SI Qur'an

Indikator 2: Perancangan & Perencanaan

Ditemukan 6 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-A'raf (7): Ayat 31 Rujukan #1
۞ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
yā banī ādama khużụ zīnatakum ‘inda kulli masjidiw wa kulụ wasyrabụ wa lā tusrifụ, innahụ lā yuḥibbul-musrifīn
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Pada ayat yang lalu Allah memerintahkan agar manusia berlaku adil dalam semua urusan, maka pada ayat ini Allah memerintahkan agar memakai pakaian yang baik dalam beribadah, baik ketika salat, tawaf, dan ibadah lainnya. Allah juga memerintahkan manusia untuk makan dan minum secukupnya tanpa berlebih-lebihan. Wahai anak cucu adam! pakailah pakaianmu yang bagus yaitu pakaian yang dapat menutupi aurat kalian atau bahkan yang lebih dari itu ketika kalian beribadah, sehingga kalian bisa melakukan salat dan tawaf dengan nyaman, dan lakukanlah itu pada setiap memasuki dan berada di dalam masjid atau tempat lainnya di muka bumi ini. Dalam rangka beribadah, kami telah menyediakan makanan dan minuman, maka makan dan minumlah apa saja yang kamu sukai dari makanan dan minuman yang halal, baik dan bergizi, tetapi jangan berlebihan dalam segala hal, baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya, ataupun dalam makan dan minum. Karena sungguh, Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran-Nya kepada orang yang berlebih-lebihan dalam hal apa pun. Allah mengecam kaum musyrik yang mengharamkan sesuatu yang baik, seperti berpakaian dan memakan makanan yang baik, kemudian mereka mengatakan bahwa ketentuan itu berasal dari Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan nabi-Nya untuk mengingkari perkataan orang-orang musyrik itu. Katakanlah, wahai nabi Muhammad, kepada mereka yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan, yakni diizinkan untuk dikenakan dan dinikmati, untuk hamba-hamba-Nya, dan rezeki yang baik-baik yang Allah sediakan di muka bumi ini' katakanlah, pakaian, makanan, atau rezeki lainnya, semua itu untuk orang-orang yang beriman juga orang yang tidak beriman dalam kehidupan dunia, tetapi ia akan menjadi khusus untuk mereka saja yang beriman pada hari kiamat. Demikianlah, kami menjelaskan ayat-ayat, yakni ketetapan-ketetapan hukum atau bukti-bukti kebesaran kami, itu untuk orang-orang yang ingin mengetahui.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat yang mulia ini adalah bantahan terhadap apa yang diklaim oleh orang-orang musyrik berupa melakukan thawaf di Ka’bah dengan keadaan telanjang bulat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya (pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid) dia berkata bahwa para laki-laki melakukan thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang bulat. Lalu Allah memerintahkan mereka untuk memakai pakain mereka. “Az-ziinah” adalah pakaian, yaitu sesuatu yang menutupi aib dan selain itu adalah sesuatu yang terbuat dari kapas yang paling baik dan nyaman. Mereka diperintahkan untuk mengenakan pakaian mereka setiap kali memasuki masjid. Demikian juga dikatakan oleh Mujahid, ‘Atha’, Ibrahim An-Nakha'i, Sa'id bin Jubair, Qatadah, As-Suddi, Adh-Dhahhak, Malik, Az-Zuhri, dan lainnya yang jumlahnya lebih dari satu orang dari kalangan imam ulama salaf terkait dengan penafsirannya bahwa ayat ini diturunkan terkait kegiatan thawaf orang-orang musyrik di Ka'bah dalam keadaan telanjang bulat Firman Allah SWT: (makan dan minumlah kalian) Sebagian ulama salaf berkata bahwa Allah mengumpulkan semua kebaikan dalam setengah ayat: (makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan) Imam Bukhari berkata,”Ibnu Abbas berkata,”Makan dan berpakaianlah sesuai kehendakmu dan jangan sampai kamu salah dalam dua hal, yaitu berlebih-lebihan dan sombong. Ibnu Jarir berkata tentang firmanNya: (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan) bahwa Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batasNya dalam halal atau haram, yaitu berlebih-lebihan dalam apa yang dihalalkan, yaitu dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan. Akan tetapi Allah menyukai jika menghalalkan sesuatu yang dihalalkan dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan. Demikian itu adalah pertengahan yang diperintahkan oleh Allah

Tafsir As-Sa'di
Buka

31. Setelah Allah menurunkan kepada bani Adam pakaian untuk menutupi auratnya dan pakaian indah untuk perhiasaan Allah berfirman ”hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid” yakni tutuplah auratmu ketika shalat, baik yang wajib atau yang sunnah karena menutupnya adalah perhiasan bagi tubuh sebagaimana membukanya berarti membiarkan tubuh dalam keadaan buruk dan tidak pantas. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan disini adalah lebih dari sekedar berpakaian yaitu pakaian yang bersih dan baik, ini mengandung perintah menutup aurat dalam shalat memperindah diri didalamnya serta kebersihan pakaian tersebut dari kotoran dan najis. Kemudian Dia berfirman ”makan dan minumlah” yakni dari yang baik-baik yang Allah rizkikan kepadamu, ”dan janganlah berlebih-lebihan” dalam hal itu berlebih-lebihan bisa dengan melampaui batas kemewahan dalam makan, minum dan berpakaian, dan bisa pula dengan melampaui batas kemewahan dalam makan, minum dan berpakaian, dan bisa pula dengan melampaui batas yang halal kepada yang haram. ”sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” karena sikap berlebih-lebihan itu dibenci Allah membahayakan tubuh dan kehidupan manusia, bahkan bisa menyebabkan ketidakmampuan untuk memberi nafkah. jadi ayat ini mengandung perintah makan dan minum larangan meninggalkannya serta larangan berlebih-lebihan padanya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

31. Wahai anak Adam, berhiaslah dan tutupilah aurat di setiap shalat dan thawaf. Kalian diperbolehkan untuk makan dan minum tanpa berlaku boros, yaitu melampaui batas dalam melakukan setiap sesuatu. Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang berlebihan, meridhai orang yang menghalalkan sesuatu yang halal dan mengharamkan sesuatu yang haram.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Wahai anak cucu Adam, pastikan diri kalian ketika akan melaksanakan shalat berada dalam kondisi berhias sesuai yang disyariatkan dengan mengenakan pakaian yang menutup aurat, memperhatikan kebersihan dan kesucian dan lain sebagainya. Makan dan minumlah dari barang yang baik-baik yang di karuniakan Allah kepada kalian, dan janganlah kalian melampaui batas kewajaran dalam hal itu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dan berlebihan dalam makanan dan minuman dan hal lainnya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

31. Allah menyuruh manusia dengan seruan yang lembut dengan menisbahkan mereka kepada ayah mereka: "Hai para keturunan Adam, berpakaian dan berhiaslah dengan penampilan yang baik untuk menutupi aurat setiap kali menjalankan shalat. Dan makan dan minumlah dari makanan dan minuman yang baik tanpa berlebih-lebihan; karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

31. Wahai anak-anak Adam! Kenakanlah pakaian yang menutupi aurat dan mempercantik penampilan kalian, yaitu pakaian yang bersih dan suci, ketika kalian menunaikan salat dan melaksanakan tawaf. Makanlah dan minumlah apa saja yang baik yang dihalalkan oleh Allah, tetapi jangan berlebih-lebihan dan jangan melampaui batasan yang wajar dalam hal itu. Dan jangan beralih dari yang halal menuju yang haram. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas-batas yang wajar.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

31. (Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid) Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berhias dan menutup aurat ketika mendatangi masjid untuk mendirikan sholat atau mengerjakan Thawaf. ( makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan) Allah melarang mereka berlebih-lebihan dan memerintahkan mereka untuk memakan makanan yang baik-baik, dan hal ini bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang yang zuhud, karena tidak ada kezuhudan dengan meninggalkan makan dan minum; dan orang yang meninggalkannya sama sekali maka ia telah bunuh diri dan menjadi ahli neraka, adapun orang yang hanya membatasi dirinya dengan sedikit makan dan minum sehingga melemahkan badannya dan menjadikannya tidak mampu untuk menjalankan kewajibannya melakukan ketaatan atau bekerja untuk dirinya dan keluarganya maka ia telah melanggar apa yang Allah perintahkan dan anjurkan. Adapun orang yang berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya sampai batas perbuatan orang-orang yang lemah akal dan mubadzir maka ia juga termasuk orang yang menyelisihi apa yang telah Allah syariatkan kepada hamba-hamba-Nya dan telah terjerumus kedalam perbuatan yang dilarang dalam al-qur’an.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

1 ). Ibnul Qoyyim berkata : Agama ini sepenuhnya adalah adab, oleh karena itu ulama-ulama terdahulu menganjurkan setiap lelaki untuk memberindah dirinya sebelum keluar untuk melaksanakan shalat, aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : Allah memerintahkan hamba-hamba Nya di atas menutup aurat dalam shalat, yaitu : menggunakan perhiasan, Allah berfirman : { } "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid" Perintah shalat dikaitkan dengan perintah berhias, dan bukan kepada perintah menutup aurat, sebagai pembolehan bahwa semestinya setiap hamba ketika akan melaksanakan shalat memakai pakaiannya yang terbaik. 2 ). Suatu ketika seorang Nashrani (yang juga seorang tabib pribadi Khalifah Harun al-Rasyid) berkata kepada salah seorang ulama : "dalam kitab kalian tidak sedikitpun dituliskan ilmu tentang kedokteran", kemudian sang 'alim berkata : "sesungguhnya Allah telah mengumpulkan ilmu kedokteran dalam satu ayat dari kitab kami", sang nashrani kemudian bertutur kembali : "lalu apakah itu ?" , sang 'Alim kemudian membacakan firman Allah : { } "makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan"

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah} pakailah pakaian yang menutupi aurat kalian secara indah {pada setiap masjid} shalat dan thawaf {makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-A’raf ayat 31: Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Ada wanita yang bertawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang, lalu ia berkata, “Siapa yang mau meminjamkan kepadaku pakaian tawaf?” Untuk dia jadikan penutup farjinya dan ia berkata, “Pada hari ini, sebagiannya nampak atau semuanya. Bagian yang nampak daripadanya, tidak saya halalkan.” Maka turunlah ayat, “Khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjid.” Hadits ini dinisbatkan oleh Ibnu Katsir kepada Nasa’i dan Ibnu Jarir (juz 8 hal. 160) dan diriwayatkan oleh Al Waahidiy dalam Asbaabunnuzul. Hakim juga menyebutkan di juz 2 hal. 319-320 dari jalan Syu’bah, di sana disebutkan turunnya ayat ini, “Qul man harrama ziinatallah…dst.” Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak menyebutkan”, dan didiamkan oleh Adz Dzahabi. Mungkin saja kedua ayat ini turun karena sebab tersebut, walahu ‘alam. Yang menutupi auratmu. Maksudnya setiap akan mengerjakan shalat atau thawaf keliling ka'bah atau ibadah-ibadah yang lain. Ayat ini memerintahkan untuk menutupi aurat, karena menutupnya menghiasi badan sebagaimana menanggalkannya menjadikan buruk bagi badan. Dalam ayat ini terdapat perintah menutup aurat ketika shalat dan dalam menjalankan ibadah lainnya, perintah berhias dan membersihkan pakaian dari kotoran dan najis. Maksudnya janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan kepada yang diharamkan. Demikian pula terdapat larangan berlebihan (bermewah-mewahan) dalam hal makan, minum dan berpakaian. Berlebih-lebihan adalah perkara yang dibenci Allah, membahayakan badan dan penghidupannya, bahkan terkadang membawanya kepada keadaan yang membuatnya tidak sanggup memenuhi kewajiban. Dalam ayat ini terdapat perintah makan dan minum, larangan meninggalkannya dan larangan berlebih-lebihan dalam makan dan minum.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. As-Sajdah (32): Ayat 4 Rujukan #2
ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِىٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
allāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, mā lakum min dụnihī miw waliyyiw wa lā syafī’, a fa lā tatażakkarụn
"Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Nabi Muhammad diutus untuk mendakwahkan ajaran tauhid dan dibekali dengan bukti-bukti nyata tentang hal itu. Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa contoh dan tidak pernah ada sebelumnya, dalam enam masa, meski sesungguhnya dia mampu menciptakannya dalam waktu sekejap. Hal ini bermaksud mendidik manusia bersabar dalam menangani semua urusan. Kemudian dia bersemayam di atas 'arsy yang tidak diketahui hakikatnya oleh selain Allah, namun wajib kita imani sesuai dengan kebesaran dan kesucian-Nya. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain dia. Tanpa izin Allah, tidak ada yang mampu menolongmu, baik itu para rasul maupun orang-orang tertentu, meringankan azab atau bebanmu di akhirat. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan dan mengambil pelajaran dari hal ini sehingga kamu beriman dan mengeesakan-Nya'5-6. Keteraturan alam membuktikan kekuasaan dan keesaan-Nya. Dia mengatur segala urusan makhluk-Nya dari langit, yakni alam malakut, ke bumi, yakni alam bumi, kemudian urusan itu dibawa naik oleh malaikat kepada-Nya dalam satu hari yang kadar atau lama-Nya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang mengatur urusan demikian itu adalah tuhan yang mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, yang mahaperkasa untuk mengazab siapa saja yang mengingkari dan mendustakan rasul-Nya, maha penyayang kepada hamba yang menaati-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 4-6 Allah SWT memberitahukan bahwa Dialah Dzat yang Maha Pencipta segala sesuatu, dan Dia menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arsy. Pembahasan tentang makna hal itu telah dijelaskan. (Tidak ada bagi kamu selain dari-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat) bahkan Dialah Dzat yang Maha Merajai segala urusan, yang Maha Pencipta, Maha Mengatur dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka tidak ada seorang penolongpun bagi makhlukNya selain Dia. Tidak ada pula seorang pemberi syafaat pun memberikan syafaatnya kecuali setelah mendapat izinNya (Maka apakah kamu tidak memperhatikan?) yaitu wahai orang-orang yang menyembah selain Allah dan yang berserah diri kepada selainNya. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari tandingan, sekutu, pembantu, lawan atau sesuatu yang sama, tidak ada Tuhan dan Rabb selain Dia Firman Allah SWT: (Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya) yaitu perintahNya turun dari langit yang tertinggi sampai ke lapisan paling bawah dari bumi lapis ketujuh, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu(12)) (Surah Ath-Thalaq). Semua amal perbuatan dinaikkan ke atas langit yang terdekat di atas langit bumi yang jarak antara langit yang terdekat dan bumi sama dengan jarak perjalanan lima ratus tahun, dan ketebalan langit itu jarak lima ratus tahun. (Yang demikian itu, ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata) yaitu Dzat yang mengatur segala urusan, Dialah Dzat yang Maha Menyksikan amal perbuatan para hambaNya. Semua amal, baik yang agung, yang rendah, yang kecil dan yang besar disampaikan kepadaNya. Dialah Dzat yang Maha Perkasa, yang menundukkan dan mengalahkan segala sesuatu. Dan semua hamba tunduk kepadaNya, serta Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang beriman. Dia Maha Perkasa dalam rahmatNya, Maha Penyayang dalam keperkasaanNya, dan inilah sifat yang Maha sempurna. yaitu keperkasaan yang disertai dengan rahmat, dan rahmat yang disertai keperkasaan. Jadi Dia Maha Penyayang tanpa kerendahan.

Tafsir As-Sa'di
Buka

4. Allah memberitakan tentang kesempurnaan kekuasaanNya dengan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Awal mulanya adalah Hari Ahad dan terakhir adalah Hari Jum’at, sekalipun sebenarnya Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap waktu, akan tetapi Allah Maha Pengasih lagi Maha bijaksana. “Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy,” yang merupakan atap seluruh makhluk, sebagai suatu tindakan bersemayam yang sesuai dengan keagunganNYa. “Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun” yang menolong kalian dalam segala urusan kalian, kemudian Dia memberikan kepada kalian manfaat. “Dan tidak pula seorang pemberi syafa’at,” yang bisa memberikan syafaat kepada kalian jika siksaan diarahkan kepada kalian. “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” lalu kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Pencipta bumi dan langit, yang bersemayam di atas Arasy yang agung, yang hanya Dia semata yang mengurusi kalian dan melindungi kalian, dan hanya bmilikNYa-lah semua syafaat, DIa-lah yang berhak mendapatkan segala macam bentuk ibadah!

Tafsir Al-Wajiz
Buka

4. Allah lah Yang telah menciptakan langit dan bumi, serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya selama 6 hari. Allah lah Yang mengetahui kadar atau ukurannya, kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arsy, yaitu salah satu ciptaan agung sebagai makhluk yang menjadi tempat bersemayam Dzat Yang Agung. Tanpa batas atau arah tertentu. Tidak ada yang dapat menolongmu kecuali Allah, juga tidak ada siapapun yang dapat menyelamatkanmu dari azab kecuali Allah.. Dengan begitu, apakah kalian tetap tidak mengambil pelajaran sehingga kalian dapat beriman?

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Allah Yang meciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari untuk suatu hikmah yang Dia ketahui, padahal Dia kuasa untuk menciptakan dengan kalimat, “Kun” maka ia pun jadi. Kemudian Allah bersemayam (yakni naik dan tinggi) di atas Arasy sesuai dengan keagunganNYa; tidak ditentukan bentuk dan caranya dan tidak disamakan dengan makhluk. Tidak ada untuk kalian (wahai manusia) yang mengurusi perkara kalian, ata seorang pemberi syafaat yang akan memberikan syafaat kepada kalian di sisi Allah untuk menyelamatkan kalian dari siksa Allah, tidakkah kalian mengambil pelajaran dan memikirkannya (wahai manusia) lalu kemudia kalian mengesakan Allah dalam uluhiyahNya dan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya?

Tafsir Al-Madinah
Buka

4. Allah mengabarkan kesempurnaan kuasa-Nya dalam menciptakan tujuh langit dan bumi selama enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy yang merupakan makhluk yang paling besar dan paling tinggi, Dia bersemayam sesuai dengan keagungan-Nya. Wahai para hamba, kalian tidak memiliki penolong selai Allah, dan tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya. Apakah mereka tidak berfikir untuk mengikuti kebenaran?

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

4. Allah-lah yang menciptakan langit dan menciptakan bumi serta menciptakan apa-apa yang ada di antara keduanya dalam waktu enam hari, dan Dia Mahakuasa untuk menciptakannya lebih cepat dari kedipan mata, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy dengan cara bersemayam yang sesuai dengan keagungan-Nya. Tidak ada bagi kalian -wahai manusia- suatu penolong pun selain Allah yang mengurusi urusan kalian, atau pemberi syafaat yang memberikan syafaat di sisi Rabb kalian, tidakkah kalian berfikir dan menyembah Allah yang telah menciptakan kalian, dan tidak menyembah selain-Nya bersama-Nya?

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

4. (Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa) Allah-lah yang lebih mengetahui hakikat dan panjangnya masa itu. ( kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy) Tafsir dari kalimat ini telah dijelaskan dengan lengkap. ( Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at) Yakni kalian tidak memiliki penolong dari Allah atau dari azab-Nya, dan kalian tidak memiliki pemberi syafaat di sisi-Nya. (Maka apakah kamu tidak memperhatikan?) Yakni memperhatikan, menghayati, memikirkan, dan mendengar peringatan-peringatan ini sebagaimana pendengaran orang yang memahami dan memikirkan agar kalian dapat mengambil manfaat darinya.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

{ } "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy" Allah ta'ala sering mengaitkan bersemayamnya DIA di atas Arsy dengan nama (Yang Maha Pengasih), karena Arsy itu dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang Dia luaskan. Dan rahmatNya melingkupi makhlukNya dan luas bagi mereka, sebagaimana Allah ta'ala berfirman : { } "dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu" [ Al-A'raf : 156 ] Maka Dia (Allah) bersemayam di atas makhlukNya yang paling luas dengan sifatNya yang paling luas; oleh karena itu rahmatNya meliputi segala sesuatu.

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Allah adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy} meninggi dan naik di atas Arsy, persemayaman yang sesuai dengan kemuliaan dan keagunganNya {Tidak ada seorang pun pelindung dan pemberi syafaat bagi kalian selain Dia. Apakah kalian tidak mengerti} apakah kalian tidak berpikir

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Awalnya hari Ahad, dan akhirnya hari Jum’at. Allah Subhaanahu wa Ta'aala sesungguhnya mampu menciptakan dalam sekejap, akan tetapi Dia Mahalembut lagi Mahabijaksana. Bersemayam di atas 'Arsy adalah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan keagungan-Nya. Yang mengurusi semua urusanmu, sehingga dia memberimu manfaat. Untuk menghindarkan azab-Nya ketika datang. Sehingga kamu mengetahui, bahwa yang menciptakan langit dan bumi, yang bersemayam di atas ‘arsy, yang sendiri mengatur dan mengurusmu dan yang memiliki semua syafaat, Dialah yang berhak diibadahi.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat As-Sajdah ayat 4: Allah mengabarkan bahwasanya Dia yang menciptakan langit dan bumi, dan juga menciptakan apa yang di antara keduanya dari angin dan selainnya pada enam masa, Dia yang maha kuasa menciptakan makhluk-Nya dalam sekejap waktu dan dengan itulah sebagai suatu hokum yang hanya Allah sajalah yang tahu, dari situ terdapat pengajaran dalam hal tidak tergesa-gesa dalam beribadah dan runut (berurutan), kemudian Allah beristiwa, yaitu tinggi di atas arsy, beristiwa sebagaimana yang Allah kehendaki; Dengan tanpa penyerupaan dan penafian. Ketahuilah wahai manusia, jika kalian menyelisihi perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya, maka tidak ada bagi kalian pelindung dari segala urusan kalian, tidak ada yang memberi syafa’at untuk terbebas dari adzab-Nya. Apakah kalian tidak mengambil pelajaran, kemudian membawa diri kalian untuk bertauhid kepada Allah dan ikhlas ibadah kepada-Nya saja ?.

QS. Qaf (50): Ayat 38 Rujukan #3
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ
wa laqad khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmiw wa mā massanā mil lugụb
"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dalam ayat ini Allah bersumpah atas kekuasaannya. Dan sungguh, kami telah menciptakan langit yang berlapis-lapis dan bumi yang terhampar dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami tidak merasa letih sedikit pun. Dengan ayat ini Allah menyatakan kesalahan anggapan orang-orang yahudi yang mengatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dimulai pada hari ahad dan diakhiri pada hari jumat dan istirahat pada hari sabtu, lalu berbaring di atas 'arasy karena merasa letih. Maka Allah membantah pendapat itu. Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan dan kelemahan. 39. Maka bersabarlah engkau, wahai nabi Muhammad, terhadap apa yang mereka katakan, yaitu pengingkaran mereka terhadap keniscayaan hari kiamat dan bertasbihlah dengan memuji tuhanmu sebelum matahari terbit, yakni salat subuh, dan sebelum terbenam, yakni salat zuhur dan asar.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 36-40 Allah SWT berfirman,”Berapa banyaknya umat-umat yang mendustakan yang telah Kami binasakan sebelum mereka, (yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini) yaitu para umat terdahulu itu lebih banyak jumlahnya, lebih kuat, lebih berpengaruh dan memakmurkan bumi daripada apa yang telah mereka lakukan. Oleh karena itu Allah berfirman di sini: (maka mereka telah pernah menjelajah di beberapa negeri) Ibnu Abbas berkata bahwa maknanya adalah banyak melakukan pembangunan yang ditinggalkan. Mujahid berkata tentang firmanNya: maka mereka (maka mereka telah pernah menjelajah di beberapa negeri) yaitu mereka menjelajahi bumi ini. Firman Allah: (Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?) yaitu apakah ada tempat melarikan diri bagi mereka dari keputusan dan takdir Allah? dan apakah semua yang mereka kumpulkan itu bermanfaat bagi mereka dan dapat menolak azab Allah dari mereka ketika azab itu datang menimpa mereka, karena mereka telah mendustakan para rasul? Maka kalian juga sama, tidak ada jalan melarikan diri, jalan keluar, dan tempat berlindung bagi kalian. Firman Allah: (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan) yaitu pelajaran (bagi orang-orang yang mempunyai hati) yaitu hati yang menyadarinya. Mujahid berkata bahwa yang dimaksud adalah akal (atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikan) yaitu mendengar, menghafal, memikirkan, dan memahami kalam itu dengan hatinya. Mujahid berkata tentang firmanNya: (atau yang menggunakan pendengarannya) yaitu, tidak berbicara kepada diri sendiri dalam hatinya saat mendengarkannya (sedangkan dia menyaksikan) Adh-Dhahhak berkata bahwa orang-orang Arab berkata Fulan mendengarkan ketika dia mendengarkan dengan seksama menggunakan kedua telinganya dan dia menyaksikannya seraya berkata sebagai orang yang hadir pada apa yang dia dengarkan. Demikian juga dikatakan Ats-Tsauri dan lainnya. Firman Allah: (Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan (38)) Di dalamnya terkandung pernyataan adanya hari kebangkitan, karena Dzat yang mampu menciptakan langit dan bumi tanpa sedikit pun mengalami keletihan, pasti mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan cara yang lebih mudah. (dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan) yaitu tidak ada keletihan atau kelelahan, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat lain: (Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (33)) (Surah Al-Ahqaf) dan (Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia) (Surah Ghafir: 57) serta (Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit7 Allah telah membangunnya (27)) (Surah An-Nazi'at) Firman Allah: (Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan) yaitu terhadap orang-orang yang mendustakan itu, bersabarlah terhadap mereka dan menghindarlah dari mereka dengan cara yang baik (dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)) sebelum perjalanan Isra’, shalat fardhu itu hanya dua waktu, yaitu sebelum matahari terbit di waktu fajar, dan sebelum terbenamnya matahari di waktu Ashar. Dan shalat malam itu diwajibkan atas Nabi SAW dan umatnya selama satu tahun, kemudian dinasakh hukum wajibnya bagi umatnya. Kemudian Setelah itu semuanya dinasakh oleh Allah SWT di malam Isra’ dan diganti dengan shalat lima waktu, yang di antaranya terdapat shalat Shubuh dan Ashar, keduanya dilakukan sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam. Firman Allah SWT: (Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya) yaitu, kerjakanlah shalat karena Allah. sebagaimana firmanNya: (Dan pada sebagian malam hari salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (79)) (Surah Al-Isra’) (dan setiap selesai shalat) Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, dari ibnu Abbas bahwa yang dimaksud adalah membaca tasbih setelah shalat. Hal ini diperkuat oleh apa yang terkandung dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa kaum fakir muhajirin datang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta telah pergi dengan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi" Maka Nabi SAW bersabda,"Apa yang kalian maksud?" Mereka berkata, "Orang-orang yang mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa; tetapi mereka dapat bersedekah, sedangkan kami tidak dapat bersedekah; dan mereka dapat memerdekakan budak, sedangkan kami tidak dapat memerdekakan budak" Maka Rasulullah SAW bersabda:”Apakah kalian mau aku ajarkan kepada kalian suatu amalan yang apabila kalian mengerjakannya, maka kalian dapat mendahului orang-orang setelah kalian, dan tidak ada seorangpun yang lebih utama dari kalian kecuali orang yang mengerjakan hal yang serupa dengan apa yang kalian kerjakan? yaitu kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami yang memiliki harta telah mendengar apa yang kami amalkan, maka mereka mengerjakan hal yang serupa" Maka Rasulullah SAW menjawab: Itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Pendapat yang kedua bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT: (dan setiap selesai shalat) yaitu dua rakaat setelah shalat Maghrib. Hal ini diriwayatkan dari Mujahid, An-Nakha'i, Al-Hasan, Qatadah, dan lainnya.

Tafsir As-Sa'di
Buka

38. Ini adalah pemberitahuan Allah tentang KuasaNya yang Mahaagung serta kehendakNya yang pasti terlaksana, yang dengan itu Allah menciptakan makhluk terbesar yaitu “ langit dan bumi dana pa yang ada di antara keduanya dalam enam masa,” dimulai dari Hari ahad dan berakhir pada Hari Jumat tanpa lelah dan letih. Allah yang menciptakan langit dan bumi segitu besar dan luasnya tentu lebih mampu untuk menghidupkan manusia yang telah mati.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

38. Sungguh kami telah menciptakan langit, bumi dan segala isinya berupa makhluk, dan Kami tidak merasa lelah dan letih. Ayat ini diturunkan untuk menanggapi orang Yahudi yang beranggapan bahwa Allah beristirahat di hari ke-7 setelah menciptakan langit dan bumi, yaitu pada hari sabtu, lalu Allah SWT menyangkal (anggapan) mereka.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Sungguh Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya berupa makhluk-makhluk dengan berbagai macamnya dalam 6 hari. Kami tidak capek dan tidak pula lelah dalam mencipta . dalam Kuasa besar ini membuktikan bahwa Allah lebih kuasa lagi untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.

Tafsir Al-Madinah
Buka

38. Sungguh Kami telah menciptakan tujuh langit dan bumi serta makhluk-makhluk yang ada di antara keduanya dalam waktu enam hari, dan dalam penciptaan itu Kami sama sekali tidak merasa lelah.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

38. Dan sungguh telah Kami ciptakan langit dan Kami ciptakan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari padahal Kami mampu menciptakannya dalam sekejap, dan tidaklah Kami merasa capek sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

38. (dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan) Makna () yakni kelelahan dan keletihan. Dikatakan bahwa orang-orang Yahudi berkata: “Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dalam enam hari, Dia memulai di hari Ahad dan berakhir di hari Jum’at, dan Dia beristirahat di hari Sabtu.” Maka Allah membantah perkataan mereka ini.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

38-39 Maka perhatikanlah firman Allah ta'ala: { } “Maka bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan", karena musuh-musuh Rasul mengaitkan kepadanya sesuatu yang tidak pantas baginya, dan mereka mengatakan tentang dia apa yang berada di luar jangkauannya, maka Allah memerintahkan dia untuk bersabar terhadap apa yang mereka ucapkan. Dan agar dia menjadi teladan di sisi Tuhannya, seperti yang dikatakan musuh-musuhnya tentang sesuatu yang tidak pantas..

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa dan Kami tidak merasa} Kami tidak ditimpa {letih} keletihan dan kelelahan

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Ayat ini merupakan berita dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala tentang kekuasaan-Nya yang besar dan kehendak-Nya yang berlaku, dimana dengannya Dia ciptakan makhluk-makhluk yang besar. Dimulai dari hari Ahad dan diakhiri dengan hari Jum’at. Ayat ini sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang mengatakan, bahwa Allah beristirahat pada hari Sabtu. Oleh karena itu, Tuhan yang mampu menciptakan makhluk-makhluk yang besar itu tentu mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat Qaf ayat 38: Allah mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi beserta apa yang ada di dalamnya, yang Allah jadikan dari ketiadaan menjadi ada dengan tanpa permisalan yang telah lalu, pada enam masa dengan tanpa kepayahan. Tidak sebagaimana yang dikatakan oleh yahudi yang mengatakan : Bahwa Allah istirahat pada hari sabtu.

QS. Al-Qamar (54): Ayat 49 Rujukan #4
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍ
innā kulla syai`in khalaqnāhu biqadar
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

49-50. Apa yang terjadi pada semua makhluk sudah ditetapkan oleh Allah. Sungguh, kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran, yaitu suatu sistem dan ketentuan yang telah ditetapkan. Dan ketahuilah bahwa semua perintah kami yang menyangkut apa pun hanyalah diungkapkan dengan satu perkataan yang mudah dan cepat, seperti kejapan mata

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 47-55 Allah SWT memberitahukan kepada kami tentang orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tersesat dari kebenaran dan tenggelam dalam keragu-raguan, kebimbangan, dan kekacauan dalam pikirannya. Hal ini dialami oleh setiap orang yang disifati dengan sifat itu dari kalangan orang-orang kafir, ahli bid'ah, dan semua golongan yang tersesat. Kemudian Allah SWT berfirman: ((Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya) yaitu sebagaimana mereka berada dalam kegelapan, keragu-raguan, dan kebimbangan, maka mereka mendapat balasan neraka; dan sebagaimana mereka tersesat, maka mereka diseret masuk ke dalam neraka di atas wajah mereka. Mereka tidak mengetahui kemanakah mereka dibawa, dan dikatakan kepada mereka dengan maksud mengecam dan mencemooh: (Rasakanlah sentuhan api neraka!) Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (49)) sebagaimana firmanNya: (dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya) (Surah Al-Furqan) dan (Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (1) yang menciptakan dan yang menyempurnakan (penciptaanNya) (2) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (3)) (Surah Al-A'la) yaitu Dia telah menentukan takaran dan memberi petunjuk kepada semua makhlukNya Firman Allah SWT: (Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata (50)) Ini merupakan pemberitahuan tentang berlangsungnya kehendak Allah ter­hadap makhlukNya. Sebagaimana Kami beritahukan bahwa takdir­Nya berlangsung terhadap mereka. Maka Allah SWT berfirman: (Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan) yaitu sesungguhnya Kami hanya memerlukan satu perintah saja, tanpa perlu menegaskan untuk kedua kalinya. Maka apa yang Kami perintahkan untuk ada itu pasti ada dan terjadi seperti kejapan mata, tanpa ada tenggang waktu sedikit pun. Firman Allah SWT: (Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu) yaitu orang-orang yang serupa dengan kalian dari kalangan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul (Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?) yaitu apakah ada orang yang mengambil pelajaran dari kehinaan yang ditimpakan kepada mereka dan azab yang telah ditakdirkan Allah kepada mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu) (Surah Saba: 54) Firman Allah SWT (Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (52)) yaitu, telah tercatat atas mereka dalam kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat (Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar) dari amal perbuatan mereka (adalah tertulis) yaitu dikumpulkan bagi mereka dan telah dituliskan dalam lembaran-lembaran mereka, tanpa ada yang terlewatkan; baik yang kecil maupun yang besar, semuanya telah dihitung. Firman Allah SWT: (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai (54)) yaitu berkebalikan dengan keadaan orang-orang yang celaka karena kesesatan dan kegilaan mereka, mereka diseret ke dalam neraka di atas wajah mereka dengan diiringi cemoohan, kecaman dan ancaman. Firman SWT: (di tempat yang disenangi) yaitu di rumah kemuliaan, keridhaan, karunia, anugerah dan kebaikan Allah (di sisi Tuhan Yang Berkuasa) yaitu di sisi Tuhan Maha Merajai lagi Maha Agung dan Maha Pencipta segala sesuatu dan yang menentukan ukuran-ukurannya. Dia Maha Kuasa atas semua yang Dia kehendaki dari apa yang mereka inginkan dan butuhkan

Tafsir As-Sa'di
Buka

49. “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran,” ini mencakup seluruh makhluk dan seluruh alam, baik alam atas maupun alam bawah, hanya Allah yang menciptakannya. Tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya dalam menciptakan semuanya. Allah menciptakan berdasarkan ketentuan yang telah terdahulu berdasarkan ilmuNya dan sesuai catatan penaNya berdasar waktu dan ukuran yang ditetapkan dan seluruh sifat yang tercakup dalam segala hal.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

49. Sesungguhnya kami menciptakan setiap sesuatu itu dengan ukuran yang sesuai dengan yang telah diketahui dan tertulis di lauhil mahfudz sebelum ada penciptaannya.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dalam takaran yang telah Kami takdirkan dan Kami tetapkan, ilmu Kami telah mendahuluinya dan Kami menulisnya di Lauhul Mahfuzh.

Tafsir Al-Madinah
Buka

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

49. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini dengan takdir yang telah lalu dari Kami, sesuai dengan pengetahuan Kami dan Kami tuliskan dalam Lauḥul Maḥfuẓ.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

49. (Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran) Yakni segala sesuatu yang diciptakan Allah telah disertai takdir yang ditetapkan Allah baginya.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran} sesuai ukuran sebelumnya dari Kami

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Hal ini mencakup semua makhluk, dan alam bagian atas maupun bagian bawah. Dia menciptakannya dengan qadha’ (qadar) yang telah diketahui-Nya, tertulis oleh pena-Nya, demikian pula sifat-sifat yang ada padanya, dan bahwa yang demikian itu mudah bagi Allah. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman di ayat selanjutnya, “Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata.”

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat Al-Qamar ayat 49: Allah menjelaskan bahwa setiap apa yang ada pada kehidupan ini telah ditakdirkan dan ditulis di Lauhul Mahfudz sejak dahulu, dan Allah memberikan kepada makhluk-Nya kewajiban yang dengannya Allah ciptakan mereka.

QS. Al-Hasyr (59): Ayat 18 Rujukan #5
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad, wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Salah satu sifat orang munafik adalah menyatakan beriman kepada Allah dan rasul-Nya secara lisan, padahal mereka bukan orang beriman (lihat: surah al-baqarah/2:10) sehingga nasib mereka di akhirat kekal di dalam neraka. Pada ayat ini Allah mengingatkan orang beriman agar benar-benar bertakwa kepada Allah dan memperhatikan hari esok, akhirat. Wahai orang-orang yang beriman! kapan dan di mana saja kamu berada bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh melakukan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya; dan hendaklah setiap orang siapa pun dia memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, yakni untuk hidup sesudah mati, di akhirat dengan berbuat kebaikan atas dasar iman, ditopang dengan ilmu dan hati yang ikhlas semata-mata mengharap rida Allah, sebab hidup di dunia ini sementara, sedangkan hidup di akhirat itu abadi; dan bertakwalah kepada Allah dengan menjaga hubungan baik dengan Allah, manusia dan alam. Sungguh, Allah mahateliti sekecil apa pun juga terhadap apa yang kamu kerjakan sehingga semua yang kamu lakukan berada dalam pengetahuan Allah (lihat: surah q'f/50: 18). 19. Allah mengingatkan orang berimaan dengan berfirman, 'dan janganlah kamu, wahai orang-orang beriman seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, tidak menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi manusia dalam kehidupan ini sehingga Allah menjadikan mereka, karena pola hidup mereka yang hanya mencari kepuasaan, kelezatan, dan kenikmatan duniawi tanpa mempertimbangkan kebutuhan hidup sesudah mati, manusia yang lupa akan diri sendiri, yakni manusia yang tercabut dari akar kemanusiaannya. Mereka itulah, manusia yang lupa kepada Allah dan lupa kepada diri sendiri adalah orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang bergelimang dosa dan perbuatan keji. '.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 18-20 Perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT itu mencakup mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang. Firman Allah SWT: (dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)) yaitu hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung, dan perhatikanlah apa yang kalian tabung untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari kalian dikembalikan, yaitu kalian dihadapkan kepada Tuhan kalian (dan bertakwalah kepada Allah) penegasan yang kedua (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan) yaitu, ketahuilah bahwa Allah mengetahui semua amal dan keadaan kalian, tidak ada sesuatupun dari kalian yang tersembunyi dariNya dan tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka baik yang besar maupun yang kecil yang luput dariNya. Firman Allah SWT: (Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri) yaitu janganlah lupa dari mengingat Allah, yang akan membuat kalian lupa kepada amal shalih bagi diri kalian pada hari kebangkitan, karena sesungguhnya pembalasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Mereka itulah orang-orang yang fasik) yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yang akan binasa pada hari kiamat dan merugi di hari mereka dikembalikan. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi (9)) (Surah Al-Munafiqun) Firman Allah SWT: (Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga) yaitu antara mereka dan mereka tidaklah sama menurut hukum Allah SWT pada hari kiamat, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu (21)) (Surah Al-Jatsiyah) dan (Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran (59)) (Surah Ghafir) serta (Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (28)) (Surah Shad) dan dalam ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berbuat kebaikan dan menghina orang-orang yang durhaka. Oleh karena itu Allah SWT berfirman di sini: (penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung) yaitu orang-orang yang selamat dari azab Allah SWT

Tafsir As-Sa'di
Buka

18. Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman untuk menunaikan konsekuensi iman yaitu dengan bertakwa kepada Allah, baik dikala sepi maupun ramai dan di segala hal. Allah memerintahkan mereka untuk menjaga apa saja yang diperintahkan, baik yang berbentuk perintah, syariat, maupun batasan-batasanNya, serta memikirkan akibat baik dan buruk apa yang akan mereka dapatkan, serta apa yang mereka dapatkan dari amal perbuatan mereka yang bisa membawakan manfaat atau malapetaka bagi mereka di akhirat. Jika mereka meletakkan akhirat di hadapan mata dan sebagai kiblat hati mereka, maka mereka berkonsentrasi untuk menunaikan amalan-amalan akhirat serta berusaha dengan kuat memperbanyak amalan-amalan yang bisa menghantarkan mereka ke surga dengan membersihkannya dari berbagai hal yang bisa memutus dan menghalangi, yang mencegah mereka untuk mengerjakan atau melakukannya, jika mereka juga mengetahui bahwa “sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” amalan mereka tidaklah samar bagi Allah, tidak akan lenyap disisi Allah dan tidak akan dilalaikan, maka hal itu mengharuskan mereka untuk bersungguh-sungguh dalam beramal. Ayat ini adalah pangkal dalam hal muhasabah diri. Setiap orang harus selalu mengintrospeksi diri. Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya dengan cara melepaskan diri darinya, bertaubat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang menghantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika menilai dirinya bersikap sekenanya dalam menunaikan perintah-perintah Allah, ia akan mengerahkan segala kemampuannya dengan meminta pertolongan pada RabbNya untuk mengembangkan, dan menyempurnakannya, serta membandingkan antara karunia dan kebaikan Allah yang diberikan padanya dengan kemalasannya. Karena hal itu mengharuskannya merasa malu.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

18. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Pada hari kiamat semua jiwa akan melihat segala amal baik yang telah dia kerjakan. Bertakwalah kepada Allah: sebagai penekanan, sungguh Allah Maha mengetahui segala perbuatab kalian. Tidak ada satu pun yang bisa tersembunyi dari pengawasan Allah. Allah Maha memberi balasan atas amal kalian

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

18. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya, serta melaksanakan syariatNya, takutlah kalian kepada Allah, waspadalah hukumanNYa dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepada kalian dan meninggalkan apa yang Allah larang bagi kalian. Hendaknya setiap jiwa merenungkan apa yang telah dilakukannya berupa amal perbuatan untuk menghadapi Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan, tidak ada sedikit pun dari amal kalian yang samar bagi Allah, dan Dia akan membalas kalian karenanya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

18-19. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan hendaklah setiap mereka mencermati kebaikan apa yang telah dia siapkan untuk menghadapi hari kiamat. Kemudian Allah mengulangi perintah-Nya agar mereka bertakwa kepada Allah, untuk menegaskan betapa pentingnya ketakwaan. Allah Maha Mengetahui segala perbuatan kalian di dunia. Dan Allah melarang mereka agar tidak menjadi seperti orang-orang lalai dari mengingat Allah, karena Allah akan membalas mereka dengan melalaikan diri mereka sendiri. Orang-orang yang jauh dari kebenaran itu adalah orang-orang yang menyelisihi perintah Allah.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

18. Wahai orang-orang yang beriman dan melaksanakan apa yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka, bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan hendaknya masing-masing jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya dari amal saleh untuk hari Kiamat, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan, tidak ada sesuatu pun dari amal kalian yang luput dari-Nya, dan Dia akan membalas kalian atas perbuatan tersebut.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

18. (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah) Yakni berhati-hatilah azab-Nya dengan menjalankan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang. ( dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)) Yakni hendaklah kalian mencermati amalan apa yang kalian siapkan untuk hari kiamat.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Menengok amalan masa lalu merupakan sarana mensyukuri amal baik, dan memohon ampun serta bertaubat dari amal buruk

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan} hendaklah merenungi {apa yang telah dia perbuat untuk hari esok} untuk hari kiamat {Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian kerjakan

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk melakukan kehendak dari keimanan dan konsekwensinya yaitu tetap bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan dan dalam setiap keadaan serta memperhatikan perintah Allah baik syariat-Nya maupun batasan-Nya serta memperhatikan apa yang dapat memberi mereka manfaat dan membuat mereka celaka serta memperhatikan hasil dari amal yang baik dan amal yang buruk pada hari Kiamat. Karena ketika mereka menjadikan akhirat di hadapan matanya dan di depan hatinya, maka mereka akan bersungguh-sungguh memperbanyak amal yang dapat membuat mereka berbahagia di sana, menyingkirkan penghalang yang dapat memberhentikan mereka dari melakukan perjalanan atau menghalangi mereka atau bahkan memalingkan mereka darnya. Demikian juga, ketika mereka mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahateliti terhadap apa yang mereka kerjakan, dimana amal mereka tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya dan tidak akan sia-sia serta diremehkan-Nya, maka yang demikian dapat membuat mereka semakin semangat beramal saleh. Ayat ini merupakan asas dalam meintrospeksi diri, dan bahwa sepatutnya seorang hamba memeriksa amal yang dikerjakannya, ketika ia melihat ada yang cacat, maka segera disusul dengan mencabutnya, bertobat secara tulus (taubatan nashuha) dan berpaling dari segala sebab yang dapat membawa dirinya kepada cacat tersebut. Demikian juga ketika ia melihat kekurangan pada dirinya dalam menjalankan perintah Allah, maka ia mengerahkan kemampuannya sambil meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk dapat menyempurnakan kekurangan itu dan memperbaikinya serta mengukur antara nikmat-nikmat Allah dan ihsan-Nya yang banyak dengan kekurangan pada amalnya, dimana hal itu akan membuatnya semakin malu kepada-Nya. Sungguh rugi seorang yang lalai terhadap masalah ini dan mirip dengan orang-orang yang lupa kepada Allah; lalai dari mengingat-Nya serta lalai dari memenuhi hak-Nya dan mendatangi keuntungan terbatas bagi dirinya dan hawa nafsunya sehingga mereka tidak mendapatkan keberuntungan, bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan mereka lupa terhadap maslahat diri mereka, maka keadaan mereka menjadi melampaui batas, mereka pulang ke akhirat dengan membawa kerugian di dunia dan akhirat serta tertipu dengan tipuan yang sulit ditutupi, karena mereka adalah orang-orang yang fasik.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat Al-Hasyr ayat 18: Allah menganjurkan bagi orang-orang yang beriman untuk bertakwa dan melihat akan adzab dan selalu mengintrospeksi atas amalan mereka, Allah berkata : Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, beramallah kalian dengan syariat-Nya. Takutlah kalian dari adzab Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah dan dilarang-Nya, dan agar memperhatikan setiap amalan yang terdahulu yang (akan dihisab) di hari kiamat. Kemudian Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar bertakwa untuk kedua kalinya. Dan Allah mengulangi kalimat takwa kaena pentingnya amalan tersebut. Ketahuilah bahwa Allah yang ada di langit mengetahui atas amalan-amalan kalian tanpa tersembunyi apa yang ada di bumi dan di langit. Dan kalian akan dibalas dengan sebab amalan-amalan kalian. Jika baik, maka akan dibalasan dengan kebaikan, jika buruk makan akan dibalas dengan keburukan.

QS. At-Tin (95): Ayat 4 Rujukan #6
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm
"sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya, jauh lebih sempurna daripada hewan. Kami juga bekali mereka dengan akal dan sifat-sifat yang unggul. Dengan kelebihan-kelebihan itulah kami amanati manusia sebagai khalifah di bumi. 5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu ke neraka, bila mereka durhaka kepada Allah dan tidak menaati utusan-Nya. Ketika itu, kesempurnaan fisik, akal, dan sifat mereka tidak akan menyelamatkannya dari azab Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 1-8 (Demi buah Tin) Para mufasir berbeda pendapat di sini menjadi banyak pendapat Mujahid berkata yaitu pohon tin kalian ini. (dan buah Zaitun) Al-Ahbar, Ibnu Zaid, dan lainnya berkata bahwa itu nama sebuah masjid di Baitul Maqdis. Mujahid dan Ikrimah berkata bahwa maknanya adalah buah zaitun yang kalian peras ini (dan demi kota (Mekah) ini yang aman (3)) yaitu Makkah. Pendapat itu dikatakan Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan Ka'b Al-Ahbar; tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Firman Allah SWT: (sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (4)) Ini adalah subjek sumpahnya, yaitu bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk paling baik dan rupa paling sempurna, tegak jalannya dan sempurna, serta baik semua anggota tubuhnya. (Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (5)) yaitu neraka. Pendapat itu dikatakan Mujahid, Abu Al-’Aliyah, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan lainnya. Kemudian setelah penciptaan yang paling baik dan paling indah itu, tempat kembalinya adalah ke neraka, jika tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti para rasul. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh) Sebagian mereka beroendapat tentang firmanNya: (Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (5)) yaitu kepada usia paling hina. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan Ikrimah. Ibnu Jarir memilih pendapat ini. Seandainya hal itulah yang dimaksud, maka tidaklah menjadi indah pujian bagi orang-orang mukmin, mengingat sebagian dari mereka itu mengalami usia pikun. Dan sesungguhnya makna yang dimaksud hanya sebagaimana yang kami sebutkan, sebagaimana firmanNya: (Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (3)) (Surah Al-'Ashr) Firman Allah: (maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya) yaitu tidak ada habisnya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Kemudian Allah berfirman: (Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan) wahai anak cucu Adam ((hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?) yaitu, pembalasan di hari kebangkitan. Sesungguhnya kamu mengetahui permulaan kejadianmu dan telah mengetahui bahwa Tuhan yang mampu memulai penciptaan itu juga mampu untuk mengembalikannya jadi hidup dengan lebih mudah. Maka apakah yang mendorongmu mendustakan adanya hari kebangkitan, padahal kamu telah mengetahui hal itu? Diriwayatkan dari Manshur, dia berkata, “Aku bertanya kepada Mujahid tentang firmanNya: (Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? (7)) Apakah yang dimaksud adalah Nabi SAW? Mujahid menjawab, "Aku berlindung kepada Allah, yang dimaksud adalah manusia" Demikian juga dikatakan Ikrimah dan lainnya. Firman Allah SWT (Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (8)) yaitu bukankah Dia Hakim yang paling adil, yang tidak melampaui batas dan tidak berbuat aniaya terhadap seseorang pun? termasuk dari sifat adilNya ialah Dia mengadakan hari kiamat, lalu orang yang dizalimu di dunia dapat membalas orang menzaliminya.

Tafsir As-Sa'di
Buka

4. Yang disumpahkan adalah FirmanNya, “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak kekurangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

4-5. Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik susunan karena wujud dan bentuknya (yang baik). Kemudian kami kembalikan beberapa manusia, yaitu orang kafir, dan kami menjadikannya masuk ke dalam neraka. Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini turun pada kelompok yang memiliki umur pendek”

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

1-6. Allah bersumpah dengan tin dan zaitun,keduanya termasuk buah buahan yang masyhur, Allah bersumpah Juga dengan gunung thursina(Sinai)yang disana Allah berbicara kepada Musa alaihi salam secara langsung, Allah bersumpah Juga dengan negeri yang aman dari segala ketakutan (yaitu Makkah) tempat turunnya wahyu. Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, kemudian Kami mengembalikannya ke neraka bila dia tidak patuh kepada Allah dan tidak mengikuti para rasul. Akan tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapatkan pahala besar yang tidak terputus dan tidak dikurangi.

Tafsir Al-Madinah
Buka

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

4. Sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan dan seindah-indahnya rupa.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

4. (sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya) Allah menciptakannya dengan tubuh yang tegak, sehingga dapat memakan makanannnya dengan tangan; dan Allah menciptakannya dengan kemampuan memahami, berbicara, mengatur, dan berbuat bijak, sehingga memungkinkannya menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana yang Allah kehendaki.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Siapapun yang dapat mentadabburi firman Allah : { } dia tidak akan berani untuk menghinakan manusia ciptaan Allah, dan tidak pula ia akan menghinakan setiap makhluk ciptaan Allah yang dipuji oleh-Nya.

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya} sebaik-baik ciptaan dan sebagus-bagus bentuk

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Yakni sempurna dan seimbang fisiknya serta sesuai letak anggota badannya. Namun sayang, nikmat yang besar ini tidak disyukuri oleh kebanyakan manusia. Kebanyakan mereka berpaling dari sikap syukur, sibuk dengan permainan dan yang melalaikan, dan lebih senang dengan perkara yang hina dan rendah, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengembalikan mereka ke tempat yang paling rendah, yaitu neraka yang merupakan tempat para pelaku maksiat yang durhaka.

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat At-Tin ayat 4: Datang jawaban atas sumpah yang menjelaskan di dalamnya bahwa Allah lah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang pertama kali, dan memiliki bentuk yang sempurna, dan dihiasi dengan akal, lisan, dan kelebihannya atas kebanyakan makhluk.