Indikator 45: Pengamanan, Perlindungan, Security
Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Kecaman lebih keras lagi dinyatakan dengan, atau apakah mereka mengira bahwa mereka merasa aman sehingga tidak khawatir dari siksaan Allah yang tidak terduga dan dikemas dalam bentuk yang indah, atau berupa istidra'j; perlakuan-Nya yang diduga baik karena merupakan nikmat dan kebaikan padahal sebaliknya' sungguh sangat celaka dan merugi mereka dan siapa pun jika demikian, karena tidak ada yang merasa aman dari siksaan atau makar Allah selain orang-orang yang rugi. Atau apakah mereka sedemikian lengah dan bodoh sehingga belum jelas peristiwa-peristiwa yang dialami generasi terdahulu bagi orangorang yang mewarisi dan tinggal di suatu negeri setelah lenyap penduduknya karena dosa-dosa yang mereka lakukan' belum jelaskah bahwa kalau kami menghendaki, kapan pun, pasti kami siksa mereka karena dosadosanya seperti halnya kami membinasakan orang-orang terdahulu yang mereka warisi negerinya itu; dan kami mengunci hati mereka yang kufur sehingga mereka tidak dapat mendengar dan mengambil pelajaran.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 96-99 Allah SWT memberitahukan tentang sedikitnya keimanan penduduk kota-kota dimana para rasul diutus kepada mereka. sebagaimana firmanNya SWT: (Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu (98)) (Surah Yunus) yaitu tidak ada suatu kota pun yang beriman secara keseluruhan kecuali kaum nabi Yunus. Sesungguhnya mereka beriman setelah menyaksikan azab. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih (147) lalu mereka beriman. Karena itu, Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu (148)) (Surah Ash-Shaffat) dan (Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya" (34)) (Surah Saba). Firman Allah SWT: (Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa) yaitu hati mereka beriman, membenarkan dan mengikutin apa yang dibawa oleh para rasul, serta bertakwa dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan (pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi) yaitu hujan dari langit dan tumbuhan dari bumi. Allah SWT berfirman: (tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya) yaitu, tetapi mereka mendustakan para rasul, jadi Kami menghukum mereka dengan membinasakan mereka karena apa yang mereka lakukan berupa perbuatan dosa dan hal-hal diharamkan. Kemudian Allah SWT berfirman serayaa memperingatkan orang-orang menentang perintah-perintahNya dan berani melanggar larangan-IaranganNya: (Maka apakah penduduk kota-kota itu merasa aman) kota-kota yang kafir (dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka) yaitu azab dan siksa Kami (di malam hari) yaitu pada malam hari (di waktu mereka sedang tidur? (97) Atau apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain? (98) yaitu dalam keadaan mereka sibuk dan lengah (Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah?) yaitu azab, kemurkaan, ketentuan dan siksaanNya atas mereka dalam keadaan lalai dan lengah (Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi) Oleh karena itu Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa orang mukmin mengerjakan ketaatan, sedangkan hatinya dalam keadaan takut dan khawatir; dan orang yang durhaka mengerjakan kemaksiatan dan dia merasa aman.
Tafsir As-Sa'di
Buka
99 “maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?” dimana Dia menarik mereka kepada kebinasaan secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka duga dan Dia memberikan penangguhan. Sesungguhnya rencanaNYa amat teguh. ”tiadalah yang merasa aman dari azab Allah berarti dia tidak mempercayai balasan amal perbuatan dan tidak pula beriman kepada para rasul dengan iman yang sebenarnya. Ayat ini mengandung peringatan yang mendalam bahwa seorang hamba tidak sepatutnya merasa aman terhadap keimanan yang dimilikinya, justru hendaknya dia merasa takut dan khawatir jika ditimpa sebuah ujian yang dapat melenyapkan imannya, hendaknya dia selalu berdoa ”wahai dzat yang maha membolak-balikan hati teguhkanlah hati kami diatas iman” hendaknya dia beramal dan berusaha melalui berbagai cara yang bisa membebaskannya dari keburukan pada saat terjadinya fitnah-fitnah karena seorang hamba walaupun dia telah mencapai apa yang telah dicapai, dia tidak benar-benar yakin bisa selamat.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
99. Apakah mereka merasa aman dari hukuman yang direncanakan Allah atas mereka dan godaanNya berupa nikmat dan kesehatan tanpa merasakannya. Maka tidak ada yang merasa aman dari rencana dan kekuatan Allah kecuali kaum yang merugikan diri sendiri
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Apakah para penduduk negeri yang mendustakan (para rasul) merasa aman terhadap makar (balasan siksaan) Allah dan penundaan yang diberikanNya bagi mereka untuk mengulur waktu bagi mereka dengan kenikmatan yang Allah curahkan kepada mereka sebagai hukuman bagi mereka atas makar mereka. Maka tidak ada yang merasa aman dari Azab Allah, kecuali orang-orang yang binasa.
Tafsir Al-Madinah
Buka
99. Apakah mereka merasa aman dari tipu daya dan makar Allah yang tersembunyi dan tidak diketahui manusia, sehingga mereka lalai dari kekuasaan Allah bahwa Dia berkuasa untuk menurunkan azab bagi mereka pada waktu malam atau dhuha? Jika memang demikian, maka mereka adalah orang-orang yang merugi dan menyia-nyiakan diri dan akal mereka, karena tidak mendapatkan sedikitpun pelajaran dan ibrah yang telah Allah sebar di seluruh penjuru alam semesta.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
99. Perhatikanlah apa yang Allah berikan kepada mereka berupa tenggang waktu, kekuatan dan rezeki yang berlimpah ruah sebagai istidraj bagi mereka. Apakah orang-orang kafir dari penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari azab dan rencana Allah yang tersembunyi? Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang celaka. Sedangkan orang-orang yang mendapat petunjuk pasti senantiasa takut akan azab Allah. Mereka tidak terlena dengan karunia yang Dia berikan kepada mereka, melainkan menganggapnya sebagai anugerah-Nya kepada mereka kemudian mereka bersyukur kepada-Nya.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
99. (Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah) Yakni hukuman yang diatur Allah bagi mereka, sedang mereka tidak menyadarinya. Pendapat lain mengatakan makna makar Allah disini adalah istidraj bagi mereka dengan kenikmatan dan kesehatan.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1 ). Takut akan azab Allah merupakan salah satu jalan terbaik untuk meningkatkan kualitas amalan seorang hamba dan mengurangi kesalahan. 2 ). Dalam ayat ini ada maksud untuk menakut-nakuti setiap mukmin yang selalu merasa aman dan selamat dari rusaknya keimanan, maka dari itu setiap kita mesti merasa takut da khawatir akan tertimpa musibah rusaknya iman, dan juga harus senantiasa berdoa agar diteguhkan diatas keimanan ini, dan senantiasa berusaha agar terhindar dari penyebab-penyeban terjadinya fitnah; karena seorang hamba sekalipun ia telah sampai kepada tujuan yang ia impikan bukanlah menjadi petimbangan bahwa ia yakin akan selalu berada dalam keselamatan..
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{apakah mereka merasa aman dari siksa Allah} pembiaran Allah dengan memberi nikmat kepada orang-orang yang mendustakannya {Tidak ada orang yang merasa aman dari siksa Allah, selain kaum yang rugi
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-A’raf ayat 99: Yakni istidraj; penundaan azab dengan memberikan nikmat untuk sementara waktu, lalu azab datang secara tiba-tiba. Syaikh As Sa’diy berkata, “Dalam ayat ini terdapat takhwif (menakutkan) yang dalam agar seorang hamba tidak merasa aman dengan iman yang dimilikinya, bahkan ia harus selalu memiliki rasa takut jika sekiranya ia ditimpa cobaan yang mencabut keimanannya, dan hendaknya ia senantiasa berdoa, “Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Serta beramal dan berusaha melakukan setiap sebab yang dapat meloloskannya dari keburukan ketika terjadi fitnah, karena seorang hamba kalau pun tinggi keadaannya, namun tidak pasti tetap selamat.”
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Meski Allah mewajibkan kaum muslim untuk menyerang kaum musyrik setelah habis masa tenggang waktu atau disebabkan mereka merusak perjanjian, hal itu bukan berarti mereka tidak punya kesempatan untuk memperoleh perlindungan keamanan sedikit pun. Dan jika di antara kaum musyrik ada yang meminta perlindungan kepadamu, setelah habisnya masa tenggang waktu empat bulan, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah sehingga dengan begitu diharapkan mereka tertarik dan bisa insaf. Namun begitu, kamu tidak boleh memaksanya jika ternyata dia tidak mau masuk islam. Bahkan, setelah dia tinggal bersama kaum muslim beberapa lama kemudian dia minta pulang ke tempat asalnya, maka antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui tentang kebenaran islam. Setelah ayat sebelumnya menjelaskan tentang pemutusan perjanjian dengan kaum musyrik mekah juga yahudi bani quraidhah dan seruan untuk memerangi mereka setelah lewat masa tenggang empat bulan, maka ayat ini menunjukkan alasan mengapa pemutusan perjanjian itu harus dilakukan. Bagaimana mungkin ada perjanjian yang dimuliakan di sisi Allah dan rasul-Nya bagi orang-orang musyrik yang telah sedemikian meresapnya kemusyrikan tersebut sehingga mereka tidak merasa bersalah setiap kali merusak perjanjian' jika demikian, perjanjian damai tidak boleh dilanjutkan lagi, kecuali dengan orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian dengan mereka di dekat masjidilharam, yakni dalam perjanjian hudaibiyah, maka selama mereka berlaku jujur dengan tetap memegang perjanjian atau tidak khianat terhadapmu, hendaklah kamu berlaku jujur pula terhadap mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa, yang memiliki sifat-sifat terpuji, antara lain dengan senantiasa jujur dan memegang perjanjian dengan siapa pun, bahkan dengan mereka yang berkhianat sekalipun.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT berfirman kepada NabiNya SAW: (Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu) yang Aku perintahkan kamu untuk memerangi mereka dan Aku menghalalkan kepadamu jiwa dan harta mereka (meminta perlindungan kepadamu) yaitu meminta keamanan kepadamu, maka kabulkanlah permintaannya sampai dia mendengar Kalam Allah, yaitu Al-Qur'an yang kamu bacakan dan ingatkan dia tentang sesuatu dari urusan agama yang menegakkan hujjah Allah atasnya (kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya) yaitu yang aman secara terus-menerus sampai dia kembali ke negerinya dan rumahnya dengan penuh rasa aman (Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui) yaitu sesungguhnya Kami mensyariatkan untuk memberikan keamanan kepada mereka agar mereka mengetahui agama Allah dan agar dakwah kepada Allah menyebar kepada semua hambaNya. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid tentang penjelasan ayat ini, dia berkata bahwa seseorang yang datang kepadamu untuk mendengarkan apa yang kamu katakan dan apa yang diturunkan kepadamu, maka dia dalam keadaan aman hingga dia datang kepadamu, lalu kamu memperdengarkan Kalam Allah kepadanya, dan sampai mengantarkannya ke tempat yang aman yang dia datangi" Oleh karena itu Rasulullah SAW memberikan keamanan kepada orang yang datang kepada beliau untuk meminta petunjuk atau bertanya tentang risalah.
Tafsir As-Sa'di
Buka
6. ketika sudah ada firmanNya, “Apabila sudah habis bulan-bulan haram, bunuhlah orang-orrang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka, dan intailah tempat pengintaian”, (At-Taubah:5) adalah perintah yang bersifat umum dalam segala kondisi dan untuk semua orang dari mereka, maka Allah menyatakan bahwa jika memang ada kemalahatan dalam mendekati sebagian sebagian dari mereka, maka hal itu di bolehkan, bahkan wajib, Dia berfirman, “dan jika seorang di antara orang-orang musrikin itu meminta pertolongan kepadamu.” Yakni, meminta agar kamu menjagannya dan menjamin pengjagaannya agar dia melihat Kalamullah dan keadaan Islam, “maka lindungilah dia suapaya dia sempat mendengar firman Allah,” kemudian jika dia masuk Islam, maka itulah yang diharapkan, jika tidak, maka antarkan dia ketempat yang aman. Penyebabnya adalah orang-orang kafir adalah kaum yang tidak mengetahui, bisa jadi kekufuran yang mereka ikuti itu dikarenakan kejahilan mereka, jika kejahilan ini lenyap maka bisa jadi mereka memilih Islam, oleh karena itu Allah memerintahkan RasulNya dan umatnya untuk mengikutinya, agar melindungi orang-orang yang mendengar Kalamullah. Ini adalah dalil yang sangat jelas bagi madzhab Sunnah wal jama’ah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, karena Allah-lah yang berbicara dengannnya dan menisbatkannya kepada diriNya sebagai bentuk sifat kepada pemiliknya. Ini sekaligus menunjukan kebhatilan madzhab Mu’thaziah dan orang-orang yang mengikuti pendapat mereka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dan banya sekai dalil yang menunjukan kebatilan pendapat ini, namun bukan disini tempat untuk membeberkannya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
6 Jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar dan memahami firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui Islam dan hakikatnya, serta tidak bisa membedakan mana baik atau buruk.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan apabila salah seorang diantara kaum musyrikin yang halal darah dan harta benda mereka meminta masuk dalam perlindunganmu (wahai rasul), dan dia ingin merasa aman, maka penuhilah permintaannya itu hingga ia dapat mendengar al-qur’an al-karim dan mengetahui petunjuk hidayahnya, kemudian kembalikan dia ketempat berasal dalam keadaan aman. Tindakan tersebut ditunjukan untuk menegakan hujjah di hadapan dirinya. Demikian itu disebabkan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir adalah kumpulan manusia-manusia bodoh yang tidak memahami hakikat-hakikat ajaran islam. Mungkin saja mereka akan memilih islam ketika ketidaktahuan itu sirna dari mereka.
Tafsir Al-Madinah
Buka
6. Setelah Allah memerintahkan untuk membunuh orang-orang musyrik dimanapun mereka berada, menawan, dan mengepung mereka; maka kemudian Allah menyebutkan keadaan di mana merea tidak boleh dibunuh atau ditawan. Allah memerintahkan rasul-Nya jika salah seorang di antara mereka meminta darinya keamanan dan perlindungan, maka hendaklah dia memberinya keamanan dan baginya dan bagi hartanya, agar dia dapat mendengar dakwah Islam, karena ini adalah kesempatan untuk berdakwah. Jika dia mendapat petunjuk dan beriman secara suka rela, maka itulah tujuannya; namun jika dia tidak beriman, maka sampaikanlah dia ke tempat yang aman baginya, sehingga dia dapat menjalankan kepercayaannya, sebab orang-orang beriman tidak dapat memaksanya karena dia adalah kaum yang jahil, yang tidak mengetahui apa itu kitab Allah dan apa itu keimanan.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
6. Jika ada orang musyrik yang halal darah dan hartanya menemuimu -wahai Rasul- dan meminta perlindungan kepadamu, maka penuhilah permintaannya agar ia mendengar (bacaan) Al-Qur`ān, kemudian kirimlah ia ke tempat yang aman baginya. Hal itu karena orang-orang kafir adalah kaum yang tidak mengetahui hakikat (fakta yang sebenarnya tentang) agama ini. Jika mereka mengetahuinya melalui bacaan Al-Qur`ān yang didengarnya boleh jadi mereka mendapatkan hidayah.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
6. (Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia) Yakni jadilah pelindungnya sehingga ia tidak mendapat kezaliman sedikitpun. (supaya ia sempat mendengar firman Allah) Yakni mendengar darimu, agar ia mentadabburinya dengan sebenar-benarnya dan mengetahui hakikat seruan yang ditujukan kepadanya. ( kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya) Yakni ke tempat yang aman baginya setelah ia mendengar firman Allah, apabila ia tetap tidak beriman setelah kamu membawanya ketempat yang aman maka kamu boleh membunuhnya kerena ia telah keluar dari perlindunganmu dan telah mendapat keamanan. (Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui) Yakni tidak mengetahui ilmu yang bermanfaat yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Perlindungan bagi orang-orang kafir ini bermanfaat bagi sebagian mereka yang belum mengetahui hakikat dakwah Islam, dan apabila ia telah mengetahuinya bisa jadi ia akan masuk Islam dan bisa jadi ia akan menjelaskan kepada orang lain pengetahuan yang ia dapatkan sehingga orang yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan itu dapat masuk Islam.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Jika seseorang di antara orang-orang musyrik ada yang meminta pelindungan kepadamu} meminta keamanan dan penjagaanmu {maka lindungilah dia} maka terimalah dan berilah keamanan {supaya dapat mendengar firman Allah kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya} kembalikan dia ke rumah yang aman baginya {Demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat At-Taubah ayat 6: Pada ayat 5 di surat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi kaum musyrik di mana saja mereka temui, dan pada ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa jika maslahat menghendaki untuk mendekatkan mereka kepada Islam, maka boleh bahkan harus dilakukan. Yakni meminta kepadamu agar engkau melindunginya dan mencegahnya dari bahaya agar ia dapat mendengar firman Allah dan melihat ajaran Islam. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Al Qur’an adalah firman Allah bukan makhluk. Yaitu tempat kaumnya agar dia berpikir jernih. Tidak mengenal agama Allah, oleh karena itu mereka harus diperkenalkan agama Allah dengan dibacakan Al Qur’an.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Di hadapan zulkarnain, mereka berkata melalui penerjemah, 'wahai zulkarnain! sungguh saat ini kami terancam oleh suatu kaum yang bernama yakjuj dan makjuj. Keduanya itu selalu melakukan penindasan dan berbuat kerusakan di bumi. Untuk menghindarkan kami dari kekejaman mereka, maka bolehkah kami membayarmu dengan sejumlah harta sebagai imbalan agar engkau membuatkan dinding yang kuat sebagai penghalang antara kami dan mereka' kami ingin lepas dari penindasan dan kekejaman mereka. '95. Mendengar tawaran umat yang terancam itu, dia, yaitu zulkarnain yang bijaksana itu, kemudian berkata, 'apa yang telah dianugerahkan tuhan kepadaku yang meliputi kekuasaan, keluasan wilayah, dan kekayaan harta benda lebih baik daripada imbalanmu yang kau tawarkan kepadaku, maka sebagai gantinya bantulah aku dengan seluruh kekuatan yang ada, agar aku dapat membuatkan dinding yang kuat sebagai penghalang antara kamu dan mereka, sehingga kamu semua akan merasa aman karena terhindar dari serangan mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 92-96 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang Dzulqarnain: (kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi)) yaitu dia menempuh suatu jalan dari belahan bumi timur hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung yaitu dua buah gunung yang berdampingan, dan di antara keduanya terdapat celah tempat keluarnya Ya’juj dan Ma'juj menuju negeri manusia, sehingga mereka menimbulkan banyak kerusakan dan menghancurkan hewan ternak, dan tanam-tanaman. Ya'juj dan Ma'juj adalah keturunan nabi Adam sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim,”Sesungguhnya Allah SWT berfirman,"Wahai Adam!". lalu nabi Adam menjawab,"Aku penuhi panggilanMu dan Aku bagaia denganMu” Allah berfirman, "Kirimkanlah utusan ke neraka!" nabi Adam bertanya,"Berapa orang yang dikirimkan ke neraka?” Allah SWT berfirman,"Dari setiap seribu orang ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan, sedangkan sisanya yang satu orang ke surga” Maka saat itulah anak kecil beruban, dan setiap wanita yang mengandung mendadak melahirkan kandungannya. Lalu difirmankan,"Sesungguhnya di antara kalian terdapat dua umat, tidak sekali-kali mereka berada pada sesuatu, melainkan menjadikannya golongan mayoritas, yaitu Ya'juj dan Ma'juj.” Firman Allah SWT: (dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan) yaitu karena asingnya bahasa mereka dan jauhnya jarak mereka dari manusia (Mereka berkata, "Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu (upeti)) yaitu, mereka bermaksud mengumpulkan harta di antara mereka sehingga menjadi benteng antara dia dan mereka. Lalu Dzulqarnain menjawab dengan penuh hormat, menunjukkan pemahaman keagamaannya, keshalihannya, dan tujuan baiknya: (Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik) yaitu sesungguhnya sesuatu yang diberikan Allah kepadaku berupa kerajaan dan kedudukan itu lebih baik daripada harta yang kalian kumpulkan. sebagaimana apa yang dikatakan nabi Sulaiman: (Apakah (patut) kalian menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikanNya kepada kalian) (Surah An-Naml: 36) Demikian juga dikatakan oleh Dzulqarnain,"Apa yang ada padaku jauh lebih baik daripada apa yang kalian berikan itu, tetapi aku meminta kepada kalian agar membantuku dengan sekuat tenaga yaitu dengan pekerjaan dan alat untuk membangun kalian (agar aku membuatkan dinding antara kalian dan merek (95), berilah aku potongan-potongan besi (96)) Kata “Az-zubur” adalah bentuk jamak dari “zabrah” yaitu potongan besi. Pendapat ini dikatakan Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah, potongan besi itu sebagai batu bata (Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu) yaitu yaitu disusun satu sama lain mulai dari pondasinya hingga sama dengan puncak kedua bukit tingginya (berkatalah Dzulqarnain, "Tiuplah (api itu)”) yaitu nyalakanlah api untuk membakarnya, sehingga dinding besi itu menjadi api (dia pun berkata, "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”) Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Adh-Dhahhak, Qatadah, dan As-Suddi berkata bahwa itu adalah tembaga. Sebagian dari mereka menambahkan bahwa itu adalah tembaga yang dilelehkan, berdasarkan firman Allah: (dan Kami alirkan cairan tembaga baginya) (Surah Saba: 12) Oleh karena itu diserupakan dengan kain yang bergaris.
Tafsir As-Sa'di
Buka
94. Sungguh, Allah telah memberikan sebab kausalitas ilmiah bagi Dzulqarnain yang menyebabkannya sanggup memahami bahasa mereka dan memaklumi kondisi mereka, hingga Dzulqarnain bisa berkomunikasi dengan mereka, dan mereka pun dapat menjalin komunikasi dengannya. Mereka pun menyampaikan keluhan tentang gangguan dari Ya’juj Ma’juj. Mereka berdua adalah dua bangsa besar dari kalangan Bani Adam. Mereka berkata, “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi,” dengan tindakan pembunuhan, merampas harta (orang lain) dan tindakan buruk lainnya “maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu,” hadiah timbal balik “supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.” Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membuat dinding sendiri dan mengetahui kemampuan Dzulqarnain. Maka mereka menyodorkan bayaran agar dia membuatnya disertai menyampaikan kepadanya tentang alasan yang mendorong mereka (meminta pertolongan), yaitu kerusakan yang ditimbulkan oleh kaum Ya’juj dan Ma’juj di bumi.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
94. Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain (mereka memahami ucapan dengan diterjemahkan), sesungguhnya kabilah Altatur dan Mongol yang menempati tempat bagian utara dari benua Asia, mereka membuat kerusakan di muka bumi dengan mengekspansi, membunuh, merusak tanaman dan merampas harta. Maka dapatkah kami memberikan suatu upah/bayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?"
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Mereka berkata, ”wahai dzulqarnain, sesunggguhnya ya’juj dan ma’juj (mereka adalah dua umat yang besar dari bani adam) melakukan kerusakan di muka bumi dengan merusak tanaman dan keturunan. apakah boleh kami menyerahkan imbalan bagimu dan kami kumpulkan harta benda kami supaya kamu mau membuatkan dinding pemisah antara kami dengan mereka?
Tafsir Al-Madinah
Buka
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
94. Mereka berkata, "Wahai Zulkarnain! Sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj (yaitu dua umat besar dari keturunan Adam) berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan banyak pembunuhan dan kerusakan lainnya, maka bolehkah Kami membayarmu dengan harta benda kami sebagai imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?"
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
94. (Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi) Ya’juj dan Ma’juj adalah dua kabilah dari golongan manusia. Terdapat pendapat mengatakan mereka berasal dari Turki. Ada suatu pendapat menyatakan kerusakan yang mereka perbuat adalah berupa kezaliman, penipuan, pembunuhan, dan kerusakan-kerusakan yang lain. (maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu) Yakni sejumlah harta yang akan kami bayarkan kepadamu. (supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”) Yakni pembatas yang menjadi penghalang antara kami dengan mereka.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
{ } "supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka" ayat ini sebagai dalil agar penjara dibuatkan untuk orang-orang yang berbuat kerusakan, sehingga menghalangi mereka untuk berinteraksi dengan siapapun sesuka mereka, mereka dikurung sampai mereka menyadari kerusakan yang telah diperbuat.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Mereka berkata,“Wahai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj} dua umat dari anak cucu Adam yang sangat besar, jumlahnya banyak itu sudah ada sekarang {adalah pembuat kerusakan di bumi, dapatkah kami memberimu imbalan} imbalan dari harta kami {agar kamu membuatkan tembok penghalang antara kami dan mereka
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-Kahfi ayat 94: Ya'juj dan Ma'juj adalah dua bangsa yang membuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh bangsa Tartar dan Mongol. Mereka keturunan Yafits anak Nabi Nuh ‘alaihis salam. Seperti melakukan pembunuhan dan perampasan ketika keluar ke tengah-tengah manusia yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membangun sendiri dinding tersebut dan mereka mengetahui kemampuan Dzulkarnain. Oleh karena itu, mereka siap memberikan upah kepada Dzulkarnain dan menyebutkan alasannya, yaitu karena Ya’juj dan Ma’juj melakukan kerusakan di bumi. Akan tetapi, Dzulkarnain adalah raja yang mukmin lagi saleh, beliau tidak tamak kepada dunia dan tidak tinggal diam membiarkan keadaan rakyatnya, bahkan tujuan beliau adalah memperbaikinya, oleh karenanya beliau mau memenuhi permintaan mereka karena ada maslahatnya, tidak meminta upah dan bersyukur kepada Allah Tuhannya yang telah memberikan kemampuan kepadanya, beliau berkata, “(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku,” (lihat ayat 98).
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Ayat-ayat berikut ini berbicara tentang etika berkunjung. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu memasuki rumah tinggal yang bukan rumah tinggal-Mu sebelum meminta izin kepada orang yang berada di dalamnya, dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu daripada masuk tanpa izin, agar kamu selalu ingat bahwa cara itulah yang terbaik bagi kamu. 28. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, yaitu jika di dalam rumah yang kamu kunjungi itu tidak ada orang sama sekali atau tidak ada yang berwenang mengizinkan atau melarang kamu masuk, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan oleh penghuni rumah kepadamu, 'kembalilah!' maka hendaklah kamu kembali dan tidak bersikeras meminta izin. Yang demikian itu lebih suci bagimu karena menjauhkan kamu dari prasangka negatif. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan dia pun akan membalasnya.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 27-29 Ini adalah etika-etika syariat yang diajarkan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman, yaitu etika dalam meminta izin. Allah memerintahkan mereka untuk tidak memasuki rumah-rumah orang, sampai meminta iszin, yaitu meminta izin sebelum masuk dan mengucapkan salam setelahnya. Hendaknya meminta izin sebanyak tiga kali. Jika diizinkan, maka boleh masuk, dan jika tidak, maka hendaknya pergi. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih bahwa Abu Musa pernah meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Umar sebanyak tiga kali, tetapi tidak diizinkan baginya, lalu dia kembali. Kemudian Umar berkata,"Tidakkah tadi aku mendengar suara Abdullah bin Qais meminta izin untuk masuk?" Berilah izin dia untuk masuk” Mereka mencarinya dan mendapatinya sudah pergi. Lalu setelah itu Abu Musa kembali dan Umar berkata, "Apa yang membuatmu kembali?" Abu Musa menjawab, "Aku telah meminta izin untuk masuk sebanyak tiga kali, tetapi belum diizinkan bagiku, dan sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:”'Apabila seseorang di antara kalian meminta izin sebanyak tiga kali, lalu masih belum diizinkan, maka hendaklah dia kembali" Kemudian agar diketahui bahwa orang yang meminta izin kepada pemilik rumah,a maka sebaiknya dia tidak berdiri di tengah-tengah pintu. Akan tetapi, hendaklah dia berdiri agak menyamping ke arah kanan atau ke kirinya” Mujahid berkata tentang firmanNya: (sebelum meminta izin) yaitu berdehem atau berdahak Qatadah berkata tentang firmanNya: (sebelum meminta izin) yaitu meminta izin sebanyak tiga kali; dan barangsiapa yang tidak diberi izin, maka hendaknya dia kembali. Adapun yang pertama adalah pemberitahuan kedatangan, dan yang kedua agar mereka bersiap, dan yang ketiga adalah jika mereka mau mereka bisa memberi izin dan jika tidak maka boleh menolak. Tetapi janganlah kamu berdiri di depan pintu suatu kaum yang menolak kedatanganmu, karena sesungguhnya manusia mempunyai banyak keperluan dan kesibukan, dan Allah lebih utama untuk diperhatikan. (Yang demikian itu lebih baik bagi kalian) yaitu, meminta izin itu baik bagi kalian, yaitu baik bagi kedua belah pihak, baik orang yang meminta izin atau penghuni rumah (Agar kalian (selalu) ingat) Firman Allah SWT: (Jika kalian tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin) Hal itu karena apa yang terkandung di dalamnya berupa tindakan seenaknya terhadap milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Jika dia mau maka dia bisa memberi izin dan jika tidak maka bisa tidak memberi izin (Dan jika dikatakan kepada kalian, "Kembalilah?" maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian) yaitu apabila menolak kedatangan kalian sebelum kalian meminta izin atau setelahnya (maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian) yaitu kembalinya kalian itu lebih suci dan bersih bagi kalian (dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan) Firman Allah SWT: (Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni (sebagai tempat umum) yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan (28)) Ayat yang mulia ini lebih khusus maknanya daripada ayat sebelumnya. Hal itu karena pada ayat ini mengandung pengertian yang membolehkan masuk ke dalam rumah-rumah yang disediakan tidak untuk didiami, jika dia mempunyai keperluan di dalamnya, sekalipun tanpa izin, seperti ruangan yang disediakan untuk tamu, jika seseorang telah mendapat izin sejak awal, maka itu sudah cukup
Tafsir As-Sa'di
Buka
27 Allah mengarahkan para hambaNya yang Mukmin untuk tidak memasuki rumah orang lain tanpa izin, karena hal ini menyebabkan beberapa bahaya: Diantaranya yang pertama, apa yang nabi sebutkan “sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (bagi kalian) untuk alasan (penjagaan) pandangan.” Lantaran meremehkan perkara ini, pandangan mata mengenai aurat-aurat (hal-hal yang tidak patut diketahui) dalam rumah. Sesungguhnya rumah itu bagi seorang manusia dalam menjaga auratnya, seperti kedudukan baju dalam menjaga aurat tubuhnya. Kedua, orang yang masuk tanpa izin akan memunculkan kecurigaan, ia akan disangka buruk sebagai pencuri dan lainnya. Karena mauk dengan sembunyi-sembunyi menunjukkan kejelekan. Allah melarang kaum Mukminin untuk memasuki selain rumah mereka “sehingga kalian meminta izin.” Meminta izin (untuk masuk) dinamakan isti’nas karena, melalui izin akan menghasilkan keramahan, sedangkan ketiadaannya akan mengakibatkan kekakuan. “dan memberi salam kepada penghuninya,” mekanismenya sebagimana yang tertuang dalam salah satu hadits, “ Assalamu’alaikum, apakah saya boleh masuk?” “yang demikian itu,” izin yang telah disinggung “lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat,” karena mengandung beberapa maslahat, termasuk budi pekerti mulia yang wajib dilakuka. Bila diizinkan, maka orang yang meminta izin itu boleh masuk ke dalam.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
27. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah yang bukan rumah kalian sampai kalian meminta ijin untuk masuk dan mengucapkan salam kepada pemiliknya dengan mengucap: “Assalamu’alaikum, apakah saya boleh masuk?” Permintaan ijin itu lebih baik bagi kalian daripada masuk tanpa ijin, barangkali kalian bisa mendapatkan pelajaran, sehingga kalian mengetahui tentang apa yang diperintahkan untuk kalian. Ayat ini diturunkan untuk wanita anshar yang berkata: “Wahai Rasulallah, Aku berada di rumahku dalam keadaan yang aku sendiri tidak ingin dilihat orang lain, namun masih saja ada laki-laki dari keluargaku yang masuk rumahku sedangkan aku dalam kondisi tersebut. Lalu bagaimanakah yang harus saya lakukan?”Kemudian turunlah ayat ini
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian memasuki rumah-rumah yang bukan milik kalian, hingga kalian meminta izin kepada penghuninya untuk masuk dan mengucapkan salam pada mereka. Dan bunyi ucapan slam dari as-Sunnah adalah, “Assalamu’alaikum, apakah saya boleh masuk?” permintaan izin masuk itu lebih baik bagi kalian, supaya kalian menjadi ingat perintah-perintah Allah dengan perbuatan kalian meminta izin, sehingga kalian taat kepadaNya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
27. Allah mengajarkan orang-orang beriman adab meminta izin sebelum memasuki rumah, dan menjelaskan hukum-hukum menjaga pandangan pada lima ayat berikut: Janganlah kalian memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin pemilik rumah dan mengucapkan salam: “Assalamualaikum, apakah aku boleh masuk?” Adab yang baik ini lebih baik bagi kalian daripada memasuki rumah secara tiba-tiba tanpa meminta izin terlebih dahulu; hal ini agar kalian belajar dan mengamalkan adab yang mulia.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
27. "Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengamalkan syariat-Nya, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dari penghuninya untuk memasukinya dan memberi salam kepada penghuninya dengan menyatakan, Assalāmu'alaikum, bolehkah aku masuk? Adab minta izin yang diperintahkan kepada kalian ini lebih baik bagi kalian daripada memasuki rumah secara tiba-tiba, agar kalian selalu mengingat apa yang diperintahkan dan mengamalkannya.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
27. (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin) Yakni sampai tuan rumah mengetahui siapa kalian dan sampai kalian mengetahui tuan rumah telah memberi kalian izin untuk masuk. Jika kalian telah mengetahui hal itu maka masuklah. ( dan memberi salam kepada penghuninya) Yakni dengan mengucapkan ‘Assalamualaikum, apakah aku boleh masuk?’ kalimat ini diucapkan sekali, dua kali, atau tiga kali. (Yang demikian itu lebih baik bagimu) Daripada langsung memasuki rumah itu. (agar kamu (selalu) ingat) Yang dimaksud adalah agar kalian mengambil nasehat ini dan mengamalkan apa yang diperintahkan kepada mereka.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin} meminta izin untuk masuk {dan memberi salam kepada penghuninya. Demikian itu lebih baik bagi kalian agar kalian mengambil pelajaran
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat An-Nur ayat 27: Karena jika tidak meminta izin terdapat banyak mafsadat, di antaranya dapat melihat aurat yang ada dalam rumah, karena rumah merupakan aurat bagi seseorang seperti halnya pakaian yang menjadi penutup bagi auratnya. Di samping itu, tanpa meminta izin dapat menimbulkan keraguan, tuduhan buruk terhadapnya sebagai pencuri misalnya, dsb. Hal itu, karena masuk secara diam-diam menunjukka keburukan. Allah sebut meminta izin dengan isti’nas, karena dengan meminta izin, maka akan membuat nyaman penghuni rumah setelah merasakan ketidaknyamanan. Yaitu dengan mengucapkan, “As Salaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Daripada masuk tanpa meminta izin, karena yang demikian menunjukkan akhlak yang mulia.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
51-53. Sungguh, orang-orang yang bertakwa, patuh, taat melaksanakan perintah Allah dan taat meninggalkan larangan-larangan-Nya, berada dalam tempat yang aman, damai, dan indah yang tidak dapat di lukiskan oleh manusia, yaitu di dalam taman-taman yang sangat indah dan mata air mata air yang jernih mengalir, mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal yang berkilauan, sambil duduk berhadap-hadapan. 47-48. Ketika orang-orang yang berdosa sudah mendekat di pintu neraka, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat, 'peganglah dia, yakni pendosa dan pendurhaka itu, kemudian seretlah dia secara kasar dan paksa sampai ke tengah-tengah neraka yang sedang menyala-Nyala itu, kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab, yaitu siksaan, berupa air yang sangat panas. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 51-59 Setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka, Allah SWT menghubungkannya dengan peyebutan keadaan orang-orang yang berbahagia. Oleh karena itu Al-Qur'an dijuluki Ma'sani. Maka Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa) yaitu ketika di dunianya (berada dalam tempat yang aman) yaitu, di akhirat, yaitu di surga, mereka aman di dalamnya dari kematian dan terusir, serta dari rasa sedih, kaget, lelah, dan letih. Aman dari setan dan tipuannya,serta dari segala malapetaka dan musibah ((yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air (52)) Ini merupakan kebalikan dari apa yang dialami oleh orang-orang musyrik di dalam neraka yang mendapatkan zaqqum dan minuman air yang mendidih. Firman Allah (mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan) yaitu kain sutra yang tipis untuk baju dan baju lainnya. (Istibraq) adalah kain sutra tebal dan mengkilap seperti hiasan dan bagian lain yang dikenakan di bagian atas pakaian dan (duduk berhadapan) yaitu mereka duduk di atas dipan-dipan dengan tidak saling membelakangi. Firman Allah: (demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari (54)) yaitu di samping pemberian ini, Kami juga memberikan kepada mereka istri-istri yang cantik-cantik dari kalangan bidadari-bidadari yang bermata jeli, (tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin) (Surah Ar-Rahman: 56), (Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan (58)) (Surah Ar-Rahman) dan (Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) (60)) (Surah Ar-Rahman) Firman Allah: (Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran) (55)) yaitu apa saja yang mereka minta dari berbagai jenis buah-buahan, pasti didatangkan kepada mereka, sedangkan mereka merasa aman, tidak khawatir kehabisan ataupun dilarang. Bahkan setiap kali mereka meminta, pasti didatangkan kepada mereka. Firman Allah: (mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia) Ini merupakan istisna yang menguatkan nafi, karena sesungguhnya ungkapan ini adalah istisna munqati', yang maknannya adalah mereka tidak akan merasakan kematian lagi di dalamnya untuk selamanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Kematian didatangkan dalam bentuk kambing gibas yang bertanduk, lalu dihentikan di antara surga dan neraka, kemudian disembelih, dan dikatakan, "Wahai penghuni surga, kekallah, tidak ada kematian lagi. Wahai penghuni neraka, kekallah tidak ada kematian lagi” Firman Allah SWT: (Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka) yaitu selain mendapatkan nikmat agung yang kekal, Allah memelihara, menyelamatkan dan menjauhkan mereka dari azab yang pedih di dasar neraka Jahim. Lalu Allah memberi mereka apa yang diinginkan dan menyelamatkan mereka dari hal yang ditakutkan. Oleh karena itu Allah berfirman: (sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar (57)) yaitu sesungguhnya hal itu mereka dapatkan hanya karena karunia dan kebaikan Allah kepada mereka, seperti yang disebutkan dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW yang bersabda,”Beramallah, luruskanlah dan mendekatlah, dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan dapat dimasukkan ke dalam surga oleh amalnya!” Para sahabat bertanya,"Dan tidak juga engkau, wahai Rasulullah?" Rasulullah SAW menjawab,”Dan tidak pula aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepadaku. Firman Allah: (Sesungguhnya Kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran (58)) yaitu sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur'an yang Kami turunkan ini mudah, jelas, terang, dan gamblang (dengan bahasamu) yang merupakan bahasa paling fasih, paling jelas, paling indah, dan paling tinggi (supaya mereka mendapat pelajaran) yaitu agar mereka memahami dan mengamalkannya. Kemudian dengan jelas dan terangnya Al-Qur’an ini, masih ada sebagian manusia yang kafir. menentang dan ingkar. Maka Allah SWT berfirman seraya menghibur RasulNya SAW seraya menjanjikan pertolongan kepada beliau, dan memperingatkan orang-orang yang mendustakannya bahwa mereka akan kalah dan binasa. (Maka tunggulah) yaitu, tunggulah (sesungguhnya mereka itu menunggu (pula)) yaitu mereka akan mengetahui siapakah yang akan mendapat pertolongan, kemenangan, dan kalimah yang tinggi di dunia dan akhirat. Sesungguhnya semua itu hanya bagimu, wahai Muhammad, dan saudara-saudaramu dari kalangan para nabi dan para rasul serta orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang mukmin. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah telah menetapkan,"Aku dan rasul-rasulKu pasti menang” (21)) (Surah Al-Mujadilah)
Tafsir As-Sa'di
Buka
51-53. inilah balasan orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Orang-orang yang menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan cara menjauhi segala kemaksiatan dan mengajarkan berbagai ketaatan. Kala murka dan azab tidak ada, yang ada bagi mereka adalah keridhaan dan pahala besar dari Allah dalam naungan teduh banyaknya pepohonan dan buah-buhan serta mata air yang mengalir, di bawah mereka sungai mengalir deras di dalam surga yang penuh kenikmatan, karena semua yang terdapat dalam surga adalah kenikmatan. Semuanya adalah kenikmatan dan kebahagiaan sempurna darri berbagai sisi. Tidak ada sesuatu pun yang kotor dan keruh secara mutlak. Pakaian mereka terbuat dari sutera hijau yang tebal dan tipis yang disukai jiwa, dan mereka “saling berhadap-hadapan,” di hati dan wajah mereka dalam sempurnanya kenikmatan, kedamaian, cinta kasih, pergaulan, dan etika baik.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
51-52. Golongan orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, dari segala bentuk ketakutan akhirat, di dalam taman-taman nan hijau, dan mata air yang mengalir
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa kepada Allah dengan menjalankan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang di dunia, di akhirat mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang aman dari kesedihan, kesulitan dan lainnya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
51-57. Allah memberi kabar gembira bagi orang-orang bertakwa bahwa di akhirat mereka akan mendapat tempat yang mulia dan aman dari segala keburukan. Mereka berada dalam kebun-kebun indah dan mata air segar, memakai pakaian terbaik dari sutera tipis dan tebal sesuai keinginan mereka; mereka duduk saling berhadapan. Kedudukan yang mulia ini bagi bagi orang-orang bertakwa. Dan Kami muliakan mereka dengan menikahkan mereka dengan bidadari-bidadari cantik yang memiliki mata yang indah. Orang-orang bertakwa itu dapat meminta segala jenis buah-buahan di surga, dengan merasa aman dari segala yang membahayakan; mereka tidak akan merasakan kematian selamanya dan terlindung dari azab neraka Jahannam. Karunia yang luas dan beraneka ragam ini merupakan karunia dari Allah; karunia ini merupakan kemenangan yang besar.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
51. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dengan menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya berada di tempat terhormat, aman dari setiap hal yang tidak disukai yang menimpa mereka.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di tempat} di tempat dan kediaman {yang aman} yang aman dari petaka dan sesuatu yang dibenci
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang ketika di dunia menjaga diri dari kemurkaan dan azab-Nya dengan meninggalkan maksiat dan mengerjakan ketaatan, sehingga mereka memperoleh keridhaan Allah dan pahala-Nya. Mereka berada dalam naungan yang teduh karena banyak pepohonan dan buah-buahan serta mata air, di bawahnya mengalir sungai-sungai dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Ad-Dukhan ayat 51: (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat) atau kedudukan (yang aman) dari semua hal-hal yang menakutkan.