SI Qur'an

Indikator 6: Pemantauan, Pengawasan

Ditemukan 6 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 74 Rujukan #1
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
ṡumma qasat qulụbukum mim ba’di żālika fa hiya kal-ḥijārati au asyaddu qaswah, wa inna minal-ḥijārati lamā yatafajjaru min-hul-an-hār, wa inna min-hā lamā yasysyaqqaqu fa yakhruju min-hul-mā`, wa inna min-hā lamā yahbiṭu min khasy-yatillāh, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Ayat-ayat berikut menerangkan respons kaum yahudi pada masa nabi Muhammad tentang kisah kakek moyangnya. Kemudian setelah kamu, kaum yahudi, mendengar kisah dan mengetahui sikap mereka itu, hatimu menjadi keras, sehingga menjadi seperti batu, atau bahkan lebih keras dari batu. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa mereka tetap tidak mau beriman walaupun telah mengetahui bukti-bukti kekuasaan Allah, seperti yang disebutkan pada ayat sebelumnya, bahkan mereka justru bertambah ingkar kepada tuhan. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar daripadanya, sementara dari celah hatimu tidak ada setitik cahaya ketakwaan yang memancar. Di antara batu itu ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, tetapi hatimu tertutup rapat sehingga tidak ada cahaya ilahi yang terserap. Dan ada pula di antara batu itu yang meluncur jatuh karena tunduk dan takut kepada azab Allah, sedangkan hatimu semakin menunjukkan kesombongan yang tampak dari sikap dan tingkah lakumu. Bila kamu tidak mengubah sikap dan terus dalam keangkuhan, ketahuilah bahwa Allah tidaklah lengah atau lalai terhadap apa yang kamu kerjakan. Allah pasti mengetahui semua yang kamu perbuat, karena dia selalu mengawasimu setiap saat. Sesudah menjelaskan sikap orang yahudi, maka kemudian mengingatkan nabi Muhammad dan umat islam dengan mengajukan pertanyaan, yaitu apakah kamu, kaum muslim, sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, meyakini kerasulan nabi Muhammad, dan beriman pada petunjuk Al-Qur'an' hal seperti ini mustahil dapat terwujud, sedangkan segolongan dari mereka sudah mendengar dan mengetahui firman Allah yang terdapat pada kitab taurat lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya dan menafsirkannya sekehendak hati, padahal mereka, yaitu kaum yahudi madinah, mengetahuinya bahwa taurat itu berisi petunjuk bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah berfirman sembari mecela dan menegur Bani Israil atas atas apa yang telah mereka saksikan dari tanda-tanda kebesaran Allah dan tindakanNya menghidupkan orang mati: (Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras) secara keseluruhan (seperti batu) yang tidak pernah lunak. Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang mukmin untuk menjadi seperti mereka. Allah berfirman, (Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik (16)) (Surah Al-Hadid) Dari Ibnu Abbas berkata bahwa ayat (Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah) maknanya yaitu ada batu-batu yang menjadi lembut karena hati mereka menerima kebenaran yang kalian serukan. (Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan) Firman Allah (Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya) yaitu seperti mata air yang keluar dari bebatuan. (dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya) seperti batu nabi Musa yang memancarkan sebanyak dua belas mata air ketika dipukul dengan seizin Allah. (dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah) yaitu dari puncak-puncak gunung. Hal ini seperti ucapan seseorang,”satu gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya” Beberapa ulama’ beranggapan bahwa ini adalah majas, yaitu mengaitkan rasa khusyu' kepada batu, sebagaimana mengaitkan kemauan kepada dinding dalam firmanNya: (dinding rumah yang hampir roboh) (Surah Al-Kahfi: 77) Fakhruddin Ar-Razi, Al-Qurtubi, dan imam-imam lainnya berkata: Tidak ada kebutuhan khusus untuk menafsirkan hal ini, karena sesungguhnya Allah SWT menciptakan dalam batu-batu ini sifat tersebut, seperti yang ada dalam firmanNya: (Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya) (Surah Al-Ahzab: 72) (Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah……) (Surah Al-Isra’: 44) dan firmanNya (Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya (6)) (Surah Ar-Rahman) Dalam hadits sahih, terdapat keterangan "Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya" dan seperti kerinduan batang pohon yang terus-menerus memberitahunya. Perlu diingat bahwa para ulama bahasa Arab berbeda pendapat tentang makna firman Allah: (Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi) Setelah mereka sepakat bahwa tidak mungkin menafsirkan keberadaannya karena ragu. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa "aw" di sini memiliki arti "wawu" dengan makna (Fa hiya kal hijaarah wa asyaddu qaswah) “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu dan lebih keras” sebagaimana firman Allah (dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka) (Surah Al-Insan: 24), dan (untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan (6)) (Surah Al-Mursalat). dan seperti yang dikatakan oleh Nabighah Adz-Dzibyani: Dia berkata Alangkah baiknya jika merpati ini bisa membawa kita ke merpati kami dan setengah menghilang" Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dia menginginkan burung itu dan setengahnya. Sebagian lainnya mengatakan bahwa "aw" disini memiliki makna "bal", sehingga maknanya adalah (Fa hiya kal hijaarah wa asyaddu qaswah) “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras” seperti firman Allah: (tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya) (Surah An-Nisa’: 77), (Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih (147)) (Surah Ash-Shaffat), dan(maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (9)) (Surah An-Najm), Sebagian dari mereka mengatakan: makna dari ayat ini adalah bahwa hati mereka tidak keluar dari salah satu dari dua kemungkinan ini; bisa jadi hati mereka memang sekeras batu, atau bahkan lebih keras daripada batu. Ibnu Jarir mengatakan: makna dari ayat ini adalah bahwa ada sebagian dari hati mereka yang sekeras batu dan ada sebagian lagi yang lebih keras daripada batu. Ibnu Jarir juga menguatkan pendapatnya ini dengan pendapat lainnya Saya berkata,”Pendapat yang terakhir ini sesuai dengan firman Allah SWT : (Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api) (Surah Al-Baqarah: 17), (atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit) (Surah Al-Baqarah: 19), dan (Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar) (Surah An-Nur: 39) serta firmanNya: (Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam) (Surah An-Nur: 40) yaitu di antara hati mereka ada yang seperti inu dan ada pula yang seperti itu. Hanya Allah yang lebih mengetahui

Tafsir As-Sa'di
Buka

74. “Kemudian hatimu menjadi keras, ” maksudnya mengeras dan menebal hingga nasihat tidak mampu berpengaruh padanya “setelah itu”, maksudnya, setelah Allah memberikan nikmat atas kalian dengan nikmat-nikmat yang besar dan memperlihatkan kepada kalian ayat-ayatNya, dan seharusnya tidaklah patut hati-hati kalian menjadi keras, karena apa yang kalian saksikan sendiri seharusnya menimbulkan kelembutan hati dan ketundukannya. Kemudian Allah menerangkan tentang kekerasan hati mereka yaitu bahwasanya ia, ”seperti batu” yang lebih keras daripada besi, karena besi dan timah apabila dibakar dalam api, niscaya akan meleleh, berbeda dengan batu. Dan firmanNya, “atau lebih keras lagi, ” maksudnya bahwa ia tidaklah terbatas hanya sekeras batu, dan (atau) di sini tidaklah bermakna (bahkan). Kemudian Allah menyebutkan tentang keutamaan batu atas hati mereka seraya berfirman, “padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.” Maka dengan sifat-sifat itu, batu itu melebihi keutamaan hati mereka. Kemudia Allah mengancam mereka dengan ancaman yang paling keras seraya berfirman, “dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan , ” bahkan Allah sangat mengetahuinya, menghafalnya, baik kecil maupun besar, dan kalian akan di beri balasan atas perbuatan kalian dengan balasan yang paling sempurna dan paling penuh. Ketahuilah bahwasanya kebanyakan para ahli tafsir telah memperbanyak penyisipan cerita-cerita Bani Israil dalam tafsir mereka, dan memaknai ayat-ayat al-Qu’an menurut cerita-cerita tersebut. Mereka berhujjah dengan sabda Nabi sholallohu ‘alihi wasallam : “ceritakan tentang Bani Isroil, tida apa-apa” (HR. Bukhori : 3461) Dan menurut hemat saya adalah bahwasanya bila pun boleh meriwayatkan cerita-cerita mereka adalah dalam bentuk dialokasikan tersendiri tanpa dikaitkan dan tidak pula menjadi makna dasar atas kitabullah, karena sesungguhnya menjadikannya sebagai tafsir bagi kitabullah tidaklah boleh sama sekali apabila tidak shahih kabarnya dari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, hal itu jika derajatnya seperti yang Nabi sabdakan : “jangan membenarkan ahli kitab dan jangan juga mendustakan mereka” (HR. Bukhori : 4485) Apabila derajatnya diragukan, dan suatu hal yang pasti diketahui dalam agama islam bahwasanya al-Qur’an itu wajib di imani dengan keyakinan bulat, baik kata-katanya maupun makna-maknanya, oleh karena itu tidak boleh menjadikan cerita-cerita tersebut yang diriwayatkan secara majhul (tidak di ketahui) yang kemungkinan besar menurut akal adalah cerita dusta atau mayoritasnya adalah dusta, sebagai makna-makna al-Qur’an sebagai suatu yang pasti dan tidak ada seorang pun yang meragukannya, akan tetapi karena kelalaian terhadap hal ini akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Hanya Allah sajalah Dzat yang membimbing.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

Kemudian hati mereka mengeras (menolak) dari kebenaran dan tidak mau tunduk kepada ayat-ayat Allah setelah melihat peristiwa itu. Hati mereka seperti batu yang sangat keras bahkan lebih keras lagi. Akan tetapi di antara batu-batu itu, ada (batu-batu) yang lebih lembut daripada hati kalian. Sebagian dari batu-batu itu memancar darinya air sungai dan sebagian lainnya terbelah sehingga keluarlah darinya mata air kecil, dan sebagian lain dari batu-batu itu jatuh karena takut kepada Allah sebagaimana jatuhnya gunung di hadapan Musa. Dan hati kalian tidak menjadi lembut (setelah melihat peristiwa itu). Sesungguhnya Allah memperhatikan amal perbuatan kalian dan tata cara kalian melaksanakannya (sampai) hari kiamat

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Akan tetapi kalian tidak mendapatkan manfaat sedikitpun dari kejadian itu, sebab setelah ditampakannya mukjizat-mukjizat yang luar biasa ini, hati-hati kalian justru dan mengeras dan membeku, sehingga tidak ada kebaikan yang dapat sampai kepadanya, dan tidak dapat melunak dihadapan tanda-tanda kuasa Ku yang mencengangkan itu yang aku Perlihatkan kepada kalian semua, sehingga hati-hati kalian menjadi seperti batu hitam yang amat keras, bahkan sebenarnya hati-hati mereka jauh lebih keras dari batu itu, karena sebagian bebatuan itu ada yang melebar dan berongga sehingga bisa mengalir darinya dengan kuat, maka ia menjadi sungai-sungai yang mengalir. Dan sebagian batuan ada yang terbelah dan pecah,maka keluarlah darinya mata air dan sumber air. Dan sebagian bebatuan bahkan ada yang jatuh dari gunung yang tinggi karena takut kepada Allah dan mengagungkan Nya. dan Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang kalian perbuat.

Tafsir Al-Madinah
Buka

74. Setelah mereka menyaksikan ayat-ayat Allah yang jelas, mereka tetap enggan mentaati-Nya, hal ini membuat hati mereka menjadi keras karena tidak bermanfaat bagi mereka nasehat. Hati seperti ini tidak akan menjadi lembut dan khusyu', ia keras bagaikan batu, bahkan lebih keras; karena batu dapat terpengaruh, sebagian batu dapat mengeluarkan air yang banyak hingga membentuk sungai, sebagian lainnya dapat terbelah dan mengeluarkan mata air, dan sebagian lainnya jatuh terhempas dari ketinggian akibat rasa takut terhadap Allah. Dan Allah tidaklah lalai terhadap apa yang kalian perbuat.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

74. Kemudian hati kalian mengeras hingga menjadi seperti batu atau lebih keras lagi setelah menerima nasihat-nasihat yang menyentuh dan menyaksikan mukjizat-mukjizat yang nyata. Hati mereka tidak pernah berubah, sementara batu bisa berubah bentuknya. Karena terkadang ada batu yang memancarkan air hingga membentuk sungai. Ada juga batu yang retak-retak kemudian mengeluarkan air yang mengalir ke bumi dan dimanfaatkan oleh manusia dan binatang. Dan ada juga batu yang jatuh dari atas gunung karena takut kepada Allah. Sementara hati kalian tidak bisa begitu. Allah tidak akan lalai terhadap apa yang kalian perbuat. Dia mengetahuinya dan akan memberi kalian balasan yang setimpal.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

74. (kemudian hatimu menjadi keras seperti batu) Yakni kosong dari ketaatan kepada ayat-ayat Allah padahal sebab-sebab agar hati tidak menjadi keras telah ada seperti hidupnya kembali mayat yang kemudian berbicara dan menentukan siapa pembunuhnya. (setelah itu) Yakni setelah Allah menunjukkan bagaimana menghidupkan sapi dan mayat. (Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya) Yakni kemudian Allah memberi uzur bagi batu-batu akan tetapi tidak memberi uzur bani Adam. Yakni sebagian batu yang keras lebih lembut dibandingkan dengan hati kalian dalam hal kebenaran yang kalian akui. (dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya) Dan ini adalah fenomena yang banyak kita dapatkan dibanyak tempat. (dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah) Dan ini juga adalah fenomena yang banyak kita dapatkan ketika batu yang besar jatuh dari puncak gunung dan menggelinding ke bawah dengan perintah Allah.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

1 ). Diantara faidah penyerupaan kerasnya hati dengan kerasnya batu; padahal kenyataannya tidaklah hati itu sekeras batu : bahwasanya besi dan dan peluru jika dimasukkan kedalam api dia akan mencair, berbeda dengan batu. 2 ). Sebagaimana kamu melihat bebatuan itu hancur, dalam diri seorang mukmin juga ada tekanan yang menimbulkan adanya kecendrungan yang kuat untuk jatuh karena takut kepada Allah, dan angin-angin kerinduan semakin kencang mengantam rantingnya yang lemah; sehingga membuatnya tunduk dan rukuk dihadapan Allah - - .

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Kemudian menjadi keras} menjadi keras dan kaku {hati kalian setelah itu hingga seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang memancar. Ada pula yang terbelah} terbelah {lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang jatuh} jatuh dari ketinggian gunung {karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kalian kerjakan

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Makna ayat : Akan tetapi hati kalian justru menjadi keras dan membatu bahkan lebih keras lagi dari batu karena hati kalian tidak bisa lembut, lunak, dan merasa khusyu’. Berbanding terbalik dengan bebatuan, ada diantaranya yang memancarkan mata air, ada juga yang jatuh karena merasa takut kepada Allah Ta’ala seperti bukit Thursina yang berguncang tatkala Allah menampakkan diriNya, begitu juga seperti berguncangnya gunung Uhud tatkala berada di bawah kaki Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Kemudian Allah Ta’ala memberikan peringatan keras bahwasanya Dia tidak pernah lalai atas kelakuan kalian ketika melakukan dosa-dosa, dan akan membalas kalian dengan balasan yang setimpal jika kalian tidak bertaubat kepadaNya dan kembali ke jalan yang benar. Pelajaran dari ayat : • Orang-orang Yahudi adalah manusia yang paling keras hatinya sampai hari ini. Setiap tahun mereka merekayasa bencana sedang mereka tertawa gembira. • Termasuk tanda celaka adalah kerasnya hati, dalam hadits disebutkan;”Barangsiapa yang tidak menyayangi, tidak disayangi.”

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Setelah dikaruniakan berbagai macam nikmat dan diperlihatkan ayat-ayat-Nya. Mereka tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya, bahkan hati mereka malah menjadi keras seperti batu atau lebih keras lagi sehingga sulit ditembus oleh kebaikan, oleh nasehat dan tidak lunak di hadapan ayat-ayat Allah yang begitu jelas. Ya, hati mereka lebih keras daripada batu, padahal di antara batu itu ada yang memancarkan air, ada yang terbelah, bahkan ada yang meluncur dari tempat yang tinggi karena takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Di akhir ayat ini, Allah mengancam mereka dengan ancaman yang keras, yakni bahwa Dia tidak lalai terhadap apa yang mereka kerjakan, bahkan mengetahuinya baik yang kecil maupun yang besar dan nanti Dia akan memberikan pembalasan terhadapnya.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat Al-Baqarah ayat 74: Setelah ayat – ayat yang sangat gamblang dan mukjizat yang diluar batas dimana pembicaraan berkenaan dengan kalian bani israil, tidak akan bermanfaat bagi kalian dan tidak akan kalian bersegera memenuhi perintah Allah; bahkan hati- hati kalian menyelisihi dan semakin menolak nikmat yang banyak yang telah Allah berikan; sampai – sampai menjadi semakin keras sebagaimana bebatuan atau lebih keras dari batu tersebut; bahkan sesungguhnya diantar bebatuan ada diantaranya lebih lembut dari hati – hati kalian; Dimana sebagiannya memancar dan mengalir padanya sungai – sungai, dan diantaranya terpecah mengeluarkan air darinya mendapat disaksikan di negeri – negeri manapun, dan diantaranya ada yang jatuh dari ketinggian gunung karena takut Allah. ketauilah oleh kalian bahwasannya Allah tidak lalai dari perbuatan – perbuatn kalian; bahkan maha tahu akan hal tersebut dan maha menjaga, Allah akan membalas kalian dihari kiamat yaitu hari pembalasan dan hisab.

QS. An-Nisa (4): Ayat 1 Rujukan #2
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakumullażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa khalaqa min-hā zaujahā wa baṡṡa min-humā rijālang kaṡīraw wa nisā`ā, wattaqullāhallażī tasā`alụna bihī wal-ar-ḥām, innallāha kāna ‘alaikum raqībā
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah pada surah sebelumnya Allah menjelaskan bahwa kitab suci merupakan petunjuk jalan menuju kebahagiaan dan bahwa inti seluruh kegiatan adalah tauhid, pada surah ini Allah menjelaskan bahwa untuk meraih tujuan tersebut manusia perlu menjalin persatuan dan kesatuan, serta menanamkan kasih sayang antara sesama. Wahai manusia! bertakwalah kepada tuhanmu dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, mensyukuri karunia dan tidak mengkufuri nikmat-Nya. Dialah Allah yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu yaitu adam, dan Allah menciptakan pasangannya yaitu hawa dari diri-Nya yakni dari jenis yang sama dengan adam; dan dari keduanya, pasangan adam dan hawa, Allah memperkembangbiakkan menjadi beberapa keturunan dari jenis laki-laki dan perempuan yang banyak kemudian mereka berpasang-pasangan sehingga berkembang menjadi beberapa suku bangsa yang berlainan warna kulit dan bahasa (lihat: surah arrum/30: 22). Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta pertolongan antar sesama, dengan saling membantu, dan juga peliharalah hubungan kekeluargaan dengan tidak memutuskan tali silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu karena setiap tindakan dan perilaku kamu tidak ada yang samar sedikit pun dalam pandangan Allah. Menjalin persatuan dan menjaga ikatan kekeluargaan adalah dasar ketakwaan yang dapat mengantarkan manusia ke tingkat kesempurnaan. Ayat berikut ini menjelaskan siapa yang harus dipelihara hak-haknya dalam rangka bertakwa kepada Allah. Dan berikanlah, wahai para wali atau orang yang diberi wasiat mengurus, kepada anak-anak yatim yang sudah dewasa lagi cerdas untuk mengelola harta mereka sendiri yang ada di dalam kekuasaanmu, dan janganlah kamu menukar harta anak yatim yang baik, lalu karena ketamakan kamu mengambil atau menukar harta mereka. Tindakan itu sama halnya menukar yang baik dengan yang buruk. Dan demikian pula, janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu dengan ikut memanfaatkan harta mereka demi kepentingan diri sendiri. Sungguh, tindakan menukar dan memakan itu adalah dosa yang besar. Jika kamu melakukan hal itu, kamu akan mendapat laknat dan murka dari Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah berfirman seraya memerintahkan mereka untuk bertakwa kepadaNya, yaitu hanya menyembah kepadaNya sama, tidak ada sekutu bagiNya, serta mengingatkan mereka pada kekuasaanNya yang telah menciptakan mereka dengan itu dari satu jiwa, yaitu nabi Adam (dan dari padanya Allah menciptakan isterinya), yaitu Hawa, yang diciptakan dari tulang rusuknya yang paling pendek di bagian belakang saat dia tidur. Lalu ketika dia bangun, dia melihatnya dan merasa kagum. Nabi Adam merasa akrab dengannya dan begitu juga Hawa merasa akrab dengannya. Disebutkan dalam hadits yang shahih,“wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya, niscaya akan patah, jika kamu membiarkannya, dia akan senantiasa bengkok” Firman Allah, (dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak) yaitu Allah menciptakan banyak pria dan wanita dari keduanya, yaitu nabi Adam dan Hawa, dan menyebarkan mereka di penjuru dunia dengan berbagai jenis, sifat, warna kulit, dan bahasa. Kemudian, setelah itu mereka akan kembali kepadaNya di hari kiamat. Kemudian Allah SWT berfirman, (Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim) yaitu bertakwalah kepada Allah dengan melakukan ketaatan kepadaNya. Ibrahim, Mujahid, dan Al-Hasan berkata terkait ayat (dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain) yaitu sebagaimana dikatakan,”Aku meminta kepadamu dengan menyebut nama Allah dan dengan penuh kasih sayang. Adh-Dhahhak berkata,”Bertakwalah kepada Allah, Dzat yang dengan namaNya kalian saling melakukan ikatan dan perjanjian. Jagalah hubungan silaturahmi, jangan sampai kalian memutusnya, namun perbaikilah dan sambunglah. Hal ini dikatakan juga oleh Ibnu Abbas,’ Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, dan lainnya. Sebagian mereka membaca, (Wal Arham) dengan dihafdh (majrur) sebagai ‘athaf atas dhamir yang ada pada kata (bihi) yaitu “Tasa’aluuna billahi wa bil arhami” sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid dan lainnya. Firman Allah SWT, (Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu) yaitu Dia mengawasi segala keadaan dan amal perbuatan kalian, sebagaimana Dia berfirman (Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu) (Surah Al-Mujadilah: 6).

Tafsir As-Sa'di
Buka

1. Allah ta'ala memulai surat ini dengan perintah untuk bertakwa kepadaNya dan anjuran untuk beribadah kepadaNya, perintah untuk menyambung silaturahim dan anjuran untuk hal itu. Allah juga menjelaskan tentang sebab-sebab yang mendorong harusnya melakukan setiap dari hal tersebut, dan bahwa hal yang mengharuskan untuk bertakwa kepadaNya adalah karena Allah itu Rabb kalian, ”yang telah menciptakan kalian, ”memberi rizki kepada kalian, memelihara kalian dengan nikmat-nikmatNya yang besar, dan diantaranya adalah penciptaan diri kalian itu, ”dari diri yang satu” dan menjadikan “dari padanya istrinya” agar sesuai dengannya, lalu ia merasa tenang kepadanya, dan dengan hal itu lengkaplah nikmat dan terwujudlah kebahagiaan. Demikian juga, diantara pendorong yang mengharuskan dan menuntut untuk bertakwa kepadaNya adalah (bahwa) kalian saling meminta dengan menyebut namaNya dan pengagungan kalian atasNYa, hingga bila kalian ingin mendapatkan hajat dan kebutuhan kalian, maka kalian bertawassul dengannya, dimana anda meminta dengan “demi Allah”. Karena itu, barangsiapa yang menghendaki hal itu kepada orang lain, ia berkata, ”saya memohon kepadamu dengan Nama Allah untuk melakukan pekerjaan”. karena dia mengetahui apa yang ada didalam hatinya berupa pengagungan kepada Allah, yang mendorong agar orang yang diminta nya dengan “Nama Allah” itu tidak menolak. Maka sebagaimana kalian mengagungkanNya dengan hal itu, agungkanlah juga Allah dengan beribadah dan bertakwa kepadaNya. Demikian juga kabar bahwa Allah Maha Mengawasi, artinya, Allah melihat hamba-hambaNya pada saat mereka diam maupun bergerak, yang dirahasiakan maupun yang ditampakkan, dan Allah mengawasi seluruh kondisi mereka, yang mengharuskan adanya rasa pengawasan Allah dan malu yang mendalam terhadapNya dengan cara konsisten dalam takwa kepadaNya dan pada pemberitaan bahwa Allah menciptakan mereka dari diri yang satu dan bahwa Allah mengembangbiakkan mereka di seluruh bagian bumi, padahal mereka berasal dari jiwa yang satu, adalah agar sebagian mereka mengasihi sebagian yang lain dan sebagian mereka berlaku lemah lembut kepada sebagian lainnya. Allah menyandingkan antara takwa kepadaNya dengan perintah untuk berbuat baik kepada keluarga dan melarang dari memutuskan hubungan silaturahim agar menegaskan akan kebenaran hal tersebut, dan bahwa sebagaimana wajibnya menunaikan hak-hak Allah, maka wajib pula untuk menegakkan hak-hak makhlukNya, khususnya yang termasuk kerabat keluarga diantara mereka, bahkan menunanikan hak-hak mereka adalah di antara hak-hak Allah yang telah diperintahkan olehNya. Perhatikanlah bagaimana Allah memulai surat ini dengan perintah secara umum untuk bertakwa, menyambung silaturahim, dan interaksi antara suami dan istri, kemudia setelah itu Allah merinci perkara-perkara tersebut dengan perincian yang sempurna dari awal surat hingga akhirnya, dimana seolah olah penjelasan surat ini didasari oleh perkara-perkara tersebut, merinci hal-hal yang disebut yaitu secara umum darinya dan menjelaskan hal-hal yang samar. Dalam firman Allah “dan dari padanya Allah menciptakan istrinya,” terdapat sebuah peringatan untuk senantiasa menjaga (memperhatikan)hak-hak para suami dan para istri dan pemenuhannya, karena para istri itu tercipta dari para suami, sehingga antara para suami dan para istri terdapat hubungan nasab yang paling dekat, hubungan yang paling kuat, dan ikatan yang paling kokoh.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

Keutamaan: Imam Hakim dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’u, dia berkata: “Sesungguhnya di dalam surah An-Nisa ini ada 5 ayat yang lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya yaitu {Innallaha Laa Yazlimu mitsaala dzarrah} ayat 40, {In Tajtanibuu kabaaira maa tanhauna ‘amhu} ayat 31, {Innallaha Laa yaghfiru ab yusyraka bih …} ayat 48 dan 116, {Lau annahum idz zhalamu anfusahum jaauuka …} ayat 64” 1. Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, Dzat yang menciptakan kalian dari satu jiwa. Dia pertama kali menciptakan jiwa itu dari tanah, yaitu Adam AS, lalu jadilah kalian menjadi satu jenis manusia. Dia menciptakan Hawa’ sebagai istri dari jenisnya supaya keduanya bisa saling sesuai dan dipersatukan dengan cinta dan kasih sayang. Kemudian Dia menyebarkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak di bumi. Mereka takut kepada Allah yang dimintai oleh sebagian mereka dengan berkata: “Aku memintamu ya Allah untuk melakukan hal ini” Bertakwalah kalian kepada Allah dengan bersilaturahmi dan jangan sampai memotong silaturahmi. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menyambungnya. Al-Arham adalah seluruh kerabat baik laki-laki maupun perempuan dari ayah dan ibu. Sesungguhnya Allah itu mengawasi amal perbuatan kalian

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Wahai manusia yang takut kepada Allah dan berpegang teguh kepada perintah-perintahNYA serta menjauhi larangan-laranganNYA, DIA lah Dzat yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu,yaitu adam dan darinya DIA menciptakan istrinya, yaitu hawwa’, selanjutnya Dia menyebarkandari keduanya di seluruh penjuru bumi kaum lelaki dan kaum wanita yang banyak. Dan hendaknya kalian selalu merasa diawasi Allah yang sebagian dari kalian meminta sebagian yang lain dengan NamaNYA. Hindarilah memutus hubungan silaturahim kalian. Sesungguhnya Allah selalau mengawasi seluruh keadaan kalian.

Tafsir Al-Madinah
Buka

1. Allah memulai surat ini dengan seruan agung bagi seluruh manusia, dengan menekankan peribadatan kepada-Nya semata melalui rasa takut terhadap-Nya dengan senantiasa menjalankan ketaatan. Dialah yang menciptakan mereka dari Adam, kemudian menciptakan istrinya, Hawa dari diri Adam. Lalu dari mereka berdua beranak pinak banyak lelaki dan perempuan yang menyebar ke berbagai tempat. Kemudian Allah mengulangi perintah-Nya dengan firman-Nya: “Takutlah kalian kepada Allah yang sebagian kalian meminta kepada yang lain menggunakan nama-Nya, dan takutlah kalian kepada-Nya dengan menyambung silaturrahim. Allah selalu mengawasi amal perbuatan manusia.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

1. Wahai manusia! Bertakwalah kalian kepada Rabb kalian. Karena Dia lah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, yaitu bapak kalian, Adam. Dan dari Adam Dia menciptakan istrinya, Hawa, ibu kalian. Dan dari keduanya Dia menyebarkan banyak manusia laki-laki dan wanita ke berbagai penjuru bumi. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, Żat yang nama-Nya kalian gunakan sebagai sarana untuk meminta sesuatu kepada sesama kalian. Yaitu dengan mengatakan, “Aku memintamu dengan nama Allah agar kamu sudi melakukan hal ini.” Dan takutlah kalian terhadap memutus tali persaudaraan yang mengikat kalian dengan saudara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kalian. Maka tidak ada satu pun amal perbuatan kalian yang luput dari pengawasan-Nya. Dia senantiasa menghitungnya dan akan memberi kalian balasan yang setimpal dengannya.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

1. (Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya) Yakni menciptakan kalian dari jiwa yang satu, pertama-tama Allah menciptakan Adam, kemudian menciptakan Hawa istrinya dari Adam. (dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan) Yakni memperkembangbiakkan dari keduanya dan menyebar mereka ke penjuru dunia. (laki-laki yang banyak dan perempuan) Yakni dan perempuan yang banyak pula. (Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain) Yakni sebagian mereka meminta sebagian yang lain dengan menggunakan nama Allah. (dan (peliharalah) hubungan silaturrahim) Yakni bertakwalah kepada Allah dan peliharalah silaturarahim maka janganlah kalian putuskan karena itu merupakan bagian dari apa yang Allah perintahkan untuk disambung. Kata () yakni kata yang mencakup seluruh kerabat dari laki-laki dan perempuan tanpa ada perbedaan antara yang tidak boleh dinikahi dan lainnya. (mengawasi kamu) Yakni mengawasi amalan kalian baik itu yang baik maupun yang buruk.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

1 ). Surat An-nisa’ mengandung isyarat yang begitu indah; ayat pertamanya menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang sempurna : { } “Wahai manusia! Bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam)”. Sedangkan ayat terakhir mengabarkan kesempurnaan ilmu-Nya, Allah SWT berfirman : { } “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Ali ‘imron:176) Rububiyyah, uluhiyyah, keagungan, serta kemuliaan Allah ditetapkan dengan adanya dua sifat tersebut, yakni ilmu dan kekuasaan yang sempurna. Oleh karena itu wajib bagi semua manusia tuk mematuhi semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, juga menjalankan semua yang telah dibebankan oleh-Nya. 2 ). Asas hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam pandangan Islam adalah untuk saling melengkapi dengan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pasangan, bukan untuk berkompetisi mencari yang paling unggul di antara keduanya. Maka, Hawa tidaklah diciptakan dari tanah seperti halnya Adam, Allah SWT berfirman : { } “Dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya”. Jikalau seorang lelaki dzalim kepada istrinya, maka seakan-akan dia sedang menyakiti dirinya sendiri. Juga sebaliknya jikalau perempuan menentang dan menyelingkuhi suaminya, maka dia telah menyimpang dari jalan fitrahnya. 3 ). Allah berfirman di awal surat An-nisa’: { } “Dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya”. Sebuah hadist shahih telah menafsirkan potongan ayat tersebut, Rasulullah SAW bersabda : (( )) “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (laki-laki)” Hadist tersebut merupakan isyarat jelas akan hubungan untuk saling melengkapi di antara lelaki dan perempuan. Olehnya perempuan diciptakan dari salah satu bagian lelaki, yakni tulang rusuknya, dan itu bertujuan agar seorang suami harus selalu mencintai pasangannya dengan perasaan cinta yang tulus serta menjaganya dari segala yang membahayakan, seperti halnya tulang rusuk yang menjaga organ dalam manusia. Dan tulang rusuk pun harus selalu di tempatnya, tetap dan tidak berpindah, karena jikalau rusuk patah atau berpindah tempat, itu akan mengakibatkan rasa sakit yang amat sangat. 4 ). Allah telah menyandingkan antara takwa terhadap-Nya dengan berbuat baik kepada sanak keluarga. Allah berfirman: { } “Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.” Itu semua bertujuan untuk menekankan bahwa merawat dan menjaga hubungan antar keluarga dan tidak memutusnya adalah hal yang sangat penting. Maka memelihara dan memberi hak-hak makhluk-Nya dengan cara yang baik, terkhusus sanak keluarga, adalah wajib, seperti halnya wajib bagi hamba untuk melaksanakan dan menjalankan semua hak-hak Allah SWT. Bahkan memelihara hubungan sanak keluarga termasuk dalam menjalankan hak-Nya.

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu dan Dia menciptakan darinya pasangannya. Dia membuat berkembang biak} menyebarkan {dari keduanya} Adam dan Hawa {laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan namaNya kalian saling meminta dan hubungan kekeluargaan} hindarilah memutus hubungan kekeluargaan {Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Makna Kata: ﻟﻨﺎﺱ An Naas berarti manusia, bentuk jamak dari seorang manusia. Annaas dalam bahasa arab adalah bentuk jamak yang tidak ada bentuk tunggalnya. {ﺗﻘﻮ ﺭﺑﻜﻢ} Ittaqu rabbakum Bertakwalah kepada Tuhanmu: Takut lah kepada Tuhanmu, maka jalankan lah perintah-Nya dan jauhilah larangannya. ﻣﻦ ﻧﻔﺲ ﻭﺣﺪﺓ3 min nafsin wahidah Dari jiwa yang satu: Yaitu Adam. {ﻭﺧﻠﻖ ﻣﻨﻬﺎ ﺯﻭﺟﻬﺎ} wa kholaqo minha zaujaha Dan Dia menciptakan darinya pasangan baginya. Menciptakan Hawa dari Adam dari tulang rusuknya. {ﻭﺑﺚ} wa batstsa Dan menyebarkan serta membuat mereka berpencar dari keduanya (Adam dan hawa) laki-laki dan wanita yang banyak. {ﺗﺴﺎﻟﻮﻥ ﺑﻪ} Tasaaluna bihi Saling meminta dengan-Nya. Seperti perkataan seseorang kepada saudaranya “Demi Allah aku meminta kepadamu untuk melakukan ini.” {ﻭﻷﺭﺣﺎﻡ} Wal arham. Arham adalah bentuk jamak dari kata rahim. Maksud dari bertakwa kepada rahim adalah dengan menyambungnya (silaturahim) dan jangan memutuskannya. {ﺭﻗﻴﺒﺎ} Raqiban raqib bermakna pengawas yang maha mengetahui Makna Ayat: ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﻟﻨﺎﺱ Ya Ayyuhan Nas Rabb tabaraka wa ta’ala memanggil hamba-hambanya baik yang kafir maupun yang mukmin, “Wahai manusia” dan memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa kepada-Nya. Dan Takwa adalah berlindung dari adzab-Nya di dunia dan di akhirat dengan menyerahkan diri mereka secara utuh lahir maupun batin. Dia menyifati diriNya bahwasanya Dialah yang menciptakan mereka (manusia) dari jiwa yang satu, yaitu Adam. Dimana Dia menciptakan Adam dari seonggok tanah. Dialah yang menciptakan dari jiwa itu pasangannya, Hawa. Dialah yang menyebarkan laiki-laki dan perempuan yang banyak di atas permukaan bumi ini dari dua jiwa itu. Kemudian mengulangi perintah untuk bertakwa yang mana takwa adalah inti dari sebuah perkara, tiada kesempurnaan dan tidak ada kebahagiaan tanpa keterikatan dengan ketakwaan. Sembari berfirman, “Bertakwalah kepada Allah yang kalian saling meminta dengan-Nya dan peliharalah hubungan silaturahim...” yang maknanya adalah bertakwalah kepada Tuhan kalian yang hati kalian beriman kepada-Nya. Jika salah satu dari kalian ingin meminta kepada saudaranya, maka dia berkata,’Demi Allah, Aku meminta kepadamu, maka engkau akan memberikannya kepadaku...’ Dan jagalah hubungan Rahim jangan kau putuskan. Jika kau memutuskannya, maka akan terjadi kerusakan besar yang akan menimpa hidup kalian dan merusaknya. Allah mengancam manusia jika tidak patuh perintah-Nya berbarengan dengan takwa kepada Nya dan tidak menyambung rahim dengan perkataaan-Nya “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi amal-amal kalian, menghitung, menjaga dan membalasnya kepada kalian. Ketahuilah wahai manusia untuk bertakwa kepada-Nya?” Petunjuk dari ayat : 1. Keutamaan ayat ini, manakala Rosulullah selalu membacanya tatkala berkhutbah untuk suatu keperluan. ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮ ﺗﻘﻮ ﻟﻠﻪ ﺣﻖ ﺗﻘﺎﺗﻪ ﻭﻻ ﺗﻤﻮﺗﻦ ﺇﻻ ﻭﺃﻧﺘﻢ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ}} membaca ayat ini dan kemudian membaca ayat dari surat al ahzab {ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮ ﺗﻘﻮ ﻟﻠﻪ ﻭﻗﻮﻟﻮ ﻗﻮﻻ ﺳﺪﻳﺪ ﻳﺼﻠﺢ ﻟﻜﻢ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ ﻭﻳﻐﻔﺮ ﻟﻜﻢ ﺫﻧﻮﺑﻜﻢ ﻭﻣﻦ ﻳﻄﻊ ﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻓﻘﺪ ﻓﺎﺯ ﻓﻮﺯ ﻋﻈﻴﻤﺎ} Kemudian berkata amma ba’du lalu dilanjutkan dengan menyebutkan hajat keperluannya. 2. Pentingnya bertakwa kepada Allah yang mana terulang dua kali dalam satu ayat di awal dan akhirnya. 3. Keharusan untuk menyambung silaturahim dan haram untuk memutusnya. 4. Memperhatikan persaudaraan antar indidvidu dan memperhitungkannya dalam pergaulan.

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Allah Subhaanahu wa Ta'aala memulai surat ini dengan perintah bertakwa kepada-Nya, mendorong mereka beribadah kepada-Nya dan menyuruh menjaga tali silaturrahim. Allah Ta'ala menerangkan sebab yang mengharuskan semua itu, yaitu karena Dia adalah Tuhan kamu yang menciptakan kamu. Demikian juga karena kamu biasa menggunakan nama-Nya untuk meminta antara yang satu dengan yang lain. Di samping itu, Dia pun selalu mengawasi kamu. Ini semua menghendaki kita untuk memiliki sikap muraqabah, rasa malu dan tetap menjaga ketakwaan kepada-Nya. Di awal surat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan secara umum bertakwa kepada-Nya dan menyambung tali silaturrahim, dan akan disebutkan secara rincinya ketakwaan itu pada ayat-ayat selanjutnya. Nampaknya ayat-ayat selanjutnya berpangkal kepada masalah tersebut, menerangkan apa yang masih samar dalam masalah di atas. Disebutkan bahwa manusia berasal dari seorang diri adalah agar manusia menyadari bahwa bapak mereka adalah sama (Adam 'alaihis salam), di mana hal ini menghendaki mereka untuk saling menyayangi antara satu dengan lainnya. Oleh karenanya, disebutkan pula perintah memelihara hubungan silaturrahim dan tidak memutuskannya untuk memperkuat masalah ini. Disebutkan sebelumnya perintah bertakwa kepada Allah adalah agar manusia semuanya sama-sama menyembah kepada Allah dan bersatu di atasnya. Maksud daripadanya menurut jumhur (mayoritas) mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam 'alaihis salam. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Namun ada pula yang menafsirkan daripadanya di sini adalah dari unsur yang serupa, yakni tanah yang daripadanya Adam 'alaihis salam diciptakan. Yaitu Hawa'. Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti As-aluka billah artinya "saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah." Digunakannya nama Allah adalah karena orang yang meminta mengetahui bahwa orang yang diminta tentu mengagungkan Allah Tuhannya, oleh karenanya ia tentu akan memenuhi permintaannya.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat An-Nisa ayat 1: Hai manusia! Berbaktilah kepada Tuhan kamu yang telah jadikan kamu daripada satu diri dan la jadikan daripada jodohnya, dan Ia bangkitkan daripada mereka berdua, laki-laki yang banyak dan perempuan-perempuan, dan takutlah kepada Allah yang berminta-mintaan dengan kamu (nama)-Nya dan (peliharalah) keluarga, Allah itu Pengawas atas kamu.

QS. Al-Maidah (5): Ayat 117 Rujukan #3
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَآ أَمَرْتَنِى بِهِۦٓ أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ
mā qultu lahum illā mā amartanī bihī ani’budullāha rabbī wa rabbakum, wa kuntu ‘alaihim syahīdam mā dumtu fīhim, fa lammā tawaffaitanī kunta antar-raqība ‘alaihim, wa anta ‘alā kulli syai`in syahīd
"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Nabi isa melanjutkan pertanggungjawabannya di hadapan Allah di akhirat, aku tidak pernah, selama hidupku, mengatakan kepada mereka, bani israil, kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku dalam kedudukanku sebagai rasul Allah, yaitu, sembahlah Allah, tuhanku dan tuhanmu, tidak ada tuhan selain Allah dan tidak ada ibadah kecuali kepada-Nya. Dan aku, sebagai utusan Allah kepada bani israil, menjadi saksi terhadap sikap mereka; di antara mereka ada yang beriman dan lurus keyakinannya, dan ada pula kufur yang menyeleweng keyakinannya dengan menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah, selama aku berada, hidup dan bergaul, di tengah-tengah mereka. Maka setelah engkau mewafatkan aku, selesailah tugasku sebagai nabi dan rasul dalam mengawasi keyakinan mereka. Sejak itu, engkaulah yang mengawasi mereka; apakah mereka lurus atau menyeleweng dengan menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah. Dan engkaulah yang maha menyaksikan atas segala sesuatu, yang terlihat maupun tersembunyi dari pandangan manusia. Jadi, nabi isa selama hidupnya tidak pernah menyatakan kepada bani israil bahwa dirinya dan ibunya, maryam, adalah tuhan dan tidak pernah pula memerintahkan untuk menyembah mereka berdua. Nabi isa lalu mengembalikan nasib umatnya yang menyimpang dari ajarannya di akhirat kepada keputusan Allah. Wahai tuhan yang maha bijaksana, jika engkau menyiksa mereka, karena mereka menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, tidak ada seorang atau suatu apa pun yang menghalangi kehendak-Mu; dan jika engkau mengampuni mereka, dengan kebesaran dan keagungan-Mu, meskipun mereka menyeleweng; sesungguhnya engkaulah yang mahaperkasa, mahabijaksana dalam segala yang hal yang engkau putuskan.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 116-118 Ini juga termasuk apa yang difirmanlan Allah kepada hamba dan rasulNya yaitu nabi Isa seraya berfirman kepadanya pada hari kiamat dengan menghadirkannya di hadapan orang-orang yang menjadikan dia dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah, yaitu: (Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah"?) Ini merupakan ancaman untuk orang-orang Nasrani, celaan dan kecaman di hadapan para saksi. Demikian adalah pendapat yang dikatakan oleh Qatadah dan lainnya. Qatadah menunjukkan hal itu dengan dalil ayat: (Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka) Allah SWT berfirman: (Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku) ini merupakan bimbingan untuk mengajarkan mereka dengan jawaban yang sempurna Firman Allah SWT: (Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui) yaitu jika hal ini pernah aku lakukan, maka sesungguhnya Engkau telah mengetahuinya, wahai Tuhanku. Sesungguhnya tidak ada satu pun hal yang tersembunyi dariMu apa yang aku katakan. Aku tidak mengatakan hal itu, tidak ingin mengatakannya pada diriku, dan tidak pernah menyembunyikannya. Oleh karena itu Allah berfirman: (Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib (116) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya) dengan menyampaikannya (Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian!) yaitu aku tidak mengajak mereka melainkan kepada apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk menyampaikannya (Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian) yaitu ini adalah yang aku katakan kepada mereka. Firman Allah SWT (dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka) yaitu aku menyaksikan amal perbuatan mereka selama aku berada bersama-sama mereka (Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu) Firman Allah SWT: (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampunimereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (118)) Kalimat ini mengandung makna mengembalikannya kepada kehendak Allah SWT, sesungguhnya Dia Maha Berbuat sesuatu yang Dia kehendaki; Dzat yang tidak mempertanyakan apa yang Dia perbuat, dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini mengandung berlepas diri dari orang-orang Nasrani berdusta terhadap Allah dan rasulNya, dan berani menjadikan bagi Allah sekutu, istri dan anak. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu dengan keluhuranNya yang Maha Besar. Ayat ini mengandung makna yang agung dan berita yang menakjubkan. Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi SAW membacanya di malam hari sampai subuh dan beliau mengulanginya,

Tafsir As-Sa'di
Buka

111-120. MaksudNya ingatlah nikmatKu kepadamu manakala aku memudahkan untukmu mendapatkan pengikut-pengikut dan penolong-penolong, maka aku ilhamkan kepada Hawariyyin (pembela dan pengikut setia), dan aku bisikan iman kepadaKu dan RasulKu kedalam hati mereka, dan aku ilhamkan melalui lisanmu yakni aku memerintahkan kepada mereka melalui wahyu yang datang kepadamu dari Allah, maka mereka menjawab dan meresponnya dengan baik, mereka berkata, “ kami telah beriman dan saksikanlah wahai Rasul bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh kepada seruanMu.” Mereka menggabungkan antara Islam yang zahir yang di dasari ketundukan dengan amal yang di dasari dengan iman batin yang mengeluarkan pemiliknya dari kemunafikan dan iman yang lemah. Para Hawariyyin itu adalah orang-orang yang menolong, seperti kata Isa kepada mereka, "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." ( Ash- Shaff:14) “Ingatlah ketika pengikut-pengikut Isa berkata, ‘ Hai Isa putra Maryam bersediakah Tuhanmu menyediakan hidangan dari langit kepada kami?’” maksudNya, meja makanan dengan makanan. Ini bukan karena keraguan mereka terhadap kuasa Allah dan kemampuaNya untuk itu, akan tetapi itu usulan yang sopan dari mereka. Karena permintaan terhadap kekuasaan Allah bertentangan dengan ketundukan kepada kebenaran, dan ucapan yang keluar dari para hawariyyin bisa jadi mengarah kesana. Maka Isa menasehati mereka dan berkata, “ bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.” Karena seorang Mukmin akan bertakwa karena imanNya untuk selalu bertakwa, tunduk kepada perintah Allah dan tidak menuntut turunnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak di ketahui apa yang terjadi sesudah itu. Hawariyyin menjelaskan bahwa bukan itu maksud mereka, akan tetapi maksud mereka adalah baik yaitu karena kebutuhan, mereka berkata, “ Kami akan memakan hidangan itu.” Ini adalah bukti bahwa mereka memerlukannya, “ dan supaya tenteram hati kami” dengan iman ketika kami melihat tanda-tanda kekuasaan Allah denga mata kepala kami sehingga iman kami menjadi ain al-yaqin (setelah sebelumnya adalah ilmu al-yaqin) seperti Ibrahim kekasih Allah yang meminta kepada Allah untuk di tujukan bagaimana menghidupka orang mati. Allah berfirman "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Baqarah:260). Seorang hamba memerlukan tambahan ilmu, keyakinan, dan iman setiap saat. Oleh karena itu Allah berfirman, “Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami,” yakni, kami mengetahui apa yang kamu bawa, bahwa ia adalah benar. “Dan kami menjadi orang-orang yang menyksikan hidangan itu.” Yakni, ia membawa kebaikanbagi orang yang datang sesudah kami. Kami menjadi saksi dalam hal ini, maka hujjah pun tegak dan bukti semakin bertambah kuat dengan itu. Manakala Isa mendengar itu dan mengetahui maksud mereka, dia mengabulkan permintaan mereka, dia bero’a, “ Ya Tuhan Kami, turunkanlah sekiranya kepada kami suatu hidangan kepada kami dari langit yang hari turunnya akan mejadi hari raya yaitu bagi orang-orang yang bersama kami kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaanMu.” Maksudnya, hari turunnya di jadikan hari raya dan musim bagi memperingati hari bessar dari kekuasaan Allah itu ia kan selalu di ingatdan tidak di lupakan selama waktu dan tahun terus berganti, sebagaimana Allah menjadikan hari raya di manasik kamu Muslimin sebagai momen untuk mengingat kebesaranNya dan mengingat jalan para Rasul dan Sunnah mereka yang lurus, karunia dan kebaikanNya untuk mereka, “ Berilah Kami Rezeki, da Engkaulah Pemberi Rezeki yang paling utama.” Yakni di jadikan ia sebagai rezeki kami. Isa memohon agar hidangan itu di turunkan untuk dua kemaslahatan: Pertama, kemaslahatan agama, yaitu sebagai tanda kekuasan Allah yang kekal, dan Kedua, kemaslahatan dunia sebagai rezeki. “Allah berfirman, ‘Sesungguhnya aku akan menurunkan hidangan itu kapadamu, barangsiapa yang kafir sesudah di turunkannya hidangan itu, maka sesungguhnya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia’.” Karena dia menyaksikan tanda kekusaan Allah yang mengagumkan dan dia kafir karena kesombongan dan pengingkaran, maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedihdan hukuman yang berat. Ketahuilah bahwa Allah berjanji hendak menurunkannya, Dia mengancam mereka dengan ancaman itu jika mereka mengingkarinya, tetapi Dia tidak menyatakan akan menurunkannya. Ada kemungkinan, karena mereka tidak memilih ini. Ini di tunjukan bahwa ia tidak di sebut di dalam Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani dan sama sekali tidak ada indikasi ( bahwa itu terjadi ). Kemungkinan lain ia sudah di turunkan seperti yang di janjikan oleh Allah, karena Dia tidak menyelisihi janji, tetapi masalah ini tidak di singgung di dalam Injil, karena ia termasuk bagian di mana mereka di ingatkan denganNya tetapi mereka melupakanNya. Atau mereka memang tidak di sebt dalam Injil sama sekali, karena ia telah di warisi dari generasi ke generasi. Generasi berikut mengambil dari generasi sebelumnya, maka Allah merasa itu cukup tanpa harus di singgug di dalam Injil, dan makna ini di dukung oleh FirmanNya, “ dan kami jadikan orang-orang yang meyaksikan hidangan itu.” Dan Allah lebih mengetahui kenyataan yang sebenarnya. “Dan ingatlah ketika Allah berfirman, ‘ Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘ Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?’” ini adalah celaan terhadap orang-orang nasrani yang berkata, “ sesungguhnya Allah adalah satu dari tiga.” Maka Allah berfirman kepada Isa. Isa sendiri berlepas diri dari ucapan tersebut, dia berkata, “ Maha Suci Engkau” dari ucapan buruk ini dan dari segala yang tidak layak untukMu. “ Tidaklah patut bagu mengcapkan apa yang bukan hakku.” Yakni tidak layak dan tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan sifat dan hakku, karena tiada suatu makhlukpun dari malaikat yang dekat kepada Allah, para nabi yang di utus, dan tidak pula selain mereka yang berhak menduduki derajat ketuhanan. Semuanya hany para hamba yang di atur, makhluk yang tunduk, dan fakir lagi tidak berdaya. “ Jika aku pernah mengatkanNya, maka tentulah engkau telah mengtahuiNya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu.” Karena engkau lebih mengetahui apa yang keluar dariku, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ini termasuk kesempurnaan adab Al-Masih dalam berdialog dengan RabbNya, di mana dia tidak menjawab, “ Aku tidak mengatakan apa pun.” Tetapi dia hany menympaikan ucapan yang menafikan dari dirinya bahwa dia mengucapkan ucapan ucapan tersebut yang bertentangan dengan kedudukanNya yang mulia. Dan bahwa ini termasuk perkara yang mustahil, dan dia menyuciakan Allah dari itu dengan kesempurnaan dan mengembalikan ilmuNya kepada Dzat yang mengetahui yang ghaid dan yang Nampak. Kemudian dia secara jelas menyebutkan apa yang di perintahkan kepada Bani Israil, “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa-apa yang Engkau perintahkan kepadaKu untuk mengatakanNya,” aku hanyalah hamba yang mengikuti dan aku tidak lancang terhadap kebesaranMu, “Sembahlah Allah, Tuhanku, dan TUhanmu.” Yakni aku tidak memerintahkan mereka kecuali dengan ibadah kepada Allah semata dan mengikhlaskan agama untukNya yang mengandung larangan untuk mengangkat diriku dan ibuku dua tuhan selain Allah dan penjelasan bahwa aku hanyalah seorang hamba, sebagaimana Allah adalah Rabbmu, Dia juga Rabbku. “Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.” Aku menjadi saksi atas orang yang menunaikan perkara ini dan yang tidak menunaikan. “Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka.” Yang mengetahui rahasia-raahasia dana pa yang mereka sembunyikan. “Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu,” dengan ilmu, pendengaran, dan penglihatan. IlmuMu meliputi segala sesuatu yang diketahui, pendengaranMu meliputi segala sesuatu yang didengar dan penglihatanMu meliputi segala sesuatu yang dilihat. Engkau membalas para hamba dengan kebaikan dan keburukan yang Engkau ketahui pada mereka. “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMU,” Engkau lebih menyayangi mereka daripada diri mereka sendiri dan Engkau lebih mengetahui keadaan mereka. Kalau mereka bukan hamba-hamba yang Bengal niscaya Engkau tidak menyiksa mereka. “Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Maksudnya, ampunanMu keluar dari kebijaksanaan dan kuasa yang sempurna, tidak seperti orang yang memaafkan dan mengampuni karena kelemahan dan ketidakmampuan. “Mahabijaksana,” di mana di antara kebijaksanaanNya adalah mengampuni orang yang melakukan sebab-sebab ampunan. “Allah berfirman,” menjelaskan keadaan hamba-hambaNya pada Hari Kiamat, siapa yang lulus dan siapa yang celaka, siapa yang berbahagia dan siapa yang sengsara, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” Orang-orang yang benar adalah orang-orang yang lurus dan petunjuk yang benar. Di Hari Kiamat mereka mendapatkan buah kebenaran ini jika Allah mendudukkan mereka di kursi kejujuran di sisi Maharaja Yang Maha Berkuasa. Oleh karena itu Allah berfirman, “Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadapNYa. Itulah keberuntungan yang paling besar.” Sementara itu orang-orang yang dusta adalah sebaliknya, mereka akan memikul mudarat kedustaan, kebohongan, dan buah amal mereka yang rusak. “Kepunyaan Allah-lah langit dan bumi.” Karena Dia-lah Penciptanya, yang mengatur dengan hukum takdirNya, hukum syar’iNya, dan hukum pembalasanNya. Oleh karena itu Dia berfirman, “Dan DIa Mahakuasa atas segala sesuatu.” Tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya, justru segala sesuatu tunduk kepada kehendakNya dan patuh kepada perintahNya

Tafsir Al-Wajiz
Buka

117. Aku tidak memerintahkan mereka dalam hal akidah dan peribadatan kecuali yang Engkau perintahkan kepadaku. Aku melihat dan menyaksikan perbuatan dan kondisi mereka, dan mencegah mereka untuk menentang perintahMu. Dan ketika Engkau membawaku kepadaMu dan mengangkatku menuju langit, Engkaulah yang melihat dan menyaksikan mereka. Engkaulah Dzat yang menyaksikan segala sesuatu, Tiada yang luput dariMu. Dan Engkau menyaksikanku ketika aku bersama mereka. Makna yang dominan tentang wafat disini, adalah naik ke langit, bukan mati

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Isa berkata, ”wahai tuhanku, aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau wahyukan kepadaku dan Engkau perintahkan aku untuk menyampaikannya, yaitu mengesakanMu dalam tauhid dan ibadah. dan aku terhadap apa yang mereka perbuat (ketika aku masih berada di tengah mereka) aku menjadi saksi atas mereka dan perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan mereka. Ketika Engkau sempurnakan ajalku di muka bumi dan Engkau angkat aku ke langit dalam keadaan hidup, Engkaulah yang mengawasi rahasia-rahasia batin mereka. Dan Engkau maha menyaksikan segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang samar atau tersembunyi bagiMu, baik di bumi maupun di langit.

Tafsir Al-Madinah
Buka

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

117. Isa berkata kepada Rabbnya, “Aku tidak pernah mengatakan sesuatu kepada manusia selain apa yang Engkau perintahkan kepadaku. Yaitu menyuruh mereka mengesakan-Mu dalam beribadah. Dan aku senantiasa mengawasi apa yang mereka ucapkan sepanjang aku berada di tengah-tengah mereka. Setelah Engkau menghentikan masa keberadaanku di tengah-tengah mereka dengan mengangkat-ku hidup-hidup ke atas langit, maka Engkaulah -wahai Rabbku- yang mengawasi amal perbuatan mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengawasan-Mu. Maka Engkau pasti mengetahui apa yang kukatakan kepada mereka dan apa yang mereka katakan sepeninggalku.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

117. (Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku) Berupa perintah untuk mentauhidkan Engkau dengan sifat ketuhanan-Mu dan beribadah kepada-Mu. (dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka) Yakni yang menjaga dan mengawasi keadaan mereka dan melarang mereka untuk melanggar perintah-Mu. (Maka setelah Engkau wafatkan aku) Yakni Engkau mengangkatku ke langit. Dan kata wafat di sini bukan berarti kematian, namun Isa tetap hidup di langit sebagaimana kehidupannya di bumi dahulu, sampai diturunkan kembali ke bumi di akhir zaman. Jadi maknanya adalah ketika Engkau mengangkatku ke langit. (Engkau-lah yang mengawasi mereka) Yakni Engkau yang menjaga, mengetahui, dan mengawasi mereka.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali sesuatu yang Engkau perintahkan kepadaku,“Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian.” Aku terhadap mereka adalah seorang saksi} pengawas {selama aku berada di tengah-tengah mereka} selama aku berdiri di tengah mereka {Setelah Engkau mewafatkan aku} setelah engkau menjagaku dan mengangkatku ke langit {Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-Ma’idah ayat 117: Engkau Maha Mengetahui, Mendengar dan Melihat segala sesuatu.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Yunus (10): Ayat 61 Rujukan #4
وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرَ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
wa mā takụnu fī sya`niw wa mā tatlụ min-hu ming qur`āniw wa lā ta’malụna min ‘amalin illā kunnā ‘alaikum syuhụdan iż tufīḍụna fīh, wa mā ya’zubu ‘ar rabbika mim miṡqāli żarratin fil-arḍi wa lā fis-samā`i wa lā aṣgara min żālika wa lā akbara illā fī kitābim mubīn
"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa kebanyakan manusia tidak pandai bersyukur, lalu dalam ayat ini ditegaskan bahwa seluruh perbuatan manusia selalu berada dalam pengawasan Allah. Dan tidaklah engkau Muhammad berada dalam suatu urusan apapun, baik duniawi maupun ukhrawi, dan kamu tidak membaca suatu ayat Al-Qur'an, baik yang panjang maupun yang pendek serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan apapun, baik ketaatan maupun kemaksiatan, melainkan kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak terlewatkan sedikit pun dari pengetahuan dan catatan tuhanmu melalui para malaikat-Nya, biarpun nilai perbuatan itu hanya sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata (lauh mahfudh). Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa apapun yang dikerjakan oleh manusia baik ketaatan maupun kemaksiatan, maka tidak sedikit pun terlewatkan dari pengetahuan tuhan, lalu pada ayat ini dijelaskan tentang kesudahan orang-orang yang selalu dalam ketaatan. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, yakni kekasih Allah tidak ada rasa takut, yakni kekhawatiran pada mereka terhadap apa yang akan mereka hadapi di akhirat dan mer.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT memberitahu NabiNya SAW bahwa Dia mengetahui semua keadaannya dan umatnya serta semua makhluk di setiap jam, menit, dan detiknya. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari pengetahuanNya bahkan seberat dzarrah dalam ukuran kecilnya di langit dan bumi, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih kecil atau lebih besar daripada itu, kecuali berada dalam kitab yang nyata. Sebagaimana firmanNya: (Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib: tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) (59)) (Surah Al-An'am) Allah memberitahukan bahwa ilmuNya mencakup gerakan pepohonan dan benda mati lainnya, demikian pula makhluk yang bergerak yang tercantum dalam firmanNya (Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu) (Surah Al-An’am) Maka ilmuNya meliputi gerakan semua benda ini, maka ilmuNya juga meliputi gerakan orang-orang mukallaf yang diperintahkan untuk beribadah. sebagaimana firmanNya: (Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (217) Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), (218) dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud (219)) (Surah Asy Suara) Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an, dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya) yaitu ketika kalian melakukan hal itu, Kami menyaksikan, melihat dan mendengar kalian.

Tafsir As-Sa'di
Buka

61. Allah mengabarkan tentang luasnya pengetahuan dan penglihatanNya terhadap segala keadaan manusia dalam gerakan dan diam mereka. Termasuk dalam pembahasan ini adalah dakwah pada muraqabahnya Allah secara terus-menerus, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan.” Yakni, keadaan diniyah dan duniawiyah “dan tidak membaca suatu ayat dari al-Quran.” Yakni apa yang kamu baca dari al-Quran yang Allah wahyukan kepadamu, “dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan”, besar atau kecil “melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” Yakni di waktu kamu memulai mengerjakannya dan dalam keadaan terus melakukannya, hendaknya kamu merasa Allah mengawasimu dalam perbuatanmu, maka lakukanlah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Jauhilah sesuatu yang dibenci Allah karena Dia melihat dan mengawasi lahir dan batinmu. “Dan tidak luput dari pengetahuan Rabbmu.” Yakni tidak ada yang samar dari ilmu, pendengaran, penglihatan dan pengawasan Allah, “biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang nyata (Lauh Mahfuzh).” IlmuNya telah mencakupnya dan penaNya telah mencatatnya. Kedua tingkatan ini adalah termasuk tingkatan qadha dan qadar yang sering Allah sandingkan yaitu ilmu yang meliputi segala sesuatu dan kitabah (tulisan) yang meliputi segala peristiwa, seperti FirmanNya " Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." (Al-Hajj:70).

Tafsir Al-Wajiz
Buka

61 Kamu tidak berada dalam keadaan ibadah atau dakwah dan juga tidak membaca ayat Al Quran wahai Muhammad. Kalian wahai manusia tidak mengerjakan suatu pekerjaan baik atau buruk, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar biji zarrah/atom di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) yaitu kitab yang memberi penjelasan

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Dan tidaklah kamu (wahai rasul), berada dalam suatu urusan dari urusan-urusanmu,dan tidaklah kamu membaca ayat-ayat dari kitabullah, dan tidaklah sesorang dari umat ini mengerjakan suatu perbuatan, yang baik maupun yang buruk, kecuali kami akan menjadi saksi baginya yang mengawasinya, ketika kalian memulainya dan mengerjakannya, kami akan memelihara itu bagi kalian dan memberikan balasan bagi kalian dengannya. Dan tidak ada sesuatu yang terlewat dari ilmu tuhanmu (wahai rasul) meski sebesar semut kecil yang ada di muka bumi maupun yang ada di langit, dan tidak pula sesuatu yang paling kecil maupun yang paling besar,kecuali sudah tertulis di dalam kitab di sisi Allah,jelas lagi terang. Yang telah diliputi oleh IlmuNya dan telah berjalan oleh penaNYa.

Tafsir Al-Madinah
Buka

61. Tidaklah segala yang terjadi pada urusanmu dan sedikit atau banyak ayat-ayat al-Qur’an yang kamu baca, hai Muhammad; dan kebaikan atau keburukan yang kalian kerjakan hai manusia; melainkan Kami menyaksikan amalan dan perkara yang kalian hadapi dengan perkataan dan perbuatan. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah sekecil apapun, baik itu di langit maupun di bumi. Dan tidak ada yang lebih kecil atau lebih besar melainkan telah tertulis jelas di sisi Allah.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

61. Setiap perkara yang engkau urus -wahai Rasul- dan setiap ayat Al-Qur`ān yang engkau baca, dan setiap amal perbuatan yang kalian kerjakan -wahai orang-orang mukmin- pasti Kami melihat, mengetahui dan mendengarkan kalian ketika kalian sedang menghadapi dan melakukannya. Tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun seberat żarrah (atom) di langit atau di bumi. Tidak juga yang lebih kecil dari itu atau lebih besar melainkan semuanya tercatat di dalam kitab yang jelas, yang memuat semua hal, baik kecil maupun besar.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

61. (Kamu tidak berada dalam suatu keadaan) Yakni suatu keadaan yang menimpamu. (dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran) Yakni dan al-Qur’an yang kamu baca dalam keadaan itu demi keadaan yang dibicarakan dalam al-Qur’an sehingga diketahui hukum hal tersebut. (dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan) Kalimat ini ditujukan bagi Rasulullah dan umatnya. (melainkan Kami menjadi saksi atasmu) Yakni Kami melihat dan mendengarmu. ( di waktu kamu melakukannya) Ketika kalian beranjak untuk mengatakan atau mengerjakannya. (Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah) Yakni dan tidaklah tersembunyi dari Allah meski itu sebesar zarrah, yakni sebesar semut merah. (Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu) Yakni dan tidak ada sesuatu yang lebih kecil atau lebih besar dari semut merah kecuali hal itu di sisi Allah. ((semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)) Lalu bagaimana hal itu akan tersembunyi dari-Nya. Dan tujuan dari ayat ini adalah sebagai bantahan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu secara detail.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Beberapa waktu dikabarkan bahwa salah satu pesawat luar angkasa perancis seketika hilang dalam perjalanan luar angkasa mereka, kabar ini seketika tersebar di media sosial, segala upaya dilakukan dalam rangka pencarian pesawat ini, kemanakah satelit-satrlit yang mereka buat dengan rancangannya yang begitu canggih ? dan kemanakah radar-radar pemancar yang mereka bangun dengan segala kemegahan yang terpasang di dalamnya? sesungguhnya mereka hanyalah manusia biasa sekalipun pencapaian yang telah mereka raih begitu tinggi dan sangat meyakinkan namun Allah tidak akan pernah luput bahwa mereka adalah makhluk yang hina dan kelemahan begitu besar dalam diri mereka, dan Allah telah memperlihatkan betapa ayat-ayat Nya lebih besar dan lebih agung dari apa yang telah mereka upayakan : { } "Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)".

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Kamu tidak berada dalam suatu urusan} salah satu perkara {tidak membaca suatu ayat} untuk perkara yang terjadi {dari Al-Qur’an dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi} pengawas {atas kalian ketika kalian melakukannya} ketika kalian kembali melakukannya {Tidak ada yang luput} luput {dari Tuhan kalian sedikit pun walaupun seberat zarah} seberat semut kecil {baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, kecuali dalam kitab yang nyata

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Yunus ayat 61: Dalam ayat ini, Alah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang perhatian dan pengawasan-Nya terhadap semua keadaan hamba baik geraknya mereka maupun diamnya. Dalam ayat ini terkandung ajakan untuk selalu merasakan pengawasan-Nya. Baik terkait dengan agama maupun dunia. Besar atau kecil. Oleh karena itu, hendaklah kamu selalu merasaka pengawasan Allah dalam semua amalmu, kerjakanlah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh serta jauhilah perkara yang dibenci Allah, karena Dia mengetahui keadaanmu zahir (lahir) maupun batin. Oleh karena itu, segala sesuatu telah diketahui oleh Allah dan telah dicatat-Nya dalam Lauh Mahfuzh, di samping telah dikehendaki dan diciptakan-Nya. Namun demikian, apa yang dikehendaki-Nya terjadi tidak mesti perkara tersebut dicintai Allah, yang dicintai Allah adalah apabila sejalan dengan syari’at-Nya.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Ar-Ra'd (13): Ayat 9 Rujukan #5
عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلْكَبِيرُ ٱلْمُتَعَالِ
‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-kabīrul-muta’āl
"Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Allah adalah tuhan yang maha mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; dia adalah tuhan yang mahabesar, mahatinggi. Karena dia mengetahui yang gaib dan yang nyata, maka sama saja bagi Allah, siapa di antaramu yang mencoba merahasiakan ucapannya sehingga tidak diketahui orang lain, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan-Nya; dan sama mudahnya bagi-Nya untuk tahu siapa di antara kamu yang bersembunyi pada malam hari sehingga tidak diketahui orang lain, dan yang berjalan pada siang hari sehingga disaksikan orang lain.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 8-9 Allah SWT memberitahukan tentang kesempurnaan ilmuNya yang tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya, dan Dia meliputi apa yang ada dalam kandungan semua makhluk betina. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim) (Surah Luqman: 34) yaitu apa yang dikandung baerupa laki-laki atau perempuan, bagus atau jelek, celaka atau bahagia, berumur panjang atau pendek, sebagaimana firman Allah SWT: (Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) kalian ketika Dia menjadikan kalian dari tanah dan ketika kalian masih janin) (Surah An-Najm: 32) Terkait firman Allah: (dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah) diriayatkan dari Ibnu Umar bahwa bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Kunci-kunci hal ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, yaitu: Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi besok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang terkandung di dalam rahim kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui jika hujan turun kecuali Allah, dan seseorang tidak mengetahui di negeri mana dia akan mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan kiamat terjadi kecuali Allah” Qatadah berkata tentang firmanNya: (Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya) yaitu dengan ajalnya. Allah mencatat rezeki dan ajal makhlukNya, dan menjadikan hal itu ada batasan yang diketahui. Firman Allah: (Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang tampak) yaitu, Allah mengetahui segala sesuatu yang disaksikan oleh hamba-hambaNya hal yang ghaib oleh mereka, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya (Yang Maha Besar) yaitu Dzat yang Maha Besar atas segala sesuatu (lagi Maha Tinggi) yaitu atas segala sesuatu (ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu) dan berkuasa atas segala sesuatu. Maka tunduklah kepada­Nya semua diri dan semua hamba, baik dengan sukarela atau terpaksa

Tafsir As-Sa'di
Buka

8-9. Allah memberitahukan tentang cakupan ilmuNya yang merata dan luasnya pengetahuan dan penguasaanNya yang meliputi segala sesuatu, Dia berfirman, “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan,” baik pada kalangan anak Adam dan lainnya “dan kandungan Rahim yang kurang sempurna,” yang mengalami penyusutan apa yang ada di dalamnya, baik kandungannya rusak atau mengecil ataupun mengerut, “dan (kandungan Rahim) yang bertambah,” pada Rahim-rahim wanita, dan (proses) besarnya janin di dalamnya. “Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya,” tidak maju maupun mundur, tidak bertambah ataupun berkurang kecuali berdasarkan tuntutan hikmah dan ilmuNya. Maka sesungguhnya Allah "mahamengetahui segala yang ghaib dan Nampak dan maha besar" pada dzat-nya. Nama dan sifat Nya, "yang maha tinggi" atas seluruh makhlukNya dengan dzat, kekuasaan dan kekuatanNya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

9. Allah SWT adalah Dzat yang Maha Mengetahui perkara yang tampak dan perkara ghaib yang tidak dapat dilihat, Maha Agung urursanNya dan Maha Tinggi atas segala sesuatu dengan kuasa dan kewenanganNya

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Allah maha mengetahui apa-apa yang samar dari pandangan mata (manusia) dan juga apa-apa yanag (nyata), yang Maha besar DzatNya, Nama-nama dan sifat-sifatNya, yang juga mahatinggi di atas semua makhlukNya dengan Dzat, kuasa dan kekuasaanNya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

9. Karena Allah -Subḥānahu- mengetahui apa yang gaib dari panca indra manusia, dan mengetahui apa yang diketahui oleh indra mereka, Mahagung pada sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan-perbuatan-Nya, Mahatinggi atas seluruh makhluk dengan Zat dan sifat-sifat-Nya.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

9. (Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak) Maha Mengetahui segala yang ghaib dan segala yang nampak, atau segala yang tidak ada dan yang ada. (Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi) Yang Maha Agung, diatas segala sesuatu dengan kuasa dan kebesaran-Nya.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Dzat yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata. Dzat Yang Maha besar lagi Maha tinggi} Dzat yang Maha tinggi atas segala sesuatu dengan Dzaat dan segala sifatNya

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Makna ayat : Firman-Nya : ( ) segala sesuatu berupa ciptaan yang tidak tampak dan yang bisa dilihat . yaitu: Maha Mengetahui segala sesuatu. Firman-Nya : ( ) Yang tidak ada lebih besar dari-Nya, setiap yang besar dihadapan-Nya adalah kecil, Maha Tinggi dari makhluk-Nya, Maha Suci dari sekutu, peniru, istri, dan anak, inilah Allah, dan inilah sifat-sifat-Nya, maka apakah seorang yang berakal akan menolak hak-Nya untuk hanya beribadah kepada-Nya? Apakah pantas orang yang berakal mengingkari wahyu-Nya kepada yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya? Apakah pantas seorang yang berakal mengingkari Dzat yang memiliki kemampuan dan ilmu yang seperti ini untuk menghidupkan manusia setelah mereka mati untuk bertanya tentang penghasilan mereka, menghisab mereka, dan membalas mereka? Sekali-kali tidak, jadi orang-orang yang mengingkari Allah; apa yang diserukan kepada mereka berupa iman kepada-Nya, tidak dihitung sebagai orang berakal, sekalipun mereka terbang di langit atau menyelam di air.

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Ar-Ra’d ayat 9: Baik dzat-Nya, nama-Nya maupun sifat-Nya. Di atas seluruh makhluk-Nya, baik dzat-Nya, kedudukan dan kekuasaan-Nya, serta tinggi dari semua sifat kekurangan.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Al-Ahzab (33): Ayat 52 Rujukan #6
لَّا يَحِلُّ لَكَ ٱلنِّسَآءُ مِنۢ بَعْدُ وَلَآ أَن تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَٰجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ رَّقِيبًا
lā yaḥillu lakan-nisā`u mim ba’du wa lā an tabaddala bihinna min azwājiw walau a’jabaka ḥusnuhunna illā mā malakat yamīnuk, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`ir raqībā
"Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Ketika ayat ini turun, nabi mempunyai sembilan istri, yaitu '''isyah, 'af'ah, zainab, ummu salamah, ummu 'ab'bah, maim'nah, saudah, 'afiyyah, dan juwairiyah. Allah memberi nabi kekhususan hukum dalam hal relasi suami-istri, tetapi dia juga memberi batasan dalam pernikahan nabi. Tidak halal bagimu, wahai nabi Muhammad, menikahi perempuan-perempuan lain setelah itu, yakni selain yang sudah hidup bersamamu saat ayat ini turun, dan tidak boleh pula bagimu menceraikan lalu mengganti mereka dengan istri-istri yang lain, meskipun kecantikannya menarik hatimu, kecuali perempuan-perempuan hamba sahaya yang engkau miliki. Dan Allah maha mengawasi segala sesuatu di mana dan kapan pun untuk kebaikan alam semesta. 53. Saat nabi merayakan pernikahan dengan zainab binti ja'sy, beliau mengundang tamu untuk mencicipi hidangan walimah. Di antara tamu-tamu itu, ada tiga orang yang terlalu asyik dan lama berbincang karena merasa betah di kediaman rasulullah. Melalui ayat berikut Allah menjelaskan etika berkunjung ke rumah nabi. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi sambil menunggu-nunggu waktu makan rasulullah, kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu makanannya masak. Tetapi, jika kamu dipanggil maka masuklah, dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu dari kediaman nabi tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu, yakni berlama-lama di rumah beliau, adalah mengganggu nabi, sehingga dia malu kepadamu untuk memintamu pulang, dan Allah tidak malu menerangkan hal yang benar.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Banyak ulama seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Adh-Dhahhak, Qatadah, Ibnu Zaid, Ibnu Jarir dan lainnya, bahwa ayat ini diturunkan tentang balasan dan ridha kepada istri-istri Nabi SAW karena sikap mereka yang baik yaitu lebih memilih Allah, Rasulallah dan akhirat ketika Rasulallah SAW meminta mereka untuk memilih, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat ini. Setelah mereka memilih Rasulullah SAW, maka sebagai balasan mereka adalah Allah membatasi beliau hanya dengan mereka, dan mengharamkan bagi beliau mengawini dengan yang lain, atau menggantikan mereka dengan istri yang lain, sekalipun kecantikan wanita lain itu lebih menakjubkan, kecuali budak-budak perempuan dan para tawanan wanita, maka tidak ada dosa bagi beliau terhadap mereka. Kemudian Allah SWT mengangkat dosa bagi beliau dalam hal itu dan menasakh hukum ayat ini, serta membolehkan beliau untuk menikah lagi. Tetapi Nabi SAW tidak menikah lagi setelahnya, agar hal ini menjadi karunia Rasulullah SAW kepada istri-istri beliau. Ulama lainnya berkata bahkan makna ayat ini: (Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu) yaitu setelah Kami jelaskan kepadamu tentang wanita-wanita yang Kami halalkan bagimu di antara wanita-wanita yang telah kamu beri mahar mereka, budak perempuan yang kamu miliki, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki dan perempuan ayahmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki dan perempuan ibumu, dan wanita-wanita yang menyerahkan diri kepadamu, sedangkan wanita selain itu tidak dihalalkan bagimu. Demikianlah ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Mujahid dalam suatu riwayat darinya, serta Qatadah dalam suatu riwayat, dan ulama’ selain mereka. Allah SWT berfirman: (Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mahar mereka) sampai firmanNya: (sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin) (Surah Al-Ahzab: 50) dan mengharamkan bagimu wanita-wanita selain itu. Mujahid berkata tentang firmanNya: (Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu) yaitu setelah disebutkan kepadamu baik wanita muslimah, wanita Yahudi, wanita Nasrani, atau wanita Kafir. Ikrimah berkata tentang firmanNya: (Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu) yaitu yang telah disebutkan Allah. Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini mencakup berbagai macam wanita yang telah disebutkan sebelumnya dan mereka ada sembilan orang. Pendapat yang dia katakan ini baik. Barangkali hal itu maksudnya banyak dari riwayat yang telah kami kemukakan dari sejumlah ulama salaf. Karena sesungguhnya kebanyakan dari mereka telah meriwayatkan pendapat ini dan pendapat itu, yang tidak bertentangan. Hanya Allah yang lebih Mengetahui. Firman Allah SWT: (dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu) Maka Allah SWT melarang Nabi SAW dari menambah istri seandainya beliau menceraikan salah seorang dari mereka, lalu menggantikannya dengan istri lain, kecuali hamba sahaya yang beliau miliki.

Tafsir As-Sa'di
Buka

52. Ini adalah kesyukuran dari Allah yang senantiasa Maha Mensyukuri, untuk istri-istri RasulNya yang mana mereka lebih memilih Allah, RasulNya dan negeri akhirat, yaitu dalam bentuk Allah berbelas-kasih kepada mereka dan membatasi RasulNya untuk beristrikan mereka saja, seraya berfirman, “Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah,” istri-istrimu yang ada, “dan tidak boleh pula mengganti mereka dengan istri-istri yang lain,” maksudnya, jangan pula kamu menceraikan salah satu dari mereka lalu mengawini yang lain sebagai gantinya. sehingga terjadilah rasa aman mereka, dari bahaya dan perceraian. Hal ini karena Allah telah menetapkan bahwa mereka adalah istri-istrinya di dunia dan akhirat, tidak boleh terjadi perceraian antara Nabi dengan mereka. “Meskipun kecantikannya menarik hatimu,” maksudnya, kecantikan selain mereka lebih menawan hatimu, maka tetap tidak halal bagimu, “kecuali hamba sahaya yang kamu miliki” yaitu, wanita-wanita tawanan perang, maka hal ini halal bagimu. Sebab, wanita-wanita budak sahaya dalam (sudut pandang) ketidaksukaan istri padanya tidaklah sama kedudukannya dengan istri-istri yang sebenarnya dalam mengganggu. “Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu,” maksudnya, Dia selalu mengawasi segala permasalahan, mengetahui bagaimana berakhirnya permasalahan itu, Dia selalu mengurusinya dengan aturan yang tersempurna dan kerapian yang paling baik.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

52. Tidak halal bagimu menikahi lebih dari sembilan perempuan yang telah Kami pilihkan untukmu wahai Nabi. Itu sudah sesuai sebagaimana empat bagi orang mukmin. Kamu juga tidak dihalalkan mengganti istri-istrimu itu dengan perempuan baru lainnya, dengan cara engkau mentalak beberapa atau semua istrimu kemudian engkau mengganti mereka dengan perempuan baru, meskipun lebih cantik menurutmu. Ini merupakan batasan bagi nabi namun diperbolehkan bagi ummatnya. Kecuali para sahaya yang engkau punyai dan engkau kehendaki, halal bagimu untuk menambahnya. Selain sembilan istri itu Nabi memiliki sahaya Mariah Alqibtiyah yang dihadiahkan oleh Almuqauqis, dari rahimnya Nabi mempunyai putera Ibrahim yang meninggal saat masih disusui. Allah Maha Mengawasi dan Memperhatikan atas segala sesuatu. Min dalam azwaj mengandung arti umum yang menafikan kata sesudahnya. Ikrimah berkata: Ketika Rasul telah memilih istrinya, maka mereka para istri sejatinya memilih Allah dan rasul-Nya. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Tidak halal bagimu menikahi wanita lain setelah para istrimu Ummahatul Mukminin, tidak halal juga bagimu untuk mentalak mereka dan menikah dengan selain mereka sebagai pengganti mereka. (Hal ini sebagai penghargaan kepada Ummahatul Mukminin dan ungkapan terima kasih atas kebaikan mereka selama ini yang telah memilih Allah, RasulNya dan akhirat), sekalipun kamu mengagumi kecantikan wanita lain tersebut, kecuali hamba-hamba sahaya wanita yang kamu miliki, mereka halal bagimu. Allah Maha Mengawasi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

52. Hai Nabi, tidak boleh bagimu kembali menikah setelah kamu memiliki sembilan istri itu, dan tidak boleh bagimu mengganti mereka dengan wanita lain dengan mencerai salah satu dari mereka kemudian menikahi wanita lainnya, meskipun kecantikan wanita itu membuatmu takjub; kecuali dengan budak wanita, maka itu tidak mengapa. Allah Maha Mengetahui keridhaan kepada Allah yang ada dalam hati kalian. Allah Maha Mengawasi dan Mengetahui segala urusan, dan Allah mengaturnya dengan sebaik-baiknya.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

52. Tidak diperbolehkan bagimu -wahai Rasul- untuk menikahi wanita-wanita selain istri-istrimu yang berada di dalam tanggunganmu, dan tidak diperbolehkan bagimu untuk menceraikan mereka, atau menceraikan sebagian dari mereka agar kamu menggantinya dengan wanita-wanita selain mereka, meski kecantikan wanita selain istri-istrimu yang ingin kamu nikahi itu menarik bagimu. Akan tetapi diperbolehkan bagimu untuk bersenang-senang dengan hamba sahayamu yang perempuan tanpa batasan jumlah. Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. Ketentuan ini menunjukkan keutamaan ummahatul mukminin, sebab Allah melarang Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menceraikan mereka maupun menikah dengan cara menggantikan mereka dengan yang lain.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

52. (Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu) Lewat ayat ini Allah mengharamkan Rasulullah untuk menikahi wanita lain selain istri-istri yang telah ia nikahi itu sebagai balasan bagi mereka yang telah memilih Allah, Rasulullah, dan hari akhir daripada kehidupan dunia dan perhiasannya. (dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain)) Yakni tidak boleh bagimu menceraikan salah satu dari mereka atau lebih kemudian menikahi wanita lainnya sebagai gantinya. (meskipun kecantikannya menarik hatimu) Meski kecantikan wanita yang ingin kamu jadikan pengganti istrimu itu menarik hatimu. (kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki) Yakni boleh bagimu mengganti mereka dengan budak wanita yang kamu miliki atau menambah istrimu dengan mereka. Aisyah dan sebagian sahabat berkata: “tidaklah Rasulullah meninggal dunia sampai Allah menghalalkan baginya untuk menikahi wanita mana saja yang beliau kehendaki kecuali wanita yang memiliki mahram dengannya.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Tidak halal bagimu menikahi perempuan-perempuan (lain) setelah itu} setelah (menikahi) Sembilan perempuan yang telah kamu pilih dan mereka memilihmu {dan tidak boleh mengganti mereka dengan istri-istri (lain)} dan kamu tidak boleh menalak salah satu di antara mereka lalu mengganti tempatnya dengan menikahi perempuan lain {meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Allah Maha Mengawasi segala sesuatu} Maha Menjaga lagi Maha Mengawasi

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Ini adalah syukur dari Allah yang senantiasa mensyukuri istri-istri Rasul-Nya radhiyallahu 'anhun karena mereka lebih memilih Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat, Dia merahmati mereka dan membatasi Rasul-Nya dengan istri-istri itu saja. Dengan demikian mereka aman dari ditalak, karena Allah telah menetapkan bahwa mereka adalah istri-istri Beliau di dunia dan akhirat, dan Beliau dengan mereka tidak akan berpisah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dibolehkan kawin setelh mempunyai istri-istri sebanyak yang telah ada itu dan tidak pula dibolehkan mengganti istri-istrinya yang telah ada itu dengan menikahi perempuan lain. Setelah istri-istri itu, Beliau memiliki budak bernama Mariyah, yang darinya lahir anaknya Ibrahim, dan wafat pada saat Beliau masih hidup. Dia mengawasi segala urusan, mengetahui akibatnya dan mengurusnya secara sempurna dan rapi.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat Al-Ahzab ayat 52: Dihalalkan bagimu wahai Nabi untuk menahan istri-istrimu yang bersama denganmu, dan tidak halal bagimu untuk mentalak salah satu di antara mereka untuk menikah dengan selain dari mereka, meskipun engkau merasa takjub dengan selain mereka kecuali bagi hamba sahaya, maka halal bagimu. Sungguh Allah Maha mengawasi segala sesuatu.