Indikator 9: Pelaporan
Ditemukan 7 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Kemudian Allah memberikan kesempatan kepada nabi adam untuk menyebutkan nama benda-benda yang telah Allah ajarkan kepadanya. Dia berfirman, wahai adam! beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu! lalu nabi adam pun menyebutkan nama benda-benda itu dengan segala macam kegunaan dan manfaatnya. Pada saat itulah malaikat memahami bahwa manusialah yang pantas untuk menjadi khalifah di bumi ini. Setelah dia, nabi adam, menyebutkan nama-nama benda-benda tersebut dan apa manfaat dan kegunaan-Nya, Allah berkata secara lebih tegas lagi tentang kebenaran rencana besar-Nya dan berfirman dengan nada pertanyaan, bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan' Allah memberi dua alasan tentang penunjukan nabi adam menjadi khalifah. Pertama, bahwa dia mengetahui rahasia di jagat raya yaitu semua yang ada di langit dan bumi. Kedua, bahwa Allah mengetahui apa yang dipendam dalam diri malaikat dan juga hati manusia. Jika demikian, maka gagasan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah pasti mempunyai banyak hikmah. Sebagai bentuk pengakuan malaikat akan keunggulan manusia atas mereka yang dinyatakan Allah pada ayat sebelumnya, pada ayat ini Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud hormat kepada nabi adam. Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu, yakni hormatlah, kepada adam dengan menundukkan kepala atau badan, bukan sujud ibadah! mendengar perintah Allah ini, maka mereka, para malaikat, pun sujud, kecuali iblis. Iblis adalah makhluk dari jenis jin yang terbuat dari api. Iblis merasa dirinya lebih terhormat daripada nabi adam karena dia diciptakan dari api yang salah satu sifatnya adalah panas, membakar, dan membara. Sementara, nabi adam diciptakan dari tanah liat, yang kelihatan diam dan tidak bergerak. Ia, iblis, menolak bersujud kepada nabi adam dan menyombongkan diri karena merasa dirinya lebih terhormat, dan, atas tindakannya ini, ia termasuk golongan yang kafir, yaitu makhluk yang menutup diri dari menerima kebenaran, ingkar terhadap kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya, dan ingkar terhadap hikmah yang terkandung di balik titah Allah.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ini adalah bagian ayat di mana Allah SWT menyebutkan kelebihan nabi Adam AS atas para malaikat, keistimewaan ilmu tentang nama-nama dari segala sesuatu yang tidak diberikan kepada mereka. Hal ini terjadi setelah mereka melakukan sujud kepadanya. Sebenarnya penjelasan tentang hal ini telah disebutkan karena adanya keterkaitan antara bagian ini dengan ketidaktahuan para malaikat tentang hikmah penciptaan khalifah ketika mereka bertanya tentang hal itu. Lalu Allah memberitahu mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Oleh karena itu, Allah menyebutkan ayat ini untuk menjelaskan kelebihanan nabi Adam AS atas mereka dalam hal keilmuan. Allah SWT berfirman, " Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya" Mujahid berkata,(Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya ) maknanya adalah ilmunya tentang nama setiap binatang melata, burung, dan segala sesuatu Hal yang juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, Qatadah, dan beberapa ulama’ teradahulu lainnya bahwa nabi Adam AS diajarkan nama-nama segala sesuatu. Ar-Rabi' dalam satu riwayat dia mengatakan bahwa itu adalah nama para malaikat. Hamid Asy-Syami berkata bahwa itu adalah nama-nama bintang. Abdullah bin Zaid berkata bahwa dia diajarkan nama-nama seluruh keturunannya. Ibnu Jarir memilih pendapat bahwa dia diajarkan nama para malaikat dan keturunannya, karena Allah SWT berfirman, (kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat). Ini adalah ungkapan yang masuk akal Ini adalah pendapat yang dia kuatkan, karena tidak menafikan kemungkinan ada makhluk lain yang ikut bersama mereka (para malaikat). Mengungkapkan sesuatu secara keseluruhan menggunakan pola berpikir orang yang berakal itu untuk menunjukkan dominasi, sebagaimana Allah berfirman, (Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) (Surah An-Nur:45) Ibnu Mas'ud membaca, (Tsumma ‘aradhahun) dan Abu Ka’b membaca (Tsumma ‘aradhaha), maknanya yaitu nama-nama (makhluk-makhluk tersebut). Yang benar adalah bahwa Allah mengajari nabi Adam AS nama-nama segala sesuatu; baik esensi, sifat, maupun perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas. yaitu nama sesuatu dan perbuatannya baik yang besar dan yang kecil, Oleh karena itu Qatadah meriwayatkan dari Anas dari nabi Muhammad SAW, bersabda, "Pada hari kiamat orang-orang yang beriman berkumpul lalu mereka berkata; 'Sebaiknya kita meminta syafaat kepada Tuhan kita sehingga kita dapat pindah dari tempat kita sekarang juga.' Lalu mereka mendatangi Adam AS seraya mengatakan; 'Wahai Adam, engkau adalah bapaknya manusia, Allah menciptakanmu dengan tanganNya sendiri dan menjadikan malaikat-malaikat-Nya sujud kepadamu, serta diajarkan pula kepadamu nama-nama segala sesuatu" Hal ini menunjukkan bahwa Allah mengajarinya, nama-nama semua makhlukNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, (kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat) maknanya, yaitu nama-nama itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdur Razzaq dari Ma'mar dan dari Qatadah, bahwa maknanya adalah Dia menunjukkan nama-nama itu kepada para malaikat dengan berkata, (lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!") Ibnu Jarir berkata,”Pendapat yang paling kuat mengenai hal itu adalah tafsir Ibnu Abbas dan orang yang menyampaikan pendapatnya, yaitu "Beritahukanlah kepadaKu nama-nama yang telah Aku tunjukkan kepada kalian, wahai para malaikat yang berkata (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah)
Tafsir As-Sa'di
Buka
33. Saat itulah Allah berfirman, ” Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini, ” yakni nama-nama benda yang di kemukakan oleh Allah kepada para malaikat yang tidak mampu mereka ketahui, “maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama benda-benda itu, ” jelaslah bagi mereka keutamaan Adam atas mereka, dan hikmah Allah yang Maha pencipta dan ilmuNya dalam menetapkannya sebagai khalifah, “Allah berfirman, ’bukankah sudah ku katakana kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, ” yakni apa yang tersembunyi darinya dan tidak kita lihat, sehingga apabila Dia mengetahui yang ghaib, maka alam nyata tentu lebih utama, ” dan aku juga mengetahui apa yang kamu lahirkan, ” maksudnya, apa yang kamu nampakkan, “dan apa yang kamu sembunyikan.”
Tafsir Al-Wajiz
Buka
Allah memerintahkan Adam untuk mengabarkan kepada para malaikat tentang nama-nama yang telah disampaikan kepada mereka. Allah berfirman kepada para malaikat: “Bukankah Aku telah mengabarkan kepada kalian bahwa sesungguhnya Aku lebih mengetahui tentang sesuatu yang ghaib di langit dan bumi daripada kalian dan hal itu juga kalian saksikan. Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan dari ucapan kalian dan apa yang kalian sembunyikan dalam diri kalian”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Allah ta'ala berfirman: “wahai Adam beritahukanlah nama-nama benda tersebut kepada mereka yang tidak sanggup mereka ketahui”. Dan setelah Adam Alaihissalam memberitahukan kepada mereka nama-nama itu, Allah berfirman kepada malaikat: “sungguh Aku telah mengabarkan kepada kalian bahwa Aku ini lebih mengetahui apa-apa yang samar bagi kalian baik di langit maupun di bumi, dan Aku lebih mengetahui terhadap apa yang kalian tampakkan maupun rahasiakan.”
Tafsir Al-Madinah
Buka
33. Setelah itu Allah memerintahkan Adam untuk menyebutkan kepada malaikat nama dari benda-benda yang tidak diketahui oleh para malaikat. Kemudian Allah berfirman kepada para malaikat: “Bukankah Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa Aku mengetahui apa yang tersembunyi dari kalian di langit dan di bumi. Dan Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan dan sembunyikan.”
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
33. Ketika itulah Allah -Ta'ālā- berfirman kepada Adam, “Beritahu mereka nama benda-benda itu!” Setelah Adam memberitahu mereka nama benda-benda tersebut sesuai dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadanya, maka Allah berfirman kepada para Malaikat, “Bukankah Aku sudah mengatakan kepada kalian bahwa Aku mengetahui apa-apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Dan Aku pun mengetahui apa yang kamu perlihatkan secara nyata dan apa yang kamu sembunyikan di dalam hati.”
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
33. (dan Aku mengetahui apa yang kamu tampakkan) dari Ibnu Abbas, ia berkata: kalimat ini untuk menjelaskan firman Allah: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” (dan apa yang kamu sembunyikan) yakni kesombongan yang disembunyikan Iblis dalam hatinya.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Allah berfirman, “Wahai Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu” Ketika Adam memberitahukan nama-nama itu, Dia berfirman, “Bukankah telah Kukatakan kepada kalian bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kalian nyatakan dan apa yang kalian sembunyikan”
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : Ghoibas samaawaati : Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh penglihatan di seluruh langit dan bumi. Tubduuna : Apa yang kalian nampakkan, yaitu ucapan malaikat pada firman Allah Ta’ala “Apakah Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan berbuat kerusakan padanya...” Taktumuuna : Apa yang kalian sembunyikan dan rahasiakan. Adapun yang dimaksud adalah apa yang disembunyikan oleh Iblis dalam hatinya berupa pelanggaran perintah Allah Ta’ala dan tidak mau taat kepadaNya. Al-Hakiim : Yang Maha Bijaksana, adalah Dzat yang meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tidaklah ia melakukan sesuatu atau tidak melakukannya didasarkan pada kebijaksanaanNya. Makna ayat : Kemudian Allah Ta’ala berkata kepada Adam ‘alaihisalam “Beritahukanlah kepada mereka nama-nama makhluk yang ditampilkan di hadapanmu itu.” Maka Adam memberitahukan nama-nama itu satu persatu sampai-sampai menyebutkan nampan dan piring. Dari sini terlihat kemuliaan Adam dibandingkan para malaikat. Kemudian Allah menegur mereka dalam firmanNya,”Bukankah sudah Aku katakan kepada kalian, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui segala apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian sembunyikan.” Pelajaran dari ayat : Kebolehan untuk menegur seseorang yang mengakui memiliki keahlian dalam suatu bidang padahal aslinya tidak memiliki.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Yakni nama-nama benda yang mereka tidak mengetahuinya. Setelah Adam memberitahukannya, Allah Ta'ala menegaskan bahwa Dirinya lebih mengetahui hal yang samar bagi mereka baik di langit maupun di bumi dan Dia mengetahui apa yang mereka nyatakan dan apa yang mereka sembunyikan. Rahasia atau ghaib adalah yang tidak kita ketahui dan tidak dapat kita saksikan. Jika Allah Ta'ala mengetahui yang rahasia, apalagi yang nampak atau kelihatan.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 33: Allah kemudian memerintahkan menyebutkan nama-nama kepada malaikat yang mana malaikat tidak mengetahuinya serta untuk menampakan akan keutamaan dan kemuliaan Adam . maka ketika Adam memberitahukan malaikat nama-nama tersebut , kemudian Allah berkata : Bukankah aku mengabarkan kepada kalian wahai malaikat bahwasanya aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak ketahui dilangit dan dibumi , dan aku mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa orang-orang yahudi berkata, kami benci jibril karena ia membawa bencana dengan menyampaikan wahyu bukan kepada golongan kami. Ia juga membongkar rahasia kami. Menjawab pernyataan itu, katakanlah, wahai nabi Muhammad, barang siapa menjadi musuh jibril maka ketahuilah bahwa dia hanya akan mendapatkan keburukan, karena sesungguhnya dialah, jibril, yang telah menurunkan Al-Qur'an ke dalam hatimu dengan izin Allah, bukan atas kehendaknya sendiri dan bukan pula atas kehendakmu. Dengan demikian, memusuhi jibril sama dengan memusuhi Allah. Sungguh aneh kalau kamu memusuhinya padahal wahyu-wahyu yang disampaikannya membenarkan apa yang terdahulu, yakni kitab-kitab suci termasuk taurat, dan wahyu-wahyu itu juga menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman. Memusuhi jibril berarti memusuhi Allah, dan memusuhi Allah berarti memusuhi semua makhluk-Nya yang taat. Bila seseorang memusuhi Allah, maka Allah pun akan memusuhi nya dan menjauhkan rahmat darinya. Barang siapa menjadi musuh Allah dengan memusuhi salah satu makhluk-Nya yang taat, atau memusuhi salah satu dari malaikatmalaikat-Nya, atau salah seorang dari rasul-rasul-Nya, atau jibril yang membawa wahyu dan mikail yang pembawa rezeki, maka sesungguhnya dia telah kafir dan mengantar dirinya menuju kebinasaan. Sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir. Dua ayat di atas menegaskan dua hal. Pertama, Allah tidak membedabedakan para rasul dan malaikat-Nya. Kepercayaan, ketaatan, dan kecintaan kepada mereka adalah satu paket. Siapa pun yang memusuhi mereka atau salah seorang dari mereka, maka ia akan menjadi musuh Allah. Kedua, sanksi kepada pelanggar tidak hanya diterapkan kepada orang yahudi, tetapi kepada siapa saja yang kafir dan memusuhi-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Imam Abu Ja'far bin Jarir Ath-Thabari berkata: Para ulama yang ahli dalam tafsir secara sepakat menyatakan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban kepada orang-orang Yahudi dari Bani Israil ketika mereka berpendapat bahwa Jibril adalah musuh mereka, sementara Mikail adalah pelindung mereka. Kemudian mereka berbeda pendapat tentang alasan di balik pandangan ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa penyebab pandangan ini muncul karena perdebatan yang terjadi antara mereka dan Rasulullah SAW mengenai kenabian beliau. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: "Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, lalu dia mendatangi nabi Muhammad SAW dan bertanya,”Aku bertanya kepadamu tentang tiga hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi: “Apa pertanda pertama kiamat? Apa makanan pertama penduduk surga? Dan apa yang membuat anak mirip dengan ayahnya atau ibunya?' Beliau menjawab, “Jibril baru saja memberitahuku”. Abdullah bin Salam berkata, “Jibril?” Beliau menjawab, “Iya” da berkata, “Jibril adalah musuh Yahudi di antara para malaikat” Maka nabi Muhammad SAW membacakan ayat ini (Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu) Adapun pertanda pertama kiamat adalah api yang akan mengumpulkan manusia dari timur hingga barat. Makanan pertama yang akan dimakan oleh penduduk surga adalah hati ikan paus yang lebih besar. Ketika air laki-laki mendahului air perempuan, anak akan mirip dengan ayahnya, dan jika air perempuan mendahului, anak akan mirip dengan ibunya. Lalu dia berkata, "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selainAllah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah, wahai Rasulallah. Sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang cenderung mencela. Jika mereka mengetahui tentang keislamanku sebelum aku bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan mencela aku" Kemudian orang-orang Yahudi datang, lalu Rasulullah SAW bertanya kepada mereka,"Apakah di antara kalian ada seorang yang bernama Abdullah bin Salam?" Mereka menjawab,"Dia adalah orang baik dan putra seorang yang baik di antara kami, dia adalah pemimpin dan putra seorang pemimpin di antara kami" Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Bagaimana pendapat kalian jika dia masuk Islam?" Mereka menjawab,"Semoga Allah melindunginya dari hal itu" Kemudian Abdullah bin Salam keluar dan berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mereka berkata: Dia adalah orang yang buruk dan anak dari orang yang buruk dari kami, dan kucilkanlah dia. Abdullah bin Salam berkata: Inilah yang aku takutkan, wahai Rasulullah. Adapun penafsiran ayat tersebut adalah firman Allah: (Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah) artinya yaitu siapa saja yang memusuhi Jibril, maka hendaklah dia mengetahui bahwa Jibril adalah Ruhul Amin yang menurunkan Al-Quran ke dalam hatimu dari Allah dengan izinNya. Jibril adalah utusan Allah dari golongan malaikat di antara seluruh malaikat, dan siapa saja yang memusuhi seorang rasul, maka dia telah memusuhi semua rasul, sebagaimana siapa saja yang beriman kepada seorang rasul, maka dia wajib beriman kepada semua rasul. Dan sebagaimana siapa saja yang mengingkari seorang rasul, maka sungguh dia telah mengingkari semua rasul, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) (150) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan (151)) (Surah An-Nisa’), maka ketentuan bagi mereka adalah kafir yang sesungguhnya, karena mereka beriman kepada beberapa rasul dan mengingkari sebagian lainnya. Demikian juga siapa saja yang memusuhi Jibril, maka dia adalah musuh Allah, karena Jibril tidak menurunkan wahyu dari dirinya sendiri, tetapi dia menurunkannya atas perintah Tuhannya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (63)) (Surah Maryam) dan firmanNya (Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (192) dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (194)) (Surah Asy-Syu’ara’) Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab hadits shahihnya dari Abu Hurairah berkata,” Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya” Oleh karena itu, Allah murka kepada siapa saja yang memusuhi Jibril, lalu Allah SWT berfirman: (Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya) yaitu kitab-kitab yang terdahulu (dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman) yaitu sebagai petunjuk bagi hati mereka dan kabar gembira tentang surga. Hal itu hanya untuk orang-orang mukmin, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh") (Surah Fushilat: 44) Allah SWT berfirman: (Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (82)) (Surah Al-Isra’). Kemudian Allah SWT berfirman: (Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir (98)) Allah berfirman: “Siapa saja yang memusuhi Aku dan malaikat-malaikatKu, serta rasul-rasulKu termasuk rasul dari kalangan malaikat dan manusia, sebagaimana firman Allah: (Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (75)) (Surah Al-Hajj). (Jibril dan Mikail): Ini merupakan ‘athf khas ‘alal ‘am (menghubungkan sesuatu yang khusus kepada yang lebih umum). Keduanya termasuk dalam golongan malaikat, kemudian termasuk dalam golongan para rasul secara umum, kemudian keduanya disebutkan secara khusus. Hal ini karena konteksnya menunjukkan dukungan kepada Jibril, yang merupakan duta antara Allah dan para nabiNya. Dia dikaitkan dengan Mikail dalam penyebutan ini, karena Yahudi mengklaim bahwa Jibril adalah musuh mereka dan Mikail adalah wali mereka. Lalu Allah memberitahu bahwa siapa saja yang memusuhi salah satu dari keduanya, maka dia telah memusuhi yang lainnya, serta memusuhi Allah, karena terkadang dia (Mikail) juga menurunkan wahyu kepada para nabi sebagaimana dia dikaitkan dengan Rasulullah SAW pada awal kenabian. Akan tetapi Jibril lebih sering, karena itu tugas utamanya, sedangkan Mikail bertanggung jawab atas hujan dan tanaman. Yang itu (Jibril) berhubungan dengan petunjuk, dan yang ini (Mikail) berhubungan dengan rezeki. Demikian pula Israfil yang bertanggung jawab meniup sangkakala untuk kebangkitan di Hari Kiamat. Allah SWT berfirman: (sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir) dalam ayat ini kata yang zhahir menempati tempatnya kata dhamir, dimana tidak dikatakan “fa innahu ‘aduwwun” tetapi Allah berfirman: (Fa innallaha ‘aduwwul lil kafirin) sebagaimana yang dikatakan oleh penyair: Tidak kulihat kematian yang bisa dilewati oleh sesuatu kematian itu melewati yang kaya dan miskin Allah menampakkan kata iniuntuk menegaskan makna tersebut dan menampakkannya, serta memberitahu mereka bahwa siapa pun yang memusuhi para wali Allah, maka dia telah memusuhi Allah, dan siapa saja yang memusuhi Allah, maka Allah adalah musuhnya, dan siapa saja yang menjadikan Allah musuhnya, maka dia akan merugi di dunia dan akhirat, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits: “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya”
Tafsir As-Sa'di
Buka
97-98. Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yahudi yang mengklaim bahwasanya hal yang menghalangi mereka dari beriman adalah bahwa jibril, walimu (Muhammad), seandainya dia adalah berupa malaikat-malaikat Allah yang lain selain jibril, niscaya mereka beriman kepadamu dan mempercayaimu. Sesungguhnya klaim seperti ini saling bertentangan dan merupakan kesombongan terhadap Allah, karena jibril itu adalah malaikat yang turun dengan membawa al-Qur’an dari Allah kepada hatimu, dan dialah yang turun juga kepada para Nabi sebelummu, dan Allah-lah yang memerintahkan dengan tugas seperti itu, maka dia sebatas malaikat yang diutus, padahal kitab yang diturunkan oleh jibril itu telah membenarkan apa yang telah lewat dari kitab-kitab sebelumnya dan tidak menyelisihi dan bertentangan dengannya. Kitab ini berisi petunjuk yang sempurna dari segala bentuk kesesatan, juga berisi kabar gembira tentang kebaikan dunia dan akhirat bagi orang yang beriman kepadanya, maka permusuhan terhadap jibril yang dijelaskan sifat-sifatnya diatas adalah sebuah pengingkaran terhadap allah dan ayat-ayatNya serta permusuhan kepada Allah, kepada Rosul-rosulnya dan malaikat-malaikatNya. Sesungguhnya permusuhan mereka terhadap jibril bukanlah kepada jibril pribadi, namun juga terhadap al-Qur’an yang dibawa olehnya dari sisi Allah berupa kebenaran (yang di turunkan) kepada Rosul-rosul Allah, maka permusuhan dan pengingkaran itu mencakup kepada Dzat yang menyuruhnya turun dan kepada al-Qur’an yang diturunkan olehNya serta kepada Rosul yang diturunkan kitab itu kepadanya, inilah maksud dari hal itu.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
Wahai Rosul, katakanlah kepada kaum Yahudi yang memusuhi Jibril, bahwa mereka akan ditimpa azab dan Baitul Muqoddas akan dihancurkan oleh Bahtanshor atau lainnya: Barang siapa memusuhi Jibril, maka ketahuilah bahwa atas kehendak dan izin Allah Jibril telah menurunkan Alquran ke dalam hatimu, bukan atas kehendak Jibril sendiri. Alquran diturunkan sebagai pembenaran dari kitab-kitab Allah yang terdahulu seperti Taurat dan Injil. Kemudian juga sebagai petunjuk agar manusia tidak tersesat, dan memberi kabar gembira tentang balasan yang baik. Imam Ath Thabari berkata bahwa ijma’ ulama’ men-ta’wili ayat ini sebagai jawaban kepada Yahudi Bani Israil, karena mereka menganggap Jibril sebagai musuh dan Mikail sebagai wali/kekasih mereka
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Katakanlah -wahai rasul- kepada kaum Yahudi ketika mereka mengatakan, “sesungguhnya Jibril adalah musuh kami dari bangsa malaikat”, barangsiapa menjadi musuh bagi Jibril maka sesungguhnya dia menurunkan Alquran ke dalam hatimu dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang membenarkan apa yang lalu dari kitab-kitab Allah , dan menunjukkan kepada jalan kebenaran, dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang membenarkan (beriman) kepadanya dengan segala kebaikan di dunia dan akhirat.
Tafsir Al-Madinah
Buka
97-98. Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menjawab orang-orang Yahudi yang memusuhi malaikat Jibril dengan berfirman: “Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Jibril, maka sesungguhnya Jibril itu yang menurunkan al-Qur’an ke dalam hatimu dengan perintah Allah, yang merupakan kitab yang sesuai dengan kitab-kitab sebelumnya, di dalamnya terdapat petunjuk yang sempurna dan kabar gembira di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang beriman. Dan barangsiapa yang memusuhi Allah dengan menyelisihi agama-Nya, memusuhi para malaikat dengan membenci mereka, dan memusuhi Rasul-Rasul-Nya dengan mendustakan mereka, maka Allah akan menjadi musuh bagi orang-orang yang ingkar tersebut.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
97. Katakanlah -wahai Nabi- kepada orang-orang Yahudi yang berkata, “Sesungguhnya Jibril adalah musuh kami dari bangsa Malaikat”, “Barangsiapa memusuhi Jibril, sesungguhnya Jibril adalah Malaikat yang menurunkan Al-Qur`ān ke dalam hatimu dengan izin Allah, yang membenarkan kitab-kitab suci yang datang sebelumnya, seperti Taurat dan Injil, serta menunjukkan kebajikan dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin tentang kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Maka siapapun yang memusuhi Malaikat yang memiliki sifat dan pekerjaan semacam itu ia termasuk golongan orang-orang yang sesat.”
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
97. (Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril) Ayat ini diturunkan sebagai jawaban untuk orang-orang Yahudi yang mengaku bahwa Jibril adalah musuh mereka sedangkan Mikail adalah teman mereka. Dan yang menjadi sebab mereka mengatakan itu adalah perdebatan yang terjadi antara mereka dengan Rasulullah dalam hal kenabiannya. Mereka berkata kepada Rasulullah: andai saja temanmu itu bukan Jibril kami pasti menjadi pengikutmu dan beriman kepadamu. Rasulullah berkata: apa yang menghalangi kalian untuk membenarkannya? Mereka berkata: karena dia adalah musuh kami. (maka sesungguhnya Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu) Yakni Jibril menurunkan al-Qur’an ke dalam hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallamsecara bertahap untuk meneguhkan hatinya. Dan hal ini adalah bukti kemuliaan dan ketinggian derajat Jibril dan tidak ada hal yang menjadi pembenaran atas permusuhan orang-orang Yahudi terhadapnya; dan tidaklah ada yang datang dari Jibril kecuali hal-hal yang menumbuhkan kecintaan kepadanya, bukan malah permusuhan. Dan tugas menurunkan kitab bukanlah suatu dosa, karena kitab yang diturunkan adalah kitab Allah yang malah membenarkan apa yang ada dalam kitab Taurat (dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman)
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Katakanlah,“Siapa yang menjadi musuh Jibril” Padahal, dialah yang telah menurunkannya} menurunkan Al-Qur’an {ke dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenaran terhadap apa yang ada di antaranya} terhadap kitab-kitab sebelumnya {dan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.”
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : { } Jibriil : Malaikat yang mendapat tugas untuk menyampaikan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ { } Nazzalahu ‘ala qolbika : Jibril menurunkan al-Qur’an ke dalam hati Rasulullah ﷺ { } Mushaddiqan limaa baina yadaihi : Al-Qur’an membenarkan berita yang ada pada kitab-kitab terdahulu mengenai sifat Rasul dan kabar gembira tentang kedatangannya, mengabarkan tentang tauhid, dan kewajiban tunduk kepada Allah Ta’ala. Makna ayat : Pada ayat 97 Allah Ta’ala memerintahkan rasulNya untuk membantah perkataan orang Yahudi “Kalau seandainya malaikat yang datang kepadamu itu Mikail, tentu kami beriman kepadamu, akan tetapi yang menurunkannya adalah Jibril. Kami tidak mau beriman, karena Jibril adalah musuh kami dan dia datang membawa adzab.” Dengan firmanNya ( ) “Katakanlah, barangsiapa yang menjadi musuh bagi Jibril” maka matilah dengan kebencian dan kedengkiannya itu. Karena malaikat Jibril yang menurunkan wahyu al-Qur’an dengan izin Allah ke dalam hatimu wahai RasulNya, yang mana al-Qur’an membenarkan seluruh kitab-kitab sebelumnya, dan sebagai petunjuk yang menerangi jalan dan kabar gembira bagi orang-orang mukmin dan shalih.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, "Orang-orang Yahudi datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Abul Qasim! Sesungguhnya kami akan bertanya kepadamu lima perkara. Jika Engkau dapat menjawabnya, maka kami mengetahui bahwa engkau adalah seorang Nabi dan kami akan mengikutimu." Maka Beliau mengambil janji dari mereka sebagaimana Isra'il (Nabi Ya'qub) mengambil janji dari anak-anaknya ketika mereka berkata, "Allah menjadi saksi terhadap apa yang kita katakan." Beliau bersabda, "Sebutkanlah!" Mereka berkata, "Beritahukanlah kepada kami tanda seorang nabi!" Beliau bersabda, "Kedua matanya tidur, namun hatinya tidak tidur." Mereka berkata, "Beritahukanlah kepada kami bagaimana seorang wanita bisa melahirkan wanita dan bisa melahirkan laki-laki! Beliau bersabda, "Kedua air mani menyatu, jika mani laki-laki mengalahkan mani wanita, maka lahirlah anak laki-laki. Tetapi, jika mani wanita mengalahkan mani laki-laki, maka lahirlah anak perempuan." Mereka berkata lagi, "Beritahukanlah kepada kami apa yang diharamkan Isra'il (Nabi Ya'qub) terhadap dirinya!" Beliau menjawab, "Ia (Nabi Ya'qub) merasakan penyakit 'irqun nasaa (semacam encok) dan tidak mendapatkan sesuatu yuang menyembuhkannya selain susu ini dan itu (Perawi yang bernama Abdullah berkata, "Bapakku berkata: Sebagian mereka berkata, "Maksudnya adalah unta", maka ia mengharamkan daging unta). Mereka berkata, "Engkau benar." Mereka pun bertanya lagi, "Beritahukanlah kami tentang guruh ini!" Beliau menjawab, "Salah satu di antara malaikat Allah yang diserahkan mengurus awan, di tangannya ada sabetan dari api untuk menyabet awan dan mengarahkannya ke tempat yang diperintahkan Allah." Mereka bertanya lagi, "Apa suara yang terdengar ini?" Beliau menjawab, "Suaranya." Mereka merkata, "Engkau Benar, namun tinggal satu lagi yang menjadi sebab kami akan membai'atmu jika kamu mau memberitahukannya, karena tidak ada satu pun nabi kecuali ada malaikat yang datang kepadanya membawa berita, maka beritahukanlah kepada kami, siapa kawanmu?" Beliau menjawab, "Jibril ''alaihis salam." Mereka berkata, "Jibril adalah malaikat yang turun membawa peperangan dan azab yang menjadi musuh kami. Jika engkau mengatakan "Mikail", malaikat yang menurunkan rahmat, tumbuhan dan hujan tentu (kami akan bai'at)." Maka Allah menurunkan ayat di atas. (Al Haitsami berkata dalam Majma'uz Zawaa'id juz 8 hal. 242, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, dan para perawi keduanya tsiqah. Abu Nu'aim juga meriwayatkan dalam Al Hilyah juz 4 hal. 305. hadits tersebut dalam sanadnya ada Bukair bin Syihab. Al haafizh dalam At Taqrib berkata, "Makbul", yakni jika ada mutaba'ah, namun jika tidak ada maka layyin (lunak), sebagaimana diingatkan olehnya dalam mukadimahnya. Akan tetapi hadits ini memiliki jalan-jalan kepada Ibnu Abbas sebagaimana dalam tafsir Ibnu Jarir, di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad juz 1 hal. 278; dari Hasyim bin Qasim, dari Abdul Hamid dari Syahr dari Ibnu Abbas. Syahr ini adalah Syahr bin Hausyab yang diperselisihkan oleh ulama, namun yang rajih bahwa dia adalah dha'if dari sisi hapalannya, tetapi bisa dipakai dalam hal syahid dan mutaba'ah. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Thayalisi juz 2 hal. 11, Ibnu Jarir juz 1 hal. 431, Ibnu Sa'ad juz 1 Qaf 1 hal. 116 dari jalan Syahr bin Hausyab dari Ibnu Abbas. Ibnu Jarir menyebutkan adanya ijma' dari para ulama bahwa ayat di atas turun sebagai jawaban terhadap orang-orang Yahudi, ketika mereka menyatakan bahwa Jibril musuh mereka dan Mikail sebagai kawan mereka. Dengan demikian, ijma' menguatkan kedua jalan yang memiliki kelemahan tersebut. Orang-orang Yahudi mencari-cari alasan, mereka tidak mau beriman karena wali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah malaikat Jibril, jika sekiranya selain malaikat Jibril, tentu mereka akan beriman. Alasan seperti ini tidak bisa diterima, karena malaikat Jibril yang menurunkan Al Qur'an dari sisi Allah ke dalam hati Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dia juga yang menurunkan kitab-kitab kepada para nabi sebelumnya. Allah yang memerintahkan dan mengirimnya dengan membawa kitab itu, tugasnya adalah sebagai utusan semata. Di samping itu, kitab yang dibawanya membenarkan kitab-kitab sebelumnya, tidak menyalahi atau bertentangan, di dalamnya terdapat petunjuk yang sempurna dari semua bentuk kesesatan, terdapat kabar gembira memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat bagi yang beriman. Memusuhi Jibril yang disebutkan sifatnya itu merupakan kekafiran kepada Allah dan ayat-ayat-Nya, demikian juga sama saja memusuhi Allah, rasul-rasul-Nya dan malaikat-malaikat-Nya. Ia sama saja mengingkari dan memusuhi yang menurunkan dan mengutusnya, mengingkari kitab yang dibawanya dan memusuhi orang yang mendapatkan kitab itu.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 97: Kemudian Allah memerintahkan nabi-Nya agar berkata kepada orang-orang yahudi: ketahuilah wahai yahudi bahwasannya barang siapa yang menjadi jibril maka dia akan adalah musuh Allah.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Sungguh, kami telah mengutusmu, wahai nabi Muhammad, dengan kebenaran syariat yang terang dan agama yang lurus, sebagai pembawa berita gembira kepada orang-orang beriman tentang surga yang penuh kenikmatan, dan pemberi peringatan kepada orang-orang kafir tentang siksaan api neraka. Dan engkau tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang kaum kafir yang menjadi penghuni-penghuni neraka sesudah engkau dengan sungguh-sungguh mengajak mere ka beriman. Dalam pernyataan Allah ini terkandung hiburan bagi rasulullah agar tidak kecewa dan berkecil hati terhadap apa yang telah dilakukannya. Dan janganlah engkau, wahai nabi Muhammad, bersusah payah mencari kerelaan orang-orang yang ingkar. Hal itu tidak mungkin, sebab orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu, nabi Muhammad, sebelum engkau meninggalkan agamamu dan berpaling mengikuti agama mereka yang mereka anggap paling benar. Karena itu, engkau tidak perlu melakukan apa yang mereka minta demi memperoleh kerelaan mereka, tetapi tetaplah engkau meng hadapkan dirimu untuk mendapatkan kerelaan Allah. Tetaplah mengajak mereka kepada kebenaran dan katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah, yakni agama islam, itulah petunjuk, yakni agama yang sebenarnya. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu, yakni kebenaran wahyu, sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah. Meski khitab ayat ini ditujukan kepada nabi Muhammad, pada hakikatnya pesan ini berlaku umum bagi seluruh umat islam.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Terkait firman Allah: (dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka). Bacaan yang lebih banyak digunakan adalah “Wa laa tus’al” (dengan di dhammah huruf “ta’”nya memberikan penjelasan) dan bacaan Ubay bin Ka’b “Wa maa tus’al”, sedangkan bacaan Ibnu Mas’ud “Wa lan tus’al ‘an ashabil jahim”. Bacaan ini dinuqil oleh Ibnu Jarir, maknanya yaitu, Kami tidak meminta pertanggungjawaban kepadamu atas kekufuran orang yang mengingkarimu, sebagaimana firman Allah SWT (karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.) (Surah Ar-Ra’d: 40) (Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (21) Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (22)) (Surah Al-Ghasyiyah) Ulama’ lain membaca “Wa laa tus’al ‘an ashabil jahim” dengan difathah huruf “ta’”nya untuk memberi larangan, yaitu janganlah bertanya tentang keadaan mereka
Tafsir As-Sa'di
Buka
119. “Sesungguhya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” Ayat ini meliputi semua ayat yang dia bawa, yang berporos pada tiga perkara, Pertama, berkaitan dengan kerasulannya itu sendiri, dan yang kedua pada kehidupan, petunjuk, dan bimbingannya, dan yang ketiga pada pengetahuan tentang apa yang dibawa olehnya berupa al-Qur’an dan as-Sunnah. Perkara pertama dan kedua masuk dalam firman Allah, “Sesungguhnya kami telah mengutusmu (Muhammad), ” sedang perkara ketiga masuk dalam firmanNya, “dengan kebenaran” Penjelasan tentang perkara pertama, yaitu kerasulannya itu sendiri, bahwasanya telah diketahui tentang kondisi penduduk bumi sebelum diutusnya beliau, yang mana mereka menyembah berhala, api dan salib serta merubah-rubah agama, hingga mereka berada dalam gelapnya kekafiran yang telah menguasai dan merasuki mereka semua, kecuali segelintir dari ahli kitab yang telah punah sesaat sebelum kerasulan tiba. Sungguh telah diketahui bahwasanya Allah tidaklah menciptakan makhluk-makhlukNya dengan sia-sia dan Dia tidak membiarkan mereka berjalan sendiri, karena Allah itu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui, Mahamampu lagi Maha pengasih, maka di antara hikmah dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambanya adalah bahwa Dia mengutus kepada mereka Rosul yang mulia tersebut yang mengajak mereka kepada kepada penyembahan hanya semata kepada Dzat yang Mahakasih, yang tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya sebatas kerasulannya, seorang yang berakal akan mengetahui kebenarannya, dan itulah tanda yang paling besar yang menunjukkan bahwasanya beliau itu adalah Rosulullah Sholallohu 'alaihi wasallam Penjelasan perkara yang kedua adalah barangsiapa yang mengenal Nabi secara baik dan sempurna, dan dia mengetahui sejarah hidupnya dan kehidupannya sebelum diutus serta perkembangan hidupnya dengan berpedoman kepada sifat-sifat yang mulia, kemudian setelah itu bertambah mulia dan luhur akhlak dan sifat-sifatnya yang agung dan indah bagi orang yang memandangnya, maka barangsiapa yang mengetahuinya dan menapaki kondisi-kondisinya, niscaya dia akan mengetahui bahwasanya semua itu tidaklah mungkin kecuali merupakan akhlak-akhlak para Nabi yang sempurna, karena Allah telah menjadikan sifat-sifat sebagai tanda terbesar untuk mengetahui pemiliknya dari sisi kebenaran ddan kebohongannya. Sedangkan perkara yang ketiga adalah mengetahui apa yang dibawa oleh Rosululloh berupa syari’at yang agung dan al-Quran yang mulia yang mengandung segala kabar yang shahih, perintah-perintah kepada hal yang baik, larangan-larangan dari hal-hal yang buruk, dan mukjizat-mukjizat yang besar, maka seluruh tanda-tanda itu masuk ke dalam ketiga perkara tersebut. FirmanNya, “Sebagai pembawa berita gembira, ” yaitu bagi orang yang menaatimu dengan kebahagiaan dunia maupun akhirat, “dan pemberi peringatan, ” yaitu bagi orang yang bermaksiat kepadamu dengan kesengsaraan dan kehancuran dunia maupun akhirat. “Dan kamu tidak akan diminta (pertanggung jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka, ” maksudnya kamu tidaklah bertanggungjawab terhadap mereka, karena kamu hanya menyampaikan dan Kami-lah yang akan membalasnya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang Allah untuk menyampaikan agama yang benar. Juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman tentang adanya balasan surga bagi mereka. Kemudian memberi peringatan kepada orang kafir tentang azab neraka. Engkau wahai Muhammad tidak dimintai tanggung jawab tentang siapa yang mati kafir atau siapa yang mati dalam mengimani kerasulanmu. Imam As Suyuti berkata:Yang dimaksud pada ayat ini, ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, adalah kafir Yahudi dan Nasrani bukan kedua orang tua Nabi SAW
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sesungguhnya kami telah mengutusmu –wahai Rosul- dengan membawa ajaran-ajaran agama yang benar yang dikukuhkan dengan hujah-hujah dan mukjizat-mukjizat, maka sampaikanlah ajaran agama itu kepada manusia dengan memberikan kabar gembira bagi kaum Mukminin bahwa mereka akan mendapatkan dua kebaikan yaitu di dunia dan akhirat, dan peringatan untuk orang-orang yang menentangnya dengan siksaan Allah yang akan menunggu mereka. Dan kamu (setelah selesai menyampaikan Risalah) tidaklah bertanggung jawab atas kekafiran orang-orang yang ingkar kepadamu, karena sesungguhnya mereka itu akan masuk neraka pada hari kiamat dan mereka tidak akan keluar darinya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
119. Dengan keagungan dan kekuasaan Kami yang sempurna, Kami mengutusmu hai Muhammad membawa agama yang benar, untuk memberi kabar gembira tentang kenikmatan surga, dan memperingatkan dari azab neraka. Dan kamu bukanlah penanggungjawab atas orang-orang yang mendustakanmu yang berhak mendapatkan azab neraka pada hari kiamat; namun tugasmu hanyalah menyampaikan risalah.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
119. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu -wahai Nabi- dengan membawa agama yang benar, yang tidak ada keraguan sedikitpun terhadapnya, agar engkau memberikan kabar gembira tentang surga bagi orang-orang yang beriman dan memperingatkan adanya neraka bagi orang-orang yang ingkar. Tugasmu hanyalah menyampaikan agama itu secara nyata. Dan Allah tidak akan meminta tanggung jawabmu terkait penghuni neraka Jahim yang tidak mau beriman kepadamu.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
119. (Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran) Yakni Allah menekankan untuk Rasulullah bahwa dirinya adalah utusan-Nya sebagai bantahan orang-orang kafir yang meminta agar Allah berbicara dengan mereka untuk memberi tahu kenabian Rasulullah. (sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) Yakni Kami mengutusmu untuk menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. (dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka) Yakni kewajibanmu (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) adalah menyampaikan dan bukan penanggungjawab orang-orang yang tidak beriman yang akan menjadi penghuni nereka.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan benar sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Kamu tidak akan dimintai pertanggung jawaban tentang penghuni-penghuni neraka
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : { } Wa laa tus’alu : Ayat ini dibaca dengan huruf ta’ untuk majhul (pasif) tus’alu disertai dengan huruf Laa sebagai huruf nafi (menafikan) dan fi’il dalam keadaan marfu’ (berharakat akhir dhommah). Bisa dibaca juga dengan bentuk ta’ untuk ma’lum (aktif) tas’al dan huruf Laa sebagai nahiyah (melarang) dan fi’il dalam keadaan majzum (berharakat akhir sukun) Wa Laa Tas’al. { } al-Jahiim : Salah satu tingkatan di neraka. Dan tingkatan Jahiim merupakan yang paling pedih adzabnya. Makna ayat : Pada ayat (119) Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia telah memberikan keringanan kepada Nabinya dengan tidak perlu pusing memikirnya permintaan orang-orang musyrik untuk mendatangkan bukti-bukti. Karena Nabi tidak dibebani agar seseorang mendapatkan hidayah atau beriman. Begitu juga pada hari kiamat tidak bertanggung jawab mengenai siapa saja yang akan masuk ke neraka. Karena tugas utama seorang nabi hanyalah untuk memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan. Yaitu memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan masuk ke dalam surga dan selamat dari jilatan api neraka, serta memperingatkan orang-orang kafir dan yang berbuat keji akan masuk ke dalam neraka, merasakan adzab pedih yang terus menerus di dalamnya. Pelajaran dari ayat : • Kewajiban seorang mukmin adalah mengajak orang lain kepada Allah Ta’ala, bukan untuk membagi-bagikan hidayah. Karena hidayah hak milik Allah Ta’ala. Adapun mengajak orang lain itu masih dalam batas kemampuan manusia, dan manusia dibebani dengan hal itu.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Pada ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan kebenaran kerasulan Beliau dan kebenaran apa yang Beliau bawa berupa Al Qur'an dan As Sunnah. Kebenaran Beliau didukung oleh banyak dalil, baik dalil sam'i (naqli) seperti pada ayat ini, maupun dalil 'aqli (akal). Dalil 'aqlinya adalah sbb: Pertama, keadaan penduduk bumi sebelum Beliau diutus berada dalam kegelapan dan jauh dari akhlak mulia sehingga disebut sebagai zaman jahiliyyah (kebodohan). Manusia tidak berpikir lagi tentang apa yang disembahnya; pantas atau tidak untuk disembah seperti patung, api, salib dsb. Kita pun mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menciptakan makhluk-Nya dengan membiarkan mereka begitu saja, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Penyayang. Hikmah dan rahmat-Nya menghendaki untuk mengutus kepada mereka yang berada dalam kegelapan ini seorang rasul yang menyuruh mereka menyembah kepada yang pantas disembah, yaitu Pencipta mereka (Allah) dan mengembalikan mereka kepada jati diri mereka yang sesungguhnya (memanusiakan manusia) sebagai hamba Allah bukan hamba makhluk, membebaskan mereka dari peribadatan kepada makhluk menuju peribadatan kepada Allah, mengfungsikan kembali akal mereka yang selama ini tertahan geraknya, menjalin hubungan baik antara sesama mereka yang sebelumnya bermusuh-musuhan dan menyatukan mereka di atas tauhid, di atas beribadah kepada Allah dan di atas kebaikan sehingga hidup mereka diberkahi, makmur dan penuh kedamaian. "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Terj. Al A'raaf: 96) Kedua, barang siapa yang mengetahui keadaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum diutus, akhlaknya yang mulia dan pribadinya yang agung, pasti akan mengetahui bahwa akhlak tersebut adalah akhlak para nabi dan rasul. Hal ini pun sama menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Nabi dan Rasul. Ketiga, barang siapa yang mengetahui apa yang Beliau bawa, baik Al Qur'an maupun As Sunnah yang isinya mengandung berita yang benar, perintah-perintah yang baik (berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, berkata jujur, menepati janji dsb), larangan mengerjakan perbuatan buruk (larangan meminum khamr, judi, mengadu domba dsb), belum lagi mukjizat yang diberikan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti akan membenarkan kenabian dan kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali orang yang zhalim dan sombong saja padahal hati mereka mengakui, "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (Terj. An Naml: 14) Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus dengan membawa agama yang benar (Islam) yang diperkuat dengan hujjah dan mukjizat. Beliau diperintahkan menyampaikan agama ini dengan memberikan berita gembira kepada kaum mukmin kebaikan yang akan mereka peroleh di dunia dan akhirat, dan menakuti mereka yang menolak padahal sudah jelas kebenarannya dengan azab Allah. Tugas Beliau hanya menyampaikan, adapun hisabnya diserahkan kepada Allah. Beliau tidaklah diminta pertanggungjawaban terhadap kekafiran mereka.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 119: Kemudian Allah mengabarkan bahwasannya Allah mengutus nabi Muhammad ﷺ untuk agama ini dengan bukti.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan rasul-Nya serta mengikuti petunjuknya! infakkanlah dengan mengeluarkan sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepadamu, baik dalam bentuk yang wajib seperti zakat maupun infak yang bersifat sunah. Bersegeralah sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli yang mendatangkan keuntungan, atau seseorang dapat membeli dirinya dengan sejumlah harta yang ia bayarkan sebagai tebusan agar dirinya tidak mendapat siksa tuhan pada hari kiamat, ketika tidak ada lagi persahabatan yang memungkinkan seseorang membantu walau persahabatan itu sangat dekat yang dapat menyelamatkan dari azab Allah. Kalau sahabat yang sangat akrab saja tidak bisa, apalagi sahabat biasa. Dan pada hari itu tidak ada lagi syafaat pertolongan dari seseorang yang dapat meringankan azab kecuali dari orang-orang yang mendapat izin dan rida dari Allah. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim dengan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah, sebab mereka tidak menyambut baik seruan kebenaran. Allah; tidak ada tuhan yang pantas disembah dan dipertuhan selain dia. Yang mahahidup, kekal, dan memiliki semua makna kehidupan yang sempurna, yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak seperti manusia, dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur, sebab keduanya adalah sifat kekurangan yang membuat-Nya tidak mampu mengurus makhluk-Nya. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia yang menciptakan, memelihara, memiliki, dan bertindak terhadap semua itu. Tidak ada yang dapat memberi syafaat pertolongan di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia demikian perkasa dan kuasa sehingga berbicara di hadapan-Nya pun harus setelah memperolah restu-Nya, bahkan apa yang disampaikan itu harus sesuatu yang benar. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka, yakni apa saja yang sedang dan akan terjadi, dan apa yang di belakang mereka, yakni sesuatu yang telah berlalu. Allah mengetahui apa yang mereka lakukan dan rencanakan, baik yang berkaitan dengan masa kini, masa lampau, atau masa depan. Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang dia kehendaki untuk mereka ketahui dengan memperlihatkan dan memberitahukannya. Kursi-Nya, yaitu kekuasaan, ilmu, atau kursi tempat kedua kaki tuhan (yang tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah) berpijak, sangat luas, meliputi langit dan bumi. Dan jangan menduga karena kursi-Nya terlalu luas, dia letih mengurus itu semua. Tidak! dia tidak merasa berat maupun kesulitan memelihara keduanya, dan dia mahatinggi zat dan sifat-sifat-Nya jika dibanding makhluk-makhluknya, mahabesar dengan segala keagungan dan kekuasaan-Nya. Inilah ayat kursi, ayat teragung dalam Al-Qur'an karena mencakup namanama dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan kesempurnaan zat, ilmu, kekuasaan, dan keagungan-Nya. Ayat ini dinamakan ayat kursi. Siapa yang membacanya akan memperoleh perlindungan Allah dan tidak akan diganggu setan.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT memerintahkan hamba-hambaNya untuk menginfakkan dari rezeki yang telah Dia berikan kepada mereka di jalanNya, yaitu jalan kebaikan, agar mereka menyimpan pahala dari itu di sisi Tuhan dan Raja mereka, agar mereka bergegas menuju hal itu dalam kehidupan dunia, (sebelum datang hari yang pada hari itu) yaitu hari kiamat (tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at) yaitu, tidak ada yang dapat dijual dari dirinya atau tidak mendapatkan manfaat dengan harta yang dikeluarkan, meskipun dia membawa emas sebanyak isi bumi, dan tidak akan bermanfaat baginya persahabatan seseorang, yaitu sedekahnya, bukan hubungan keluarganya. Sebagaimana Allah berfirman: (Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya (101)) (Surah Al-Mu'minun) dan tidak ada pula syafa'at, yaitu yang akan bermanfaat baginya, syafa'at dari para pemberi syafa'at. Firman Allah : (Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim) dalam ayat ini mubtada’nya dikhususkan pada khabarnya, yakni bahwa tidak ada orang yang lebih zalim daripada mereka yang ingkar kepada Allah pada hari itu. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari ‘Atha' bin Dinar, dia berkata: “Segala puji bagi Allah yang berfirman: (Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim) Dia tidak berfirman: “Orang-orang yang zalim itu adalah orang-orang kafir”
Tafsir As-Sa'di
Buka
254. Allah menganjurkan kepada kaum Mukminin untuk berinfak pada segala macam bentuk kebaikan, karena tidak disebutkannya obyek dalam kalimat menunjukkan pada keumuman. Dan Allah juga mengingatkan tentang nikmatNya atas mereka, bahwa Allah-lah yang telah memberi rizki kepada mereka dan memberikan berbagai macam nikmat atas mereka, dan Allah tidak memerintahkan kepada mereka untuk mengeluarkan seluruh harta yang ada pada mereka, akan tetapi ayat ini hadir dengan kata ‘min’ (dari) yang menunjukkan arti sebagian, maka hal ini di antara perkara yang mengajak mereka untuk berinfak, dan juga di antara hal yang mengajak mereka untuk berinfak adalah kabar Allah kepada mereka bahwa infak-infak tersebut akan tersimpan rapi di sisi Allah pada suatu hari yang tidak ada gunanya lagi saling tawar menawar untuk berjual beli dan semacamnya, tidak pula bantuan-bantuan sosial maupun syafa’at. Setiap orang akan berkata apa yang telah saya persembahkan untuk kehidupan saya, maka seluruh sebab-sebab akan lenyap, kecuali sebab-sebab yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah dan keimanan kepadaNya, "(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" -Asy-Syu’ara:88-89- "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." Saba:37 "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." Al-Muzzammil:20- Kemudian Allah berfirman, “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” Hal itu karena Allah menciptakan mereka hanya untuk beribadah kepadaNya, Dia memberi rizki dan menyehatkan mereka agar mereka mampu mengerjakan ketaatan dengannya, namun mereka berpaling dari tujuan Allah menciptakan mereka, mereka menyekutukan Allah dengan apa yang tidak Allah turunkan keterangan tentangnya. Mereka melakukan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dengan kenikmatan itu, mereka tidak meletakkan keadilan pada tempatnya, oleh karena itulah kezhaliman yang mutlak meliputi mereka.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
254. Wahai orang-orang yang beriman berinfaklah di jalan Allah dari rejeki yang diberikan Allah kepada kalian sesuai kemampuan, supaya kalian menerima pahala di akhirat sebelum datangnya hari kiamat yang mana tidak ada jual-beli di dalamnya sehingga kalian bisa menebus diri kalian dari azab, dan hari dimana di dalamnya tidak ada pertolongan dan belas kasihan. Orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang menzalimi diri sendiri dengan mendustakan para rasul dan mengingkari perintah Allah.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarakan rasulNya, serta mengamalkan petunjuk ajaranNya, keluarkanlah zakat yang wajib dan bersedekahlah kalian dengan apa yang Allah berikan kepada kalian sebelum datangnya Hari Kiamat, yaitu ketika tidak ada lagi jual beli yang mendatangkan keuntungan, dan tidak ada harta yang dapat kalian gunakan untuk menebus diri kalian dari siksaan Allah dan tidak ada hubungan persahabatan dengan kawan karib yang akan menolong kalian, dan tidak ada pemberi syafaat yang memberi hak untuk meringankan siksaan dari kalian. Dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang berbuat kedzhaliman lagi melampaui batas-batas Allah.
Tafsir Al-Madinah
Buka
254. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berinfak pada segala jenis jalan kebaikan dengan harta yang Allah berikan kepada mereka. Allah memerintahkan untuk membayar zakat dan bersedekah sebelum datang hari kiamat, hari dimana seseorang tidak dapat menebus dirinya dengan harta dan tidak akan mendapatkan penolong yang dapat menolongnya dari azab. Dan orang-orang yang mendustakan Allah adalah orang-orang yang menzalimi diri sendiri dan orang lain.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
254. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian, yang berasal dari berbagai harta yang halal sebelum hari kiamat tiba. Karena pada hari itu tidak ada lagi jual-beli yang bermanfaat bagi manusia; juga tidak ada persahabatan yang berguna baginya di waktu susah; dan tidak pula ada perantara yang dapat menolak mudarat atau mendatangkan manfaat kecuali setelah mendapatkan izin dari Allah bagi orang yang Dia kehendaki dan Dia restui. Dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang zalim yang sebenarnya karena keingkaran mereka kepada Allah -Ta'ālā-.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
254. (belanjakanlah) Yakni berinfaklah dijalan Allah selagi kalian mempu sebagai tabungan apa yang bermanfaat bagi kalian di hari kiamat. (sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli) Maka belilah apa yang menjadi keselamatan bagi kalian. (tidak ada hubungan persahabatan) Yakni hubungan persahabatan dan kasih sayang. (dan tidak ada lagi syafa’at ) Yakni (tidak ada lagi syafaat) yang berlaku kecuali untuk orang yang diizinkan Allah. (Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim) Yakni sebab mereka telah mendustakan para Rasul dan melanggar sumpah-sumpah.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Dan sesungguhnya banyaknya disebutkan dalam al-qur'an tentang ancaman bagi orang-orang zholim, tidak lain adalah orang-orang musyrikun dan kaum kafir sebagaimana firman Allah : { }.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada kalian sebelum datang hari dimana tidak ada jual beli di dalamnya} manusia tidak melakukan jual beli saat itu {tidak ada persahabatan} tidak ada juga pertemanan {dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: { } Anfiqû mimmâ razaqnâkum: Infaqkanlah dari sebagian rezeki untuk infaq yang wajib seperti zakat, atau infaq yang disunnahkan. { } Lâ bai’un fîhi: Tidak bisa seorang pun yang bisa menebus dirinya dengan harta agar terbebas dari siksaan. { } Wa Lâ khullah: Tidak ada juga pertemanan atau relasi yang bisa membantunya. { } Wa Lâ syafâ’ah: Tidak diterima syafa’at kecuali dengan izin Allah bagi siapa saja yang dikehendakiNya dan diridhaiNya. { } Wal kâfirûna: Orang-orang kafir yang enggan membayar zakat dan hak-hak yang wajib yang disyariatkan Allah dan untuk hamba-hambaNya adalah orang-orang zhalim. Makna ayat: Pada ayat (254) Allah Ta’ala memanggil hamba-hambaNya yang beriman dan memerintahkan mereka untuk mengeluarkan sebagian harta (infaq) di jalan Allah. Sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Nya dan mengumpulkan bekal sebelum hari kiamat, untuk menghadapi perjumpaan dengan Nya dimana tidak ada lagi tebusan maupun jual beli. Tidak ada sedekah yang bermanfaat dan syafa’at yang berlaku. Orang-orang yang ingkar (kafir) terhadap kenikmatan Allah dan syariat-syariatNya merekalah orang-orang zhalim yang pantas mendapatkan azab, keharaman dan kerugian. Pelajaran dari ayat: • Kewajiban untuk berinfaq di jalan Allah dari hasil yang Allah rizkikan kepada hambaNya. • Peringatan agar tidak lalai melakukan sebab keberhasilan pada hari kiamat, pada saat tidak ada tebusan ataupun teman dekat yang berguna, tidak ada juga syafa’at. Di antara sebab terbesar adalah beriman dan beramal shalih, serta mengeluarkan harta untuk sedekah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dalam jihad dan selainnya.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 254: Mencakup sedekah wajib (seperti zakat) maupun sedekah sunat agar mereka memiliki simpanan dan pahala yang besar di hari akhirat, hari di mana orang-orang sangat membutuhkan amal shalih meskipun seberat dzarrah (debu). Di akhirat tidak ada lagi jual beli untuk memperoleh laba atau keuntungan. Seseorang pun tidak dapat menebus dirinya dari azab Allah meskipun dengan mengeluarkan emas sepenuh bumi. Kawan pun tidak dapat memberikan manfaat baik dengan kedudukannya maupun dengan syafa'at (memberikan pertolongan). Syafa'at adalah usaha perantaraan dalam memberikan suatu manfaat bagi orang lain atau menghindarkan suatu madharat bagi orang lain. Syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir. Pada hari itu kehinaan betul-betul menimpa orang-orang yang zalim, yaitu orang-orang yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya atau tidak memberikan hak kepada yang memilikinya. Mereka tidak memenuhi hak Allah (untuk diibadati) dan hak hamba-hamba-Nya, berpaling dari yang halal kepada yang haram, dan kezaliman yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, yaitu dengan mengarahkan ibadah kepada selain-Nya, padahal selain Allah tidak memiliki hak diibadati. Oleh karena itulah, orang-orang kafir disebut orang-orang yang zhalim.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dan apabila sampai kepada mereka, orang-orang munafik itu, suatu berita yang belum dapat dibuktikan kebenarannya, baik tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya dengan tujuan untuk menimbulkan kerancuan dan kekacauan. Padahal, apabila sebelum menyebarkan berita itu mereka menyerahkannya terlebih dahulu kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya secara resmi dari mereka, yakni rasul dan ulil amri. Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu berupa ajaran dan tuntunan hidup, tentulah kamu mengikuti langkah-langkah setan, kecuali sebagian kecil saja di antara kamu yang mengikuti petunjuk rasulmaka berperanglah engkau, nabi Muhammad dan kaum muslim, di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan ingatlah bahwa engkau tidaklah dibebani melainkan atas kewajiban yang diletakkan pada dirimu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang di jalan Allah. Mudah-Mudahan Allah menolak dengan cara mematahkan serangan orang-orang yang kafir itu. Allah sangat besar kekuatan-Nya untuk mengalahkan para penentang agama Allah itu dan sangat keras siksaan-Nya bagi kedurhakaan orang-orang munafik itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 82-83 Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kepada mereka untuk merenungkan Al-Quran, melarang mereka untuk berpaling darinya dan dari memahami maknanya yang jelas dan lafazh-lafzhnya yang sangat jelas. Serta memberitahukan kepada mereka bahwa tidak ada, perbedaan, permusuhan, dan pertentangan di dalamnya. Karena Al-Qur’an itu diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, jadi itu adalah kebenaran yang pasti. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman, (Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (24)) (Surah Muhammad) Kemudian Allah berfirman (Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah) tyaitu jika itu dibuat-buat dan diciptakan (oleh manusia) sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu orang musyrik dan munafik karena ketidaktahuan mereka dalam hati mereka, maka pasti akan ada banyak pertentangan di dalamnya, yaitu pertentangan dan sesuatu yang berlawanan yang sangat banyak. Maknanya yaitu bahwa Al-Qur’an ini terbebas dari pertentangan, dan itu dari sisi Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT seraya memberitahukan tentang orang-orang yang kokoh pengetahuannya dimana mereka berkata (Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami) (Surah Ali-Imran: 7), yaitu, baik ayat muhkamat maupun mutasyabihat, itu adalah kebenaran. Oleh karena itu, mereka mengembalikan ayat mutasyabihat kepada ayat muhkamat dan mereka mendapat petunjuk. Sedangkan orang-orang yang hati mereka dalam kesesatan, mereka mengembalikan ayat muhkamat kepada ayat mutasyabihat dan mereka tersesat. Oleh karena itu, Allah memuji mereka yang kokoh pengetahuannya dan mencela orang yang tersesat. Firman Allah: (Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya) untuk menolak orang yang tergesa-gesa terhadap sesuatu sebelum memastikannya, sehingga mereka memberitahukan dan menyebarluaskannya, padahal berita tersebut mungkin tidak benar. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan” Firman Allah (tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yaitu orang-orang mukmin. Abdurrazaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah tentang firman Allah (tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja) yaitu kalian semua Untuk mendukung pendapat ini, dikutip pernyataan dari Ath-Thirmah bin Hakim dalam memuji Yazid bin Al-Muhallab: “Aku mencium banyak tangan yang memberi karunia, sedikit yang mengkritik dan mencela"
Tafsir As-Sa'di
Buka
83. Ini merupakan pengajaran dari Allah bagi hamba-hambanya tentang perbuatan mereka yang tidak patut tersebut, dan bahwa seyogyanya apabila datang kepada mereka suatu perkara penting dari perkara umum yang berkaitan dengan kebahagiaan kaum Mukminin atau dengan kekhawatiran yang mengakibatkan suatu musibah atas mereka, agar mereka memastikan terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa untuk menyebarkan kabar tersebut, dan sebaiknya mereka menyerahkanya kepada Rasul atau Ulil Amri diantara mereka yaitu yang memilki pandangan luas, ilmu ,nasihat, kecerdasan, dan keteguhan, dimana mereka mengetahui urusan-urusan dan mengetahui kemaslahatan dan kemudharatan, dan bila mereka memandang bahwa menyebarkannya mengandung kemaslahatan dan semangat bagi kaum Muslimin, bahkan kebahagiaan untuk mereka serta tindakan kewaspadaan terhadap musuh-musuh mereka, maka mereka bileh melakukan hal tersebut, dan bila mereka memandang apabila hal tersebut mengandung kemaslahatan, atau ada kemaslahatan padanya akan tetapi kemudhratanya lebih bersar daripada kemaslahatannya, maka janganlah meeka menyebarkannya, karena itu Allah berfirman, “tentulah orang-orang yang ingin tahu kebenarannya (akan dapat mengetahui) dari mereka Rasul dan Ulil Amri,” maksudnya, mereka dapat menyimpulkan suatu kebenaran dengan pemikiran dan pendapat-pendapat mereka yang lurus serta ilmu-ilmu yang matang. Ayat ini merupakan sebuah dalil bagi sebuah kaidah moral yaitu apabila terjadi suatu pembahasan dalam suatu perkara, seyogyanya perkara tersebut di serahkan kepada orang yang berhak atas perkara tersebut, dan tidak ada seorang pun yang didahulukan sebelumnya, karena sesungguhnya ia lebih dekat dengan kebenaran dan lebih dapat selamat dari kesalahan. Ayat ini juga mengisyaratkan tentang larangan dari sikap tergesa-gesaan dan terburu-buru dalam menyampaikan inpormasi setelah mendenganrkannya, dan seharusnya dalam perkara seperti itu perlu berpikir sebelum membicarakandan membahasnya, apakah hal ini menyimpan kemaslahatan hingga ia melakukannya ataukah hingga ia menahannya. Kemudian Allah berfirman, “kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepadamu,”yaitu dalam membimbing, mengajarkan, dan mendidik kalian dengan apa yang belum kalian ketahui, “tentulah kamu mengikuti setan, kacuali sebagian kecil saja di antaramu,” karena manusia dengan tabiatnya adalahzhalim lagi bodoh, dan nafsunya tidaklah menyuruhnya kecuali kepada kejahatan, namun bila ia bersandar kepada Rabbnya dan berpengan teguh denganNya dan ia berjuan dalam hal tersebut, niscaya Rabbnya akan mengasihi dan membimbingnya kepada kebaikandan menjaganya dari setan yang terkutuk.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
83. Dan ketika telah datang kepada orang-orang muslim yang lemah suatu perkara, maka mereka akan mendengarkan berita keamanan seperti kemenangan atau ketakutan seperti kekalahan dan peperangan dari perkara itu, lalu mereka akan menyiarkannya kepada orang-orang dan menyebarkan rumor palsu yang bisa membahayakan para pasukan. Dan jika mereka menyampaikan kabar tersebut kepada rasulullah, dan orang yang berilmu, para pemimpin, maka sungguh orang-orang yang ingin mengetahui rahasia perkara itu akan mengetahui hakikat berita tersebut dari para pemimpin, sehingga mereka bisa memastikan kebenarannya dan mengerti tentang sesuatu yang sebaiknya diumumkan atau disembunyikan, yaitu jika mereka menyerahkan kabar itu kepada rasulullah atau ulil amri, maka sungguh mereka telah melakukan sesuatu yang bisa memberi kemaslahatan, yaitu mengumumkan berita itu atau menyembunyikannya. Kalau tidak karena taufik, keutamaan, dan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian untuk beriman, maka sungguh kalian akan mengikuti jalan setan sebagaimana orang-orang munafik itu mengikutinya. Dan firman Allah {Illa Qaliila} adalah pengecualian dari tindakan menyiarkan berita dan mencari tahu, diluar itu termasuk tindakan patuh, yaitu sungguh kalian telah mengikuti setan kecuali hanya sedikit dari kalian seperti orang-orang yang mendapatkan petunjuk yang tetap berada dalam kebenaran, ketika Allah memberi mereka akal sehat dan keinginan yang kuat yang tidak memungkinkan mereka untuk tunduk kepada setan
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan apabila datang kepada orang-orang yang keimanan mereka belum tertanam kuat di dalam hati mereka, suatu perkara yang mestinya disembunyikan, yang berhubungan dengan keamanan yang berdampak positif bagi islam dan kaum muslimin atau berkaitan dengan ketakutan yang menyebabkan ketidak tentraman di dalam hati mereka,mereka menyebarkan dan menyiarkannya ke tengah manusia. Sekiranya mereka mengembalikan penanganan kejadian yang datang pada mereka kepada Rasululah atau kepada ahli ilmu dan fikih, pastilah akan mengetahui hakikat perkara tersebut orang-orang yang ahli beristinbath dari mereka.Dan kalau bukan karena allah mencurahkan karunia kepada kalian dan merahmati kalian,pastilah kalian akan mengikuti setan dan bisikan-bisikannya kecuali sebagian kecil saja dari kalian.
Tafsir Al-Madinah
Buka
83. Allah berfirman untuk mengingkari orang yang terburu-buru dalam menyikapi suatu urusan sebelum dia memastikan kebenarannya namun dia segera menyebarkannya kepada orang lain: Seharusnya jika datang kepada mereka suatu kabar penting yang menyangkut kemaslahatan orang banyak seperti keamanan, kabar gembira bagi kaum muslimin, atau berita genting yang mengandung musibah bagi mereka, maka hendaklah mereka memastikan kebenaran berita tersebut dan tidak terburu-buru menyebarkannya. Kemudian hendaklah mereka menyampaikan berita itu kepada Rasulullah atau orang yang berilmu dan berpengalaman yang dapat memberi pandangan terhadap berita itu dan mempertimbangkan kebaikan atau keburukan di dalamnya. Jika mereka melihat bahwa penyebaran berita itu dapat membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi kaum muslimin, maka hendaklah mereka menyebarkannya. Namun jika penyebaran berita itu tidak membawa manfaat atau mengandung manfaat namun mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, maka hendaklah mereka merahasiakan berita itu. Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian dengan adanya Rasulullah dan orang-orang yang berilmu, niscaya agama ini akan ternodai akibat tersebarnya berita-berita bohong, dan urusan-urusan kaum muslimin akan melemah, serta kebanyakan kalian akan mengikuti godaan setan. Dan mereka tidak mengikuti jejak setan karena penjagaan dari Allah berkat keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepada mereka.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
83. Apabila orang-orang munafik itu mendengar sesuatu tentang orang-orang Islam, baik terkait dengan keamanan dan kebahagiaan mereka maupun terkait ketakutan dan kesedihan mereka, maka orang-orang munafik itu langsung menyebarluaskannya. Seandainya mereka mau mengembalikan masalah itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan kepada para cendekiawan serta ulama penasihat, niscaya para cendekiawan akan dapat menemukan penyelesaian yang seharusnya dilakukan terkait hal itu. Apakah harus disebarluaskan ataukah dirahasiakan? Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya terhadap kepada kalian -wahai orang-orang mukmin- niscaya kalian akan mengikuti bisikan setan, kecuali sebagian kecil dari kalian.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
83. (Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya) Mereka adalah sekolompok orang-orang lemah dari kalangan orang-orang beriman. Apabila mereka mendengar berita kemenangan orang-orang beriman atau terbunuhnya musuh mereka, atau berita kekalahan atau pembunuhan orang-orang beriman mereka langsung menyiarkannya. Pendapat lain mengatakan yakni mereka apabila mendengar keberhasilan orang-orang munafik dalam melawan orang-orang beriman dan isu-isu yang tidak benar mereka langsung menyebarkan berita tersebut sehingga hal itu menimbulkan kerusakan. (Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka) Ulil amri para pemilik ilmu dan akal yang sehat yang menjadi rujukan dalam urusan-urusan mereka. Atau mereka adalah para pemimpin. ( tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)) Yakni dari kesimpulan yang mereka dapatkan dari hasil pemahaman akal sehat mereka. Dan makna dari potongan ayat ini adalah seandainya mereka tidak menyebarkan kabar-kabar sampai Rasulullah atau para pemimpin yang bertanggungjawab atas itu yang akan mengabarkannya karena mereka mengetahui apa yang seharusnya diumumkan dan apa yang seharusnya dirahasiakan niscaya akan didapatkan apa yang diinginkan bersama.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Apabila datang kepada mereka} datang kepada orang-orang munafik itu {suatu perkara tentang keamanan} kemenangan dan harta rampasan {atau ketakutan} kematian dan kekalahan {mereka menyebarluaskannya} menyebarluaskan dan mengungkapkannya {Seandainya mereka menyerahkannya} mengembalikan perkara yang datang kepada mereka itu {kepada Rasul dan pemegang kekuasaan} orang-orang yang ahli dalam keilmuan pemahaman dan wawasan {di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya mengetahuinya dari mereka} maka sungguh orang-orang yang ahli dalam keilmuan, pemahaman dan wawasan itu akan tahu tentang sesuatu yang sebaiknya diungkapkan dan sesuatu yang sebaiknya disembunyikan {Jika bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : { } adzaa’uu bih: mereka mengungkapkan dan mengumumkannya kepada manusia. {} yastanbithuunah: mengeluarkan maknanya yang benar. Makna ayat : { } “Dan jikalau datang perkara aman atau takut kepada mereka, mereka menyebarkannya.” dan ini adalah ayat (83). Allah mengabarkan perihal orang-orang ‘sakit’ itu dengan penyakit kemunafikan sebagai bentuk celaan kepada mereka, gertakan dan serangan maknawi kepada mereka. Allah berfirman { } “Dan Jikalau datang perkara aman atau takut kepada mereka”, yaitu jika datang sebagian pasukan jihad dengan perkara kemenangan atau kekalahan, mereka bergegas menyebarkan dan mengumumkannya. Dan hal demikian itu kembali ke penyakit hati mereka, karena kabar dan dimutlakkan dengan lafaz perkara. Dikarenakan keadaan aman tidaklah sama dengan keadaan perang. Jikalau ketakutan yang mereka umumkan adalah kekalahan dalam perang, mereka itu mengumumkannya dalam keadaan panik dan ketakutan karena mereka itu adalah para pengecut seperti yang telah lalu dijelaskan sebelumnya. Allah berfirman untuk memberi pembelajaran kepada mereka dan kepada selainnya apa yang seyogyanya terdapat pada orang-orang yang berjihad kala perang { } “Jikalau mereka mengembalikannya kepada Rasul” pemimpin tertinggi { } “dan kepada para pemerintah mereka” dan mereka adalah para pemimpin perang dan jihad, { } “niscaya orang-orang yang mengambil hukum itu dari mereka akan mengetahuinya” yakni akan nampak misteri kabar itu dan akan mengetahui konsekuensi apa yang akan terjadi darinya, jikalau itu baik, maka akan diumumkan. dan jika itu buruk, maka akan diberitakan kepada mereka. Kemudian Allah berfirman { } “Jikalau tidak ada keutamaan Allah dan kasih sayang-Nya yang diberikan kepada kalian.” wahai para orang yang beriman { } “niscaya kalian akan mengikuti setan itu” dalam menerima isu-isu yang ada dan kabar burung yang membuat putus asa. { } “kecuali sedikit” dari kalian di antara orang-orang yang mempunyai ilmu dan akal yang jernih, karena semisal mereka tidak akan terpancing dengan provokasi, tidak terpengaruh dengan desas-desus seperti para sahabat Rasul yang senior dari kalangan Muhajirin dan Anshor rodhiallahu ‘anhum ajma’in. Pelajaran dari ayat : • Putusan penyebaran kabar perihal peperangan tidaklah diumumkan kecuali dari pihak pimpinan tertinggi agar tidak terjadi kekacauan pada barisan pasukan perang dan juga pada umat Islam. • Mayoritas orang akan terpengaruh dengan apa yang dia dengar kecuali sebagian kecil dari kalangan intelekual dan yang memahami perpolitikan.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Umar bin Khaththab, ia berkata, "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjauhi istri-istrinya, aku pun masuk ke masjid ternyata orang-orang sedang melempari kerikil dan berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mentalak istri-istrinya." Hal itu terjadi ketika mereka belum diperintahkan berhijab. Umar berkata, "Saya akan beritahukan hal itu hari ini." Maka saya menemui Aisyah dan berkata, "Wahai puteri Abu Bakar, apakah engkau sampai menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Aisyah menjawab, "Apa urusanmu terhadapku wahai Ibnul Khaththab, urusilah aibmu sendiri." Umar berkata, "Maka saya menemui Hafshah binti Umar dan berkata kepadanya, "Wahai Hafshah! Apakah engkau sampai menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demi Allah, sesungguhnya saya tahu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyukaimu. Kalau bukan karena saya, tentu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mentalakmu." Hafshah pun menangis dengan tangisan yang begitu serius. Saya pun bertanya kepadanya, "Di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Ia menjawab, "Dia sedang berada di dekat lemarinya di kamar." Saya pun masuk, ternyata saya menemui Ribah pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk di palang (kayu bawah) pintu kamar sambil memanjangkan kakinya di atas kayu berlubang, yaitu batang pohon kurma yang dipakai tangga oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk naik dan turun. Ribah melihat ke kamar, lalu melihatku dan tidak berkata apa-apa, kemudian saya keraskan suara sambil berkata, "Wahai Ribah, izinkan saya di bersamamu untuk menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena saya mengira bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengira bahwa saya datang karena Hafshah. Demi Allah, jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan aku memenggal lehernya, tentu saya penggal lehernya." Saya keraskan suara saya. Ia pun berisyarat kepadaku agar masuk kepadanya, maka saya masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ternyata Beliau sedang berbaring di atas tikar, saya pun duduk, lalu Beliau mendekatkan kainnya dan Beliau tidak mengenakan apa-apa selain itu. Ketika itu, tikarnya membekas pada rusuk Beliau. Saya melihat dengan mata saya lemari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ternyata di sana terdapat segenggam gandum seukuran satu shaa' (4 mud/kaupan), demikian juga daun salam di pojok kamar serta ada kulit yang digantungkan. Saya pun meneteskan air mata, lalu Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Ibnul Khaththab?" Aku menjawab, "Wahai Nabi Allah, mengapa saya tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas pada rusukmu. Sedangkan lemarimu tidak menyimpan apa-apa selain yang saya lihat. Berbeda dengan Kaisar dan Kisra yang memperoleh banyak buah dan berada di dekat sungai yang mengalir. Sedangkan engkau utusan Allah dan pilihan-Nya dengan keadaan lemari seperti ini." Beliau bersabda, "Wahai Ibnul Khaththab, tidakkah kamu ridha, untuk kita akhirat dan untuk mereka dunia?" Saya menjawab, "Ya." Ketika saya masuk menemuinya, saya melihat tampak marah di mukanya, maka saya berkata, "Wahai Rasulullah, para istri tidak akan menyusahkan dirimu. Jika engkau mentalak mereka, maka sesungguhnya Allah bersamamu, demikian pula, malaikat-Nya, Jibril, Mikail, saya, Abu Bakar, dan kaum mukmin bersamamu. " Saya tidaklah berbicara –wal hamdulillah- kecuali saya berharap agar dibenarkan oleh Allah. Ketika itu turunlah ayat takhyir (pemberian pilihan), "Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. ---Jika Nabi menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh,...dst."(Terj. At Tahrim: 4-5) Ketika itu Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah saling bantu-membantu menyusahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap istri-istri yang lain. Saya pun berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau mentalak mereka?" Beliau menjawab, "Tidak." Saya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya masuk ke masjid sedangkan kaum muslimin sedang melempari kerikil sambil berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mentalak istri-istrinya." Bolehkah saya turun agar saya memberitahukan mereka bahwa Engkau tidak mentalak mereka?" Beliau menjawab, "Ya, jika engkau mau." Saya senantiasa berbicara dengan Beliau sampai hilang marah dari mukanya dan sampai Beliau memperlihatkan giginya dan tersenyum, dan Beliau adalah orang yang paling bagus giginya. Nabi Allah pun turun dan aku turun bersandar dengan batang tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam turun tampak seperti berjalan di tanah, di mana Beliau tidak menyentuhnya (batang tersebut) dengan tangannya, lalu saya berkata, "Wahai Rasulullah, Engkau berada di kamar hanya 29 hari?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya sebulan itu 29 hari." Saya pun berdiri di pintu masjid dan menyeru dengan suara keras, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mentalak istri-istrinya." Ketika itu turunlah ayat, "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)…dst." Sayalah yang mengetahui perkara itu, dan Allah menurunkan ayat takhyir (pilihan). Ayat ini merupakan pengajaran adab dari Allah kepada hamba-hamba-Nya terhadap perbuatan yang tidak patut mereka lakukan, dan sepatutnya bagi mereka ketika sampai masalah-masalah penting yang terkait dengan masalah umum, seperti terkait dengan keamanan, kegembiraan dan kekhawatiran yang di sana terdapat musibah bagi mereka untuk menahan diri dengan tidak segera menyampaikan berita itu, bahkan menyampaikan terlebih dulu kepada rasul dan ulil amri (para ulama dari kalangan sahabat atau orang yang memiliki pandangan tepat), di mana mereka mengetahui hal yang lebih bermaslahat. Mereka (rasul dan ulil amri) nanti akan memperhatikan berita itu, apakah jika disebarluaskan ada maslahatnya dan dapat menyemangatkan kaum muslimin serta menggembirakan mereka ataukah tidak ada maslahatnya, atau ada maslahatnya namun madharatnya lebih besar daripada maslahatnya, sehingga berita itu tidak disebarluaskan. Kaum munafik atau orang-orang yang lemah iman. Seperti berita tentang sariyyah (pasukan kecil) yang dikirim Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Yakni kemenangan. Yakni kekalahan. Sehingga membuat lemah hati kaum mukmin dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri merasa tersakiti. Yakni kepada Rasul dan tokoh-tokoh sahabat atau ulama di antara mereka. Dalam ayat ini terdapat dalil terhadap kaidah adab, yaitu apabila diperlukan pembahasan tentang suatu masalah, maka sepatutnya masalah tersebut diserahkan kepada ahlinya, tidak disodorkan kepada yang lain, hal itu karena yang demikian lebih dekat kepada kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan. Demikian pula menunjukkan dilarangnya bersikap tergesa-gesa menyebarkan apa yang didengarnya dan perintah untuk memperhatikan perkara itu, apakah ada maslahatnya sehingga ia pun perlu maju atau tidak, sehingga perlu ditahan. Yakni taufiq, pengajaran adab dan ilmu yang diajarkan-Nya kepada kamu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Karena manusia pada tabi'atnya zalim dan jahil (bodoh), hawa nafsunya biasa menyuruh kepada keburukan. Namun apabila seseorang kembali kepada Tuhannya dan bersandar kepada-Nya, maka Allah akan berbuat lembut kepadanya, memberinya taufiq kepada semua kebaikan dan melindunginya dari godaan setan yang terkutuk.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat An-Nisa ayat 83: Dan apabila sampai kepada mereka satu urusan dari keamanan atau ketakutan; maka mereka siar-siarkan dia, padahal jika mereka kembalikan dia kepada Rasul dan kepada orang-orang yang berkuasa dari mereka, niscaya (urusan) itu diketahui oleh sebagian dari orang- orang yang menyelidikinya dan jika tidak ada kurnia Allah atas kamu dan rahmat-Nya, niscaya kamu turut setan, kecuali sedikit (dari kamu).
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Di antara isi kandungan Al-Qur'an adalah cerita tentang nabi-nabi masa lalu, antara lain adalah nabi musa. Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk menceritakan kepada kaumnya tentang nabi musa, yaitu ketika nabi musa sedang dalam perjalanan menuju ke mesir beserta istrinya untuk menemui ibundanya. Keduanya tersesat di jalan, di malam yang gelap dan dingin. Ceritakan kepada mereka, wahai nabi Muhammad, ketika musa berkata kepada keluarganya, 'sungguh, aku melihat api. Diamlah kamu di sini, aku akan membawa kabar dari arah api itu tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api atau obor kepadamu agar kamu dapat berdiang menghangatkan badan dekat api. '8. Maka tidak berapa lama ketika dia, yakni musa, tiba di sana yaitu tempat api itu, dia diseru oleh satu suara yang tidak ada rupanya, 'telah diberkahi, diberikan kebaikan yang sangat banyak orang yang berada di dekat api, yaitu nabi musa sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya yaitu penduduk negeri syam, tempat diutusnya para nabi. Mahasuci Allah, tuhan pemelihara seluruh alam dari segala sesuatu yang yang tak layak bagi-Nya. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 7-14 Allah SWT berfirman kepada RasulNya nabi Muhammad SAW seraya mengingatkan kepada beliau tentang perkara nabi Musa saat Allah memilihnya, mengajaknya bicara langsung, dan membuatnya bermunajat, dan memberinya mukjizat-mukjizat yang agung dan jelas serta dalil-dalil yang dapat mengalahkan musuh. Allah mengutusnya kepada Fir'aun dan para pembesar kaumnya, lalu mereka membangkang, dan mengingkarinya serta enggan mengikuti dan taat kepada petunjuknya. Jadi Allah SWT berfirman: ((Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya) yaitu ingatlah ketika nabi Musa berjalan di malam hari bersama keluarganya, saat itu malam sangat gelap. Lalu nabi Musa menemui nyala api di lereng Bukit Thur, yaitu melihat api yang menyala dan bergerak, lalu dia berkata: (Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepada kalian kabar darinya) yaitu tentang jalan (atau aku membawa kepada kalian suluh api supaya kalian dapat berdiang) yaitu untuk menghangatkan tubuh kalian. Dan sama dengan apa yang dia katakan, yaitu sesungguhnya dia kembali dari api itu dengan membawa berita yang sangat agung. Dia telah mengambil dari api itu cahaya yang agung, Oleh karena itu Allah berfirman: (Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia, "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang berada di sekitarnya) yaitu setelah nabi Musa sampai ke tempat api itu, dia melihat pemandangan yang menakjubkan dan agung, dimana dia berhenti melihat api itu, dan api itu menyala di sebuah pohon yang hijau, tidak semakin besar melainkan semakin menyala-nyala. Lalu nabi Musa terhenti karena takjub melihat apa yang dia lihat (diserulah dia,"Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu”) Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud adalah disucikan, dan (dan orang-orang yang berada di sekitarnya) adalah para malaikat. Firman Allah SWT: (Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam) yaitu Dzat yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatu pun dari makhlukNya yang menyerupaiNya, dan tidak ada sesuatupun dari makhlukNya yang dapat meliputiNya. Dia Maha Tinggi, Maha Besar, dan Maha Membedakan semua makhluk. Bumi dan langit tidak dapat memuatNya, bahkan Dialah Dzat yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu dan Maha Suci dari kemiripan dengan makhlukNya. Firman Allah SWT: ((Allah berfirman), "Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (9)) Allah memberitahu kepadanya bahwa yang sedang berbicara kepadanya adalah Tuhannya, Allah yang Maha Perkasa, yang mengalahkan, dan yang menundukkan segala sesuatu, dan Maha Bijaksana dalam semua firman dan perbuatanNya. Kemudian Allah memerintahkannya untuk melemparkan tongkat yang ada di tangannya untuk menunjukkan kepadanya bukti yang jelas bahwa Dialah Dzat yang berbuat, memilih, dan Maha kuasa atas segala sesuatu. Setelah nabi Musa melemparkan tongkatnya dari tangannya, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat besar, dan gerakannya sangat cepat. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit) Kata “Al-Jan” adalah ular yang cepat dan banyak gerakannya. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi SAW melarang membunuh ular-ular yang ada di rumah-rumah. Setelah nabi Musa menyaksikan hal itu: (larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh) yaitu tidak menoleh ke belakang lagi karena sangat takut yang mencekam ((Allah berfirman), "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak akan takut di hadapanKu") yaitu, janganlah takut terhadap apa yang kamu lihat, sesungguhnya Aku hendak memilihmu sebagai seorang rasul dan Aku akan menjadikanmu sebagai seorang nabi yang terkemuka. Firman Allah SWT: (tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (11)) Ini adalah istisna’ munqati' yang di dalamnya terdapat kabar gembira yang besar bagi manusia, karena disebutkan bahwa barangsiapa yang mengerjakan suatu keburukan, lalu meninggalkannya, bertaubat dan kembali kepada Allah, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sebagaimana Allah SWT berfirman (Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar (82)) (Surah Thaha) dan (Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (110)) (Surah An-Nisa’). Ayat-ayat yang menunjukkan hal ini cukup banyak. Firman Allah: (Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit) Ini adalah mukjizat lainnya yang jelas yang menunjukkan kekuasaan Allah, Dzat yang melakukan segala sesuatu, yang memilih, dan membuktikan kebenaran utusan yang diberikan kepadanya dengan mukjizat. Allah memerintahkan kepadanya untuk memasukkan tangannya ke saku bajunya, dan ketika dia memasukkan dan mengeluarkannya, maka tangannya menjadi putih bersinar, seakan-akan kilat yang menyambar, sangat menyilaukan mata. Firman Allah SWT: ((Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat) yaitu, kedua mukjizat ini merupakan sebagian dari sembilan mukjizat yang Aku kuatkan kamu dengannya dan Aku menjadikannya sebagai bukti yang membenarkanmu kepada Fir'aun dan kaumnya (Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik) Inilah sembilan mukjizat itu yang disebutkan Allah SWT: (Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata) (Surah Al-Isra': 101) sebagaimana penjelasan itu telah disebutkan di sana. Firman Allah SWT: (Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka) yaitu dengan jelas dan terang (berkatalah mereka, "Ini adalah sihir yang nyata") Mereka bermaksud menentangnya dengan sihir mereka, tetapi mereka dikalahkan dan kembali dalam keadaan hina (Dan mereka mengingkarinya) yaitu yang tampak pada urusan mereka (padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya) yaitu mereka mengetahui dalam diri mereka bahwa itu adalah kebenaran dari sisi Allah, tetapi mereka mengingkari, membangkang dan bersikap angkuh terhadapnya (Karena kezaliman dan kesombongan (mereka)) yaitu, dalam diri mereka telah tertanam watak zalim dan sombong, tidak mau mengikuti kebenaran. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan) yaitu perhatikanlah, wahai Muhammad, bagaimanakah akibat mereka itu karena Allah membinasakan mereka dengan menenggelamkan mereka semuanya dalam waktu yang singkat. Maksudnya adalah dikatakan,”Waspadalah, wahai orang-orang yang mendustakan Muhammad dan mengingkari Al-Qur,'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, bahwa kalian pasti akan tertimpa azab seperti yang telah menimpa mereka dengan azab yang lebih dahsyat dan lebih kuat, karena sesungguhnya nabi Muhammad SAW itu lebih mulia lagi lebih agung daripada nabi Musa, dan bukti beliau lebih jelas dan lebih kuat daripada bukti nabi Musa melalui apa yang dianugerahkan Allah kepada beliau, berupa dalil-dalil yang diiringi dengan apa yang ada pada diri dan kemuliaan akhlak beliau serta berita gembira yang disampaikan oleh para nabi terdahulu tentang beliau dan janji serta ikrar yang diambil Tuhannya darinya.
Tafsir As-Sa'di
Buka
7 maksudnya, ingatlah kondisi yang utama lagi sangat mulia ini drai kondisi-kondisi Nabi Musa bin Imran, yaitu pada permulaan mendapat wahyu, dan terpilihnya dia menjadi RasulNya, serta pembicaraan Allah secara langsung kepadanya. Yaitu, setelah dia tinggal di negeri madyan dalam beberapa tahun lamanya, kemudian dia berjalan bersma keluarganya drai madyan menuju mesir. Ketika dia di tengah perjalanan, dia tersesat, dan pada saat itu dia berada dalam kegelapan malam yang sangat dingin. Maka dia berkata kepada mereka (keluarganya),” sesungguhnya aku melihat api,” aku melihat adanya api dari kejauhan. “aku nanti akan membawa kepadamu kabar drainya,” tentang jalan, “atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang,” maksudnya, kalian dapat menghangatkan badan. Ini menunjukan bahwa Musa tersesat dan sudah sangat kedinginan dan begitu pula keluarganya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
7. Ingatlah wahai Nabi, ketika Musa berkata kepada istrinya dalam perjalanan Madyan menuju Mesir: "Sesungguhnya aku melihat api dari kejauhan. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar dari api itu, agar dapat menunjukkan jalan untuk kita. Atau aku akan membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat menghangatkan diri dari dingin".
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Ingatlah kisah Musa, ketika ia berkata kepada keluarganya dalam perjalanannya dari Madyan menuju negeri Mesir, “Sesungguhnya aku menyaksikan api. Aku akan datang kepada kalian dengan membawa berita yang menunjukkan arah jalan yang tepat atau aku akan datang dengan membawa nyala api itu agar kalian dapat menghangatkan diri dengannya dari hawa dingin.”
Tafsir Al-Madinah
Buka
7. Hai Rasulullah, ingatlah ketika Musa berkata kepada keluarganya -saat dia berada di padang pasir Sina ketika dia tersesat saat akan menuju Mesir dari negeri Madyan-: “AKu melihat api, aku akan datang kembali kepada kalian dengan membawa kabar yang dapat menunjukkan jalan kepada kita, atau aku dapat membawa sesuluh api agar kalian dapat menghangatkan diri dari udara dingin.”
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
7. Ingatlah -wahai Rasul- ketika Musa berkata kepada keluarganya, "Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu kabar dari tempat nyalanya yang akan memberi petunjuk ke arah perjalanan kita, atau aku membawa kepadamu suluh api yang bersumber darinya supaya kamu dapat berdiang dengannya dari suhu dingin".
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
7. ((Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya) Terdapat pendapat mengatakan bahwa ketika itu ia hanya bersama istrinya. (Sesungguhnya aku melihat api) Yakni aku melihat api. (Aku kelak akan membawa kepadamu berita daripadanya) Huruf () dalam kata () menunjukkan dekatnya jarak api itu. (atau aku membawa kepadamu suluh api) Yakni aku akan membawa kepadamu api yang aku ambil dari sana. Makna () adalah api yang diambil dari tempatnya untuk menyalakan api di tempat lain. (supaya kamu dapat berdiang) Yakni dengan harapan kalian dapat menyalakan api untuk menghangatkan diri dari kedinginan. Tsa’lab berkata makna () adalah ranting kayu yang salah satu ujungnya terdapat bara api.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya,“Sesungguhnya aku melihat} Aku melihat {api. Aku akan membawa kabar tentangnya kepada kalian atau membawa nyala api} nyala api {agar kalian bisa mendapat kehangatan} kalian bisa mendapat kehangatan di udara yang dingin
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Yakni istrinya ketika Beliau berjalan bersamanya dari Madyan ke Mesir setelah tinggal di Madyan beberapa tahun. Saat di tengah perjalanan Beliau tersesat, dan ketika itu Beliau bersama keluarganya berada di malam hari yang gelap lagi dingin. Yakni dari kejauhan. Yaitu tentang jalan yang akan ditempuh, di mana saat itu mereka sedang tersesat.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat An-Naml ayat 7: Ingatlah wahai Nabi Allah suatu hari ketika Musa berkata kepada pengikutnya : Tunggulah di sini, karena aku melihat api, aku akan pergi melihatnya, agar aku dapat memberikan kabar kepada kalian apa yang menunjuki aku atas jalan menuju ke mesir, atau akau datang kepada kalian dengan mematikan api tersebut untuk menjaga kalian darinya. Dan secara hakikat, itu bukanlah api, ia hanyalah cahaya yang Allah ciptakan, akan tetapi Musa menyangkanya sebagai api, oelh karena itu Allah menyerunya berdasarkan sangkaannya. Maka ketika Musa telah sampai pada api tersebut, Musa mendapatkan petunjuk dan memberikan hakikat dan pilihan dari pengajaran.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Orang-orang yang bertakwa itu selalu taat dalam melaksanakan ajaran Allah, dan mereka juga menyadari bahwa pada harta benda yang mereka miliki sesungguhnya ada hak yang mesti dikeluarkan, baik berupa zakat maupun sedekah, untuk orang miskin yang meminta bantuan dan orang miskin yang tidak mengulurkan tangan untuk meminta kepada orang lain. 20-21. Allah adalah pencipta alam semesta. Tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya terdapat di seluruh penjuru langit, dan selain itu di bumi juga terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya. Namun semuanya itu hanya dapat dipahami bagi orang-orang yang yakin, dan di samping itu, sesungguhnya keagungan Allah juga banyak ditemukan pada dirimu sendiri. Sesudah dipahami semua tanda-tanda itu, maka apakah kamu tetap lalai dan tidak memperhatikan semua yang dapat disaksikan itu'.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 15-23 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT bahwa sesungguhnya mereka di hari mereka dikembalikan kepadaNya, mereka berada di taman-taman dan mata air-mata air. Berbeda dengan orang-orang yang celaka. Mereka mengalami azab, pembalasan, dibakar, dan dirantai dengan belenggu-belenggu. Firman Allah SWT: (sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka) Ibnu Jarir berkata bahwa maknanya adalah mengamalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT atas mereka (Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik) yaitu sebelum diperintahkan untuk mengerjakan hal-hal fardhu, mereka adalah orang-orang yang berbuat baik dalam amal perbuatannya Tafsir yang dikemukakan Ibnu Jarir masih perlu ditinjau kembali, karena firman Allah SWT, (Akhidzina) merupakan “haal” dari firmanNya: (berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air) Maka orang-orang yang bertakwa, di dalam taman-taman dan mata air-mata air yang mereka terima dari pemberian Tuhan mereka berupa kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan. Firman Allah: (Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia) yaitu di dunia (adalah orang-orang yang berbuat baik) sebagaimana firmanNya: ((kepada mereka dikatakan), "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (24)) (Surah Al-Haqqah) Kemudian Allah SWT menjelaskan kebaikan amal perbuatan mereka, jadi Allah berfirman: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam (17)) Hasan Al-Bahsri berkata firmanNya: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam (17)) Mereka menjalani shalat malam hari dengan keteguhan hati, sehingga mereka tidak tidur di malam hari kecuali hanya sedikit. Mereka mengerjakannya dengan semangat sehingga mereka memanjangkan waktunya sampai waktu sahur, sehingga bacaan istighfarnya di waktu sahur. Ma'mar berkata tentang firmanNya: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam) (17)) Az-Zuhri dan Al-Hasan, keduanya berkata bahwa mereka banyak tidur di malam hari dan tidak shalat. Ibnu Abbas dan Ibrahim An-Nakha'i berkata tentang firmanNya: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam (17)) yaitu mereka tidak tidur. Firman Allah: (Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah) (18)) Mujahid dan lainnya berkata bahwa maknanya adalah mereka melakukan shalat. Ulama lainnya berkata bahwa mereka mendirikan shalat sunnah di malam hari, dan istighfarnya sampai waktu sahur. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan yang memohon ampun di waktu sahur) (Surah Ali Imran: 17) Dan ketika istighfar dilakukan dalam shalat, maka itu lebih baik. Firman Allah: (Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (19)) Setelah Allah SWT menyifati mereka sebagai orang-orang yang rajin shalat, lalu menyebutkan sifat terpuji mereka lainnya, dengan menunaikan zakat, berbuat baik, dan menyambung silaturahmi. Maka Allah SWT berfirman: (Dan pada harta mereka ada hak) yaitu bagian yang dpisahkan, sengaja disiapkan untuk diberikan kepada orang yang meminta dan yang tidak mendapat bagian. Adapun “As-sa’il” maka itu sudah diketahui, yaitu orang yang mulai meminta-minta dan dia berhak untuk itu, Adapun “Al-mahrum” maka Ibnu Abbas dan Mujahid berkata bahwa artinya orang yang beruntung karena tidak mempunyai jatah dari Baitul Mal, tidak mempunyai mata pencaharian, tidak mempunyai keahlian yang dapat dijadikan untuk memenuhi penghidupannya. Qatadah dan Az-Zuhri berkata bahwa (Al-mahrum) adalah orang yang tidak pernah meminta sesuatu pun dari orang lain. Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa “Al-mahrum” adalah orang yang tidak memiliki harta lagi karena suatu penyebab, semua hartanya telah lenyap. Baik hal itu karena dia tidak mampu mencari pencaharian atau karena hartanya habis karena musibah atau hal yang sejenis. Firman Allah: (Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin (20)) yaitu di bumi banyak terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran penciptaan dan kekuasaanNya yang mengagumkan, yaitu melalui apa yang Dia sebar di bumi ini berupa berbagai macam tumbuhan, hewan-hewan, dan bumi yang terhampar, gunung-gunung, hutan belukar, sungai-sungai, lautan, dan perbedaan lisan dan warna kulit manusia serta pembawaan yang telah diciptakan dalam mereka berupa berbagai kehendak dan kekuatan, serta perbedaan yang ada pada mereka dalam akal, pemahaman, gerakan, kebahagiaan, dan kecelakaan. Pada susunan tubuh mereka terdapat hikmah karena Allah telah meletakkan setiap anggota tubuh pada mereka di tempat-tempat yang tepat dan dibutuhkan. Oleh karena itu Allah berfirman: (dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (21)) Kemudian Allah berfirman: (Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu) yaitu hujan (dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu) yaitu surga. Pendapat ini dikatakan Mujahid dan lainnya. Firman Allah: (Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan (23)) Allah SWT bersumpah dengan menyebut DzatNya yang Maha Mulia, bahwa apa yang Dia janjikan kepada mereka terkait hari kiamat, hari kebangkitan, dan hari pembalasan bahwa itu pasti akan terjadi dan merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, janganlah ragu-ragu, sebagaimana kalian tidak ragu bahwa manusia itu dapat berbicara. Mu'adz bin Jabal apabila berbicara mengenai sesuatu, dia mengatakan kepada orang yang diajak bicara bahwa sesungguhnya ini merupakan kebenaran, sebagaimana kebenaran keberadaanmu di sini.
Tafsir As-Sa'di
Buka
Tafsir Al-Wajiz
Buka
19. Di dalam harta mereka ada bagian untuk orang fakir yang tidak memiliki apapun dan orang lemah yang tidak mampu melakukan usaha apapun atau orang fakir yang lemah.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Pada harta mereka terdapat hak wajhib dan sunnah untuk orang-orang yang membutuhkan yang meminta kepada orang-orang dan orang-orang yang membutuhkan tetapi tidak meminta-minta karena malu.
Tafsir Al-Madinah
Buka
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
19. Dan di dalam harta mereka terdapat hak (jatah) -mereka berderma dengannya- bagi orang yang meminta dan bagi orang yang tidak meminta dari siapa saja yang terhalang rezekinya karena sebab apa pun.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
19. (Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian) Makna () yakni orang fakir yang tidak memiliki apapun, kemudian meminta bantuan dari orang lain. Sedangkan () yakni orang yang tidak mampu bekerja, namun dia menolak untuk meminta-minta, sehingga dianggap orang lain sebagai orang yang tidak butuh bantuan, sehingga tidak ada orang yang bersedekah kepadanya. Pendapat lain mengatakan ia adalah orang yang tertimpa musibah.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Pada harta benda mereka ada hak} bagian yang pasti {bagi orang yang meminta} orang fakir yang menampakkan kefakirannya dengan meminta {dan yang tidak meminta} orang fakir yang dilarang untuk diberi sedekah karena anggapan orang-orang bahwa dia tidak membutuhkan karena dia tidak mau menampakkan kefakirannya
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Yang wajib maupun yang sunat. Karena menjaga diri.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Az-Zariyat ayat 19: 17-19. Allah kemudian menjelaskan sesuatu yang nampak dari kebaikan mereka, Allah mengabarkan bahwa mereka sedikit tidur di malam hari untuk tahajjud, mereka juga memperbanyak berdzikir, doa dan momohon ampun ketika mereka sahur, dan mereka juga mewajibkan atas diri-diri mereka untuk bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan, yang meminta-minta kepada manusia, dan bagi mereka yang malu untuk meminta. Mereka melakukan ini semua karena ingin mendekatkan diri kepada Allah.