SI Qur'an

Indikator 30: Pemeriksaan

Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-A'raf (7): Ayat 185 Rujukan #1
أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ وَأَنْ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَدِ ٱقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَىِّ حَدِيثٍۭ بَعْدَهُۥ يُؤْمِنُونَ
a wa lam yanẓurụ fī malakụtis-samāwāti wal-arḍi wa mā khalaqallāhu min syai`iw wa an ‘asā ay yakụna qadiqtaraba ajaluhum fa bi`ayyi ḥadīṡim ba’dahụ yu`minụn
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?"

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Mereka sungguh telah mendustakan nabi Muhammad yang mengajak mereka untuk mengesakan Allah. Kini Allah mengajak mereka untuk memperhatikan alam raya, dengan firman-Nya, dan apakah mereka juga buta sehingga tidak memperhatikan dan mengambil pelajaran dari apa yang terbentang pada kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, yang semuanya menunjuki keesaan, keagungan dan kekuasaan-Nya, dan apakah mereka juga tidak melihat dan memikirkan dengan rasa takut tentang kemungkinan telah dekatnya waktu kebinasaan mereka' mereka tidak berpikir bahwa ajal mereka sebenarnya sudah dekat, atau paling tidak, sudah semakin dekat, sehingga mereka cepat-cepat merenungi dan mencari kebenaran sebelum ajal mereka tiba. Jika Al-Qur'an tidak juga membuat mereka percaya, lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai' mereka enggan mengikuti Al-Qur'an dan keterangan yang disampaikan rasul, sehingga berlakulah keketapan Allah, yaitu barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, karena pilihan dan usahanya sendiri, atau karena kebejatan hati dan keengganannya memanfaatkan petunjuk, maka baginya tidak ada seorang pun yang mampu memberi petunjuk guna mengantarkannya kepada kebahagiaan dan memberinya kemampuan untuk melaksanakan petunjuk. Allah akan terus membiarkannya selalu terombang-ambing dalam kesesatan, sehingga tidak menemukan jalan kebenaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman,"Apakah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami itu tidak melihat kerajaan dan kekuasaan Allah di langit dan bumi serta pada semua yang diciptakan olehNya pada keduanya? lalu mereka merenungkan dan mengambil pelajaran darinya. Lalu mereka mengetahui bahwa itu milik Dzat yang tidak ada tandingan dan tidak ada sesuatu yang menyerupaiNya. Itu merupakan perbuatan dari Dzat yang tidak ada yang layak untuk disembah dan memiliki agama murni kecuali Dia. Lalu mereka akan beriman dan membenarkan RasulNya, dan kembali kepada ketaatan kepadaNya, dan melepaskan sekutu-sekutu dan berhala, takut jika ajal mereka tiba dalam waktu yang dekat, dan mereka masih dalam kekafiran, sehingga mereka binasa, dan tempat kembali mereka adalah azab dan hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah SWT: (Maka kepada berita mana lagikah mereka akan beriman sesudah Al-Qur'an?) yaitu Allah berfirman,”Maka peringatan dan ancaman mana lagi setelah peringatan dan ancaman nabi Muhammad SAW yang dibawa kepada mereka berupa ayat-ayat dari sisi Allah yang mereka benarkan, jika mereka tidak membenarkan berita yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW kepada mereka dari sisi Allah?

Tafsir As-Sa'di
Buka

185 “dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi” sesungguhnya jika mereka melihat kepadanya, maka mereka akan mendapatinya sebagai bukti yang menunjukkan keesaan penciptanya dan kesempurnaan sifat-sifat yang dimilikiNya “dan” begitu pula hendaknya mereka melihat ”segala sesuatu yang diciptakan Allah” karena seluruh bagian alam raya ini menunjukan secara jelas kepada ilmu Allah, kodratNya, hikmahNya, keluasan rahmatNya, kebaikanNya kehendakNya yang pasti terlaksana, dan sifat sifat agung yang lainnya yang menunjukan keesaanNya dalam penciptaan dan pengaturan yang mengantarkan kepada keyakinan bahwa Dialah yang berhak disembah, dipuji, disucikan, diesakan dan dicintai. Dan firmanNya ”dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka?” yakni hendaknya mereka melihat keadaan mereka sendiri secara khusus, melihat diri mereka sebelum ajal datang mendekat dan kematian hadir secara tiba-tiba, sementara mereka dalam keadaan berpaling dan lalai, maka dalam kondisi itu mereka tidak mungkin mengejar ketertinggalan. ”maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al quran itu?” yakni jika mereka tidak beriman kepada kitab yang mulia ini, lalu kepada apakah mereka beriman? apakah kepada kitab-kitab kesesatan dan kebatilan? ataukah kepada ucapan pendusta dan pembual?

Tafsir Al-Wajiz
Buka

185 Sesungguhnya mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah berupa bintang, tumbuhan, hewan dan lainnya, sehingga dapat menuntun mereka kepada keimanan, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Apakah tidak memperhatikan mereka itu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah di dalam kerajaan Allah yang agung dan kekuasaanNYa yang besar di langit dan di bumi, dan tidaklah Allah menciptakan apa pun di dalamnya, lalu mereka mau mencermatinya dan mengambil pelajaran darinya dan mereka merenungi ajal-ajal mereka yang mungkin saja telah dekat waktunya, lalu mereka binasa dengan membawa kekafiran dan kemudian berpulang menuju siksaan Allah dan hukumanNya yang pedih? dengan ancaman dan peringatan apalagi setelah peringatan dari al-qur’an ini yang akan mereka percayai dan mereka malakukan?

Tafsir Al-Madinah
Buka

185. Al-Qur’an menyeru mereka agar mencermati dan menggunakan akalnya untuk mendapatkan dalil kekuasaan Allah, dan menyayangkan kekurangan mereka mencermati ayat-ayat kauniyah setelah al-Qur’an mengolok mereka yang lalai dalam memikirkan perkara Rasulullah. Hal ini kerena mereka tidak mencermati dan mencari pelajaran dari kerajaan langit berupa matahari, bulan, bintang, dan lain sebagainya; dan kerajaan bumi berupa lautan, pegunungan, hewan-hewan, dan lain sebagainya. Mereka juga tidak mencermati berbagai jenis makhluk yang telah diciptakan Allah yang tidak dapat terhitung, yang menjadi bukti bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta Yang Maha Kuasa yang berhak disembah dan dipatuhi. Sebagaimana mereka juga tidak mencermati dekatnya ajal mereka yang mungkin bisa terjadi kapan saja, sehingga mereka tidak bersegera dalam mencari kebenaran dan menuju apa yang dapat menyelamatkan mereka sebelum kematian datang kepada mereka dengan tiba-tiba, dan azab menimpa mereka sedangkan mereka masih dalam keadaan tersesat. Maka dengan perkataan seperti apa lagi mereka akan beriman?

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

185. Tidakkah mereka mau memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan melihat apa yang Allah ciptakan di dalamnya, seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain, dan memikirkan ajal mereka yang boleh jadi waktunya sudah dekat, kemudian mereka bertobat sebelum terlambat? Jika mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur`ān dan isinya, baik berupa janji maupun ancaman, maka kitab apa lagi selain Al-Qur`ān yang akan mereka yakini?”

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

185. (Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi) Maksudnya adalah bahwa mereka tidak berfikir untuk mengambil manfaat dari hasil pemikiran mereka, dan tidak pula mengamati makhluk-makhluk ciptaan Allah sehingga dapat mengantarkan mereka pada keimanan kepada Allah. (dan segala sesuatu yang diciptakan Allah) Baik itu hewan-hewan, tumbuhan, bintang-bintang, dan yang lainnya. ( dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka) Hingga mereka mati dalam waktu dekat. Lalu mengapa mereka tidak mengamati apa yang dapat mengantarkan mereka kepada hidayat dan memberi manfaat bagi mereka sebelum habis waktu yang diberikan kepada mereka untuk mengamati, beriman, dan beribadah dengan datangnya ajal mereka. (Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?) Yakni maka dengan perkataan apa lagi mereka akan beriman jika mereka tidak beriman kepada al-qur’an, karena tidak ada perkataan yang lebih baik dari kalamullah dan tidak ada yang lebih berpengaruh darinya bagi seseorang untuk mengajak berfikir dan mengambil pelajaran.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi} kerajaan dan kekuasaan Allah di langit dan bumi {dan apa yang diciptakan Allah dan kemungkinan telah makin dekat waktu mereka} waktu kematian mereka mendekat sedangkan mereka masih dalam kekufuran {Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai} maka peringatan mana lagi setelah Al-Qur’an yang mereka percayai

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-A’raf ayat 185: Manusia apabila memperhatikan kerajaan langit dan bumi, tentu akan memperoleh dalil yang menunjukkan keesaan Allah dan sifat-sifat sempurna yang dimiliki-Nya. Demikian pula apabila mereka melihat salah satu ciptaan Allah, maka di sana dia akan mendapatkan dalil terhadap ilmu Allah, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, luas rahmat dan ihsan-Nya, serta menunjukkan berlakunya kehendak Allah dan menunjukkan sifat-sifat-Nya yang agung yang sesungguhnya menunjukkan bahwa Allah sendiri yang mencipta dan mengatur alam semesta. Hal ini sudah barang tentu mengharuskan agar Dia (Allah) saja yang disembah. Hendaknya mereka memperhatikan keadaan mereka, karena boleh jadi maut datang kepada mereka secara tiba-tiba ketika mereka sedang lengah, sehingga mereka tidak mampu mengejar hal yang telah luput. Apakah berita dusta dan sesat yang mereka percayai ataukah berita yang benar ini (Al Qur’an)? Akan tetapi, walau bagaimana pun juga orang yang disesatkan Allah sudah tidak ada jalan lagi untuk menunjukinya sebagaimana diterangkan pada ayat selanjutnya.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Yusuf (12): Ayat 59 Rujukan #2
وَلَمَّا جَهَّزَهُم بِجَهَازِهِمْ قَالَ ٱئْتُونِى بِأَخٍ لَّكُم مِّنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّىٓ أُوفِى ٱلْكَيْلَ وَأَنَا۠ خَيْرُ ٱلْمُنزِلِينَ
wa lammā jahhazahum bijahāzihim qāla`tụnī bi`akhil lakum min abīkum, alā tarauna annī ụfil-kaila wa ana khairul-munzilīn
"Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?"

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan ketika dia (nabi yusuf ) menyiapkan bahan makanan bagi saudara-saudaranya untuk mereka bawa pulang, dia berkata kepada mereka, bila kalian datang kembali ke mesir, bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (bunyamin) agar aku bisa memberimu jatah bahan makanan lebih banyak lagi. Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran, bahkan melebihkannya untuk kalian, dan di samping itu, aku adalah seorang penerima tamu yang terbaik dengan menjamu kalian secara sempurna'sebelum saudara-saudaranya kembali ke palestina, nabi yusuf mengingatkan mereka, maka jika kamu tidak membawanya kepadaku pada saat kedatangan kalian nanti, maka kalian tidak akan mendapat jatah gandum lagi dariku, dan jangan pula kamu mendekatiku lagi sesudah itu!.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 58-62 Maksudnya adalah bahwa para saudara Yusuf termasuk di antara orang yang meminta jatah makanan karena perintah ayah mereka. Telah sampai kepada mereka berita bahwa Aziz negeri Mesir akan menjual makanan kepada semua orang. Lalu para saudara nabi Yusuf datang dengan membawa barang-barang yang akan mereka tukarkan dengan makanan. Mereka berangkat berjumlah sepuluh orang, dan nabi Ya'qub menahan anaknya untuk tinggal bersamanya, yaitu saudara sekandung nabi Yusuf. dia adalah anak yang pal­ing dicintai setelah nabi Yusuf. Ketika mereka masuk menemui nabi Yusuf yang sedang duduk di atas singgasana dan dengan pakaian kebesarannya, dia mengenal mereka ketika melihat mereka, tetapi mereka tidak mengenalinya karena mereka karena sudah berpisah dengannya ketika nabi Yusuf masih kecil. Mereka menjual nabi Yusuf kepada kafilah yang lewat, dan mereka tidak mengetahui lagi ke mana nabi Yusuf dibawa. Mereka juga tidak curiga bahwa nabi Yusuf mendapatkan sesuatu yang sudah dia dapatkan itu. Oleh karena itu mereka tidak mengenalinya. Adapun nabi Yusuf, dia mengenali mereka. (Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya) yaitu memenuhi timbangan mereka dan hewan pengangkut mereka telah membawanya, nabi Yusuf berkata, "Bawalah kemari saudara kalian yang kalian ceritakan itu, agar aku bisa mengetahui kebenaran cerita kalian” (tidakkah kalian melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?) dia menarik perhatian mereka agar kembali kepadanya, kemudian dia mengancam mereka (Jika kalian tidak membawanya kepadaku, maka kalian tidak akan mendapat sukatan lagi dariku) yaitu, jika kalian tidak datang membawa saudara kalian di lain waktu, maka kalian tidak akan mendapat bagian makanan lagi dariku ("dan jangan kalian mendekatiku” (60) Mereka berkata, "Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya” (61)) yaitu, kami akan berusaha untuk mendatangkannya kepadamu dengan segala kemampuan kami, agar engkau mengetahui kebenaran yang kami katakan. (Yusuf berkata kepada pemuda-pemudanya) yaitu kepada pelayan-pelayannya (Masukkanlah barang-barang mereka) yaitu yang mereka berikan untuk ditukarkan dengan jatah makanan (ke dalam karung-karung mereka) yaitu dalam peti barang-barang mereka tanpa mereka sadari (mudah-mudahan mereka kembali) yaitu dengan membawanya.

Tafsir As-Sa'di
Buka

59. “Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya”, maksudnya dia menakar jumlah makanan bagi mereka seperti yang dia lakukan untuk orang lain. Termasuk dari kebijakannya, tidak memberi takaran makanan bagi setiap orang melebihi beban yang diangkut seekor unta. Sebelumnya, dia telah menanyakan kondisi mereka. Maka, mereka itu (saudara-saudaranya) memberitahukan kepadanya bahwa mereka memiliki seorang saudara lagi bersama ayahnya, yaitu Bunyamin. Maka dia berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin)”, lalu dia membujuk mereka untuk membawanya. Dia berkata, “tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan, dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu”, dalam masalah perjamuan tamu dan pemuliaan baginya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

59. Ketika Yusuf sudah memberi apa yang mereka butuhkan yaitu pertukaran makanan dan memenuhi mereka dengan gandum, Dia berkata kepada mereka: “Bawalah kepadaku saudara kalian, yaitu Benyamin, saudara Yusuf di waktu mendatang supaya aku mengetahui kebenaran ucapan kalian, tidakkah kalian melihat bahwa aku memenuhi kalian (dengan makanan) dan aku adalah sebaik-baik tuan rumah di negeri ini”

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Dan yusuf memerintahkan supaya mereka dihormati dan di jamu dengan baik, lalu memberikan kepada mereka bahan makanan yang mereka minta. Dan sebelumnya mereka telah mengabarkan kepadanya bahwa mereka memiliki saudara seayah yang tidak mereka bawa bersama mereka. Maksud mereka adalah saudara kandung yusuf sendiri yaitu Bunyamin. Lalu yusuf berkata, ”bawalah saudara kalian yang seayah itu kepadaku. Tidaklaah kalian lihat aku menyempurnakan takaran bagi kalian dan aku muliakan kalian dalam perjamuan, dan aku adalah sebaik-baik orang nyang menjamu kalian?

Tafsir Al-Madinah
Buka

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

59. Setelah memberikan bahan makanan dan perbekalan yang mereka butuhkan, dan setelah mereka mengatakan kepadanya bahwa mereka mempunyai saudara seayah yang mereka tinggal bersama ayahnya, Yusuf pun berkata, "Bawalah kepadaku saudara kalian yang seayah itu, aku akan memberi kalian tambahan perbekalan sebanyak muatan seekor unta. Tidakkah kalian melihat bahwa aku memberikan takaran penuh dan tidak menguranginya sedikitpun, dan aku adalah tuan rumah yang baik?!

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

59. (Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya) Yakni setelah Nabi Yusuf memberi mereka makanan yang mereka minta serta bekal yang cukup untuk penjalanan mereka pulang. ( ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu) Ia memancing mereka agar menceritakan kisah mereka dengan perkataannya ini. Yang ia maksud adalah saudara kandung Nabi Yusuf yang bernama Bunyamin. (tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan) Ini merupakan perlakuan yang selalu ia lakukan. (dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu) Bagi tamu yang datang kepadaku sebagaimana jamuan yang aku berikan kepada kalian.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Ketika dia menyiapkan perbekalan untuk mereka} memenuhi timbangan mereka dan memberikan perbekalan mereka {dia berkata,“Bawalah kepadaku saudara kalian dari ayah kalian. Tidakkah kalian melihat bahwa aku menyempurnakan} menyempurnakan {takaran dan aku adalah sebaik-baiknya penerima tamu} penerima tamu

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Makna kata : ( ) walammaa jahhazahum bijahaazihim : memuliakan mereka dan memberikan kebutuhan mereka untuk safar, setelah sebelumnya menyempurnakan timbangan barang yang mereka beli. ( ) bi akhillakum min abiikum : Bunyamin, karena ia tidak datang bersama mereka, ayah mereka tidak bisa berpisah darinya. Makna ayat : firman-Nya : ( ) menimbang dan memuat bahan makanan ke atas setiap unta mereka, setelah memuliakan mereka dengan sangat ( ) tidak diragukan lagi, bahwa Yusuf sebelumnya telah bertanya kepada mereka tentang keadaan mereka, lantas mereka mengabarkan tentang ayah mereka dan anak-anaknya secara detil, maka Yusuf meminta kepada mereka : ( ) yaitu Bunyamin, lalu memotivasi mereka untuk membawanya, ( ) “Tidakkah kalian melihat aku sudah menyempurnakan timbangan untuk kalian dan aku adalah sebaik-baik penjamu tamu yang datang kepada ku. Pelajaran dari ayat : • Bagusnya rencana Yusuf untuk mendatangkan saudaranya, Bunyamin sebagai awal untuk mendatangkan seluruh keluarganya nanti.

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Yusuf ayat 59: Yakni agar aku mengetahui kebenaran perkataanmu.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Al-Hajj (22): Ayat 46 Rujukan #3
أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ
a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa takụna lahum qulụbuy ya’qilụna bihā au āżānuy yasma’ụna bihā, fa innahā lā ta’mal-abṣāru wa lākin ta’mal-qulụbullatī fiṣ-ṣudụr
"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Allah lalu bertanya kepada orang-orang yang menolak ajaran Allah yang dibawa rasulullah, "maka apakah mereka tidak pernah berjalan di bumi menyaksikan peninggalan umat terdahulu atau mengkajinya secara mendalam sehingga kalbu, kecerdasan emosi, dan spiritual mereka dapat memahami atau merenungkan ajaran Al-Qur'an atau telinga mereka dapat mendengar ajakan rasul untuk beriman kepada Allah'" mata, telinga, dan pikiran mereka tertutup. Oleh sebab itu, sejatinya bukan mata lahiriah mereka itu yang buta sehingga tidak dapat melihat bukti-bukti kebenaran ajaran rasulullah, tetapi yang buta adalah mata hati mereka yang ada di dalam dada mereka. 47. Karena mata hati mereka buta dan telinga mereka tertutup, dan mereka dengan sombong dan menantang meminta kepadamu, Muhammad, agar azab yang dijanjikan kepada orang-orang kafir itu disegerakan di dunia ini. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya bahwa azab yang pedih bagi orang-orang kafir itu akan diberikan di akhirat. Dan sungguh, jika mereka menyadari bahwa sehari di sisi tuhanmu di akhirat seperti seribu tahun menurut perhitunganmu di dunia sehingga merasakan azab sehari saja di dalam neraka sebanding dengan seribu tahun di dunia. Betapa dah-syatnya azab Allah, mengapa mereka menantang'.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 42-46 Allah SWT berfirman seraya menghibur nabi Muhammad SAW dari pendustaan dari orang yang menentangnya dari kaum beliau: (Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum kaum Nuh), hingga allah berfirman (dan Musa juga didustakan) yaitu dengan semua yantg dia bawa berupa mukjizat yang jelas dan dalil yang terang. (lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir) yaitu maka Kami menangguhkan mereka (kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencianKu (kepada mereka itu)) yaitu, bagaimana bisa kebencian dan azabKu terhadap mereka. Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Musa, dari Nabi SAW bersabda:”Sesungguhnya Allah benar-benar memberi tangguh kepada orang yang zalim, hingga ketika Dia mengazabnya, maka dia tidak dapat luput dariNya” Kemudian Nabi SAW membaca firmanNya: (Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras (102)) (Surah Hud) Kemudian Allah SWT berfirman: (Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya) yaitu, berapa banyak penduduk kota-kota yang telah Aku binasakan (yang penduduknya dalam keadaan zalim) yaitu mendustakan para rasulNya (maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya) Adh-Dhahhak berkata maknannya adalah atap, yaitu tempat tinggal mereka hancur berantakan dan seluruh bangunan kota dan keramaiannya telah musnah. (dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan) yaitu airnya tidak bisa digunakan untuk mengairi dan dan tidak ada seorang pun yang datang kepadanya, padahal sebelumnya banyak orang datang kepadanya (dan istana yang tinggi) Ikrimah berkata bahwa yang dimaksud adalah gedung dengan batu putih. Diriwayatkan dari Mujahid, ‘Atha’ dan Sa'id bin Jubair hal yang serupa. Dan yang lainnya berkata bahwa Al-masyid artinya bangunan yang dibangun tinggi. Lainnya berkata bahwa Al-masyid adalah benteng. Semua pendapat ini saling berdekatan dan tidak bertentangan, karena pengertiannya menunjukkan bahwa bangunan-bangunan yang kokoh, tinggi dan kuat itu tidak dapat melindungi para penghuninya dari azab Allah yang datang menimpa mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh) (Surah An-Nisa: 78) Firman Allah: (maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi) yaitu, dengan tubuh dan pikiran mereka juga. Demikian itu merupakan sesuatu yang cukup, (lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?) yaitu mengambil pelajaran darinya (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada) yaitu bukan buta mata, melainkan buta pandangan hati. Sekalipun pandangan matanya sehat dan tajam, tetapi tidak dapat memanfaatkan dan menyadari informasi itu.

Tafsir As-Sa'di
Buka

46. Oleh karena itu, Allah menyeru para hambaNYa untuk mengembara di bumi supaya mereka merenung dan mengambil pelajaran. Allah berfirman, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,” dengan fisik dan hati yang dengan itu mereka dapat memahami,” ayat-ayat Allah dan mencermati sumber-sumber pelajaran dengannya “atau mempunyai tellinga yang dengan itu mereka mendengar,” berita-berita umat yang telah berlalu dan kabar-kabar mengenai bangsa-bangsa yang dilanda siksaan. Kalau tidak ditujukan untuk maksud demikian, maka pandangan mata, pendengaran telinga dan gerakan tubuh yang nihil dari upaya perenungan dan pengambilan pelajaran tidak bermanfaat dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang mesti dicapai. Karena alasan itu, Allah berfirman, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada,” maksudnya model kebutaan yang membahayakan dalam agama ini adalah kebutaan hati terhadap kebenaran. Akibatnya tidak mampu menyaksikannya sebagaimana orang buta tidak dapat melihat obyek-obyek pandangan. Sementara itu, kebutaan pandangan indra mata, maka puncak (pengaruh negatifnya) hanya mengganggu mata pencaharian dan kemanfaatan duniawi saja.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. Mereka sangat buruk dalam menggunakan akal, karena mereka menuruti hawa nafsu mereka. Dada disebutkan sebagai penekanan.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Tidaklah orang-orang yang mendustakan dari suku Quraisy itu berjalan di muka bumi untuk menyaksikan bekas-bekas kehancuran orang-orang yang di binasakan, sehingga mereka mau berpikir dengan akal-akal mereka, dan kemudian mengambil pelajaran darinya dan mendengarkan berita-berita mereka dengan penuh perenungan, sehingga dapat memetik pelajaran darinya? Karena sesungguhnya hakikat kebutaan bukanlah kebutaan penglihatan, akan tetapi kebutaan yang membinasakan adalah kebutaan mata hati untuk menangkap kebenaran dan mengambil pelajaran.

Tafsir Al-Madinah
Buka

46. Tidakkah orang-orang kafir pergi bersafar dan menyaksikan tempat-tempat orang yang dibinasakan, sehingga mereka dapat mengambil ibrah dari kehancuran yang mereka rasakan, dan tidakkah mereka mendengar azab bagi orang-orang kafir? Kebutaan itu bukanlah kebutaan mata, namun kebutaan yang membinasakan adalah kebutaan hati sehingga tidak dapat menemukan kebenaran dan ibrah.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

46. Maka tidak pernahkah orang-orang yang mendustakan Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu berjalan di muka bumi agar mereka dapat menyaksikan jejak negeri-negeri yang telah dibinasakan, sehingga mereka bisa berpikir menggunakan akal sehat agar mengambil pelajaran darinya, dan mendengar kisah-kisah mereka dengan seksama supaya mengambil peringatan darinya, karena sesungguhnya kebutaan yang hakiki bukanlah buta mata, namun kebutaan hakiki yang membinasakan dan menghinakan adalah kebutaan baṣīrah (ilmu dan iman); di mana orang yang memiliki kebutaan seperti ini tidak akan mungkin mendapatkan pelajaran dan peringatan.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

46. (maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi) Allah mendorong manusia agar melakukan perjalanan ke penjuru dunia untuk melihat tempat umat-umat tersebut dibinasakan agar mereka dapat mengambil pelajaran. (lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami) Maknanya adalah karena mereka telah menyaksikan pelajaran itu hendaknya mereka memiliki hati yang mampu memahami apa yang harus dipahami. ( atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar) Yakni kalamullah yang dibacakan Muhammad kepada mereka yang harus mereka dengar. (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada) Yakni tidak ada masalah dengan panca indra mereka, namun masalahnya adalah hati dan akal mereka. Yakni akal mereka tidak dapat memahami kebenaran dan pelajaran.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

1 ). DIantara cara untuk mengambil pelajaran dari suatu zaman adalah dengan mempelajari sejarah secara umum, dan mengikuti langkah-langkah sejarah ayat-ayat Allah tentang segala penjuru, dan mentadabburi keadaan ummat-ummat yang pernah ada. 2 ). { } "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." Qatadah berkata: Penglihatan yang nampak adalah: penglihatan pada kecukupan dan kenikmatan, dan penglihatan hati adalah: penglihatan yang bermanfaat bagi agama dan dirimu. 3 ). "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." pada ayat ini Allah mengabarkan bahwa indera perasa itu mengikuti kerja akal, dan bahwasanya orang berakal yang dikalahkan oleh nafsunya sesungguhnya ia tidak mendapat manfaat apa-apa dari indera nya. 4 ). Memiliki mata tidak menjamin anda dapat melihat! { } yakni: butanya penglihatan hati itulah buta yang sesungguhnya, bukan bukan buta penglihatan, maka kebutaan hati mereka lebih berbahaya dari kebutaan mata; oleh karena itu pada penghujung ayat dikatakan { } "yang di dalam dada."

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahaminya atau telinga mereka dapat mendengarnya. Sesungguhnya bukanlah penglihatan yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang berada dalam dada

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-Hajj ayat 46: Oleh karena itulah, Allah mengajak hamba-hamba-Nya mengadakan perjalanan di muka bumi untuk memperhatikan keadaan orang-orang terdahulu yang telah binasa dan mengambil pelajaran daripadanya. Dengan badan dan hati mereka. Ayat-ayat Allah dan memperhatikan tempat-tempat yang terdapat ibrah (pelajaran). Untuk mendengarkan berita kebinasaan dan kehancuran orang-orang yang mendustakan, sehingga mereka dapat mengambil pelajaran daripadanya. Akan tetapi, jika sebatas memandang dan mendengar atau berjalan-jalan tanpa bertafakkur dan mengambil pelajaran, maka yang demikian tidaklah bermanfaat dan tidak mencapai maksud yang diinginkan. Buta yang berbahaya adalah buta dalam agama, yaitu butanya hati dari melihat yang hak sehingga ia tidak melihat yang hak itu sebagaimana mata yang buta tidak dapat melihat sesuatu yang terlihat.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. An-Naml (27): Ayat 27 Rujukan #4
۞ قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ
qāla sananẓuru a ṣadaqta am kunta minal-kāżibīn
"Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Mendengar laporan dari burung hudhud, dia, sulaiman, berkata, dengan nada memperingatkan, 'akan kami lihat, apa kamu benar terhadap apa yang engkau katakan, atau termasuk yang berdusta. "28. Untuk melacak kebenaran pengakuan burung hudhud, nabi sulaiman memerintahkannya untuk pergi ke negeri saba' dan berkata, "pergilah engkau ke negeri ratu itu, dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, ratu balqis dan pembesarnya, kemudian berpalinglah dan menghindarlah dari mereka, lalu perhatikanlah reaksi mereka terhadap isi surat itu dan perhatikan apa yang mereka bicarakan. '.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 27-31 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang apa yang dikatakan nabi Sulaiman kepada hud-hud setelah dia memberitahukan tentang penduduk negeri Saba’ dan ratu mereka (Sulaiman berkata, "Akan kami lihat, apakah kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” (27)) yaitu apakah berita darimu ini benar (ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta) yaitu dalam ucapanmu untuk menyelamat­kan dirimu dari siksaan yang telah akku ancamkan kepadamu ("Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” (28)) Nabi Sulaiman menulis surat kepada Balqis dan kaumnya, lalu menyerahkannya kepada hud-hud untuk membawanya. Hud-hud terbang menuju ke negeri mereka, dan hinggap di istana Balqis, lalu hud-hud melemparkan surat itu melalui celah yang ada di istananya, tepat berada di hadapan Balqis, kemudian hud-hud menjauh sebagai sopan santun dan berjaga-jaga. Balqis kebingungan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu sehingga membuatnya terpana sejenak. Kemudian dia menuju ke tempat surat itu dijatuhkan, lalu mengambilnya dan membuka capnya serta membacanya. Di dalamnya terkandung: (Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (30) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (31)) Lalu Balqis mengumpulkan semua pemimpin, menteri, dan pembesar kerajaannya, lalu berkata kepada mereka (Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia) yaitu mulia karena dia melihat keajaiban surat itu, karena burunglah yang mengantarkan surat itu kepadanya, lalu burung itu berpaling darinya darinya sebagai etika terhadap raja. Demikian itu tidak akan mampu dilakukan oleh seorang rajapun, dan mereka tidak bisa melakukan itu. Kemudian Balqis membacakan surat itu kepada mereka (Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (30) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (31)) Maka mereka mengetahui bahwa surat itu dari nabi Allah Sulaiman dan bahwa mereka belum pernah menerima hal itu. Tulisan itu menggunakan gaya bersastra tinggi, ringkas, dan fasih; karena maknannya dapat ditangkap hanya dengan sedikit kalimat, tetapi indah. Firman Allah SWT: (Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku) Qatadah berkata, bahwa maknannya adalah Janganlah kamu sombong terhadapku (dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa maknannya adalah janganlah kalian membangkang dan bersikap sombong terhadap­ku, tetapi datanglah kepadaku dengan berserah diri. Ibnu Abbas berkata yaitu dalam keadaan mengesakan Allah, Ulama’ lainnya berkata yaitu dalam keadaan ikhlas. Sufyan Ibnu Uyaynah berkata bahwa maknannya adalah dalam keadaan taat

Tafsir As-Sa'di
Buka

27-28 maka selamatlah hud-hud itu setelah ia menyampaikan berita yang sangat besar itu, dan sulaiman pun merasa sangat heran, bagaimana bisa berita ini luput dari pengetahuannya, kemudian dia berkata seraya meneguhkan kesempurnaan dan kematangan akalnya, “akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusat. Pergilah dengan (membawa) suratku ini,” nashnya akan disebutkan pada ayat berikutnya, “lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka,” maksudnya, mundur dengan tidak terlalu jauh. “lalu perhatikanlah apa yang mereka kembalikan,” kepadamu, dan apa yang mereka bicarakan tentang isi surat ini.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

27. Berkata Sulaiman kepada Hud hud: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan melakukan tabayun kepada berita dengan melihat kebenaran asli.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

27-28. Sulaiman berkata kepada hud-hud, “Kami akan analisa berita yang kamu bawa kepada kami, apakah kamu berkata jujur dalam perkara itu ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta padanya. Pergilah dengan membawa suratku ini kepada penduduk negeri Saba’ itu, dan berikan surat itu kepada mereka, lalu menyingkirlah kamu dengan jarak yang masih dekat dari mereka di mana kamu tetap bisa mendengar perkataan mereka. Lalu perhatikanlah perbincangan yang terjadi diantara mereka.”

Tafsir Al-Madinah
Buka

27-28. Sulaiman berkata kepada Hudhud: “Kami akan memastikan beritamu; apakah kamu jujur atau termasuk orang yang berdusta.” Maka Sulaiman menulis surat dan memerintahkan Hudhud mengirimnya kepada ratu negeri Saba’. Kemudian dia pergi untuk melihat jawaban apa yang akan mereka berikan.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

27. Sulaiman -'alaihissalām- berkata kepada Hudhud, "Akan kami lihat, apakah engkau memang benar tentang kabar yang engkau klaim, ataukah engkau termasuk makhluk yang berdusta.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

27. (Berkata) Yakni Sulaiman berkata kepada hud-hud. (Akan kami lihat) Yakni kita saksikan kisah yang kamu kabarkan kepada kami. (apa kamu benar) Dalam ucapanmu. (ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta) Ayat ini mengandung anjuran untuk mengungkap berita dan menyingkap kebenarannya serta untuk tidak menerima kabar seseorang hanya kerena mengikuti perkataannya saja jika memungkinkannya untuk mencari kebenaran kabar tersebut.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Dia berkata} Sulaiman berkata kepada Hud-hud {“Kami akan memperhatikan apakah kamu benar atau termasuk orang-orang yang berdusta

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Kepada burung Hud-hud. Disebutkan dalam Tafsir Al Baghawi dan Al Jalaalain, bahwa burung Hud-hud menunjukkan tempat air kepada mereka, lalu mereka menggali sumur-sumur tersebut, kemudian bala tentaranya meminum airnya hingga hilang dahaganya, lalu berwudhu’ dan shalat, kemudian Nabi Sulaiman menuliskan surat, yang isinya: Dari hamba Allah Sulaiman bin Dawud kepada Balqis ratu Saba, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, salam atas orang yang mengikuti petunjuk, amma ba’du: “Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Ibnu Juraij berkata, “Sulaiman tidak menuliskan lebih dari apa yang diceritakan Allah dalam kitab-Nya.” Qatadah berkata, “Demikianlah para nabi, menulis beberapa kalimat secara garis besar; tidak panjang dan tidak banyak.”

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat An-Naml ayat 27: Sulaiman berkata kepada hud-hud : Aku akan melihat dan memperhatikan akan kabar ini yang telah datang padaku, apakah engkau jujur sehingga aku memaafkanmu ? atau engkau dusta atas apa yang telah engkau kabarkan yang menyelisihi akan realitanya ?.

QS. Al-Hujurat (49): Ayat 6 Rujukan #5
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
yā ayyuhallażīna āmanū in jā`akum fāsiqum binaba`in fa tabayyanū an tuṣībụ qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥụ ‘alā mā fa’altum nādimīn
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah kelompok ayat-ayat yang lalu menguraikan tuntunan bagai-mana bertatakrama dengan rasullah, kelompok ayat ini menguraikan bagaimana berlaku dengan sesama manusia, termasuk kepada orang fasik. Diawali dengan tuntunan bagaimana menghadapi orang fasik, Allah berfirman, wahai orang-orang yang beriman! jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita yang penting, maka ja-nganlah kamu tergesa-gesa menerima berita itu, tetapi telitilah terlebih dahulu kebenarannya. Hal ini penting dilakukan agar kamu tidak mence-lakakan suatu kaum karena kebodohan atau kecerobohan kamu mengikuti berita itu yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu yang terlanjur kamu lakukan. Ayat ini memberikan tuntunan kepada kaum muslim agar berhati-hati dalam menerima berita terutama jika bersumber dari orang yang fasik. Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat tindakan yang diakibatkan oleh berita yang belum diteliti kebenarannya. 7-8. Selanjutnya ayat ini memberi nasihat kepada orang yang beriman untuk mengikuti rasulullah dalam semua petunjuknya. Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada rasulullah, yang sepatutnya dihormati dan dipatuhi semua petunjuknya karena beliau senantiasa dalam bimbingan wahyu ilahi. Kalau dia menuruti kemauan kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi dengan bimbingan rasulullah, Allah menjadikan kamu, wahai para sahabat yang setia, cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu sehingga kamu mudah menjaga diri dari dosa serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan sehingga mudah bagi kamu melakukan ketaatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti secara mantap jalan yang lurus. Hal yang demikian itu adalah sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah maha mengetahui siapa yang pantas mendapat anugerah-Nya, mahabijaksana dalam mengatur se-gala urusan.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 6-8 Allah SWT memerintahkan untuk memeriksa berita orang fasik, dan hendaklah mereka bersikap hati-hati dan tidak menerima ucapannya, bisa saja dalam hal itu dia berdusta dan salah. Jadi orang yang menerima begitu saja berita darinya, maka sungguh dia mengikuti jejaknya. Sedangkan Allah SWT melarang mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan. Firman Allah SWT: (Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah) yaitu ketahuilah bahwa di antara kalian terdapat Rasulullah SAW, maka hormatilah, muliakanlah, dan bersopan santunlah saat berhadapan dengan beliau, dan turutilah perintah beliau, karena sesungguhnya beliau lebih mengetahui kemaslahatan kalian dan lebih sayang kepada kalian daripada kalian sendiri. Dan pendapat beliau untuk kalian lebih sempurna daripada pendapat kalian untuk diri kalian sendiri. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri) (Surah Al-Ahzab: 6) Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa pendapat mereka sia-sia jika ditinjau dari kemaslahatan mereka. Maka Allah SWT berfirman: (Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan) yaitu sekiranya beliau menuruti kalian dalam semua apa yang kalian pilih, maka hal itu akan mengakibatkan kalian mengalami kesusahan dan merasa berdosa. Sebagaimana Allah SWT berfirman (Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka, tetapi mereka berpaling dari kebanggaan (71)) (Surah Al-Mu’minun) Firman Allah: (tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu) yaitu menjadikan iman itu dicintai hati kalian dan memperindahnya (serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan) yaitu Allah menjadikan hatimu membenci kekafiran dan kefasikan yaitu dosa-dosa besar dan kemaksiatan yaitu semua perbuatan maksiat, ini merupakan kesempurnaan nikmat yang bertingkat-tingkat. Firman Allah SWT: (Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus) yaitu, orang-orang yang disifati dengan sifat-sifat ini adalah orang-orang yang diberi petunjuk dimana Allah telah menganugerahkan hal ini kepada mereka. Kemudian Allah berfirman: (sebagai karunia dan nikmat dari Allah) yaitu pemberian yang telah diberikan kepada kalian ini merupakan karunia dan nikmat dariNya (Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana) yaitu Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan, dan Maha Bijaksana dalam semua firman, perbuatan, syariat, dan takdirNya

Tafsir As-Sa'di
Buka

6. Ini juga merupakan adab dan sopan santun yang harus diteladani dan dilakukan oleh orang-orang yang berakal, yaitu ketika ada orang yang fasik membawa suatu berita, hendaklah berita itu dicek dan tidak diterima begitu saja, karena hal itu bisa menimbulkan bahaya yang besar serta menjerumuskan dalam lembah dosa. Karena berita yang dibawa orang fasik itu jika disamakan dengan berita yang dibawa orang terpercaya dan lurus serta hukumnya dilakukan berdasarkan berita tersebut, maka hal itu akan membahayakan jiwa dan harta tanpa haknya disebabkan oleh berita itu yang menimbulkan penyesalan. Yang harus dilakukan ketika ada berita yang dibawa orang fasik adalah dicek dan diperjelas, jika terdapat berbagai bukti serta indikasi atas kebenaran berita itu, maka diamalkan dan dipercayai, namun jika berbagai bukti serta indikasi menunjukkan kebohongan berita itu, maka tidak boleh dilaksanakan dan harus didustakan. Di sini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berita orang jujur itu bisa diterima, berita pendusta ditolak, sedangkan berita orang fasik harus ditahan terlebih dahulu sebagaimana yang telah dijelasan di atas. Karena itulah banyak ulama salaf yang menerima riwayat orang-orang Khawarij yang dikenal sebagai orang-orang jujur meski mereka adalah orang-orang fasik.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

6. Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian mendapatkan berita penting dari orang fasik yang telah menyimpang dari batas-batas agama maka jangan tergesa-gesa untuk percaya, namun carilah penjelasan sebenarnya dan pastikanlah kebenaran berita itu sebelum terpengaruh olehnya. Dikhawatirkan kalian yang merupakan kaum tidak bersalah ikut tertimpa keburukan dan hal-hal yang makruh sehingga kalian menyesal dan bersedih atas kesalahan yang kalian perbuat dan berharap hal itu tidak pernah terjadi. Ayat ini diturunkan untuk Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith yang diutus Rasulallah SAW kepada Bani Mushthaliq sebagai orang kepercayaan (untuk mengambil zakat kambing). Saat mereka mendengar hal itu, mereka mendekatinya, lalu ‘Uqbah takut dengan mereka dan kembali. Dia berkata: “Sesungguhnya kaum itu ingin membunuhku dan mencegah sedekah mereka”, Lalu Rasulallah SAW ingin menyerang mereka, kemudian datanglah utusan mereka dan berkata: “Wahai Rasulallah, kami mendengar utusanmu, lalu kami mendekatinya untuk memuliakannya dan mau melaksanakan apa yang dia sampaikan, yaitu sedekah.”

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, bila orang fasik datang kepada kalian dengan membawa sebuah berita, maka periksalah beritanya sebelum membenarkan dan menukilnya agar kalian mengetahui kebenarannya, dihawatirkan kalian bisa melakukan tindakan zhalim terhadap suatu kaum yang tidak bersalah, akibatnya kalian akan menyesalinya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

6. Allah memperingatkan orang-orang beriman dari kabar yang dibawa oleh orang fasik, mereka harus memastikan kebenaran kabar itu sebelum mempercayai dan menyebarkannya, agar kabar ini tidak menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan zalim terhadap orang yang tidak bersalah, sehingga mereka menjadi menyesal akibat sifat terburu-buru.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

6. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengerjakan apa yang disyariatkan, jika seorang yang fasik datang kepadamu dengan membawa kabar tentang suatu kaum maka periksalah kebenaran kabar berita tersebut dan janganlah tergesa-gesa membenarkannya, karena dikhawatirkan kalian akan menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa kalian ketahui yang sebenarnya apabila kalian membenarkan kabar itu tanpa menelitinya terlebih dahulu, sehingga setelah menimpakan musibah kepada mereka kalian menjadi menyesal ketika mengetahui kebohongan kabar itu.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

6. ( jika datang kepadamu orang fasik) Orang fasik adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sebab mereka tidak mempedulikan lagi kebohongan yang mereka lakukan. (membawa suatu berita) Yakni berita yang mengandung mudharat bagi seseorang. (maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya) Yakni pastikanlah kebenarannya. Dan termasuk dari memastikan adalah bersikap tenang tanpa tergesa-gesa, dan memperhatikan urusan yang terjadi dan berita yang ada, sehingga dapat jelas kebenarannya. (sehingga atas perbuatanmu itu) Agar kalian tidak menimpakan mudharat kepada mereka yang tidak harus mereka dapatkan. (kamu menjadi menyesal) Atas apa yang kalian timpakan dengan salah.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

1). Jangan beri tahu orang lain semua yang Anda dengar: { } "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti" Wajib bagi orang yang hatinya telah dibukakan Islam oleh Allah, jika sampai kepadanya suatu ucapan lemah tentang sebuah fatwa sebagian ulama, maka jangan menceritakannya kepada siapapun yang mengerjakannya. Sebaliknya, dia tetap bungkam mengenai hal tersebut meskipun dia yakin akan keasliannya. Betapa banyak yang dikatakan tentang para imam yang tidak ada kebenarannya. 2). Ayat ini memuat salah satu kaidah verifikasi berita, dan hal pertama yang harus dilakukan adalah memperjelas apa yang diberitakan beberapa media tentang orang-orang Hisbah dan orang-orang lain yang membidangi urusan masyarakat, karena ada kemungkinan kesalahan yang terjadi dari semua sisi. Karena diantara sebab-sebab diharuskannya verifikasi terhadap berita-berita dari media tertentu adalah: 1- Banyak di antaranya yang dipenuhi dengan amoralitas intelektual dan moral. 2- Karena beberapa penulis mungkin mempunyai posisi pribadi, mereka menganggap media sebagai sebuah peluang Untuk melampiaskan batinnya. 3- Terbukti banyak pemberitaan yang menyebut pihak ini atau itu salah, menyimpang, atau dilebih-lebihkan.

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepada kalian membawa berita} berita {maka pastikanlah kebenarannya} maka pastikanlah kebenaran beritanya {agar kalian tidak mencelakakan} dikhawatirkan kalian akan mencelakai {suatu kaum karena ketidaktahuan, sehingga kalian menyesali perbuatan kalian itu

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Ayat ini juga sama menerangkan adab yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang berakal, yaitu apabila ada orang fasik yang memberitahukan kepada mereka suatu berita, maka hendaknya mereka menelitinya dan tidak langsung menerima beritanya, karena jika demikian terdapat bahaya yang besar dan terjatuh ke dalam dosa. Hal itu karena jika berita orang fasik menempati posisi berita orang yang yang benar lagi adil sehingga dibenarkan dan dilanjutkan konsekwensinya tentu akan menimbulkan bahaya, seperti binasanya jiwa dan harta tanpa alasan yang benar sehingga membuat seseorang menyesal. Oleh karena itu, yang wajib dalam menerima berita orang fasik adalah tatsabbut (meneliti), jika ada dalil dan qarinah (tanda) yang menunjukkan kebenarannya, maka diberlakukan dan dibenarkan. Tetapi jika dalil dan qarinah menunjukkan kedustaannya, maka didustakan dan tidak diberlakukan. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa berita orang yang jujur adalah diterima dan bahwa berita orang yang berdusta adalah ditolak, sedangkan berita orang fasik, maka tergantung dalil dan qarinah. Oleh karena itulah, kaum salaf sampai menerima banyak riwayat dari orang-orang Khawarij yang terkenal kejujurannya meskipun fasik, demikianlah yang diterangkan oleh Syaikh As Sa’diy.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat Al-Hujurat ayat 6: Kemudian Allah menegur kabar-kabar yang tidak benar dengan berkata: Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, jika telah datang kepada kalian orang-orang fasik yang mereka tidak pernah kalian anggap sebagai pembohong akan kabar yang dibawanya, maka benarkanlah atas apa yang telah kalian dengar dari mereka. Periksalah oleh kalian akan kebenaran apa yang mereka katakan khususnya bagi kabar-kabar yang penting agar supaya tidak menjadikan kaummu permusuhan dan kejahatan sehingga berakibat penyesalan.