni mudarat yang ditimbulkan oleh khamar dan judi, lebih besar daripada manfaatnya. Khamar diharamkan dalam islam secara berangsur. Ayat ini menyatakan bahwa minum khamar dan berjudi adalah dosa dengan penjelasan bahwa pada keduanya terdapat manfaat, tetapi mudaratnya lebih besar daripada manfaat itu. Surah an-nisa''/4: 43 dengan tegas melarang minum khamar, tetapi terbatas pada waktu menjelang salat. Surah al-ma''idah/5: 90 dengan tegas mengharamkan khamar, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dan menyatakan bahwa semuanya adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan yang harus dijauhi selamanya oleh orang-orang beriman. Bagian akhir ayat ini menjelaskan ketentuan menafkahkan harta di jalan Allah. Dan mereka menanyakan kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan di jalan Allah. Katakanlah, kelebihan dari apa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan diri dan kebutuhan keluarga. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 217-218 "Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Jundub bin Abdullah bahwa Rasulullah SAW mengutus sekelompok pasukan, dan dia mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah atau Abu Ubaidah bin Al-Harits untuk memimpin mereka. Ketika pasukan tersebut berangkat, dia menangis dengan sedih menuju Rasulullah SAW lalu duduk. Lalu Rasulullah mengutus Abdullah bin Jahsh untuk menggantikan posisinya dan memberinya sebuah surat, serta memerintahkan agar surat tersebut tidak dibacakan sampai dia mencapai lokasi tertentu. Rasulullah bersabda, “Janganlah memaksa siapapun dari para sahabat untuk berjalan bersamamu“ Ketika dia membaca surat tersebut, Abdullah bin Jahsh pun kembali berkata,”Saya mendengar dan taat kepada Allah dan RasulNya” dan memberitahu dan membacakan surat tersebut kepada mereka. Kemudian dua orang pria berangkat, sementara yang lain tetap tinggal. Mereka bertemu dengan Ibnu Al-Hadrami dan membunuhnya. Mereka tidak mengetahui bahwa hari itu adalah bulan Rajab atau bulan Jumadal Ula atau Tsaniyah, lalu orang-orang musyrik berkata kepada orang-orang muslim, “Kalian membunuh di dalam bulan haram.” Lalu Allah menurunkan firmanNya, (Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar) Firman Allah (Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh) yaitu jika kalian membunuh pada bulan haram, maka sungguh mereka telah menghalangi kalian dari jalan Allah dengan kekufuran mereka dan menghalangi dari Masjidil Haram, serta mengusir kalian dari negeri kalian padahal kalian adalah penduduk negeri itu, itu (lebih besar (dosanya) di sisi Allah) daripada penyerangan kalian terdadap orang-orang yang memerangi kalian dari golongan mereka (Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh) yaitu mereka telah memfitnah orang muslim tentang agamanya, sampai dia kembali kepada kekufuran setelah mereka beriman, dan itu lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan. (Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup) kemudian mereka tetap melakukan perilaku yang paling buruk itu dan lebih parahnya mereka tidak bertaubat dan tidak mau meninggalkan hal itu. Ibnu Hisyam berkata, yaitu harta rampasan pertama yang didapatkan orang-orang muslim, dan Amr bin Al-Hadrami adalah orang pertama yang dibunuh oleh orang muslim. Sedangkan Usman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan adalah orang pertama yang ditawan oleh orang-orang muslim."
Tafsir As-Sa'di
Buka
218. Amalan-amalan yang 3 tersebut merupakan tanda-tanda kebahagiaan dan poros utama penghambaan. Dengan semua itu dapat diketahui keuntungan dan kerugian yang diderita seorang manusia. Adapun tentang keimanan, maka tidaklah perlu Anda bertanya lagi tentang keutamaannya, dan bagaimana menanyakan suatu hal yang merupakan pembeda antara orang-orang yang bahagia dari orang-orang yang sengsara? demikian juga pembeda antara penghuni surga dan penghuni neraka. Dan iman itulah yang apabila ada pada seorang hamba, niscaya amalan kebaikannya diterima, dan bila tidak ada, niscaya tidak akan diterima dari tindakan, keadilan, kewajiban, dan Sunnah. Hijrah adalah meninggalkan orang-orang yang dicintai dan disayangi hanya untuk mencari ridho Allah. Maka seorang yang berhijrah meninggalkan negeri, harta, keluarga, dan teman sejawatnya sebagai suatu pendekatan diri kepada Allah dan pembelaan terhadap agamaNya. Jihad adalah mengerahkan upaya dalam memerangi musuh, dan usaha yang maksimal dalam membela agama Allah dan memberantas ajaran setan. Jihad itu adalah puncak dari segala amal sholeh dan balasannya adalah balasan yang paling utama, dan sebab paling dominan untuk memperluas negeri Islam, menghinakan hamba-hamba berhala, menciptakan keamanan bagi kaum muslimin pada diri, harta, dan anak-anak mereka. Barangsiapa yang menegakkan 3 perbuatan tersebut dengan menghadapi segala kesulitan dan rintangannya, maka perbuatan-perbuatan selainnya akan lebih ditegakkan dan disempurnakan. Karena itu pantaslah bagi mereka untuk menjadi orang-orang yang mengharap rahmat Allah, karena mereka telah melakukan sebab yang mengharuskan adanya rahmat bagi mereka. Disini terdapat dalil bahwasanya harapan itu tidaklah dilakukan kecuali setelah melakukan sebab-sebab kebahagiaan. Sedangkan harapan yang diiringi dengan sifat malas dan tidak melakukan sebab-sebabnya adalah merupakan kelemahan, angan-angan kosong dan bualan, dan itu menunjukkan lemahnya cita-cita pelakunya, kurangnya akal, sama seperti orang yang menghendaki seorang anak tanpa menikah, dan mengharapkan hasil panen tanpa menanam biji dan tidak menyiramnya, dan semacamnya. Dalam firman Allah, “mereka itu mengharapkan rahmat Allah,” terkandung sebuah isyarat bahwa seorang hamba itu walaupun telah banyak melakukan amal, tidaklah baik baginya hanya bersandar pada amal-amal tersebut dan hanya berpatokan padanya, namun seharusnya ia juga mengharap rahmat Allah, diterimanya amal amal tersebut, ampunan bagi dosa-dosanya, dan ditutupi aib dan kekurangannya. Karena Allah itu berfirman, “Dan Allah maha pengampun,” artinya, bagi yang bertaubat secara benar benar, “lagi maha penyayang.” RahmatNya luas melingkupi segala sesuatu, kedermawanan dan kebajikanNya menyeluruh kepada setiap makhluk hidup. Disini terdapat dalil bahwa orang yang mengerjakan amalan amalan tersebut akan memperoleh ampunan Allah. Karena kebaikan itu akan menghapus dosa-dosa dan ia mendapatkan rahmat dari Allah. Apabila ia telah mendapat ampunan, niscaya ia akan terhindar dari hukuman dunia dan akhirat yang merupakan manifestasi dari dosa-dosa yang telah diampuni, dan bekas-bekasnya tidak lenyap. Apabila ia memperoleh rahmat, maka ia telah memperoleh segala kebaikan di dunia maupun di akhirat, Bahkan amalan-amalan mereka tersebut juga merupakan rahmat Allah terhadap mereka. Karena kalau bukan karena Taufik Allah bagi malaikat dalam hal itu, niscaya mereka tidak akan menginginkannya, dan sekiranya bukan karena kemampuan dan diberikan Allah untuk mereka dalam melakukannya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, dan kalau bukan karena kebajikanNya, niscaya Dia tidak menyempurnakannya dan tidak menerimanya dari mereka. Karena itu, bagiNya segala keutamaan yang pertama dan yang terakhir, dan Dialah yang mengaruniakan sebab dan akibat Allah kemudian berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
Buka
218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepaa Allah dan rasulullah, dan berhijrah dari kekufuran menuju Islam, serta berjihad untuk meninggikan kalimat Allah maka bagi mereka itu rahmat Allah yang diberikan sebagai suatu kemuliaan dan keutamaan. Dan Allah itu Maha Pengampun, dan Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya. Ayat ini turun untuk pasukan Abdullah bin Jahsh yang membunuh Al-Hadramiy di bulan Rajab sebelum perang badar. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah kami bisa mendambakan pahala orang-orang yang berjihad melalui peperangan ini?” Lalu Allah SWT memberitahu mereka bahwa mereka itu sangat mendambakan pahala itu karena keimanan, hijrah dan jihad mereka
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya dan melaksanakan syariatnya, dan mereka meninggalkan kampung halaman mereka dan mereka berjihad di jalan Allah, mereka itu adalah orang-orang yang berharap besar memperoleh karunia Allah dan pahala Nya. Dan Allah maha pengampun terhadap dosa-dosa hamba-hamba Nya yang Mukmin, maha penyayang terhadap mereka dengan rahmat yang luas.
Tafsir Al-Madinah
Buka
218. Orang-orang beriman yang beramal shalih, meninggalkan keluarga dan tempat tinggalnya, dan berperang melawan musuh demi meninggikan kalimat Allah, mereka adalah orang-orang yang mendapat derajat yang tinggi yang mengharap pahala dan keutamaan dari Allah. Dan Allah Maha Mengampuni dosa hamba-hamba-Nya, dan Maha Menyayangi mereka.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, orang-orang yang meninggalkan kampung halaman mereka untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah setinggi-tingginya, mereka itu sangat mengharapkan rahmat dan ampunan dari Allah. Dan Allah Maha Pengampun atas dosa hamba-hamba-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
218. (orang-orang yang berhijrah) Yakni dari negeri kafir menuju negeri Islam. (mereka itu mengharapkan rahmat Allah) Ayat ini diturunkan untuk pasukan Abdullah bin Jahsy, yang mana mereka berkata kepada Rasulullah: apakah kami boleh mengharapkan diberi pahala para mujahidin dalam peperangan ini? Maka Allah memberi tahu mereka bahwa mereka mengharapkan pahala itu karena keimanan, hijrah, dan jihad mereka.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1 ). Seseorang yang mengharapkan sesuatu maka harapannya itu membutuhnya tiga perkara penting : cinta akan harapannya, dan takun akan terlewatkan dari harapannya, dan usahanya untuk meraih harapan itu sebisa mungkin, sedangkan harapan yang sama sekali tidak disandingkan satupun dari perkara tersebut maka sesungguhnya harapan itu sebatas mimpi, dan siapapun yang mengarapkan sesuatu ada perasaan takut dan khawatir dalam dirinya, sama halnya dengan orang yang berjalan diatas jalan ketika ia merasa takut akan mempercepat jalannya takut akan sesuatu yang ia harapkan terlewatkan. 2 ). Perhatikanlah bagaimana mereka menjadikan harapan mereka sebab datangnya ketaatan-ketaatan! karena harapan dan berbaik sangka akan terwujud dengan sebab-sebab yang disepakati oleh syari'at, maka seorang hamba hendaknya melaksanakan semua sebab-sebab itu baru kemudian berbaik sangka kepada tuhannya, dan mengharap agar tuhannya menjadikan sebab-sebab itu sebagai sarana datangnya manfaat bagi dirinya serta mengindarkan segala hal yang bertentangan dengan sebab-sebab itu. 3 ). Setelah Allah mensifati hamba-hamba Nya dengan sifat-sifat yang istimewa itu Dia berkata : { } "mereka itu mengharapkan" mereka itu hanyalah orang-orang yang berharap, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui nasib mereka apakah akan ke surga sekalipun mereka telah melakukan segala upaya untuk mencapainya. 4 ). Ibnu 'Utsaimin berkata : Jika ada yang mengatakan pada ayat yang agung ini : aku mengharap rahmat dari Allah dan aku takut akan azabnya, maka perlu dilihat : apakah dia termasuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini ? jika begitu maka dia benar, tetapi jika sebaliknya maka dia termasuk orang yang berangan-angan di hadapan Allah; karena sesungguhnya orang yang mengharap rahmat dari Allah hakikatnya dia harus berusaha dengan segala upaya untuk mencapainya seperti yang dijelaskan oleh ayat ini.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: { } Haajaru : Meninggalkan tempat tinggal karena takut tertimpa fitnah dan pemaksaan dalam agama Allah. Makna ayat: Adapun ayat 218 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah”, maka ayat ini turun mengenai Abdullah bin Jahsy dan rekan-rekannya. Allah Ta’ala menenangkan mereka dengan kabar bahwa mereka tidang menanggung dosa karena berperang di bulan haram, seperti anggapan buruk orang-orang kepada mereka. Mereka sejatinya mengharapkan rahmat Allah yaitu surga, dan Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan berkasih sayang kepada mereka. Hal itu berasal dari keimanan dan hijrahnya mereka serta jihadnya di jalan Allah. Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” Pelajaran dari ayat: • Penjelasan mengenai keutamaan beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Ketika sariyyah mengira bahwa jika mereka dihapuskan dari dosa, namun mereka tidak memperoleh pahala, maka turunlah ayat ini sebagai kabar gembira bagi mereka.. Iman, hijrah dan jihad merupakan tanda kebahagiaan, awalnya iman, dilanjutkan dengan hijrah kemudian jihad. Hal ini menunjukkan peningkatan yang besar pada diri seseorang. Ketiganya merupakan amal shalih yang sangat utama, oleh karena itu keburukan yang terjadi pada diri orangnya masih bisa dikalahkan oleh ketiga amalan ini. Adapun iman, maka kita tidak perlu menanyakan lagi tentang keutamaannya, bukankah ia merupakan pemisah antara orang-orang yang bahagia dengan orang-orang yang celaka. Dengan iman, amal baik seorang hamba akan diterima. Adapun hijrah, seseorang rela meninggalkan apa saja yang dicintainya karena mengharap ridha Allah, ia rela meninggalkan tanah air, harta, keluarga dan kawan-kawannya karena hendak mendekatkan diri kepada Allah dan membela agama-Nya. Sedangkan jihad, seseorang mengerahkan segala kemampuannya untuk memerangi musuh, berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan agama Allah dan menghancurkan agama setan. Jihad merupakan puncak amalan, balasan untuknya adalah balasan yang paling baik. Ia merupakan sebab utama memperluas wilayah Islam, merendahkan para penyembah patung dan dapat mengamankan kaum muslimin baik diri, harta maupun keluarga mereka dan tanah airnya. Yakni karunia Allah dan pahala-Nya. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sikap raja' (berharap) tidaklah dilakukan kecuali setelah mengerjakan sebab-sebab memperoleh keberuntungan. Adapun rajaa' yang diiringi sikap malas dan tidak mengerjakan sebab, maka hal ini merupakan kelemahan dan ghurur (tipuan). Hal itu menunjukkan lemahnya semangat yang ada pada diri sesesorang dan lemah akalnya. Tidak bedanya dengan orang orang yang ingin punya anak, tetapi tidak menikah atau menginginkan hasil dari tanahnya, namun tanahnya tidak ditaburi benih dan tidak disirami. Pada kata-kata " mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah" terdapat isyarat bahwa jika seorang hamba mengerjakan amalan apa pun bentuknya, jangan sampai bersandar dan bergantung kepada amalan itu, bahkan hendaknya ia mengharapkan rahmat Tuhannya, ia mengharap agar amalnya diterima, diampuni dosa-dosanya dan aib-aibnya ditutupi.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 218: Allah mengabarkan bahwasannya mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan yang meninggalkan negeri mereka serta berhijrah dan berjihad dijalan Allah mereka adalah orang-orang yang berharap rohmat Allah yaitu dengan dimasukkan kedalam surga, dan Allah Maha besar ampunannya dan luar rohmatnya.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dan kegagalan umat islam dalam perang uhud adalah agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dari dosa dan kesalahan mereka, dan membinasakan, mengurangi sedikit demi sedikit jumlah orang-orang kafir. Setelah menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan perang uhud, maka pada ayat ini Allah jelaskan prinsip umum perjuangan untuk mendapatkan surga. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, sebagai anugerah dari Allah, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad, yaitu: berperang untuk menegakkan islam dan melindungi orang islam; memerangi hawa nafsu; mendermakan harta benda untuk kebaikan islam dan umat islam; atau memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran, di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar dalam berjihad, sedangkan kesabaran adalah syarat keberhasilan dalam berjihad.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 137-143 Allah SWT berfirman sembari menyampaikan kepada hamba-hambaNya yang mukmin yang terluka pada hari perang Uhud dan tujuh puluh di antara mereka tewas: (Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnatullah) yaitu telah terjadi hal yang serupa pada umat-umat yang telah ada sebelum kalian, yaitu orang-orang yang mengikuti para nabi. Kemudian kemenangan bagi mereka, dan kehancuran atas orang-orang kafir. Oleh karena itu Allah berfirman: (Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan) Lalu Allah SWT berfirman: (ini adalah penerangan bagi seluruh manusia) yaitu Al-Quran, yang di dalamnya terdapat penjelasan perkara dengan jelas, serta gambaran bagaimana umat-umat terdahulu berhadapan dengan musuh-musuh mereka. (dan petunjuk serta pelajaran) Al-Qur’an mengandung berita tentang apa yang terjadi sebelum kalian (petunjuk) bagi hati kalian (pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) yaitu mereka yang menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. Kemudian Allah SWT berfirman sembari menghibur orang-orang mukmin: (Janganlah kamu bersikap lemah) yaitu janganlah kalian lemah akibat hal yang telah terjadi (dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman) yaitu kemenangan dan pertolongan akan menjadi milik kalian, wahai orang-orang mukmin, (Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat luka yang serupa) yaitu jika kalian menerima luka dan ada yang tewas di antara kalian, maka musuh-musuh kalian juga sebelumnya merasakan hal itu berupa tewas dalam perang dan terluka (Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia) yaitu terkadang giliran kemenangan musuh atas kalian, meskipun kemenangan akhir akan menjadi milik kalian, karena itu adalah hikmah dari Kami. Oleh Karena itu Allah berfirman: (dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman) Ibnu Abbas berkata terkait hal ini: “Kami ingin melihat siapa yang bersabar dalam menghadapi musuh-musuhnya.” (supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada') yaitu mereka yang mati di jalan Allah dan berkorban untuk mendapatkan keridhaanNya. (Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim (140) Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman) yaitu Dia menghapus dosa-dosa mereka jika mereka memiliki dosa. Jika tidak, maka Allah akan mengangkat derajat mereka sesuai dengan musibah yang menimpa mereka. Allah SWT berfirman, (dan membinasakan orang-orang yang kafir) yaitu ketika mereka menang, berbuat zalim, dan sombong, maka hal itu akan menjadi sebab, kehancuran, kerusakan, kekalahan, dan kebinasaan mereka. Kemudian Allah berfirman, (Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar (142)) yaitu apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Surga tanpa menghadapi diuji dengan peperangan dan kesulitan perang sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah: (Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (214)) (Surah Al-Baqarah) dan Alif laam miim ((1) Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (3)) (Surah Al-Ankabut) Oleh karena itu Allah SWT berfirman di sini, (Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar (142)) yaitu kalian tidak akan bisa memasuki surge sampai kalian diuji dan Allah melihat orang-orang yang berjuang di jalanNya di antara kalian dan orang-orang yang bersabar dalam mengahadapi musuh. FIrman Allah (Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya (143)) yaitu wahai orang-orang mukmin, sebelum hari ini, kalian menginginkan untuk berhadapan dengan musuh, kalian ingin menghancurkan mereka, ingin melawan mereka. Sekarang, apa yang kalian harapankan dan inginkan itu telah terwujud, jadi berjuanglah dan bersabarlah. Telah disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian mengharapkan pertemuan dengan musuh, dan berdoalah kepada Allah agar mendapat keselamatan, jika kalian berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah naungan pedang.” Oleh karena itu, Allah SWT berfirman, (sungguh kamu telah melihatnya) yaitu kalian telah melihat kematian dalam kilatan pedang, pertukaran anak panah, dan barisan orang untuk berperang, dan orang-orang yang menggambarkan ini dengan khayalannya, yaitu menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dirasakan sebelumnya seperti yang dirasakan oleh domba yang merasa aman di samping seekor domba jantan lalu yang merasa terancam oleh serigala.
Tafsir As-Sa'di
Buka
141. “Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dari dosa-dosa mereka.” Ini juga termasuk hikmah lainya yaitu bahwa Allah membersihkan kaum Mukminin dengan adanya cobaan itu dengan dosa-dosa dan kekurangan mereka. ini menunjukan bahwa syahid dan berperang di jalan Allahitu menghilangkan dosa dan menutupi aib, dan juga Allah membersihkan kaum Mukminin dengan sekalian merekadari kalangan munafikin, hingga kaum Mukminin berlepas dari mereka dan mereka mengetahui siapa yang Mukmin dan siapa yang munafik. Dan di antara hikamhnya juga adalah bahwa Allah menetapkan hal itu untuk membinasakan orang-orang kafir, maksudnya, agar menjadi faktor penyebab mereka binasadan berhak mendapatkan hukuman. Karena bila mereka menang, niscaya mereka akan berbuat zhalim dan kesesatan akan bertambah di atas kesesatan mereka di atas kezhaliman itu mereka berhak di segerakan hukumanya sebagai suatu rahmat bagi hamba-hambaNya yang beriman kemudian Allah berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
Buka
141 Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dari dosa mereka dan membinasakan orang-orang yang kafir atas pembangkangan mereka.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan kekalahan ini yang terjadi pada Perang uhud merupakan ujian dan penyucian diri bagi kaum mukminin,dan pembersihan bagi mereka dari orang-orang munafik dan sebagai kebinasaan bagi orang-orang kafir.
Tafsir Al-Madinah
Buka
141. Dan agar Allah menguji orang-orang beriman dengan musibah yang menimpa mereka, sehingga terbedakan dari orang-orang munafik dan untuk mengurangi dan menghancurkan orang-orang kafir.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
141. Salah satu hikmahnya ialah membersihkan dosa-dosa orang-orang mukmin, membersihkan barisan mereka dari orang-orang munafik, dan membinasakan serta menyingkirkan orang-orang kafir.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
141. (Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman) Yakni agar Allah membersihkan orang-orang beriman dari dosa-dosa mereka, sehingga catatan amal mereka tetap bersih tidak tertulis didalamnya kecuali kebaikan. (dan membinasakan orang-orang yang kafir) Yakni menghabiskan mereka dengan kebinasaan. Dalam ayat ini terdapat penjelasan hikmah dari kemenangan orang-orang kafir di perang Uhud, diantarannya adalah keutamaan orang yang beriman dan bersabar, sebagian orang-orang beriman meraih kesyahidan, dan kezaliman orang-orang kafir yang mengantarkan mereka pada kehancuran dan kebinasaan.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Agar Allah membersihkan} menyucikan {orang-orang yang beriman dan membinasakan} menghancurkan {orang-orang kafir
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Ayat ini menunjukkan bahwa gugur sebagai syahid dan berperang di jalan Allah merupakan sebab terhapusnya dosa. Yakni sebagai sebab dibinasakan orang-orang kafir. Kalau pun mereka menang, lalu bertambah kekafirannya, maka mereka berhak mendapatkan hukuman yang disegerakan karena sayangnya Allah kepada kaum mukmin.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Ali ‘Imran ayat 141: Dan karena Allah hendak menyaring mereka yang beriman dan hendak menghapuskan kafir.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Barang siapa mengerjakan kebajikan sekecil apa pun, baik dia laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman dan dilandasi keikhlasan, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia dan akan kami beri dia balasan di akhirat atas kebajikannya dengan pahala yang lebih baik dan berlipat ganda dari apa yang telah mereka kerjakan. Usai menjelaskan pahala yang disiapkan-Nya sebagai balasan amal saleh orang beriman, pada ayat ini Allah lalu menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an adalah salah satu dari amal saleh itu. Allah menyatakan, apabila engkau hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan dengan tulus kepada Allah dengan mengucapkan kalimat a'udzu billa'hi minasy syaitho'nir rajim, baik secara keras maupun lirih, agar engkau dihindarkan oleh Allah dari bisikan, rayuan, dan godaan setan yang terkutuk karena dijauhkan dari rahmat Allah.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ini adalah janji Allah kepada orang yang beramal shalih, yaitu amal yang mengikuti kitab Allah SWT dan sunnah NabiNya SAW baik laki-laki maupun perempuan dari kalangan anak cucu Adam, dan hatinya dalam keadaan beriman kepada Allah dan RasulNya, dan amal ini merupakan amal yang diperintahkan dan disyariatkan dari sisi Allah, bahwa Allah memberinya kehidupan yang baik di dunia, dan membalasnya sesuatu yang lebih baik daripada amalnya di akhirat. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang mengandung semua segi kebahagiaan dari berbagai segi. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan mayoritas ulama bahwa mereka menafsirkannya dengan rezeki yang halal dan baik. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa maknanya adalah kebahagiaan. Al-Hasan, Mujahid, dan Qatadah berkata.”Tidak ada kehidupan pun yang baik seseorang kecuali di surga" Pendapat yang benar bahwa kehidupan yang baik itu mencakup semua itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya beruntunglah orang yang telah masuk Islam dan diberi rezeki secukupnya serta Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana'ah terhadap apa yang diberikan kepadanya”
Tafsir As-Sa'di
Buka
97. Oleh karena itu, Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia dan akhirat, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman.” Sesungguhnya keberadaan iman menjadi syarat sah dan diterimanya amalan shalih. Bahkan tidak bisa disebut amal shalih kecuali disertai dengan keimanan. (Karena) iman menuntut (munculnya) amal shalih. Sesungguhnya iman adalah pembenaran yang teguh lagi membuahkan amalan-amalan anggota badan, baik perbuatan yang wajib maupun sunnah. Barangsiapa telah mengkombinasikan antara iman dan amal shalih, “maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” Hal tersebut dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rizki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya “dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka,” di akhirat “dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” berupa aneka kenikmatan (surgawi) yang tidak pernah dilihat oleh pandangan mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia. Maka Allah memberinya kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
97. Barangsiapa beramal shalih di dunia, baik laki-laki maupun perempuan dan dia beriman dengan benar, maka sungguh Kami akan membuatnya bisa hidup dengan baik di dunia dengan memberinya rejeki yang halal, keridhaan dan ketenangan. Dan sungguh Kami akan memberinya imbalan di akhirat dengan imbalan yang lebih baik dari ketaatan yang mereka kerjakan di dunia
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik lelaki maupun perempuan, sedang ia beriman kepada Allah dan rasulNya, maka Kami akan beri dia kehidupan bahagia dan tentram di dunia, walaupun dia tidak banyak memiliki harta, dan kami benar-benar akan memberikan balasan pahala bagi mereka di akhirat dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka perbuat di dunia.
Tafsir Al-Madinah
Buka
97. Setiap laki-laki atau perempuan yang mengerjakan amal saleh di dunia, sedangkan dia mengimani keesaan Allah dan risalah Rasulullah, maka Kami akan memberinya kehidupan yang bahagia di dunia, dan Kami akan membalas mereka di akhirat dengan balasan yang mulia atas kebaikan amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
97. Barangsiapa beramal saleh sesuai dengan syariat, laki-laki atau wanita, dia beriman kepada Allah, niscaya Kami akan menghidupkannya di dunia dengan kehidupan yang baik, dengan (membuatnya) rida terhadap ketetapan Allah, kanaah dan bimbingan menuju ketaatan. Kami pasti akan membalas mereka di Akhirat dengan pahala yang lebih baik daripada ketaatan yang telah mereka lakukan di dunia.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
97. (sedang ia beriman) Sebab amalan orang kafir tidak dapat diterima. ( maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik) Dengan rezeki yang halal, dan kemudahan untuk mendapatkan manisnya ketaatan. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan kehidupan yang baik adalah kehidupan di surga. (dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Tafsir dari kalimat ini baru saja disebutkan sebelumnya.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1 ). Kepada jiwa yang merasa hatinya sempit karena terlewatkan oleh kenikmatan dunia! mintalah kepada tuhanmu yang luas kemurahan hatinya, jika rezekimu terasa sempit, maka mintalah kepada tuhanmu rasa kecukupan (qana'ah), maka dengan itu -demi Allah- nikmat itu akan segera datang, Hasan al-Bashri berkata tentang firman Allah { } "maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" , beliau berkata : yakni, kami karuniakan kepadanya rasa kecukupan dalam rezeki! 2 ). { } Sebagian salaf mengatakan : "kehidupan yang baik adalah : keridhoan dan qana'ah". 3 ). Sesungguhnya kehidupan tanpa kebahagiaan iman bagaikan daya yang lemah yang sama dimiliki oleh manusia dan semut, juga seperti keledai dengan kebodohannya; namun hari ini mereka masih saja merasa bahwa kebahagiaan itu sebagaimana kehidupan yang merekajalani tanpa iman. 4 ). Suatu ketika salah satu majalah merilis tulisannya yang memberitakan tentang seorang Muslim asal Jepang bersama istrinya yang keduanya baru saja masuk Islam tatkala mereka sedang berada di masjid al-Haram, setelah menunaikan shalat Jum'at pertama mereka serentak kedunya menangis pecah, dan berkata : sungguh kami baru lahir, semua kehidupan yang telah kami jalani senang dan dukanya tidak berharga sama sekali jika dibandingkan dengan masa-masa yang kami jalani di tanah haram ini. Dan Allah telah benar dengan firman-Nya : { }.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Siapa saja yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik. dan Kami akan memberi balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: ( ) wa huwa mu`min : ketika dia berbuat amal saleh dalam keadaan beriman, karena jika tanpa iman, tidak ada amalan yang akan diterima. ( ) hayaatan thayyibah : kehidupan yang baik di dunia, dengan qana’ah dan rezeki yang halal, di akhirat dengan merasakan kehidupan di surga. ( ) bi`ahsani maa kaanuu ya’maluun : Dia membalas mereka atas setiap amalan yang mereka lakukan dengan kebaikan dan lebih baik lagi. Makna ayat: Kemudian Allah menjanjikan untuk kedua kalinya pada firman-Nya “barangsiapa yang beramal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan mereka dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Janji ini diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh, dengan keimanan yang benar yang membawa kepada amalan saleh. Dan mereka diharuskan bersih dari kesyirikan dan maksiat. Merekalah orang-orang yang Allah janjikan dengan kehidupan yang baik di dunia, tidak ada keburukan di dalamnya, merasa cukup, makanan yang baik, minuman, dan keridhaan, ini adalah ketika di dunia. Adapun di akhirat, adalah dengan surga. Balasan tergantung kepada amalan terbaik yang mereka lakukan, seperti shalat dan sedekah. “ dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” Ya Allah, jadikanlah kami seperti mereka, dan kumpulkanlah kami bersama mereka, dan berikanlah kepada kami apa yang Engkau janjikan kepada mereka, sungguh Engkau adalah Yang Maha Pengasih. Pelajaran dari ayat: • Janji yang benar dari Allah bagi yang beriman dan beramal saleh baik dari laki-laki ataupun perempuan, dengan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat An-Nahl ayat 97: Yakni dengan kebahagiaan di dunia, ketenteraman hatinya, ketenangan jiwanya, sikap qana’ah (menerima apa adanya) atau mendapatkan rezeki yang halal dari arah yang tidak diduga-duga, dsb. Inilah yang diharapkan oleh orang-orang yang sekarang putus asa di dunia. Ketika mereka tidak memperoleh ketenangan atau kebahagiaan batin meskipun mereka memperoleh dunia, namun akhirnya mereka nekat bunuh diri seperti yang kita saksikan. Berdasarkan ayat ini, cara untuk memperoleh kebahagiaan atau ketenangan batin adalah dengan beriman (tentunya dengan memeluk Islam) dan beramal saleh atau mengerjakan ajaran-ajaran Islam. Bahkan, tidak hanya memperoleh kebahagiaan di dunia, di akhirat pun, Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dengan memberikan surga yang penuh kenikmatan, yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Allahumma aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar. Ayat ini menunjukkan, bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Ayat ini kembali menegaskan sisi kemanusiaan seorang rasul un-tuk membantah keberatan kaum musyrik. Dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, wahai nabi Muhammad, melainkan mereka adalah manusia-manusia juga sepertimu, dan karenanya mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar seperti halnya manusia pada umumnya. Demikianlah keadaan semua nabi dan rasul. Dan ingatlah wahai manusia, kami sengaja menjadikan keadaan rasul-rasul seperti itu karena telah menjadi ketetapan kami bahwa sebagian kamu akan menjadi cobaan bagi sebagian yang lain. Nabi menjadi cobaan bagi umatnya, demikian juga sebaliknya; orang kaya menjadi cobaan bagi orang miskin, begitupun sebaliknya; kaum musyrik menjadi cobaan bagi kaum mukmin, demikian sebaliknya, dan begitulah seterusnya. Maukah kamu bersabar dalam menghadapi cobaan itu' dan ingatlah juga wahai manusia, tuhanmu maha melihat lagi maha mengetahui segala sesuatu. []21. Ayat ini menjelaskan tentang alasan lainnya yang dibuat-buat kaum musyrik mekah karena keengganan mereka beriman kepada nabi Muhammad. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami di akhirat karena keingkaran mereka terhadap adanya hari akhir, atau karena ketidaktakutan mereka terhadapnya, mereka berkata, 'mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita dalam wujudnya yang nyata, yang memberitahukan tentang kebenaran nabi Muhammad, atau mengapa kita tidak melihat tuhan kita' dengan mata kepala kita yang juga memberitahukan tentang kebenaran nabi Muhammad. " permintaan-permintaan tersebut jelas mengada-ada, sama dengan apa yang dilakukan bani israil dahulu. Hal itu jelas muncul dari hati mereka yang penuh kedengkian. Sungguh, mereka telah me-nyombongkan diri mereka karena terbujuk oleh hawa nafsu. Mereka meng-anggap bahwa merekalah yang lebih mulia, baik karena kekayaan atau kedudukan mereka di masyarakat. Dan mereka benar-benar telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Demikianlah jika hati telah tertutup oleh kekafiran, semua kebenaran yang ada di hadapan, walau sudah terang benderang, tidak diacuhkan sama sekali.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang para rasul terdahulu yang telah Dia utus, bahwa mereka memakan makanan dan memerlukan gizi makanan, serta berjalan di pasar-pasar untuk mengusahakan mata pencaharian dan berdagang. Hal itu tidak bertentangan dengan keadaan dan kedudukan mereka, karena sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan pada diri mereka tanda-tanda yang baik, sifat-sifat terpuji, ucapan-ucapan yang utama, amal perbuatan yang sempurna, dan mukjizat-mukjizat yang cemerlang serta bukti-bukti yang jelas sehingga orang yang mempunyai hati yang sehat dan pandangan yang lurus akan membenarkan bahwa apa yang disampaikan oleh mereka itu dari Allah SWT. Sama dengan apa yang disebutkan firmanNya SWT dalam ayat lain: (Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk kota) (Surah Yusuf: 109) Firman Allah SWT: (Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar?) yaitu Kami menguji sebagian kalian dengan sebagian lain, dan Kami mencoba sebagian kalian dengan sebagian lain agar Kami mengetahui siapa orang yang taat dan siapa orang yang durhaka. Oleh karena itu, Allah berfirman: (Maukah kalian bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat) yaitu siapa yang layak diberi wahyu. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan) (Surah Al-An'am: 124) dan siapa yang layak untuk diberi petunjuk Allah dengan apa yang Dia utus kepada mereka dan siapa yang tidak layak menerimanya. Muhammad bin Ishaq berkata tentang firmanNya: (Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar?) dia berkata bahwa Allah berfirman,"Seandainya Aku menghendaki dunia ini, maka Aku menjadikan bersama para rasulKu, agar mereka tidak ditentang, maka Aku melakukannya. Akan tetapi, Aku menghendaki untuk menguji hamba-hambaKu dengan para rasulKu, dan Aku menguji para rasulKu dengan mereka" Disebutkan dalam hadits shahih Muslim dari Iyadh bin Hammad dari Rasulullah SAW:”Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan mengujimu dan menguji (hamba-hamba)Ku denganmu"
Tafsir As-Sa'di
Buka
20 kemudian Allah berfirman sebagai jawaban terhadap perkataan kaum yang mendustakan,-“kenapa rasul ini memakan makan dan berjalan di pasar-pasar?”- “dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar,” kami sekali-kali tidak menjadikan mereka jasad yang tidak memakan makan-makanan, dan kamipun tidak menjadikan mereka sebagai malaikat, sehingga kamu dapat menjadikannya sebagai suri tauladan. Adapun masalah kaya atau fakir, ini semua dalah ujian dan kebijakan dari Allah, sebagaimana difirmankanNya, ”dan kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain.” Jadi, seorang rasul itu adalah ujian bagi umatnya dan cobaan bagi orang-orang yang taat dari orang-orang yang durhaka. Para rasul itu sendiri, kami menguji mereka dengan dakwah (menyeru) manusia, orang yang kaya adalah cobaan bagi orang yang fakir, dan yang fakir adalah cobaan bagi yang kaya. Demikian pula berbagai jenis makhluk di dalam negeri ini, yaitu negeri cobaan, bala dan ujian. Dan tujuan dari cobaan itu adalah “sanggupkah kalian bersabar,” sehingga kalian tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas wajib kalian, kemudian Allah membalas kalian. Ataukah kalian tidak sanggup bersabar sehingga berhak mendapat hukuman? “dan Rabbmu adalah MahaMelihat,” Dia mengetahui semua kondisi kalian, dan Dia memilih orang yang Dia ketahui layak dan pantas untuk mengemban risalahNya, dan Dia mengistimewakannya dengan memberinya keutamaan, dan Dia mengetahui semua perbuatan kalian, dan kelak Dia akan memberikan balasan yang setimpal atasnya. Jika baik, maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka di balas dengan keburukan pula.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
20. Menanggapi keraguan terhadap nabi sebagai seorang manusia, Allah berfirman: “Wahai Rasulallah, Kami tidak mengutus satupun rasul sebelum kamu kecuali mereka itu adalah seorang manusia. Mereka memakan makanan sebagaimana yang kamu makan dan seringkali di pasar untuk mencari biaya hidup sebagaimana yang kamu kerjakan, dan Kami menjadikan sebagian kalian ujian dan cobaan untuk sebagian lainnya. Kami uji yang kaya dengan yang fakir, yang sehad dengan yang sakit, dan yang mulia dengan yang rendah untuk mengetahui tingkat keteguhannya untuk beriman. Apakah kalian akan bersabar atas kebenaran dan musibah? Dan Tuanmu Maha Mengamati orang yang sabar dan tidak sabar.”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, (wahai Rasul) seseorang dari rasul-rasul Kami kecuali mereka itu bangsa manusia, yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kalian (wahai manusia) cobaan dan ujian bagi sebagian lainnya, melalui hidayah dan kesesatan, kekayaan dan kemiskinan, sehat dan sakit; apakah kalian bersabar sehingga kalian menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan atas kalian dan mensyukuriNya dan kemudian Penguasa kalian memberi balasan bagi kalian, atau kalian tidak bersabar sehingga mengakibatkan kalian pantas ditimpa musibah? Dan Tuhanmu (wahai Rasul) Maha Melihat orang yang berkeluh kesah atau bersabar, dan orang yang ingkar atau orang yang bersyukur.
Tafsir Al-Madinah
Buka
20. Hai Rasulullah, dan Kami tidak mengutus para rasul sebelummu melainkan mereka dari golongan manusia, mereka memakan makanan sebagaimana kamu makan, dan pulang pergi ke pasar untuk mencari penghidupan. Dan Kami menguji sebagian kalian dengan sebagian lainnya; Kami menguji orang miskin dengan orang kaya, dan juga sebaliknya; agar Kami dapat menguji kesabaran kalian, apakah kalian akan bersyukur atau ingkar? Dan Tuhanmu Maha Melihat orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang ingkar.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
20. "Dan tidaklah Kami mengutus para rasul sebelummu -wahai Rasul- melainkan dari jenis manusia, mereka juga memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar, dan engkau bukan Rasul pertama yang melakukan itu. Kami jadikan sebagian kalian -wahai manusia- sebagai cobaan bagi sebagian yang lain dalam hal kekayaan, kemiskinan, sehat dan sakit, maka maukah kalian bersabar dengan cobaan ini sehingga kalian diberikan ganjaran pahala atas kesabaran itu? dan adalah Tuhanmu Maha Melihat siapa saja yang bersabar dan yang tidak bersabar, juga siapa saja yang taat dan yang bermaksiat kepada-Nya.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
20. (Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar) Sebab mereka adalah manusia biasa yang tidak dapat lepas dari kebutuhan-kebutuhan yang menunjang kehidupan manusia, dan demikian pula kamu hai Muhammad, hal itu tidak menghalangimu untuk menjadi rasul yang diutus oleh Allah; jadi untuk apa mereka berkata: “mengapa rasul ini memakan makanan dan masuk ke pasar-pasar?” (Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain) Dahulu jika ada orang terpandang yang akan masuk Islam namun ia melihat orang rendahan yang telah masuk Islam sebelumnya, ia menjadi enggan untuk masuk Islam sambil berkata “aku tidak akan masuk Islam setelahnya, karena itu akan membuatnya lebih utama dan mulia dariku,” maka ia akhirnya tetap dalam kekafirannya. ( Maukah kamu bersabar?) Yakni apakah kalian akan tetap bersabar di atas kebenaran yang penuh dengan cobaan dan kesulitan sebagaimana yang kalian lihat. (dan adalah Tuhanmu maha Melihat) Yakni melihat kepada setiap orang yang bersabar maupun yang tidak bersabar.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka menyantap makanan dan berjalan di pasar. Kami menjadikan sebagian kalian sebagai cobaan} cobaan dan ujian {bagi sebagian yang lain. Apakah kalian akan bersabar. Dan Tuhanmu Maha Melihat
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-Furqan ayat 20: Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menjawab orang-orang yang mendustakan, yang mengatakan seperti yang disebutkan pada ayat 7 surah ini. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak menjadikan mereka malaikat agar mereka dapat ditiru dan dijadikan teladan. Adapun masalah kaya dan miskin, maka yang demikian adalah cobaan dan hikmah (kebijaksanaan) Allah sebagaimana dijelaskan pada lanjutan ayat. Manusia diuji dengan rasul, apakah mereka akan taat atau tidak? Rasul diuji dengan mendakwahkan manusia, orang miskin diuji dengan orang kaya, orang sakit diuji dengan orang sehat, dan orang rendah diuji dengan orang terhormat, sehingga mereka berkata, “Mengapa aku tidak seperti dia yang kaya, yang sehat atau yang terhormat?” Oleh karena itu, tempat yang kita huni ini adalah tempat ujian, bukan tempat tujuan. Pertanyaan ini maksudnya perintah untuk bersabar, yakni maukah kamu untuk bersabar dengan melaksanakan kewajiban kamu? Yaitu tetap taat dan tetap meninggalkan maksiat, serta bersabar terhadap musibah dengan tidak keluh kesah. Siapa yang bersabar dan siapa yang berkeluh kesah.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Anak perempuan orang tua itu kagum kepada musa, melihat kekuatan fisiknya dan kewibawaannya ketika mengambil air minum ternak, serta kesantunannya ketika berjalan menuju rumah. Dan selanjutnya salah seorang dari kedua perempuan itu yang datang mengundang musa berkata, "wahai ayahku! jadikanlah dia sebagai pekerja pada kita antara lain menggembalakan ternak kita, karena sesungguhnya dia adalah orang yang kuat dan terpercaya, dan sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja pada kita untuk pekerjaan apa pun ialah orang yang kuat fisik dan mentalnya dan dapat dipercaya. "27. Sang ayah memahami kekaguman anak perempuannya terhadap musa dan memang orang seperti musalah yang didambakan setiap perempuan untuk menjadi suami. Dengan tanpa segan dia berkata, "sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini yang telah engkau lihat dan kenal sejak di tempat sumber air. Pernikahan itu dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan yang delapan tahun itu menjadi sepuluh tahun secara sukarela maka itu adalah suatu kebaikan darimu, bukan sebuah kewajiban yang mengikat, dan kendati itu adalah usulan dariku tetapi ketahuilah bahwa aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Aku akan selalu berusaha menjadi orang yang menepati janji. Lnsya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik. ".
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 25-28 Setelah keduanya pulang dengan cepat kepada ayah mereka dengan membawa kambing mereka, maka ayah mereka heran dengan keadaan keduanya karena kedatangan keduanya sangat cepat, lalu menanyai terkait keadaan mereka, Maka keduanya menceritakan apa yang telah dilakukan nabi Musa. Kemudian ayah mereka mengutus salah seorang dari keduanya untuk memanggil nabi Musa menghadap kepadanya. Allah SWT berfirman: (Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan) yaitu jalannya orang yang ramah, (Ia berkata, "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami") Ini adalah adab dalam menyampaikan ungkapkan dimana dia tidak mengundangnya secara langsung agar tidak menimbulkan kecurigaan, bahkan dia berkata:"Sesungguhnya ayahku memanggilmu agar dia memberi balasan kepadamu karena kamu memberi minum ternak kami”, yaitu untuk memberimu imbalan atas jasamu memberi minum terhadap domba-domba kami (Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya dan menceritakan kepadanya kisah (tentang dirinya)) nabi Musa menyebutkan kepadanya apa yang terjadi kepadanya yang menyebabkan dirinya keluar meninggalkan negerinya (Syu’aib berkata, "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”) dia berkata,”Tenangkanlah dirimu dan bergembiralah, sesungguhnya kamu telah keluar dari wilayah kekuasaan mereka, maka tidak ada kekuasaan bagi mereka di negeri kami. Oleh karena itu Allah berfirman: (Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu) Para mufasir berbeda pendapat tentang laki-laki ini, siapakah dia, dalam beberapa pendapat, Salah satunya adalah bahwa lelaki itu adalah nabi Syu'aib yang diutus Allah kepada penduduk negeri Madyan. Ini adalah pendapat yang terkenal di kalangan mayoritas ulama. Pendapat ini dikatakan oleh Hasan Al-Bashri dan lainnya Ulama lainnya lagi berkata bahwa nabi Syu'aib hidup jauh sebelum masa nabi Musa dalam jangka waktu yang lama, karena disebutkan nabi Syu'aib berkata kepada kaumnya: (sedangkan kaum Luth tidak (pula) jauh dari kamu) (Surah Hud: 89) Dan kebinasaan kaum nabi Luth terjadi di masa nabi Ibrahim berdasarkan nas Al-Qur'an. Telah diketahui bahwa jarak antara masa nabi Ibrahim dan nabi Musa cukup jauh, lebih dari empat abad, sebagaimana yang disebutkan banyak ulama. Dan terkait pendapat bahwa nabi Syu'aib hidup dalam masa yang lama, tidak lain (hanya Allah yang lebih Mengetahui) hanya untuk menghindari masalah ini. Kemudian hal yang menguatkan bahwa lelaki itu bukan nabi Syu'aib adalah seandainya dia adalah nabi Syu'aib maka sudah namanya dinaskan dalam Al-Qur'andalam kisah ini. dan apa yang disebutkan dalam beberapa hadits yang menjelaskan bahwa nama lelaki itu dalam kisah nabi Musa itu sanadnya tidak shahih Firman Allah SWT: (Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, "Ya Bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (26)) yaitu salah seorang anak perempuan lelaki ini berkata kepada ayahnya. Dikatakan bahwa wanita itu berjalan di belakang nabi Musa. Lalu dia berkata kepada ayahnya: (Ya Bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita)) Untuk menggembalakan kambing ini. Umar, Ibnu Abbas, Syuraih Al-Qadhi, Abu Malik, Qatadah, Muhammad bin Ishaq, dan lainnya berkata bahwa ketika wanita itu berkata: (karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya) Maka ayahnya bertanya kepadanya,"Apakah yang membuatmu berkata demikian?" dia menjawab, "Sesungguhnya dia dapat mengangkat batu besar yang tidak dapat diangkat kecuali hanya sepuluh laki-laki. Dan sesungguhnya ketika aku berjalan bersamanya, aku berada di depannya, namun dia mengatakan kepadaku,"Berjalanlah di belakangku. Jika aku salah jalan, maka beritahulah aku dengan lemparan batu kerikil, agar aku mengetahui manakah jalannya agar aku mendapatkan petunjuk" Dia berkata: (Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini) yaitu dia diminta lelaki itu untuk menggembalakan ternak kambingnya, dan dia akan mengawinkannya dengan salah satu anak perempuannya. Firman Allah: (atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun; dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun, maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu) yaitu dengan syarat bahwa kamu menggembalakan kambingku selama delapan tahun. Dan jika kamu menambah dua tahun lagi secara sukarela, maka itu adalah kebaikanmu. Tetapi jika tidak, maka delapan tahun sudah cukup (maka aku tidak hendak memberatkanmu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik) yaitu, aku tidak akan memberatkanmu, mengganggumu, dan mendebatmu. Firman Allah SWT yang memberitahukan tentang nabi Musa: (Dia (Musa) berkata, "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan” (28)) Sesungguhnya nabi Musa berkata kepada mertuanya,"Perkaranya sesuai dengan apa yang telah engkau katakan bahwa engkau mempekerjakanku selama delapan tahun, jika aku menyempurnakan selama sepuluh tahun maka itu dariku. Dan ketika aku menyelesaikan yang terpendek di antara keduanya, maka aku telah memenuhi janjiku dan bebas dari syarat" Oleh karena itu dia berkata (Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku) yaitu tidak ada beban lagi atas diriku, sekalipun masa yang sempurna itu adalah sesuatu yang mubah namun itu lebih utama daripada yang lain berdasarkan dalil lain, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya) (Surah Al-Baqarah; 203) Diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, dia berkata:”Aku pernah ditanya oleh orang Yahudi dari penduduk Hirah,"Manakah di antara kedua masa itu yang diselesaikan oleh nabi Musa?" Aku menjawab,"Tidak tahu", hingga aku mendatangi orang Arab yang paling pandai, Lalu aku bertanya kepada Ibnu Abbas, maka dia menjawab,"Sesungguhnya nabi Musa menunaikan masa yang paling sempurna di antara kedua masa itu, karena sesungguhnya utusan Allah itu apabila berkata pasti menunaikannya"
Tafsir As-Sa'di
Buka
26. “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata.” Maksudnya, salah satu putrinya, “Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja,” maksudnya jadikanlah dia sebagai karyawanmu untuk menggembala domba dan memberinya minum, “karena sesungguhnya dia orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya,” maksudnya, sesungguhnya Musa adalah yang paling pantas untuk dijadikan sebagai pekerja, karena dia mempunyai dua sifat, yaitu kuat dan terpercaya, dan sebaik-baik pekerja adalah orang yang memiliki dua sifat itu. Yaitu kekuatan dan kemampuan untuk melakukan apa yang dibebankan kepadanya, dan amanah di dalam pekerjaannya diwujudkan dengan cara tidak berkhianat. Dua sifat ini pantas untuk dijadikan pertimbangan bagi setiap orang yang akan menyerahkan suatu pekerjaan untuk orang lain dengan upah atau lainnya. Sebab, kesalahan tidak akan terjadi kecuali karena ketiadaan dua sifat ini atau ketiadaan salah satunya. Adapun kalau keduanya ada, maka pekerja pasti akan sempurna dan terlaksana. Sebenarnya dia mengatakan hal itu karena dia telah menyaksikan sendiri kekuatan Musa pada saat meminumkan ternak keduanya dan kegigihannya yang dengannya dia dapat mengetahui kekuatan Musa. Dan dia pun menyaksikan keamanahan dan kereligiannya dan (dia merasakan pula) bahwa Musa merasa kasihan kepada mereka berdua tanpa mengharapkan imbalan dari mereka berdua, dan tujuan Musa hanyalah memperoleh Wajah Allah semata.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
26. Salah seorang dari kedua putri yang lebih tua itu berkata: "Wahai bapakku, jadikanlah dia sebagai orang yang merawat ternak kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau jadikan pekerja kita ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya".
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Salah seorang wanita itu berkata kepada bapaknya, “Wahai ayah, jadikanlah ia orang yang bekerja menggembala ternak untukmu. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan untuk menggembalakan ternak adalah orang yang kuat untuk menjaga ternakmu lagi dapat dipercaya yang engkau tidak khawatir ia akan berkhianat dalam urusan yang engkau percayakan kepadanya.”
Tafsir Al-Madinah
Buka
26. Salah satu putri Syuaib mengusulkan kepada ayahnya agar menjadikan Musa sebagai pekerjanya, sambil mengemukakan alasan bahwa sifat-sifat baik seorang pekerja ada pada diri Musa; dia memiliki tubuh yang kuat dan mampu menjaga amanah.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
26. Salah satu dari putrinya berkata, “Wahai ayahandaku! Pekerjakan dia untuk menggembalakan kambing kita, dia pantas untuk engkau pekerjakan karena dia menggabungkan antara fisik yang kuat dan amanah. Dengan kekuatannya dia menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya dan dengan amanat dia menjaga apa yang diamanatkan kepadanya.”
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
26. (Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita)) Untuk menggembalakan kambing untuk kita. (karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”) Yakni ia layak untuk kamu ajak bekerja karena ia memiliki dua sifat baik, yaitu kuat dan amanah; dua sifat ini jika terdapat pada seseorang maka ia akan menjadi orang yang paling layak untuk melakukan pekerjaan itu, baik itu sebagai buruh, wakil, pegawai, pengawas, atau lainnya. Sifat pertama adalah amanah, sehingga ia tidak berkhianat dalam barang orang lain yang diserahkan kepadanya. Dan kedua adalah kekuatan untuk menjalankan pekerjaan itu, termasuk di dalamnya adalah pengalaman dan semangat dalam bekerja serta kebugaran badannya. Dua sifat ini terdapat pada diri Musa.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1 ). Pilar utama dalam memimpin sebuah pemerintahan ada dua: kekuatan dan dapat dipercaya, { } "Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya." [ An-Naml : 39 ], maka diantara sebab-sebab keadilan bahwa tidak seorang pun diangkat ke suatu posisi kecuali dia layak untuk itu dalam kekuatan dan kejujurannya; dan jika seseorang diangkat pada suatu posisi dan ia bukan orang yang ahli dalam hal itu padahal ada orang lain yang layak dan ahli dalam bidangnya, maka tidak ada keadilan di dalamnya. 2 ). Perhatikan betapa banyak disebutkan dalam al-Qur'an sifat kuat dan dapat dipercaya pada hamba-hamba pilihan sang pencipta: seperti Jibril, Musa, Yusuf, dan selain dari mereka! sesungguhnya ini merupakan kesempatan yang baik untuk mendidik anak-anak kita mengenai makna dari ayat yang mulia ini -sedang mereka tengah mempersiapkan ujian- dan menjadi pengingat bagi mereka akan kebutuhan umat akan pelajar yang kuat dalam keilmuan dan pencapaiannya, sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaannya, dan bahwasanya keunggulan dalam akademik bukan sekedar tuntutan dalam sosial namun ia juga tuntutan syari'at, namun dalam hal ini sangat banyak orang-orang yang masih malas untuk mendapatkannya! 3 ). Jadikan pekerjaanmu dan pergaulanmu sebagai saksi bahwa anda adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya: { } "Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?", { } "Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya"... { } "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Untuk menggembala kambing dan memberi minumnya. Kedua sifat ini, “Kuat dan amanah” perlu diperhatikan ketika memilih seseorang sebagai karyawannya. Jika kedua-duanya berkumpul bersamaan, maka akan sempurnalah pekerjaan. Umar, Ibnu Abbas, Syuraih Al Qaadhiy, Abu Malik, Qatadah dan lain-lain mengatakan, “Ketika wanita itu mengatakan seperti itu, ayahnya bertanya kepadanya, “Dari mana kamu tahu demikian?” wanita itu menjawab, “Sesungguhnya dia mampu mengangkat batu besar yang tidak mungkin diangkat kecuali oleh sepuluh orang, juga pada saat aku datang (kemari) bersamanya, aku berjalan di depannya, namun ia mengatakan, “Berjalanlah di belakangku, jika hendak melewati jalan lain, lemparlah batu kecil ini agar aku tahu jalan.”
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Qashash ayat 26: Kemudian berkata salah satu dari perempuan tersebut kepada bapaknya : Wahai bapakku, berikan Musa upah, agar dia dapat mengembalakan dan memberikan minum ternak kami kembali, dengan sebaik-baik balasan karena kekuatan dirinya dan amanahnya.