Indikator 37: Anggaran, Estimasi, Perincian, Rekapitulasi, Pencatatan
Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya terhadap sesuatu yang bersifat material dan berada di bumi, kini dijelaskan tentang benda-benda langit. Dia menyingsingkan pagi agar aneka makhluk dapat melakukan berbagai aktivitas, dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan beredar dengan ketelitian yang amat mengagumkan yang berguna sebagai dasar untuk perhitungan bulan dan tahun. Itulah ketetapan Allah yang mahaperkasa, maha mengetah fungsi matahari dan bulan telah diuraikan pada ayat di atas, selanjutnya fungsi bintang diuraikan pada ayat ini. Dan dialah Allah yang menjadikan bintang-bintang yang memancarkan cahaya bagimu, dengan tujuan antara lain agar kamu menjadikannya petunjuk arah dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan secara rinci tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan kami kepada orang-orang yang mengetahui.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 95-97 Allah SWT memberitahukan bahwa Dia adalah Dzat membelah biji-bijian dan bibit, yakni Dia membelahnya di dalam tanah, lalu tumbuhlah dari biji-bijian itu bermacam-macam tanaman, berupa biji-bijian dan buah-buahan yang beragam warna, bentuk, dan rasanya. Oleh karena itu Allah berfirman: (menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan) dijelaskan dengan firmanNya (Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati) yaitu Dia mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang hidup dari biji dan bibit yang seakan-akan hal itu adalah benda mati. Sebagaimana firmanNya: (Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan (33)) sampai dengan firmanNya: (dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui) (Surah Yasin: 33-36) Firman Allah: (Dan Dia mengeluarkan yang mati dari yang hidup) ma’thuf kepada (menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan) Kemudian menjelaskannya, lalu ma’thuf kepadanya firmanNya (Dan Dia mengeluarkan yang mati dari yang hidup) Mereka memberikan ungkapan tentang hal ini dan itu, dengan ungkapan-ungkapan yang semuanya saling berdekatan maknanya. Di antara mereka ada yang berkata,”Ayam dikeluarkan dari telur, dan sebaliknya” ada pula yang berkata,”Anak yang shaleh dilahirkan dari orang yang durhaka dan sebaliknya” dan hal lainnya dari ungkapan-ungkapan yang terkandung dalam ayat ini. Kemudian Allah berfirman: ((Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah) yaitu Dzat yang melakukan ini hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya (maka mengapa kalian masih berpaling?) yaitu Bagaimana bisa kalian berpaling dan menyimpang dari kebenaran darinya menuju kebathilan, lalu kalian menyembah Dia bersama yang lain? Firman Allah: (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat) Dia adalah Dzat yang menciptakan cahaya dan kegelapan, sebagaimana Dia berfirman di awal surah: (dan mengadakan gelap dan terang) (Surah Al-An'am: 1) Dialah Dzat Yang Maha Suci menyingsingkan kegelapan malam di permulaan pagi, sehingga alam menjadi terang, dan cakrawala menjadi terang. Kegelapan malam hilang berangsur-angsur, lalu datanglah siang dengan sinarnya yang terang. Sebagaimana firmanNya: (Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat) (Surah Al-A'raf: 54) Allah SWT menjelaskan kekuasaanNya dalam menciptakan segala sesuatu yang saling bertentangan dan berbeda-beda, yang menunjukkan kesempurnaan dari keagunganNya dan kebesaran kekuasaanNya. Lalu Allah menyebutkan bahwa Dia adalah Dzat yang menyingsingkan pagi dan hal yang bertentangan dengan itu, dalam firmanNya (dan menjadikan malam untuk beristirahat) yaitu sunyi dan gelap agar segala sesuatu beristirahat ketika itu, sebagaimana Allah berfirman: (Demi waktu matahari sepenggalan naik (1) dan demi malam apabila telah sunyi (2)) (Surah Adh-Dhuha) dan (Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1) dan siang apabila terang-benderang (2)) (Surah Al-Lail) serta (dan siang apabila menampakkannya (3) dan malam apabila menutupinya (4)) (Surah Asy-Syams) Firman Allah SWT: (dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan) yaitu keduanya beredar sesuai perhitungan yang pasti, stabil, tidak berubah, dan tidak kacau, melainkan masing-masing dari keduanya mempunyai garis edar yang dilewati oleh keduanya di musim panas dan musim dingin. Berdasarkan hal itu, maka berbedalah panjang dan pendek dari malam dan siang hari. Sebagaimana Allah berfirman: (Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya garis-garis edar bagi perjalanan bulan itu) (Surah Yunus: 5) dan (Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40)) (Surah Yasin) serta (dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang; (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya) (Surah Al-A'raf: 54) Firman Allah: (Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui) yaitu semuanya beredar sesuai pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa yang tidak ada yang bisa menghalangi dan menentangNya. Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari pengetahuanNya bahkan sebesar dzarrah, baik di bumi dan di langit. Seringkali ketika Allah menyebutkan tentang penciptaan malam, siang, matahari, dan bulan, Dia mengakhiri firmanNya dengan menyebut sifat keagungan dan kemahatahuan, sebagaimana Allah menyebutkan di dalam ayat ini, dan sebagaimana Dia menyebutkan dalam firmanNya: (Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu. maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan (37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui (38)) (Surah Yasin) ketika Allah menyebutkan penciptaan langit dan bumi serta sesuatu yang ada pada keduanya, yaitu pada permulaan surah As-Sajdah: (Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui) (Surah Fushshilat: 12) Firman Allah SWT: (Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagi kalian, agar kalian menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut) Sebagian ulama salaf berkata,"Siapa saja yang mempunyai keyakinan terhadap bintang-bintang ini selain dari tiga hal, maka dia keliru dan mendustakan Allah SWT yaitu bahwa Allah menjadikannya sebagai hiasan bagi langit dan sebagai sesuatu untuk merajam setan-setan serta petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut" Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran) yaitu Kami menjelaskan dan menerangkan hal itu (kepada orang-orang yang mengetahui) yaitu orang-orang yang berpikir dan mengetahui kebenaran serta menjauhi kebathilan
Tafsir As-Sa'di
Buka
96. dan ketika Allah menyebutkan bahan penciptaan makanan pokok, mana dia juga menyebutkan nikmatNya dengan menyediakan tempat tinggal, dan dia menciptakan cahaya dan kegelapan yang di butuhkan oleh hamba dan manfaat serta maslahatnya. Dia berfirman, “dia menyisingkan pagi,” sebagiamana dia menumbuhkan biji-bijian, maka dia juga membelah kegelapan malam yang menyelimuti permukaan bumi dengan cahay pagi yang melenyapkanNya sedikit demi sedikit cahaya yang menyebar. Dengan pengganti masa tersebut, manusia beraktifitas dalam maslahat dan kehidupan, dan dalam kemanfaatan agama dan dunia mereka. Ketika manusia membutuhkan ketenangan dan ketentraman, serta istirahat yang tidak terjadi kecuali adanya siang dan cahaya, maka “Dia menjadikan” malam untuk beristirahat. Manusia beristirahat di rumah-rumah dan tempat tidur mereka di malam hari, ternak ke kangdangnya, burung ke sarangNya, maka masing-masing mengambil istirahatnya. Kemudian Allah menggangtikan dengan cahaya, dan begitulah seterusnya sampai Hari Kiamat. “Dan Allah” meenjadikan “matarhari dan bulan untuk perhitungan.” Dengan keduanya di ketahui waktu dan masa. Dengan itu waktu-waktu ibadah dan muamalah dipatok, lalu yang mana kalau bukan karena matahari, rembulan, dan pergantian kepada perintahkeduanya silih berganti, niscaya orang-orang tidak mengetahuinya hanyalah beberapa orang, itu pun setelah upaya yang keras yang karenanya ada kemaslahatan yang tidak tercapai. “Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui.” Yang mana diantara keperkasaanNya tunduknya mahkluk yang besar ini, maka ia pun berjalan dengan tunduk dan patuh kepada perintahNya, yang mana ia tidak lemapui batasan yang diletakkan oleh Allah, tidak maju dan tidak mundur darinya. Dia Maha Mengetahui, di mana ilmuNya meliputi yang lahir, yang batin yang pertama dan yang terakhir. Di antara dalil aqli atas keluasan ilmuNya adalah pengendalian mahkluk-makhluk yang besar ini dengan tatanan dan aturan yang konkret yang mencenggangkan akal dalam kebaikan, kesempurnaan, dan kesesuaian dengan kemaslahatan dan hikmah.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
96. Allah jugalah Dzat yang menyingsingkan kegelapan pagidengan cahaya siang, dan membuat malam sebagai tempat untuk beristirahat, dimana manusia berhenti dari aktifitas dan hal yang melelahkan. Dia juga membuat matahari dan bulan sebagai tempat (atau media) untuk menghitung waktu, yang mana hal itu sangat berhubungan dengan kebaikan para hamba. Sistem yang telah disebutkan itu adalah kekuasaan Dzat yang Maha Kuat di kerajanNya, dan Dzat yang Maha Mengetahui ciptaanNya, sehingga Dia membuat aturan yang penuh hikmah ini
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Allah , Dial ah yang membelah cahaya pagi dari kegelapan malam, dan menjadikan malam menjadi masa istirahat di mana tiap-tiap yang bergerak yang berdiam diri dan tenang pada waktu tersebut mengambil bagian waktu istirahatnya. Dan Dia menjadikan matahari dan bulan berjalan pada porosnya dengan dasar perhitungan yang sangat rapi lagi telah ditentukan. Perhitungan yang tidak berubah-ubah dan tidak berantakan. Itu adalah ketentuan Dzat yang Maha perkasa yang sangat kokoh kerajaanNya, Maha mengetahui segenap kemaslahatan makhlukNya dan pengaturan urusan-urusan mereka. Al-Aziz dan Al-Alim termasuk nama Allah yang paling baik yang menunjukan kesempurnaan keperkasaan dan ilmuNya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
96. Kemudian Allah menjelaskan dengan ayat yang lain dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan-Nya. Allah yang menyingkap cahaya pagi dari kegelapan malam, menjadikan malam sebagai waktu istirahat bagi makhluk hidup setelah lelah beraktivitas di siang hari dan sebagai penenang jiwa dan raga mereka. Dan menjadikan matahari dan bulan beredar dengan perhitungan agar manusia dapat mengetahui waktu darinya, seperti mengetahui waktu melaksanakan ibadah dan pekerjaan dan waktu menunaikan kewajiban; ini merupakan perhitungan dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam mengatur maslahat makhluk-makhluk-Nya.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
96. Dan Dia pulalah yang membelah cahaya pagi dari gelapnya malam. Dia lah yang menjadikan malam sebagai waktu istirahat yang manusia berhenti melakukan kesibukan mencari rezeki untuk beristirahat dari penatnya kerja di siang hari. Dan Dia lah yang menjadikan matahari dan bulan berjalan menurut perhitungan yang telah Dia tetapkan. Keajaiban ciptaan tersebut merupakan ketentuan yang dibuat oleh Rabb Yang Maha Perkasa yang tidak terkalahkan oleh siapa pun lagi Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
96. (Dia menyingsingkan pagi) Yakni yang membelah kegelapan pagi. Yakni yang menyingsing sisa-sisa kegelapan malam dengan kecerahan siang. (dan menjadikan malam untuk beristirat) Yakni agar manusia dapat menentramkan diri dari kegiatan mencari penghidupan (mata pencaharian) mereka, dan beristirahat dari kelelahan dan keletihan. (dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan) Yakni menjadikan keduanya untuk objek perhitungan hari, yang berhubungan dengan maslahat manusia, karena peredarannya telah terukur, tidak bertambah setelah berlalunya masa yang panjang dan tidak berkurang. Hal itu dijadikan agar menjadi penunjuk hamba-hamba-Nya pada besarnya kekuasaan-Nya dan hebatnya penciptaan-Nya. (Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui) Dan termasuk dari pengetahuannya adalah menjadikan peredaran matahari dan bulan dengan pengaturan yang sedemikian teratur.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
95-96 { } "Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan", { } "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat" az-Zujaj berkata : "jika kita memperhatikan alam semesta ini, akan jelas bagi kita bahwasanya sebagian besar darinya terbentuk dengan pembelahan : seperti bumi yang terbelah dengan tumubuh-tumbuhan, dan awan yang terbelah dengan hujan.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Dzat yang menyingsingkan pagi} memecah kegelapan malam dengan cahaya {dan menjadikan malam untuk beristirahat, serta matahari dan bulan untuk perhitungan} untuk melakukan perhitunagn yang ditentukan {Itulah ketetapan Allah Yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-An’am ayat 96: Sehingga hari semakin terang, dan manusia dapat melakukan berbagai aktivitas. Ada pula yang mengartikan, bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dengan matahari dan bulan dapat diketahui waktu, baik waktu beribadah maupun waktu bermu’amalah. Di mana dengan keperkasaan-Nya, semua makhluk tunduk kepada-Nya dan tidak berjalan melebihi batas yang Allah tetapkan. Ilmu-Nya meliputi yang nampak maupun yang tersembunyi, yang awal maupun yang akhir. Di antara dalil ‘aqli yang menunjukkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu adalah dengan diatur-Nya makhluk-makhluk yang besar dengan pengaturan yang indah, di mana hal ini membuat kita takjub karena begitu indahnya, begitu sempurnanya dan begitu sesuainya dengan maslahat dan hikmah.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Selain menciptakan langit dan bumi sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan-Nya, dialah yang menjadikan matahari bersinar sangat terang yang menghasilkan kehangatan untuk alam raya dengan energi dari dirinya sendiri dan bulan bercahaya karena pantulan energi dari matahari, dan dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, yakni tempat peredaran perjalanan bumi mengitari matahari dan bulan mengitari bumi agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan hal yang demikian sempurna itu melainkan dengan benar, yakni dengan hikmah yang besar. Melalui penciptaan tersebut, dia menjelaskan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui, yakni yang mau mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah di alam raya ini. Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada benda apa saja yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, yakni benda cair maupun padat, semilirnya angin maupun dahsyatnya petir dan halilintar, pasti terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang bertakwa, yakni orang yang berha-ti-hati agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan supaya terhindar dari siksa Allah akibat kesesatan tersebut.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 5-6 Allah SWT memberitahukan tentang apa yang telah Dia ciptakan itu merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaanNya dan kebesaran kuasaNya. Dia menjadikan sinar yang timbul dari matahari sebagai penerangan dan menjadikan bulan bercahaya. Ini adalah sebuah bentuk kesenian dan itu adalah kesenian lainnya, agar keduanya saling berbeda, agar tidak serupa. Dia menjadikan peran matahari di siang hari dan peran bulan di malam hari. Dia menetapkan tempat-tempat edar untuk bulan. Pada mulanya bulan itu tampak kecil, lalu bertambah besar cahaya dan bentuknya hingga menjadi bulan penuh pada malam purnama. Kemudian berkurang sedikit hingga kembali kepada keadaan semula pada akhir bulan. sebagaimana firmanNya: (Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (39) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40)) (Surah Yasin) dan (dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan) (Surah Al-An'am: 96) Allah SWT berfirman dalam ayat yang mulia ini (dan Dia telah menetapkan baginya) yaitu bulan (manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)) Dengan matahari diketahui hari-hari, dan dengan perjalanan bulan dapat diketahui bulan-bulan dan tahun. (Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak) yaitu Allah tidak menciptakan hal itu dengan sia-sia melainkan Dia mempunyai kebijaksanaan yang agung dalam penciptaanNya, dan hujjah yang jelas, sebagaimana firman Allah SWT: (Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka (27)) (Surah Shad) Firman Allah: (Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)) yaitu Dia menjelaskan hujjah dan dalil-dalil: (kepada orang-orang yang mengetahui) Firman Allah: (Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu) yaitu saling bergantian antara keduanya. Jika yang satu datang, maka yang lainnya pergi; dan sebaliknya, dan tidak telat sedikit pun, sebagaimana firman Allah SWT: (Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat) (Surah Al-A'raf: 54) dan (Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan) (Surah Yasin: 40). Firman Allah: (dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi) yaitu ayat-ayat yang menunjukkan keagungan Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi) (Surah Yusuf: 105). dan (Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (101)) (Surah Yunus) serta (Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190)) (Surah Ali Imran) yaitu berakal. Di sini Allah berfirman: (benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa) yaitu hukuman, kemurkaan dan siksa Allah.
Tafsir As-Sa'di
Buka
5-6. ketika Allah menetapkan rububiyah dan uluhiyahNya,maka Dia menjelaskan dalil-dalil aqli dan ufuki yang menunjukkan hal itu, dan menunjukkan kesempurnaanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, berupa matahari, rembulan, langit dan bumi serta segala sesuatu yang Dia ciptakan padanya dalam bentuk berbagai macam makhluk, lalu Dia menyatakan bahwa itu adalah tanda-tanda kebesaranNya “bagi kaum yang mengetahui”, dan “bagi kaum yang bertakwa.” Sesungguhnya ilmu membimbing kepada pengetahuan tentang indikasi padanya dan bagaimana mengambil kesimpulan dari indikasi tersebut dengan jalan yang paling mudah. Takwa memunculkan keinginan di dalam hati kepada kebaikan dan rasa takut kepada keburukan yang muncul dari dalil-dalil dan bukti-bukti, serta dari ilmu dan keyakinan. Hasil dari itu adalah bahwa hanya dengan pencipta makhluk-makhluk dengan kriteria seperti ini saja telah menunjukkan kesempurnaan kodrat Allah, ilmuNya, kehidupanNya, dan kemandirianNya, sedangkan sesuatu yang dikandungnya berupa kebaikan, ketepatan, kecanggihan dan kerapian adalah menunjukkan kesempurnaan hikmah Alllah, kebaikan penciptaanNya dan keluasan ilmuNya, sedangkan sesuatu yang dikandung di dalamnya berupa berbagai macam manfaat dan kemaslahatan- seperti menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya yang dengannya terwujud kegunaan mendasar seperti yang telah terwujud, itu menunjukkan rahmat Allah, perhatianNya kepada hamba-hambaNya, keluasan kebaikanNya. Sedangkan sesuatu yang dikandung di meremehkan apadalamnya berupa kekhususan-kekhususan yang menunjukkan bahwa hanya Dia yang disembah yang dicintaiyang dipuji, pemilik keagungan, kemuliaan dan sifat-sifat agung yang mana tidak sepatutnya ada cinta dan takut kecuali kepadaNya. Doa murni tidak diberikan secara tulus kecuali kepadaNya bukan kepada makhluk yang dipelihara yang memerlukan Allah dalam seluruh urusannya. Ayat-ayat ini mengandung dorongan dan ajakan untuk merenungkan makhluk-makhluk Allah, melihatnya untuk mengambil pelajaran, karena dengan itu bashirah bisa meluas, iman dan akal bertambah dan daya pikir menguat. Tidak melakukan itu berarti meremehkan apa yang diperintahkan oleh Allah, menutup pintu bertambahnya iman, menyebabkan kebekuan akal dan pikiran.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
5. Allah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Adh-dhiya’ adalah sesuatu yang berasal dari inti sesuatu, dan An-Nur adalah sesuatu yang terjadi bukan dari inti sesuatu. Cahaya bulan itu diperoleh dari sinar matahari. Kira-kira perputaran bulan ada pada 28 tempat. Dan melalui bulan bisa diketahui perhitungan bulan dan tahun. Allah tidak menciptakan langit, bumi dan seisinya kecuali sebagai ciptaan yang dipenuhi dengan kebenaran dan hikmah bukan kesia-siaan. Dia menjelaskan ayat-ayat yang menunjukkan pada keesaan dan kuasaNya bagi kaum yang mau merenung dan bertadabbur
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Allah, Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan menjadikan bulan bercahaya, dan menentukan bagi bulan tempat-tempat perputarannya. Dengan matahari akan diketahui (pergantian) hari-hari, dan dengan bulan akan diketahui (pergantian) bulan-bulan dan tahun-tahun. Dan tidak lah Allah menciptakan matahari dan bulan, kecuali karena adanya hikmah yang agung, dan sebagai bukti petunjuk akan kesempurnaan kuasa Allah dan pengetahuanNya.Dia menerangkan hujjah-hujah dan bukti-bukti petunjuk kepada orang-orang yang mengetahui hikmah dari penciptaan makhluk.
Tafsir Al-Madinah
Buka
5. Setelah Allah menjelaskan sifat uluhiyah dan rububiyah-Nya, kemudian Allah menyebutkan dalil-dalil secara akal dan ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan dua sifat tersebut. Hanya Allah yang menjadikan matahari bersinar pada siang hari, dan menjadikan bulan bercahaya di malam hari, dan Allah menjadikannya beredar dalam jarak yang dapat bulan tempuh dalam sehari semalam; hal ini agar kalian dapat mengetahui perhitungan waktu. Dengan matahari dapat diketahui perhitungan hari, dan dengan peredaran bulan dapat diketahui perhitungan bulan dan tahun. Allah tidak menciptakan hal ini melainkan sebagai hikmah yang besar dan bukti atas keagungan kuasa-Nya. Allah menjelaskan ayat-ayat kauniyah ini bagi orang-orang yang mengetahui besarnya kekuasaan Allah.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
5. Dia lah yang telah membuat matahari memancarkan dan menyebarkan sinar, membuat bulan menjadi cahaya yang dapat digunakan untuk penerangan, dan menetapkan peredarannya berdasarkan tempat orbitnya yang berjumlah 28 orbit. Yang dimaksud dengan tempat orbit itu ialah jarak yang ditempuhnya dalam sehari-semalam. Hal itu supaya kalian -wahai manusia- dapat mengetahui hitungan hari berdasarkan putaran matahari dan mengetahui hitungan bulan dan tahun berdasarkan putaran bulan. Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya melainkan dengan kebenaran untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada manusia. Allah menjelaskan dalil-dalil dan bukti-bukti yang secara nyata menunjukkan keesaan-Nya kepada orang-orang yang mengetahui cara menggunakan dalil-dalil tersebut.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
5. (Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya) Makna () yakni cahaya yang keluar dari sesuatu itu sendiri, semisal cahaya lampu. Dan makna () yakni cahaya yang berasal dari pantulan benda lain, semisal cahaya pantulan dari cermin. Dan cahaya bulan merupakan cahaya hasil pantulan dari cahaya matahari. (dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu) Yakni Allah menentukan perjalanannya dalam manazilnya. Manazil bulan merupakan jarak yang ditempuh oleh bulan dalam sehari semalam, manazil ini berjumlah 28 sebagaimana yang diketahui oleh ahli falak. Bulan menempuh perjalanan satu manazil dalam semalam, diawal manazil bulan akan terlihat kecil kemudian membesar sedikit demi sedikit sampai menjadi purnama, apabila telah mencapai manazil yang terakhir ia akan nampak tipis dan berbentuk bulan sabit kemudian tidak nampak dalam satu atau dua malam. ( supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)) Kalaulah tidak ada pengaturan ini maka manusia tidak akan mengetahui perhitungan ini dan tidak mengetahui banyak maslahat bagi mereka yang berhubungan dengan perhitungan ini. Dalam ayat ini terkandung anjuran untuk mempelajari ilmu falak dan perhitungan penanggalan serta perbedaan antara perhitungan tahun masehi dan hijriyah. ( Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak) Yakni Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta mengatur keduanya dengan sebaik-baik pengaturan kecuali agar kebesaran, kekuasaan, dan kebijaksanaan-Nya diketahui sehingga Dia disembah dengan hak.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. dan yang menetapkan tempat-tempatnya} menetapkan perputarannya menjadi 18 tempat {agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan} perhitungan bulan dan hari {Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia merincikan} menjelaskan {tanda-tanda kepada kaum yang mengetahui
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Yunus ayat 5: Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menguatkan rububiyyah-Nya dan uluhiyyah-Nya (keberhakan untuk diibadahi), Allah menyebutkan dalil akal yang menunjukkan demikian dan menunjukkan kesempurnaan-Nya baik dalam nama maupun sifat-Nya. Dalil-dalil tersebut misalnya matahari, bulan, langit, bumi dan semua yang diciptakan Allah, dan Allah memberitahukan bahwa ayat-ayat tersebut untuk kaum yang mengetahui atau yang bertakwa. Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah main-main, melainkan dengan penuh hikmah Ayat-ayat Allah diperuntukkan kepada orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang bertakwa karena mereka yang dapat mengambil manfaatnya. Ilmu (pengetahuan) membawa untuk mengetahui dilalah (yang ditunjukkan) di dalamnya serta mengetahui cara menggali hukum dari dalil dengan cara yang lebih dekat, sedangkan takwa menimbulkan cinta kepada kebaikan di hati, takut terhadap keburukan, di mana keduanya muncul dari dalil dalil dan bukti, dan dari ilmu serta keyakinan. Kesimpulannya, bahwa Allah menciptakan semua makhluk dengan bentuk seperti itu menunjukkan kekuasaan Allah, ilmu-Nya yang luas, Maha Hidup-Nya dan mengurus makhluk-Nya. Kerapihan dan keindahannya menunjukkan sempurnanya hikmah (kebijaksanaan) Allah, bagusnya ciptaan-Nya dan luasnya ilmu-Nya. Berbagai manfaat dan maslahat seperti dijadikan-Nya matahari bersinar, bulan bercahaya agar dengan keduanya diraih manfaat penting, yang demikian menunjukkan luasnya rahmat Allah, perhatian-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, dan luasnya kebaikan-Nya.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dan kami jadikan malam dan siang dan silih bergantinya keduanya itu sebagai dua tanda untuk menunjukkan kekuasaan kami, lalu kami hapuskan tanda malam, kami hapus cahayanya sehingga terjadilah kegelapan dan engkau tidak dapat melihat segala sesuatu di sekitarmu, dan kami jadikan tanda siang itu terang, yakni kami jadikan siang dapat menerangi, sehingga kamu dapat melihat segala sesuatu di sekitarmu. Demikian itu agar kamu dapat mencari kurnia dari tuhanmu dengan melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi kehidupanmu. Dan agar dengan kehadiran malam dan siang itu kamu mengetahui bilangan tahuntahun dan perhitungan waktu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sebagai penutup, ayat ini menyatakan, dan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupanmu telah kami terangkan dengan jelas, tidak ada sesuatu yang terlewati agar menjadi pelajaran bagimu. Ayat yang lalu ditutup dengan pernyataan bahwa segala sesuatu telah kami rinci dan jelaskan. Salah satu yang dirinci dan dijelaskannya berupa amal-amal perbuatannya. Ayat ini menyatakan, dan setiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya sebagaimana tetapnya kalung pada lehernya, tidak dapat terpisah satu dengan lainnya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang mencatat semua amalnya di dunia yang dijumpainya kitab itu terbuka, tidak ada sesuatu yang ditutupi atau tersembunyi.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah menganugerahkan kepada makhlukNya tanda-tanda kekuasaanNya yang Maha Agung antara malam dan siang, sehingga mereka bisa beristirahat dengan tenang di malam hari, dan mereka bertebaran di siang hari untuk mencari penghidupan, bekerja, berkarya dan melakukan perjalanan, yaitu agar mereka mengetahui jumlah hari, minggu, bulan, dan tahun. Dan agar mereka mengetahui berlalunya masa yang telah ditetapkan untuk pembayaran utang, waktu ibadah, muamalah, sewa dan lainnya. Oleh karena itu Allah berfirman: (agar kalian mencari karunia dari Tuhan kalian) yaitu dalam pekerjaan dan perjalanan kalian serta hal lainnya yang serupa (dan supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan) Sesungguhnya jika semua waktu sama saja, maka tidak ada perbedaannya, maka tentu hal itu tidak dapat diketahui. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepada kalian?" Maka apakah kalian tidak mendengar?” (71) Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepada kalian yang kalian beristirahat padanya? Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (72) Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya (73) (Surah Al-Qashash), (Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya (61) Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (62) (Surah Al-Furqan), (dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang) (Surah Al-Mu’minun: 80) dan (Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun) (Surah Az-Zumar: 5) dan (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (96)) (Surah Al-An'am) serta (Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan (37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (38)) (Surah Yasin) Sesungguhnya Allah menjadikan tanda pada malam hari, yaitu kegelapan dan munculnya bulan di dalamnya. dan tanda pada siang hari, yaitu munculnya cahaya dengan terbitnya matahari yang meneranginya. Allah membedakan antara sinar matahari dan cahaya bulan agar yang ini dapat dibedakan dengan yang itu, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu), Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak) sampai firmanNya: (benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa) (Surah Yunus: 5-6) Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji”) (Surah Al-Baqarah: 189). Abu Ja'far bin Jarir meriwayatkan melalui berbagai jalur yang baik, bahwa Ibnu Al-Kawa bertanya kepada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib, dia berkata,"Wahai Amirul Mu’minin, apakah bercak hitam yang ada pada rembulan itu?" Ali menjawab, "Celakalah kamu, tidakkah kamu pernah membaca Al-Qur’an, dimana Allah berfirman (lalu Kami hapuskan tanda malam) Maka ini adalah yang dihapus. Qatadah berkata tentang firmanNya: (lalu Kami hapuskan tanda malam hari) Kami sebelumnya berbicara bahwa penghapusan tanda malam hari adalah bercak hitam pada bulan. (dan Kami jadikan tanda siang itu terang) yaitu terang benderang. Lalu Allah menciptakan matahari yang lebih terang dan lebih besar daripada bulan.
Tafsir As-Sa'di
Buka
12. Allah berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda,” maksudnya keduanya merupakan bukti yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan keluasan rahmatNya. Dia-lah Dzat yang tidak selayaknya peribadahan ditujukan kecuali untukNYa. “Lalu Kami hapuskan tanda malam,” maksudnya bercahaya, “agar kamu mencari karunia dari Rabbmu,” melalui mata pencaharian, proses pruduksi, perdagangan dan perjalanan kalian, “dan supaya kamu mmengetahui,” dengan beriringannya siang malam dan pergantian bulan “bilangan tahun-tahun dan perhitungan,” maka kalian (bisa merencanakan) segala kemaslahatan yang kalian kehendaki berdasarkan itu, “dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas,” maksudnya Kami sudah menerangkan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Kami) dan menguraikannya sehingga jelaslah perbedaan segala sesuatu, dan kebenaran pun menjadi terang di antara kebatilan. Sebagaimana Firman Allah, "Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab" (Al-An’Am:38).
Tafsir Al-Wajiz
Buka
12. Dan Kami telah menjadikan malam dan siang sebagai dua tanda yang menunjukkan kepada kesempurnaan kekuasaan, hikmah dan keesaan (Kami). Lalu Kami menjadikan tanda-tanda langit itu tertutup kegelapan, tidak ada cahaya di dalamnya supaya dapat digunakan untuk istirahat dan berdiam diri. Dan Kami jadikan tanda-tanda siang itu terang benderang agar bisa melihat segala sesuatu di dalamnya, supaya kalian bisa bias mencari rejeki dan penghidupan dari keutamaan Allah di siang hari, dan dengan mengetahui perputaran keduanya kalian dapat mengtahui jumlah tahun, menghitung bulan, hari dan setiap sesuatu dari urusan dunia dan agama yang telah Kami jelaskan dengan sangat jelas
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan kami menjadikan malam dan siang sebagai dua tanda yang menunjukan keesaan kemaha kuasaaan Kami. Kemudian Kami menghapuskan tanda malam ( yaitu bulan) dan menjadikan tanda siang (yaitu matahari) bersinar terang, agar dalam sinar siang hari manusia dapat melihat bagaimana dia harus mengerjakan urusan-urusan kehidupanya, dan ia dapat berdiam diri pada malamnya untuk mengambil kesempatan berteduh dan istirahat. Dan agar manusia mengetahui (melalui pergantian malam dan siang) bilangan tahun dan perhitungan bulan dan hari–hari agar mereka menyusun berdasarkan itu apa-apa yang mereka mau dari kemaslahatan-kemaslahatan mereka. Dan segala sesuatu taleh kami jelaskan dengan penjalasan yang cukup.
Tafsir Al-Madinah
Buka
12. Dan Kami jadikan siang dan malam sebagai dua tanda yang agung yang menunjukkan keesaan Kami. Kami jadikan tanda malam dengan kegelapannya agar kalian dapat mendapatkan ketenangan pada waktu malam, dan kami jadikan tanda siang dengan cahaya yang terang benderang agar kalian dapat mencari sumber kehidupan kalian; dan agar kalian dapat mengetahui jumlah hari, bulan, dan tahun. Dan segala perkara agama dan dunia telah Kami jelaskan dengan terperinci.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
12. Kami menciptakan malam dan siang sebagai dua tanda yang menunjukkan keesaan dan kekuasaan Allah; karena pada keduanya terdapat perbedaan dari segi lama atau singkatnya, dan suhu panas atau dinginnya, lalu kami menjadikan malam dalam kondisi gelap sebagai waktu istrahat dan tidur, dan menjadikan siang dalam kondisi terang benderang, dengannya manusia bisa melihat dan mencari mata pencaharian, harapannya agar dengan adanya pergantian siang malam ini kalian mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan masa bulan, hari, dan jam. Sungguh segala sesuatu telah Kami terangkan sejelas-jelasnya agar semuanya bisa dibedakan, dan agar yang hak bisa jelas dibedakan dari yang batil.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
12. (Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda) Karena dalam keduanya terdapat perbedaan dalam panjang dan pendek waktunya dari hari ke hari dalam satu tahun, dan antara satu tempat dengan tempat lain, serta perbedaan dalam suhu panas dan dinginnya, dan perbedaan dalam intensitas cahayanya pada saat saling silih berganti. Sehingga siang dan malam adalah tanda yang menunjukkan wujud dan kekuasaan pencipta-Nya bagi orang yang berfikir tentang ketakjuban ini. (lalu Kami hapuskan tanda malam) Yakni menghapus ayat yang berupa malam itu sendiri. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan tanda malam adalah bulan. Yakni Kami hilangkan cahayanya, yakni Kami ciptakan bulan tidak dapat mengeluarkan cahaya. (dan Kami jadikan tanda siang itu terang) Yakni Allah menciptakan siang terang benderang agar benda-benda dapat terlihat. (agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu) Yakni agar kalian memanfaatkan cahaya siang untuk mencari penghidupan dan menciptakan malam agar kalian dapat beristirahat. ( dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan) Sebab tidak mungkin diketahui bilangan tahun dan perhitungan bulan dan hari kecuali dengan pergantian siang malam. Jika merujuk pada pendapat pertama dalam penafsiran tanda malam yang tidak disebutkan tentang bulan makan bilangan tahun yang dimaksud adalah tahun syamsiyah (Masehi). Dan jika merujuk pada pendapat kedua maka yang dimaksud adalah bilangan tahun Qamariyah (Hijriyah). (Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas) Yakni segala urusan agama kalian yang Allah hendak menerangkannya kepada kalian.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: () `aayataiin : dua tanda akan keberadaan Allah, kekuasaan, ilmu, rahmat, dan hikmah-Nya. ( ) famahaunaa `aayatal lail : Kami hilangkan cahayanya dengan kegelapan yang muncul setelah matahari terbenam. () mubshirah : manusia dapat melihat dengannya; karena cahaya siang hari. ( ) ‘adadas siniin wal hisaab : jumlah tahun, akhir dan awal tahun, perhitungan siang dan malam, dan waktu-waktunya; hari, minggu, dan bulan. Makna ayat: Firman-Nya “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami)...” Dua tanda akan keberadaan, kekuasaan, ilmu, dan hikmah Kami. Firman-Nya “Kemudian Kami hapus tanda malam...” Kami hilangkan cahayanya dan Kami jadikan tanda siang terang benderang, kemudian Allah menjelaskan tujuan hal ini “agar kamu dapat mencari karunia dari Rabbmu...” mencari rezeki di siang hari, lalu dari sisi lain “dan agar kamu mengerahui bilangan tahun dan perhitungan waktu...” bilangan tahun, akhir dan awal tahun, serta waktu-waktu siang dan malam, seperti hari, minggu, dan bulan karena kebutuhan dunia dan agama kalian bergantung kepada bilangan hari tersebut. Firman-Nya ta’ala “Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” Segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk meraih kesempurnaan dan kebahagian, telah Kami terangkan dengan jelas di dalam Kitab ini yang memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus. Pelajaran dari ayat: • Malam dan siang sebagai tanda yang menunjukkan keberadaan Allah ta’ala, ilmu, kekuasaan, dan pengaturan-Nya. • Disyariatkannya ilmu hisab (perhitungan) dan mempelajarinya.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Al-Isra ayat 12: Dan luasnya rahmat-Nya. Demikian pula terdapat tanda, bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia. Yakni Kami hapuskan cahayanya dengan kegelapan agar kalian dapat beristirahat. Dengan bergantinya malam dan siang, serta berubahnya keadaan bulan. Lalu dari sana kamu membuat perncanaan terhadap hal yang bermaslahat bagimu. Yang dibutuhkan. Agar semuanya dapat dibedakan, dan agar yang hak menjadi jelas dari yang batil.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Usai menjelaskan sifat orang-orang yang mendapat pancaran cahaya ilahi, pada ayat berikut Allah beralih menguraikan sifat-sifat orang kafir. Dan orang-orang yang kafir yang menutup mata hati mereka sehingga tidak memperoleh cahaya ilahi, sesungguhnya amal perbuatan mereka, yang secara lahir tampak baik dan mereka harapkan untuk dibalas dengan ganjaran, kelak di hari kiamat seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila itu didatangi, yakni ketika dia sampai di tempat fatamorgana itu tampak, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya ketetapan Allah baginya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan sempurna; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya karena dia maha me-ngetahui segala sesuatu. 40. Allah menyajikan perumpamaan lain terkait betapa sia-sianya amal orang kafir itu. Atau keadaan orang-orang kafir itu seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang tidak dapat dijangkau kedalamannya, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya yaitu di atas gelom-bang yang bertumpuk dan bergulung-gulung itu ada lagi awan gelap yang menutupi sinar matahari. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis; perpaduan antara laut yang begitu dalam, ombak yang bergulung-gulung, dan awan yang kelam. Begitu pekat kegelapan itu hingga apabila dia mengeluarkan tangannya untuk didekatkannya ke mata, hampir saja dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya petunjuk oleh Allah maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 39-40 Kedua ayat ini merupakan dua buah perumpamaan yang dibuat Allah SWT untuk menggambarkan dua macam orang kafir. Sebagaimana Allah membuat perumpamaan tentang orang-orang munafik dalam permulaan surah Al-Baqarah dua perumpamaan, yaitu api dan air. Dan sebagaimana Allah membuat perumpamaan tentang apa yang yang ditetapkan dalam hati berupa petunjuk dan ilmu dalam surah Ar-Ra'd sebanyak dua perumpamaan, yaitu air dan api. Kami membicarakan keterangan masing-masing di tempatnya sehingga tidak perlu diulangi lagi. Segala puji bagi Allah. Adapun perumpamaan pertama dari keduanya, dimana hal itu tentang keadaan orang-orang kafir yang menyeru orang lain kepada kekafiran mereka yang menduga bahwa mereka berada dalam jalan dan keyakinan yang benar, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak seperti itu. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan fatamorgana yang terlihat di tanah datar yang luas dari kejauhan. seakan-akan seperti lautan yang berombak. “Al-qai'ah” adalah bentuk jamak dari “qa'un”, seperti “jarun” yang bentuk jamaknya adalah “jairah”. “Al-qa'u” juga bisa menjadi bentuk tunggal dari “al-qai'an”, sebagaimana dikatakan “jarun”, bentuk jamaknya “Al-jiran”, yaitu tanah datar yang luas dan membentang serta di dalamnya ada fatamorgana, dan hal itu terjadi setelah lewat tengah hari. Sedangkan “Al-’al” terjadi pada permulaan siang hari, yang dilihat seakan-akan ada air antara langit dan bumi. Ketika fatamorgana terlihat oleh orang yang membutuhkan air, maka dia akan menduganya sebagai air yang dia inginkan untuk minum. Tetapi setelah dekat dengannya (dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun) Demikian juga keadaan orang kafir, dia menduga bahwa dirinya mengerjakan suatu amal dan bahwa dirinya pasti mendapat sesuatu. Tetapi apabila dia menghadap kepada Allah pada hari kiamat dan Allah menghisabnya dan menanyai semua amal perbuatannya, maka dia tidak mendapati sesuatu pun dari apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Terkadang karena tidak ikhlas, atau karena tidak sesuai dengan tuntunan syariat, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (23)) (Surah Al-Furqan) dan di sini Allah berfirman: (Dan dida dapati (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya) Demikianlah yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka'b, Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah dan lainnya. Perumpamaan ini merupakan gambaran tentang keadaan orang-orang yang bodoh berlipat-lipat. Adapun orang-orang bodoh yang biasa adalah sejumlah besar manusia yang mengikuti para pemimpin kafir yang bisu dan tuli yang tidak berakal. Perumpamaan mereka sebagaimana Allah SWT berfirman: (atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam) Qatadah berkata bahwa (lujiyyin) adalah dalam. (Yang diliputi oleh ombak, yang diatasnya ombak (pula), diatasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya) yaitu hampir saja tidak dapat melihatnya karena sangat gelap. Hal ini merupakan perumpamaan hati orang kafir yang kebodohannya sederhana yanghanya bertaklid, yang tidak mengetahui keadaan orang yang memimpinnya dan tidak mengetahui kemanakah dia pergi. Bahkan sebagaimana dalam perumpamaan dimana ditanya kepada orang bodok,"Kamu hendak pergi kemana?" dia menjawab,"bersama mereka" Dikatakan, "Kemana mereka pergi?" dia menjawab, "Aku tidak tahu" Ubay bin Ka'b berkata tentang firmanNya: (gelap gulita yang saling bertindih) Dia berada dalam lima kegelapan. Perkataannya kegelapan, amalnya kegelapan, tempat masuknya kegelapan, tempat keluarnya kegelapan, dan tempat kembalinya kepada kegelapan pada hari kiamat menuju neraka. As-Suddi dan Ar-Rabi' bin Anas berkata tentang itu juga. Firman Allah SWT: (dan barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun) yaitu barangsiapa yang tidak mendapat petunjuk dari Allah, maka dia binasa, bodoh, terhalang, hancur, dan kafir. Sebagaimana firmanNya: (Barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya) (Surah Al-A'raf: 186) Ini merupakan kebalikan dari apa yang disebutkan Allah tentang perumpamaan orang-orang mukmin: (Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki) (Surah An-Nur: 35) Kita memohon kepada Allah yang Maha Agung, semoga Dia memberikan cahaya dalam hati kita semua; dan cahaya di sebelah kanan, dan sebelah kiri kita, dan semoga Dia membesarkan cahayaNya bagi kita
Tafsir As-Sa'di
Buka
39 “dan orang-orang kafir,” terhadap Rabb mereka dan mendustakan para RasulNya, ”amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar,” yaitu tanah datar yang tidak ada pepohonan dan tumbuhannya “yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,” yaitu orang yang sangat dahaga, yang menghalusinasikan sesuatu yang tidak dihalusinasikan oleh orang lain, disebabkan rasa dahaganya. Padahal itu adalah halusinasi yang batil, lalu dia bermaksud untuk menghilangkan rasa dahaganya “hingga ketika dia mendatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apapun,” maka dia benar-benar menyesal. Kehausannya makin menjadi parah lantaran harapannya terputus. Begitu pula amalan orang-orang kafir, ia ibarat fatamorgana, masih bisa dilihat lalu orang yang bodoh, (yang tidak mengerti perkara-perkara) menyangkanya merupakan amalan-amalan yang bermanfaat. Kemasan amalan-amalan itu menipu dirinya, fantasinya mempermainkannya, dia pun mengira hal itu adalah amalan-amalan yang bermanfaat bagi hawa nafsunya. Dia juga merasa butuh bahkan sangat memerlukannya, sebagaimana kebutuhan orang yang dahaga terhadap air. Maka tatkala ia mendatangi amalannya pada Hari Pembalasan, dia merasa kehilangan dan tidak menemukan sesuatu apapun. Kondisi (sebenarnya) amalan-amalan itu tidak lenyap, tidak untuk kebaikannya atau mencelakainya. Bahkan “dia mendapati (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup,” yang tidak tersembunyi (walau) seringan partikel dan setipis kulit ari, tiada yang hilang dari amalan itu, sedikit ataupun banyak. “dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya,” maka janganlah orang-orang bodoh itu meminta tunda (waktu kedatangan) janji itu, karena ia pasti akan tiba. Allah mempermisalkan amalan-amalan orang-orang kafir layaknya fatamorgana, yang ada “ditanah datar,” yang tidak ada pep
Tafsir Al-Wajiz
Buka
39. Dan perbuatan orang-orang kafir itu berbanding terbalik dengan orang-orang mukmin, yaitu seperti fatamorgana: sesuatu yang dilihat di padang pasir akibat pantulan matahari saat tengah hari sehingga memunculkan asumsi bahwa itu adalah air yang ada di tengah qi’ah, yaitu tanah yang membentang dari bagian bumi yang diasumsikan oleh orang yang haus memiliki air, sampai ketika dia mencapai tempatnya di gurun pasir, dia tidak mendapati air disana sebagaimana yang diasumsikan.. Seperti itulah orang kafir yang menganggap bahwa amalnya bermanfaat pada hari kiamat, lalu ketika mati dia tidak mendapatkan manfaat apapun dari amalnya sebagaimana fatamorgana itu tidak memberi manfaat bagi orang yang haus dan dia mendapati Allah berada di sisi amalnya sedang menunggunya (Dia mendapati balasan atas amal perbuatannya). Lalu Allah membalasnya atas amal itu di dunia. Dan Allah itu Maha Cepat untuk membalas. Ayat ini diturunkan untuk Utbah bin Rabi’ah atau Syaibah bin Rabi’ah, keduanya mati dalam keadaan kafir.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka dan mendustakan rasul-rasulNya, perbuatan-perbuatan mereka yang mereka pandang akan bermanfaat bagi mereka di akhirat, seperti silaturahmi, membebaskan tawanan dan kebaikan-kebaikan lainnya, adalah seperti fatamorgana, yaitu satu fenomena yang terlihat seperti air di permukaan tanah yang datar di siang hari, yang diduga orang dahaga sebagai air, kemudian ketika mendatanginya, ia tidak mendapatkan air. Orang kafir akan menyangka bahwa perbuatan-perbuatannya akan berguna bagi dirinya, lalu pada Hari Kiamat ternyata dia tidak mendapati balasan pahalanya, dan dia mendapati Allah mengawasinya, lalu menyempurnakan balasan perbuatannya secara penuh. Dan Allah maha cepat perhitunganNya, maka janganlah orang-orang jahil menganggap ancaman itu masih lama waktu terjadinya, sebab pasti akan datang.
Tafsir Al-Madinah
Buka
39. Setelah Allah menyebutkan amal orang-orang yang bertakwa dan balasan bagi mereka atas amalan tersebut dengan firman-Nya: ( ) hingga ( ), maka Allah kemudian menyebutkan kebalikan dari keadaan tersebut, yaitu tentang amalan orang-orang kafir yang mereka kira merupakan ibadah di sisi Allah, namun ternyata amalan itu sama sekali tidak berarti bagi mereka; sebagaimana al-Qur’an biasa menyembutkan kabar gembira dengan peringatan. Amalan orang-orang kafir seperti fatamorgana -yaitu bayangan seperti air yang menguap yang terlihat pada tengah hari di tanah yang lapang-, orang yang kehausan akan mengiranya sebagai air, namun ketika dia mendatangi tempat itu ternyata tidak ada air sama sekali. Orang kafir mengira amal kebaikannya akan bermanfaat baginya, akan tetapi pada hari kiamat ketika Allah menghisab dan memberi balasan atas amalannya ternyata dia tidak mendapati pahala sedikitpun dari amalan itu. Allah Maha Cepat dalam menghisab hamba-Nya.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
39. Dan orang-orang yang kafir kapada Allah, amal-amal yang mereka kerjakan tidaklah diberikan pahala sama sekali, ia laksana fatamorgana di tanah yang rendah lagi datar, yang dilihat dan disangka air oleh orang-orang yang sangat dahaga, lalu ia pun mendatanginya, tetapi ketika mendatanginya dia tidak mendapati apapun. Demikianlah kondisi orang kafir, ia menyangka bahwa amalnya akan memberikan manfaat bagi dirinya, namun ketika ia mati dan dibangkitkan kembali, ia tidak akan mendapati pahala tersebut, dan ia hanya mendapati ketetapan Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup lagi sempurna dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
39. (Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar) Yakni amal kebaikan yang telah mereka lakukan seperti sedekah, silaturrahim, mengurus Baitullah, dan memberi minum jamaah haji. Makna () adalah sesuatu yang terlihat di padang pasir pada terik siang hari seperti air dalam pandangan orang yang melihatnya. Makna () yakni tanah yang rendah yang menjadi tempat berkumpulnya air. (tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun) Seperti itulah keadaan orang-orang kafir; mereka bersandar pada amalan-amalan mereka yang mereka sangka sebagai amal baik, dan mereka berharap akan mendapat pahalanya; namun ketika mereka menghadap kepada Allah ternyata mereka tidak mendapatkan apapun, sebab kekafiran mereka menghapus segala amal baik mereka. ( Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan sempurna) Amal orang kafir seperti fatamorgana itu, apabila ia telah didatangi kematian amalannya tidak akan dapat memberi manfaat baginya seperti fatamorgana bagi orang yang kehausan.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Tanpa perhitungan dan tanpa batas dimana tidak ada ujung pemberianNya {Orang-orang kafir, amal perbuatan mereka itu seperti fatamorgana} seperti fatamorgana {di tanah yang datar} di dataran rendah bumi {Orang-orang yang dahaga menyangkanya} orang-orang yang haus mengiranya {air, sehingga apabila mendatanginya} mendatangi sesuatu yang dia yakini bahwa itu air {dia tidak menjumpai apa pun. Dia mendapati (ketetapan) Allah di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan} balasan amalnya {Allah sangat cepat perhitunganNya
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat An-Nur ayat 39: Ayat ini dan setelahnya merupakan perumpamaan amal orang kafir dalam hal batal, sia-sia, dan ruginya mereka. Kepada Tuhan mereka dan mendustakan para rasul-Nya. Yang tidak ada tumbuhan dan pepohonan. Amal orang-orang kafir seperti fatamorgana yang dilihat dan disangka oleh orang yang tidak tahu sebagai air, mereka mengira amal mereka bermanfaat, dan mereka pun membutuhkannya sebagaimana butuhnya orang yang kehausan terhadap air, sehingga ketika ia mendatangi amalnya pada hari pembalasan, ternyata ia dapatkan dalam keadaan hilang dan tidak memperoleh apa-apa.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
5-6. Di antara tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa matahari dan bulan beredar pada porosnya menurut perhitungan yang sangat teliti dan tepat tanpa cacat; dan tetumbuhan tak berbatang dan pepohonan berbatang pun keduanya tunduk kepada ketentuan-Nya
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 1-13 Allah SWT memberitahukan tentang karunia dan rahmatNya kepada makhlukNya, bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-hambaNya, dan memudahkan untuk menghafalkan dan memahaminya bagi orang yang Dia rahmati. Jadi Allah SWT berfirman: ((Tuhan) Yang Maha Pengasih (1) Yang telah mengajarkan Al-Qur’an (2) Dia menciptakan manusia (3) Mengajarnya pandai berbicara. (4)) Al-Hasan berkata bahwa yang dimaksud adalah berbicara. Qatadah dan selain keduanya berkata bahwa maknannya adalah kebaikan dan keburukan. Tetapi pendapat Al-Hasan di sini lebih baik dan lebih kuat karena konteks ayat membicarakan pengajaran Al-Qur'an, yaitu menunaikan bacaannya. Dan sesungguhnya hal itu dapat terwujud jika Allah memudahkan makhlukNya untuk berbicara, dan mengeluarkan bunyi huruf dari makhrajnya masing-masing, yaitu dari kerongkongan, lisan dan kedua bibir dengan berbagai macam makhrajnya. Firman Allah SWT (Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan (5)) yaitu keduanya berjalan beriringan sesuai perhitungan yang tepat, tidak menyimpang dan tidak berbenturan, sebagaimana firmanNya: (Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40)) (Surah Yasin) dan (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui 96)) (Surah Al-An'am) Firman Allah SWT: (Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepadaNya (6)) Ibnu Jarir berkata bahwa para mufasir berbeda pendapat tentang makna (an-najm) setelah mereka sepakat bahwa yang dinamakan “Asy-Syajar” adalah tumbuhan yang tegak di atas batangnya. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa an-najm adalah sesuatu yang digelar di atas permukaan bumi, berupa tumbuhan. Demikian juga dikatakan Sa'id bin Jubair, As-Suddi, dan Sufyan Ats-Tsauri. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir. Mujahid berkata bahwa yang dimaksud adalah bintang-bintang yang ada di langit. Demikian juga yang dikatakan Al-Hasan dan Qatadah, dan pendapat inilah yang lebih jelas. Hanya Allah yang lebih Mengetahui, berdasarkan firman Allah SWT: (Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata, dan sebagian besar dari manusia) (Surah Al-Hajj: 18). Firman Allah: (Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) (7)) yaitu keadilan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan) (Surah Al-Hadid: 25) Demikian juga Allah berfirman di sini (Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8)) yaitu Dia menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya dan adil agar segala sesuatu berjalan dengan sebenar-benarnya dan adil. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (9)) yaitu, janganlah mengurangi timbangan, tetapi timbanglah dengan benar dan adil. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan timbanglah dengan neraca yang benar) (Surah Al-Isra: 35) Firman Allah SWT: (Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya) (10)) yaitu sebagaimana Dia meninggikan langit, Dia telah menghamparkan bumi ini dan memancangkannya dengan gunung-gunung yang tinggi-tinggi agar stabil dan tidak mengguncangkan makhluk yang ada di atasnya yang beragam jenis, macam, warna, dan bahasa mereka di seluruh penjurunya. Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid berkata bahwa “al-anam” adalah makhluk. (di bumi itu ada buah-buahan) yaitu yang beragam warna, rasa, dan aromanya (dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang) disebutkan tersendiri karena manfaat yang ada padanya, baik dalam keadaan basah maupun kering. Dan “al-akmam” adalah kelopak mayang. Demikian juga dikatakan banyak mufasir; yaitu kelopak mayang yang terbelah mengeluarkan buah kurma, yang pada mulanya bernama “busr”, kemudian “ruthab”, kemudian menjadi masak dan sempurna kemasakannya. Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “al-akmam” adalah serabutnya yang berada di leher pohon kurma, ini adalah pendapat Al-Hasan dan Qatadah. (Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya (12)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, terkait firmanNya (Dan biji-bijian yang berkulit) bahwa maknannya adalah biji-bijian yang ada daunnya. Demikian juga dikatakan Qatadah Mujahid, dan lainnya berkata bahwa yang dimaksud dengan “raihan” adalah daunnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa “raihan” adalah tanaman yang hijau. Makna ini (hanya Allah yang lebih Mengetahui) adalah bahwa yang dimaksud dengan biji-bijian adalah seperti gandum, jawawut, dan yang serupa dengan keduanya yang mempunyai bulir dan daun-daunan yang melilit pada batangnya. Firman Allah: (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (13)) yaitu nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan, wahai dua makhluk yang dibebani yaitu jin dan manusia? Pendapat ini dikatakan Mujahid dan lainnya, yang hal ini ditunjukkan pada konteks setelahnya. yaitu, bahwa nikmat-nikmat tampak jelas pada kalian dan kalian diliputi olehnya sehingga kalian tidak dapat mengingkarinya. Dan kami hanya dapat mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh jin yang beriman kepadaNya,"Ya Allah, tidakmada sesuatu pun dari nikmat-nikmatMu yang kami ingkari, maka segala puji bagiMu" Ibnu Abbas selalu menjawabnya dengan ucapan berikut,"Tidak, lalu yang manakah, wahai Tuhanku?" yaitu “Kami tidak mendustakan sesuatu pun darinya”
Tafsir As-Sa'di
Buka
5. “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungannya,” yakni Allah menciptakan matahari dan bulan serta menundukkan keduanya untuk beredar sesuai dengan perhitungan yang cermat dan terencana sebagai bentuk rahmat dan perhatian Allah kepada para hamba, sebagai kemaslahatan bagi mereka, dan agar mereka mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
Tafsir Al-Wajiz
Buka
5. Matahari dan Bulan beredar dengan perhitungan rinci yang teratur, sehingga keduanya menunjukkan perhitungan bulan dan tahun
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
. Matahari dan rembulan berjalan bergantian dengan perhitungan yang akurat, tidak berubah dan tidak goncang.
Tafsir Al-Madinah
Buka
5. Matahari dan bulan bergerak pada porosnya masing-masing dengan teratur.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
5. Matahari dan bulan, keduanya Kami takdirkan berputar dengan hitungan yang teliti agar manusia mengerti bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
5. (Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan) Yakni bergerak dengan perhitungan dan tidak akan keluar dari garis edarnya, dan itu menjadi petunjuk untuk perhitungan hari, bulan, dan tahun.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan matahari dan bulan dan menundukkannya untuk beredar menurut perhitungan sebagai rahmat kepada hamba-hamba-Nya dan perhatian-Nya kepada mereka dan agar maslahat mereka dapat tegak dengannya, demikian juga agar mereka dapat mengetahui perhitungan tahun.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Ar-Rahman ayat 5: Allah menyebutkan nikmat yang lain yang Dia telah berikan kepada makhluk-Nya, yang bahwasanya Dia menciptakan matahari dan bulan, yang keduanya mendatangkan manfaat dan berotasi menurut perederannya menurut ketetapan yang tidaka akan saling berselisih dan bertabrakan, juga tidak melampaui batasan masing-masing sesuai ketetapan. Di antara faidah-faidah diciptakan keduanya yaitu keduanya sebagai pengganti atas bulan, tahun, musim dan waktu-waktu untuk menanam dan bercocok tanam serta memetik buah-buahan dan juga sebagai waktu-waktu untuk ibadah.