Indikator 19: Manajemen Hubungan Pelanggan
Ditemukan 9 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Tuntunan pada ayat di atas dipertegas lagi dengan mengajak mereka memeluk islam yang dibawa oleh nabi Muhammad. Dan berimanlah kamu kepada apa, yakni Al-Qur'an, yang telah aku turunkan kepada nabi Muhammad yang membenarkan apa, yakni taurat, zabur, dan lain-lain, yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama, yakni yang paling gigih dan paling keras mengingkari dan kafir kepadanya. Janganlah kamu jual, campakkan, atau tukar ayat-ayat ku dengan kemegahan duniawi dan dengan harga yang pada hakikatnya murah walaupun tampak mahal, dan bertakwalah hanya kepada-ku, sebab dengan itu kamu akan dapat menjalankan perintah-ku dan meninggalkan larangan-ku, sehingga kamu tidak terjerumus dalam kesesatan. Pada ayat ini, Allah memberikan larangan kepada bani israil untuk tidak mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan. Dan janganlah kamu, wahai bani israil, campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dengan memasukkan apa yang bukan firman Allah ke dalam kitab taurat, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran firman-firman Allah seperti berita akan datangnya nabi Muhammad, sedangkan kamu mengetahuinya. Orang-orang yahudi menyembunyikan berita tentang kedatangan nabi Muhammad yang termaktub di dalam taurat dengan maksud untuk menghalangi manusia beriman kepadanya.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT berfirman seraya memberikan perintah kepada Bani Israil untuk masuk Islam dan mengikuti nabi Muhammad SAW yang telah diberi rahmat dan salam terbaik oleh Allah, dan mendorong mereka dengan menyebut bapak mereka, yaitu nabi Ya'qub AS. Makna kalimatnya adalah: "Hai anak-anak dari hamba yang taat kepada Allah, jadilah seperti ayah kalian dalam mengikuti kebenaran" Seperti ketika seseorang berkata,"Hai anak yang mulia, lakukanlah ini!" atau "Hai anak yang gagah berani, keluarlah menjadi pahlawan!" atau "Hai anak yang cerdas, carilah ilmu", dan sejenisnya. Dari Abdullah bin Abbas, bahwa sesungguhnya Bani Israil itu seperti dengan ucapanmu, yaitu hamba Allah. Terkait firman Allah SWT, (ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu) Mujahid berkata,’Nikmat Allah yang dianugerahkan kepada mereka, baik yang disebutkan maupun yang tidak, yaitu ketika Dia memecahkan batu untuk mereka, menurunkan manna dan salwa, serta menyelamatkan mereka dari perbudakan keluarga Fir'aun" Abu Al-'Aliyah berkata,"NikmatNya adalah menjadikan di antara mereka para nabi dan rasul serta menurunkan kitab-kitab untuk mereka." Saya berkata,”ini seperti ucapan nabi Musa AS kepada mereka, (Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain".) (Surah Al-Maidah: 20) maknanya yaitu di zaman mereka. Dari Ibnu Abbas terkait firman Allah SWT, (ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu) maknanya yaitu bantuanKu yang untuk kalian dan nenek moyang kalian ketika Aku menyelamatkan mereka dari Fir'aun dan kaumnya. Terlkai firman (dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu) Ibnu Abbas berkata maknanya adalah perjanjian yang Aku ambil dari leher kalian, yaitu perjanjian dengan nabi Muhammad SAW ketika dia datang kepada kalian (niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu) maknanya yaitu, Aku akan memenuhi janjiKu kepada kalian dengan membenarkan dan mengikutinya dengan melepaskan beban dan belenggu yang sebelumnya ada di leher kalian karena dosa-dosa yang kalian perbuat. Abu Al-'Aliyah berkata, (dan penuhilah janjimu kepada-Ku) maknanya yaitu janji Allah kepada hamba-hambaNya yaitu agama Islam, supaya mereka mengikutinya" Firman Allah, (dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)), maknanya adalah takutlah kepadaKu. Ini adalah pendapat yang dikatakan oleh Abu Al-'Aliyah, As-Suddi, Ar-Rabi' bin Anas, dan Qatadah. Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah SWT (dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)) maknanya yaitu, Allah akan menurunkan kepada kalian sesuatu yang telah diturunkan kepada orang-orang sebelum kalian yaitu nenek moyang kalian berupa adzab-adzab yang telah kalian ketahui, seperti adzab membalikkan bumi dan lainnya. Ini merupakan peralihan dari ajakan menjadi ancaman. Allah SWT telah mengajak mereka dengan cara yang halus dan cara memberi ancaman, barangkali mereka kembali kepada kebenaran, mengikuti Rasulallah SAW, merenungi Al-Quran beserta peringatan-peringatannya, melaksanakan perintah-perintahNya, dan membenarkan berita-berita dariNya. Allah adalah Yang Maha Pemberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus. Karena itu, Dia berfirman, Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat)). Kata (mushaddiqan) itu manshub karena menjadi “haal” dari kata “maa”, bentuknya yaitu “bil ladzi anzaltu mushaddiqan” (beriman kepada apa Aku turunkan) atau dari “dhamir” yang dibuang, bentuknya yaitu “bi maa anzalathu mushaddiqan” (beriman kepada apa yang Aku turunkan) bisa juga menjadi “mashdar” dari “fi’il”, yaitu pada firman Allah (Bi maa anzaltu mushaddiqan) maknanya yaitu Al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW, nabi dari bangsa Arab, yang ummi, sebagai kabar gembira dan peringatan, pelita yang menerangi, mengandung kebenaran dari Allah SWT, dan membenarkan apa yang telah ada sebelumnya yaitu Taurat dan Injil. Abu Al-'Aliyah berkata terkait firman Allah SWT (Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat)).maknanya yaitu:"Wahai Ahli Kitab, berimanlah kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan apa yang ada pada kalian dia berkata: "Karena sesungguhnya mereka itu mendapati bahwa nabi Muhammad SAW itu telah tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka" Diriwayatkan dari Mujahid, Ar-Rabi' bin Anas, dan Qatadah pendapat seperti itu. Terkait firman Allah (dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya), beberapa ulama’ bahasa berkata bahwa yang dimaksud adalah kelompok pertama yang mengingkarinya" atau hal semacamnya. Abu al-'Aliyah berkata bahwa maknanya adalah,”Janganlah menjadi orang pertama yang mengingkari nabi Muhammad SAW, yaitu orang pertama dari kaum kalian, Ahli Kitab, setelah mendengar bahwa nabi Muhammad SAW telah diutus. Begitu juga pendapat Al-Hasan, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ar-Rabi' bin Anas. Ibnu Jarir memilih bahwa kata ganti dalam firmanNya "bihi" merujuk kepada Al-Qur'an yang telah disebutkan sebelumnya dalam firmanNya (Bi maa anzaltu). Kedua pendapat ini benar, karena keduanya saling berkaitan. karena siapa saja yang mengingkari Al-Qur'an, maka dia telah mengingkari nabi Muhammad, SAW dan siapa saja yang mengingkari nabi Muhammad SAW, maka dia telah mengingkari Al-Qur'an. Adapun firmanNya: (orang yang pertama kafir kepadanya), maknanya adalah orang pertama dari Bani Israil yang kafir, telah ada banyak orang kafir Quraisy dan lainnya dari bangsa Arab yang kafir. Maksudnya adalah orang pertama dari Bani Israil yang kafir secara langsung, karena orang-orang Yahudi di Madinah adalah orang pertama dari Bani Israil yang diajak berbicara tentang Al-Qur'an. Keingkaran mereka kepada Al-Qur’an menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang pertama kali ingkar dari golongan mereka Firman Allah (, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah) maknanya adalah janganlah mengganti keimanan kepada ayat-ayatKu, dan rasulKu dengan harta dan nafsu. karena semua itu hanya sebentar dan merupakan sesuatu yang fana. Sebagaimana yang dikatan oleh Abdullah bin Mubarak, bahwa Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Harun bin Yazid, memberitahu kami: "Al-Hasan (yaitu Hasan Al-Bashri) ditanya tentang firman Allah: (harga yang rendah), dia menjawab: Harga yang rendah itu adalah dunia beserta segala hiasannya." Abu Al-'Aliyah berkata tentang firman Allah SWT (dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah) maknanya adalah janganlah mengambil imbalan atas ayat-ayatNya. Dia berkata: "Dan hal iitu tertulis pada kitab pertama yang ada pada mereka: “Wahai anak cucu Adam, ilmu itu dipelajari secara gratis, sebagaimana kamu diajari secara gratis" Dikatakan bahwa maknanya adalah jangan mengganti penjelasan, keterangan, dan penyebaran ilmu yang bermanfaat bagi manusia dengan menyembunyikannya dan menyamarkannya agar kalian bisa berada di atas kepemimpinan di dunia yang rendah, hina, dan akan segera berlalu. Makna firman Allah SWT: (dan hanya kepadaKulah kamu harus bertakwa) adalah Sesungguhnya Allah SWT mengancam mereka atas sesuatu yang sengaja mereka lakukan berupa menyembunyikan dari kebenaran dan menampakkan yang kebalikannya, serta menentang Rasulallah SAW
Tafsir As-Sa'di
Buka
41. “Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan, ” maksudnya al-Qur’an, yang Allah turunkan kepada hamba dan RosulNya, Muhammad SHOLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM. Allah memerintahkan mereka untuk beriman kepadanya dan mengikutinya, hal ini mengharuskan keimanan kepada sesorang yang kitab tersebut diturunkan kepadanya, dan Allah menyebutkan pendorong dalam keimanan mereka, seraya berfirman, “ Yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), ” maksudnya, kitab yang sesuai dengan kitab yang berada di sisi kalian, tidak berbeda dan tidak pula bertentangan, lalu apabila ia sesuai dengan apa yang ada pada kalian yang tidak berbeda dengannya, maka tidaklah ada penghalang bagi kalian untuk beriman kepadanya, karena ia membawa ajaran yang dibawa oleh para rosul, dan kalian lebih patut beriman kepadanya dan mempercayainya, karena kalian adalah ahli kitab dan ahli ilmu. Kemudian dalam firman Allah ta’ala, ”Yang membenarkan (Taurat) yang ada padamu, ” terkandung isyarat bahwa bila kalian tidak beriman kepadanya, maka itu akan kembali pada kalian sendiri dengan pendustaan kalian terhadap apa yang ada pada kalian, karena ajaran yang dibawa kitab tersebut adalah sama dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa, Nabi Isa, dan lain-lainnya dari para nabi. Maka pendustaan kalian terhadapnya adalah pendustaan kalian terhadap apa yang ada pada kalian. Yang demikian itu ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dalam kitab yang ada pada kalian ada berita tentang Nabi yang membawa al-Qur’an tersebut, dan telah disampaikan sebagai kabar gembira (kepada kalian), dan apabila kalian tidak beriman kepadanya niscaya kalian telah mendustai sebagian yang telah turun kepada kalian, padahal orang yang mendustai sebagian yang diturunkan kepadanya, maka dia telah mendustai seluruhnya, sebagaimana orang yang mendustai seorang Rosul, maka dia telah mendustai para Rosul seluruhnya. Dan ketika Allah memerintahkan kepada mereka untuk beriman kepadanya, Allah melarang dan mengingatkan mereka dari kebalikannya yaitu kafir terhadapnya, Allah berfirman, ”Dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, ” maksudnya kafir kepada Rosul dan al-Qur’an. Dalam firmanNya, ”Orang yang pertama kafir kepadanya” adalah statemen yang lebih kuat daripada kalau mengatakan, ”dan janganlah kalian kafir kepadanya.” Karena apabila mereka yang pertama kafir kepadanya, maka itu menunjukkan bahwa mereka bersegera kepada kekakafiran, suatu tindakan terbalik dari yang seharusnya mereka lakukan , sehingga dosa-dosa mereka dan dosa orang-orang setelahnya yang mengikuti mereka dibebankan kepada mereka. Kemudian Allah menyebutkan tentang penghalang bagi mereka dari keimanan mereka tersebut yaitu memilih penawaran yang paling rendah daripada kebahagiaan yang abadi, seraya berfirman, ”Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayatKu dengan harga yang rendah”, maksudnya kedudukan dan penghidupan yang mereka peroleh dimana mereka mengira itu semua akan lenyap jika mereka beriman kepada Allah dan RosulNya, maka mereka menukarkan hal itu dengan ayat-ayat Allah, mereka menyukainya dan mendahulukannya, ”dan hanya kepada Aku-lah” maksudnya tidak kepada selainKu, ”kamu harus bertakwa, ” karena bila kalian bertakwa kepada Allah semata, niscaya ketakwaan kalian itu mendorong kalian untuk mendahulukan keimanan kepada ayat-ayatNya daripada penawaran yang rendah itu, sebagaimana juga bila kalian memilih penawaran yang rendah itu, maka hal itu adalah bukti petunjuk akan hilangnya ketakwaan dalam hati kalian.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
Mereka membenarkan Al-Qur’an yang telah Aku turunkan kepada Muhammad SAW. Al-Qur’an yang membenarkan Taurat tentang tauhid dan prinsip-prinsip akidah dan moral. Janganlah kalian menjadi orang pertama yang ingkar dan janganlah kalian tukar ayat-ayatKu tentang perintah dan larangan dengan ayat lain yang menyimpang! Dan janganlah kalian jual itu dengan menunjukkan sedikit bagian darinya dan bagian yang palsu untuk mendapatkan keuntungan kecil dari sampah duinia! Takutlah kalian kepadaKu, waspadalah terhadap hukumanKu, dan janganlah takut kepada siapapun selain Aku!”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan berimanlah -wahai Bani Israil- kepada Alquran yang aku turunkan kepada Muhammad nabi dan rasul Ku, yang isinya sesuai dengan apa yang kalian ketahui melalui Taurat yang masih benar. Dan janganlah kalian menjadi kelompok pertama dari kalangan ahli kitab yang kafir kepadanya dan jangan pula kalian menukarkan ayat-ayat Ku dengan harga yang murah dari kenikmatan dunia yang akan sirna, dan hanya untuk Ku hendaknya kalian beramal dengan menaati Ku dan tinggalkanlah perbuatan maksiat kepada Ku.
Tafsir Al-Madinah
Buka
41. Dan berimanlah kepada al-Qur’an yang telah Aku turunkan kepada Muhammad yang merupakan kitab yang sesuai dengan Taurat. Dan janganlah kalian menjadi orang-orang yang pertama mengingkarinya. Dan janganlah kalian menukar keimanan kepada ayat-ayat-Ku dengan dunia dan kenikmatannya. Hanya kepada-Ku hendaklah kalian takut, maka laksanakanlah ketaatan kepada-Ku dan janganlah bermaksiat kepada-Ku.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
41. Berimanlah kepada Al-Qur`ān yang telah Ku turunkan kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang isinya selaras dengan apa yang ada di dalam kitab Taurat -sebelum dimanipulasi- terkait keesaan Allah dan kenabian Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Jangan sekali-kali kamu menjadi golongan pertama yang ingkar kepadanya. Janganlah kamu menukar ayat-ayat yang telah Kuturunkan dengan harga yang murah, seperti pangkat dan jabatan. Takutlah kamu akan murka dan azab-Ku.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
41. (Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan) Yakni al-Qur’an (yang membenarkan apa yang ada padamu) Yakni al-Qur’an ini sesuai dengan apa yang ada dalam taurat dan kabar berita yang disampaikan oleh para nabi dalam hal kebenaran. (dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya) Yakni seharusnya kalianlah yang pertama-tama membenarkan al-Qur’an (dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku) Yakni janganlah menukarkan perintah-perintah-Ku dan larangan-larangan-Ku (dengan harga yang rendah) yakni dengan kehidupan yang kebaikannya hanya sedikit ini dan jabatan yang remeh yang taka da artinya.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Maksud dari lafazh { } "orang yang pertama kafir kepadanya" pada ayat ini padahal sebelum mereka telah lalu kuffar quraisy; adalah mereka kaum kuffar dari kalangan ahli kitab, karena sesungguhnya mereka itu mengetahui apa yang menjadi hak-hak bagi para Nabi, dan apa yang mesti dibenarkan dari mereka.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{dan Berimanlah kalian kepada apa (Al-Qur'an) yang telah Aku turunkan sebagai pembenar} sebagai penyelaras {bagi apa yang ada bersama kalian (Taurat) dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama mengingkarinya dan janganlah kalian menukarkan} dan janganlah kalian mengganti {ayat-ayatKu dengan harga murah} hal duniawi yang remeh {dan bertakwalah hanya kepadaKu.
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : Aaminuu bimaa anzaltu : Berimanlah terhadap Al-Qur’anul Karim wa Laa tasytaruu bi aayaatii : Janganlah kalian menyembunyikan kebenaran tentang perkara Muhammad ﷺ Tsamanan Qolilaa : Perhiasan kehidupan dunia Wa iyyaya fattaquun : Takutlah kepadaKu karena kalian telah menyembunyikan kebenaran dan menolah kenabian Muhammad ﷺ dan Aku akan menurunkan adzabKu. Makna ayat : Perintah agar beriman kepda Al-Qur’anul karim serta tidak menjadi orang yang pertama kali mengingkari Al-Qur’an. Allah melarang mereka agar tidak menukar penjelasan yang benar tentang keimanan kepda RasulNya Muhammad ﷺ dengan harga yang sedikit berupa perhiasan kehidupan dunia. Serta Allah menyuruh mereka agar bertakwa kepadaNya dalam hal itu dan memperingatkan apabila mereka menyembunyikan kebenaran akan turun adzab untuk mereka. Pelajaran dari ayat : 3. Kewajiban untuk menjelaskan kebenaran dan keharaman menyembunyikan kebenaran.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Hal ini menghendaki juga beriman kepada orang yang diturunkan kepadanya Al Qur'an, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesuai dengan kitab Taurat yang ada pada mereka dan tidak menyelisihi sehingga tidak ada lagi penghalang bagi mereka untuk beriman kepadanya, karena ia datang dengan membawa hal yang sama dengan dibawa para rasul. Oleh karena itu, jika mereka mendustakan kitab Al Qur'an, maka sama saja mereka mendustakan kitab Taurat dan kitab-kitab yang lain. Mereka (Bani Isra'il) adalah orang yang lebih patut beriman dan membenarkannya, karena mereka ahlul kitab dan memiliki pengetahuan. Yakni kepada Al Qur'an dan kepada Rasul-Nya. Kata-kata "pertama kafir kepadanya" lebih dalam daripada kata-kata "janganlah kamu kafir kepadanya", karena kata-kata tersebut menunjukkan kesegeraan mereka untuk kafir padahal tidak patut bagi mereka, dan mereka akan memperoleh dosa mereka serta dosa orang yang mengikuti mereka setelahnya. Perhiasan dunia yang akan lenyap. Inilah sebab yang menghalangi mereka untuk beriman, yaitu karena lebih memilih dan melebihkan perhiasan dunia di atas kebahagiaan selama-lamanya –na'uuudzu billahi min dzaalik-. Mereka lebih memilih jabatan dan harta daripada beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang menghendaki untuk mengedepankan iman daripada perhiasan dunia.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 41: Allah kemudian memerintahkan bani israil untuk beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ yang selaras dengan taurat, dan Allah mewanti-wanti agar tidak menjadi seseorang yang kufur pertama kali kepada rasul dan Al-Qur’an, Allah juga memrintahkan untuk membenarkan Al-Qur’an dan Allah juga memperingatkan agar tidak mengganti ayat-ayat Al-Qur’an dengan harga yang sedikit demi mendaptkan dunia yang fana. Kemudian Allah memerintahkan agar menjadi orang-orang yang bertakwa yaitu dengan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Wahai manusia! makanlah dari makanan yang halal, yaitu yang tidak haram, baik zatnya maupun cara memperolehnya. Dan selain halal, makanan juga harus yang baik, yaitu yang sehat, aman, dan tidak berlebihan. Makanan dimaksud adalah yang terdapat di bumi yang diciptakan Allah untuk seluruh umat manusia, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan yang selalu merayu manusia agar memenuhi kebutuhan jasmaninya walaupun dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah. Waspadailah usaha setan yang selalu berusaha menjerumuskan manusia dengan segala tipu dayanya. Allah mengingatkan bahwa sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu, wahai manusia. Sebagai musuh manusia, sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat, yaitu perbuatan yang mengotori jiwa dan berakibat buruk terhadap kehidupan meskipun tanpa sanksi hukum duniawi, seperti menyakiti sesama, menebar permusuhan, merusak persatuan dengan cara mengadu domba dan menyebar kebohongan, berhati dengki, angkuh dan sombong, dan setan juga menyuruh manusia berbuat keji, yaitu perbuatan yang tidak sejalan dengan tuntunan agama dan akal sehat, khususnya yang telah ditetapkan sanksi duniawinya, seperti zina dan pembunuhan, dan setan juga membisikkan agar kamu mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah dengan mengatakan bahwa Allah punya istri dan punya anak, padahal Allah mahasuci dari hal tersebut. [Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb] Dalam ayat sebelumnya Allah ta’ala telah menjelaskan bahwasanya tiada sembahan yang hak kecuali Dia dan bahwasanya Dia sendiri yang menciptakan seluruh makhluk dan memberi mereka rezeki. Dalam hal pemberian nikmat, Dia menyebutkan bahwa Dia telah membolehkan manusia untuk memakan segala yang ada di muka bumi, yaitu makan yang halal, baik, dan bermanfaat bagi dirinya serta tidak membahayakan bagi tubuh dan akal pikiran. Dan Dia juga melarang mereka mengikuti langkah-langkah syetan, dalam tindakan-tindakannya yang menyesatkan para pengikutnya, seperti mengharamkan bahirah, saibah, washilah, dan lain-lainnya yang ditanamkan syaitan kepada mereka pada masa jahiliyah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang terdapat dalam kitab Shohih Muslim yang diriwayatkan dari Iyadh bin Hamad, dari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam : : " :" “Allah ta’ala berfirman, “sesungguhnya setiap harta yang Aku anugrahkan kepada hamba-hamba-Ku adalah halal bagi mereka” selanjutnya disebutkan “Dan Aku pun menjadikan hamba-hamaba-Ku di jalan yang lurus, lalu datang syaitan kepada mereka dan menyesatkan mereka dari agama mereka serta mengharamkan atas mereka yang telah Aku halalkan bagi mereka” (HR. MUSLIM) Al-hafidz Abu Bakar bun Mardawaih telah berkata dari Ibnu Abbas beliau berkata : : ( ) : . " Aku membacakan ayat ini di sisi nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, “wahai orang-orang yang beriman makanlah oleh kalian apa yang ada dari bumi ini yang halal lagi baik”. Maka berdirilah Sa’ad bin Abi Waqosh lalu dia berkata, “wahai Rosululloh, berdo’alah kepada Allah agar menjadikanku seorang yang diijabah do’anya”. Maka Belia menjawab, “wahai sa’ad, perbaguslah makananmu maka akan diijabah do’amu. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya seseorang yang memasukan satu suapan yang haram kedalam perutnya, kecuali tidak akan diterima darinya empat puluh hari. Dan siapapun hamba yang dagingnya tumbuh dari harta yang kotor dan riba, maka neraka lebih utama untuknya”. Firman-Nya : “dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan” Qotadah dan as-Suddi mengatakan, “setiap perbuatan maksiat kepada Allah adalah termasuk langkah syaitan” Ikrimah mengemukakan, “yaitu bisikan-bisikan syaitan” Abu Majlaz berkata “yaitu setiap Nazar dalam kemaksiatan”. As-Sya’bi menuturkan, “ada seseorang yang bernazar akan berkorban dengan menyembelih anaknya, lalu Masruq memberinya fatwa agar menyembelih kambing, dan ia berpendapat bahwa yang demikian itu termasuk salah satu langkah syaitan.” Dan masih banyak riwayat yang menjelaskan mengenai rincian macam-macam langkah syaitan. Sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqoroh : 169) Selanjutnya Allah menegaskan bahwa syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia, firman-Nya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Faathir: 6) Dan firman-Nya : “Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi : 50) Maka orang yang berakal wajiblah baginya untuk menjadikan syaiatan sebagai musuhnya, dengan tidak mengikuti apa yang disarankannya. Karena tidak mungkin ada seorang musuh yang menunjukan kepada jalan keselamatan. Sejatinya seorang musuh pasti berniat dan menginginkan kehancuran kepada musuhnya. Terlebih lagi syaitan yang sudah jelas menyatakan permusuhan kepada anak cucu adam, dan mereka berjanji akan menyesatkannya dari jalan Allah ta’ala.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 168-169 Ketika Allah SWT menjelaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. dan Dialah Dzat Maha Menciptakan makhlukNya sendiri, Dia menjelaskan bahwa Dia adalah Pemberi Rezeki bagi seluruh makhlukNya. Dalam memberi nikmat, Dia mengizinkan manusia untuk memakan makanan di bumi yang halal dari Allah sebagai sesuatu yang baik, yaitu sesuatu yang baik bagi dirinya dan tidak membahayakan diri dan pikirannya. Dia juga melarang mereka mengikuti langkah setan, yaitu jalan dan cara setan yang menyesatkan para pengikutnya berupa pengharaman hewan dan unta, serta hal-hal semacamnya, yaitu hal-hal yang sebelumnya dianggap baik oleh mereka di masa jahiliyah. Sebagaimana dalam hadits 'Iyadh bin Himar yang ada dalam hadits Shahih Muslim dari Rasulallah SAW, beliau bersabda "Allah SWT berfirman: "Setiap harta yang Aku berikan kepada hambaKu adalah halal baginya, dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu sebagai orang-orang yang hanif, lalu setan-setan telah datang kepada mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka, serta mengharamkan kepada mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka Terkait firman Allah : (Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu) yaiti peringatan terhadap setan, sebagaimana firmanNya: (Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (6)) (Surah Fathir) dan (Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim (50)) (Surah Al-Kahfi). Qatadah dan As-Suddi berkata mengenai firmanNya: (dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan) semua maksiat terhadap Allah adalah langkah-langkah setan. 'Ikramah berkata yaitu tipuan-tipuan setan. Mujahid berkata: Langkah-langkahnya yaitu dosa-dosanya. Abu Majlaz berkata : bersumpah melakukan perbuatan maksiat. Asy-Sya'bi berkata: "Seorang pria berjanji untuk menyembelih anaknya, tetapi ia diberi fatwa oleh orang yang merampok untuk menyembelih seekor domba sebagai gantinya. Ini adalah langkah-langkah setan." Terkait firmanNya: "Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah" yaitu setan hanya menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan keras kepala melakikan perbuatan tercela, seperti perzinahan dan hal lain yang serupa. Itu adalah perkataan tanpa ilmu tentang Allah. Semua tindakan ini dilakukan semua orang kafir dan orang yang melakukan bid'ah juga
Tafsir As-Sa'di
Buka
168. Ayat ini dialamatkan kepada seluruh manusia, baik yang Mukmin maupun yang kafir. Allah telah memberikan karunia kepada mereka dengan memerintahkan kepada mereka untuk makan dari seluruh yang ada di bumi seperti biji-bijian, hasil tanaman, buah-buahan, dan hewan dalam keadaan “yang halal,” yaitu yang telah dihalalkan buat kalian untuk dikonsumsi, yang bukan dari rampasan maupun curian, bukan pula diperoleh dari hasil transaksi bisnis yang diharamkan, atau dalam bentuk yang diharamkan, atau dalam hal yang membawa kepada yang diharamkan, “lagi baik,” maksudnya, bukan yang kotor seperti bangkai, darah, daging babi, dan seluruh hal-hal yang kotor dan jorok. Di dalam Ayat ini terdapat Dalil yang menunjukkan bahwa asalnya seluruh benda yang ada itu adalah boleh, hukumnya baik untuk dimakan maupun dimanfaatkan, dan bahwa hal-hal yang diharamkan darinya itu ada dua macam; pertama, yang diharamkan karena dzatnya yaitu yang kotor yang merupakan lawan dari yang baik (Thayyib), kedua, diharamkan karena dikaitkan dengan sesuatu, yaitu yang diharamkan karena bersangkutan dengan hak-hak Allah atau hak-hak manusia, yaitu yang merupakan lawan dari yang halal. Ayat ini juga sebagai dalil bahwa makanan dengan kadar untuk memenuhi Fitrah adalah wajib, dan akan berdosa orang yang meninggalkannya dengan dasar makna perintah yang jelas dari ayat tersebut. Lalu ketika Dia memerintahkan untuk mengikuti apa yang telah diperintahkan kepada-nya yang merupakan inti dari kemaslahatan mereka, maka Dia melarang mereka untuk mengikuti, “langkah-langkah setan,” Maksudnya jalan-jalan yang ia perintahkan, yaitu seluruh kemaksiatan, baik kekufuran, kefasikan, dan kezhaliman, dan termasuk dalam hal itu juga adalah pengharaman unta yang diharamkan oleh kaum jahiliyah untuk mereka, demikian juga sebaliknya menikmati makanan makanan yang diharamkan. “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Maksud dari permusuhan itu adalah tidaklah ia memerintah kalian kecuali untuk mencurangi kalian dan Agar kalian menjadi penghuni penghuni neraka. Rabb kita tidak hanya cukup dengan melarang mengikuti langkah-langkah setan, hingga Dia mengabarkan, dan Dia adalah yang paling benar perkataanNya tentang permusuhannya yang harus diwaspadai, kemudian Allah juga tidak cukup sampai disitu saja, Dia mengabarkan tentang perincian perkara yang menjadi target setan dalam godaannya, dan bahwasanya hal itu adalah perkara yang paling buruk dan paling besar kerusakannya, Allah berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
Buka
168. Wahai manusia, makanlah sesuatu yang diciptakan oleh Allah untuk kalian di bumi yang diperbolehkan dan bisa kalian nikmati, dan janganlah mengikuti jalannya setan yang mengajak menuju kemaksiataan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Al-Kalbiy berkata: “Ayat ini turun untuk Tsaqif, Khuza’ah dan Amir bin Sha’sha’ah yang mengharamkan atas diri mereka sendiri beberapa hal, yaitu hasil panen dan hewan ternak. Mereka juga mengharamkan unta Bahirah, Shaibah, Washilah, dan Ham”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Wahai manusia Makanlah dari rizki Allah yang Dia halalkan bagi kalian yang terdapat di bumi, dalam keadaan bersih dan bukan najis, yang bermanfaat dan tidak memadorotkan, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan setan dalam penetapan halal dan haram, bid’ah serta maksiat-maksiat. Sesungguhnya ia adalah musuh kalian yang amat nyata permusuhannya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
168-169. Allah berfirman kepada seluruh manusia: "Makanlah dari rezeki Allah yang halal, lezat, dan bersih; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan setan, karena ia adalah musuh kalian yang nyata. Bukti dari permusuhannya terhadap kalian adalah ia memerintahkan kalian untuk melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa besar dan membuat kedustaan terhadap Allah dengan mengharamkan yang Dia halalkan dan menghalalkan yang Dia haramkan.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
168. Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi, baik dari hewan, tumbuh-tumbuhan maupun pohon-pohonan yang diperoleh dengan cara yang halal dan memiliki kandungan yang baik, tidak jorok. Dan janganlah kalian mengikuti jalan setan yang menggoda kalian secara bertahap. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan orang yang berakal sehat tidak boleh mengikuti musuhnya yang selalu berusaha keras untuk mencelakakan dan menyesatkannya.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
168. (makanlah dari apa yang terdapat di bumi) Ayat ini diturunkan untuk Bani Tsaqif, Khuza’ah, dan Mudlij yang mengharamkan atas diri mereka hewan-hewan ternak. (yang halal lagi baik) Yakni selain yang diharamkan oleh Allah atas kalian, adapun kata Thayyib berarti yang dinikmati. (dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan) Yakni janganlah kalian berdiri dibelakang syaitan dan perbuatannya berupa mengharamkan sesuatu yang belum dijelaskan keharamannya oleh syari’at dan melakukan perbuatan maksiat. (musuh yang nyata bagimu) Yakni dengan permusuhan yang jelas.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1 ). Pada firman Allah : { } adalah isyarat adanya peran syaithon dalam memelingkan manusia dari makanan halal dan baik, dan isyarat bahwa makanan yang halal dan baik adalah syarat diterimanya doa, maka berapa banyak kejahatan syaithon terhadap manusia untuk mengantarkan mereka untuk memakan makanan yang haram ? 2 ). Langkah pertama ! { } permulaan semua perbuatan adalah ide dan fikiran; karena sesungguhnya itulah yang akan menghantarkan manusia kepada bayangan-bayangan perbuatan, dan bayangan-bayangan itu akan membawa kepada keinginan, dan keinginan itu selalu menjadi penyebab terjadinya perbuatan, dan ketika hal ini terus berulang maka ia akan menjadi kebiasaan, oleh karena itu baiknya setiap langkah-langkah ini ditentukan oleh baiknya langkah pertama yaitu ide dan fikiran, dan rusaknya langkah-langkah ini ditentun oleh rusaknya langkah pertama.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah} jalan {setan. Sesungguhnya dia bagi kalian merupakan musuh yang nyata
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : { } al-Halal : Segala sesuatu yang tidak membahayakan, dan itu adalah segala sesuatu yang Allah izinkan untuk dimanfaatkan. { } ath-Thayyib : Sesuatu yang suci, tidak najis, dan tidak menjijikkan yang tidak disukai oleh jiwa. { } Khutuwatish syaithan : al-Khutuwat merupakan bentuk jamak dari khutwah yang berarti jarak antara dua kaki ketika berjalan. Namun yang dimaksud adalah langkah-langkah dan jalan setan yang mengantarkan seorang hamba mengharamkan apa yang Allah halalkan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. { } ‘Aduwwun mubin : Permusuhan setan sangat jelas. Bagaimana tidak, dialah yang mengeluarkan nenek moyang manusia, Adam dan Hawa dari surga. Dan kebanyakan keburukan dan kerusakan di dunia disebabkan oleh was-was dan gangguan setan. Makna ayat : Setelah pemaparan mengenai keadaan orang-orang yang berbuat kesyirikan, maksiat, dan akhir yang mereka dapatkan berupa kekal dalam adzab neraka, Allah Ta’ala yang memiliki kasih sayang meliputi seluruh manusia berfirman ( ) “Wahai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” Yaitu pemberian dari Allah yang halal, baik, dan diizinkan oleh-Nya. Adapun yang tidak diizinkan oleh Allah maka tidak ada kebaikan ketika dimakan, bahkan akan merusak jasmani dan rohaninya. Kemudian Allah melarang manusia agar tidak mengikuti langkah musuhNya dan musuh manusia, yaitu setan. Karena jika mereka mengikuti langkah setan akan mengantarkan menuju kesengsaraan dan kebinasaan. Pelajaran dari ayat : • Kewajiban untuk mencari yang halal dan mencukupkan diri dengan hidup dari yang halal walaupun hanya sedikit. • Halal adalah apa yang Allah halalkan, dan haram adalah apa yang Allah haramkan. Sementara akal tidak dapat menentukan halal dan haram sendiri. • Keharaman mengikuti langkah-langkah setan, yaitu setiap ideologi, perkatan, dan perbuatan yang dilarang oleh Allah. • Kewajiban untuk menjauhi setiap keburukan dan hal yang keji, karena keduanya merupakan perintah setan.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan mu'amalah yang haram atau cara yang haram dan tidak membantu perkara yang haram. Yaitu yang suci tidak bernajis, bermanfa'at dan tidak membahayakan. Ada yang mengartikan thayyib di ayat ini dengan "tidak kotor" seperti halnya bangkai, darah, daging babi dan segala yang kotor lainnya. Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa yang haram itu ada dua: yang haram zatnya dan yang haram karena ada sebab luar, seperti karena terkait dengan hak Allah atau hak hamba-Nya. Demikian juga bahwa hukum makan agar dapat melangsungkan kehidupan adalah wajib. Seperti menghalalkan dan mengharamkan dari diri sendiri, segala nadzar maksiat, melakukan bid'ah dan kemaksiatan. Termasuk juga mengkonsumsi barang-barang haram. Qatadah dan As Suddiy berpendapat bahwa semua kemaksiatan kepada Allah termasuk mengikuti langkah-langkah setan. Maksudnya: setan adalah musuh yang jelas bagi kita. Oleh karenanya, tidak ada yang diinginkannya selain menipu kita dan mencelakakan kita. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak cukup menyebutkan "jangan mengikuti langkah-langkah setan" tetapi menerangkan bahwa dia adalah musuh yang nyata bagi kita, dan tidak sampai di situ, Dia menerangkan lebih rinci apa yang diserukan setan, yaitu menyuruh berbuat jahat dan keji seperti yang disebutkan pada ayat ssetelahnya.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 168: Allah berfirman kepada seluruh manusia baik yang mukmin maupun yang kafir untuk memerintah mereka agar memakan makanan yang dibolehkan di bumi dan meperingatkan mereka menempuh jalan syetan dalam halal dan haram.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Diriwayatkan bahwa seorang pria lanjut usia dan kaya raya bernama amr bin al-jamuh al-anshari bertanya kepada rasulullah, harta apa yang sebaiknya aku nafkahkan dan kepada siapa aku berikan' Allah lalu menurunkan ayat ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka bertanya kepadamu, wahai nabi Muhammad, tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, seperti saudara kandung, paman, bibi, dan anak-anak mereka, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Mereka hendaknya diprioritaskan untuk menerima infak sebelum orang lain. Infak pada ayat ini adalah sedekah yang bersifat anjuran, bukan zakat yang diwajibkan dalam agama dan telah ditentukan siapa yang berhak menerimanya seperti dibahas pada surah at-taubah/9: 60. Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui. Dalam ayat ini kata al-khair disebut dua kali; yang pertama berarti harta (al-ma'l) dan yang kedua berarti kebajikan dalam arti umum. Selain diuji dengan kemiskinan dan kemelaratan, orang-orang beriman juga akan diuji dengan diminta mengorbankan jiwa mereka melalui kewajiban perang. Diwajibkan atas kamu berperang melawan orang-orang kafir yang memerangi kamu, padahal berperang itu tidak menyenangkan bagimu, sebab ia mengor-bankan harta benda dan jiwa. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, yakni boleh jadi kamu tidak menyukai peperangan, padahal itu baik bagimu karena kamu mendapat kemenangan atas orang-orang kafir atau masuk surga jika terbunuh atau kalah dalam peperangan, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui apa yang baik bagimu, sedang kamu tidak mengetahui. Karena itu, tunaikanlah perintah Allah yang pasti akan membawa kebaikan bagimu.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Muqatil bin Hayyan mengatakan,”Syat ini menjelaskan tentang berinfak dengan ikhlas. As-Suddi mengatakan,”Ayat ini dinasakh dengan ayat zakat” dan ada pandangan tentang ayat itu. Makna ayat ini “Mereka bertanya kepadamu bagaimana mereka harus berinfak?” Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid. Lalu Allah menjelaskan tentang hal tersebut, Dia berfirman, (Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan") yaitu infakkanlah harta kalian untuk beberapa orang ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits “Ibu, ayah, dan saudaramu, kemudian orang-orang yang lebih membutuhkan darimu” Maimun bin Mihran membaca ayat ini dan kemudian berkata,"Ini adalah sasaran infak, dimana tidak disebutkan di dalamnya drum, seruling, patung-patung kayu, atau hiasan dinding" Kemudian Allah berfirman, (Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya) yaitu Bagaimanapun kebaikan yang kalian lakukan, maka Allah mengetahuinya. Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas tindakan tersebut dengan balasan yang lebih baik, karena Allah tidak akan berlaku zalim bahkan seberat dzarrah
Tafsir As-Sa'di
Buka
215. Maksudnya, mereka bertanya kepadamu tentang nafkah, dan ini mencakup pertanyaan tentang apa yang diinfakkan dan siapa yang akan diberikan infaq. Allah menjawab mereka tentang hal itu, maka FirmanNya, “apa saja harta yang kamu nafkahkan,” artinya, harta yang sedikit atau banyak, maka orang yang paling utama menerima harta itu dan yang paling berhak untuk didahulukan serta paling besar hak mereka atas semua doa kedua orang tua yang diwajibkan atasmu berbakti kepadanya dan haram bagimu durhaka kepadanya. Di antara cara berbakti paling agung kepada mereka adalah memberi nafkah kepada keduanya, dan diantara keduanya akan yang paling besar adalah tidak memberi nafkah bagi keduanya. Karena itu, memberi nafkah kepada keduanya adalah wajib atas seorang anak yang berada dalam kondisi lapang. Setelah kedua orang tua adalah sanak saudara menurut tingkatannya, yang terdekat lalu yang lebih dekat menurut kedekatannya dan kebutuhannya; karena memberi nafkah kepada mereka adalah sebuah sedekah dan silaturahim. “Dan anak-anak yatim.” Mereka adalah anak-anak kecil yang tidak memiliki orang yang menafkahi mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang biasanya sangat membutuhkan, mereka tidak mampu mengurusi kemaslahatan diri mereka sendiri dan tidak ada orang yang mencari nafkah untuk mereka. Allah mewasiatkan mereka kepada hamba-hambaNya sebagai kasih sayang dariNya kepada mereka dan kemurahanNya. “Dan orang-orang miskin.” Mereka ini adalah orang-orang yang membutuhkan dan terdesak, serta dililit kekurangan, maka mereka itu diberi nafkah demi menutupi kebutuhan mereka dan mencukupkan mereka. “Dan orang yang berada dalam perjalanan,” yaitu orang asing yang kehabisan bekal di negeri asing, dia diberi pertolongan untuk melanjutkan perjalanannya dengan memberi nafkah agar sampai kepada tujuannya. Setelah Allah menghususkan mereka yang telah disebutkan dalam ayat itu karena kebutuhan mereka yang sangat mendesak, maka Allah menyebutkan secara umum seraya berfirman, “Dan kebaikan apa saja yang kamu buat,” seperti bersedekah terhadap mereka atau selain mereka, bahkan sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri, karena itu termasuk dalam kategori kebaikan, “maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui nya.” Allah akan membalasnya buat kalian dan menjaganya untuk kalian, sesuai dengan niat dan keikhlasannya, banyak dan sedikitnya nafkah yang diberikan, kebutuhan yang mendesak terhadapnya dan besarnya manfaat dan gunanya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
215. Wahai nabi, mereka bertanya kepadamu tentang apa yang seharusnya mereka infakkan? Maka jawablah tentang pemberian yang utama, hal itu untuk menjelaskan orang yang memberi infak, “Maka harta yang hendak kalian infakkan itu, berikanlah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan musafir yang berhenti di tengah perjalanannya, Dan kebaikan yang kalian berikan kepada mereka atau orang lain itu, Allah Maha mengetahuinya dan akan membalasnya. Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang berkata: “Orang-orang mukmin bertanya kepada rasulullah SAW tentang sebaiknya mereka menginfakkan harta mereka dimana, lalu turunlah ayat {Yas’aluunaka maa dzaa yunfiquun…}”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu (wahai nabi), tentang apa yang dapat mereka infakkan dari jenis-jenis harta mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan kepada siapa mereka menginfakkannya. katakanlah kepada mereka," infakkanlah harta apa saja yang tersedia pada diri kalian dari berbagai macam harta yang halal lagi baik. dan jadikanlah infaq kalian teruntuk kedua orang tua, dan orang-orang dekat dari keluarga kalian, kaum kerabat kalian, anak-anak yatim yang meinggal bapaknya sebelum mereka mencapai usia balig, orang orang fakir yang tidak mendapatkan sesuatu untuk mencukupi dan menutupi kebuthan mereka, musafir yang terlilit kebutuhan yang jauh dari keluarga dan hartanya." Dan kebaikan apapun yang kalian perbuat, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui nya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
215. Hai Nabi, para sahabatmu bertanya kepadamu: “Apa yang sebaiknya kami infakkan? Dan kepada siapa kami berinfak?” Maka jawablah mereka: “Infakkanlah harta halal yang dapat kamu infakkan, berikanlah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, orang fakir, dan musafir yang kehabisan bekal. Dan Allah Maha Mengetahui kebaikan yang kalian perbuat dan Dia akan membalasnya.”
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
215. Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu -wahai Nabi- tentang harta apa yang harus mereka infakkan, dan di mana mereka harus menaruhnya? Katakanlah untuk menjawab pertanyaan mereka, “Harta -yang halal lagi baik- yang kalian infakkan hendaknya diberikan kepada kedua orang tua, karib kerabat terdekat kepada kalian sesuai kebutuhan, anak-anak yatim yang membutuhkan santunan, orang-orang miskin yang tidak punya harta, dan musafir yang jauh dari keluarga dan kampung halamannya.” Kebajikan yang kamu lakukan -wahai orang-orang mukmin- baik sedikit maupun banyak, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan-Nya. Dan Dia akan memberi kalian balasan yang setimpal dengan amal perbuatan kalian.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
215. (Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan) Mereka menanyakan apakah yang harus mereka nafkahkan. Maka mereka dijawab dengan penjelasan dan menyebutkan kemana saja mereka seharusnya menafkahkan hartanya, karena nafkah kepada mereka lebih utama untuk ditujukan. (kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan) Penjelasan potongan ayat ini telah disebutkan pada ayat 177.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Apa saja yang kalian infakkan hendaknya dari sesuatu yang baik dan diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan” Kebaikan yang kalian kerjakan itu sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata: { } Min khoirin : Maksudnya adalah harta. Karena harta juga dinamakan dengan al-Khoir { } Al-Aqrobin : Seperti saudara laki-laki dan saudara perempuan serta anak-anak mereka, begitu juga paman serta bibi dari pihak ayah maupun ibu dan anak-anak mereka. { } Wamaa taf’alu min khoirin : Huruf Maa merupakan bentuk syarat (syarthiyyah) dan min sebagai penjelasan. Kebaikan di sini maksudnya adalah seluruh jenis kebaikan. { } Fainnallaha bihi ‘aliim : Kalimat ini merupakan jawaban dari syarat yang dibuang, kalau dinyatakan berbunyi ( ) “Dia memberikan pahalan kepada kalian.” Makna ayat: ‘Amr bin Al-Jamuh dan ia adalah orang yang kaya, bertanya kepada Rasulullah ﷺ Apa yang harus ia infakkan dan kepada siapa ia harus menginfaqkan. Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban pertanyaannya, menerangkan bahwa yang harus ia infaqkan adalah harta dan seluruh bentuk kebaikan, dan orang yang paling berhak menerima infaqnya adalah kedua orang tuanya serta kerabat-kerabat dekatnya, begitu juga anak-anak yatim dan orang-orang miskin, serta orang yang kekurangan bekal perjalanan. Allah Ta’ala memberitahukan kepadanya segala jenis kebaikan yang dilakukan seorang hamba diketahui oleh Nya, dan Allah Ta’ala memberikan balasan pahala dan mendorong mereka untuk berbuat kebaikan secara mutlak. Pelajaran dari ayat: • Pertanyaan dari orang yang tidak tahu sehingga menjadi tahu, ini adalah jalan untuk memperoleh ilmu. Oleh karena itu ada yang mengatakan,”Bertanya merupakan separuh ilmu” • Keutamaan berinfaq kepada orang-orang yang disebutkan dalam ayat, apabila orang yang berinfaq itu kaya dan mereka dalam keadaan miskin membutuhkan bantuan. • Dorongan untuk melakukan amalan kebaikan dan janji dari Allah dengan balasan yang cukup untuk mereka yang beramal.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Dalam tafsir Al Jalaalain dijelaskan bahwa yang bertanya adalah 'Amr bin Jamuh, ia adalah orang yang sudah tua dan memiliki harta yang banyak, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang harta apa yang perlu diinfakkan dan ke mana harta diinfakkan. Yakni baik banyak maupun sedikit. Kata-kata ini lebih umum lagi setelah menyebutkan secara khusus harta yang diinfakkan dan ke arah mana diberikan. Kata-kata ini menerangkan bahwa kebaikan apa saja yang dilakukan baik sedekah maupun ketaatan lainnya, baik kepada beberapa golongan di atas maupun lainnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahuinya, yakni akan membalasnya sesuai niat dan keikhlasannya, banyak atau sedikit infak yang dikeluarkan, kebutuhan orang lain terhadapnya dan sesuai besar kecilnya manfaat. Sehingga Dia (Allah) akan memberikan balasan terhadapnya.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Baqarah ayat 215: Allah mengabarkan bahwasannya para sahabat nabi ﷺ bertanya kepada nabi mereka: dengan apa mereka sodaqoh? dan siapa yang diberikan sodaqohh? maka Allah memerintahkan nabi untuk berkata pada mereka: benarkanlah oleh kalian atas apa yang mudah dari kebaikan, harta yang halal dan jadikan shodaqoh kalian bagi orang tua yang pertama kali, mereka adala manusia yang paling utama.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Pada ayat ini Allah memerintahkan orang mukmin agar mengajak manusia kepada kebaikan, menyuruh perbuatan makruf, dan mencegah perbuatan mungkar. Dan hendaklah di antara kamu, orang mukmin, ada segolongan orang yang secara terus-menerus menyeru kepada kebajikan yaitu petunjuk-petunjuk Allah, menyuruh (berbuat) yang makruf yaitu akhlak, perilaku dan nilai-nilai luhur dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, dan mencegah dari yang mungkar, yaitu sesuatu yang dipandang buruk dan diingkari oleh akal sehat. Sungguh mereka yang menjalankan ketiga hal tersebut mempunyai kedudukan tinggi di hadapan Allah dan mereka itulah orang-orang yang beruntung karena mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Dan janganlah kamu, wahai orang mukmin, menjadi seperti orangorang yang berkelompok-kelompok, seperti orang yahudi dan nasrani yang bercerai berai dan berselisih dalam urusan agama dan kemaslahatan umat, karena masing-masing mengutamakan kepentingan kelompoknya. Betapa buruk apa yang terjadi pada mereka, karena berselisih secara sadar dan sengaja setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas, yaitu diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Mereka yang berkelompok dan berselisih itulah orang-orang yang celaka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat kelak di hari kiamat.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 104-109 Allah SWT berfirman: (Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat) yang bertugas untuk menjalankan perintah Allah dalam mengajak kepada kebaikan, memerintahkan untuk berbuat kebaikan, dan melarang kemungkaran, (merekalah orang-orang yang beruntung) Adh-Dhahhak berkata: Ini khusus untuk para sahabat dan para ulama’ yang menyampaikan riwayat, yaitu mereka adalah orang yang berjuang dan para ulama’. Maksud dari ayat ini adalah agar ada kelompok dalam umat ini yang bertanggung jawab atas perkara ini. Meskipun itu adalah kewajiban bagi setiap orang di umat ini sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana yang ada dalam hadits shahih Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” Kemudian Allah SWT berfirman: (Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat (105)) Allah SWT melarang umat ini untuk menjadi seperti umat-umat sebelumnya yang terpecah belah, berselisih, dan meninggalkan untuk memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran, padahal bukti-bukti yang jelas telah datang kepada mereka. Firman Allah SWT: (pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram) yaitu pada hari kiamat, ketika wajah ahlus sunnah akan bersinar putih, dan wajah ahli bid’ah dan orang yang melakukan perpecahan. Ibnu Abbas mengatakan itu. (Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?) Hasan Al-Bashri berkata: “Mereka adalah orang-orang munafik.” (Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu) Sifat ini mencakup setiap orang kafir (Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya (107)) yaitu surga, mereka menetap di dalamnya selamanya (mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya (108)) (Surah Al-Kahfi) Kemudian Allah SWT berfirman: (Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu) yaitu ini adalah hujjah-hujjah, dan tanda-tanda Allah yang Kami bacakan kepadamu, wahai Muhammad (dengan benar) yaitu Kami menjelaskan perintah itu di dunia dan akhirat (dan tiadalah Allah berkehendak untuk berbuat zalim kepada seluruh alam) yaitu tidak melakukan kezaliman kepada mereka, sebab itu adalah hukum yang adil yang tidak sewenang-wenang, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, lagi Maha Mengetahui segala sesuatu, maka Dia tidak memerlukan untuk berbuat zalim kepada siapa pun dari makhlukNya. Itulah sebabnya Allah SWT berfirman: (Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi) yaitu semuanya milikNya, dan hambaNya (dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan) yaitu Dialah yang mengatur urusan dunia dan akhirat, lagi Maha Bijaksana di dunia dan akhirat.
Tafsir As-Sa'di
Buka
102-105. Ayat-ayat ini mengandung anjuran Allah kepada hamba-hambaNya, kaum Mukminin agar mendirikan syukur atas nikmat-nikmatNya yang besar yaitu dengan bertakwa kepadaNya dengan sebenar-benar takwa, dan agar mereka menaatiNya dan meninggalkan kemaksiatan terhadapNya secara tulus ikhlas untukNya, dan agar mereka menegakkan agama mereka dan berpegang teguh kepada tali itu (yaitu agama dan kitabNya) sebagai sebab antara mereka denganNya, serta bersatu dengan berpedoman pada agama dan kitabNya dan tidak saling bercerai berai, dan agar mereka selalu konsisten atas hal itu hingga mereka meninggal. Lalu Allah menyebutkan kondisi mereka yang dahulu sebelum adanya nikmat tersebut, yaitu bahwasanya mereka dahulu saling bermusuhan dan bercerai berai. Kemudian Allah menyatukan mereka dengan agama ini dan merekatkan hati-hati mereka, serta menjadikan mereka sebagai saudara. Padahal mereka dahulu berada di pinggir jurang api neraka, lalu Allah menyelamatkan mereka dari kesengsaraan, dan memberikan jalan kebahagiaan bagi mereka. “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” untuk bersyukur kepada Allah dan berpegang teguh kepada tali agamaNya. Dan Allah memerintahkan mereka untuk menyempurnakan kondisi seperti ini, dan sebab terkuat yang membantu mereka menegakkan agama mereka adalah keberadaan sekelompok dari mereka yang bergerak dengan jumlah yang cukup, “yang menyeru kepada kebajikan,” yaitu berupa pokok-pokok agama, cabang-cabang, dan syariat-syariatnya, “menyuruh kepada yang ma’ruf,” yaitu sesuatu yang diketahui nilai buruknya secara syariat maupun akal, “dan mencegah dari yang mungkar,” yaitu sesuatu yang diketahui nilai buruknya secara syariat maupun akal, “dan merekalah orang-orang yang beruntung,” orang-orang yang mendapatkan segala yang diinginkan dan selamat dari segala yang dikhawatirkan. Termasuk dalam kelompok tersebut adalah para ulama dan para pendidik, orang-orang yang bergerak dengan berkhutbah, berceramah, dan memberikan nasihat kepada manusia secara umum ataupun khusus serta orang-orang yang mengingatkan orang lain, yang bertugas mengontrol manusia dalam pelaksanaan shalat lima waktu, penunaian zakat dan penegakan syariat-syariat agama, serta melarang mereka dari segala kemungkaran. Oleh karena itu, setiap orang yang menyeru manusia kepada kebaikan secara umum atau secara khusus, atau dia memberikan nasihat kepada masyarakat umum atau kelompok khusus, maka dia termasuk dalam ayat yang mulia tersebut. Kemudian Allah melarang mereka dari menempuh jalan orang-orang yang bercerai berai yang mana agama dan keterangan-keterangan yang jelas telah mendatangi mereka yang mengharuskan mereka untuk melaksnakannya dan bersatu karenanya, namun mereka bercerai berai dan berselisih, hingga mereka menjadi kelompok-kelompok, dan itu tidaklah muncul akibat dari kebodohan maupun kesesatan, akan tetapi muncul dari pengetahuan dan tujuan yang buruk, serta kesewenang-wenangan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Karena itulah Allah berfirman, “Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” Kemudian Allah menjelaskan tentang kapan terjadinya siksaan yang berat tersebut dan (kapan) mereka merasakan siksaan yang pedih tersebut seraya berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
Buka
104 Dan hendaklah ada di antara kalian wahai orang-orang mukmin, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan dengan mengajarkan kebaikan dan menyuruh kepada kebaikan. Kebaikan adalah segala yang berkaitan dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Serta menyeru untuk berbuat ma’ruf: kebaikan yang sesuai dengan syariat dan akal sehat. Serta mencegah perbuatan munkar: yaitu segala yang dianggap tidak baik oleh syariat dan akal sehat. Mereka yang menyeru kepada kebaikan itu samua merekalah orang-orang yang beruntung yang akan mendapatkan ridho Allah dan surga-Nya
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan hendaklah di antara kalian (wahai kaum Mukminin), ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan kepada yang ma’ruf, yaitu sesuatu yang telah diketahui kebaikannya menurut syariat dan akal, dan melarang dari kemungkaran, yaitu apa-apa yang diketahui keburukannya dari segi syariat maupun akal. Mereka itu adalah orang-orang yang beruntung menggapai surga yang penuh kenikmatan.
Tafsir Al-Madinah
Buka
104. Allah menekankan kewajiban keberadaan segolongan kaum muslimin yang menyeru kepada Islam, mengajak kepada ketaatan dan melarang kemaksiatan. Orang-orang yang mendapat derajat yang tinggi yang melakukan amalan ini adalah orang-orang yang akan meraih surga.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
104. Dan hendaklah ada di antara kalian -wahai orang-orang mukmin- satu kelompok yang mengajak kepada setiap kebajikan yang dicintai Allah, menyuruh berbuat baik yang ditunjukkan oleh syarak dan dinilai baik oleh akal sehat, dan mencegah perbuatan mungkar yang dilarang oleh syarak dan dinilai buruk oleh akal sehat. Orang-orang semacam itulah yang akan mendapatkan kemenangan yang sempurna di dunia dan akhirat.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
104. (Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat) Yakni hendaklah segolongan diantara kalian yang senantiasa mendirikan kewajiban berdakwah, memerintah kebajikan, dan melarang keburukan. Dan pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah hendaklah kalian semua menjalankan kewajiban dakwah, memerintah kebajikan, dan melarang keburukan. Namun pendapat pertama lebih dekat kepada kebenaran. (yang menyeru kepada kebajikan) Yakni dengan mengajarkannya, memberi nasehat dan petunjuk. (menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar) Yakni dengan tangan atau lisan. Dan menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada yang mungkar adalah bagian dari fardhu kifayah, yang dikhususkan bagi pemilik ilmu yang mengetahui perihal apa yang diajarkannya dan apa yang dilarangnya. Dan kewajiban menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada yang mungkar ini berdasarkan apa yang termaktub dalam al-qur’an dan as-sunnah, dan ia merupakan salah satu kewajiban yang paling mulia yang ada dalam syariat yang suci ini dan juga merupakan asas penting dari asas-asas syariat, karena dengannya sempurnalah aturan-aturannya, karena pemeluk setiap agama telah melenceng sebagian mereka dari agamanya disebabkan kebodohan mereka tentang agama atau karena mengikuti hawa nafsu mereka. Atau mungkin karena lalai dalam menjalankan kewajiban mereka, atau mungkin saling menzalimi diantara mereka, maka apabila tidak ada orang yang membenarkan jalan mereka, menunjukkan petunjuk kepada yang tersesat, menasehati yang lalai, dan menghentikan tangan zalim, maka kesesatan akan semakin banyak dan semakin besar hingga agama akan dilupakan dan akan berubah Batasan-batasannya. Dan Allah telah mempringati kita agar tidak seperti apa yang terjadi pada Bani Israil. Yang Allah telah melaknat mereka karena meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar lewat firman-Nya: . Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (al-Maidah: 78-79) (Mereka itulah) Yakni golongan yang menjalankan apa yang disebutkan. (orang-orang yang beruntung) Yakni orang-orang yang mendapat kekhususan dengan keberuntungan.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
103-104 Allah ta'ala berfirman : { } "dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya" , kemudian pada ayat selanjutnya Allah mengatakan : { } "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan" yakni : sebagaimana yang kamu ketahui bahwa kenikmatan dan kesempurnaan akan datang setelah hilangnya kesengsaraan, maka hal yang lebih baik setelah itu adalah berusaha dengan segala keteguhan hati untuk kamu menyelamatkan orang lain dari keburukan yang mereka alami menuju kebaikan yang kamu jalani saat ini.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Hendaklah ada di antara kalian umat} kumpulan {yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Kamu harus melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau jika tidak, Allah bisa segera menimpakan azab dari sisi-Nya dan ketika kamu berdo'a tidak dikabulkan-Nya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 7070) Kebajikan (al khair) adalah segala sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kemurkaan-Nya. Ma'ruf: segala perintah Allah atau yang dianggap baik oleh syara' dan akal, sedangkan munkar adalah segala yang dilarang Allah atau yang dianggap buruk oleh syara' dan akal. Ayat ini merupakan petunjuk dari Allah kepada kaum mukmin, yakni hendaknya di antara mereka ada segolongan orang yang mau berdakwah dan mengajak manusia ke dalam agama-Nya. Termasuk ke dalamnya adalah para ulama yang mengajarkan agama, para penasehat yang mengajak orang-orang non muslim ke dalam Islam, orang yang mengajak orang-orang yang menyimpang agar dapat beristiqamah, orang-orang yang berjihad fi sabilillah, dewan hisbah (lembaga amr ma'ruf dan nahi munkar) yang ditunjuk pemerintah untuk memperhatikan keadaan manusia dan mengajak manusia mengikuti syara' seperti mengajak mereka mendirikan shalat lima waktu, berzakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu dan mengajak kepada syari'at Islam lainnya, demikian juga memperhatikan pasar, bagaimana timbangan dan takaran yang mereka gunakan apakah terjadi pengurangan atau tidak, serta melarang mereka melakukan kecurangan dalam bermu'amalah. Semua ini hukumnya fardhu kifayah. Bahkan tidak hanya itu, segala sarana yang menjadikan sempurna amr ma'ruf dan nahi munkar, sama diperintahkan, misalnya menyediakan perlengkapan jihad untuk dapat mengalahkan musuh, mempelajari ilmu agar dapat mengajak manusia kepada kebajikan, menuliskan buku-buku yang berisikan ajaran Islam, membangun madrasah untuk mengajarkan agama, membantu pihak berwenang (dewan hisbah) mewujudkan syari'at, dsb. Mereka inilah orang-orang yang beruntung, yakni memperoleh apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal yang mereka khawatirkan. Pada ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang mereka bertasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab yang berpecah belah dalam beragama, terlebih perpecahan mereka terjadi setelah datang keterangan yang jelas.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Ali ‘Imran ayat 104: Dan hendaklah ada dari antara kamu, satu golongan yang mengajak (manusia) kepada bakti, dan menyuruh (mereka berbuat) kebaikan, dan melarang (mereka) dari kejahatan; dan mereka itu, ialah orang-orang yang dapat kejayaan.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Setelah mendengar penuturan pelayan istana perihal mimpi raja, dia'nabi yusuf'pun berkata, menanggapi mimpi itu saya menyarankan agar kamu segera mempersiapkan diri bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan tetap di tangkainya, supaya bisa bertahan lama ketika disimpan di tempat yang aman, kecuali sedikit dari hasil panen itu yang kamu ambil untuk kamu makan pada masa kini. Kemudian setelah tujuh tahun masa subur itu berlalu, akan datang tujuh tahun musim kemarau yang sangat sulit. Masa sulit yang akan berlalu nanti kamu akan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya berupa bahan makanan pokok, kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan pada masa subur itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 43-49 Mimpi dari raja Mesir ini merupakan takdir Allah yang menjadi penyebab keluarnya nabi Yusuf dari penjara dalam keadaan mulia dan terhormat. Demikian itu karena ketika raja itu melihat mimpi itu, dia penasaran tentang hal itu, dan apa penjelasannya. Lalu dia mengumpulkan semua peramal, paranormal, dan para pembesar kerajaannya. Lalu dia menceritakan apa yang dia mimpikan dan meminta penjelasannya dari mereka, dan mereka tidak mengetahuinya. Mereka beralasan kepada raja bahwa mimpi itu (mimpi-mimpi yang kosong) yaitu angan-angan yang engkau bayangkan sehingga terbawa dalam mimpimu (dan kami sekali-kali tidak tahu mena'birkan mimpi itu) yaitu seandainya mimpi itu benar dari angan-angan, maka kami tidak akan mengetahui penjelasannya. Saat itu juga orang yang selamat dari kedua pemuda yang berada di penjara dengan nabi Yusuf itu teringan kepadanya. Setan telah menjadikannya lupa pada apa yang diwasiatkan nabi Yusuf kepadanya, yaitu menceritakan perkara nabi Yusuf kepada raja. Keadaan itu membuatnya ingat kepadanya (setelah selang beberapa waktu) yaitu waktu. Sebagian ulama membaca “amahin”, yakni setelah lupa. Ia berkata kepada mereka, yaitu raja dan orang-orang yang dikumpulkan raja untuk hal itu (Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang (orang yang pandai) mena'birkannya) yaitu menjelaskan mimpi ini (maka utuslah aku (kepadanya)) yaitu utuslah aku untuk menemui nabi Yusuf yang jujur di penjara. Lalu mereka mengutusnya. Ketika dia datang kepada nabi Yusuf, dia berkata: (Yusuf, hai orang yang sangat dapat dipercaya, terangkanlah kepada kami) dan menceritakan mimpi yang dilihat oleh raja. Saat itu nabi Yusuf menceritakan kepadanya penjelasan mimpi itu tanpa menegurnya atas kelalaiannya terhadap apa yang dia pesankan kepadanya, dan tanpa memberikan syarat apapun agar dia dikeluarkan dari penjara dulu, melainkan nabi Yusuf berkata: (Supaya kalian bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa) yaitu akan datang kepada kalian musim subur dan banyak hujan selama tujuh tahun berturut-turut. Dia menjelaskan bahwa sapi itu adalah tahun karena sapi itu untuk membajak tanah yang digarap untuk menghasilkan buah-buahan dan hasil pertanian, yaitu bulir-bulir yang hijau. Kemudian nabi Yusuf membimbing mereka tentang apa yang harus mereka lakukan selama tujuh tahun itu. dia berkata: (maka apa yang kalian panen hendaklah kalian biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk makan kalian) yaitu bagaimanapun hasil yang kalian peroleh dari panen kalian di musim-musim subur tujuh tahun itu, kalian harus membiarkan hasilnya pada bulir-bulirnya, agar dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama dan menghindari kebusukan, kecuali takaran yang kalian makan, maka makanlah sedikit demi sedikit. Janganlah berlebih-lebihan agar jumlah makanan kalian bisa mengambil manfaat pada tujuh tahun musim paceklik. Itu adalah musim yang berturut-turut selama tujuh tahun yang mengiringi musim-musim subur. Musim-musim itu adalah sapi-sapi kurus yang memakan sapi-sapi yang gemuk. Karena dalam musim paceklik apa yang mereka kumpulkan di musim subur habis dimakan. Musim paceklik itu adalah bulir-bulir kering. Lalu Yusuf memberitahukan kepada mereka bahwa pada musim paceklik itu tidak ada apa pun yang tumbuh, dan apa yang mereka semai tidak akan menghasilkan apapun. Oleh karena itu nabi Yusuf berkata: (yang menghabiskan apa yang kalian simpan untuk menghidupinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kalian simpan) Kemudian nabi Yusuf menyampaikan kabar gembira kepada mereka tentang tahun-tahun yang subur setelah musim paceklik itu (tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup)) yaitu mereka mendapatkan hujan di seluruh negeri. dan orang-orang membuat perasan yang biasa mereka peras berupa buah zaitun dan sejenisnya, serta tebu dan sejenisnya. Sehingga sebagian ulama berkata bahwa termasuk ke dalamnya adalah memerah susu juga. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (dan di masa itu mereka memeras anggur) yaitu memerah susu.
Tafsir As-Sa'di
Buka
47. yusuf menakwilkan tujuh ekor sapi yang gemuk gemuk dan tujuh butir (gandum) yang hijau bahwa itu adalah masa tujuh tahun yang subur. Sedangkan tujuh ekor sapi betina yang kurus kurus dan tujuh bulir (gandum) yang kering kering bahwa itu merupakan masa tujuh tahun penuh dengan paceklik. Boleh jadi sisi penjelasan adalah wallahu 'alam bahwasannya masa subur dan paceklik menjadi acuan penggarapan tanaman. Apabila terjadi masa kesuburan, maka tanaman dan tetumbuhan menjadi kuat. Pemandangannya pun indah dan hasil panennya pun banyak. Sedangkan pada masa paceklik, keadaan menjadi sebaliknya. Dahulu, pada umumnya sapilah yang digunakan untuk membajak tanah dan mengairi tanaman. Bulir gandum merupakan makanan pokok paling penting dan paling utama. Dia menakwilkan demikian, lantaran adanya relevansi. Dalam menafsirkan mimpi itu kepada mereka, dia memadukan antara penakwilan mimpi dengan petunjuk mengenai kebijakan yang harus mereka kerjakan dan persiapan yang mereka lakukan berupa pengelolaan (hasil panen) di musim subur sampai musim paceklik. Ia berkata, ”supaya kamu bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa” berturut turut ”maka apa yang kamu tuai” dari tanaman itu ”hendaklah kamu tinggalkan” kamu biarkan “dibulirnya” karena akan lebih menjamin keawetannya dan akan semakin jarang diperhatikan (sehingga tidak dikonsumsi) “kecuali sedikit untuk kamu makan” aturlah(juga)kuantitas makanan kalian di musim musim subur, hendaknya porsinya sedikit, agar simpanan kalian banyak, kemanfaatannya dan peranannya pun besar.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
47. Yusuf berkata: “Bertanamlah selama 7 tahun secara berkelanjutan sesuatu kebiasaan kalian yang selalu dilakukan. Itu adalah tafsif dari 7 sabi betina yang gemuk dan 7 gandum yang hijau. Lalu apa yang kalian panen setiap tahun itu simpanlah di dalam tangkainya supaya tidak dimakan cacing kecuali hanya sedikit dari makanan yang dikhususkan pada tahun-tahun tersebut. Pelajarilah hal itu.”
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Yusuf brkata kepada penanyanya soal mimpi raja tersebut, ”tafsir mimpi ini adalah bahwa hendaknya kalian menanam selama tujuh tahun berturut-turut dengan tekun agar hasil panen menjadi melimpah. Lalu hasil panen yang kalian hasilkan darinya setiap kali,maka simpanlah dan biarkan dalam bulir-bulirnya, supaya sempurna proses penyimpanannya dari gangguan ulat dan lebih bertahan lama, kecuali sebagian kecil saja yang kalian makan dari hasil-hasi biji-bijian itu.
Tafsir Al-Madinah
Buka
47. Yusuf menjawab pertanyaan itu: “Makna mimpi ini adalah kalian harus menaman bahan makanan selama tujuh tahun berturut-turut dengan penuh kesungguhan, dan apa yang kalian panen dari tanaman itu setiap tahunnya harus kalian biarkan tetap pada tangkainya agar dapat menjaganya dari kerusakan; namun sisakan sedikit dari hasil panen itu untuk kalian makan.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
47. Yusuf -'alaihissalām- menakwilkan mimpi itu dengan mengatakan, "Kalian harus bercocok tanam dengan sungguh-sungguh selama tujuh tahun berturut-turut. Kemudian hasil panen yang kalian dapatkan setiap tahunnya selama tujuh tahun itu biarkan tetap melekat pada tangkainya agar tidak rusak oleh ngengat. Kecuali sedikit saja yang kalian butuhkan untuk dimakan.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
47. (Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa) Yakni secara berturut-turut. Nabi Yusuf mentakwilkan tujuh sapi betina yang gemuk-gemuk dengan tujuh tahun yang subur, dan tujuh sapi betina yang kurus-kurus dengan tujuh tahun kekeringan. Demikian pula mentakwilkan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir gandum kering. Ia berdalil dalam takwil tentang tujuh bulir gandum yang hijau dengan perkataannya: “maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya” Yakni biarkanlah apa yang kalian panen disetiap tahun yang subur itu tetap pada tangkainya, dan janganlah kalian rontokkan agar tidak rusak.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Ayat ini merupakan asal dari mustolah bahwa diantara masalahat dari syari'at adalah menjaga keutuhan agama, jiwa, akal, nasab, dan harta; maka dari itu semua yang masuk dalam kategori perkata-perkara di atas adalah maslahat, dan apapun yang terbuang dari perkara-perkara di atas adalah mafsadah, dan menjaganya adalah maslahat.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Yusuf berkata,“Bercocok tanamlah selama tujuh tahun berturut-turut} berturut-turut dengan serius {Kemudian apa yang kalian panen, biarkanlah} biarkanlah {di tangkainya, kecuali sedikit untuk kalian makan
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Makna kata : () da’abaa : seperti biasanya. ( ) fadzruuhu fii sumbulih : tinggalkan ia ditempatnya, jangan dipanen. Makna ayat : Firman-Nya ta’ala : ( ) dan seterusnya, adalah jawaban Yusuf untuk pertanyaan takwil mimpi raja beliau berkata menjelaskan, () bercocok tanamlah ( ) menanamlah selama tujuh tahun berturut-turut—sebagaimana kebiasaan kalian. Ini adalah takwil dari ‘tujuh sapi gemuk’. ( ) apa yang kalian panen ( ) maka biarkan ia ditempatnya, jangan dipanen agar ia tidak rusak ( ), panenlah sedikit yang akan kalian makan. Pelajaran dari ayat : • Dahulu negeri Mesir adalah negeri pertanian. • Menyimpan kelebihan panen pada lumbung dan tempat yang lain merupakan prinsip perekonomian yang penting dan bermanfaat.
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Yusuf ayat 47: Sebagai takwil tujuh sapi yang gemuk. Karena yang demikian lebih dapat memelihara kelestariannya. Yakni atur pula makananmu di tahun-tahun yang sering hujan, jangan terlalu banyak yang dihabiskan untuk disimpan sebagai persiapan menghadapi waktu-waktu sulit. Dalam ayat ini terdapat anjuran bagi kita mengatur harta sehemat mungkin, yakni tidak menghambur-hamburkannya agar ketika tiba waktu-watu sulit, kita tidak terlalu kekurangan.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
183. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jangan-lah kamu membuat kerusakan di bumi. Pada dasarnya prinsip hubungan antarmanusia menurut islam adalah tidak boleh menzalimi dan tidak boleh dizalimi dengan cara apa pun dan dalam bidang apa pun. 184. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu. Umat terdahulu dari kaum syuaib seperti kaum 'ad, dan 'amud jauh lebih kuat. Mereka dibinasakan oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Terhadap ajakan nabi syuaib, mereka mulai berang dan jengkel, lalu mereka mengeluarkan tuduhan dan hasutan yang tidak berdasar.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 181-184 Nabi Syu'aib memerintahkan mereka untuk menyempurnakan takaran dan timbangan, dan melarang mereka mengurangi takaran dan timbangan. jadi dia berkata: (Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan (181)) yaitu jika kalian membayar kepada orang lain, maka sempurnakanlah takaran mereka dan janganlah mengurangi takaran mereka sehingga kalian menyerahkan pembayaran yang kurang. Tetapi jika kalian mengambil dari mereka, maka kalian memintanya dalam keadaan sempurna dan cukup. Maka ambillah seperti yang kalian serahkan, dan serahkanlah sebagaimana yang kalian mengambil (dan timbanglah dengan timbangan yang lurus (182)) Kata “Al-qisthas al-mustaqim” adalah adil dalam bahasa Romawi. Firman Allah: (Dan janganlah kalian merugikan manusia pada hak-haknya) yaitu, janganlah mengurangi harta mereka (dan janganlah kalian merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan) yaitu memotong jalan orang-orang, sebagaimana Allah SWT berfirman di ayat lain: (Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti) (Surah Al-A'raf: 86) Firman Allah: (dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dan umat-umat yang dahulu (184)) Nabi Syu'aib menakut-nakuti mereka dengan azab Allah yang telah menciptakan mereka dan nenek moyang mereka sebagaimana yang dikatakan nabi Musa (Tuhan kalian dan Tuhan bapak-bapak kalian yang terdahulu (Surah Asy-syu’ara: 26) Ibnu Abbas, Mujahid, As-Suddi, Sufyan bin Uyaynah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firmanNya: (dan umat-umat yang terdahulu) yaitu yang menciptakan orang-orang terdahulu
Tafsir As-Sa'di
Buka
181-184 beserta kesyirikan yang mereka lakukan, mereka juga mencurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu, syu’aib berkata kepada mereka,”tunaikanlah takaran,” maksudnya, sempurnakan dan lengkapilah ia, “dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan,” yaitu orang-orang yang mengurangi harta orang lain dan merampasnya dengan mencurangi takaran dan timbangan. “dan timbanglah dengan timbangan yang lurus,” maksudnya, dengan timbangan yang adil, tidak miring. “dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu,” maksudnya, manusia-manusia terdahulu. Sebagimana Dia bersendirian menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian, tanpa ada sekutu bagiNya dalam hal ini, maka dari itu esakanlah Dia dengan ibadah dan tauhid. Sebagimana Dia telah memberi kalian karunia berupa menciptakan kalian dan membekali kalian dengan berbagai nikmat, maka balaslah nikmat itu dengan bersyukur kepadaNya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
183. Janganlah kamu merugikan hak-hak orang lain dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi dengan merajalela seperti pembunuhan, perampasan, memotong jalan dan lain-lain.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
181-183. Syu’aib berkata kepada mereka, yaitu orang-orang yang suka mengurangi takaran dan timbangan, “Sempurnakanlah takaran bagi manusia, takaran yang penuh bagi mereka. Dan janganlah kalian mengurangi, hak-hak manusia. Dan timbanglah dengan timbangan yang adil lagi lurus. Dan janganlah kalian mengurangi hak manusia sedikit pun dalam takaran, timbangan dan lainnya. Dan janganlah kalian melakukan berbagai macam kerusakan di muka bumi dengan perbuatan syirik, pembunuhan, perampasan, dan meneror manusia serta melakukan perbuatan maksiat-maksiat.
Tafsir Al-Madinah
Buka
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
183. Dan janganlah kalian merugikan hak-hak manusia dengan menguranginya, serta janganlah kalian banyak berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan berbagai maksiat;
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
183. (Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya) Yakni janganlah kalian mengurangi hak-hak orang lain. Kalimat ini telah dijelaskan tafsirnya pada surat Hud, begitu pula kalimat telah dijelaskan pada surat Hud dan lainnya.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Janganlah merugikan} janganlah merugikan {manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah berbuat} janganlah berbuat {kerusakan di bumi
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Surat Asy-Syu’ara ayat 183: Yakni mengurangi harta mereka dan mengambilnya dengtan mengurangi takaran dan timbangan. Seperti melakukan pembunuhan, pembajakan dan menakut-nakuti kafilah yang lewat.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Nasihat di atas tidak berarti seseorang hanya boleh beribadah murni (mah'ah) dan melarang memperhatikan dunia. Berusahalah sekuat tenaga dan pikiran untuk memperoleh harta, dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu di dunia, berupa kekayaan dan karunia lainnya, dengan menginfakkan dan menggunakannya di jalan Allah. Akan tetapi pada saat yang sama janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan di dunia dengan tanpa berlebihan. Dan berbuatbaiklah kepada semua orang dengan bersedekah sebagaimana atau disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepadamu dengan mengaruniakan nikmat-Nya, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dalam bentuk apa pun di bagian mana pun di bumi ini, dengan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan dan akan memberikan balasan atas kejahatan tersebut. 78. Karun tidak menanggapi nasihat kaumnya, lupa diri dan tetap melupakan karunia Allah kepadanya. Dengan penuh kesombongan dia berkata, 'sesungguhnya aku diberi harta yang banyak ini, semata-mata karena ilmu dan kemampuan yang ada padaku. Tidak ada jasa siapa pun atas perolehanku itu. Semua karena kepandaianku dalam mengumpulkan harta. ' demikian jawab karun. Tidakkah dia tahu dan sadar, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat yang tidak jauh dari masa sebelumnya, yakni sebelum karun, yang lebih kuat fisik dan kemampuan serta pembantu-pembantu mereka daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta daripada karun' sungguh kedurhakaan karun telah demikian jelas, dan oleh karenanya, orang-orang yang berdosa seperti karun itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka, karena Allah telah mengetahui hal itu. Mereka akan masuk neraka, dan hanya akan dita-Nya dengan pertanyaan yang menghinakan.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 76-77 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa) dia berkata bahwa dia adalah anak paman nabi Musa Firman Allah: (dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta) yaitu harta (yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat) yaitu, karena terasa berat bagi banyak orang untuk memikulnya. Firman Allah: ((Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya,"Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”) yaitu memberinya nasihat dengan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi kaumnya. Mereka berkata kepadanya dengan maksud memberi nasihat dan petunjuk,"Janganlah terlalu bangga dengan apa yang kamu dapat. Maksud mereka adalah, janganlah kamu membangga-banggakan hartamu ("sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”) Ibnu Abbas berkata bahwa maknanya adalah membangga-banggakan diri. Mujahid berkata bahwa makna yang dimaksud adalah bersikap jahat dan sewenang-wenang, yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang Dia berikan kepadanya. Firman Allah: (Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi) yaitu, gunakanlah apa yang diberikan Allah kepadamu beruoa harta melimpah dan nikmat yang bergelimang untuk melakukan ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepadaNya dengan berbagai amal untuk mendekatkan diri yang dengannya kamu akan mendapatkan pahala di dunia dan akhirat. (dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi) yaitu apa yang dihalalkan Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan pernikahan. Karena sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap Tuhanmu, dirimu sendiri, keluargamu, dan orang-orang yang bertamu kepadamu, maka tunaikanlah setiap kewajiban itu kepada haknya (dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu) yaitu, berbuat baiklah kepada makhlukNya sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu (dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi) yaitu janganlah cita-cita yang sedang kamu jalani itu untuk berbuat kerusakan di bumi dan berbuat jahat terhadap makhluk Allah (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan)
Tafsir As-Sa'di
Buka
77. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.” Maksudnya memperoleh sesuatu yang ada di sisi Allah dan bersedekahlah; dan jangan sekali-kali kamu merasa cukup dengan hanya sekedar memperoleh kepuasan nafsu dan meraih berbagai kelezatan, “dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi.” Maksudnya, Kami tidak memerintahmu agar menyedekahkan seluruh harta kekayaanmu sehingga engkau menjadi terlantar, akan tetapi berinfaklah untuk akhiratmu dan bersenang-senanglah dengan harta duniamu dengan tidak merusak agamamu dan tidak pula membahayakan akhiratmu, “dan berbuat baiklah,” kepada hamba-hamba Allah, “sebagaimana Allah telah berbuat baik” kepadamu dengan menganugerahimu harta kekayaan ini, “dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi,” dengan bersikap sombong dan berbuat berbagai maksiat terhadap Allah serta tenggelam di dalam kenikmatan dengan melupakan Pemberi nikmat itu. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Bahkan Allah akan menyiksa mereka atas perbuatan itu dengan siksaan yang paling berat.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
77. Carilah dalam sesuatu yang diberikan Allah kepadamu itu pahala akhirat dengan menginfakkannya untuk mencari ridhaNya dan menaatiNya, bukan untuk berlaku angkuh dan sewenang-wenang. Janganlah lupa untuk berinfak dalam hal yang dihalalkan Allah kepadamu dan berbuat baiklah kepada hamba-hambaNya dengan bersedekah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan memberimu nikmat berupa harta dan penghormatan. Jangan kamu gunakan harta benda untuk bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya Dia tidak meridhai orang-orang yang merusak dengan berbuat maksiat di dunia dan akan membalas mereka atas perbuatan mereka
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Dan carilah pahala negeri akhirat pada apa yang Allah berikan kepadamu berupa harta benda, dengan mengamalkan ketaatan kepada Allah melalui harta itu di dunia ini. Dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari dunia dengan jalan bersenang-senang di dunia ini dengan hal-hal yang halal, tanpa berlebihan. Dan berbuat baiklah kepada orang-orang dengan memberikan sedekah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dengan (memberikan) harta yang banyak. Dan janganlah kamu mencari apa yang diharamkan oleh Allah berupa tindakan berbuat kerusakan di muka bumi dan penganiayaan terhadap kaummu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan dan Dia akan membalas mereka atas amal perbuatan buruk mereka.”
Tafsir Al-Madinah
Buka
77. Hai Qarun, carilah kenikmatan yang kekal di akhirat melalui infak di jalan kebaikan, karena sebaik-baik harta adalah harta yang digunakan pemiliknya untuk berinfak di jalan Allah, sebab harta itu adalah harta Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Kami tidak mengolokmu yang telah mendapatkan kenikmatan dunia melalui cara yang dihalalkan Allah. Hai Qarun, bersyukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan kepadamu dapat membuatmu bersungguh-sungguh dalam berinfak. Perintah kebaikan ini juga bermakna larangan berbuat kerusakan di bumi yang kamu tinggali. Dan ingatlah bahwa Allah tidak menyukai hamba-Nya yang sombong dan angkuh, Dia akan memberi perhitungan kepada seluruh makhluk atas apa yang telah mereka kerjakan.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
77. Dan mohonlah kepada Allah pahala di kehidupan Akhirat terkait harta yang telah diberikan Allah kepadamu, dengan cara menginfakkannya pada jalan-jalan kebaikan dan janganlah kamu lupa bagianmu dari makan, minum, pakaian dan kenikmatan-kenikmatan lainnya, tanpa berlebih-lebihan dan tidak sombong. Dan perbaikilah hubungan dengan Rabbmu dan dengan hamba-hamba-Nya sebagaimana Rabbmu Yang mahasuci berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dengan perbuatan tersebut, justru Dia murka.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
77. (Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat) Maka belanjakanlah harta itu pada apa yang diridhai Allah, bukan digunakan untuk menyombongkan diri. ( dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi) Yakni janganlah kamu lalaikan bagianmu di dunia dalam menikmati hartamu yang halal. ( dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu) Dengan kenikmatan yang telah Allah berikan kepadamu di dunia. ( dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi) Yakni janganlah kamu bermaksiat kepada Allah di bumi. (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan) Yakni kerusakan di bumi.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Dalam lima kalimat: jarak yang saling berjauhan, daerah yang sangat terpencil, namun sistem yang begitu hebat menjadikannya menyatu lebih dari sesuatu yang pada asalnya satu tubuh, dan kompatibilitas yang lebih baik dari hal yang sudah dibentuk secara identik pada situasi pertama.
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Dan carilah} carilah {pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu} yang diberikan kepadamu {(pahala) akhirat, dan janganlah melupakan bagianmu} janganlah mengabaikan bagianmu {di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Yakni engkau wahai Qarun telah memiliki sarana-sarana untuk mengejar akhirat yang tidak dimiliki oleh selainmu. Oleh karena itu, carilah pahala di sisi Allah dengan harta-hartamu, seperti menyedekahkannya sebagian dari rezeki itu di jalan Allah dan jangan hanya digunakan untuk memuaskan nafsu. Berupa harta, yakni agar engkau infakkan di jalan Allah. Yakni Allah tidaklah memerintahkannya untuk menyedekahkan semua hartanya sehingga hartanya habis tanpa bersisa, bahkan sisihkanlah hartamu untuk akhirat, dan silahkan bersenang-senang dengan duniamu, namun tidak sampai melubangi agamamu dan merusak akhiratmu. Yaitu dengan bersikap sombong serta mengerjakan kemaksiatan, dan sibuk dengan nikmat itu sampai lupa kepada Pemberi nikmat (Allah).
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Qashash ayat 77: Berkata jama’ah (dari bani israil) menasihatinya dan menunjukinya : Mintalah (wahai qarun) atas pemberian Allah kepadamu dari harta ini, balasan (pahala) untuk akhirat, dan beramal dengan amalan yang Allah ridhai dari sisi kebaikan, dan janganlah engkau tinggal syarat halal dan haram atas hartamu, bagimu untuk beribadah dengan jujur dan makruf, sebagaimana Allah telah membaguskanmu dan memberikan harta ini yang banyak, dan janganlah engkau berbuat dzalim di muka bumi dengna harta ini; Sebab Allah tidak mengingkan orag-orang yang berbuat kerusakan. Akan tetapi qarun congkak dan sombong, dia mengklaim bahwa hartanya atas jerih payah dan kepiawaiannya, dan ia tetap berada dalam keadaan demikian sampai Allah jatuhkan dan benamkan di bumi.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Ayat yang lalu menjelaskan perlunya melakukan perdamaian antara dua kelompok orang mukmin yang berperang. Hal itu perlu dilakukan sebab sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, sebab mereka itu satu dalam keimanan, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang sedang beselisih atau bertikai satu sama lain dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintahnya antara lain mendamaikan kedua golongan yang saling bermusuhan itu agar kamu mendapat rahmat persudaraan dan persatuan. 11. Setelah Allah menerangkan bahwa orang-orang mukmin adalah bersaudara, ayat ini menjelaskan tuntunan agar persaudaraan itu tetap terjaga. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah suatu kaum, yakni kelompok pria, mengolok-olok kaum, yakni kelompok pria yang lain karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olokkan perempuan lain karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dengan ucapan, perbuatan atau isyarat, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang dinilai buruk buruk oleh orang yang kamu panggil itu sehingga menyakiti hatinya. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk fasik setelah iman. Yakni seburuh-buruk panggilan kepada orang-orang mukmin adalah bila mereka disebut orang-orang fasik sesudah mereka dahulu disebut sebagai golongan yang yang beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, setelah melakukan kefasikan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim kepada diri sendiri dan karena perbuatannya itu maka Allah menimpakan hukuman atasnya.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 9-10 Allah SWT berfirman seraya memerintahkan orang-orang mukmin untuk mendamaikan di antara dua golongan yang berperang satu sama lain (Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya) Allah menyebut mereka sebagai orang-orang mukmin, padahal mereka berperang satu sama lainnya. Berdasarkan ayat ini Imam Bukhari dan lainnya menyimpulkan bahwa maksiat itu tidak mengeluarkan orang dari keimanannya, meskipun maksiat itu besar. Firman Allah SWT: (Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah) yaitu sampai keduanya kembali taat kepada perintah Allah dan RasulNya, serta mau mendengar dan menaati kebenaran. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tolonglah saudaramu, baik dalam keadaan zalim atau dizalimi” Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau dia dizalimi, aku pasti menolongnya. Tetapi bagaimana aku menolongnya jika dia zalim?" Rasulullah SAW menjawab: “Kamu cegah dia dari perbuatan zalim, itulah caramu menolongnya” Firman Allah: (jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil) yaitu berlaku adillah dalam menyelesaikan perselisihan kedua pihak dengan kerugian yang dialami oleh salah satu pihak akibat pihak lain, yakni putuskanlah dengan adil (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil) Firman Allah SWT: (Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara) yaitu semuanya adalah saudara dalam agama, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,”Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak pula menjerumuskannya” Disebutkan juga dalam hadits shahih,”Orang mukmin itu bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain” Lalu Rasulullah SAW menggabungkan jari beliau. Firman Allah SWT: (maka damaikanlah antara keduanya) yaitu di antara kedua golongan yang berperang itu (dan bertakwalah kepada Allah) dalam semua urusan kalian (supaya kamu mendapat rahmat) Ini merupakan kepastian dari Allah SWT bahwa Dia memberikan rahmat kepada orang yang bertakwa kepadaNya
Tafsir As-Sa'di
Buka
10. “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara.” Ini adalah perjanjian yang ditunaikan Allah di antara sesame orang-orang yang beriman. Siapa pun orangnya yang berada di belahan timur bumi ataupun barat yang beriman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab, rasul-rasulNya, serta beriman kepada Hari akhir, maka ia adalah saudara orang-orang yang beriman lainnya, persaudaraan yang mengharuskan orang-orang mencintainya sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri serta tidak menyukai apa pun mengenainya sebagaimana diri mereka sendiri tidak suka terkena hal itu. Oleh karean itu Rosululloh bersabda memerintahkan untuk bersaudara atas dasar keimanan "Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya." (HR. bukhori No. 6064, Muslim No. 2559) Dan hadits yag lain "seorang mukmin bagi mukmin yang lain itu seperti bagunan yang saling menguatkan satu dan lainnya" lalu beliau menyilangkan jari-jarinya. (HR. Bukhori No. 6026, Muslim No. 1999) Allah dan RasulNya memerintahkan untuk menunaikan hak-hak kaum Mukminin satu sama lain yang bisa mewujudkan persatuan, saling mencintai dan saling menyambung di antara mereka. Semua itu dimaksudkan untuk memperkokoh hak-hak sesame mereka. Untuk itu, jika terjadi peperangan di antara sesame kaum Mukminin yang bisa menyebabkan perpecahan hati, saling membenci serta saling membelakangi satu sama lain, maka hendaklah kaum Mukiminin lainnya mendamaikan saudara-saudaranya serta berusaha untuk melenyapkan kedengkian di antara mereka yang saling berperang. Selanjutnya Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum serta menyebutkan kasih sayang sebagai akibat dari menunaikan ketakwaan serta hak-hak kaum Mukminin. Allah berfirman, “Supaya kamu mendapat rahmat.” Jika telah mendapatkan rahmat, maka kebaikan dunia dan akhirat pun didapat. Hal itu menunjukkan bahwa tidak menunaikan hak-hak kaum Mukminin merupakan salah satu penyebab terbesar terhalangnya rahmat. Terdapat berbagai faidah yang dipetik dari kedua ayat tersebut yang tidak terdapat dalam penjelasan di atas, yaitu: pertama, peperangan yang terjadi antara sesame kaum Mukminin menafikan persaudaraan keimanan, karena itulah berperang dengan sesame Mukmin termasuk salah satu dosa besar. Keimanan dan persaudaraan keimanan tidak hilang dengan adanya peperangan sesame Mukmin, seperti halnya dengan dosa-dosa besar lain selain syirik. Dan inilah pendapat yang dianut oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Manfaat kedua, adalah wajib mendamaikan sesame Mukmin yang bertikai secara adil dan wajib memerangi pihak yang berbuat aniaya hingga mereka mau kembali pada perintah Allah. Jika mereka kembali pada selain perintah Allah seperti merujuk pada hukum yang tidak diakui oleh syariat, maka hal itu tidak diperbolehkan. Meski demikian, harta mereka tetap terjaga, karena Allah hanya menghalalkan darah mereka saja, bukan harta, pada saat mereka terus membelot.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
10. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu saling bersaudara dalam agama dan akidah. Berdamailah dengan saudara kalian saat terjadi perselisihan dan pertentangan. Bertakwalah kepada Allah saat terjadi perselisihan tentang hukum-hukumNya dan berlakulah sebagai penengah, supaya kalian dirahmati dan ditolongNya dalam menciptakan perdamaian, sebagai hasil dari ketakwaan kalian
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara dalam agama, karena itu, bila mereka bertikai, maka damaikanlah di antara saudara-saudara kalian itu. Takutlah kepada Allah dalam segala urusan kalian agar kalian dirahmati olehNya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
10. Kemudian Allah menegaskan kembali bahwa sesama orang beriman adalah saudara seagama, maka wajib memperbaiki hubungan antar saudara. Lalu Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, agar mereka dapat meraih rahmat Allah yang luas. Dalam ayat ini mengandung dorongan untuk melakukan perdamaian.
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
10. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, dan persaudaraan dalam Islam itu berkonsekuensi atas kalian -wahai orang-orang yang beirman- untuk mendamaikan antara dua saudara kalian yang sedang bertikai. Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala l;arangan-Nya dengan harapan kalian akan dirahmati.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
10. (Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara) Yakni mereka semua kembali kepada satu asal, yaitu kemanan, oleh sebab itu mereka adalah bersaudara karena berada dalam agama yang sama. ( Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu) Yakni antara dua orang Islam yang saling berselisih. Begitu pula kelompok yang membelot terhadap pemimpin, mereka adalah kelompok yang zalim jika mereka membelot tanpa alasan yang benar, namun mereka tetaplah bersaudara dengan orang-orang beriman.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
1). { } "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara" Muhammad bin Manadziir berkata: Aku sedang berjalan bersama Al-Khalil bin Ahmad, dan sandalku putus. Lalu aku berjalan tanpa alas kaki, lalu dia melepas sepatunya dan membawanya berjalan bersamaku, lalu aku berkata kepadanya: Apa yang sedang kamu lakukan? Dia berkata: Aku akan menghiburmu dengan hal ini. 2). Jika seorang muslim sakit, maka muslim lainnya menjenguknya, jika ia butuh sesuatu maka mereka membantunya, jika ia berbuat baik maka mereka berterimakasih, jika ia tertindas maka mereka menyokongnya, dan jika ia berbuat zalim maka mereka menghalanginya. Agama mereka adalah nasehat dan amar ma’ruf serta melarang kemunkaran. Bukankah Allah berfirman: { } "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara". 3). Sebesar energi iman dalam hati kita; kita melintasi batas negara dan kebangsaan dan kita mencintai mereka. 4). Islam tidak memberikan umat Islam pilihan untuk bersatu, namun justru meletakkan dasar kesatuan Islam ini sebagai ladsar besar agama, Alah ta'la berfirman: { } "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara". 5). Seorang mutadabbir mengatakan: Saya bertemu dengan seorang pemuda di Mina, seorang non-Arab, menggendong seorang lelaki tua di punggungnya, dan saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikannya, Aku berkata: Semoga Allah membalasmu dengan pahala atas kebaikanmu terhadap ayahmu. Dia berkata: Tapi dia bukan ayahku dan dia juga bukan dari negeraku. Aku berkata: Lalu siapa? Dia berkata: Saya menemukannya di Arafah, tidak ada seorang pun yang bersamanya, maka aku menggendongnya di punggungku ke Muzdalifah, dan dari sana ke Mina. Aku bertanya: Mengapa kamu melakukan itu?! Dia berkata: Mahasuci Allah { } "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara". 6). Salah satu hambatan terbesar terhadap dari rahmat Allah adalah seseorang tidak memenuhi hak-hak orang beriman lainnya, Allah ta'ala berfirman: { } "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara".
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
{Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Ini merupakan ikatan yang Allah ikat antara kaum mukmin, yaitu apabila ada seseorang baik berada di timur maupun di barat bumi jika dia beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari Akhir serta beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk, maka dia adalah saudaranya, dimana hal ini menghendaki untuk diberikan sesuatu yang disukainya sebagaimana ia suka mendapatkan hal itu serta tidak menyukai hal buruk menimpanya sebagaimana dirinya tidak suka mendapatkannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan melaksanakan hak keimanan, Beliau bersabda: “Jangan kamu saling hasad, saling najsy (menipu agar barang dagangan laku), saling marah, saling membelakangi dan jangan kamu menjual barang yang sudah dijual oleh orang lain. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang muslim yang satu dengan lainnya adalah bersaudara, tidak boleh dizalimi, ditelantarkan dan dihinakan. Takwa itu di sini, -Beliau berisyarat ke dadanya- 3X, “Cukuplah seseorang telah melakukan kejahatan kalau menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim adalah terpelihara darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan, dimana yang satu dengan yang lain saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya untuk menegakkan hak-hak kaum mukmin yang satu dengan yang lain dan memerintahkan sesuatu yang dengannya dapat terwujud rasa cinta dan persatuan, di antaranya adalah apabila terjadi peperangan di antara mereka yang dapat menimbulkan perpecahan dan kebencian, maka hendaknya kaum mukmin mendamaikannya dan berusaha melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan kebencian di antara mereka. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bertakwa secara umum serta menerangkan hasil dari memenuhi hak kaum mukmin dan bertakwa kepada Allah, yaitu mendapatkan rahmat sebagaimana firman-Nya di akhir ayat. Apabila telah tercapai rahmat, maka akan tercapai kebaikan dunia dan akhirat. Ayat ini juga menunjukkan, bahwa tidak memenuhi hak kaum mukmin merupakan penghalang besar mendapatkan rahmat. Kedua ayat di atas (ayat 9 dan 10) terdapat beberapa faedah selain yang telah disebutkan di atas, yaitu: - Berperang antara kaum mukmin bertentangan dengan ukhuwwah (persaudaraan) seiman. Oleh karena itu, hal tersebut termasuk dosa yang besar. - Iman dan persaudaraan seiman tidaklah hilang meskipun terjadi peperangan sebagaimana jika terjadi dosa-dosa besar yang lain di bawah syirk. - Wajibnya mendamaikan kaum mukmin yang bertengkar dengan adil. - Wajibnya memerangi pemberontak agar mereka kembali kepada perintah Allah. - Harta mereka adalah ma’shum (terpelihara), karena Allah hanyalah membolehkan darah mereka ketika berlangsungnya sikap zalim mereka saja, dan tidak harta mereka.
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Hujurat ayat 10: Ketahuilah wahai manusia bahwasanya orang-orang yang beriman adalah saudara di dalam agama, dan persaudaraan ini diwajibkan bagi mereka untuk mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, dan membenci apa yang ada pada saudaranya sebagaimana ia membenci atas dirinya sendiri, maka jika terjadi perselisihan diantara 2 muslim dengan saling bermusuhan dan berperang; maka wajib untuk mendamaikan keduanya, dan menjadikan mereka agar takut kepada azab Allah dengan mencegahnya yaitu mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah; semoga dengan itu kalian mendapatkan rahmat Allah dan ampunan Allah serta keridhoan dari-Nya.
Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Selanjutnya ayat ini menjelaskan siapa yang benar-benar sempurna imannya. Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah me-reka yang beriman kepada Allah dan meyakini semua sifat-sifat-Nya dan membenarkan apa yang disampaikan oleh rasul-Nya. Kemudian dalam berlalunya waktu mereka tidak ragu-ragu sedikitpun dan tidak goyah pendiriannya dan mereka berjihad dengan menye-rahkan harta dan me-ngorbankan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar dalam ucapan dan perbuatan mereka. 16. Katakanlah, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang badui yang mengaku beriman itu, 'apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah dan menjelaskan tentang agamamu serta keyakinanmu seperti yang engkau katakan kepada nabi, padahal yang demikian itu tidak perlu karena Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah maha mengetahui segala sesuatu. "
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 14-18 Allah SWT berfirman seraya mengingkari orang-orang Arab Badui yang baru saja masuk Islam, lalu mengajak dirinya beriman, padahal keimanan masih belum meresap ke dalam hati mereka (Orang-orang Arab Badui itu berkata, "Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk,' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”) Dari makna ayat ini dapat disimpulkan bahwa keimanan itu lebih khusus daripada Islam, sebagaimana yang dikatakan mazhab Ahlussunnah Wal Jama'ah. Pengertian ini diperkuat dengan hadits malaikat Jibril ketika dia bertanya tentang Islam, kemudian iman, lalu tentang ihsan. dia memulai dari yang lebih umum, kemudian kepada yang lebih khusus, lalu kepada yang lebih khusus lagi. Diriwayatkan dan Ibnu Zaid tentang firmanNya: (tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk”) yaitu kami tunduk dan patuh karena takut dibunuh atau ditawan. Mujahid berkata bahwa ayat ini diturunkan tentang dengan orang-orang Bani Asad bin Khuzaimah. Qatadah berkata bahwa ayat ini diturunkan tentang suatu kaum yang mengakui kepada Rasulullah SAW bahwa mereka mau beriman. Tetapi pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama bahwa mereka adalah suatu kaum yang mendakwakan bahwa mereka beriman, padahal keiman masih belum meresap ke dalam hati mereka. Maka mereka diberi pelajaran etika dan diberitahu bahwa sesungguhnya tingkatan keimanan yang sebenarnya masih belum mereka capai. Sekiranya mereka itu orang-orang munafik, maka dikatakan kepada mereka dengan keras dan dipermalukan, seagaimana penyebutan orang-orang munafik dalam surah At-Taubah. Dan sesungguhnya hal ini dikatakan kepada mereka hanyalah untuk mendidik: (Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk, ' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”) yaitu kalian belum mencapai hakikat keimanan, kemudian Allah SWT berfirman: (jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tiada mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu) yaitu, Dia tidak akan mengurangi pahala kalian sedikit pun, sebagaimana firmanNya: (dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka) (Surah Ath-Thur: 21) Firman Allah SWT: (sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) yaitu kepada orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya. Firman Allah: (Sesungguhnya orang-orang yang beriman) yaitu orang-orang yang beriman dengan sempurna (hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu) yaitu, tidak ragu dan bimbang. Bahkan teguh dalam suatu pendirian, yaitu membenarkan dengan tulus (dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah) Mereka mengorbankan diri dan harta mereka untuk taat kepada Allah dan meraih ridhaNya (mereka itulah orang-orang yang benar) yaitu dalam ucapan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang-orang Arab Badui yang iman mereka masih belum meresap kecuali hanya sebatas lahir saja. Firman Allah: (Katakanlah (kepada mereka), "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu)?”) yaitu, apakah kalian akan memberitahukan kepadaNya apa yang tersimpan di dalam hati kalian (padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) yaitu tidak ada sesuatu pun yang yang tersembunyi dariNya bahkan sebesar dzarrah di bumi atau langit, baik yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar dari itu (dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) Kemudian Allah SWT berfirman: (Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka) yaitu orang-orang Arab Badui yang merasa berjasa karena keislaman mereka dan keikutsertaan mereka dalam menolong Rasulullah SAW. Maka Allah SWT berfirman menyanggah mereka: (Katakanlah, "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu”) karena sesungguhnya hal itu manfaatnya kembali kepada kalian, Allahlah yang sebenarnya memberi nikmat kepada kalian (sebenarnya Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar) yaitu dalam pengakuan kalian tentang hal itu, Kemudian Allah SWT mengulangi pemberitahuanNya, bahwa Dia mengetahui semua makhluk dan melihat semua amal perbuatan mereka. Jadi Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (18))
Tafsir As-Sa'di
Buka
15. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman,” yakni secara hakiki, ialah “orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.” Yakni, orang yang menyatukan antara keimanan terhadap Allah dan RasulNya dengan jihad di jalanNya; sebab orang yang menegakkan jihad terhadap kaum kafir itu menunjukkan kesempurnaan imannya di dalam hati. Sebab orang yang memerangi kaum kafir atas nama Islam dan iman serta menunaikan syariat-syariat Allah itu, tentu sudah pasti telah berjihad terhadap dirinya sendiri. Orang yang tidak mampu berjihad menunjukkan kelemahan imannya. Dalam beriman, Allah mensyaratkan tidak adanya keraguan, karena iman yang bermanfaat itu adalah tekad bulat dan keyakinan terhadap perintah Allah untuk beriman padaNya yang tidak disertai dengan keraguan sedikit pun. Firman Allah, “Mereka itulah orang-orang yang benar,” yakni, orang-orang yang membuktikan keimanan mereka dengan perbuatan-perbuatan baik. Kejujuran adalah pengakuan besar terhadap segala hal yang diakui, dan orang yang jujur memerlukan hujjah dan bukti, dan bukti terbesar adallah klaim keimanan yang merupakan pusat kebahagiaan dan kemenangan abadi, maka siapa pun yang mengaku beriman dan mengerjakan kewajiban serta keharusan iman, maka ia adalah orang jujur dan Mukmin sejati. Sebaliknya orang yang tidak demikian halnya dapat diketahui bahwa pengakuannya tidak benar, sehingga pengakuannya tidak berguna sama sekali, sebab keimanan dalam hati itu hanya diketahui oleh Allah semata. Maka penegasan atau penafian keimanan (di sini) adalah tindakan yang mengajari Allah terhadap sesuatu yang ada di dalam hati dan ini merupakan etika dan dugaan yang tidak baik terhadap Allah.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
15. Sesungguhnya orang-orang mukmin sesungguhnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasulNya, lelu mereka tidak mengeluhkan sedikitpun tentang iman dan berjihadn untuk menaati Allah dan mencari ridhaNya dengan harta benda dan diri mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang benar keimanannya, bukan orang yang berkata: “Kami beriman, namun hati kami tidak” Tidak ditemukan apapun dalam diri mereka kecuali Islam yang secara zhahir saja
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Tafsir Al-Muyassar
Buka
Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah yang membenarkan Allah dan RasulNya dan melaksanakan syariatNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dalam iman mereka, mengorbankan harta dan jiwa mereka dalam jihad di jalan Allah, ketaatan dan (usaha meraih) keridhaanNYa. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya.
Tafsir Al-Madinah
Buka
Tafsir Al-Mukhtashar
Buka
15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak mencampuri keimanannya dengan keraguan dan berjuang dengan hartanya dan jiwanya di jalan Allah serta tidak kikir dengan sesuatupun darinya. Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat demikian ini adalah orang-orang yang jujur dalam keimanan mereka.
Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka
15. (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya) Yakni yang beriman dengan keimanan yang benar dan tulus, yang hatinya sesuai dengan lisannya. ( kemudian mereka tidak ragu-ragu) Yakni tidak ada keraguan yang masuk ke dalam hati mereka. ( dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah) Yakni pada ketaatan-Nya dan mengharap keridhaan-Nya. (Mereka itulah) Yakni orang-orang yang ada dalam dirinya hal-hal tersebut. (orang-orang yang benar) Yakni benar dalam pengakuannya sebagai orang yang beriman.
Tafsir Li Yaddabbaru
Buka
Tafsir Ash-Shaghir
Buka
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu} tidak ragu tentang apa yang mereka imani {dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar
Tafsir Aisarut Tafsir
Buka
Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka
Yani mukmin hakiki. Hal itu karena jihad membuktikan benar dan kuatnya iman mereka. Sebalikanya, orang yang tidak kuat berjihad, maka yang demikian menunjukkan imannya lemah. Dalam ayat tersebut Allah Subhaanahu wa Ta'aala mensyaratkan iman mereka dengan tidak ragu-ragu, karena iman yang bermanfaat adalah keyakinan yang pasti kepada apa saja yang diperintahkan Allah untuk diimani, dimana hal itu tidak dicampuri oleh keraguan sedikit pun. Yang membenarkan iman mereka dengan amal mereka yang baik. Kejujuran adalah dakwaan yang besar dalam segala sesuatu, dimana pelakunya butuh kepada hujjah dan bukti, dan yang paling besar dalam hal ini adalah dakwaan beriman yang merupakan pusat kebahagiaan dan keberuntungan. Oleh karena itu, barang siapa yang mengaku beriman, mengerjakan kewajiban dan lawazim (yang menjadi bagiannya), maka dialah yang benar imannya atau mukmin hakiki. Jika tidak demikian, maka dapat diketahui, bahwa dia tidak benar dalam dakwaannya dan tidak ada faedah pada dakwaannya, karena iman dalam hati tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala. Dengan demikian, menetapkan dan menafikannya termasuk memberitahukan kepada Allah apa yang ada dalam hati, dan ini merupakan adab dan sangkaan yang buruk kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itulah pada ayat selanjutnya Dia berfirman, “Katakanlah (kepada mereka), "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Tafsir An-Nafahat
Buka
Surat Al-Hujurat ayat 15: Allah mengabarkan sifat dari hambanya yang beriman secara benar, Allah berkata: sesungguhnya orang-orang yang beriman secara hakiki mereka adalah yang beriman kepada Allah dengan jujur, membenarkan rasul-Nya, tidak masuk dalam relung hati mereka keraguan, dan tidak bercampur padanya kerancuan. Kemudian setelah itu mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta-harta mereka dan diri-diri mereka, serta mendahulukan apa yang Allah mudahkan; Maka merekalah orang-orang yang jujur dalam keimanan, di mana mereka membenarkan keimanan mereka dengan amalan-amalan yang nampak.