Indikator 49: Inventarisasi, Inventaris, Amanah
Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dua ayat terakhir dijelaskan kesudahan dari dua kelompok mukmin dan kafir, yakni tentang kenikmatan dan siksaan, maka sekarang alqur'an mengajarkan suatu tuntunan hidup yakni tentang amanah. Sungguh, Allah yang mahaagung menyuruhmu menyampaikan amanat secara sempurna dan tepat waktu kepada yang berhak menerimanya, dan Allah juga menyuruh apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia yang berselisih hendaknya kamu menetapkannya dengan keputusan yang adil. Sungguh, Allah yang telah memerintahkan agar memegang teguh amanah serta menyuruh berlaku adil adalah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah adalah tuhan yang maha mendengar, maha melihatagar penetapan hukum dengan adil tersebut dapat dijalankan dengan baik, maka diperlukan ketaatan terhadap siapa penetap hukum itu. Ayat ini memerintahkan kaum muslim agar menaati putusan hukum, yang secara hirarkis dimulai dari penetapan hukum Allah. Wahai orang-orang yang beriman! taatilah perintah-perintah Allah dalam alqur'an, dan taatilah pula perintah-perintah rasul Muhammad, dan juga ketetapan-ketetapan yang dikeluarkan oleh ulil amri pemegang kekuasaan di antara kamu selama ketetapan-ketetapan itu tidak melanggar ketentuan Allah dan rasul-Nya. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu masalah yang tidak dapat dipertemukan, maka kembalikanlah kepada nilai-nilai dan jiwa firman Allah, yakni Al-Qur'an, dan juga nilai-nilai dan jiwa tuntunan rasul dalam bentuk sunahnya, sebagai bukti jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya, baik untuk kehidupan dunia kamu, maupun untuk kehidupan akhirat kelak.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT memberitahukan bahwa Dia memerintahkan untuk menunaikan amanah diserahkan kepada pemiliknya. Dalam riwayat dari Al-Hasan dari Samurah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tunaikanlah amanah terhadap orang yang memberi amanah padamu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang telah mengkhianatimu" Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli hadits. Hal ini mencakup semua amanah yang wajib bagi manusia, berupa hak-hak Allah atas hambaNya, berupa shalat, zakat, puasa, kafarat, nadzar, dan lain-lain yang merupakan Dia amanahkan kepada hamba dan Dia tidak menampakkan hal itu, dan hak-hak hamba satu sama lain, seperti barang titipan dan hal lain yang diamanahkan satu sama lain tanpa memerlukan penjelasan atas hal itu, tetapi Allah memerintahkan agar itu tetap dilaksanakan. Maka siapa saja yang tidak melaksanakannya di dunia, maka dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang hal itu pada hari kiamat. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk" Abu Bakar bin Ka'b berkata bahwa salah satu amanah adalah wanita diberi amanah atas farjinya. Ar-Rabi' bin Anas mengatakan berkata bahwa salah satu amanah adalah sesuatu yang berada di antara kamu dan orang lain. Ali bin Abi Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait ayat (Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya) dia berkata bahwa termasuk di dalamnya adalah nasehat dari pemimpin kepada wanitanya, yaitu pada hari raya. Firman Allah (dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil) Dia memerintahkan agar menetapkan hukum di antara manusia dengan adil. Oleh karena itu Muhammad bin Ka'b, Zaid bin Aslam, dan Syahr bin Hausyab berkata,"Ayat ini diturunkan tentang para penguasa" Firman Allah,( Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu) yaitu Dia memerintahkan kalian untuk melaksanakan amanat, menetapkan hukum dengan adil, dan lain-lain dari perintah dan syariatnya yang sempurna, agung dan menyeluruh. Firman Allah, (Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat) yaitu Maha Mendengar perkataan-perkataan kalian dan Maha Melihat perbuatan-perbuatan kalian.
Tafsir As-Sa'di
Buka
58. Amanah itu adalah setiap hal yang dipercayakan kepada seseorang dan ia diperintahkan untuk menunaikannya, Allah memerintahkan hamba-hambaNya agar menunaikan amanah, maksudnya secara sempurna dan penuh, tidak dikurangi, dicurangi, dan tidak pula dilur-ulur, dan termasuk dalam amanah di sini adalah amanah kekuasaan, harta, rahasia-rahasia, dan perintah-perintah yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata. Sesungguhnya para ahli fikih telah menyebutkan bahwa barangsiapa yang diserahkan kepadanya suatu amanah, maka ia wajib menjaga amanah tersebut dalam suatu tempat yang patut, mereka berkata, “Karena sesungguhnya tidaklah mungkin dapat ditunaikan kecuali dengan menjaganya, maka wajiblah hal itu dilakukan.” Dan Firman Allah, “Kepada yang berhak menerimanya,” sebuah dalil bahwa tidaklah diserahkan dan ditunaikan kepada selain orang yang berhak menerimanya, dan wakil orang tersebut adalah dalam posisinya, sehingga apabila ia menyerahkannya kepada selain orang yang berhak menerimanya, maka ia tidaklah dikatakan telah menunaikannya. “Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil,” hal ini mencakup hukum di antara mereka dalam perkara darah, harta, maupun kehormatan, baik sedikit maupun banyak, terhadap yang dekat maupun yang jauh, seorang yang baik maupun yang jahat, seorang teman maupun musuh. Maksud dari adil disini adalah yang diperintahkan oleh Allah untuk berhukum dengannya yaitu apa yang disyariiatkan oleh Allah melalui lisan RasulNya berupa ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum. Hal ini menuntut untuk mengetahui keadilan agar dapat menetapkan hukum dengannya, dan ketika perintah-perintah tersebut adalah suatu yang baik dan adil, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” ini merupakan pujian dari Allah bagi perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, karena mencakup kemaslahatan dunia dan akhirat dan menolak kemudharatan pada keduanya, karena sesungguhnya Dzat yang mensyariatkannya adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya dan Dia mengetahui kemaslahatan hamba, yang mereka sendiri tidak mengetahuinya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
58. Wahai manusia, sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk memberikan amanat itu kepada ahlinya (yaitu setiap sesuatu yang diamanatkan seseorang yang merupakan hak orang lain, baik amanat yang diperuntukkan untuk Allah atau para hamba) Wahai para hakim dan wali, ketika kalian menentukan hukum di antara manusia maka kalian harus memutuskan dengan adil (yaitu wali atau hakim tidak condong kepada salah satu pihak, dia harus memutuskan dengan sesuai kebenaran yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunnah). Betapa nikmatnya sesuatu yang diajarkan (diperintahkan) oleh Allah kepada kalian, yaitu menunaikan amanah, dan menentukan hukum dengan adil. Sesungguhnya Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian dan Maha Melihat amal-amal kalian. Ayat ini turun pada hari penaklukkan Mekah untuk Utsman bin Thalhah Al-Hajbiy dari Bani Abdud Dar, ketika Ali mengambil kunci Ka’bah darinya dengan paksa lalu membuka pintu Ka’bah dan Abbas ingin mengambil kunci tersebut, lalu Allah menurunkan ayat ini. Kemudian Rasulullan SAW memerintahkan Ali untuk mengembalikan kunci tersebut kepada Utsman dan meminta maaf kepadanya. Lalu Ustman masuk Islam ketika tahu bahwa Allah menjelaskan tentang haknya dalam ayat ini.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat yang berbeda-beda yang kalian dipercaya untuk menyampaikannya kepada para pemiliknya, maka janganlah kalian melalaikan amanat-amanat itu. Dan Dia memerintahkan kalian untuk memutuskan perkara diantara manusia dengan dasar keadilan dan obyektif, bila kalian memutuskan permasalahan diantara mereka. Dan itu adalah sebaik-baik nasihat yang Allah sampaikan kepada kalian dan memberi petunjuk kalian kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian,meneliti seluruh perbuatan kalian lagi Maha Melihatnya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
58. Setelah Allah menyebutkan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kemudian Allah mengarahkan mereka untuk berbuat dua jenis amalan Shalih, yaitu menunaikan amanat dan memberi keputusan bagi orang lain dengan adil. Firman ini ditujukan bagi setiap orang yang diberi amanat, baik itu yang berhubungan dengan hak Allah ataupun yang berhubungan dengan hak manusia, baik itu berupa jabatan, harta, dan lain sebagainya. kemudian Allah memuji perintah perintah dan larangan larangan yang telah ditetapkan-Nya karena mengandung kemaslahatan di dunia dan di akhirat dan menjauhkan dari mudharatnya, sebab yang menetapkan adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, tidak ada yang tersembunyi darinya, dan Maha Mengetahui kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
58. Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menunaikan amanat kepada pemiliknya. Dan Dia menyuruh kalian, apabila kalian memutuskan perkara di antara manusia dalam semua urusan mereka, maka putuskanlah perkara mereka dengan adil, jangan memihak atau zalim dalam memutuskan. Sesungguhnya Allah mengingatkan dan memberi bimbingan yang sebaik-baiknya ke arahnya (menjaga amanat) dalam setiap kondisi kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian dan Maha Melihat perbuatan-perbuatan kalian.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
58. (Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya) Kalimat ini mencakup seluruh manusia dalam menunaikan segala amanat, dan yang paling pertama adalah bagi para pemimpin dan penguasa yang wajib bagi mereka menunaikan amanat dan mencegah kezaliman, dan senantiasa berusaha menegakkan keadilan yang telah Allah limpahkan atas amanat yang telah mereka pikul dalam kebijakan-kebijakan mereka. Dan masuk dalam perintah ini juga selain mereka, sehingga mereka wajib menunaikan amanat yang mereka punya dan senantiasa berhatii-hati dalam menyampaikan kesaksian dan kabar berita. (dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil) Keadilan disini adalah dengan tidak condongnya qadhi atau penguasa kepada salah satu pihak yang bersengketa, dan agar tidak mengutamakan seseorang atas orang lain dikarenakan hubungan kekerabatan, jabatan, kemaslahatan pribadi, atau hawa nafsu. Akan tetapi seorang qadhi memberi putusan bagi yang berhak sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan seorang penguasa harus memperlakukan rakyatnya dengan sama rata tanpa mengutamakan seseorang kecuali dengan kadar keutamaan yang memang dimiliki orang tersebut, berupa keuletannya dalam beramal, atau berdasarkan pengalaman, pengetahuan, atau kekuatannya dalam berjihad, dan lain sebagainya. (Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar) Yakni mendengar apa yang qadhi putuskan. (Maha Melihat) Yakni melihatnya ketika ia mengeluarkan putusannya, sehingga Allah mengetahui apakah ia berusaha untuk berlaku adil atau memberi putusan dengan hawa nafsu.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepada kalian} sebaik-baik sesuatu yang diajarkan kepada kalian {Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: { } an tu’addul amaanaat: menunaikan amanah adalah menyerahkannya kepada orang yang berhak. Amanah adalah suatu hal yang dipercayakan seseorang, berupa perkataan, pekerjaan ataupun benda. {} al ‘adl: keadilan adalah lawan dari kezhaliman dan melenceng dengan mengurangi atau menambah. { } ni’immaa ya’izhukum: memerintahkan untuk menunaikan amanah dan hukum dengan adil. Makna Ayat: Diriwayatkan bahwa ayat yang pertama { } “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah”, ayat ini diturunkan dalam perkara ‘Utsman bin Tholhah al Hajabi, tatkala kunci ka’bah ditangannya sebagai orang yang biasa menjamu para jamaah haji, Rasulullah meminta kunci Ka’bah darinya pada subuh saat Fathumakkah, kemudian Rasulullah mendirikan sholat di Ka’bah sebanyak 2 rakaat lalu keluar, Al-Abbas berkata, “Berikanlah kuncinya kepadaku, wahai Rasul, untuk mengambil alih komando kebiasaan memberi makan dan minum para jamaah haji.” maka turunlah ayat ini dan ayat setelahnya, lalu Rasul membacanya kepada orang-orang, dan memanggil ‘Utsman bin Tholhah serta memberikan kepadanya kuci Ka’bah. Dikarenakan pelajaran dari ayat ini adalah dengan mengambil keumuman lafaznya bukan dikarenakan kekhususan sebab diturunkannya, maka ayat ini berlaku untuk diterapkan dalam setiap amanah. Maka wajib bagi setiap orang yang dipercayakan kepadanya suatu hal agar menjaga dan mengurusnya sampai amanah hal tersebut ditunaikan dan disampaikan kepada orang yang berhak. Oleh karenanya ayat ini membahas tentang para pemimpin kaum muslimin terlebih dahulu dengan indikasi {ﻭﺇﺫ ﺣﻜﻤﺘﻢ ﺑﻴﻦ ﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﺗﺤﻜﻤﻮ ﺑﺎﻟﻌﺪﻝ} “Jikalau kalian menghukumi di antara para manusia, maka hukumilah secara adil”, yaitu seimbang, kebalikan dari zhalim. Dan makna adil adalah menyampaikan semua hak kepada yang berhak dari setiap rakyat. Dan firman Allah {ﺇﻥ ﻟﻠﻪ ﻧﻌﻤﺎ ﻳﻌﻈﻜﻢ ﺑﻪ}, yang dikehendaki Allah adalah memerintahkan umat Islam, pemimpin ataupun rakyatnya agar menunaikan amanah dan berhukum dengan adil dan itu adalah sesuatu yang baik. Demikian pula kerena tegaknya kehidupan yang mulia adalah dengan dibangkitkannya penunaian amanah dan berhukum dengan adil. Dan firman Allah : {ﺇﻥ ﻟﻠﻪ ﻛﺎﻥ ﺳﻤﻴﻌﺎ ﺑﺼﻴﺮ} “Sesungguhnya Allah Maha mendengar dan maha melihat” di dalamnya ada anjuran kepada para manusia agar memunculkan rasa diawasi oleh Allah di dalam dirinya. Karena barang siapa yang mengingat bahwa Allah mendengar setiap perkataan dan melihat setiap perbuatanya, niscaya dia akan menjadi lurus dalam perkataan tanpa ada kedustaan serta dalam perbuatannya tidak akan ceroboh. Ini adalah apa yang ada di ayat yang pertama (58) Pelajaran dari ayat : • Wajibnya menyampaikan amanah setelah usai dijaga. • Wajibnya berlaku adil dalam menghukumi dan haramnya kezhaliman dan ketidakadilan.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Ayat ini turun ketika Ali radhiyallahu 'anhu hendak mengambil kunci Ka'bah secara paksa dari Utsman bin Thalhah pelayan Ka'bah pada saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Makkah untuk Fathu Makkah (menaklukkan Makkah). Namun Utsman bin Thalhah menolaknya dan berkata, "Kalau seandainya aku mengetahui Beliau adalah utusan Allah, tentu aku tidak menolaknya", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan Ali mengembalikan dan bersabda, "Ambillah! untuk selamanya karena sudah lama", maka Utsman pun heran, kemudian Ali membacakan ayat ini kepadanya, maka Utsman bin Thalhah masuk Islam, dan ia memberikan kunci kepada saudaranya Syaibah menjelang wafatnya, dan kunci pun dipegang oleh anak cucunya." Ayat di atas, meskipun turunnya berkenaan dengan sebab tertentu, namun berlaku umum berdasarkan qarinah (tanda) jama' (yang diperuntukkan untuk semua). Amanat artinya setiap yang dibebankan kepada manusia dan mereka diperintahkan melakukannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya menunaikan amanat, yakni secara sempurna; tidak dikurangi dan tidak ditunda-tunda. Termasuk ke dalam amanat adalah amanat untuk beribadah (seperti shalat, zakat, puasa dsb), amanat jabatan, harta dan rahasia serta perkara-perkara yang hanya diketahui oleh Allah. Contoh menunaikan amanat dalam jabatan adalah dengan memenuhi kewajibannya, memenuhi amanat dalam harta adalah dengan menjaganya dan mengembalikan kepada pemiliknya secara utuh dan amanat dalam rahasia adalah dengan menyembunyikannya. Ayat ini menunjukkan bahwa amanat tersebut harus diserahkan kepada yang berhak menerimanya atau wakilnya. Oleh karena itu, jika tidak diserahkan kepada yang berhak menerimanya, maka sama saja belum menunaikan amanat. Baik dalam masalah darah, harta, kehormatan; kecil maupun besar. Demikian juga kepada kerabat maupun bukan, kawan maupun lawan dan orang baik maupun orang jahat. Adapun yang dimaksud adil di sini adalah dengan mengikuti syari'at Allah melalui lisan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam seperti dalam masalah ahkam (hukum) maupun hudud, dan hal ini menghendaki agar kita mengetahui kedilan itu agar dapat memutuskan dengannya. Kata-kata ini merupakan pujian Allah terhadap syari'at-Nya karena di dalamnya mengandung maslahat manusia di dunia dan akhirat serta menghindarkan madharat. Yang demikian. Karena yang menetapkannya adalah Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Dia mengetahui maslahat yang terbaik bagi hamba yang mereka tidak mengetahuinya. Semua perkataan. Semua tindakan.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat An-Nisa ayat 58: Sesungguhnya Allah memerintah kamu menunaikan amanat-amanat kepada yang berhak; dan apabila kamu menghukum antara manusia, supaya kamu menghukum dengan adil. Sesungguhnya Allah menasehati kamu dengan sebaik-baik perkara, karena sesungguhnya Allah itu adalah Pendengar, Pelihat.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Bersyukur adalah sebuah keharusan, sebab aneka nikmat tersebut bersumber dari Allah. Tidak bersyukur berarti mengkhianati nikmat tersebut dari pemberinya, karena itu Allah menyatakan, wahai orangorang yang beriman! janganlah kamu mengkhianati, yakni mengurangi sedikit pun hak Allah sehingga mengkufurinya atau tidak mensyukurinya, dan juga jangan mengkhianati rasul, yakni nabi Muhammad, tetapi penuhilah seruannya, dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu oleh siapa pun, baik amanat itu ada-lah amanat orang lain maupun keluarga; seperti istri dan anak, muslim atau non-Muslim, sedang kamu mengetahui bahwa itu adalah amanat yang harus dijaga dan dipelihara. Segala sesuatu yang berada dalam genggaman manusia adalah amanat Allah yang harus dijaga dan dipelihara. Salah satu bentuk motivasi mengkhianati amanat Allah dan rasulnya adalah cinta kepada harta dan anak yang berlebihan. Maka pada ayat ini Allah menyatakan, dan ketahuilah bahwa hartamu yang merupakan titipan Allah kepadamu dan anak-anakmu yang merupakan anugerah Allah itu hanyalah sebagai cobaan. Maka, ja-nganlah berlebihan dalam mencintai harta dan anak melebihi cinta pada Allah. Cinta harta dan anak yang berlebihan membuat seseorang enggan memenuhi panggilan Allah dan rasul-Nya karena takut atau kikir, sebab panggilan tersebut menuntut tanggung jawab dan pengorbanan. Dan ketahuilah, sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar, jauh lebih besar daripada harta dunia dan anak keturunan.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 27-28 Ayat ini bermakna umum. Khianat itu mencakup dosa kecil dan dosa besar yang sudah dipastikan dan yang melampaui batas. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian) Amanat adalah sesuatu yang dipercayakan oleh Allah kepada hambaNya, yaitu hal-hal yang diwajibkan. Dia berkata (janganlah kalian mengkhianati) yaitu janganlah kalian menguranginya. Dia berkata di riwayat lain tentang firmanNya: (janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-(Nya)) dia berkata yaitu meninggalkan perintahNya dan mengerjakan kemaksiatan. Abdurrahman bin Zaid berkata, Dia melarang kalian untuk berkhianat terhadap Allah dan Rasulallah SAW, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Firman Allah: (Dan ketahuilah bahwa harta kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah sebagai cobaan) yaitu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi kalian, ketika Dia memberikannya kepada kalian agar Dia mengetahui apakah kalian bersyukur atas hal itu dan berbuat ketaatan kepadaNya dengan hal itu, atau kalian menyibukkan diri dengan hal itu dan melalaikanNya dan menjadikannya sebagai ganti dariNya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagi kalian); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar (15)) (Surah At-Taghabun) dan (Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)) (Surah Al-Anbiya: 35) Firman Allah: (dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar) yaitu pahala, pemberian, dan surgaNya itu lebih baik bagi kalian daripada harta dan anak-anak kalian. Sesungguhnya terkadang di dapati dari mereka itu musuh, dan kebanyakan mereka tidak memberikan manfaat apa pun kepadamu. Dan Allah SWT adalah Dzat yang mengatur lagi Dzat yang memiliki dunia dan akhirat dan disisiNyalah pahala yang melimpah pada hari kiamat.
Tafsir As-Sa'di
Buka
27 Allah memerintahkan hamba hambaNya yang beriman agar menunaikan perintah perintah dan larang larangan yang Allah amanatkan kepada mereka, karena Allah telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung, semua menolak memikulnya dan khawatir akan menghianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. barangsiapa yang menunaikan amanat, maka dia berhak mendapatkan pahala besar dari Allah dan barangsiapa menghianatinya dan tidak menunaikannya, maka dia berhak mendapatkan azab yang keras dan dia menjadi penghianat Allah, Rasulullah, dan amanatnya itu sendiri, menodai dirinya sendiri karena dia telah mengambil sifat terburuk dan ciri terjelek yaitu khianat serta mengabaikan sifat yang paling baik dan semurna yaitu amanat.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
27 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati perjanjian kepada Allah dan Rasul dengan menyepelekan perintah kewajiban dan menerjang batasa perkara yang diharamkan, juga menyebarkan rahasia kepada orang-orang musyrik dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu baik itu hutang atau hak manusia, sedang kamu mengetahui bahwa khianat adalah dilarang, atas dasar kesadaran bukan karena lupa, dan kamupun juga mengetahui akibatnya. Ayat ini turun untuk Abu Lubabah: Marwan bin Abdul Mundzir ketika mengabarkan Bani Quraidhah atas apa yang diklaim Nabi bahwa nabi telah mengalahkan mereka setelah dikepung selama dua puluh satu malam
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya seerta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasulNya dengan meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkanNya atas kalian dan melakukan perkara yang kalian dilarang Allah darinya. Dan janganlah menyepelekan amanat yang dipercayakan Allah kepada kalian sedang kalian tahu bahwa itu merupakan amanat yang harus dipenuhi.
Tafsir Al-Madinah
Buka
27. Kemudian Allah menyampaikan seruan keempat bagi orang-orang beriman: "Janganlah kalian menghianati Allah dengan meninggalkan kewajiban dan perintah-perintah yang telah dibebankan kepada kalian, serta melanggar larangan-larangan yang tidak boleh kalian dekati; dan janganlah kalian menghianati Rasulullah dengan meninggalkan sunnah-sunnahnya, menyelisihi perintahnya, dan melanggar larangannya; serta janganlah kalian menghianati amanah yang telah diberikan kepada kalian dengan menyebar rahasia di antara kalian, melanggar perjanjian yang telah kalian buat, mengingkari barang titipan yang dititipkan orang lain kepada kalian, dan melalaikan hak-hak materiil orang lain yang wajib kalian jaga. Padahal kalian telah mengetahui akibat buruk dari menghianati Allah dan rasul-Nya serta amanat yang telah diserahkan kepada kalian.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
27. Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya, janganlah kalian berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya dengan mengabaikan perintah-perintah-Nya dan melanggar larangan-larangan-Nya. Dan janganlah kalian mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada kalian, seperti hutang dan lain-lain, sedangkan kalian tahu bahwa apa yang kalian lakukan adalah pengkhianatan, sehingga kalian termasuk ke dalam golongan para pengkhianat.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
27. (janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu) Allah melarang mereka untuk mengkhianati Rasulullah dengan meninggalkan suatu kewajiban yang ditetapkan kepada mereka, atau mengkhianati suatu amanat yang diberikan kepada mereka. (sedang kamu mengetahui) Yakni mengetahui bahwa berbuatan itu merupakan perbuatan khianat, sehingga kalian melakukan khianat dengan sengaja.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
27-28 Sesungguhnya perkara yang paling banyak mendorong seseorang untuk khianat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta amanah yang dibebankan kepadanya adalah : harta dan anak-anaknya.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-Anfal ayat 27: Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kepada kaum mukmin agar mereka menjalankan amanah Allah yang telah diamanahkan kepada mereka berupa mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, di mana amanah tersebut sebelumnya telah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung namun mereka semua enggan menerimanya dan khawatir tidak mampu menjalankannya, lalu manusia merasa mampu memikulnya, maka dipikullah amanah itu oleh manusia. Barang siapa yang menjalankan amanah itu, maka ia berhak mendapatkan pahala yang besar dari Allah, sebaliknya barang siapa yang tidak menjalankannya, maka ia berhak memperoleh azab yang keras dan menjadi orang yang mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta mengkhianati amanahnya. Yakni mengetahui bahwa amanah itu wajib ditunaikan.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Kemudian mereka meminta kembali kepada ayahnya: biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi saat kami pergi menggembala kambing, agar dia bisa bersenang-senang dengan memakan buah-buahan segar dan bermain-main bersama kami dalam perlombaan dan permainan yang diperbolehkan, dan kami pasti menjaganya dengan baik serta melindunginya dari marabahaya. Mendengar bujukan putra-putranya dia nabi yakub berkata, sesungguhnya kepergian kamu bersama dia putraku yusuf, dan berpisahnya dia denganku sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia akan dimakan serigala ketika jauh darimu, sedang kamu lengah darinya karena sibuk bermain atau sibuk dengan urusan lain.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 11-12 Setelah mereka bersekongkol untuk mengambil nabi Yusuf dan membuangnya ke dalam sumur, lalu mereka datang kepada ayah mereka, yaitu nabi Ya'qub dan berkata (Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya) Ini merupakan pendahuluan dan pengakuan. Mereka bermaksud lain dari itu, sesuai yang ada pada hati mereka berupa kedengkian karena kecintaan ayah kepada nabi Yusuf (Biarkanlah dia pergi bersama kami) yaitu utuslah dia bersama kami (besok pagi agar kami (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main) sebagian ulama’ membacanya dengan huruf ya’ (yarta’ wa yal’ab) “agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main”. Ibnu Abbas berkata yaitu berlari-lari dan berkaktifitas. Demikian juga dikatakan oleh Qatadah, Adh-Dhahhak, As-Suddi, dan lainnya (Dan sesungguhnya kami pasti menjaganya) Mereka berkata,"Kami akan menjaga dan mengawasi keselamatannya demi engkau"
Tafsir As-Sa'di
Buka
12. maka tatkala mereka sudah mampu menepis tuduhan dari diri mereka yang bisa menghalangi kepergian yusuf bersama mereka, maka mereka menyampaikan kepada ya’qub bahwa diantara bentuk kemaslahatan dan hiburan bagi yusuf yang diinginkan ayahnya terhadap yusuf adalah mengharuskan beliau memberi izin kepergiannya bersama mereka. MEreka mengatakan ”biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang senang dan (dapat) bermain main” untuk bertamasya di tempat yang jauh lagi sunyi dan bergembira. ”dan sesungguhnya kami pasti menjaganya” yakni, kami akan memperhatikannya dan melindunginya dari gangguan apapun yang akan menimpanya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
12. Utuslah dia bersama kami ketika kami ke luar di padang rumput, dia bisa makan buah-buahan dan tanam-tanaman, dia akan bermain panahan dan permainan yang diperbolehkan. Sesungguhnya kami akan menjaga agar tidak ditimpa keburukan dan akan menjauhkannya dari mara bahaya
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
biarkanlah dia pergi bersama kami besok, ketika kami pergi keluar menuju padang rumput, tempat kami menggembala, agar dia dapat berlari, beraktifitas, bergembira, dan dapat bermain berloma-lomba dan lainnya dari berbagai macam permainan yang boleh. Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya dari segala yang engkau khawatirkan padanya.”
Tafsir Al-Madinah
Buka
12. Biarkanlah Yusuf pergi bersama kami besok ke tempat menggembala kambing, agar dia dapat bermain dan makan menikmati buah-buahan, tertawa dan bergembira. Sungguh kami akan mengawasinya dan menjaga keselamatannya.”
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
12. Izinkanlah kami mengajaknya pergi esok hari untuk bersenang-senang dan bermain. Sesungguhnya kami benar-benar siap menjaganya dari segala hal yang bisa membahayakan keselamatannya."
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
12. (agar dia (dapat) bersenang-senang) Bersenang-senang. Makna () yakni melakukan permainan yang mubah untuk sekedar menghilangkan penat.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1 ). Apakah anda termasuk orang yang kerap keluar menghibur diri di tempat rekreasi ? Perhatikan... diantara tabi'at manusia adalah senang beristirahat dan senang tatkala ia keluar dari rumahnya : { } "Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main". 2 ). Dari ayat ini diterangkan bahwa ayah mereka tidak menolak anaknya dibawa pergi oleh saudara-saudaranya; menjadi petunjuk bahwa aktifitas keluar jauh dari rumah telah terjadi sejak dahulu, dan ayat ini juga menjadi hujjah bagi kaum yang senang dengan permainan, namun mereka melampaui batas sehingga perkataan-perkataan keji untuk menyesatkan umat manusia dari jalan Allah, tetapi diantara umat manusia ada yang sangat keras dalam permasalahan ini sampai ia berlebih-lebihan, mereka sampai mengaramkan sesuatu yang diperbolehkan; oleh karena itu dalam perkara ini tidak boleh mengharamkan permainan secara mutlaq ataupun menghalalkannya tanpa melihat batas.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Utuslah dia} utuslah dia {bersama kami besok pagi agar dia bersenang-senang} leluasa untuk makan dan minum {dan bermain-main. Sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya”
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : ( ) yarta’ wa yal’ab : makan, minum, dan berlomba. Makna ayat : ( ) Biarkanlah ia pergi bersama kami besok, bermain di hutan, menyantap buah, minum susu, makan daging, dan berlomba lari dan panahan juga gulat, ( ) kami akan menjaganya dari segala macam gangguan.” Pelajaran dari ayat : • Kejujuran seorang mukmin mengharuskan pembenaran sumpahnya dan meyakini perkataannya.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Yusuf ayat 12: Ke gurun. Kaa-kata ini dimaksudkan agar bapak mereka (Ya’qub) melepas Yusuf pergi bersama mereka.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dan selain itu, kami menjaganya, yakni langit, dari setiap gangguan setan yang terkutuk, kecuali setan yang terus-menerus berupaya keras mencuri-curi berita yang dapat didengar dari malaikat lalu dikejar oleh semburan api yang terang.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 16-20 Allah SWT menyebutkan tentang penciptaan langit yang ditinggikan dan apa yang digunakan untuk menghiasnya berupa bintang-bintang yang tetap bagi orang yang merenungi dan terus melihatnya sebagai sesuatu yang dilihat sebagai keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan yang jelas dan membuat terpesona orang yang memandangnya. Karena itu Mujahid dan Qatadah berkata bahwa yang dimaksud kata “al-buruj” di sini adalah bintang-bintang. Saya berkata, Ini sebagaimana firman Allah SWT: (Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar (61)) (Surah Al-Furqan) Di antara mereka ada yang berkata bahwa “al-buruj” yaitu tempat-tempat bagi matahari dan bulan Kemudian Allah SWT menyebutkan penciptaannya terhadap bumi, dan bumi itu dipanjangkan, diluaskan dan dihamparkan. Dan apa yang Dia jadikan padanya berupa gunung-gunung yang menjulang, lembah-lembah, dataran-dataran rendah, dan padang pasir. Serta apa yang Dia tumbuhkan padanya berupa hasil tanaman dan buah-buahan yang beragam. Ibnu Abbas berkata tentang firmanNya: (segala sesuatu menurut ukuran) yaitu telah diketahui. Demikian juga dikatakan oleh Sa'id bin Jubair, Ikrimah, Abu Malik, Mujahid, Al-Hakam bin Uyainah, Al-Hasan bin Muhammad, Abu Shalih, dan Qatadah. Di antara mereka ada yang berkata bahwa maknanya adalah sesuatu sesuai ukurannya Firman Allah: (Dan Kami telah menjadikan untuk kalian di bumi keperluan-keperluan hidup) Allah SWT menyebutkan bahwa Dia telah menciptakan berbagai macam sebab dan penghidupan di muka bumi. itu adalah bentuk jamak dari kata “ma'isyah”. Firman Allah: (dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kalian sekali-kali bukanlah pemberi rezeki kepadanya) Mujahid berkata bahwa itu adalah hewan liar dan hewan ternak. Ibnu Jarir berkata bahwa mereka adalah budak-budak laki-laki dan perempuan, hewan liar, dan hewan ternak. Makna yang dimaksud adalah Allah menganugerahkan kepada mereka penyebab mendapatkan upaya, dan penghidupan untuk mereka. Dia telah menundukkan untuk mereka hewan-hewan yang mereka tunggangi, dan hewan ternak yang mereka makan, dan budak-budak lelaki dan perempuan yang melayani mereka. Rezeki mereka itu dari Pencipta mereka, bukan dari orang-orang yang memiliki mereka, maka bagi mereka itu manfaat dan rezeki dari Allah SWT.
Tafsir As-Sa'di
Buka
17. “dan kami menjaganya dari tiap tiap setan yang terutuk” saat dia mencuri pendengaran, niscaya sulut api yang berpijar mengejarnya. Dari luar, langitpun terlihat berhiaskan bintang bintang yang bersinar. Dan bagian dalamnya, terpelihara dan terhindar dari berbagai kehancuran.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
17. Kami menjaga langit dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk dengan hantaman batu, ketika mereka mencoba mencuri pendengaran dari rahasia langit, baik wahyu maupun lainnya.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan kami menjaga langit dari setiap setan terkutuk yang telah terusir dari rahmat Allah, agar ia tidak dapat mencapainya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
17. Kami menjaga langit dari semua setan yang terusir dari rahmat Allah.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Kami menjaganya} Kami menjaga langit {dari setiap setan yang terkutuk} dijauhkan dari rahmat Allah
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: ( ) syaithaanir rajiim : dilempar dengan api. Makna ayat: Firman-Nya : () “Dan Kami menjaganya” langit dunia ( ) “dari setiap setan yang terkutuk.” Terusir lagi terlaknat.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-Hijr ayat 17: Yakni dengan meteor. Oleh karena itu, apabila setan-setan hendak mencuri berita dari langit, maka mereka dilempari meteor, sehingga langit pun luarnya nampak indah dengan bintang-bintang yang bercahaya, dan dalamnya terjaga dari malapetaka.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dan di antara begitu banyak tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah di bumi ini adalah bahwa tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu mengilhamkan kepada lebah, buatlah sarang dengan sungguh-sungguh di gua pada gunung-gunung, di lubang pada batang pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia berupa sarang buatan. Melanjutkan ilhamnya kepada lebah, Allah berfirman, kemudian makanlah, yakni isaplah, dari segala macam bunga dari buah-buahan pada pepohonan yang besar maupun kecil, lalu tempuhlah jalan yang telah ditentukan oleh tuhan pencipta dan pemelihara-Mu, yang telah dimudahkan bagimu. Dengan izin dan kekuasaan Allah, dari perut lebah itu keluar sejenis minuman yang amat lezat berupa madu yang bermacammacam warna dan rasa-Nya. Di dalamnya terdapat kandungan yang bermanfaat bagi daya tahan tubuh dan obat yang dapat menyembuhkan bagi beberapa penyakit manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang yang berpikir.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 68-69 Yang dimaksud dengan “wahyu” di sini adalah ilham, petunjuk, dan bimbingan kepada lebah agar membuat sarangnya di bukit-bukit, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian hal itu mengandung hikmah dalam membangun sarangnya dengan sangat rapi struktur dan susunannya, sehingga tidak ada cela padanya. Kemudian Allah SWT menganugerahkan izin, kemampuan, dan penundukan kepadanya untuk makan dari sari buah-buahan dan menempuh jalan-jalan yang telah dimudahkan oleh Allah baginya, sehingga lebah bisa menempuh jalan udara yang luas, padang pasir yang membentang, lembah-lembah, dan gunung-gunung yang tinggi sesuai kehendaknya. Kemudian masing-masing bisa kembali ke sarangnya tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri, melainkan langsung menuju sarangnya, tempat dia meletakkan telur-telurnya dan madu. Lebah membangun lilin untuk sarangnya dengan kedua sayapnya, dan dari mulutnya dia memuntahkan madu, dan lebah betina mengeluarkan telur dari duburnya, kemudian menetas dan terbang ke tempat kehidupannya. Qatadah dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firmanNya: (dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)) yaitu dengan penuh ketaatan. Mereka mnejadikannya sebagai haal dari kata “As-salikah”. Ibnu Zaid berkata bahwa itu seperti firman Allah SWT: (Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan (72)) (Surah Yasin) Dia berkata, tidakkah kamu melihat bahwa orang-orang memindahkan lebah-lebah itu dengan sarangnya dari suatu negeri ke negeri lain, dan lebah-lebah itu selalu mengikuti mereka. Pendapat pertama adalah pendapat yang paling jelas, yaitu bahwa itu menjadi haal dari kata “Ath-Thariq”. Maka tempuhlah jalan yang telah dimudahkan bagimu. Pendapat ini dinaskan oleh Mujahid. Ibnu Jarir berkata bahwa kedua pendapat itu benar. Firman Allah SWT: (Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia) yaitu, ada yang putih, kuning, merah, dan warna-warna lain yang indah sesuai dengan tempat peternakan dan makanannya. Firman Allah (di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia) yaitu di dalam madu terdapat obat bagi manusia yaitu obat bagi mereka. Salah satu ulama yang berbicara tentang pengobatan Nabi berkata bahwa seandainya dia berkata ayat ini menyebutkan obat bagi manusia, tentulah madu menjadi obat untuk setiap penyakit. Akan tetapi, Allah berfirman (di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia) yaitu menyembuhkan setiap orang dari penyakit-penyakit karena kedinginan. Sesungguhnya madu itu panas, dan sesuatu itu diobati dengan lawannya. Dalil yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud dengan firmanNya: (di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia) adalah madu yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam hadits sahih keduanya dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa seorang laki laki datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata,"Sesungguhnya saudara laki-lakiku terkena penyakit perut" Lalu Nabi SAW bersabda, "Berilah minum madu." Lalu laki-laki itu pulang dan memberi minum madu kepada saudaranya. Kemudian dia kembali dan berkata,"Wahai Rasulullah, saya telah memberinya minum madu, tetapi tiada membawa kebaikan melainkan bertambah parah" Rasulullah SAW bersabda,"Pergilah dan berilah dia minum madu" Lalu dia pulang dan memberi minum madu kepada saudaranya. Kemudian dia kembali lagi dan berkata,"Wahai Rasulullah, tidak ada kemajuan, melainkan bertambah parah" Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Maha Benar Allah dan dustalah perut saudaramu itu. Pulanglah dan berilah dia minum madu lagi!" Maka laki-laki itu pergi dan memberi minum madu saudaranya, maka sembuhlah saudaranya itu. Firman Allah: (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan) yaitu sesungguhnya ilham Allah kepada serangga yang lemah ini agar menempuh jalan yang telah ditetapkan untuknya seraya memikul tugas menghisap sari buah-buahan, lalu mengumpulkannya dan memprosesnya menjadi lilin dan madu, Itu merupakan sebaik-baik sesuatu (benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan) keagungan Penciptanya yang telah-mengaturnya, menundukkannya, dan yang memperjalankannya. Lalu mereka menjadikannya sebagai dalil bahwa Allah adalah Yang Menciptakan itu, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Mulia, dan Maha Pengasih
Tafsir As-Sa'di
Buka
68-69. pada penciptaan binatang lebah yang mungil ini, yang Allah berikan petunjuk kepadanya dengan petunjuk yang mengagumkan, dan Dia memudahkan habitat makanannya, lantas kembali ke sarang sarangnya yang ia renovasi berdasarkan arahan dan petunjuk dari Allah kepadanya, kemudian mengeluarkan dari perut perutnya madu lezat yang beraneka warna, sesuai dengan latar belakang tanah dan habitatnya, yang mana pada madu itu terdapat penyembuh bagi umat manusia dari banyak penyakit, maka semua ini menjadi bukti kesempurnaan perhatian Allah dan kesempurnaan sifat kelembutanNya kepada para hambaNya, dan bahwa Dialah Dzat yang tidak patut ada pihak selainNya yang dicinta dan diseru dalam doa.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
68. Dan Tuhanmu memberi ilham dan mengajarkan lebah untuk membuat rumah-rumah dan tempat tinggal di dalam gua-gua, celah-celah gunung, lubang-libang pohon, dan atap-atap bangunan yang didirikan manusia di bawah pohon atau atap rumah. Itu adalah sarang lebah yang dibangun dari tanah, kayu, atau selain itu.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan tuhanmu (wahai nabi) telah mengilhamkan pada lebah, ”buatlah untukmu sarang-sarang di gunung-gunung dan di pohon-pohon dan dalam ruagan yang dibangun manusia seperti rumah-rumah dan atap-atap.
Tafsir Al-Madinah
Buka
68-69. Dan bagian dari kenikmatan-kenikmatan Allah bagi hamba-hamba-Nya, Dia mengilhamkan kepada lebah: “Buatlah rumah-rumah di pegunungan, pepohonan, dan di tempat-tempat yang tinggi seperti atap rumah atau anjang-anjang yang diletakkan di atas tiang-tiang. Kemudian makanlah dari segala jenis bunga dan buah, dan lewatilah jalan-jalan yang telah Allah siapkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar madu yang beraneka ragam warnanya, ada yang putih, coklat, merah, dan lain sebagainya. Madu itu mengandung kesembuhan bagi manusia dari berbagai penyakit. sungguh pada madunya memiliki banyak manfaat itu terdapat bukti yang agung atas kekuasaan Sang Pencipta bagi orang-orang yang mau memikirkan kenikmatan-kenikmatan ini kemudian mendapatkan banyak pelajaran darinya.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
68. Dan Rabbmu -wahai Rasul- telah mengilhamkan kepada lebah dan membimbingnya agar mengambil sarang di gunung-gunung, pepohonan dan pada tempat-tempat yang dibangun dan diberi atap oleh manusia.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
68. (Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah) Yakni mengilhamkan. (Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu) Yakni sarang-sarang yang sesuai yang berada di lubang-lubang yang ada di pegunungan atau pepohonan. (dan di tempat-tempat yang disiapkan manusia) Yakni panel-panel yang dibuat agar dipakai lebah untuk menjadi sarangnya, yang kebanyakan terbuat dari kayu.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Perhatikan begitu sempurnanya ketaatan lebah kepada tuhannya, dan setelah itu tidak ditemui rumah-rumah yang dibuat oleh binatang kecil ini melainkan kebanyakan di tiga tempat ini; maka setiap insan harusnya lebih utama lagi memperkuat ketaatannya kepada tuhanny.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Tuhanmu mengilhamkan} memberi ilham {kepada lebah,“Buatlah sarang-sarang di pegunungan, pepohonan, dan bangunan yang mereka bangun} rumah-rumah dan atap-atap yang mereka bangun
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: ( ) wa awhaa rabbuka ilannahl : “dan Rabbmu mengilhamkan lebah” untuk melakukan apa yang telah diilhamkan kepadanya. ( ) wa mimmaa ya’risyuun : “dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.” Bangunan buatan manusia. Makna ayat: Firman-Nya “dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan di tempat yang dibangun manusia.” Ini adalah tanda yang besar dari kekuasaan Allah ta’ala, ilmu, hikmat dan rahmat-Nya yang muncul dengan Dia mengajarkan kepada seekor lebah bagiamana untuk membuat madu, lalu memberikannya kepada manusia yang di dalamnya ada obat segala penyakit. Firman-Nya “Dan Rabbmu mengilhamkan” wahai rasul Kami “kepada lebah.” Yaitu untuk “buatlah sarang di gunung-gunung, pohon-pohon” “dan di tempat yang dibangun manusia.” Apa yang manusia buat untuk kalian, maka jadikanlah itu rumah kalian. Karena lebah membuat sarang pada tempat yang dibuat manusia.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Tafsir An-Nafahat
Buka