SI Qur'an

Indikator 22: Berita, Struktur, Tatanan, Proses

Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-A'raf (7): Ayat 52 Rujukan #1
وَلَقَدْ جِئْنَٰهُم بِكِتَٰبٍ فَصَّلْنَٰهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
wa laqad ji`nāhum bikitābin faṣṣalnāhu ‘alā ‘ilmin hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn
"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Pada ayat yang lalu diterangkan tentang keadaan penghuni surga, neraka, dan a'ra'f, dan juga dialog antara mereka yang dapat dijadikan pelajaran dan peringatan agar manusia terhindar dari penyesalan dan mendapat petunjuk kepada jalan yang benar. Pada ayat-ayat ini diterangkan tentang kitab Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, dan diterangkan pula bagaimana akibat orang-orang yang menentang dan mendustakannya pada hari kiamat. Sungguh, kami telah mendatangkan kitab yang agung, yaitu Al-Qur'an, kepada mereka yang kami jelaskan beragam bukti yang mudah dipahami, dan penjelasan itu atas dasar pengetahuan kami yang sangat luas, mantap, dan menyeluruh sehingga tidak ada kekurangan dan kelemahannya. Kitab itu benar-benar sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang kafir tidaklah beriman kepada berita-berita dalam alqur'an, walaupun sudah sedemikian jelas bukti-bukti kebenarannya. Tidakkah mereka hanya menanti-nanti melainkan setelah nyata bagi mereka bukti kebenaran Al-Qur'an itu. Pada hari kiamat ketika bukti kebenaran pemberitaan Al-Qur'an itu tiba, seperti berita tentang hari kebangkitan, surga, dan neraka, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya, yakni meninggalkan tuntunannya, berkata, sungguh ketika di dunia, rasul-rasul tuhan kami telah datang membawa kebenaran, antara lain tentang hari kebangkitan, namun kami kafir dan ingkar padanya. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami, agar kami terhindar dari siksa yang pedih ini atau agar kami dikembalikan ke dunia sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu' mereka sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka enggan beriman ketika di dunia dan apa yang mereka ada-adakan dahulu, yakni tuhan-tuhan yang mereka sembah telah hilang dan lenyap dari mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 52-53 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang alasan mengapa Dia mengutus para rasul kepada mereka dalam Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan itu merupakan kitab yang memberi penjelasan secara terperinci dan jelas. Sebagaimana firmanNya (Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) (Surah Hud: 1) dan (yang Kami telah menjelaskannya atas pengetahuan Kami) yaitu berdasarkan pengetahuan Kami dengan apa yang Kami jelaskan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah menurunkannya dengan sepengetahuan-Nya) (Surah An-Nisa: 166) Ketika Dia menjelaskan apa yang mereka alami berupa kerugian di akhirat, lalu Allah menyebutkan bahwa Dia menyingkirkan alasan mereka di dunia dengan mengutus para rasul dan telah menurunkan kitab. Sebagaimana firmanNya: (Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul) (Surah Al-Isra: 15) Oleh karena itu Allah berfirman: (Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur'an itu) yaitu apa yang dijanjikan kepada mereka berupa azab, siksaan, surga, dan neraka. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lainnya. Firman Allah SWT: (Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu) yaitu pada hari kiamat, Pendapat ini dikatakan Ibnu Abbas. (berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu) yaitu mereka enggan beramal dan melupakannya di dunia (Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa perkara yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami) yaitu menyelamatkan kami dari sesuatu yang menimpa kami. (atau dapatkah kami dikembalikan) ke dunia (sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”) Sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman" (27) Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka (28)) (Surah Al-An'am) Sebagaimana Allah berfirman di sini: (Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu mereka merugikan diri sendiri dengan dimasukkan ke dalam neraka dan mereka kekal di dalamnya (dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu apa yang mereka sembah selain Allah itu pergi dari mereka, sehingga tidak memberikan syafaat, menolong, dan tidak menyelamatkan mereka dari sesuatu yang mereka alami.

Tafsir As-Sa'di
Buka

50-52 Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surge ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang menkik dan menerka mereka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surge. ”limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu” lalu penduduk surga menjawab “ sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya” yakni air dan makanan surga “atas orang-orang kafir” dan hal itu adalah sebagai balasan kepada mereka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintah agar teguh diatasnya dan dijanjikan balasan yang besar atasnya, ”sebagai main-main dan senda gurau” yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan , atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main atau senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu.” dan kehidupan dunia telah menipu mereka” dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propagandanya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya, dan mereka lupa dan berpaling dari akhirat. ”maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka” yakni kami membiarkan mereka di dalam azab, “sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini” seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ”dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami” padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keterbatasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru “kami telah mendatangkan sebuh kitab (al-qur’an) kepada mereka yang kami telah menjelaskannya” yakni kami jelaskan padanya seluruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia “atas dasar pengetahuan kami” yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terhadap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap perkara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia meneluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan tetapi ini adalah perincian Dzat yang ilmuNya meliputi segala sesuatu “yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” yakni dengan kitab ini orang-orang mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaran.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

52. Dan sungguh telah datang kepada penduduk Mekah dan lainnya itu Al-Qur’an yang telah Kami jelaskan dengan sempurna supaya mereka mengetahui apa yang Kami jelaskan di dalamnya, petunjuk kepada manusia menuju kebenaran, penyelamat dari kesesatan, dan rahmat bagi orang yang yeng mengimani dan mengikuti aturan-aturannya.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Dan sungguh kami telah mendatangkan kepada orang-orang kafir al-qur’an yang kami turunkan padamu (wahai rasul), yang telah kami jelaskan dengan mencakup ilmu yang agung, lagi menjadi petunjuk dari jalan kesesatan menuju jalan lurus dan sebagai rahmat bagi kaum yang beriman kepada Allah dan mengamalkan syariatNya. Dia menghususkan penyebutan mereka tanpa yang lainnya, karena sesungguhnya merekalah yang dapat memperoleh manfaat darinya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

52. Sungguh, Kami telah datangkan al-Qur’an kepada orang-orang kafir dan Kami telah menjelaskannya dengan ilmu yang agung, sebagai petunjuk menuju kebenaran dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengakui keesaan-Nya.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

52. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada mereka Kitab suci Al-Qur`ān ini. Yaitu kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dan Kami telah menjelaskan kitab suci ini berdasarkan ilmu yang berasal dari Kami. Kitab suci ini adalah petunjuk bagi orang-orang mukmin ke jalan yang baik serta benar dan sebagai rahmat bagi mereka, karena mengandung petunjuk untuk menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan di Akhirat.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

52. (Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab kepada mereka) Yakni al-qur’an, serta penjelasan dan perincian. (atas dasar pengetahuan Kami) Yakni Kami mengetahui apa yang Kami jelaskan.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Sungguh Kami telah mendatangkan kepada mereka kitab} Al-Qur’an {yang telah Kami rincikan} jelaskan {atas dasar pengetahuan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-A’raf ayat 52: Semua tuntutan yang memang dibutuhkan makhluk. Maksudnya atas dasar pengetahuan Kami tentang apa yang menjadi kemaslahatan bagi hamba-hamba Kami di dunia dan akhirat. Agar manusia tidak tersesat. Kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Yunus (10): Ayat 54 Rujukan #2
وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِى ٱلْأَرْضِ لَٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ وَأَسَرُّوا۟ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ ۖ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
walau anna likulli nafsin ẓalamat mā fil-arḍi laftadat bih, wa asarrun-nadāmata lammā ra`awul-‘ażāb, wa quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamụn
"Dan kalau setiap diri yang zalim (muayrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa orang-orang yang durhaka pasti akan diazab, lau pada ayat ini digambarkan penyesalan mereka ketika di akhirat. Dan kalau seandainya setiap orang yang zalim itu, yakni orang yang mempersekutukan Allah itu mempunyai segala harta benda berharga yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu agar terlepas dari siksa, tetapi hal itu tidak mungkin, dan mereka menyembunyikan penyesalannya yang sangat besar dan tersembunyi dalam hati, ketika mereka telah menyaksikan, merasakan azab yang sangat pedih itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, karena dia tidak memerlukan apapun dari siapapun. Ayat ini menegaskan, ketahuilah sesungguhnya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi, dia yang menciptakan dan dia atur sesuai kehendak-Nya. Ketahuilah, bukankah janji Allah itu benar' hari pembalasan pasti akan datang. Orang yang taat pasti akan diberi pahala dan yang durhaka akan disiksa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui dan tidak mempercayainya.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 53-54 Allah SWT berfirman bahwa mereka akan mengujimu: (Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?) yaitu kiamat dan hari bangkit dari kubur itu, setelah tubuh-tubuh ini telah menjadi tanah (Katakanlah, "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah be­nar; dan kalian sekali-kali tidak dapat luput (darinya)) yaitu kalian yang telah menjadi tanah tidak bisa melemahkan Allah untuk mengembalikan kalian sebagaimana Dia menciptakan kalian dari ketiadaan. (Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu ha­nyalah berkata padanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia (82)) (Surah Yasin) Ayat ini tidak ada yang menyamainya dalam Al-Qur’an kecuali dua ayat lain, dimana Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk bersumpah dengan namaNya terhadap orang-orang yang mengingkari hari kiamat, dalam surah As-Saba’: (Dan orang-orang yang kafir berkata, "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, "Pasti datang, demi Tuhanku" (3)) dan surah A-Taghabun: (Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ”Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (7)) Kemudian Allah memberitahukanbahwa ketika hari kiamat terjadi, orang kafir ingin seandainya dia bisa menebus dirinya dari siksa Allah dengan emas seisi bumi. (dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil) yaitu dengan kebenaran (dan mereka tidak dianiaya)

Tafsir As-Sa'di
Buka

54. “Dan” pada Hari Kiamat kalau “setiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki”, dengan kekufuran dan kemaksiatan “segala sesuatu yang ada di bumi ini”, dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, “tentu dia menebus dirinya dengan itu.” Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. “Dan mereka menyembunyikan” yakni mereka orang-orang yang zhalim, “penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu.” Mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. “Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil.” Keadilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

54 Kalaupun pada hari kiamat nanti setiap diri yang zalim dengan kemusyrikan dan kesesatan itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia akan menebus dirinya dengan itu agar selamat dari azab. Mereka akan membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Di antara mereka orang kafir dan mukmin telah diberi keputusan dengan adil, dan mereka tidak dizalimi sama sekali

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Dan sekiranya tiap-tiap jiwa yang musyrik dan kafir kepada Allah memiliki semua yang ada di muka bumi,dan Dia memberikan kepadanya kesempatan untuk menjadikan semua itu sebagai tebusan baginya dari siksaan tersebut, tentulah ia akan menembus dengannya. Dan orang-orang yang berbuat kezhaliman menyembunyikan penyesalan mereka ketika mereka melihat langsung siksaaan Allah menimpa mereka semua, dan Allah telah memutuskan perkara diatara mereka dengan adil, sedang mereka tidaklah teraniaya sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak menyiksa seorangpun kecuali disebabkan dosanya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

54. Seandainya setiap orang kafir memiliki seluruh harta yang ada di dunia, niscaya akan mereka jadikan sebagai tebusan bagi diri mereka dari azab Allah. Orang-orang kafir itu menyembunyikan penyesalan yang mereka rasakan ketika menyaksikan azab. Dan Allah memberi keputusan antara hamba-hamba-Nya dengan adil, mereka sama sekali tidak terzalimi sedikitpun.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

54. Seandainya setiap orang musyrik mempunyai semua harta berharga yang ada di bumi ini, niscaya ia akan menggunakannya untuk menebus dirinya dari azab Allah jika ia diberi kesempatan untuk menebusnya. Dan orang-orang musyrik itu menyembunyikan penyesalan mereka atas kekafiran mereka tatkala mereka menyaksikan azab di Hari Kiamat. Allah memutuskan perkara mereka dengan adil. Mereka tidak pernah dizalimi, melainkan diberi balasan yang setimpal dengan amal perbuatan mereka.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

54. (Dan kalau setiap diri yang zalim (muayrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu) Yakni seandainya setiap orang kafir di hari kiamat memiliki segala yang ada di bumi berupa harta-harta yang berharga dan simpanannya maka mareka pasti ingin menjadikannya sebagai tebusan diri mereka dari azab. (dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu) Yakni mereka menyembunyikan penyesalan mereka setelah mereka menyaksikan azab pada keadaan itu yang menghilangkan akal mereka. Oleh sebab itu mereka menyembunyikan penyesalan mereka agar tidak diejek oleh orang-orang beriman. Hal ini mereka lakukan ketika mereka melihat azab, adapun ketika mereka telah memasuki azab tersebut maka mereka mengucapkan: (Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu). mereka menampakkan penyesalan yang mereka sembunyikan. ( Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil) Yakni antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir, atau antara para pemimpin orang-orang kafir dan para pengikutnya.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Seandainya setiap orang yang berbuat zalim itu} berbuat syirik {apa yang ada di bumi, tentu dia menebus diri dengannya. Mereka menyembunyikan penyesalan} merekaa menyembunyikan penyesalan {ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Diputuskanlah di antara mereka dengan adil, dan mereka itu tidak dizalimi

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Yunus ayat 54: Berupa harta. Namun yang demikian tidaklah bermanfaat bagi mereka, yang bermanfaat hanyalah iman dan amal saleh sewaktu di dunia. Pada hari kiamat. Para pemimpin menyembunyikan penyesalan di hadapan para pengikut karena takut celaan.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Ar-Ra'd (13): Ayat 11 Rujukan #3
لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
lahụ mu’aqqibātum mim baini yadaihi wa min khalfihī yaḥfaẓụnahụ min amrillāh, innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, wa iżā arādallāhu biqaumin sū`an fa lā maradda lah, wa mā lahum min dụnihī miw wāl
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Tidak saja mengetahui sesuatu yang tersembunyi di malam hari dan yang tampak di siang hari, Allah, melalui malaikat-Nya, juga mengawasinya dengan cermat dan teliti. Baginya, yakni bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu menjaga dan mengawasi-Nya secara bergiliran, dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaga dan mengawasinya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah yang mahakuasa tidak akan mengubah keadaan suatu kaum dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, sebelum mereka mengubah keadaan diri menyangkut sikap mental dan pemikiranmereka sendiri. Dan apabila, yakni andaikata, Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum'dan ini adalah hal yang mustahil bagi Allah'maka tak ada kekuatan apa pun yang dapat menolaknya dan tidak ada yang dapat menjadi pelindung bagi mereka selain dia. Melanjutkan penyebutan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ayatayat yang lalu, beberapa ayat berikut Allah berbicara tentang kilat, halilintar, mendung, dan air hujan. Allah berfirman, dialah Allah, tuhan yang mahakuasa, yang memperlihatkan kilat kepadamu, yakni seberkas cahaya yang memancar dan menghilang secara cepat, yang kadangkala menimbulkan ketakutan pada diri kamu, dan kadangkala menimbulkan harapan yang menggembirakan'yakni pertanda segera turun hujan. Dan dia pula yang menjadikan mendung yang akan menurunkan hujan.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 10-11 Allah SWT memberitahukan tentang ilmuNya atas semua makhlukNya. Sama saja bagi Allah apakah sebagian dari mereka merahasiakan atau menampakkan ucapannya, sesungguhnya Dia mendengarnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya. Sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (7)) (Surah Thaha) dan (dan Yang mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyalakan) (Surah An-Naml: 25) Firman Allah: (dan siapa yang bersembunyi di malam hari) yaitu bersembunyi dalam rumahnya di kegelapan malam (dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari) yaitu menampakkan diri berjalan di cahaya siang hari. Keduanya sama saja bagi ilmu Allah, sebagaimana firmanNya: (Ingatlah, ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan) (Hud: 5) Firman Allah SWT (Kalian tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) (61)) (Surah Yunus) Firman Allah: (Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah) yaitu malaikat-malaikat yang selalu menjaga hamba Allah secara bergantian, ada yang menjaga di malam hari dan ada di siang hari. Mereka menjaganya dari hal-hal buruk dan kemalangan. Sebagaimana para malaikat lain yang bergiliran mencatat semua amal baik dan buruk; ada malaikat yang di malam hari dan ada yang di siang hari. Dua malaikat itu di sebelah kanan dan kiri mencatat amal itu. Malaikat yang ada di sebelah kanan mencatat amal baik, dan yang di sebelah kiri mencatat amal buruk. dan dua malaikat lain yang menjaga dan memeliharanya. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah) yaitu bergiliran dari Allah adalah para malaikat. Firman Allah: (mereka menjaganya atas perintah Allah) Dikatakan bahwa yang dimaksud adalah mereka menjaganya atas perintah Allah. Hal ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah dan lainnya dari Ibnu Abbas. Pendapat ini dipegang oleh Mujahid, Sa'id bin Jubair, Ibrahim An-Nakha'i, dan lainnya.

Tafsir As-Sa'di
Buka

11. “Baginya,” yaitu bagi manusia “ada yang selalu mengikutinya bergiliran,” dari kalangan malaikat, mereka silih berganti di malam dan siang hari “di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah,” maksudnya memelihara jasmani dan nyawanya dari setiap orang yang ingin berbuat buruk padanya. Mereka memelihara amalan-amalannya, selalu menyertainya terus menerus. Sebagaimana juga ilmu Allah meliputinya, maka Allah pun telah mengutus para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya, di mana hal itu menjadikan kondisi-konsdisi dan amalan-amalan mereka tidak tersembunyi, juga tidak dilupakan sedikit pun darinya. “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum,” berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, “sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu pula, jikalau para hamba merubah kondisi mereka, dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan merubah kondisi yang menyelimuti mereka sebelumnya berupa kesengsaraan menuju kepada kebaikan, kebahagiaan, dan ghibtah (semangat iri dalam kebaikan) serta rahmat. “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,” berupa siksa, perkara yang berat, serta hal yang mereka benci, maka sesungguhnya kehendakNya pasti terlaksana pada mereka. Karena “tidak ada yang dapat menolaknya,” tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan mereka darinya. “Dan sekali-kali taka da pelindung bagi mereka selain Dia,” yang menangani urusan-urusan mereka, mendatangkan hal-hal yang disukai bagi mereka dan menyingkirkan hal-hal yang dibenci mereka. Maka, hendaklah mereka berhati-hati agar tidak berkutat pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, karena dikhawatirkan siksa Allah akan menimpa mereka, yang tidak bisa ditolak dari kaum yang telah berbuat jahat.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

11. Bagi setiap manusia itu ada malaikat-malaikat yang mengikutinya untuk menjaga dan memeliharanya. Mereka adalah para malaikat penjaga yang menjaga manusia dengan perintah dan pertolongan Allah, bukan untuk menolak perintahNya. Dan jika berlaku suatu takdir, maka mereka akan berlepas darinya. Mereka menghitung amal perbuatannya yang baik dan buruk. Sesungguhnya Allah tidak mengubah nikmat atau kesehatan suatu kaum, sampai mereka mengubah ketaatan dan kebaikannya sendiri menjadi kemaksiatan dan keburukan. Jika Allah menghendaki suatu azab dan kehancuran bagi suatu kaum, maka itu tidak akan bisa ditolak. Dan tidak ada bagi mereka selain Allah seorang penolong yang membantu urusan mereka, yang membimbing mereka menuju kebaikan dan melindungi mereka dari keburukan.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Allah memiliki maliakat yang datang secara bergantian kepada manusia, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang menjaganya dari perintah Allah dan menghitung apa-apa yang berasal darinya;kebaiakn maupun keburukan.Sesungguhnya Allah tidak merubah nikmat yang telah Dia berikan kepada suatu kaum, kecuali apabila mereka sendiri yang merubah apa yang Dia perintahkan kepada mereka, lalu mereka berbuat maksiaat kepadaNya. Dan apabila Allah ingin menimpakan malapetaka kepada suatu kelompok, maka tidak jalan untuk menghindarinya, dan tidak ada penolong bagi mereka selain Allah yang akan menangani urusan mereka, yang akan mendatangkan apa-apa yang mereka cintai dan menolak Dari mereka apa-apa yang tidak mereka sukai.

Tafsir Al-Madinah
Buka

11. Dan setiap manusia memiliki malaikat-malaikat yang silih berganti untuk menjaganya, mereka menjaganya dengan perintah Allah dan menghitung segala amal perbuatannya, baik itu amal kebaikan maupun keburukan. Allah tidak mengubah kenikmatan yang diberikan kepada suatu kaum, melainkan jika mereka mengubah perintah Allah dengan melanggarnya. Dan jika Allah hendak menguji suatu kaum dengan musibah maka tidak ada yang mampu menghalangi hal itu, dan mereka tidak memiliki penolong selain Allah dalam mencari kebaikan atau menjauhi keburukan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Para malaikat malam dan para malaikat siang silih berganti menjaga kalian, dan mereka berkumpul pada shalat ashar dan shalat subuh. Kemudian malaikat yang menjaga pada malam hari naik ke langit, lalu Allah menanyai mereka -dan Allah lebih mengetahui tentang mereka-: “Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami mendatangi mereka ketika mereka dalam keadaan shalat.” (Shahih Bukhari 13/426 no. 4729, kitab tauhid, bab firman Allah " " dan diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab shahihnya 1/439, kitab masjid-masjid, bab keutamaan shalat subuh dan ashar no. 632).

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

11. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mempunyai malaikat-malaikat yang datang kepada manusia silih berganti, sebagian dari mereka datang di waktu malam, sebagian dari mereka datang di waktu siang, menjaga manusia dengan perintah Allah dari beberapa takdir yang memang Allah tuliskan akan dicegah darinya, mencatat segala perkataan dan perbuatan manusia. Allah tidak merubah keadaan satu kaum, dari keadaan yang baik kepada keadaan buruk yang tidak mereka sukai, hingga mereka sendiri yang merubah apa yang mereka dapati dari keadaan syukur (menjadi keadaan kufur). Bila Allah hendak membinasakan suatu kaum, maka tidak ada yang dapat mencegah kehendak-Nya. Dan kalian -wahai manusia- tidak memiliki penolong yang mengurusi urusan kalian, yang kalian bisa berlindung kepadanya untuk menepis malapetaka yang menimpa kalian.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

11. (Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran) Mereka adalah para malaikat penjaga yang datang secara bergiliran. (di muka dan di belakangnya) Yakni para malaikat penjaga itu menjaga manusia dari segala sisi. (mereka menjaganya atas perintah Allah) Yakni mereka menjaga sesuai dengan perintah Allah, dan mereka tidak dapat mencegah takdir Allah. Dikatakan bahwa mereka menjaga manusia dari jin. Dikatakan pula bahwa mereka menjaga manusia dari ketetapan Allah dengan perintah-Nya, dan apabila telah datang takdir Allah maka mereka akan menyingkir. (Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum) Dari keadaan penuh nikmat dan kesehatan. ( sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri) Dengan ketaatan kepada Allah. Maka Allah tidak mencabut kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya sampai seseorang itu merubah kebaikan dan amal shalih mereka menjadi keburukan. (Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum) Yakni kebinasaan dan siksaan. ( maka tak ada yang dapat menolaknya) Maka tidak akan dapat ditolak. Terdapat pendapat mengatakan maknanya adalah apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Allah akan membutakan hati mereka sehingga mereka memilih sesuatu yang mendatangkan musibah. (dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia) Yang mengatur urusan mereka dan menjadi pelindung beri mereka, yang mencegah siksaan yang turun kepada kaum itu.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

1 ). { } "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah" barangsiapa yang senantiasa menjaga Allah, niscaya Allah akan menjaganya bahkan sampai ketika binatang buas akan membahayakan dirinya, dan barangsiapa yang selalu menempitkan hak Allah, sungguh ia akan disempitkan pula diantara makhluk-Nya; bahkan dari sesuatu yang ia harapkan kebaikan darinya akan menjadi malapetaka baginya. 2 ). Kapanpun kamu menemukan kekacauan pada dirimu, maka ingatlah kepada nikmat yang belum kamu syukuri atau kesalahan yang telah kamu perbuat; karena sesungguhnya Allah berfirman : { } "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." 3 ). Ada kelompok manusia yang hidup dalam kesengsaraan, dan kelompok lainnya hidup dalam gelimang harta dan kenikmatan yan berlimpah, kelompok pertama terus mencari jalan keluar dari kesengsaraa itu dengan berpegang kepada ayat Allah : { }, namun kelompok lainnya takut akan kehilangan semua yang mereka nikmati itu, tapi sesungguhnya keselamatan hanya akan berpihak kepada siapa yang melihatnya : { } "yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri".[ Al-Anfal : 53 ]. 4 ). Bulan suci Ramadhan merupakan musim untuk berbuat perubahan bagi diri setiap muslim menjadi diri yang lebih baik; kesempatan agar kita merubah apa yang ada pada diri kita dari perkata yang buruk, namun sedihnya tidak sedikit dari anak-anak umat islam justru menjadi lebih buruk, siangnya hanya diisi dengan tidur dan melalaikan shalatnya, dan malam mereka diisi dengan bergadang yang tidak bermanfaat bahkan merusak ramadhannya, maka berhati-hatilah ketika kamu menjadi sebab berubahnya nikmat Allah itu menjadi malapetaka bagimu dan bagi masyarakat sekitarmu.

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Baginya ada yang menyertainya secara bergiliran} bagi seorang hamba ada beberapa malaikat yang saling bergiliran {dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah} dari sesuatu yang bisa membinasakaannya sampai datang ajalnya lalu mereka tidak menjaganya lagi {Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki terhadap suatu kaum suatu keburukan} azab dan kehancuran {maka tidak ada yang dapat menolaknya} tidak ada yang bisa menolaknya {dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia} pelindung yang melindungi perkara mereka dan mencegah dari azab yang menimpa mereka

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Makna kata : ( ) lahuu mu’aqqibaat : para malaikat yang bergantian siang dan malam. ( ) min amrillah : atas perintah dan izin Allah ta’ala. ( ) laa yughayiru maa bi qaumin : tidak akan merubah apa yang dimiliki suatu kaum berupa kesehatan dan kenikmatan menjadi ujian dan azab. ( ) maa bianfusihim : berupa kebersihan dan kesucian iman dan ketaatan menjadi dosa dan kesalahan. ( ) wa maa lahum min duunihi miw waal : dan mereka tidak memiliki selain Allah yang dapat menunaikan urusan mereka dan menyelamatkan mereka dari azab. Makna ayat : Firman-Nya : ( ) boleh dhamir (kata ganti) pada kata () kembali kepada ( ) sehingga makna dari al-mu’aqqibaat adalah penjaga dan pengawal yang menjaga raja—atas izin Allah—menurut pandangan mereka. Namun jika Allah berkehendak baginya keburukan, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan ia tidak memiliki pelindung yang melindunginya dan menolongnya selain Allah. Kata ganti juga dapat kembali kepada Allah, sehingga makna dari al-mu’aqqibaat adalah para malaikat penjaga, para penulis kebaikan dan keburukan, sehingga makna ( ) atas perintah dan izin dari Allah ta’ala. Firman-Nya : ( ) Allah mengabarkan tentang sunnah dari sunnah-sunnah-Nya yang telah berjalan pada makhluk-Nya, bahwa Dia tidak akan menghilangkan nikmat dari suatu kaum berupa kesehatan, keamanan, kelapangan karena keimanan dan amal saleh mereka hingga mereka mengganti apa yang jiwa mereka miliki berupa kebersihan dan kesucian dengan melakukan dosa dan tenggelam di dalamnya, sebagai hasil dari berpalingnya mereka dari kitab Allah, tidak peduli dengan syariat-Nya, tidak memperhatikan batasan-batasan-Nya, tenggelam di dalam syahwat, dan mengikuti jalan kesesatan. Firman-Nya : ( ) sebuah kabar dari-Nya, bahwa jika Dia menginginkan kepada suatu kaum, person, atau kelompok sebuah keburukan yaitu apa saja yang menyulitkan mereka berupa bala dan azab, maka tidak ada yang dapat menolaknya bagaimanapun dan pasti akan mengenai mereka, dan mereka tidak punya pelindung selain Allah yang mampu menghindarkan mereka dari azab, adapun permberian dari Allah seandainya mereka kembali kepada, memohon ampunan, dan bertaubat kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkan dari mereka semua keburukan dan menjauhkan dari mereka azab. Pelajaran dari ayat : • Para penjaga dan pengawal bagi yang menggunakan mereka untuk menjaganya (tidak bisa menjaga kecuali) atas izin Allah, tidak pula bermanfaat menolak apa yang telah Allah tetapkan sama sekali. • Penetapan akidah bahwa setiap orang memiliki malaikat yang bergantian menjaganya siang dan malam seperti para pencatat yang mulia, penjaga manusia dari para setan dan jin.

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Ar-Ra’d ayat 11: Bagi setiap manusia ada beberapa malaikat yang menjaganya secara bergiliran di malam dan siang hari, dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Namun yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat yang menjaga secara bergiliran, yaitu malaikat hafazhah, baik menjaga badan maupun ruhnya, dari makhluk yang hendak berbuat buruk kepadanya seperti jin, manusia dan lainnya. Mereka juga menjaga semua amalnya. Allah tidak akan mengubah keadaan mereka, selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka. Ada pula yang menafsirkan, bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat yang diberikan-Nya, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka, seperti dari iman kepada kekafiran, dari taat kepada maksiat dan dari syukur kepada kufur. Demikian pula apabila hamba mengubah keadaan diri mereka dari maksiat kepada taat, maka Allah akan mengubah keadaanya dari sengsara kepada kebahagiaan. Seperti azab dan perkara yang tidak mereka inginkan. Yang akan menghindarkan azab itu. Oleh karena itu, hendaknya orang yang tetap berada di atas perbuatan yang dimurkai Allah berhati-hati jika nanti Allah timpakan siksaan yang tidak dapat ditolak.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. An-Nahl (16): Ayat 89 Rujukan #4
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
wa yauma nab’aṡu fī kulli ummatin syahīdan ‘alaihim min anfusihim wa ji`nā bika syahīdan ‘alā hā`ulā`, wa nazzalnā ‘alaikal-kitāba tibyānal likulli syai`iw wa hudaw wa raḥmataw wa busyrā lil-muslimīn
"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan ingatlah pada hari ketika kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka, yaitu seorang nabi atau tokoh yang diakui kesalehan dan ketakwaannya, dari golongan mereka sendiri, yang memberi kesaksian dengan jujur; dan kami datangkan pula engkau, wahai nabi Muhammad, menjadi saksi atas mereka semua. Dan kami turunkan kitab Al-Qur'an kepadamu secara berangsur untuk menjelaskan kepada manusia prinsip-prinsip umum segala sesuatu, sebagai petunjuk menuju jalan kebenaran dan kedamaian, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri sepenuh hati kepada Allah. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah penjelasan, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri kepada Allah. Ayat ini kemudian mengiringinya dengan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur'an bagi mereka. Petunjuk pertama adalah perintah untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Allah menyatakan, sesungguhnya Allah selalu menyuruh semua hamba-Nya untuk berlaku adil dalam ucapan, sikap, tindakan, dan perbuatan mereka, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, dan dia juga memerintahkan mereka berbuat kebajikan, yakni perbuatan yang melebihi perbuatan adil; memberi bantuan apa pun yang mampu diberikan, baik materi maupun nonmateri secara tulus dan ikhlas, kepada kerabat, yakni keluarga dekat, keluarga jauh, bahkan siapa pun. Dan selain itu, dia melarang semua hamba-Nya melakukan perbuatan keji yang tercela dalam pandangan agama, seperti berzina dan membunuh; melakukan kemungkaran yaitu hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam adat kebiasaan dan agama; dan melakukan permusuhan dengan sesama yang diakibatkan penzaliman dan penganiayaan. Melalui perintah dan larangan ini dia memberi pengajaran dan tuntunan kepadamu tentang hal-hal yang terkait dengan kebajikan dan kemungkaran agar kamu dapat mengambil pelajaran yang berharga.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman kepada hamba dan rasulNya, nabi Muhammad SAW: (Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas mereka) yaitu umatmu. yaitu, ingatlah kamu tentang hari itu dan kengeriannya serta kemuliaan yang agung dan kedudukan yang tinggi yang diberikan Allah kepadamu pada hari itu. Ayat ini mempunyai makna yang mirip dengan ayat yang mana Abdullah bin Mas'ud meng­hentikan bacaannya ketika membacakan ayat itu untuk Rasulallah SAW. Itu adalah ayat surah An-Nisa, ketika sampai pada firmanNya: (Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (41)) (Surah An-Nisa) Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, "Cukup,". Lalu Ibnu Mas'ud berkata bahwa dia berpaling melihat Rasulullah SAW, tiba-tiba dia melihat kedua mata beliau mencucurkan air matanya. Firman Allah SWT: (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk men­jelaskan segala sesuatu) Ibnu Mas'ud berkata bahwa telah dijelaskan kepada kami dalam Al-Qur'an ini semua ilmu dan segala sesuatu. Mujahid berkata bahwa setiap perkara halal dan haram. Pendapat Ibnu Mas'ud lebih umum dan lebih menyeluruh, karena sesungguhnya Al-Qur'an itu mencakup setiap ilmu yang bermanfaat dari berita yang terdahulu dan pengetahuan tentang masa mendatang. Setiap perkara halal dan haram, dan sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, penghidupan, dan hari kiamat mereka (dan sebagai petunjuk) yaitu bagi hati (serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri

Tafsir As-Sa'di
Buka

89. setelah Allah menyampaikan pada keterangan sebelumnya, bahwa Dia membangkitkan seorang saksi pada setiap umat manusia, maka di sini Allah juga menyebutkan perihal tersebut. Secara khusus Allah membicarakan RasulNya yang mulia (Muhammad) Allah berfirman “dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas (seluruh) umat manusia” maksudnya atas umatmu, bersaksi atas mereka dengan kebaikan dan keburukan. Ini termasuk kesempuraan sifat keadilan Allah, bahwa setiap rasul bersaksi atas umatnya (sendiri). pasalnya, dia adalah orang yang paling mengetahui amalan perbuatan umatnya daripada rasul lainnya, dan lebih adil lagi lebih sayang untuk (tidak) bersaksi atas mereka kecuali yang sesuai dengan apa yang berhak mereka terima. Keterangan ini seperti firman Allah “dan demikian (pula) kami telah mejadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." Dan Allah berfirman "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun." (QS. An-Nisa : 41-42) FirmanNya ”dan kami turunkan kepadamu al-kitab (al qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu" dalam perkara pokok ataupun cabang, dalam hokum-hukum di dua tempat (dunia dan akhirat) dan segala seuatu yang diperlukan oleh para hamba. Ia benar benar telah di jelaskan dengan paripurna, dengan teks-teks yang jelas dan makna makna yang terang. Bahkan Allah kerap mengulang ngulang persoalan persoalan besar yang di butuhkan oleh hati karena (sering) bersentuhan dengannya setiap saat dan bolak balik (mengerjakannya) setiap waktu, dan (dia) menyuguhkan kembali dan memperlihatkannya dengan lafazh lafazh yang berbeda beda dan bukti bukti (nyata) yang beraneka ragam, agar meresap dalam hati, sehingga membuahkan kebaikan dan kebajikan sesuai dengan konsistensinya di dalam hati. bahkan Allah juga menyatukan dalam sebuah ungkapan ringan yang jelas, maknanya banyak, sehingga lafazh tersebut berperan sebagai kaidah dan dasar. Masuk dalam kategori ini, yaitu ayat ayat yang datang setelah ayat ini, yang mengandung berbagai macam perintah dan larangan yang tudak terhitung banyaknya. Ketika Alqur’an adalah penjelas bagi segala sesuatu, maka ia menjadi hujjah Allah di hadapan para hambaNya seluruhnya, akibatnya hujjah hujjah orang orang yang berbuat aniaya terlumpuhkan. Sementara kaum muslimin mereguk kemanfaatan drainya, hingga menjadi sumber hidayah bagi mereka. menuntun dalam masalah agama dan dunia, dan sebagai rahmat yang mengantarkan mereka dapat menggapai kebaikan dunia dan akhirat. Hidayah yang mereka rengkuh berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. sedangkan bentuk rahmatnya adalah dampak (baik) dari hidayah tersebut, berupa pahala dunia dan akhirat, seperi keshalihan, kebaikan dan ketenangan hati, kematangan akal yang tidak terwujud kecuali dengan membinanya berdasarkan nilai nilainya yang merupakan nilai nilai yang paling agung dan luhur, perbuatan perbuatan yang mulia, akhlak yang utama, rizki yang lapang kemenangan atas para musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan menggapai keridhaan Allah serta (suguhan) kemuliaanNya yang agung yang kenikmatan abadi di dalamnya tidak diketahui kecuali oleh Allah Rabb yang maha penyayang.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

89. Ingatlah wahai Nabi, ketika Kami mengutus dari setiap umat itu seorang saksi dari golongan mereka, yaitu nabi mereka. Dan Kami mendatangkanmu wahai Rasul sebagai seorang saksi atas kaummu dan umat-umat yang tersisa, bahwa kamu telah menyampaikan risalah. Aku mengulang hal itu untuk mengancam orang-orang kafir Quraisy bahwa kesaksian itu berlaku untuk mengadili mereka bukan membenarkan mereka, dan untuk mengina mereka atas pendustaan mereka terhadal rasulallah. Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an yang menjelaskan secara terperinci tentang setiap sesuatu yang dibutuhkan manusia berupa hukum-hukum agama dan syariat, petunjuk dari kesesatan, penyebab rahmat dan keberhasilan bagi orang yang beriman, dan kabar gembira tentang surga bagi orang-orang muslim yang menunaikan syariat Allah SWT.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Dan ingatlah (wahai rasul), ketika pada hari kiamat kami akan membangkitkan dari setiap umat dari umat-umat manusia seorang saksi atas mereka, yaitu rasul yang Allah utus kepada mereka yang berasal dari mereka sendiri dan berbicara dengan bahasa mereka. Dan Kami datangkan kamu (wahai rasul) sebagai saksi atas umatmu. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan al-qur’an kepadamu sebagai penjelas setiap perkara yang membutuhkan keterangan, seperti hukum-hukum halal dan haram, pahala dan hukuman, dan lain sebaginya, dan agar menjadi sumber hidayah dari jalan kesesatan dan rahmat bagi orang yang mengimaninya dan melaksanakannya dan kabar gembira yang baik bagi kaum mukminin tentang baiknya tempat kembali mereka.

Tafsir Al-Madinah
Buka

89. Hai Rasulullah, sampaikanlah kepada manusia, ketika pada hari kiamat Kami mendatangkan kepada seluruh umat nabi-nabi mereka agar menjadi saksi atas mereka. Dan Kami mendatangkanmu untuk menjadi saksi atas umatmu. Dan Kami menurunkan al-Qur’an kepadamu sebagai penjelasan yang jelas atas segala sesuatu yang butuh penjelasan, sebagai hidayah dari kesesatan bagi hati, rahmat bagi orang-orang beriman, dan penyampai kabar gembira berupa surga bagi orang-orang yang memeluk Islam dan mendapat petunjuk.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

89. Ingatlah -wahai Rasul- akan hari di saat Kami membangkitkan seorang Rasul pada setiap umat yang bersaksi atas mereka terhadap apa yang mereka perbuat berupa iman atau kufur. Rasul tersebut dari kalangan mereka sendiri, berbahasa dengan bahasa mereka. Dan Kami mendatangkanmu wahai Rasul sebagai saksi atas seluruh umat. Kami menurunkan Al-Qur`ān kepadamu agar kamu menjelaskan apa yang memerlukan penjelasan berupa halal dan haram, pahala dan hukuman dan selainnya. Dan Kami menurunkannya sebagai hidayah bagi manusia kepada kebenaran, rahmat bagi siapa yang beriman kepadanya dan mengamalkan kandungannya, dan sebagai berita gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dengan apa yang mereka tunggu-tunggu yaitu kenikmatan abadi.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

89. ((Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka) Yakni seorang saksi yang akan bersaksi atas mereka. (dari mereka sendiri) Yakni dari kaum mereka sendiri agar tidak menjadi alasan dan hujjah bagi mereka. (dan Kami datangkan kamu) Wahai Muhammad. (menjadi saksi atas seluruh umat manusia) Yakni sebagai saksi atas umat-umat tersebut dan bagi mereka. Pendapat lain mengatakan yakni saksi atas umatmu saja. Telah disebutkan ayat yang serupa pada surat al-Baqarah: 143 dan surat an-Nisa: 33. (Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab) Yakni al-Qur’an. (untuk menjelaskan segala sesuatu) Yakni didalamnya terkandung banyak penjelasan berbagai hukum, dan terkandung perintah untuk mentaati Rasulullah yang membawa syariat ini. Pendapat lain mengatakan yakni dalam al-Qur’an sendiri mengandung penjelasan seluruh hukum, yakni asas-asas hukum tersebut baik itu secara tekstual maupun kontekstual. Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: sesungguhnya Allah menurunkan al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu, namun pengetahuan kita tidak mampu menjangkau segala yang dijelaskan bagi kita dalam al-Qur’an. (dan petunjuk) Bagi hamba-hamba-Nya. (serta rahmat) Bagi mereka. (dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri) Hanya bagi orang-orang Islam, sebab merekalah orang-orang yang mendapatkan manfaat darinya.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

1 ). Masruq berkata : tidaklah kami bertanya kepada sahabat Rasulullah tentang satu perkara, melainkan ilmunya ada dalam al_Qur'an. 2 ). Berhenti sejenak dan tdabburi ayat in : { } "Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu" kemudian amatilah setiap kejadian yang berlaku dan ada kaitannya dengan ayat-ayat semacam ini, kamu akan mendapati ada kenyataan yang membenarkan ayat ini, dan seakan-akan ia baru saja diturunkan hari ini!

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Hari (ketika) Kami mengutus seorang saksi untuk setiap umat dari (kalangan) mereka sendiri dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka. Kami menurunkan kitab} Al-Qur’an {kepadamu untuk menjelaskan} menjelaskan {segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Makna kata: ( ) wa nazzalnaa ‘alaikal kitaab : “dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab” yaitu Al-Qur’an. ( ) tibyaanan likulli syai` : “penjelas segala sesuatu” penjelas atas apa yang setiap umat butuhkan, seperti mengetahui yang halal dan haram, kebenaran dan kebatilan, ganjaran dan hukuman. Makna ayat: Firman-Nya “dan pada hari Kami membangkitkan” ingatlah wahai Rasul Kami, hari Kami membangkitkan “dari setiap umat” yaitu pada hari kiamat “saksi dari diri mereka sendiri, dan Kami menjadikan saksi atas mereka.” kepada siapa engkau diutus. Bayangkanlah bagaimana keadaan itu, ketika engkau bersaksi untuk ahli iman atas iman mereka, orang-orang kafir atas kekafiran mereka, dan orang-orang musyrik atas kesyirikan mereka, sungguh ini merupakan situasi yang berat, sungguh besar kerugian pada hari itu dan penyesalan semakin menjadi. Firman-Nya ketika berbicara kepada rasul-Nya seraya menegaskan kenabiannya dan wahyu yang turun kepadanya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab” yaitu Al-Qur’an “sebagai penjelas atas segala sesuatu” yang dibutuhkan oleh setiap umat berupa mengetahui hal yang halal dan haram, hukum, dan dalil “petunjuk” dari segala kesesatan “dan rahmat” yang khusus bagi orang-orang yang mengamalkan dan merealisasikannya pada diri dan kehidupan mereka, sehingga ia menjadi rahmat yang menyeluruh “dan kabar gembira bagi orang-orang yang menyerahkan diri.” Taat kepada perintah Allah dan larangan-Nya, kabar gembira bagi mereka dengan pahala yang besar dan ganjaran yang banyak pada hari kiamat kelak, dengan pertolongan, kemenangan, serta kemuliaan di dunia. Setelah Kami menurunkan kepadamu kitab ini, tidak tersisa lagi alasan bagi mereka yang ingin mencari alasan pada hari kiamat, sehingga kesaksianmu atas umatmu merupakan kesaksian yang paling besar, serta mempunyai pengaruh yang besar akan keselamatan mereka yang akan selamat dan kecelakaan mereka yang celaka, dan tidak ada seorangpun yang binasa di sisi Allah, kecuali ia merupakan orang yang benar-benar binasa. Pelajaran dari ayat: • Tidak ada lagi alasan setelah Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai penjelas atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang menyerahkan diri.

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat An-Nahl ayat 89: Yakni nabi mereka. Yakni kaummu. Beliau akan menjadi saksi terhadap umatnya; baik atau buruk sikap mereka. Hal ini termasuk keadilan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, yakni setiap rasul menjadi saksi terhadap umatnya, karena para rasul lebih tahu daripada orang lain tentang umatnya, lebih adil dan lebih sayang; sehingga tidak mungkin rasul bersaksi melebihi yang Beliau saksikan dengan menambah-nambah atau bahkan mengurangi. Yang dibutuhkan manusia tentang urusan syari’at; baik tentang ushuluddin maupun cabangnya. Al Quran menerangkan secara jelas, dengan lafaz-lafaznya yang jelas dan maknanya yang terang, sehingga Allah Ta’ala mengulang perkara-perkara besar di dalamnya yang memang dibutuhkan hati karena biasa dilalui di setiap waktu, terulang di setiap saat, ditampilkan dengan lafaz yang berbeda-beda dan dalil yang bermacam-macam agar menancap di hati, sehingga membuahkan kebaikan yang banyak tergantuh sejauh mana hal itu menancap di hatinya. Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggabung dalam lafaz yang sedikit lagi jelas makna-makna yang banyak, sehingga lafaznya seperti kaidah dan asas. Oleh karena Al Qur’an menerangkan segala sesuatu, maka dia merupakan hujjah Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Agar mereka tidak tersesat dalam meniti hidup ini. Yang dengannya mereka mendapatkan kebaikan dan pahala di dunia dan akhirat, seperti menjadi baik hatinya dan tenteram, akalnya menjadi sempurna karena menyelami makna-maknanya, amalnya mulia, akhlaknya utama, mendapatkan rezeki yang luas, mendapat pertolongan terhadap musuh, mendapatkan keridhaan Allah dan karamah (kemuliaan) yang besar, yaitu surga. Dengan surga.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Az-Zumar (39): Ayat 9 Rujukan #5
أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
am man huwa qānitun ānā`al-laili sājidaw wa qā`imay yaḥżarul-ākhirata wa yarjụ raḥmata rabbih, qul hal yastawillażīna ya’lamụna wallażīna lā ya’lamụn, innamā yatażakkaru ulul-albāb
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Wahai orang kafir, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; kamu yang memohon kepada-Nya hanya saat tertimpa bencana ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan membaca Al-Qur'an, salat, dan berzikir dalam sujud dan berdiri karena cemas dan takut kepada azab Allah di akhirat dan mengharapkan rahmat tuhannya' wahai nabi Muhammad, katakanlah, 'apakah sama orang-orang yang mengetahui, berilmu, berzikir, dan melaksanakan salat, dengan orang-orang yang tidak mengetahui, tidak berilmu, dan selalu mengikuti nafsunya'' sebenarnya hanya orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih yang dapat menerima pelajaran serta mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. 10. Sangatlah jauh perbedaan antara orang mukmin dengan orang kafir. Wahai nabi Muhammad, katakanlah kepada orang mukmin bahwa Allah berfirman, 'wahai hamba-hamba-ku yang beriman! bertakwalah kepada tuhanmu, taatilah perintah-Nya, dan ikutilah rasul-Nya. ' bagi orang-orang yang berbuat baik dan taat pada perintah Allah, di dunia ini akan memperoleh kebaikan dan kehidupan di suatu tempat yang sejahtera. Dan bila kesejahteraan dan kebebasanmu beribadah terganggu, sungguh bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah ke tempat yang lebih baik (lihat pula: surah an-nis'/4: 97). Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya oleh Allah tanpa batas. '.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman bahwa apakah orang yang mempunyai sifat demikian itu seperti orang yang menyekutukan Allah dan menjadikan bagiNya tandingan-tandingan? Tentu saja tidak sama di sisi Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Mereka itu tidak sama: di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga bersujud (salat) (113)) (Surah Ali Imran) dan di sini Allah berfirman: ((Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri) yaitu dalam keadaan sujud dan berdirinya. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dia berkata bahwa “al-qanit” adalah orang yang taat kepada Allah SWT dan RasulNya SAW. As-Suddi, dan Ibnu Zaid berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah tengah malam. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah permulaan, pertengahan, dan akhirnya. Firman Allah SWT: (Sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) yaitu dalam ibadahnya dia takut dan berharap. Suatu keharusan dalam ibadah yaitu hal ini dan hal itu, dan hendaknya ketakutan kepada Allah lebih besar daripada masa hidupnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (sedangkan ia takut kepada (azab) hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) dan apabila sedang menjelang ajal, hendaklah harapan itu lebih menguasai dirinya. Firman Allah SWT: (Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”) yaitu, apakah orang yang demikian itu sama dengan orang yang sebelumnya yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah? (Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran) yaitu sesungguhnya yang mengetahui perbedaan antara golongan ini dan itu hanyalah orang yang mempunyai akal.

Tafsir As-Sa'di
Buka

9. Ini adalah kondisi berlawanan antara orang yang taat kepada Allah dengan yang lainnya (yang tidak taat), dan di antara orang yang berilmu dengan orang jahil. Ini sudah merupakan perkara yang sudah pasti perbedaannya yang jauh. Maka tidaklah sama orang berpaling dari ketaatan kepada Rabbnya, yang selalu mengikuti hawa nafsunya dengan orang yang gemar beribadah, yakni, taat kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah yang paling utama, yaitu seperti shalat; dan pada waktu-waktu yang paling utama, seperti waktu-waktu di malam hari. Allah menyifati orang yang gemar beribadah itu dengan “banyak beramal dan melakukan yang paling utama.” Kemudian Allah menyifatinya dengan “sifat takut dan harap,” dan Allah juga menyebutkan sebab yang menimbulkan rasa takutnya, yaitu takut akan azab di akhirat atas dosa-dosa yang telah lalu yang terlanjur ia lakukan, dan juga sebab yang menimbulkan sifat pengharapan yaitu adanya rahmat Allah. Dengan demikian Allah menyifatinya dengan amal lahiriyah dan amal batiniyah. “Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui” Rabb mereka dan juga mengetahui AgamaNya yang bersifat balasan di akhirat, dengan segala rahasia dan hikmah di balik itu, “dengan orang-orang yang tidak mengetahui” sesuatu pun dari semua itu? Mereka yang berilmu tidak sama dengan mereka yang bodoh; demikian pula tidak sama antara malam dengan siang, cahaya dan kegelapan, dan air dengan api. “Sesungguhnya orang yang dapat mengambil pelajaran” ketika diberi pelajaran, “hanyalah orang-orang yang mempunyai akal,” yakni, orang-orang yang mempunyai akal bersih lagi cerdas. Merekalah orang-orang yang lebih mengutamakan yang bernilai tinggi daripada yang bernilai rendah; mereka lebih mengutamakan ilmu daripada kebodohan; ketaatan kepada Allah daripada menyalahiNya, sebab mereka mempunyai akal yang membimbing mereka untuk melihat akhir akibat (semua perbuatan). Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal dan nurani, ia menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

9. Apakah orang kafir yang demikian itu lebih baik keadaan dan hartanya? Ataukah orang mukmin yang taat dan takut kepada Tuhannya yang lebih baik? Yang sepanjang malam ia berdoa, yang menundukkan kepalanya di tanah dan bermunajah atas kebenaran dalam shalatnya, yang takut akan siksa akhirat, yang tercukupi bahagianya, katakanlah hai Muhammad: apakah orang yang alim (tahu) itu sama dengan orang yang bodoh: keduanya tidak sama, sesungguhnya itu adalah nasihat bagi mereka yang berikir. Kalimah (min) tersusun dari kata (am) dan (min), (am) disini berarti istifham inkari yang berfaidah nafi, dan makna (bal:tetapi), bermakna perpindahan dari satu kalam ke kalam lain, orang yang shalat: orang yang melanggengkan ketaatan. Ibnu Umar berkata: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Utsman bin Affan, kata Ibnu Abbas: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Ibn Mas’ud, Umar bin Yasir dan Salim, Tuannya Abu Hanifah

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Apakah orang kafir yang menikmati kekufurannya ini lebih baik, ataukah seseorang yang beribadah kepada Rabbnya dan taat kepada-Nya, menghabiskan malamnya dalam shalat dan sujud kepada Allah, takut kepada adzab akhirat dan berharap rahmat Rabb-Nya? Katakanlah (wahai Rasul) Apakah sama orang-orang yang mengetahui Rabb mereka dan agama mereka yang haq dengan orang-orang yang tidak mengetahui apa pun tentang hal itu? Tidak sama. Hanyasanya yang mengingatnya dan mengetahui perbedaannya adalah orang-orang yang berakal lurus

Tafsir Al-Madinah
Buka

9. Apakah orang kafir yang bersenang-senang dengan kekafirannya ini lebih baik daripada orang yang menyembah Tuhannya, menghabiskan malam-malamnya dalam shalat dan sujud kepada-Nya, takut dari azab akhirat dan mengharap rahmat-Nya? Hai Muhammad, katakanlah: “Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui kebenaran dengan orang-orang yang tidak mengetahui apapun?” Jelas tidak sama, sungguh orang yang mengingat nasehat dan mengetahui kebenaran hanyalah orang-orang yang memiliki akal sehat yang terbebas dari hawa nafsu dan syubhat.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

9. Apakah orang yang menaati Allah, dia menghabiskan malamnya untuk sujud kepada Rabbnya dan berdiri untuk-Nya, dia takut kepada azab Akhirat, berharap rahmat dari Rabbnya, lebih baik daripada orang kafir yang menyembah Allah dalam kesulitan kemudian kafir kepada-Nya dalam kemudahan dan mengangkat sekutu-sekutu bagi-Nya? Katakanlah -wahai Rasul-“Apakah sama orang-orang yang mengetahui apa yang Allah wajibkan atas mereka karena mereka mengetahui Allah dengan orang-orang yang tidak mengetahui apapun tentang hal itu?” Yang mengetahui perbedaan di antara dua golongan hanyalah orang-orang yang berakal lurus.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

9. (ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam) Yakni apakah orang kafir itu lebih baik keadaan dan tempat kembalinya, atau orang yang beriman kepada Allah yang senantiasa menjalankan beribadah kepada Allah di waktu malam dan tidak hanya menyembah Allah pada saat kemudharatan menimpanya, namun ia senantiasa mengingat Allah dan menyembah-Nya pada segala keadaan. (dengan sujud dan berdiri) Dalam shalat malamnya. Yakni dia senantiasa bersujud dan berdiri. ( sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) Dia mengumpulkan sifat antara harapan dan rasa takut. Dan tidaklah dua sifat itu ada dalam hati seseorang melainkan dia akan beruntung. Pendapat lain mengatakan maknanya adalah apakah dia sama dengan orang yang tidak melakukan itu sama sekali? ( Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”) Yang dimaksud adalah antara para ulama dengan orang-orang jahil.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Ataukah orang yang beribadah} orang yang taat kepada Allah {pada waktu malam dalam} pada waktu malam {dengan keadaan bersujud, berdiri, takut pada akhirat} takut pada azab akhirat {dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Katakanlah,“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Ayat ini membandingkan antara orang yang menjalankan ketaatan kepada Allah dengan orang yang tidak demikian, dan membandingkan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, yaitu bahwa hal ini termasuk perkara yang jelas bagi akal dan diketahui secara yakin perbedaannya. Oleh karena itu, tidaklah sama antara orang yang berpaling dari ketaatan kepada Tuhannya dan mengikuti hawa nafsunya dengan orang yang menjalankan ketaatan, bahkan ketaatan yang dijalankannya adalah ketaatan yang paling utama, yaitu shalat dan di waktu yang utama, yaitu malam. Allah menyifati orang ini dengan banyak beramal dan menyifatinya dengan rasa takut dan harap, rasa takut masuk ke neraka karena dosa-dosa yang lalu yang telah dikerjakannya dan rasa berharap masuk ke surga karena amal yang dikerjakannya. Yakni mengenal Tuhannya, mengenal syariat-Nya dan mengenal pembalasan-Nya serta mengenal rahasia dan hikmah-hikmahnya. Yakni tentu tidak sama sebagaimana tidak sama antara siang dan malam, antara terang dan kegelapan, dan antara air dan api. Mereka memiliki akal yang membimbing mereka untuk melihat akibat dari sesuatu, berbeda dengan orang yang tidak punya akal, maka ia menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Sehingga mereka mengutamakan yang kekal daripada yang sebentar, mengutamakan yang tinggi daripada yang rendah, mengutamakan ilmu daripada kebodohan dan mengutamakan ketaatan daripada kemaksiatan.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat Az-Zumar ayat 9: (Apakah orang) dibaca Amman, dan dapat dibaca Aman (yang beribadah) yang berdiri melakukan amal ketaatan, yakni salat (di waktu-waktu malam) di saat-saat malam hari (dengan sujud dan berdiri) dalam salat (sedangkan ia takut kepada hari akhirat) yakni takut akan azab pada hari itu (dan mengharapkan rahmat) yakni surga (Rabbnya) apakah dia sama dengan orang yang durhaka karena melakukan kekafiran atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menurut qiraat yang lain lafal Amman dibaca Am Man secara terpisah, dengan demikian berarti lafal Am bermakna Bal atau Hamzah Istifham (Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yong mengetahui dengan orang-orang yong tidak mengetahui?") tentu saja tidak, perihalnya sama dengan perbedaan antara orang yang alim dan orang yang jahil. (Sesungguhnya orang yang dapat menerima pelajaran) artinya, man menerima nasihat (hanyalah orang-orang yang berakal) yakni orang-orang yang mempunyai pikiran.