Indikator 56: Persediaan, Distribusi, Penyaluran
Ditemukan 4 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Wahai manusia! makanlah dari makanan yang halal, yaitu yang tidak haram, baik zatnya maupun cara memperolehnya. Dan selain halal, makanan juga harus yang baik, yaitu yang sehat, aman, dan tidak berlebihan. Makanan dimaksud adalah yang terdapat di bumi yang diciptakan Allah untuk seluruh umat manusia, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan yang selalu merayu manusia agar memenuhi kebutuhan jasmaninya walaupun dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah. Waspadailah usaha setan yang selalu berusaha menjerumuskan manusia dengan segala tipu dayanya. Allah mengingatkan bahwa sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu, wahai manusia. Sebagai musuh manusia, sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat, yaitu perbuatan yang mengotori jiwa dan berakibat buruk terhadap kehidupan meskipun tanpa sanksi hukum duniawi, seperti menyakiti sesama, menebar permusuhan, merusak persatuan dengan cara mengadu domba dan menyebar kebohongan, berhati dengki, angkuh dan sombong, dan setan juga menyuruh manusia berbuat keji, yaitu perbuatan yang tidak sejalan dengan tuntunan agama dan akal sehat, khususnya yang telah ditetapkan sanksi duniawinya, seperti zina dan pembunuhan, dan setan juga membisikkan agar kamu mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah dengan mengatakan bahwa Allah punya istri dan punya anak, padahal Allah mahasuci dari hal tersebut. [Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb] Dalam ayat sebelumnya Allah ta’ala telah menjelaskan bahwasanya tiada sembahan yang hak kecuali Dia dan bahwasanya Dia sendiri yang menciptakan seluruh makhluk dan memberi mereka rezeki. Dalam hal pemberian nikmat, Dia menyebutkan bahwa Dia telah membolehkan manusia untuk memakan segala yang ada di muka bumi, yaitu makan yang halal, baik, dan bermanfaat bagi dirinya serta tidak membahayakan bagi tubuh dan akal pikiran. Dan Dia juga melarang mereka mengikuti langkah-langkah syetan, dalam tindakan-tindakannya yang menyesatkan para pengikutnya, seperti mengharamkan bahirah, saibah, washilah, dan lain-lainnya yang ditanamkan syaitan kepada mereka pada masa jahiliyah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang terdapat dalam kitab Shohih Muslim yang diriwayatkan dari Iyadh bin Hamad, dari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam : : " :" “Allah ta’ala berfirman, “sesungguhnya setiap harta yang Aku anugrahkan kepada hamba-hamba-Ku adalah halal bagi mereka” selanjutnya disebutkan “Dan Aku pun menjadikan hamba-hamaba-Ku di jalan yang lurus, lalu datang syaitan kepada mereka dan menyesatkan mereka dari agama mereka serta mengharamkan atas mereka yang telah Aku halalkan bagi mereka” (HR. MUSLIM) Al-hafidz Abu Bakar bun Mardawaih telah berkata dari Ibnu Abbas beliau berkata : : ( ) : . " Aku membacakan ayat ini di sisi nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, “wahai orang-orang yang beriman makanlah oleh kalian apa yang ada dari bumi ini yang halal lagi baik”. Maka berdirilah Sa’ad bin Abi Waqosh lalu dia berkata, “wahai Rosululloh, berdo’alah kepada Allah agar menjadikanku seorang yang diijabah do’anya”. Maka Belia menjawab, “wahai sa’ad, perbaguslah makananmu maka akan diijabah do’amu. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya seseorang yang memasukan satu suapan yang haram kedalam perutnya, kecuali tidak akan diterima darinya empat puluh hari. Dan siapapun hamba yang dagingnya tumbuh dari harta yang kotor dan riba, maka neraka lebih utama untuknya”. Firman-Nya : “dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan” Qotadah dan as-Suddi mengatakan, “setiap perbuatan maksiat kepada Allah adalah termasuk langkah syaitan” Ikrimah mengemukakan, “yaitu bisikan-bisikan syaitan” Abu Majlaz berkata “yaitu setiap Nazar dalam kemaksiatan”. As-Sya’bi menuturkan, “ada seseorang yang bernazar akan berkorban dengan menyembelih anaknya, lalu Masruq memberinya fatwa agar menyembelih kambing, dan ia berpendapat bahwa yang demikian itu termasuk salah satu langkah syaitan.” Dan masih banyak riwayat yang menjelaskan mengenai rincian macam-macam langkah syaitan. Sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqoroh : 169) Selanjutnya Allah menegaskan bahwa syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia, firman-Nya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Faathir: 6) Dan firman-Nya : “Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi : 50) Maka orang yang berakal wajiblah baginya untuk menjadikan syaiatan sebagai musuhnya, dengan tidak mengikuti apa yang disarankannya. Karena tidak mungkin ada seorang musuh yang menunjukan kepada jalan keselamatan. Sejatinya seorang musuh pasti berniat dan menginginkan kehancuran kepada musuhnya. Terlebih lagi syaitan yang sudah jelas menyatakan permusuhan kepada anak cucu adam, dan mereka berjanji akan menyesatkannya dari jalan Allah ta’ala.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 168-169 Ketika Allah SWT menjelaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. dan Dialah Dzat Maha Menciptakan makhlukNya sendiri, Dia menjelaskan bahwa Dia adalah Pemberi Rezeki bagi seluruh makhlukNya. Dalam memberi nikmat, Dia mengizinkan manusia untuk memakan makanan di bumi yang halal dari Allah sebagai sesuatu yang baik, yaitu sesuatu yang baik bagi dirinya dan tidak membahayakan diri dan pikirannya. Dia juga melarang mereka mengikuti langkah setan, yaitu jalan dan cara setan yang menyesatkan para pengikutnya berupa pengharaman hewan dan unta, serta hal-hal semacamnya, yaitu hal-hal yang sebelumnya dianggap baik oleh mereka di masa jahiliyah. Sebagaimana dalam hadits 'Iyadh bin Himar yang ada dalam hadits Shahih Muslim dari Rasulallah SAW, beliau bersabda "Allah SWT berfirman: "Setiap harta yang Aku berikan kepada hambaKu adalah halal baginya, dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu sebagai orang-orang yang hanif, lalu setan-setan telah datang kepada mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka, serta mengharamkan kepada mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka Terkait firman Allah : (Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu) yaiti peringatan terhadap setan, sebagaimana firmanNya: (Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (6)) (Surah Fathir) dan (Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim (50)) (Surah Al-Kahfi). Qatadah dan As-Suddi berkata mengenai firmanNya: (dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan) semua maksiat terhadap Allah adalah langkah-langkah setan. 'Ikramah berkata yaitu tipuan-tipuan setan. Mujahid berkata: Langkah-langkahnya yaitu dosa-dosanya. Abu Majlaz berkata : bersumpah melakukan perbuatan maksiat. Asy-Sya'bi berkata: "Seorang pria berjanji untuk menyembelih anaknya, tetapi ia diberi fatwa oleh orang yang merampok untuk menyembelih seekor domba sebagai gantinya. Ini adalah langkah-langkah setan." Terkait firmanNya: "Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah" yaitu setan hanya menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan keras kepala melakikan perbuatan tercela, seperti perzinahan dan hal lain yang serupa. Itu adalah perkataan tanpa ilmu tentang Allah. Semua tindakan ini dilakukan semua orang kafir dan orang yang melakukan bid'ah juga
Tafsir As-Sa'di
Buka
168. Ayat ini dialamatkan kepada seluruh manusia, baik yang Mukmin maupun yang kafir. Allah telah memberikan karunia kepada mereka dengan memerintahkan kepada mereka untuk makan dari seluruh yang ada di bumi seperti biji-bijian, hasil tanaman, buah-buahan, dan hewan dalam keadaan “yang halal,” yaitu yang telah dihalalkan buat kalian untuk dikonsumsi, yang bukan dari rampasan maupun curian, bukan pula diperoleh dari hasil transaksi bisnis yang diharamkan, atau dalam bentuk yang diharamkan, atau dalam hal yang membawa kepada yang diharamkan, “lagi baik,” maksudnya, bukan yang kotor seperti bangkai, darah, daging babi, dan seluruh hal-hal yang kotor dan jorok. Di dalam Ayat ini terdapat Dalil yang menunjukkan bahwa asalnya seluruh benda yang ada itu adalah boleh, hukumnya baik untuk dimakan maupun dimanfaatkan, dan bahwa hal-hal yang diharamkan darinya itu ada dua macam; pertama, yang diharamkan karena dzatnya yaitu yang kotor yang merupakan lawan dari yang baik (Thayyib), kedua, diharamkan karena dikaitkan dengan sesuatu, yaitu yang diharamkan karena bersangkutan dengan hak-hak Allah atau hak-hak manusia, yaitu yang merupakan lawan dari yang halal. Ayat ini juga sebagai dalil bahwa makanan dengan kadar untuk memenuhi Fitrah adalah wajib, dan akan berdosa orang yang meninggalkannya dengan dasar makna perintah yang jelas dari ayat tersebut. Lalu ketika Dia memerintahkan untuk mengikuti apa yang telah diperintahkan kepada-nya yang merupakan inti dari kemaslahatan mereka, maka Dia melarang mereka untuk mengikuti, “langkah-langkah setan,” Maksudnya jalan-jalan yang ia perintahkan, yaitu seluruh kemaksiatan, baik kekufuran, kefasikan, dan kezhaliman, dan termasuk dalam hal itu juga adalah pengharaman unta yang diharamkan oleh kaum jahiliyah untuk mereka, demikian juga sebaliknya menikmati makanan makanan yang diharamkan. “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Maksud dari permusuhan itu adalah tidaklah ia memerintah kalian kecuali untuk mencurangi kalian dan Agar kalian menjadi penghuni penghuni neraka. Rabb kita tidak hanya cukup dengan melarang mengikuti langkah-langkah setan, hingga Dia mengabarkan, dan Dia adalah yang paling benar perkataanNya tentang permusuhannya yang harus diwaspadai, kemudian Allah juga tidak cukup sampai disitu saja, Dia mengabarkan tentang perincian perkara yang menjadi target setan dalam godaannya, dan bahwasanya hal itu adalah perkara yang paling buruk dan paling besar kerusakannya, Allah berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
Buka
168. Wahai manusia, makanlah sesuatu yang diciptakan oleh Allah untuk kalian di bumi yang diperbolehkan dan bisa kalian nikmati, dan janganlah mengikuti jalannya setan yang mengajak menuju kemaksiataan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Al-Kalbiy berkata: “Ayat ini turun untuk Tsaqif, Khuza’ah dan Amir bin Sha’sha’ah yang mengharamkan atas diri mereka sendiri beberapa hal, yaitu hasil panen dan hewan ternak. Mereka juga mengharamkan unta Bahirah, Shaibah, Washilah, dan Ham”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Wahai manusia Makanlah dari rizki Allah yang Dia halalkan bagi kalian yang terdapat di bumi, dalam keadaan bersih dan bukan najis, yang bermanfaat dan tidak memadorotkan, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan setan dalam penetapan halal dan haram, bid’ah serta maksiat-maksiat. Sesungguhnya ia adalah musuh kalian yang amat nyata permusuhannya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
168-169. Allah berfirman kepada seluruh manusia: "Makanlah dari rezeki Allah yang halal, lezat, dan bersih; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan setan, karena ia adalah musuh kalian yang nyata. Bukti dari permusuhannya terhadap kalian adalah ia memerintahkan kalian untuk melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa besar dan membuat kedustaan terhadap Allah dengan mengharamkan yang Dia halalkan dan menghalalkan yang Dia haramkan.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
168. Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi, baik dari hewan, tumbuh-tumbuhan maupun pohon-pohonan yang diperoleh dengan cara yang halal dan memiliki kandungan yang baik, tidak jorok. Dan janganlah kalian mengikuti jalan setan yang menggoda kalian secara bertahap. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan orang yang berakal sehat tidak boleh mengikuti musuhnya yang selalu berusaha keras untuk mencelakakan dan menyesatkannya.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
168. (makanlah dari apa yang terdapat di bumi) Ayat ini diturunkan untuk Bani Tsaqif, Khuza’ah, dan Mudlij yang mengharamkan atas diri mereka hewan-hewan ternak. (yang halal lagi baik) Yakni selain yang diharamkan oleh Allah atas kalian, adapun kata Thayyib berarti yang dinikmati. (dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan) Yakni janganlah kalian berdiri dibelakang syaitan dan perbuatannya berupa mengharamkan sesuatu yang belum dijelaskan keharamannya oleh syari’at dan melakukan perbuatan maksiat. (musuh yang nyata bagimu) Yakni dengan permusuhan yang jelas.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1 ). Pada firman Allah : { } adalah isyarat adanya peran syaithon dalam memelingkan manusia dari makanan halal dan baik, dan isyarat bahwa makanan yang halal dan baik adalah syarat diterimanya doa, maka berapa banyak kejahatan syaithon terhadap manusia untuk mengantarkan mereka untuk memakan makanan yang haram ? 2 ). Langkah pertama ! { } permulaan semua perbuatan adalah ide dan fikiran; karena sesungguhnya itulah yang akan menghantarkan manusia kepada bayangan-bayangan perbuatan, dan bayangan-bayangan itu akan membawa kepada keinginan, dan keinginan itu selalu menjadi penyebab terjadinya perbuatan, dan ketika hal ini terus berulang maka ia akan menjadi kebiasaan, oleh karena itu baiknya setiap langkah-langkah ini ditentukan oleh baiknya langkah pertama yaitu ide dan fikiran, dan rusaknya langkah-langkah ini ditentun oleh rusaknya langkah pertama.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah} jalan {setan. Sesungguhnya dia bagi kalian merupakan musuh yang nyata
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : { } al-Halal : Segala sesuatu yang tidak membahayakan, dan itu adalah segala sesuatu yang Allah izinkan untuk dimanfaatkan. { } ath-Thayyib : Sesuatu yang suci, tidak najis, dan tidak menjijikkan yang tidak disukai oleh jiwa. { } Khutuwatish syaithan : al-Khutuwat merupakan bentuk jamak dari khutwah yang berarti jarak antara dua kaki ketika berjalan. Namun yang dimaksud adalah langkah-langkah dan jalan setan yang mengantarkan seorang hamba mengharamkan apa yang Allah halalkan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. { } ‘Aduwwun mubin : Permusuhan setan sangat jelas. Bagaimana tidak, dialah yang mengeluarkan nenek moyang manusia, Adam dan Hawa dari surga. Dan kebanyakan keburukan dan kerusakan di dunia disebabkan oleh was-was dan gangguan setan. Makna ayat : Setelah pemaparan mengenai keadaan orang-orang yang berbuat kesyirikan, maksiat, dan akhir yang mereka dapatkan berupa kekal dalam adzab neraka, Allah Ta’ala yang memiliki kasih sayang meliputi seluruh manusia berfirman ( ) “Wahai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” Yaitu pemberian dari Allah yang halal, baik, dan diizinkan oleh-Nya. Adapun yang tidak diizinkan oleh Allah maka tidak ada kebaikan ketika dimakan, bahkan akan merusak jasmani dan rohaninya. Kemudian Allah melarang manusia agar tidak mengikuti langkah musuhNya dan musuh manusia, yaitu setan. Karena jika mereka mengikuti langkah setan akan mengantarkan menuju kesengsaraan dan kebinasaan. Pelajaran dari ayat : • Kewajiban untuk mencari yang halal dan mencukupkan diri dengan hidup dari yang halal walaupun hanya sedikit. • Halal adalah apa yang Allah halalkan, dan haram adalah apa yang Allah haramkan. Sementara akal tidak dapat menentukan halal dan haram sendiri. • Keharaman mengikuti langkah-langkah setan, yaitu setiap ideologi, perkatan, dan perbuatan yang dilarang oleh Allah. • Kewajiban untuk menjauhi setiap keburukan dan hal yang keji, karena keduanya merupakan perintah setan.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan mu'amalah yang haram atau cara yang haram dan tidak membantu perkara yang haram. Yaitu yang suci tidak bernajis, bermanfa'at dan tidak membahayakan. Ada yang mengartikan thayyib di ayat ini dengan "tidak kotor" seperti halnya bangkai, darah, daging babi dan segala yang kotor lainnya. Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa yang haram itu ada dua: yang haram zatnya dan yang haram karena ada sebab luar, seperti karena terkait dengan hak Allah atau hak hamba-Nya. Demikian juga bahwa hukum makan agar dapat melangsungkan kehidupan adalah wajib. Seperti menghalalkan dan mengharamkan dari diri sendiri, segala nadzar maksiat, melakukan bid'ah dan kemaksiatan. Termasuk juga mengkonsumsi barang-barang haram. Qatadah dan As Suddiy berpendapat bahwa semua kemaksiatan kepada Allah termasuk mengikuti langkah-langkah setan. Maksudnya: setan adalah musuh yang jelas bagi kita. Oleh karenanya, tidak ada yang diinginkannya selain menipu kita dan mencelakakan kita. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak cukup menyebutkan "jangan mengikuti langkah-langkah setan" tetapi menerangkan bahwa dia adalah musuh yang nyata bagi kita, dan tidak sampai di situ, Dia menerangkan lebih rinci apa yang diserukan setan, yaitu menyuruh berbuat jahat dan keji seperti yang disebutkan pada ayat ssetelahnya.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 168: Allah berfirman kepada seluruh manusia baik yang mukmin maupun yang kafir untuk memerintah mereka agar memakan makanan yang dibolehkan di bumi dan meperingatkan mereka menempuh jalan syetan dalam halal dan haram.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Diriwayatkan bahwa seorang pria lanjut usia dan kaya raya bernama amr bin al-jamuh al-anshari bertanya kepada rasulullah, harta apa yang sebaiknya aku nafkahkan dan kepada siapa aku berikan' Allah lalu menurunkan ayat ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka bertanya kepadamu, wahai nabi Muhammad, tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, seperti saudara kandung, paman, bibi, dan anak-anak mereka, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Mereka hendaknya diprioritaskan untuk menerima infak sebelum orang lain. Infak pada ayat ini adalah sedekah yang bersifat anjuran, bukan zakat yang diwajibkan dalam agama dan telah ditentukan siapa yang berhak menerimanya seperti dibahas pada surah at-taubah/9: 60. Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui. Dalam ayat ini kata al-khair disebut dua kali; yang pertama berarti harta (al-ma'l) dan yang kedua berarti kebajikan dalam arti umum. Selain diuji dengan kemiskinan dan kemelaratan, orang-orang beriman juga akan diuji dengan diminta mengorbankan jiwa mereka melalui kewajiban perang. Diwajibkan atas kamu berperang melawan orang-orang kafir yang memerangi kamu, padahal berperang itu tidak menyenangkan bagimu, sebab ia mengor-bankan harta benda dan jiwa. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, yakni boleh jadi kamu tidak menyukai peperangan, padahal itu baik bagimu karena kamu mendapat kemenangan atas orang-orang kafir atau masuk surga jika terbunuh atau kalah dalam peperangan, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui apa yang baik bagimu, sedang kamu tidak mengetahui. Karena itu, tunaikanlah perintah Allah yang pasti akan membawa kebaikan bagimu.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Muqatil bin Hayyan mengatakan,”Syat ini menjelaskan tentang berinfak dengan ikhlas. As-Suddi mengatakan,”Ayat ini dinasakh dengan ayat zakat” dan ada pandangan tentang ayat itu. Makna ayat ini “Mereka bertanya kepadamu bagaimana mereka harus berinfak?” Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid. Lalu Allah menjelaskan tentang hal tersebut, Dia berfirman, (Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan") yaitu infakkanlah harta kalian untuk beberapa orang ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits “Ibu, ayah, dan saudaramu, kemudian orang-orang yang lebih membutuhkan darimu” Maimun bin Mihran membaca ayat ini dan kemudian berkata,"Ini adalah sasaran infak, dimana tidak disebutkan di dalamnya drum, seruling, patung-patung kayu, atau hiasan dinding" Kemudian Allah berfirman, (Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya) yaitu Bagaimanapun kebaikan yang kalian lakukan, maka Allah mengetahuinya. Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas tindakan tersebut dengan balasan yang lebih baik, karena Allah tidak akan berlaku zalim bahkan seberat dzarrah
Tafsir As-Sa'di
Buka
215. Maksudnya, mereka bertanya kepadamu tentang nafkah, dan ini mencakup pertanyaan tentang apa yang diinfakkan dan siapa yang akan diberikan infaq. Allah menjawab mereka tentang hal itu, maka FirmanNya, “apa saja harta yang kamu nafkahkan,” artinya, harta yang sedikit atau banyak, maka orang yang paling utama menerima harta itu dan yang paling berhak untuk didahulukan serta paling besar hak mereka atas semua doa kedua orang tua yang diwajibkan atasmu berbakti kepadanya dan haram bagimu durhaka kepadanya. Di antara cara berbakti paling agung kepada mereka adalah memberi nafkah kepada keduanya, dan diantara keduanya akan yang paling besar adalah tidak memberi nafkah bagi keduanya. Karena itu, memberi nafkah kepada keduanya adalah wajib atas seorang anak yang berada dalam kondisi lapang. Setelah kedua orang tua adalah sanak saudara menurut tingkatannya, yang terdekat lalu yang lebih dekat menurut kedekatannya dan kebutuhannya; karena memberi nafkah kepada mereka adalah sebuah sedekah dan silaturahim. “Dan anak-anak yatim.” Mereka adalah anak-anak kecil yang tidak memiliki orang yang menafkahi mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang biasanya sangat membutuhkan, mereka tidak mampu mengurusi kemaslahatan diri mereka sendiri dan tidak ada orang yang mencari nafkah untuk mereka. Allah mewasiatkan mereka kepada hamba-hambaNya sebagai kasih sayang dariNya kepada mereka dan kemurahanNya. “Dan orang-orang miskin.” Mereka ini adalah orang-orang yang membutuhkan dan terdesak, serta dililit kekurangan, maka mereka itu diberi nafkah demi menutupi kebutuhan mereka dan mencukupkan mereka. “Dan orang yang berada dalam perjalanan,” yaitu orang asing yang kehabisan bekal di negeri asing, dia diberi pertolongan untuk melanjutkan perjalanannya dengan memberi nafkah agar sampai kepada tujuannya. Setelah Allah menghususkan mereka yang telah disebutkan dalam ayat itu karena kebutuhan mereka yang sangat mendesak, maka Allah menyebutkan secara umum seraya berfirman, “Dan kebaikan apa saja yang kamu buat,” seperti bersedekah terhadap mereka atau selain mereka, bahkan sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri, karena itu termasuk dalam kategori kebaikan, “maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui nya.” Allah akan membalasnya buat kalian dan menjaganya untuk kalian, sesuai dengan niat dan keikhlasannya, banyak dan sedikitnya nafkah yang diberikan, kebutuhan yang mendesak terhadapnya dan besarnya manfaat dan gunanya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
215. Wahai nabi, mereka bertanya kepadamu tentang apa yang seharusnya mereka infakkan? Maka jawablah tentang pemberian yang utama, hal itu untuk menjelaskan orang yang memberi infak, “Maka harta yang hendak kalian infakkan itu, berikanlah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan musafir yang berhenti di tengah perjalanannya, Dan kebaikan yang kalian berikan kepada mereka atau orang lain itu, Allah Maha mengetahuinya dan akan membalasnya. Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang berkata: “Orang-orang mukmin bertanya kepada rasulullah SAW tentang sebaiknya mereka menginfakkan harta mereka dimana, lalu turunlah ayat {Yas’aluunaka maa dzaa yunfiquun…}”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu (wahai nabi), tentang apa yang dapat mereka infakkan dari jenis-jenis harta mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan kepada siapa mereka menginfakkannya. katakanlah kepada mereka," infakkanlah harta apa saja yang tersedia pada diri kalian dari berbagai macam harta yang halal lagi baik. dan jadikanlah infaq kalian teruntuk kedua orang tua, dan orang-orang dekat dari keluarga kalian, kaum kerabat kalian, anak-anak yatim yang meinggal bapaknya sebelum mereka mencapai usia balig, orang orang fakir yang tidak mendapatkan sesuatu untuk mencukupi dan menutupi kebuthan mereka, musafir yang terlilit kebutuhan yang jauh dari keluarga dan hartanya." Dan kebaikan apapun yang kalian perbuat, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui nya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
215. Hai Nabi, para sahabatmu bertanya kepadamu: “Apa yang sebaiknya kami infakkan? Dan kepada siapa kami berinfak?” Maka jawablah mereka: “Infakkanlah harta halal yang dapat kamu infakkan, berikanlah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, orang fakir, dan musafir yang kehabisan bekal. Dan Allah Maha Mengetahui kebaikan yang kalian perbuat dan Dia akan membalasnya.”
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
215. Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu -wahai Nabi- tentang harta apa yang harus mereka infakkan, dan di mana mereka harus menaruhnya? Katakanlah untuk menjawab pertanyaan mereka, “Harta -yang halal lagi baik- yang kalian infakkan hendaknya diberikan kepada kedua orang tua, karib kerabat terdekat kepada kalian sesuai kebutuhan, anak-anak yatim yang membutuhkan santunan, orang-orang miskin yang tidak punya harta, dan musafir yang jauh dari keluarga dan kampung halamannya.” Kebajikan yang kamu lakukan -wahai orang-orang mukmin- baik sedikit maupun banyak, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan-Nya. Dan Dia akan memberi kalian balasan yang setimpal dengan amal perbuatan kalian.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
215. (Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan) Mereka menanyakan apakah yang harus mereka nafkahkan. Maka mereka dijawab dengan penjelasan dan menyebutkan kemana saja mereka seharusnya menafkahkan hartanya, karena nafkah kepada mereka lebih utama untuk ditujukan. (kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan) Penjelasan potongan ayat ini telah disebutkan pada ayat 177.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Apa saja yang kalian infakkan hendaknya dari sesuatu yang baik dan diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan” Kebaikan yang kalian kerjakan itu sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: { } Min khoirin : Maksudnya adalah harta. Karena harta juga dinamakan dengan al-Khoir { } Al-Aqrobin : Seperti saudara laki-laki dan saudara perempuan serta anak-anak mereka, begitu juga paman serta bibi dari pihak ayah maupun ibu dan anak-anak mereka. { } Wamaa taf’alu min khoirin : Huruf Maa merupakan bentuk syarat (syarthiyyah) dan min sebagai penjelasan. Kebaikan di sini maksudnya adalah seluruh jenis kebaikan. { } Fainnallaha bihi ‘aliim : Kalimat ini merupakan jawaban dari syarat yang dibuang, kalau dinyatakan berbunyi ( ) “Dia memberikan pahalan kepada kalian.” Makna ayat: ‘Amr bin Al-Jamuh dan ia adalah orang yang kaya, bertanya kepada Rasulullah ﷺ Apa yang harus ia infakkan dan kepada siapa ia harus menginfaqkan. Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban pertanyaannya, menerangkan bahwa yang harus ia infaqkan adalah harta dan seluruh bentuk kebaikan, dan orang yang paling berhak menerima infaqnya adalah kedua orang tuanya serta kerabat-kerabat dekatnya, begitu juga anak-anak yatim dan orang-orang miskin, serta orang yang kekurangan bekal perjalanan. Allah Ta’ala memberitahukan kepadanya segala jenis kebaikan yang dilakukan seorang hamba diketahui oleh Nya, dan Allah Ta’ala memberikan balasan pahala dan mendorong mereka untuk berbuat kebaikan secara mutlak. Pelajaran dari ayat: • Pertanyaan dari orang yang tidak tahu sehingga menjadi tahu, ini adalah jalan untuk memperoleh ilmu. Oleh karena itu ada yang mengatakan,”Bertanya merupakan separuh ilmu” • Keutamaan berinfaq kepada orang-orang yang disebutkan dalam ayat, apabila orang yang berinfaq itu kaya dan mereka dalam keadaan miskin membutuhkan bantuan. • Dorongan untuk melakukan amalan kebaikan dan janji dari Allah dengan balasan yang cukup untuk mereka yang beramal.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Dalam tafsir Al Jalaalain dijelaskan bahwa yang bertanya adalah 'Amr bin Jamuh, ia adalah orang yang sudah tua dan memiliki harta yang banyak, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang harta apa yang perlu diinfakkan dan ke mana harta diinfakkan. Yakni baik banyak maupun sedikit. Kata-kata ini lebih umum lagi setelah menyebutkan secara khusus harta yang diinfakkan dan ke arah mana diberikan. Kata-kata ini menerangkan bahwa kebaikan apa saja yang dilakukan baik sedekah maupun ketaatan lainnya, baik kepada beberapa golongan di atas maupun lainnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahuinya, yakni akan membalasnya sesuai niat dan keikhlasannya, banyak atau sedikit infak yang dikeluarkan, kebutuhan orang lain terhadapnya dan sesuai besar kecilnya manfaat. Sehingga Dia (Allah) akan memberikan balasan terhadapnya.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 215: Allah mengabarkan bahwasannya para sahabat nabi ﷺ bertanya kepada nabi mereka: dengan apa mereka sodaqoh? dan siapa yang diberikan sodaqohh? maka Allah memerintahkan nabi untuk berkata pada mereka: benarkanlah oleh kalian atas apa yang mudah dari kebaikan, harta yang halal dan jadikan shodaqoh kalian bagi orang tua yang pertama kali, mereka adala manusia yang paling utama.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Setelah mendengar penuturan pelayan istana perihal mimpi raja, dia'nabi yusuf'pun berkata, menanggapi mimpi itu saya menyarankan agar kamu segera mempersiapkan diri bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan tetap di tangkainya, supaya bisa bertahan lama ketika disimpan di tempat yang aman, kecuali sedikit dari hasil panen itu yang kamu ambil untuk kamu makan pada masa kini. Kemudian setelah tujuh tahun masa subur itu berlalu, akan datang tujuh tahun musim kemarau yang sangat sulit. Masa sulit yang akan berlalu nanti kamu akan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya berupa bahan makanan pokok, kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan pada masa subur itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 43-49 Mimpi dari raja Mesir ini merupakan takdir Allah yang menjadi penyebab keluarnya nabi Yusuf dari penjara dalam keadaan mulia dan terhormat. Demikian itu karena ketika raja itu melihat mimpi itu, dia penasaran tentang hal itu, dan apa penjelasannya. Lalu dia mengumpulkan semua peramal, paranormal, dan para pembesar kerajaannya. Lalu dia menceritakan apa yang dia mimpikan dan meminta penjelasannya dari mereka, dan mereka tidak mengetahuinya. Mereka beralasan kepada raja bahwa mimpi itu (mimpi-mimpi yang kosong) yaitu angan-angan yang engkau bayangkan sehingga terbawa dalam mimpimu (dan kami sekali-kali tidak tahu mena'birkan mimpi itu) yaitu seandainya mimpi itu benar dari angan-angan, maka kami tidak akan mengetahui penjelasannya. Saat itu juga orang yang selamat dari kedua pemuda yang berada di penjara dengan nabi Yusuf itu teringan kepadanya. Setan telah menjadikannya lupa pada apa yang diwasiatkan nabi Yusuf kepadanya, yaitu menceritakan perkara nabi Yusuf kepada raja. Keadaan itu membuatnya ingat kepadanya (setelah selang beberapa waktu) yaitu waktu. Sebagian ulama membaca “amahin”, yakni setelah lupa. Ia berkata kepada mereka, yaitu raja dan orang-orang yang dikumpulkan raja untuk hal itu (Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang (orang yang pandai) mena'birkannya) yaitu menjelaskan mimpi ini (maka utuslah aku (kepadanya)) yaitu utuslah aku untuk menemui nabi Yusuf yang jujur di penjara. Lalu mereka mengutusnya. Ketika dia datang kepada nabi Yusuf, dia berkata: (Yusuf, hai orang yang sangat dapat dipercaya, terangkanlah kepada kami) dan menceritakan mimpi yang dilihat oleh raja. Saat itu nabi Yusuf menceritakan kepadanya penjelasan mimpi itu tanpa menegurnya atas kelalaiannya terhadap apa yang dia pesankan kepadanya, dan tanpa memberikan syarat apapun agar dia dikeluarkan dari penjara dulu, melainkan nabi Yusuf berkata: (Supaya kalian bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa) yaitu akan datang kepada kalian musim subur dan banyak hujan selama tujuh tahun berturut-turut. Dia menjelaskan bahwa sapi itu adalah tahun karena sapi itu untuk membajak tanah yang digarap untuk menghasilkan buah-buahan dan hasil pertanian, yaitu bulir-bulir yang hijau. Kemudian nabi Yusuf membimbing mereka tentang apa yang harus mereka lakukan selama tujuh tahun itu. dia berkata: (maka apa yang kalian panen hendaklah kalian biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk makan kalian) yaitu bagaimanapun hasil yang kalian peroleh dari panen kalian di musim-musim subur tujuh tahun itu, kalian harus membiarkan hasilnya pada bulir-bulirnya, agar dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama dan menghindari kebusukan, kecuali takaran yang kalian makan, maka makanlah sedikit demi sedikit. Janganlah berlebih-lebihan agar jumlah makanan kalian bisa mengambil manfaat pada tujuh tahun musim paceklik. Itu adalah musim yang berturut-turut selama tujuh tahun yang mengiringi musim-musim subur. Musim-musim itu adalah sapi-sapi kurus yang memakan sapi-sapi yang gemuk. Karena dalam musim paceklik apa yang mereka kumpulkan di musim subur habis dimakan. Musim paceklik itu adalah bulir-bulir kering. Lalu Yusuf memberitahukan kepada mereka bahwa pada musim paceklik itu tidak ada apa pun yang tumbuh, dan apa yang mereka semai tidak akan menghasilkan apapun. Oleh karena itu nabi Yusuf berkata: (yang menghabiskan apa yang kalian simpan untuk menghidupinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kalian simpan) Kemudian nabi Yusuf menyampaikan kabar gembira kepada mereka tentang tahun-tahun yang subur setelah musim paceklik itu (tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup)) yaitu mereka mendapatkan hujan di seluruh negeri. dan orang-orang membuat perasan yang biasa mereka peras berupa buah zaitun dan sejenisnya, serta tebu dan sejenisnya. Sehingga sebagian ulama berkata bahwa termasuk ke dalamnya adalah memerah susu juga. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (dan di masa itu mereka memeras anggur) yaitu memerah susu.
Tafsir As-Sa'di
Buka
47. yusuf menakwilkan tujuh ekor sapi yang gemuk gemuk dan tujuh butir (gandum) yang hijau bahwa itu adalah masa tujuh tahun yang subur. Sedangkan tujuh ekor sapi betina yang kurus kurus dan tujuh bulir (gandum) yang kering kering bahwa itu merupakan masa tujuh tahun penuh dengan paceklik. Boleh jadi sisi penjelasan adalah wallahu 'alam bahwasannya masa subur dan paceklik menjadi acuan penggarapan tanaman. Apabila terjadi masa kesuburan, maka tanaman dan tetumbuhan menjadi kuat. Pemandangannya pun indah dan hasil panennya pun banyak. Sedangkan pada masa paceklik, keadaan menjadi sebaliknya. Dahulu, pada umumnya sapilah yang digunakan untuk membajak tanah dan mengairi tanaman. Bulir gandum merupakan makanan pokok paling penting dan paling utama. Dia menakwilkan demikian, lantaran adanya relevansi. Dalam menafsirkan mimpi itu kepada mereka, dia memadukan antara penakwilan mimpi dengan petunjuk mengenai kebijakan yang harus mereka kerjakan dan persiapan yang mereka lakukan berupa pengelolaan (hasil panen) di musim subur sampai musim paceklik. Ia berkata, ”supaya kamu bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa” berturut turut ”maka apa yang kamu tuai” dari tanaman itu ”hendaklah kamu tinggalkan” kamu biarkan “dibulirnya” karena akan lebih menjamin keawetannya dan akan semakin jarang diperhatikan (sehingga tidak dikonsumsi) “kecuali sedikit untuk kamu makan” aturlah(juga)kuantitas makanan kalian di musim musim subur, hendaknya porsinya sedikit, agar simpanan kalian banyak, kemanfaatannya dan peranannya pun besar.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
47. Yusuf berkata: “Bertanamlah selama 7 tahun secara berkelanjutan sesuatu kebiasaan kalian yang selalu dilakukan. Itu adalah tafsif dari 7 sabi betina yang gemuk dan 7 gandum yang hijau. Lalu apa yang kalian panen setiap tahun itu simpanlah di dalam tangkainya supaya tidak dimakan cacing kecuali hanya sedikit dari makanan yang dikhususkan pada tahun-tahun tersebut. Pelajarilah hal itu.”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Yusuf brkata kepada penanyanya soal mimpi raja tersebut, ”tafsir mimpi ini adalah bahwa hendaknya kalian menanam selama tujuh tahun berturut-turut dengan tekun agar hasil panen menjadi melimpah. Lalu hasil panen yang kalian hasilkan darinya setiap kali,maka simpanlah dan biarkan dalam bulir-bulirnya, supaya sempurna proses penyimpanannya dari gangguan ulat dan lebih bertahan lama, kecuali sebagian kecil saja yang kalian makan dari hasil-hasi biji-bijian itu.
Tafsir Al-Madinah
Buka
47. Yusuf menjawab pertanyaan itu: “Makna mimpi ini adalah kalian harus menaman bahan makanan selama tujuh tahun berturut-turut dengan penuh kesungguhan, dan apa yang kalian panen dari tanaman itu setiap tahunnya harus kalian biarkan tetap pada tangkainya agar dapat menjaganya dari kerusakan; namun sisakan sedikit dari hasil panen itu untuk kalian makan.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
47. Yusuf -'alaihissalām- menakwilkan mimpi itu dengan mengatakan, "Kalian harus bercocok tanam dengan sungguh-sungguh selama tujuh tahun berturut-turut. Kemudian hasil panen yang kalian dapatkan setiap tahunnya selama tujuh tahun itu biarkan tetap melekat pada tangkainya agar tidak rusak oleh ngengat. Kecuali sedikit saja yang kalian butuhkan untuk dimakan.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
47. (Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa) Yakni secara berturut-turut. Nabi Yusuf mentakwilkan tujuh sapi betina yang gemuk-gemuk dengan tujuh tahun yang subur, dan tujuh sapi betina yang kurus-kurus dengan tujuh tahun kekeringan. Demikian pula mentakwilkan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir gandum kering. Ia berdalil dalam takwil tentang tujuh bulir gandum yang hijau dengan perkataannya: “maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya” Yakni biarkanlah apa yang kalian panen disetiap tahun yang subur itu tetap pada tangkainya, dan janganlah kalian rontokkan agar tidak rusak.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Ayat ini merupakan asal dari mustolah bahwa diantara masalahat dari syari'at adalah menjaga keutuhan agama, jiwa, akal, nasab, dan harta; maka dari itu semua yang masuk dalam kategori perkata-perkara di atas adalah maslahat, dan apapun yang terbuang dari perkara-perkara di atas adalah mafsadah, dan menjaganya adalah maslahat.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Yusuf berkata,“Bercocok tanamlah selama tujuh tahun berturut-turut} berturut-turut dengan serius {Kemudian apa yang kalian panen, biarkanlah} biarkanlah {di tangkainya, kecuali sedikit untuk kalian makan
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : () da’abaa : seperti biasanya. ( ) fadzruuhu fii sumbulih : tinggalkan ia ditempatnya, jangan dipanen. Makna ayat : Firman-Nya ta’ala : ( ) dan seterusnya, adalah jawaban Yusuf untuk pertanyaan takwil mimpi raja beliau berkata menjelaskan, () bercocok tanamlah ( ) menanamlah selama tujuh tahun berturut-turut—sebagaimana kebiasaan kalian. Ini adalah takwil dari ‘tujuh sapi gemuk’. ( ) apa yang kalian panen ( ) maka biarkan ia ditempatnya, jangan dipanen agar ia tidak rusak ( ), panenlah sedikit yang akan kalian makan. Pelajaran dari ayat : • Dahulu negeri Mesir adalah negeri pertanian. • Menyimpan kelebihan panen pada lumbung dan tempat yang lain merupakan prinsip perekonomian yang penting dan bermanfaat.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Yusuf ayat 47: Sebagai takwil tujuh sapi yang gemuk. Karena yang demikian lebih dapat memelihara kelestariannya. Yakni atur pula makananmu di tahun-tahun yang sering hujan, jangan terlalu banyak yang dihabiskan untuk disimpan sebagai persiapan menghadapi waktu-waktu sulit. Dalam ayat ini terdapat anjuran bagi kita mengatur harta sehemat mungkin, yakni tidak menghambur-hamburkannya agar ketika tiba waktu-watu sulit, kita tidak terlalu kekurangan.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
183. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jangan-lah kamu membuat kerusakan di bumi. Pada dasarnya prinsip hubungan antarmanusia menurut islam adalah tidak boleh menzalimi dan tidak boleh dizalimi dengan cara apa pun dan dalam bidang apa pun. 184. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu. Umat terdahulu dari kaum syuaib seperti kaum 'ad, dan 'amud jauh lebih kuat. Mereka dibinasakan oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Terhadap ajakan nabi syuaib, mereka mulai berang dan jengkel, lalu mereka mengeluarkan tuduhan dan hasutan yang tidak berdasar.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 181-184 Nabi Syu'aib memerintahkan mereka untuk menyempurnakan takaran dan timbangan, dan melarang mereka mengurangi takaran dan timbangan. jadi dia berkata: (Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan (181)) yaitu jika kalian membayar kepada orang lain, maka sempurnakanlah takaran mereka dan janganlah mengurangi takaran mereka sehingga kalian menyerahkan pembayaran yang kurang. Tetapi jika kalian mengambil dari mereka, maka kalian memintanya dalam keadaan sempurna dan cukup. Maka ambillah seperti yang kalian serahkan, dan serahkanlah sebagaimana yang kalian mengambil (dan timbanglah dengan timbangan yang lurus (182)) Kata “Al-qisthas al-mustaqim” adalah adil dalam bahasa Romawi. Firman Allah: (Dan janganlah kalian merugikan manusia pada hak-haknya) yaitu, janganlah mengurangi harta mereka (dan janganlah kalian merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan) yaitu memotong jalan orang-orang, sebagaimana Allah SWT berfirman di ayat lain: (Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti) (Surah Al-A'raf: 86) Firman Allah: (dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dan umat-umat yang dahulu (184)) Nabi Syu'aib menakut-nakuti mereka dengan azab Allah yang telah menciptakan mereka dan nenek moyang mereka sebagaimana yang dikatakan nabi Musa (Tuhan kalian dan Tuhan bapak-bapak kalian yang terdahulu (Surah Asy-syu’ara: 26) Ibnu Abbas, Mujahid, As-Suddi, Sufyan bin Uyaynah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firmanNya: (dan umat-umat yang terdahulu) yaitu yang menciptakan orang-orang terdahulu
Tafsir As-Sa'di
Buka
181-184 beserta kesyirikan yang mereka lakukan, mereka juga mencurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu, syu’aib berkata kepada mereka,”tunaikanlah takaran,” maksudnya, sempurnakan dan lengkapilah ia, “dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan,” yaitu orang-orang yang mengurangi harta orang lain dan merampasnya dengan mencurangi takaran dan timbangan. “dan timbanglah dengan timbangan yang lurus,” maksudnya, dengan timbangan yang adil, tidak miring. “dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu,” maksudnya, manusia-manusia terdahulu. Sebagimana Dia bersendirian menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian, tanpa ada sekutu bagiNya dalam hal ini, maka dari itu esakanlah Dia dengan ibadah dan tauhid. Sebagimana Dia telah memberi kalian karunia berupa menciptakan kalian dan membekali kalian dengan berbagai nikmat, maka balaslah nikmat itu dengan bersyukur kepadaNya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
183. Janganlah kamu merugikan hak-hak orang lain dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi dengan merajalela seperti pembunuhan, perampasan, memotong jalan dan lain-lain.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
181-183. Syu’aib berkata kepada mereka, yaitu orang-orang yang suka mengurangi takaran dan timbangan, “Sempurnakanlah takaran bagi manusia, takaran yang penuh bagi mereka. Dan janganlah kalian mengurangi, hak-hak manusia. Dan timbanglah dengan timbangan yang adil lagi lurus. Dan janganlah kalian mengurangi hak manusia sedikit pun dalam takaran, timbangan dan lainnya. Dan janganlah kalian melakukan berbagai macam kerusakan di muka bumi dengan perbuatan syirik, pembunuhan, perampasan, dan meneror manusia serta melakukan perbuatan maksiat-maksiat.
Tafsir Al-Madinah
Buka
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
183. Dan janganlah kalian merugikan hak-hak manusia dengan menguranginya, serta janganlah kalian banyak berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan berbagai maksiat;
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
183. (Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya) Yakni janganlah kalian mengurangi hak-hak orang lain. Kalimat ini telah dijelaskan tafsirnya pada surat Hud, begitu pula kalimat telah dijelaskan pada surat Hud dan lainnya.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Janganlah merugikan} janganlah merugikan {manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah berbuat} janganlah berbuat {kerusakan di bumi
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Asy-Syu’ara ayat 183: Yakni mengurangi harta mereka dan mengambilnya dengtan mengurangi takaran dan timbangan. Seperti melakukan pembunuhan, pembajakan dan menakut-nakuti kafilah yang lewat.
Tafsir An-Nafahat
Buka